status imun imunitas - · pdf fileberpengaruh terhadap respon imun (muis 2001). sistem imun...

Click here to load reader

Post on 13-Mar-2019

236 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

53

Status Imun

Imunitas Pengertian awal imunitas adalah perlindungan terhadap penyakit, dan

lebih spesifik lagi adalah perlindungan terhadap penyakit infeksi. Dalam keadaan

sehat respon imun berfungsi secara efisien sehingga seseorang dapat terhindar

dari dampak yang tidak menguntungkan akibat masuknya subtansi asing.

Apabila ada kelainan dalam sistem pengaturan imunitas, seseorang mungkin

tidak mampu melindungi tubuh dengan respon imun yang efisien. Akan tetapi

sebaliknya mungkin juga pada keadaan tertentu respon imun berlangsung secara

berlebihan sehingga menimbulkan berbagai penyakit (Kresno 2001).

Menurut Surono (2004) kondisi imunitas menentukan kualitas hidup.

Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis unsur pathogen yang

dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada anak normal

umumnya singkat dan jarang meninggalkan kerusakan permanen karena tubuh

memiliki sistem imun yang memberikan respons dan melindungi tubuh terhadap

unsur-unsur pathogen. Bellanti & Joseph (1993) menyatakan defisiensi zat gizi

termasuk zat gizi mikro dapat menyebabkan sangat berkurangnya reaktifitas

seluler pada pertumbuhan anak. Zat gizi mikro mempunyai peranan yang penting

dalam proses imunologi sehingga adanya defisiensi zat gizi mikro akan

berpengaruh terhadap respon imun (Muis 2001).

Sistem imun Sistem imun dapat dibagi menjadi menjadi dua yaitu non spesifik dan

sistem imun spesifik. Mekanisme imunitas spesifik timbul atau bekerja lebih

lambat dibanding imunitas non spesifik. Pembagian sistem imun dalam sistem

imun spesifik dan non spesifik hanya dimaksudkan untuk mempermudah

pengertian saja. Sebenarnya antara kedua sistem imun teresbut terjadi kerja

sama yang erat, yang satu tidak dapat dipisahkan dari yang lain (Bratawijaya dan

Rengganis 2009). Berikut ini adalah gambaran umum sitem imun menurut

Bratawijaya dan Rengganis 2009.

SISTEM IMUN

54

Gambar 1 Gambaran umum sistem imun Sumber: Baratawijaya dan Rengganis (2009).

Menurut Tortora (2004) sistem imun non spesifik adalah sistem

pertahanan tubuh, yang merupakan komponen normal tubuh yang selalu

ditemukan pada induvidu sehat dan siap mencegah mikroba yang akan masuk

kedalam tubuh. Untuk menyingkirkan mikroba tersebut dengan cepat, imunitas

non spesifik melibatkan kulit dan selaput lendir, fagositosis, inflamasi, demam,

serta produksi komponen-komponen antimikrobial (selain antibodi). Sistem imun

ini disebut non spesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu, telah

ada dan siap berfungsi sejak lahir. Sistem ini merupakan pertahanan terdepan

dalam menghadapi serangan berbagai mikroba dan dapat memberikan respon

secara langsung (Bratawijaya 2006).

Imunitas non spesifik jumlahnya dapat ditingkatkan oleh infeksi , misalnya

jumlah sel darah putih meningkat selama fase akut pada banyak penyakit.

Disebut non spesifik karena tidak ditujukan pada mikroba tertentu, telah ada dan

siap berfungsi sejak lahir. Mekanismenya tidak menunjukkan spesifitas terhadap

bahan asing dan mampu melindungi tubuh terhadap banyak patogen potensial.

Sistem tersebut merupakan pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan

berbagai mikroba dan dapat memberikan respon langsung (Samik dan Julia

2002).

Berbeda dengan sistem imun non spesifik, sistem imun spesifik

mempunyai kemampuan untuk mengenal benda asing yang dianggap asing bagi

dirinya. Benda asing yang pertama kali muncul dalam tubuh segera dikenal oleh

NON SPESIFIK

SELULAR

SPESIFIK

FISIK LARUT HUMORAL SELULAR

Kulit Selaput lendir Silia Batuk

Biokimia - Lisozim - Sekresisebaseus - Asam lambung - Laktoferin - Asam neuraminik

- Fagosit * Mononuklear * Polimononuklear - Sel NK - Sel mast - Basofil - Eosinofil - SD

Sel B - IgG - IgA - IgM - IgE - IgD Sitokinin

Sel T - Th1 - Th2 - Ts/Tr/Th3 - ThTd - CTL/Tc - Th17

Humoral - Komplemen - APP - Mediator asal lipid - Sitokinin

55

sitem imun spesifik sehingga terjadi sensitasi sel-sel sistem imum tersebut.

Benda asing yang sama bila terpajang ulang akan dikenal lebih cepat, kemudian

dihancurkan. Oleh karena sistem tersebut hanya dapat menyingkirkan benda

asing yang sudah dikenal sebelumnya, maka sistem ini disebut spesifik

(Bratawijaya 2006). Peneliti lainnya menjelaskan bahwa disebut imun spesifik

karena jika antigen 1 menyerang tubuh maka antibodi 1 diproduksi untuk

melawan. Jika antigen 2 menyerang maka antibodi 2 diproduksi untuk melawan,

begitu seterusnya (Tortora 2004).

Sistem imun spesifik dapat bekerja tanpa bantuan sistem imun non

spesifik, tetapi pada umumnya terjadi kerjasama yang baik antara antibodi,

komplemen dan fagosit dengan sel-T makrofag. Antibodi akan muncul apabila

ada antigen yang masuk kedalam tubuh. Sistem imun spesifik hanya dapat

menghancurkan antigen yang telah dikenalnya (Kresno 2001). Secara garis

besar sistem imun terdiri dari dua macam mekanisme, yakni pertahanan selular

dan humoral, dalam hal ini mukosa usus merupakan sisi terpenting yang

berhubungan dengan mikroba (Surono 2004).

Sistem imunitas selular memegang peranan penting dalam pertahanan

terhadap infeksi yang disebabkan oleh kuman-kuman intrasel contohnya virus,

riketsia, mikrobakteria, dan beberapa protozoa (Kresno 2001). Imunitas humoral

terdiri kelompok sel-B yang berperan dalam sintesis antibodi dan merupakan

20% dari limfosit tubuh. Bila sel B dirangsang oleh antigen, sel akan berpoliferasi

dan berkembang menjadi sel plasma yang dapat membentuk antibody. Antibodi

ini berbentuk humoral (dalam cairan tubuh seperti darah, getah bening). Fungsi

utama antibodi ini adalah pertahanan terhadap infeksi ekstraseluler, virus dan

bakteri serta antitoksik (Baratawijaya dan Garna 2002). Antibodi yang lepas

dapat ditemukan dalam serum. Terjadinya respon imun humoral oleh karena

infeksi dengan toksoid atau virus/bakteri yang dimatikan/dilemahkan (kresno

2001).

Penilaian Status Imun Intregritas respon imun sering dinilai dengan cara mengukur kadar

berbagai jenis kelas immunoglobulin didalam serum seseorang atau dengan

56

mengukur titer antibodi setelah diberikan stimulus antigenis yang cukup (Suyitno

1985). Analisis untuk mengukur respon imun humoral (antibodi) dapat dibagi

menjadi tiga kelas yaitu primary binding test, secondary binding test, dan tertiary

binding test. Metode yang paling sensitif (jumlah antibodi yang dapat dideteksi)

adalah primary binding test yang merupakan suatu metode pengukuran langsung

yang dilakukan pada interaksi antibodi-antigen. Salah satu metode yang

termasuk dalam primary binding test adalah metode ELISA (Enzyme-Linked

Immunosorbent Assay) (Kindt et al 2007).

IgG adalah antibodi yang paling banyak ditemukan dan mencakup sekitar

80% dari semua imunoglobulin dalam darah. Imunoglobulin dapat ditemukan

dalam darah, limpa, dan usus. Kadar IgG meningkat secara lambat selama

respons primer terhadap suatu antigen, tetapi meningkat secara cepat dengan

kekuatan yang lebih besar pada paparan kedua (Corwin 2001). Terdapat empat

subkelas pada IgG manusia yang dibedakan oleh jumlah dan urutan rantai yang

sesuai dengan penurunan rata-rata kosentrasi serum. Empat subkelas tersebut

antara lain : IgG1, IgG2, IgG3, dan IgG4 (Goldsby et al 2007). Menurut Roitt (1991)

Imunogllobulin G merupakan komponen utama immunoglobulin dalam serum.

Respon imun diukur dengan menganalisis titer IgG total terhadap sampel darah

anak. Kriteria IgG menurut Kurniati (2004) dikelompokkan menjadi tiga kelompok.

Klasifikasi status imun disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Klasifikasi status imun Kadar titer IgG IU/ml Kategori

0,0-1,0 IU/ml Rendah >1,0-1,5 Cukup

> 1.5 IU/ml Tinggi Sumber: Kurniati (2004)

Peran Vitamin dalam Pembentukan Imunitas Vitamin adalah komponen organik yang diperlukan dalam jumlah kecil,

namun sangat penting untuk reaksi-reaksi metabolik didalam sel, serta

diperlukan untuk pertumbuhan normal dan pemeliharaan kesehatan. Mineral

terutama mineral mikro terdapat (Almatsier 2006). Peran vitamin lam jumlah

sangat kecil dalam tubuh, namun mempunyai peran sangat penting untuk

kehidupan, kesehatan dan reproduksi (Piliang 2006). Menurut IOM (2000) Peran

lain dari vitamin dan mineral adalah sebagai antioksidan yang sangat

mempengaruhi kualitas hidup manusia.

57

Sistem kekebalan tubuh (imunitas) memerlukan zat gizi antioksidan

antara lain untuk memproduksi dan menjaga keseimbangan sel imun

(hematopoises), vitamin dan mineral sebagai antioksidan untuk melawan

mikroorganisme penyebab penyakit (imunitas bawaan/innate dan

dapatan/adaptive). Tubuh memerlukan vitamin dan mineral dalam jumlah yang

cukup agar sistem imun dapat berfungsi secara optimal. Vitamin dan mineral

tertentu seperti vitamin A, vitamin E, vitamin C, vitamin B6, vitamin B12, zinc,

selenium dan zat besi mempunyai peranan dalam respon imun. Zat besi tersebut