skenario blok 27

of 26 /26
SKENARIO E BLOK 27 Tuan A, 40 tahun, datang ke RS dengan keluhan nyeri dada. Pada anamnesis, tidak didapatkan sesak nafas, lekas lelah, maupun dada berdebar-debar. Kebiasaan merokok dua bungkus sehari. Kebiasaan olahraga jarang, kadang-kadang seminggu sekali. Riwayat penyakit pasien menderita diabetes mellitus. Dia takut terkena penyakit jantung karena ayahnya pernah mengeluh nyeri dada, dirawat inap, dan dinyatakan menderita sakit jantung koroner. Pemeriksaan Fisik Umum: Didapatkan data: kesadaran kompos mentis, tekanan darah 120/80 mmHg, denyut nadi 80x/menit, irama regular, isi yang cukup, RR 18x/menit, JVP tidak meningkat. Pada Pemeriksaan Fisik Khusus Thorax: Inspeksi menujukkan apeks tidak ada heaving, Nampak di linea medioclavicularis sinistra SIC IV. Pada palpasi didapatkan apeks di SIC IV linea medioclavicularis sinistra, tidak ada thrill. Pada perkusi didapatkan pinggang jantung normal, apeks di SIC IV linea medioclavicularis sinistra. Pada auskultasi bunyi jantung I intensitas normal, bunyi jantung II intensitas normal, normal splitting. Tidak ada murmur. Tidak ada gallop. Tidak ada rochi. Pemeriksaan Penunjang: Pemeriksaan laboratorium normal. Pemeriksaan tambahan ECG normal. Pada foto thorax CTR = 0,49, vaskularisasi perifer normal, aorta tidak menonjol, pinggang jantung normal. Apeks tidak bergeser ke lateral atau lateral bawah. Pemeriksaan exercise stress test (treadmill

Author: mutia-arnisa-putri

Post on 04-Jan-2016

248 views

Category:

Documents


4 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

blok 27 2015

TRANSCRIPT

SKENARIO E BLOK 27

Tuan A, 40 tahun, datang ke RS dengan keluhan nyeri dada. Pada anamnesis, tidak didapatkan sesak nafas, lekas lelah, maupun dada berdebar-debar. Kebiasaan merokok dua bungkus sehari. Kebiasaan olahraga jarang, kadang-kadang seminggu sekali. Riwayat penyakit pasien menderita diabetes mellitus. Dia takut terkena penyakit jantung karena ayahnya pernah mengeluh nyeri dada, dirawat inap, dan dinyatakan menderita sakit jantung koroner.Pemeriksaan Fisik Umum:Didapatkan data: kesadaran kompos mentis, tekanan darah 120/80 mmHg, denyut nadi 80x/menit, irama regular, isi yang cukup, RR 18x/menit, JVP tidak meningkat.Pada Pemeriksaan Fisik Khusus Thorax:Inspeksi menujukkan apeks tidak ada heaving, Nampak di linea medioclavicularis sinistra SIC IV. Pada palpasi didapatkan apeks di SIC IV linea medioclavicularis sinistra, tidak ada thrill. Pada perkusi didapatkan pinggang jantung normal, apeks di SIC IV linea medioclavicularis sinistra. Pada auskultasi bunyi jantung I intensitas normal, bunyi jantung II intensitas normal, normal splitting. Tidak ada murmur. Tidak ada gallop. Tidak ada rochi.Pemeriksaan Penunjang:Pemeriksaan laboratorium normal. Pemeriksaan tambahan ECG normal. Pada foto thorax CTR = 0,49, vaskularisasi perifer normal, aorta tidak menonjol, pinggang jantung normal. Apeks tidak bergeser ke lateral atau lateral bawah. Pemeriksaan exercise stress test (treadmill test) normal. Pemeriksaan echocardiography menunjukkan jantung dalam batas normal.

KLARIFIKASI ISTILAH1. Nyeri dada: chest pain, adalah rasa nyeri atau tidak nyaman pada daerah sekitar region thorax2. Sesak Nafas : gangguan fungsi pernafasan yang diakibatkan mengecil atau tersumbatnya saluran pernafasan atau lemahnya organ pernafasan3. Dada berdebar-debar : palpitasi, perasaan berdebar-debar atau denyut jantung yang tidak teratur yang sifatnya subjektif4. Diabetes Melitus : gangguan metabolism yang ditandai dengan kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik yang disebabkan oleh kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya5. Sakit Jantung Koroner : penyakit jantung yang menyangkut gangguan dari pembuluh darah koroner6. Heaving : pulsasi apeks yang melebar, teraba seperti menggelombang7. Thrill : sensasi getaran yang dirasakan pemeriksa pada palpasi tubuh dibagian dinding thorax didaerah precordial yang terjadi karena adanya aliran turbulensi, ditemukan pada penyempitan katup, dilatasi segmen arteri8. Ronki: suara yang dihasilkan saat udara melewati jalan nafas yang penuh cairan atau mucus, terdengar saat inspirasi maupun ekspirasi9. Gallop : kelainan irama jantung10. Murmur : bunyi auskultasi, terutama bunyi periodic berdurasi singkat dan berasal dari jantung atau pembuluh darah11. Splitting : adanya dua komponen pada kompleks bunyi jantung pertama dan kedua12. CTR : Cardio Thorax Ratio, suatu cara pengukuran besarnya jantung dengan mengukur perbandingan antara ukuran jantung dengan lebarnya rongga dada pada foto thorax proyeksi PA13. Echocardiography : salah satu teknik pemeriksaan diagnostik yang menggunakan gelombang suara dengan frekuensi tinggi untuk memvisualisasikan gambaran struktur jantung dan pembuluh darah serta fungsi jantung pada monitor

IDENTIFIKASI MASALAH1. Tuan A, 40 tahun, datang ke RS dengan keluhan nyeri dada. Pada anamnesis, tidak didapatkan sesak nafas, lekas lelah, maupun dada berdebar-debar. 2. Kebiasaan merokok dua bungkus sehari. Kebiasaan olahraga jarang, kadang-kadang seminggu sekali. Riwayat penyakit pasien menderita diabetes mellitus. Dia takut terkena penyakit jantung karena ayahnya pernah mengeluh nyeri dada, dirawat inap, dan dinyatakan menderita sakit jantung koroner.3. Pemeriksaan Fisik Umum:Didapatkan data: kesadaran kompos mentis, tekanan darah 120/80 mmHg, denyut nadi 80x/menit, irama regular, isi yang cukup, RR 18x/menit, JVP tidak meningkat.4. Pemeriksaan Fisik Khusus Thorax:Inspeksi menujukkan apeks tidak ada heaving, Nampak di linea medioclavicularis sinistra SIC IV. Pada palpasi didapatkan apeks di SIC IV linea medioclavicularis sinistra, tidak ada thrill. Pada perkusi didapatkan pinggang jantung normal, apeks di SIC IV linea medioclavicularis sinistra. Pada auskultasi bunyi jantung I intensitas normal, bunyi jantung II intensitas normal, normal splitting. Tidak ada murmur. Tidak ada gallop. Tidak ada rochi.5. Pemeriksaan Penunjang:Pemeriksaan laboratorium normal. Pemeriksaan tambahan ECG normal. Pada foto thorax CTR = 0,49, vaskularisasi perifer normal, aorta tidak menonjol, pinggang jantung normal. Apeks tidak bergeser ke lateral atau lateral bawah. Pemeriksaan exercise stress test (treadmill test) normal. Pemeriksaan echocardiography menunjukkan jantung dalam batas normal.

ANALISIS MASALAH1. Tuan A, 40 tahun, datang ke RS dengan keluhan nyeri dada. Pada anamnesis, tidak didapatkan sesak nafas, lekas lelah, maupun dada berdebar-debar. a. Apa hubungan usia dan jenis kelamin terhadap keluhan ?Jawab :Jenis kelamin (laki-laki) menjadi faktor risiko yang meningkat karena pada perempuan, lebih kebal, karena terdapat efek perlindungan dari esterogen. Kemudian faktor risiko juga meningkat berdasarkan usia (pada usia 40-60 tahun, risiko meningkat 5 kali lipat). Hal ini dapat dikarenakan adanya dua proses utama, yaitu degenerasi dan akumulasi. Faktor ayah pasien yang merupakan pasien PJK menjadi predisposisi PJK yang berasal dari faktor genetic.

b. Apa makna tidak didapatkan sesak nafas, lekas lelah maupun dada berdebar-debar pada kasus ?Jawab :

c. Apa etiologi dan patofisiologi dari keluhan nyeri dada pada kasus ?Jawab :Merokok menyebabkan akumulasi toksi di pembuluh darah yang menimbulkan aterosklerosis yang pada akhirnya memicu timbulnya hipertensi. Akibat adanya plak aterosklerosis ini, lumen pembuluh darah menyempit dan memudahkan terjadinya oklusi (penyumbatan) pembuluh darah terutama di arteri koronaria. Oklusi ini mengakibatkan aliran darah koroner tidak adekuat. Sebagai akibatnya, terjadilah iskemia miokard. Terjadi penurunan perfusi jantung yang berakibat pada penurunan intake oksigen dan akumulasi hasil metabolisme senyawa kimia. Akumulasi metabolit ini timbul karena suplai oksigen yang tidak adekuat, maka sel-sel miokard mengompensasikan dengan berespirasi anaerob. Sebagai produk sampingannya yaitu asam laktat. Asam laktat membuat pH sel menurun. Perubahan metabolisme sel-sel miokard inilah yang menstimulasi reseptor nyeri melaluisymphatetic afferentdi area korteks sensoris primer (area 3,2,1 Broadman) yang menimbulkan nyeri di dada.

2. Kebiasaan merokok dua bungkus sehari. Kebiasaan olahraga jarang, kadang-kadang seminggu sekali. Riwayat penyakit pasien menderita diabetes melitus. Dia takut terkena penyakit jantung karena ayahnya pernah mengeluh nyeri dada, dirawat inap, dan dinyatakan menderita sakit jantung koroner.a. Bagaimana hubungan kebiasaan dengan keluhan yang dialami Tuan A ?Jawab :Merokok dapat merangsang proses aterosklerosis karena efek langsung terhadap dinding arteri. Karbon monoksid (CO) dapat menyebabkan hipoksia jaringan arteri, nikotin menyebabkan mobilisasi katekolamin yang dapat menambahkan reaksi trombosit dan menyebabkan kerusakan pada dinding arteri, sedang glikoprotein tembakau dapat menimbulkan reaksi hipersensitif dinding arteri. Sejumlah penelitian epidemiologi mendukung hipotesis bahwa aktifitas fisik yang giat menurunkan resiko PJK. Aktifitas fisik (exercise) dapat meningkatan kadar HDL kolestrol, memperbaikai kolesterol koroner sehingga resiko PJK dapat dikurangi, memperbaiki fungsi paru dan pemberian oksigen ke miocard, menurunkan berat badan, menurunkan kolesterol, trigliserida, dan KGD pada pendrita DM, menurunkan tekanan darah.Hasil penelitian di harvard selama 10 tahun (1962 - 1972 ) terhadap 16.936 alumni universitas Harvard USA, menyimpulkan orang dengan exercise fisik yang adekuat kemungkingan menderita PJK lebih kecil dibandingkan dengan yang kurang melakukan aktifitas.Latihan olahraga merupakan suatu aktivitas aerobik, yang bermanfaat untuk meningkatkan dan mempertahankan kesehatan dan daya tahan jantung, paru, peredaran darah, otot-otot, dan sendi-sendi. Suatu latihan olahraga yang dilakukan secara teratur akan memberikan pengaruh yang besar terhadap tubuh kita. Latihan fisik dengan pembebanan tertentu akan mengubah faal tubuh yang selanjutnya akan mengubah tingkat kesegaran jasmani. Perubahan secara cepat disebut respon, bila perubahannya lambat akibat olahraga atau latihan teratur disebut adaptasi. Aktivitas aerobik teratur menurunkan risiko PJK, meskipun hanya 11% laki-laki dan 4% perempuan. ( Gray, 2003 ). Sehingga pada kasus dengan adanya riwayat keluarga yang menderita PJK dimana ini dapat dijadikan factor resiko dan ditambah dengan kebiasaan yang jarang olahraga yang dapat medukung factor resiko terjadinya PJK.

b. Bagaimana hubungan keluhan dengan riwayat penyakit pasien yaitu diabetes melitus?Jawab :Penyebab kematian dan kesakitan utama pada pasien DM (baik DM tipe I maupun DM tipe II) adalah penyakit jantung koroner, yang merupakan salah satu penyulit makrovaskuler pada diabetus melitus. Penyulit makrovaskuler ini bermanifestasi sebagai aterosklerosis dini yang dapat mengenai organ-organ vital (jantung dan otak). Pada pasien DM resiko payah jantung kongestif meningkat sampai 4 kali. Peningkatan resiko ini tidak hanya disebabkan karena penyakit jantung iskemik. Dalam beberapa tahun terakhir ini diketahui bahwa pasien DM dapat pula mempengaruhi otot jantung secara independen. Selain melalui keterlibatan aterosklerosis dini arteri koroner yang dapat menyebabkan penyakit jantung iskemik juga dapat terjadi perubahan-perubahan berupa fibrosis interstisial, pembentukan kolagen dan hipertrofi sel-sel otot jantung. Pada tingkat seluler terjadi gangguan pengeluaran kalsium dari sitoplasma, perubahan struktur troponin T dan peningkatan aktifitas piruvat kinase. Perubahan-perubahan ini akan menyebabkan gangguan kontraksi dan relaksasi otot jantung serta peningkatan tekanan end-diastolic sehingga dapat menimbulkan kardiomiopati restriktif.Dari hasil penelitian didapatkan bahwa: 1. Angka kejadian aterosklerosis lebih tinggi pada pasien DM dibanding populasi non DM; 2. Pasien DM mempunyai risiko tinggi untuk mengalami trombosis, penurunan fibrinolisis dan peningkatan respon inflamasi; 3. Pada pasien DM terjadi glikosilasi protein yang akan mempengaruhi integritas dinding pembuluh darah.Lesi aterosklerosis pada pasien DM dapat terjadi karena: hiperglikemia, resistensi insulin dan hiperinsulinemia, hiperamilinemi, inflamasi, trombosis, dislipidemia, hipertensi maupun hiperhomosisteinemia.Manifestasi klinis penyakit jantung pada pasien DM yaitu terjadinya iskemi atau infark miokard kadang-kadang tidak disertai dengan nyeri dada yang khas (angina pektoris). Keadaan ini dikenal dengan silent myocardial ischaemia atau silent myocardial infarction (SMI). Terjadinya SMI pada pasien DM diduga akibat gangguan sensitivitas sentral terhadap rangsang nyeri, penurunan konsentrasi endorpin, neuropati perifer yang menyebabkan denervasi sensorik.

c. Bagaimana hubungan keluhan dengan riwayat penyakit keluarga ?Jawab :Faktor ayah pasien yang merupakan pasien PJK menjadi predisposisi PJK yang berasal dari faktor genetik. Nyeri dada yang dialami oleh Tn. A mungkin adalah kecemasan akan dirinya apabila dia mengidap PJK karena faktor keturunan maupun aktivitasnya sehari-hari. Stres atau cemas dapat memicu sistem saraf autonom untuk meningkatkan kontraksi pembuluh darah koroner sehingga bisa terjadi iskemia miokard yang dapat menimbulkan nyeri dada.

3. Pemeriksaan Fisik Umum:Didapatkan data: kesadaran kompos mentis, tekanan darah 120/80 mmHg, denyut nadi 80x/menit, irama regular, isi yang cukup, RR 18x/menit, JVP tidak meningkat.a. Bagaimana interpretasi dan patofisiologi dari pemeriksaan fisik umum ?Jawab : Kesadaran kompos mentis : normal Tekanan darah 120/80 mmHg : normal Denyut nadi 80x/menit, Irama regular, isi yang cukup : normal RR 18x/menit : normal JVP tidak meningkat : normal

4. Pemeriksaan Fisik Khusus Thorax:Inspeksi menujukkan apeks tidak ada heaving, Nampak di linea medioclavicularis sinistra SIC IV. Pada palpasi didapatkan apeks di SIC IV linea medioclavicularis sinistra, tidak ada thrill. Pada perkusi didapatkan pinggang jantung normal, apeks di SIC IV linea medioclavicularis sinistra. Pada auskultasi bunyi jantung I intensitas normal, bunyi jantung II intensitas normal, normal splitting. Tidak ada murmur. Tidak ada gallop. Tidak ada rochi.a. Bagaimana interpretasi dan patofisiologi dari pemeriksaan fisik khusus thorax ?Jawab : Inspeksi menujukkan apeks tidak ada heaving. Nampak di linea medioclavicularis sinistra SIC IV : normal Pada palpasi didapatkan apeks di SIC IV linea medioclavicularis sinistra, tidak ada thrill : normal Pada perkusi didapatkan pinggang jantung normal, apeks di SIC IV linea medioclavicularis sinistra : normal Pada auskultasi bunyi jantung I intensitas normal, bunyi jantung II intensitas normal, normal splitting. Tidak ada murmur. Tidak ada gallop. Tidak ada rochi : normal

5. Pemeriksaan Penunjang:Pemeriksaan laboratorium normal. Pemeriksaan tambahan ECG normal. Pada foto thorax CTR = 0,49, vaskularisasi perifer normal, aorta tidak menonjol, pinggang jantung normal. Apeks tidak bergeser ke lateral atau lateral bawah. Pemeriksaan exercise stress test (treadmill test) normal. Pemeriksaan echocardiography menunjukkan jantung dalam batas normal.a. Bagaimana interpretasi dan patofisiologi dari pemeriksaan penunjang ?Jawab : ECG Normal: normal CTR 0,49:Perhitungan CTR (Cardio Thoracis Ratio)CTR= {(A+B)/(C1+C2)}x 100% A= Titik terjauh jantung kanan. B= Titik terjauh jantung kiri. C= Garis yang melalui kedua sudut costofrenicus yang melewati cardiofrenicus.Normal: 48-50 %CTR>50% = CardiomegaliPada kasus didapatkan 0,49 = 49% yang berarti normal Vaskularisasi perifer Normal : normal Aorta tidak menonjol : normal Pinggang jantung normal : normal Apeks tidak bergeser ke lateral atau lateral bawah : normal Pemeriksaan exercise stress (treadmill test) normal : normal Pemeriksaan ekokardiografi menunjukkan jantung dalam batas normal: normal

b. Bagaimana cara pemeriksaan exercise stress test ?Jawab :1. Persiapan untuk pasien Malamnya tidur cukup Sebaiknya dua jam sebelum dilakukan tindakan tidak boleh makan Pada pagi harinya sebaiknya jangan olahraga dulu. Untuk diagnostic sebaiknya obat-obatan kardiovaskuler (beta blocker) dihentikan sesuai dengan perintah dokter. Harus bawa surat consult dari dokter.2. Persiapan Alat Satu set alat treadmill Kertas printer teradmill Emergencytroly lengkap dan defibilator Plester Elektrode Oksigen Tensimeter dan stetoscpoe jelly Alkohol 70 % dan kassa non steril Tissue/Handuk kecil Celana, baju dan sepatu yang layak dipakai untuk treadmill.3. Cara kerja1. Pasien di anamnesa dan menjelaskan tentang tata cara,maksud, manfaat dan resiko dari treadmill.2. Menentukan target HR submaximal dan maximal (target HR max : 220 dikurang umur dan submaximal adalah 85 % dari target HR max)3. Pasien menandatangani formulir informed consent.4. Pasien dipersilahkan ganti pakaian, celana dan sepatu treadmill yang telah disediakan.5. Pasien berbaring denagn tenang di tempat tidur6. Bersihkan tubuh pasien pada lokasi pemasangan electrode dengan menggunakan kassa alkohol.7. Tempelkan electrode sesuai dengan tempat yang sudah ditentukan.8. Sambungkan dengan kabel treadmill9. Fiksasi electrode dengan sempurna10. Masukkan data pasien ke alat treadmill11. Ukur tekanan darah12. Rekam EKG 12 leads13. Jalankan alat treadmill dengan kecepatan sesuai dengan prosedur.14. Setiap tiga menit speed dan elevation akan bertambah sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan.15. Pantau terus perubahan EKG dan keluhan pasien selama tets.16. Rekam EKG 12 leads dan BP setiap tiga menit.17. Hentikan test sesuai dengan prosedur4. Recovery1. Rekam EKG 12 leads dan ukur tekanan darah setelah test dihentikan.2. Persilahkan pasien untuk duduk/berbaring.3. Pantau terus gambaran EKG selama pemulihan.4. Rekam EKG 12 leads dan ukur tekanan darah setiap tiga menit.5. Pemulihan biasanya selama enam menit/sembilan menit (hingga gambaran EKG ,HR, dan tekanan darah kembali seperti semula)6. Menberitahukan pada pasien bahwa test sudah selesai.7. Lepaskan elektrode dan manset BP.8. Bersihkan jelly yang menempel di dada pasien .9. Merapihkan kembali alatalat pada tempatnya.10. Sebaiknya selama 15 menit pasca treadmill test pasien masih berada dalam pengawasan petugas.

c. Bagaimana cara menilai CTR pada foto thorax ?Jawab :Perhitungan Cardiothoracic Ratio (CTR)

Setelah foto thorax PA sudah jadi, maka untuk membuat perhitungan CTR nya kita harus membuat garis-garis yang akan membantu kita dalam perhitungan CTR ini.1. Buat garis lurus dari pertengahan thorax (mediastinum) mulai dari atas sampai ke bawah thorax.

2. Tentukan titik terluar dari kontur jantung sebelah kanan dan namakan sebagai titik A.

3. Tentukan titik terluar dari kontur jantung sebelah kiri dan namakan sebagai titik B.

4. Buat garis lurus yang menghubungkan antara titik A dan B

5. Tentukan titik terluar bayangan paru kanan dan namakan sebagai titik C.

6. Buat garis lurus yang menghubungkan antara titik C dengan garis mediastinum.

7. Perpotongan antara titik C dengan garis mediastinum namakan sebagai titik D

Jika foto thorax digambar dengan menggunakan aturan di atas maka akan di dapatkan foto thorax yang sudah di beri garis seperti di bawah ini :

Setelah dibuat garis-garis seperti di atas pada foto thorax, selanjutnya kita hitung dengan menggunakan rumus perbandingan sebagai berikut :

Ketentuan : Jika nilai perbandingan di atas nilainya 50% (lebih dari/sama dengan 50% maka dapat dikatakan telah terjadi pembesaran jantung (Cardiomegally)

Contoh :Pada sebuah foto thorax, setelah dibuat garis-garis untuk menghitung Cardiothoracic Ratio, di dapat nilai-nilai sebagai berikut :Panjang garis A ke B = 10 cmPanjang garis C ke D = 15 cmDari nilai-nilai di atas, apakah jantun pada pasien tersebut dapat dikategorikan sebagai Cardiomegally atau tidak?Jawab :Sesuai dengan rumus perbandingan yang telah dijelaskan, maka kita masukan nilai-nilai tersebut di atas.

karena nilai ratio nya melebihi 50%, maka jantung pasien tersebut dapat dikategorikan Cardiomegally (terjadi pembesaran jantung).

d. Apa pemeriksaan penunjang lain yang diperlukan pada kasus ?Jawab :- EKG; adanya depresi segmen ST yang baru menunjukkan kemungkinan adanya iskemi akut. Gelombang T negatif juga salah satu tanda iskemi atau NSTEMI. Perubahan gelombang ST dan T yang nonspesifik seperti depresi sgemen ST kurang dari 0,5mm dan gelombang T negatif kurang dari 2 mm tidak spesifik untuk iskemi, dan dapat disebabkan karena hal lain. Pada unstable angina 4% EKGnya normal.- Exercise Test. Pasien yang telah stabil dengan terapi medikamentosa dan menunjukkan tanda resiko tinggi perlu pemeriksaan exercise test dengan alat treadmill. Bila hasilnya negatif, maka prognosis baik. Bila hasilnya positif, lebih-lebih bila didapatkan depresi segmen ST yang dalam, dianjurkan untuk dilakukan pemeriksaan angiografi koroner untuk menilai keadaan pembuluh koronernya apakah perlu tindakan revaskularisasi, karena resiko terjadinya komplikasi kardiovaskular dalam waktu mendatang cukup besar.- Ekokardiografi. Tidak memberikan data untuk diagnosis unstable angina secara langsung. Tapi bila tampak adanya gangguan faal ventrikel kiri, mitral insufisiensi dan abnormalitas gerakan dinding regional jantung menandakan prognosis kurang baik.- Pemeriksaan Laboratorium. Dianggap ada mionekrosis bila troponin T atau I positif sampai dalam 24 jam. Troponin tetap positif sampai 2 minggu. Resiko kematian bertambah dengan tingkat kenaikan troponin. Kenaikan CRP dalam SKA berhubungan dengan mortalitas jangka panjang.

HIPOTESISTuan A, 40 tahun dengan keluhan nyeri dada diduga mengalami unstable angina.

TEMPLATE (unstable angina)1. How to diagnose

2. DD3. WD4. Epidemiologi5. Etiologi6. Patofisiologi7. TatalaksanaOpsi-opsi (pilihan-pilihan) perawatan termasuk: istirahat, obat-obat (nitroglycerin, beta blockers, calcium channel blockers), percutaneous transluminal coronary angioplasty (PTCA), atau coronary artery bypass graft surgery (CABG).Obat-Obata. NitroglycerinIstirahat, tablet-tablet nitroglycerin (ditempatkan dibawah lidah), dan spray-spray nitroglycerin semuanya menghilangkan angina dengan mengurangi permintaan otot jantung untuk oksigen. Nitroglycerin juga menghilangkan spasme dari arteri-arteri koroner dan dapat mendistribusikan lagi aliran darah arteri koroner ke area-area yang paling memerlukan itu. Nitroglycerin yang bekerja singkat dapat diulangi pada interval-interval lima menit. Jika 3 dosis-dosis dari nitroglycerin gagal untuk menghilangkan angina, perhatian medis lebih jauh direkomendasikan. Nitroglycerin yang bekerja singkat juga dapat digunakan sebelum pengerahan tenaga untuk mencegah angina.Preparasi-preparasi nitroglycerin yang bekerja lama, seperti tablet-tabletIsordil, Nitro-Dur transdermal systems (berbentuk tempelan), dan obat salepNitroladalah bermanfaat dalam mencegah dan mengurangi frekwensi dan intensitas dari episode-episode pada pasien-pasien dengan angina kronis. Penggunaan preparasi-preparasi nitroglycerin mungkin menyebabkan sakit-sakit kepala dan kepeningan yang disebabkan oleh penurunan tekanan darah yang berlebihan.b. Beta BlockersBeta blockers menghilangkan angina dengan menghalangi efek dari adrenaline pada jantung. Menghalangi adrenaline mengurangi denyut jantung, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi kekuatan memompa dari otot jantung, semua darinya mengurangi permintaan otot jantung untuk oksigen. Beta blockers termasuk: acebutolol (Sectral) atenolol (Tenormin) bisoprolol (Zebeta) metoprolol (Lopressor, Lopressor LA, Toprol XL) nadolol (Corgard) propranolol (Inderal) timolol (Blocadren)Efek-efek sampingan termasuk: perburukanasma, penurunan denyut jantung dan tekanan darah yang berlebihan, depresi, kelelahan, impoten, tingkat-tingkat kolesterol yang naik, dan sesak napas yang disebabkan oleh fungsi otot jantung yang berkurang (gagal jantung kongestif).c. Calcium Channel BlockersCalcium channel blockers membebaskan angina dengan menurunkan tekanan darah, dan mengurangi kekuatan memompa dari otot jantung, dengan demikian mengurangi permintaan oksigen otot. Calcium channel blockers juga menghilangkan spasme (kejang) arteri koroner. Calcium channel blockers termasuk: amlodipine (Norvasc) bepridil (Vascor) diltiazem (Cardizem) felodipine (Plendil) isradipine (Dynacirc) nicardipine, (Cardene) nifedipine (Adalat, Procardia) nimodipine (Nimotop) nisoldipine (Sular) verapamil (Calan)Efek-efek sampingan termasuk: pembengkakan dari kaki-kaki, penurunan denyut jantung dan tekanan darah yang berlebihan, dan fungsi otot jantung yang terdepresi.d. Angioplasty dan Coronary Artery Bypass SurgeryKetika pasien-pasien terus menerus mempunyai angina meskipun dengan kombinasi-kombinasi obat-obat nitroglycerin yang ditolerir secara maksimum, beta blockers dan calcium channel blockers, kateterisasi jantung dengan coronary arteriography diindikasikan. Tergantung pada lokasi dan keparahan dari penyakit pada arteri-arteri koroner, pasien-pasien dapat dirujuk untukballoon angioplasty(percutaneous transluminal coronary angioplastyatauPTCA) ataucoronary artery bypass graft surgery (CABG)untuk meningkatkan aliran darah arteri koroner.

8. Edukasi dan Pencegahan9. Komplikasi10. Prognosis11. SKDI

LEARNING ISSUE1. Anatomi Jantung2. Angina Pectoris

DAFTAR PUSTAKAKusmana, Dede. Hanafi, Moechtar. 1996. Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner dalam Rilantono, Lily Ismudiati. Baraas, Faisal. Karo, Santoso Karo. Roebiono, Poppy Surwianti. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta: FKUI.Biermann, E. L. 2007. Aterosklerosis dan Bentuk Arteriosklerosis Lainnya. Dalam: Isselbacher, K. J., E. Braunwald, J. D. Wilson, J. B. Martin, A. S. Fauci, D. L. Kasper. 2007. Harrison, Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam . Edisi 13. Volume 3. Terjemahan Asdie, A. H., et. al. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. pp: 1244-54.Sudoyo, Aru W. dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.Froelicher F V and Myers N Jonathan, (2007), Manual of exercise testing, third edition, Mosby