skenario 3 blok muskulo

20
LI.1. Memahami dan Menjelaskan makroskopis dan mikroskopis articulatio Coxae Makroskopis Jenis sendi: Spheroidea (a ball and shcket) kepala sendi seperti bentuk bola masuk kedalam lekuk sendi yang dalam Tulang yang berperan : caput femoris, fossa acetabulum, dan os.Coxae Permukaan Artikular. Caput femoris bersendi dengan acetabulum os coxae. Kedalaman acetabulum diperluas oleh labrum acetabulare dari jaringan fibrokartilago yang melekat pada tulang tepi acetabulum dan ligamentum tranversum acetabuli. Simpan sendi. Simpan sendi jaringan ikat ( capsula articularis fibrosa) yang kuat melekat proksimal dari acetabulum dan ligamentum transversum acetabuli. Di sebelah distal simpai ini melekat pada collum femoris sebagai berikut : Anterior pada linea intertrochanterica dan akar trochanter major Posterior pada collum femoris, proksimal terhadap crista interochanterica Serabut simpai yang terbanyak melintas secara berulir dari os coxae ke linea interochanterica, tetapi beberapa serabut dalam melingkar sekeliling collum femoris, membentuk zona orbicularis. Serabut-serabut ini membentuk sebuah kerah sekeliling collum femoris yang mencerutkan simpai sendi dan membantu memegang collum femoris dalam acetabulum. Beberapa serabut simpai longitudinal dalam membentuk retinaculum yang terbalik kea rah proksimal paa collum femoris sebagai berkas longitudinal yang membaur dengan periosteum. Dalam retinaculum terdapat pembuluh darah yang mengantar darah pada caput femoris dan collumm femoris. Membarana synovial melapisi permukaan dalam simpai sendi jaringan ikat dan juga menutupi collum femoris antara perlekatan simpai sendi tadi dan tepi cartilage articularis capitits femoris, daerah nonartikular

Upload: aisyah-khalda

Post on 16-Feb-2015

135 views

Category:

Documents


11 download

DESCRIPTION

nyeri dipanggu karena jatuh

TRANSCRIPT

Page 1: skenario 3 blok muskulo

LI.1. Memahami dan Menjelaskan makroskopis dan mikroskopis articulatio Coxae

Makroskopis

Jenis sendi: Spheroidea (a ball and shcket) kepala sendi seperti bentuk bola masuk kedalam lekuk sendi yang dalamTulang yang berperan : caput femoris, fossa acetabulum, dan os.Coxae

Permukaan Artikular. Caput femoris bersendi dengan acetabulum os coxae. Kedalaman acetabulum diperluas oleh labrum acetabulare dari jaringan fibrokartilago yang melekat pada tulang tepi acetabulum dan ligamentum tranversum acetabuli.

Simpan sendi. Simpan sendi jaringan ikat ( capsula articularis fibrosa) yang kuat melekat proksimal dari acetabulum dan ligamentum transversum acetabuli. Di sebelah distal simpai ini melekat pada collum femoris sebagai berikut :

Anterior pada linea intertrochanterica dan akar trochanter major Posterior pada collum femoris, proksimal terhadap crista interochantericaSerabut simpai yang terbanyak melintas secara berulir dari os coxae ke linea

interochanterica, tetapi beberapa serabut dalam melingkar sekeliling collum femoris, membentuk zona orbicularis. Serabut-serabut ini membentuk sebuah kerah sekeliling collum femoris yang mencerutkan simpai sendi dan membantu memegang collum femoris dalam acetabulum. Beberapa serabut simpai longitudinal dalam membentuk retinaculum yang terbalik kea rah proksimal paa collum femoris sebagai berkas longitudinal yang membaur dengan periosteum. Dalam retinaculum terdapat pembuluh darah yang mengantar darah pada caput femoris dan collumm femoris.

Membarana synovial melapisi permukaan dalam simpai sendi jaringan ikat dan juga menutupi collum femoris antara perlekatan simpai sendi tadi dan tepi cartilage articularis capitits femoris, daerah nonartikular acetabulum dan membentuk pelapis untuk ligamentum capitits femoris

Ligamentum. Simpai sendi jaringan ikat di sebelah dengan diperkuat oleh sebuah ligamentum yang kuat dan berbentuk Y, yakni ligamentum iliofemorale yang melekat pada spina iliaca anterior inferior dan pinggiran acetabulum, serta pada linea interochanterica di sebelah distal. Ligamentum iliofemorale mencegah hiperekstensi articulation coxae sewaktu berdiri dengan menmutar caput femoris masuk ke dalam acetabulum.

Simpai sendi jaringan ikat tadi disebelah bawah diperkuat oleh ligamentum pubofemorale yang melekat pada baian pubik pinggiran acetabulum dan eminentia iliopubica; ligamentum ini membaur dengan bagian medial ligamentum iliofemorale dan mengetat sewaktu diadakan ekstensi dan abduksi pada articulation coxae, dan mencegah terjadinya hiperabduksi ada articulation coxae.

Page 2: skenario 3 blok muskulo

Disebelah belakang, simpai sendi tersebut diperkuat oleh ligamentum ischiofemorale yang berpangkal pada bagian iskial pinggiran acetabulum dan mengulir dalam arah kraniolateral ke kollum femoris, medial dari alas traochanter major; ligamentum ini cenderung memutar caput femoris kea rah medial ke dalam acetabulum sewaktu diadakan ekstensi pada articulation coxae , dan dengan demikian mencegah terjadinya hiperekstensi.

Page 3: skenario 3 blok muskulo

Ligamentum capitits femoris bersifat lemah dan agaknya tidak banyak berguna dalam memperkuat articulation coxae. Ujungnya yang lebar melekat pada tepi-tepi incissura acetabuli dan ligamentum transversum acetabuli;ujung yang sempit melekat pada fovea ( cekungan ) yang terdapat di caput femoris. Biasanya dalam ligamentum ini terdapat arteri kecil yang menuju ke caput femoris .Gerak sendi Fleksi : M. iliopsoas, M. pectinus, M. rectus femoris, M.adductor

longus, M. adductor brevis, M. adductor magnus pars anterior tensor fascia lata

Ekstensi : M. gluteus maximus, M. gluteus semitendinosis, M.semimembranosus, M. biceps femoris coput langum, M. adductor magnus pars posterior

Abduksi : M. gluteus medius, M. gluteus minimus, M. piriformis, M. Sartorius fasciae lata

Adduksi : M. adductor magnus, M. adductor longus, M. adductor brevis, M. gracilis, M. pectineus, M. obturator externus, M. quadrates femoris

Rotasi medialis : M. gluteus medius, M. gluteus minimus , M. tensor fasciae latae, M. adductor magnus ( pars posterior)

Rotasi lateralis : M. pisiformis, M.obturator internus, Mm. gamelli, M. obturator externus, M. quadrates femoris, M. gluteus maximus dan Mm. adductors.

Pada orang tua terutama perempuan sering terjadi fraktur collum femoris 10 kali lebih bayak pada laki-laki. Selain daripada kondisi tulang itu sendiri( osteoporosis) juga ditentukan oleh sudut inklinasi ( antar aksis collum femoris dan aksis corpus femoris ) . sudut inklinasi yang normal kurang lebih 126 derajat. Bila sudut inklinasi lebih kecil ( coxa vare ) lebih sering terjadi fraktur collum femoris dibandingkan pada sudut yang lebih besar ( coxa valga )

Mikroskopis

Tulang femur dikategorikan tulang panjang, gambaran histologi nya dibagi menjadi 2 bagian, tulang kompak dibagian luar dan tulang kanselosa di bagian dalam.

Pada tulang kompak unit struktural matriksnya adalah osteon (sistem havers), setiap osteon terdiri dari lapisan-lapisam lamela yang tersusun mengelilingi suatu kanalis sentralis. Pada lamela mengandung osteosit dalam rongga berbentuk kenari yang disebut lakuna. Pada masing-masing lakuna terdapat kanal halus yang disebut kanalikuli. Selain itu terdapat pula lamela interstisial, yaitu daerah kecil tidak teratur tulang yang terdapat diantara osteon.

Page 4: skenario 3 blok muskulo

Pada bagian dalam (tulang kanselosa) terdiri dari trabekula tulang yang bentuknya tipis dan bercabang. Trabekula sendiri dikelilingi oleh periosteum. Di luar periosteum terdapat rongga sumsum dengan pembuluh darah

LI.2. Memahami dan Menjelaskan FrakturLO.1. Definisi dan Klasifikasi Fraktur

Fraktur : Putusnya kontinuitas tulang, tulang rawan epifisis, maupun tulang rawan sendi

Fraktur Colum Femur : Fraktur yang terjadi di femur, biasanya sering ditemukan pada orang tua terutama wanita umur 60 tahun ke atas

Klasifikasi Fraktura. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen

tulang dengan dunia luar.b. Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragemen

tulang dengan dunia luar karena adanya perlukan di kulit, fraktur terbuka dibagi menjadi tiga derajat, yaitu :

1. Derajat I o luka kurang dari 1 cm

o kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk.

o fraktur sederhana, tranversal, obliq atau kumulatif ringan.

o Kontaminasi ringan.

2. Derajat IIo Laserasi lebih dari 1 cm

o Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulse

o Fraktur komuniti sedang.

3. Derajat IIIo Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur

kulit, otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.

Page 5: skenario 3 blok muskulo

c. Fraktur Complete : Patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergerseran (bergeser dari posisi normal).

d. Fraktur incomplete : Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.

e. Jenis khusus fraktur :1. Bentuk garis patah & hubungannya dengan mekanisme trauma

Garis patah melintang : trauma angulasi/langsung Garis patah oblique : trauma angulasi Garis patah spiral : trauma rotasi Fraktur kompresi : trauma aksial-fleksi tulang spongiosa Fraktur avulsi : trauma tarikan/traksi otot pada tulang,

misalnya patella

2. Jumlah garis patah Fraktur komunitif : garis patah lebih dari satu dan saling

berhubungan. Fraktur segmental : garis patah lebih dari satu tetapi saling

berhubungan Fraktur multiple : garis patah lebih dari satu tetapi pada

tulang yang berlainan.

3. Bergeser-tidak bergeser Fraktur tidak bergeser : garis patali kompli tetapi kedua

fragmen tidak bergeser. Fraktur bergeser : terjadi pergeseran fragmen-fragmen

fraktur yang juga disebut di lokasi fragmen. Dibagi lagi menjadi 3 jenis :

o Dislokasi ad longitudinam cum contractionum Tpergeseran searah sumbu dan overlapping)

o Dislokasi ad axim (pergeseran membentuk sudut)

o Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi

Klasifikasi Fraktur Colum femorisa. Berdasarkan hubungan terhadap fraktur:

1. Ekstrakapsuler2. Intrakapsuler

b. Berdasarkan lokasi anatomi :1. Sub-kapital2. Transservikal3. Basal

c. Berdasarkan keadaan fraktur femur :1. Fraktur leher2. Fraktur trokanterik3. Fraktur diafisis

Page 6: skenario 3 blok muskulo

4. Fraktur suprakondiler5. Fraktur kondiler

d. Berdasarkan Garden :1. Fraktur tidak lengkap atau tipe abduksi/impaksi2. Fraktur lengkap, tanpa pergeseran3. Fraktur lengkap, disertai sebagian pergeseran4. Fraktur tidak lengkap, disertai pergeseran penu5.

e. Berdasarkan Pauwel (berdasarkan sudut inklinasi leher femur) :1. Tipe 1 : garis fraktur 30˚2. Tipe 2 : garis fraktur 50˚3. Tipe 3. : garis fraktur 70˚

Page 7: skenario 3 blok muskulo

LO.2. Etiologi FrakturTrauma : akibat jatuh dari ketinggian, kecelakaan pekerjaan, kecelakaan

lalu lintas, dsb.Trauma dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

Trauma Langsung : benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur di tempat tersebut

Trauma Tidak Langsung : bila titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan serta fraktur yang diakibatkan trauma yang minimal atau tanpa trauma adalah fraktur patologis yaitu fraktur dari tulang yang patologik misalnya akibat osteoporosis

Etiologi fraktur collum femur : Trauma Langsung : biasanya penderita terjatuh dengan posisi miring

dimana daerah trochanter major terbentur dengan benda keras. Trauma Tak Langsung : disebabkan gerakan eksorotasi yang mendadak

dari tungkai bawah. Karena kepala femur terlihat kuat dengan ligamen di dalam acetabulum oleh ligament iliofemorale dan kapsul sendi, mengakibatkan fraktur di daerah colum femur. Pada dewasa muda apabila terjadi fraktur interkapsuler berarti traumanya cukup hebat. Kebanyakan fraktur colum femur terjadi pada wanita tua dimana tulangnya sudah mengalami osteoporotik

LO.3. Patofisiologi FrakturKesalahan pelatihan adalah faktor-faktor risiko yang paling umum untuk

patah tulang leher femur, termasuk peningkatan mendadak dalam jumlah atau intensitas pelatihan dan pengenalan aktivitas baru. Faktor lainnya yaitu kepadatan tulang yang rendah, komposisi tubuh normal, kekurangan makanan, kelainan biomekanik, dan ketidak teraturan menstruasi.

Faktor predisposisi, seperti variasi anatomi, osteopenia relatif, kondisi fisik yang buruk, kondisi medis sistemik(demineralisasi tulang), atau tidak aktif sementara, dapat membuat tulang lebih rentan terhadap patah tulang stres. Perempuan cenderung untuk mengarahkan gaya aksial pada bantalan berat di sepanjang sumbu yang berbeda dari tulang panjang dibandingkan dengan pria.Perempuan juga memiliki massa otot <25%per berat badan daripada pria. Hal ini dapat berkonsentrasi, bukan menghilang, kurangnya stabilisasi melalui anatomi tulang.

Insiden yang lebih tinggi sebagian merupakan hasil dari perbedaan mekanis dan variasi anatomi antara pria dan wanita. Perbedaan pada wanita meliputi berbagai panjang langkahnya, jumlah langkah per jarak, panggul luas, coxa vare, dan genu valgus.

Latihan-dengan kelainan endokrin yang dikenal dapat menghasilkan amenorrhea(hilangnya siklus menstruasi) atau kekurangan gizi, yang dapat menyebabkan demineralisasi tulang dan dapat menempatkan pasien pada risiko berbagai cedera berlebihan. Stres fraktur, terutama di tulang trabekuler, telah menunjukkan penurunan kandungan mineral tulang. Penurunan ini dapat direproduksi dengan penurunan estrogen yang beredar, yang diamati pada atlet wanita amenorrhea. Kurangnya estrogen pelindung menyebabkan penurunan massa tulang. Tiga pengaruh terbesar: amenorrhea, osteoporosis, dan makan

Page 8: skenario 3 blok muskulo

teratur mempengaruhi banyak wanita aktif. Keropos tulang ireversibel merupakan risiko tinggi untuk patah tulang.

Kebanyakan orang tidak atlet yang kompetitif dan tidak mungkin berada pada tingkat kebugaran optimal. Individu sering memaksa diri untuk berpartisipasi pada tingkat yang mereka tidak sehat secara fisik.Fleksibilitas, kekuatan otot, dan koordinasi neuromuskular berkontribusi untuk cedera pada individu yang tidak terlatih.

LO.4. Manifestasi Klinis Fraktura. Deformitas ( perubssahan struktur atau bentuk)b. Bengkak atau penumpukan cairan/darah karena kerusakan pembuluh darahc. Ekimosis ( perdarahan subkutan)d. Spasme otot karena kontraksi involunter disekitar frakture. Nyeri, karena kerusakan jaringan dan perubahan struktur yang meningkat

karena penekanan sisi-sisi fraktur dan pergerakan bagian frakturf. Kurangnya sensasi yang dapat terjadi karena adanya gangguan syaraf, dimana

syaraf ini terjepit atau terputus oleh fragmen tulangg. Hilangnya atau berkurangnya fungsi normal karena ketidakstabilan tulang,

nyeri atau spasme ototh. Pergerakan abnormali. Krepitasi, yang dapat dirasakan atau didengar bila fraktur digerakanj. Hasil foto rontgen yang abnormal

Akibat terjadi kepatahan/patah tulang, tulang tersebut mengadakan adaptasi terhadap kondisi tersebut, diantaranya adalah mengalami proses penyembuhan atau perbaikan tulang. Faktor tersebut dapat diperbaiki tapi prosesnya lambat, karena melibatkan pembentukan tulang baru. Proses tersebut terjadi secara bertahap, yang dikaji dalam 4 tahap yaitu :

1) Pembentukan prokallus/haematomaHaematoma akan terbentuk pada 48 sampai 72 jam pertama pada fraktur yang disebabkan karena adanya perdarahan yang terkumpul disekitar fraktur yaitu darah dan eksudat, kemudian akan diserbu oleh kapiler dan sel darah putih terutama netrofil, kemudian diikat oleh makrofag, sehingga akan terbentuk jaringan granulasi.

2) Pembentukan KallusSelama 5 sampai 5 hari osteoblast menyusun trabekula disekitar ruangan-ruangan yang kelak menjadi saluran harvest. Jaringan itu ialah jaringan osteosid, disebut Kallus yang berfungsi sebagai bidai (Splint) yang terbentuk pada akhir minggu kedua.

3) OsifikasiDimulai pada 2 sampai 3 minggu setelah fraktur jaringan kallus akhirnya akan diendapi oleh garam-garam mineral, dan akan terbentuk tulang yang menghubungkan kedua sisi yang patah.

4) Penggabungan dan RemodellingKallus tebal diabsopsi oleh aktivitas dari osteoblast dan osteoclast menjadi konteks baru yang sama dengan konteks sebelum fraktur.Remodeling berlangsung 4 sampai 8 bulan.

Page 9: skenario 3 blok muskulo

LO. 5. Pemeriksaan Fraktur

LO.6. Diagnosis dan diagnosis banding Fraktura. Anamnesis : ada trauma atau tidak. Bila tidak ada trauma berarti fraktur

patologis. Trauma juga harus diperinci jenisnya, besar ringannya trauma, arah trauma dan posisi penderita atau ekstremitas yang bersangkutan

b. Pemeriksaan Umum : dicari kemungkinan ada komplikasi khusus , misalnya: shock pada fraktur multipel, tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka terinfeksi

c. Pemeriksaan fisik : Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang

abnormal, angulasi, rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera terbuka.

Fungsio laesa: hilangnya fungsi contohnya pada fraktur cruris tidak dapat berjalan dan pada antebrachii tidak dapat menggunakan lengan

Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan

Movement :1. Krepitasi. Terasa krepitasi saat fraktur digerakan, tetapi ini bukan cara

yang baik dan kurang halus. Krepitasi timbul oleh pergeseran atau beradunya ujung-ujung tulang kortikal pada tulang spongiosa atau tulang rawan

2. Nyeri bila digerakan baik pada gerakan aktif maupun pasif3. Memeriksa seberapa jauh gangguan-gangguan fungsi, gerakan-gerakan

yang tidak mampu dilakukan, range of motion dan kekuatan4. Gerakan yang tidak normal: gerakan yang terjadi tidak pada sendi .

contohnya pertengahan femur dapat digerakan, ini adalah bukti penting adanya fraktur yang membuktikan adanya “putus kontinuitas tulang” sesuai definisi fraktur

d. Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan dengan sinar x harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu

anterior posterior dan lateral, posisi yang salah akan memberikan interoretasi yang salah juga. 2 waktu yang berbeda (saat trauma dan 10 hari setelah trauma), 2 sendi (sendi proksimal dan distal), serta 2 eksremitas pembandingbila garis fraktur memungkinkan. kekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari satu tingkat karena itu bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur perlu juga diambil foto sinar – x pada pelvis dan tulang belakang

Gambar Pemeriksaan Rontgent Fraktur Collum Femur

Page 10: skenario 3 blok muskulo

LO. 7. Penatalaksanaan Fraktur

Prinsip-prinsip tindakan/penanganan fraktur meliputi reduksi, imobilisasi, dan pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi

a. Reduksi , yaitu : restorasi fragmen fraktur sehingga didapati posisi yang dapat diterima.

Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan posisi anatomis normal.

Sasarannya adalah untuk memperbaiki fragmen-fragmen fraktur pada posisi anatomik normalnya.

Metode untuk reduksi adalah dengan reduksi tertutup, traksi, dan reduksi terbuka.4 Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap sama. Biasanya dokter melakukan

Page 11: skenario 3 blok muskulo

reduksi fraktur sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mengalami penyembuhan.

Metode reduksi :

1. Reduksi tertutup, pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan “Manipulasi dan Traksi manual”. Sebelum reduksi dan imobilisasi, pasien harus dimintakan persetujuan tindakan, analgetik sesuai ketentuan dan bila diperlukan diberi anestesia. Ektremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan sementara gips, bidai atau alat lain dipasang oleh dokter. Alat imobilisasi akan menjaga reduksi dan menstabilkan ektremitas untuk penyembuhan tulang. Sinar-x harus dilakukan untuk mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar.

2. Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi.

3. Reduksi terbuka, pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, palt, paku atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahan kan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.

b. Imobilisasi

Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan.

Sasarannya adalah mempertahankan reduksi di tempatnya sampai terjadi penyembuhan.Metode untuk mempertahankan imobilisasi adalah dengan alat-alat “eksternal” (bebat, brace, case, pen dalam plester, fiksator eksterna, traksi, balutan) dan alat-alat “internal” (nail, lempeng, sekrup, kawat, batang, dll)

c. Rehabilitasi

Sasarannya meningkatkan kembali fungsi dan kekuatan normal pada bagian yang sakit.

Untuk mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan mempertahankan reduksi dan imobilisasi adalah peninggian untuk meminimalkan bengkak, memantau status neurovaskuler, mengontrol ansietas dan nyeri, latihan isometrik dan pengaturan otot, partisipasi dalam aktifitas hidup sehari-hari, dan melakukan aktifitas kembali secara bertahap dapat memperbaiki

Page 12: skenario 3 blok muskulo

kemandirian fungsi. Pengembalian bertahap pada aktivitas semula diusahakan sesuai batasan terapeutik.

Proses Penyembuhan Fraktur Secara ringkas tahap penyembuhan fraktur dibagi menjadi 5 tahap sebagai berikut

1. Stadium Pembentukan Hematom :- Hematom terbentuk dari darah yang mengalir yang berasal dari pembuluh darah yang robek- Hematom dibungkus jaringan lunak sekitar (periosteum & otot)- Terjadi sekitar 1-2 x 24 jam

2. Stadium Proliferasi Sel / Inflamasi :- Sel-sel berproliferasi dari lapisan dalam periosteum, sekitar lokasi fraktur- Sel-sel ini menjadi precursor osteoblast- Sel-sel ini aktif tumbuh ke arah fragmen tulang- Proliferasi juga terjadi di jaringan sumsum tulang- Terjadi setelah hari ke-2 kecelakaan terjadi

3. Stadium Pembentukan Kallus :- Osteoblast membentuk tulang lunak (kallus)- Kallus memberikan rigiditas pada fraktur- Jika terlihat massa kallus pada X-ray berarti fraktur telah menyatu- Terjadi setelah 6-10 hari setelah kecelakaan terjadi

4. Stadium Konsolidasi :- Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi. Fraktur teraba telah menyatu- Secara bertahap menjadi tulang mature- Terjadi pada minggu ke 3-10 setelah kecelakaan

5. Stadium Remodeling :- Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi eks fraktur- Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast- Pada anak-anak remodeling dapat sempurna, pada dewasa masih ada tanda penebalan tulang.

Proses penyembuhan tulang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mencakup: usia, lokasi dan jenis fraktur, kerusakan jaringan sekitar fraktur, banyaknya gerakan pada fragmen fraktur, pengobatan, adanya infeksi atau penyakit lain yang menyertai (seperti diabetes mellitus), derajat trauma, gap antara ujung fragmen dan pendarahan pada lokasi fraktur.

LO.8. Komplikasi Fraktur

Komplikasi fraktur dibagi menjadi komplikasi segera, komplikasi dini dan komplikasi lambat. Komplikasi segerea terjadi pada saat terjadinya fraktur tulang; komplikasi dini terjadi dalam beberapa hari setelah kejadian;

Page 13: skenario 3 blok muskulo

dan komplikasi lambat terjadi lama setelah patah tulang. Ketiganya dibagi lagi masing-masing menjadi komplikasi local dan umum.

1. Komplikasi segera a. Lokal- Kulit dan otot: berbagai vulnus (abrasi, laserasi, sayatan, dll), kontusio, avulse- Vascular: terputus, kontusio, perdarahan- Organ dalam: jantung, paru-paru, hepar, limpa (pada fraktur kosta), buli-buli (pada fraktur pelvis)

Neurologis : otak, medulla spinalis, kerusakan saraf periferb. Umum

Trauma multiple, syok2. Komplikasi dinia. Lokal

Nekrosis kulit otot, sindrom kompartmen, thrombosis, infeksi sendi, osteomielitisb. Umum

ARDS, emboli paru, tetanus3. Kompllikasi lamaa. Lokal-Tulang : Malunion, nonunion, delayed union, osteomielitis, gangguan pertumbuhan, patah tulang rekuren-Sendi: ankilosis, penyakit degenerative sendi pascatrauma, miositis osifikan, distrofi refleks, kerusakan sarafb. Umum

Batu ginjal (akibat imobilisasi lama di tempat tidur dan hiperkalsemia)

Neurosis pascatrauma

LO.9. PrognosisWaktu yang diperlukan untuk penyembuhan fraktur tulang sangat bergantung pada lokasi fraktur juga umur pasien. Rata-rata masa penyembuhan fraktur:

Lokasi Fraktur Masa Penyembuhan Lokasi Fraktur Masa Penyembuhan1. Pergelangan tangan

3-4 minggu 7. Kaki 3-4 minggu

2. Fibula 4-6 minggu 8. Metatarsal 5-6 minggu

3. Tibia 4-6 minggu 9. Metakarpal 3-4 minggu

4. Pergelangan kaki

5-8 minggu 10. Hairline 2-4 minggu

5. Tulang rusuk 4-5 minggu 11. Jari tangan 2-3 minggu

6. Jones fracture 3-5 minggu 12. Jari kaki 2-4 minggu

Page 14: skenario 3 blok muskulo

 

Rata-rata masa penyembuhan: Anak-anak (3-4 minggu), dewasa (4-6 minggu), lansia (> 8 minggu)

Jumlah Kematian dari fraktur: 4,3 per 100.000 dari 1.302 kasus di Kanada pada tahun 1997

Tingkat kematian dari fraktur:

• Kematian : 11.696

• Insiden      : 1.499.999

0,78% rasio dari kematian per insiden

Page 15: skenario 3 blok muskulo

DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat, R. dan de Jong, Wim (Editor). 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3.

Jakarta: EGC

Reksoprodjo S. Dkk. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. FKUI. Jakarta

Buku Anatomi Klinis Dasar

Buku Histologi diFiore. Edisi 11. Jakarta: EGC