sk2 hematologi thalasemia

Download Sk2 Hematologi thalasemia

Post on 18-Feb-2015

109 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

thalasemia

TRANSCRIPT

SKENARIO 2 LEKAS LELAH DAN PERUT MEMBUNCIT Seorang anak laki-laki, usis 5 tahun, di bawa orang tuanya ke rumah sakit dengan keluhan pucat, lekas lemah dan lelah, sesak nafas dan perut terlihat membuncit. Pertumbuhan badannya agak terlambat bila dibandingkan dengan saudara kandungnya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kulit pucat, konjunctiva pucat, sclera ikterik, dan splenomegali Schufner II. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan kadar hemoglobin 9 g/dL, hematokrit 47 vol%, jumlah eritrotsit 6,75 x 10 6/l. MCV 69 fL, MCH 13 pg, MCHC 19%. Pada pemeriksaan sediaan hapus darah tepi didapatkan eritrosit mikrositik hipokrom, anosopoikilotosis, sel target, dan fragmentosit. Retikulosit 4% dan pada pewarnaan supravital didapatkan inclussion bodies (+). Dokter mengajukan pemeriksaan elektroforesis Hb.

LEARNING ISSUE & LEARNING OBJECTIVE1

LI 1. Memahami dan Menjelaskan tentang Sintesis Hemoglobin LO 1.1 Klasifikasi Hemoglobin LI 2. Memahami dan Menjelaskan tentang Thalassemia LO 2.1 Memahami dan Menjelaskan definisi LO 2.2 Memahami dan Menjelaskan epidemiologi LO 2.3 Memahami dan Menjelaskan etiologi LO 2.4 Memahami dan Menjelaskan klasifikasi LO 2.5 Memahami dan Menjelaskan patofisiologi LO 2.6 Memahami dan Menjelaskan patogenesis LO 2.7 Memahami dan Menjelaskan manifestasi klinik LO 2.8 Memahami dan Menjelaskan diagnosa LO 2.9 Memahami dan Menjelaskan diagnosa banding LO 2.10 Memahami dan Menjelaskan penatalaksanaan LO 2.11 Memahami dan Menjelaskan pencegahan LO 2.12 Memahami dan Menjelaskan prognosis

LI 1. Memahami dan Menjelaskan tentang Sintesis Hemoglobin LO 1.1 Klasifikasi Hemoglobin2

Globin terdiri atas 2 pasang rantai polipeptida yang berbeda, beberapa jenis hemoglobin yang dapat dijumpai: Pada orang dewasa: HbA (96%), terdiri atas 2 pasang rantai globin dan beta (22) Hb A2 (2,5%), terdiri atas 2 pasang rantai alfa dan delta (22) Pada fetus: HbF (1%) new born 80%, dewasa menurun (predominasi), terdiri atas 2 pasang rantai globin alfa dan gamma (22) Pada saat dilahirkan HbF terdiri atas rantai globin alfa dan Ggamma (2G2) dan alfa dan Agamma (2A2), dimana kedua rantai globin gamma berbeda pada asam amino di posisi 136 yaitu glisin pada G dan alanin pada A Pada embrio: Hb Gower 1, terdiri atas rantai globbin zeta dan epsilon (22) Hb Gower 2, terdiri atas rantai globin alfa dan epsilon (22) Hb Portland, terdiri atas rantai globin zeta dan gamma (22), sebelum minggu ke 8 intrauterin. Semasa tahap fetus terdapat perubahan produksi rantai globin dari rantai zeta () ke rantai alfa () dan dari rantai epsilon () ke rantai gamma (), diikuti dengan produksi rantai beta () dan rantai delta () saat kelahiran.

HbS Hb Sickle, karena eritrosit yang mengandung HbS cenderung berbentuk sabit akibat tarikan sitoskeleton eritrosit oleh adanya Hb hidrofob didalamnya. HbS terbentuk karena adanya mutasi kodon ke 6 pada gen globin dengan terjadinya subtitusi asam glutamate menjadi valin (glutamate bersifat hidrofil, sementara valin bersifat hidrofob)menjauhi medium airmolekul Hb sukar larut dalam sitoplasmacenderung menarik diri dari lingkungan sitoplasma ertirositmenarik sitoskeletonmembran eritrosit ke sisi tertentu eritrosit seperti sel sabit. Pada heterozigot (HbA-HbS) yang dalam hemoglobinnya khas mengandung HbA 60% dan HbS 40%, biasanya bebas gejala, eritrosit sel sabit muncul pada saat dalam3

keadaan tekanan oksigen sangat rendah. Prevalensi gen ini sangat tinggi (mampu menghambat polimerasi aktin di sitoskeleton dalam proses plasmodium). Anemia sel sabit pada homozigot (HbS-HbS) terjadi Fenomena Sickling. RBC rentan terhadap penurunan tekanan O2 yang sangat kecil sekalipun. Ini menyebabkan fenomena seperti sabit dan sekuestrasi abnormal disertai thrombosis pada arteriol yang kecil. Selanjutnya bisa terjadi infark pada bagian manapun dari tubuh.

HbC Hasil mutasi kodon posisi 6 gen globin dari kodon asam glutamate menjadi lysine. Pada HbC tidak terjadi fenomena sickling, tetapi menyebabkan presipitasi molekul Hb menjadi Kristal didalam eritrosit eritrosit berumur lebih pendek. HbC relative tahan terhadap malaria. Individu heterozigot HbC mampu bertahan hidup dilingkungan endemic malaria.

HbE Hasil mutasi kodon posisi 26 gen globin dari kodon asam glutamate menjadi lysine. HbE tidak menimbulkan gangguan hematologis, malahan HbE keadaannya bersama pembawa kelaianan darah seperti thalassemia khususnya thalassemia .

HbO ada 2 macam : HbO Arab dan HbO Indonesia. HbO arab adalah varian rantai globin dengan mutasi kodon posisi 121 untuk asam glutamate diganti lysine. HbO Indonesia adalah varian rantai globin dengan mutasi kodon posisi 116 untuk asam glutamate jadi lysine. LI 2. Memahami dan Menjelaskan tentang Thalassemia LO 2.1 Memahami dan Menjelaskan definisi Thalassemia berasal dari kata Yunani, yaitu talassa yang berarti laut. Yang dimaksud dengan laut tersebut adalah Laut Tengah, oleh karena penyakit ini pertama kali dikenal di daerah sekitar Laut Tengah. Penyakit ini pertama sekali ditemukan oleh seorang dokter di Detroit, USA yang bernama Thomas B. Cooley pada tahun 1925. (Weatherall, 1965)4

Thalassemia adalah kelompok heterogen anemia hemolitik herediter yang secara umum terdapat penurunan kecepatan sintesis pada satu atau lebih rantai polipeptida hemoglobin dan diklasifikasikan menurut rantai yang terkena(, ,), dua katagori utamanya adalah thalassemia dan .(Dorland, 2007) Thalasemia merupakan sindrom kelainan yang diwariskan ( inherited) dan masuk ke dalam kelompok hemoglobinopati, yakni kelainan yang disebabkan oleh gangguan sintesis hemoglobin akibat mutasi di dalam atau dekat gen globin. Mutasi gen globin ini dapat menimbulkan dua perubahan rantai globin, yakni: Perubahan struktur rangkaian asam amino (amino acid sequence) rantai globin tertentu, disebut hemoglobinopati struktural, atau Perubahan kecepatan sintesis (rate of synthesis) atau kemampuan produksi rantai globin tertentu, disebut thalassemia.

5

LO 2.2 Memahami dan Menjelaskan epidemiologi Ditemukan pertama kali secara bersamaan di Amerika Serikat dan Itali tahun 1925-1927.

Italia: 10%

Cina: 2%

Negro:1% Asia Tenggara: 5%

Yunani: 5-10% India: 1-5%

LO 2.3 Memahami dan Menjelaskan etiologi Thalassemia disebabkan oleh delesi (hilangnya) satu gen penuh atau sebagian dari gen (ini terdapat terutama pada thalassemia atau mutasi noktah pada gen (terutama pada talasemia , kelainan itu menyebabkan menurunnya sintesis rantai polipeptida yang menyusun globin. (Sunarto, 2000) Penyebab anemia pada talasemia bersifat primer dan sekunder. Primer adalah berkurangnya sintesis HbA dan eritropoesis yang tidak efektif disertai penghancuran selsel eritrosit intramedular. Sedangkan yang sekunder ialah karena defisiensi asam folat, bertambahnya volume plasma intravaskular yang mengakibatkan hemodilusi dan destruksi eritrosit oleh sistem retikuloendotelial dalam limpa dan hati. Penelitian biomolekular menunjukkan adanya mutasi DNA pada gen sehingga produksi rantai alfa atau beta dari hemoglobin berkurang. (Mansjoer, 2009) LO 2.4 Memahami dan Menjelaskan klasifikasi Berdasarkan gangguan pada rantai globin yang terbentuk, thalassemia dibagi menjadi : 1. Thalassemia 6

Thalassemia disebabkan karena adanya mutasi dari salah satu atau seluruh globin rantai alpha () yang ada. Thalassemia dibagi menjadi: Silent Carrier State, gangguan pada 1 rantai globin alpha. Pada keadaan ini mungkin tidak timbul gejala sama sekali pada penderita, atau hanya terjadi sedikit kelainan berupa sel darah merah yang tampak lebih pucat (hipokrom). Alpha Thalassaemia Trait, gangguan pada 2 rantai globin alpha. Penderita mungkin hanya mengalami anemia kronis yang ringan dengan sel darah merah yang tampak pucat (hipokrom) dan lebih kecil dari normal (mikrositer). Hb H Disease, gangguan pada 3 rantai globin alpha. Gambaran klinis penderita dapat bervariasi dari tidak ada gejala sama sekali, hingga anemia yang berat yang disertai dengan perbesaran limpa (splenomegali). Alpha Thalassaemia Major, gangguan pada 4 rantai globin aplha. Talasemia tipe ini merupakan kondisi yang paling berbahaya pada talasemia tipe alpha. Pada kondisi ini tidak ada rantai globin yang dibentuk sehingga tidak ada HbA atau HbF yang diproduksi. Biasanya fetus yang menderita alpha talasemia mayor mengalami anemia pada awal kehamilan, membengkak karena kelebihan cairan (hydrops fetalis), perbesaran hati dan limpa. Fetus yang menderita kelainan ini biasanya mangalami keguguran atau meninggal tidak lama setelah dilahirkan. 2. Thalassemia Talasemia beta terjadi jika terdapat mutasi pada satu atau dua rantai globin yang ada. Talasemia beta dibagi menjadi: Beta Thalassaemia Minor atau Trait, penderita memiliki satu gen normal dan satu gen yang bermutasi. Penderita mungkin mengalami anemia ringan yang ditandai dengan sel darah merah yang mengecil (mikrositer). Thalassaemia Intermedia, kedua gen mengalami mutasi tetapi masih bisa memproduksi sedikit rantai beta globin. Penderita biasanya mengalami anemia yang derajatnya tergantung dari derajat mutasi gen yang terjadi. Thalassaemia Major (Cooleys Anemia), kedua gen mengalami mutasi sehingga tidak dapat memproduksi rantai beta globin. Biasanya gejala muncul pada bayi ketika berumur 3 bulan berupa anemia yang berat. LO 2.5 Memahami dan Menjelaskan patofisiologi Patofisiologi Thalassemia-

7

Penurunan produksi rantai beta, menyebabkan produksi rantai alfa yang berlebihan. Produksi rantai globin pasca kelahiran masih tetap diproduksi, untuk mengkompensasi defisiensi 22 (HbA), namun tetap tidak mencukupi. Hal ini menunjukkan bahwa produksi rantai globin dan dan rantai globin tidak pernah dapat mencukupi untuk mengikat rantai alfa yang berlebihan. Rantai alfa yang berlebihan ini merupakan ciri khas pada patogenesis thalassemia-.

Rantai alfa yang berlebihan, yang tidak dapat berikatan dengan rantai gl