Senin, 27 April 2015

Download Senin, 27 April 2015

Post on 19-Aug-2015

248 views

Category:

Economy & Finance

12 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<ol><li> 1. Zulkifli H: Liberalisme Harus Dilawan S urvei yang dilakukan Pusat Studi Pancasila menye- butkan, mata pelajaran Pendidikan Kewarga- negaraan (PKn) di sekolah- sekolah saat ini hanya menjadi pelengkap ku- rikulum. PKn tak dipelajari secara serius oleh peserta didik. Sebab, murid dan guru hanya mengejar mata pelajaran yang menen- tukan kelulusan. Inilah yang mendorong Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) melakukan nota kesepahaman dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mengembalikan pen- didikan Pancasila ke lem- baga edukasi formal. "MPR telah melakukan nota kesepahaman dengan Kemendikbud untuk mengembalikan pendidikan Pancasila ke sekolah. Nanti di sekolah- sekolah akan ada kembali kurikulum Pancasila mulai dari TK, SD, SMP, SMA dan sekolah lanju- tannya," ujar Ketua MPR Zulkifli Hasan, di Jakarta, Minggu (26/4). Dia menjelaskan, hal ini terkait salah satu tugas dan tanggung jawab MPR mensosialisasikan Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara. Yakni, Panca- sila sebagai dasar dan ideologi negara; UUD 1945 sebagai konstitusi negara; Ketetapan MPR sebagai bentuk negara; dan Bhineka Tunggal Ika se- bagai semboyan negara. Pakar hukum tata negara Sugeng Santoso mengurai sejumlah survei terkait Pancasila. Misal, tutur dia, penelitian yang dilakukan salah satu harian nasional memperlihatkan pengetahuan masyarakat mengenai dasar negara memang merosot tajam. Survei tersebut menunjukkan bahwa 48,4 persen responden berusia 17-29 tahun menyebutkan kelima Pancasila salah atau tidak lengkap. Ajarkan Kembali Pancasila di Sekolah JAKARTA (Suara Karya): Komisi Yudisial (KY) dim- inta tidak mengintervensi hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang saat ini sedang menyidan- gkan sengketa kepenguru- san DPP Partai Golkar. Hal ini disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar yang juga Ketua Komisi III DPR Aziz Syamsuddin, di Jakarta, kemarin. Dia menegaskan, oknum KY tak seharusnya mengintervensi hakim PTUN. Hal tersebut, menu- rut dia, bukanlah tugasnya. Sebagai pimpinan Komisi Hukum Parlemen, Aziz meminta Dewan Etik KY untuk memeriksa oknum KY tersebut karena disinyalir ada motif tertentu. "Oknum KY itu pasti ada pesanan pihak tertentu, kita minta Dewan Etik KY untuk memeriksa," katanya. Hal yang sama disam- paikan salah satu deklator Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) yang meru- pakan ormas DPP Partai Golkar Lasman Napitupulu. "Jangan campur tangan. Bu- at apa KY mengintervensi hakim PTUN," kata pengurus Partai Golkar Munas Bali ini, di Jakarta, kemarin. Sebelumnya, komisioner KY Imam Anshori Saleh meminta agar Ketua Majelis Hakim Teguh Satya Bhakti mengundurkan diri sebagai ketua majelis kasus sengke- ta Partai Golkar. Sebab, Teguh pernah "dibantu" Yusril Ihza Mahendra, yang kini menjadi pengacara Partai Golkar Munas Bali. Menurut Lasman, hal itu merupakan bentuk intervensi dan sikap arogan KY terhadap hakim PTUN. "Buat apa Anshari interven- si Teguh. Apakah dia lupa saat seleksi menjadi hakim KY. Kepada siapa dia menyandarkan nasib dan mengemis-ngemis salah satunya kepada Fraksi Partai Golkar DPR. Hari gini masih sombong. Berka- calah," ucap Lasman. (rul) Peringatan ini disampai- kan Direktur Lingkar Mada- ni (Lima) Indonesia Ray Rangkuti, mantan Wakil Ke- pala Staf TNI Angkatan Da- rat (Wakasad) Letjen (Purn) Kiki Syahnakri, pengamat pakar hukum tata negara Sugeng Santoso, dan Ketua Indonesian Human Rights Commission on Social Jus- tice (IHCS) Ridwan Darma- wan, di Jakarta, kemarin. "Ini ironi bahkan tragedi yang tak boleh didiamkan. Banyak survei menunjuk- kan Pancasila semakin ter- cerabut dari jiwa anak-anak bangsa. Liberalisme dan se- kularisme dinilai menjadi penyebab utama," ujar Ray Rangkuti. Karena itu, tambah dia, para politisi, pemerintah, dan DPR, harus segera mencari solusinya. "Kita tak ingin Pancasila terlupakan atau dilupakan. Sebab, tan- pa Pancasila tentu Indone- sia akan tinggal nama," ujarnya. Keprihatinan Ray bukan tanpa alasan. Dia menye- butkan beberapa kejadian yang memprihatinkan. Mi- sal, kisah enam calon wakil bupati (cawabup) dari sebu- ah kabupaten di Sulawesi Selatan yang tak hapal Pancasila. "Kejadiannya terekam dalam sebuah video saat berlangsung debat kandidat kepala daerah yang dilaksa- nakan pada 8 Juni 2010 di Gedung KONI setempat," ujarnya. Saat debat berlangsung, tutur dia, para cawabup tak menyangka akan mendapat pertanyaan soal Pancasila dari seorang panelis. "Hanya satu saja yang bisa menye- butkannya dengan benar," katanya. (cho/den/rul) B elum lama ini, dalam situs pribadinya, mantan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Wakasad) Letnan Jenderal TNI (Purn) Kiki Syahnakri, sangat tegas mengingatkan bangsa ini.Ia menulis, bah- wa pembicaraan tentang senja kala liberalisme ma- kin ramai dan meluas, sete- lah keruntuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara Eropa. Kritik, tutur dia, bahkan cercaan terhadap liberalis- me dan kapitalisme sebagai anak kandungnya pun kian santer pascapendudukan Wall Street, simbol kedig- dayaan kapitalisme di AS. "Sejak Revolusi Prancis, liberalisme-kapitalisme-seku- larisme telah menguasai du- nia selama beberapa abad. Ideologi ini menjadi penguasa tunggal dunia menyusul ke- runtuhan komunisme pada awal 1980-an. Virus liberal- isme kian perkasa dan mer- ambah ke mana-mana, ter- masuk Indonesia," ujarnya. Pascareformasi 1998, menurut Kiki, kehidupan berbangsa-bernegara di In- donesia praktis dikuasai li- beralisme. Liberalisme ber- hasil mengerdilkan dan mengalienasikan Pancasila. "Roh Pancasila pun kian lama kian pupus dalam dada anak-anak bangsa, terlebih setelah pelajaran tentang Pancasila menghilang atau dihilangkan dari kurikulum pendidikan," katanya. Dia menjelaskan, karak- teristik liberalisme adalah kompetisi, kebebasan, me- kanisme pasar, yang terkuat sebagai pemenang, sangat mengagungkan hak individu (individualisme) sehingga vot- ing mutlak sebagai cara pengambilan keputusan. "Oleh sebab itu, sistem ini memerlukan aturan main atau hukum yang lengkap dan jelas, penegak- an hukum yang kuat, disi- plin, serta sportivitas yang tinggi," ucapnya. Komisi Yudisial Jangan Intervensi Hakim PTUN JAKARTA (Suara Karya): Pe- ngalaman empirik memper- lihatkan, banyak terjadi praktik korupsi dalam pro- yek pembangunan infra- struktur kelistrikan. Karena itu, pemerintah harus hati- hati dalam menjalankan program pembangunan 109 proyek pembangunan pem- bangkit listrik berkapasitas 35.000 megawatt (MW). Apalagi, muncul tudingan pembangunan mega proyek tersebut tak melalui meka- nisme tender namun dengan cara penunjukkan langsung. Pengamat migas Komaidi Notonegoro mengatakan, pro- yek pembangkit listrik terse- but bisa saja dilakukan seca- ra tender, penunjukkan lang- sung, maupun dengan lelang. Tapi, hal tersebut perlu men- dapatkan perhatian khusus melalui peraturan menteri. Dalam konteks ini, dia me- minta pemerintah bersikap hati-hati bila menggunakan skema penunjukkan lang- sung. "Pembangunan proyek dengan menggunakan dana perusahaan atau APBN (ang- garan pendapatan dan belanja negara), pengelolaannya ha- rus hati-hati sehingga tidak merugikan negara," kata Ko- maidi saat dihubungi Suara Karya, di Jakarta, kemarin. Ia berpendapat, saat pe- merintah melakukan pe- nunjukkan langsung maka harus dipastikan tidak ada dana yang bocor. (sab) PROYEK LISTRIK 35.000 MW Awas Rawan Penyimpangan LUKISAN - Pengacara duo Bali Nine Julian McMahon menunjukkan lukisan karya terpidana mati kasus narkoba Myuran Sukumaran di Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (25/8). - 48,4 Persen WNI salah menyebutkan Sila Pancasila - 53 persen mahasiswa tak hapal Pancasila - Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) hanya pelengkap kurikulum di sekolah - Pelajar dan guru hanya "mengejar" mata pelajaran yang masuk ujian nasional (UN) - Hanya 77 Persen WNI menginginkan Pancasila sebagai dasar negara - 3,5 Persen WNI menginginkan RI meniru demokrasi Barat - 11,5 Persen WNI menginginkan RI seperti negara Islam di Timur TengahDiolah dari berbagai sumber: Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta, Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Pusat Studi Pancasila, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM). INDIKATOR LUNTURNYA PANCASILA LANJUTAN: Ajarkan Kembali .... Hal 15 S U A R A R A K Y A T M E M B A N G U N Rp 3.500,- Senin, 27 April 2015 Nomor 14453 Tahun ke-44suarakarya.id @suarakaryaIDwww.suarakarya.id Perintis: Ali Moertopo, Soedjono Hoemardani, Sapardjo Pemimpin Umum: Bambang Soesatyo. Pemimpin Redaksi/ Penanggung Jawab: Lalu Mara Satriawangsa Pemimpin Perusahaan: Robert Joppy Kardinal Antara Berita Terkait Permen ESDM... di halaman 15 Berita Terkait KY Diminta... di halaman 15 Berita Terkait Jangan Sampai... di halaman 15 LADANG GANJA - Anggota TNI Kodim 0103 Aceh Utara mengadakan operasi ladang ganja kawasan Batee Pila, Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Sabtu (25/4). Antara Pancasila vs Sekularisme Sekularisme Subur, Pancasila Luntur B anyak survei yang menyebut- kan mayoritas warga negara Indonesia (WNI) tak hapal Panca- sila. Ini sangat ironis. Sebab, di tengah arus deras globalisasi, eksis- tensi Pancasila sebagai dasar negara justru ma- kin tergerus. Banyak masyarakat yang lebih tergoda paham impor seperti sekularisme-li- beralisme dan radi- kalisme. Jajak pen- dapat pula yang membuktikan bahwa lewat k e m a j u a n teknologi komuni- kasi dan informasi yang menyebabkan kehidupan dunia yang nyaris tanpa sekat, dua "pendulum ideologi" Barat dan Timur itu berpotensi melunturkan Pan- casila. MPR mempunyai tugas menjalankan sosialisasi Pan- casila sebagai dasar dan ideo- logi negara, UUD 1945 se- bagai konstitusi negara, Kete- tapan MPR sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tung- gal Ika sebagai semboyan ne- gara. Untuk mengupas masa- lah ini, wartawan Suara Karya Rully Ariefandi me- wawancarai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan di Jakarta, Minggu (26/4). Bagaimana Anda meli- hat kondisi kebanyakan ma- syarakat yang mulai lupa terhadap Pancasila? Ini sangat memprihatin- kan. Minimnya pengetahu- an tentang Pancasila, mem- buat masyarakat mulai ke- hilangan roh kebangsaan. Kita mulai kehilangan roh kebangsaan kita, Pancasila sebagai ideologi bangsa. Ki- ta mulai jauh dari Bhinneka Tunggal Ika. Kita berharap seluruh lapisan masyarakat agar kembali kepada Pan- casila dan Undang-Undang Dasar 1945. MPR mempunyai tugas menyosialisasikan empat unsur dasar dalam berbang- sa dan bernegara. Apa yang telah dilakukan MPR? Dalam lima tahun ini, kita jadikan empat konsti- tusi dasar itu tidak hanya sosialisasi, tetapi juga men- jadikan empat konstitusi dasar ini menjadi prilaku sehari-hari masyarakat. Bagaimana melihat ba- nyak WNI yang tak hapal Pancasila? Ini sangat ironis. Maka- nya tugas ini bukan hanya menjadi tugas MPR tetapi juga seluruh eleman bangsa yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, kampus serta media, semua harus ikut menyosi- liasaikan empat dasar ber- bangsa tersebut. LANJUTAN: Zulkifli H: Liberalisme... Hal 15 LANJUTAN: Pancasila ... Hal 15 JAKARTA (Suara Karya): Seluruh komponen bangsa termasuk elite politik harus mewas- padai kian suburnya paham sekularisme dan liberalisme tumbuh di kalangan masyarakat terutama di kalangan generasi muda. Ideologi Pancasila diyakini semakin luntur sebagai dasar negara dan pemersatu bangsa. </li><li> 2. JAKARTA (Suara Karya): Ko- mandan Korem (Danrem) 174/ATW Merauke Brigjen TNI Supartodi memberi kuli- ah umum kepada ratusan mahasiswa di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Yamra, di Merauke, Provinsi Papua, tentang pentingnya wawas- an kebangsaan bagi generasi muda masa kini.Kuliah umum itu dilakukan pada Sabtu (25/4) pagi aula di kampus STIT Merauke. Kuliah umum itu di- maksudkan untuk memberi- kan pemahaman kepada ge- nerasi muda tentang pen- tingnya wawasan kebangsa- an yang meliputi empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI, yang akhir- akhir ini sudah mulai luntur dan pudar, kata Brigjen Su- partodi dalam rilis yang di- terima Antara di Jayapura, Minggu. Menurut Supartodi, di hadapan civitas akademika STIT Yamra Merauke, ia menjelaskan berbagai ka- langan berpandangan bah- wa perkembangan politik, ekonomi, sosial dan budaya di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. Bahkan kekhawatiran itu semakin menjadi nyata ketika menjelajah pada apa yang dialami oleh setiap warga negara yakni memu- darnya wawasan kebangsa- an dan rasa cinta Tanah Air. Dan yang lebih menye- dihkan lagi bilamana masya- rakat kita kehilangan wa- wasan tentang makna hake- kat bangsa dan kebangsaan sebagai penggerak wawasan, sehingga akan mendorong terjadinya perpecahan. Pan- dangan diatas sungguh wa- jar dan tidak mengada-ada, katanya. Kini, lanjut Supartodi, krisis yang di alami oleh Bangsa Indonesia telah menjadi multidimensional yang saling mengait. Apalagi, minimnya pe- mahaman dan ketidakpedu- lian masyarakat Indonesia tentang empat pilar utama kehidupan berbangsa dan bernegara terkhusus NKRI dan Bhineka Tunggal Ika berdampak pudarnya akan kesadaran masyarakat seba- gai bangsa Indonesia. (feb) PAPUA Danrem Beri Kuliah di STIT Kalau lihat kondisi geopolitik dan geoekonomi, tentunya In- donesia bisa memanfaatkan itu, kata Presiden Jokowi sebelum berangkat ke Malaysia di Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta, Minggu. Menurut Kepala Negara, kalau kawasan Asia Afrika stabil, semua rukun, maka kondisi itu bagus untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan. Itu sangat bagus, nanti lari- nya juga akan pengembangan kemaritiman, kerja sama antar- negara bagus, stabilitas kawasan bagus, infrastruktur bisa di- bangun, pertumbuhan ekonomi juga pasti bagus, katanya seperti ditulis Antara. Mengenai kedekatannya de- ngan Presiden Tiongkok Xi Jinpin dan PM Jepang Abe selama peringatan KAA ke-60, Presiden mengatakan tidak ada apa-apa. Orang jejer bagaimana tidak dekat, dia di sini, juga PM Jepang Abe, bagaimana tidak dekat, tidak ada apa-apa, katanya. Namun, ketika ditanya menge- nai eksekusi terpidana mati kasus narkoba, Jokowi tidak mem- berikan jawaban. Tanya ke ke Jaksa Agung, sa- ya sudah sampaikan tidak akan ngomong lagi soal itu. Tanyakan ke Kejaksaan Agung, sudah cu- kup jawaban saya dari dulu. Saya tidak mau mengulang, katanya. Mengenai pembangunan sara- na di DPR, Presiden juga tidak memberikan jawaban. Tanyakan ke Ketua Dewan, kalau kegiatan menteri tanya menteri, katanya. Kunjungan Presiden Jokowi ke Malaysia untuk menghadiri KTT ke 26 ASEAN. Namun, Presiden hanya menghadiri acara pem- bukaan, sedangkan proses KTT sendiri akan diikuti oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sementara itu, sejumlah pe- ngunjung tampak memadati ka- wasan Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jawa Barat. Kawasan As-a Afrika masih menyimpan da- ya tarik. Warga Bandung maupun dari daerah lainnya sengaja da- tang ke lokasi peringatan 60 ta- hun Konferensi Asia-Afrika (KAA) itu untuk berfoto. Kemarin, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, kembali dibuka untuk umum, usai puncak peri- ngatan 60 tahun KAA dua hari la- lu. Arus lalu lintas di kawasan Ge- dung Merdeka itu pun macet. Di Jalan As...</li></ol>