sendawar - dania

Click here to load reader

Post on 08-Feb-2016

112 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Dania Ahdariyah Putri1102011069KELAS A

SENDAWAR (KUTAI BARAT)Sendawaradalah ibukotaKabupaten Kutai Barat. KotaSendawarberdiri pada tanggal 8 November 2001, sama dengan tanggal ditetapkanKabupaten Kutai Barat.Batas Wilayah KotaSendawardengan luas 20.591 Ha, adalah sebagai berikut:1. Sebelah Utara:KampungBalok Asa, KampungAsa, KampungBarong Tongkok, KampungNgenyan Asa, KampungGemuhan Asa, dan Sungai Bohoq yang terletak pada posisi 00 11' 41" LS - 115 38' 14" BT sampai dengan 00 11' 57" LS - 115 38' 15" BT;2. Sebelah Timur:Sungai Bohoq, menyusuri Sungai Mahakam, Batas Kampung Melak Ulu dengan Sungai Mahakam, Lokasi Pelabuhan di Kampung Melak Ilir, melewati dusun Pelan menuju Batas Kampung Srimulyo yang terletak pada posisi 00 10' 24" LS - 115 46' 15" BT sampai dengan 00 17' 00" LS - 115 47' 02" BT;3. Sebelah Selatan:Batas Kampung Melak Ulu dan Batas Kampung Srimulyo, hutan di Kampung Sekolaq Darat, Batas KecamatanBarong Tongkokdan Batas Kampung Mencimai ke arah Sungai Encui yang terletak pada posisi 00 17' 43" LS - 115 39' 05" BT sampai dengan 00 18' 13" - 115 45' 00" BT;4. Sebelah Barat:Batas KampungMencimaike arah Sungai Encui, ke utara gcabang Sungai Encui - Sungai Liwir di Kampung Rejo Basuki, ke arah barat mengarah keLinggang Bigungdengan memotong Sungai Embiq dan ke arah utara menuju KampungBalok Asayang terletak pada posisi 00 11' 45" LS - 115 37' 41" BT sampai dengan 00 17' 00" LS - 115 47' 02" BT.Kota Sendawar termasuk dalam kawasan beberapa Kecamatan dan Kampung yaitu:1. KecamatanMelakterdiri: Kampung Melak UluSeluas 1.956 Ha(9,50%) Kampung Melak IlirSeluas 543 Ha(2,64%)1. KecamatanSekolaq Daratterdiri: Kampung Sumber BangunSeluas 378 Ha(1,84%) Kampung Sekolaq JoleqSeluas 1.387 Ha(6,74%) Kampung Sekolaq OdaySeluas 811 Ha(3,94%) Kampung Sekolaq MuliaqSeluas 1.190 Ha(5,78%) Kampung Sekolaq DaratSeluas 1.344 Ha(6,53%) Kampung SrimulyoSeluas 425 Ha(2,06%)1. KecamatanBarong Tongkokterdiri: Kampung AsaSeluas 955 Ha(4,64%) Kampung Balok AsaSeluas 793 Ha(3,85%) Kampung Barong TongkokSeluas 3.441 Ha(16,71%) Kampung Simpang RayaSeluas 1.937 Ha(9,41%) Kampung Sumber SariSeluas 291 Ha(1,41%) Kampung Ngenyan AsaSeluas 1.168 Ha(5,67%) Kampung Belempung UlaqSeluas 300 Ha( 1,46% ) Kampung Gemuhan AsaSeluas 2.671 Ha(12,97%) Kampung Rejo BasukiSeluas 272 Ha(1,32%) Kampung MencimaiSeluas 729 Ha(3,54%)

PendudukJumlah penduduk Kota Sendawar pada setiap akhir tahun perencanaan diperkirakan:1. Tahun 2008 adalah 41.531 jiwa;2. Tahun 2013 adalah 55.866 jiwa;3. Tahun 2018 adalah 68.982 jiwa;4. Tahun 2023 adalah 85.698 jiwa.

Gambaran UmumDikeluarkannya Undang-Undang No. 22 dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 yang kemudian direvisi menjadi UU No. 32 Tahun 2004 dan UU No. 33 Tahun 2004 yang seiring dengan pembentukan wilayah Kabupaten Kutai Barat sebagai kabupaten pemekaran, telah memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab bagi Kabupaten Kutai Barat sehingga membuka peluang untuk mengatur dan melaksanakan kewenangannya atas prakarsa sendiri sesuai kebutuhan masyarakat dan potensi daerah. Kabupaten Kutai Barat merupakan salah satu Kabupaten di Propinsi Kalimantan Timur yang kaya akan potensi sumber daya alam (SDA).Potensi SDA tersebut merupakan salah satu modal dasar untuk melaksanakan roda pemerintahan bagi kesejahteraan masyarakat. Berdasar potensi yang ada selama kurun waktu 5 tahun ini, berbagai kegiatan pembangunan yang telah dilaksanakan secara umum telah menunjukkan kemajuan di berbagai bidang kehidupan. Kabupaten Kutai Barat merupakan kabupaten pemekaran dari wilayah Kabupaten Kutai yang ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 47 Tahun 1999 tertanggal 04 Oktober 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur dan Kota Bontang.Secara simbolis kabupaten ini telah diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia pada tanggal 12 Oktober 1999 di Jakarta dan secara operasional diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Timur pada tanggal 05 November 1999 di Sendawar. Secara geografis, Kabupaten Kutai Barat terletak pada 1130 45 05 1160 31 19 BT serta diantara 10 31 35 LU dan 10 10 16 LS. Adapun batas wilayah secara administrasi adalah Kabupaten Malinau dan Negara Serawak (Malaysia Timur) di sebalah Utara, Kabupaten Kutai Kartanegara di sebelah Timur, Kabupaten Pasir di sebelah Selatan dan Propinsi Kalimantan Tengah serta Propinsi Kalimantan Barat di sebelah Barat. Dengan luas wilayah sebesar 31.628,70 km2 (kurang lebih 15% dari Propinsi Kalimantan Timur), Kabupaten Kutai Barat memiliki 21 kecamatan dan 223 kampung.Berdasarkan data topografi, Kabupaten Kutai Barat dengan luas wilayah mencapai 316.287.000,00 hektar, didominasi oleh lahan dengan topografi sangat curam (50,16%) dan curam (6,11%) dan selebihnya dengan kondisi datar, dan bergelombang. Wilayah dengan topografi pegunungan mencapai 1.586.552,08 hektar atau lebih dari 50% dari luas seluruhnya tersebut, berada di bagian Barat Laut Kabupaten Kutai Barat. Sedangkan luas wilayah dengan topografi datar hanya sebesar 10,35% atau 327.400,84 hektar dan terletak di bagian Tenggara Kabupaten Kutai Barat.Secara spesifik wilayah berbukit dan bergunung dijumpai di bagian hulu Sungai Mahakam, terutama di Kecamatan Long Bagun, Long Pahangai, dan Long Apari.Kondisi wilayah dengan topografi tersebut berpotensi menimbulkan bahaya alami berupa gerakan tanah baik dalam volume besar (longsor) ataupun volume kecil (tanah retak). Besar kecilnya volume gerakan tanah tersebut dipengaruhi oleh besarnya curah hujan, jenis tanah, serta besar kemiringan lereng. Berdasarkan peta bahaya lingkungan yang dikeluarkan oleh BAKOSURTANAL tahun 1999, sebagian besar Kabupaten Kutai Barat potensial terjadi bahaya longsor karena mempunyai jenis tanah dengan tekstur berlempung, curah hujan yang tinggi, dan kemiringan lereng yang besar.Kondisi morfologi yang khas dari Kabupaten Kutai Barat secara tidak langsung akan menghambat perkembangan kegiatan perkotaan. Hal tersebut disebabkan karena adanya factor penghambat alami berupa kemiringan lereng yang menyebabkan luasan lahan untuk menampung kegiatan perkotaan menjadi berkurang. Untuk memecahkan keterisolasian wilayah yang disebabkan arena kondisi morfologi wilayah maka pemerintah Kabupaten Kutai Barat membagi Kabupaten Kutai Barat menjadi 3 wilayah pembangunan yaitu Wilayah Pembangunan Hulu Riam, Wilayah Pembangunan Dataran Tinggi, dan Wilayah Pembangunan Dataran Rendah.

SejarahTerbentuknya Kabupaten Kutai Barat, sesungguhnya sudah lama karena sejarah mencatat bahwa, Di Barong Tongkok pernah dibentuk KEWEDANAAN pada tanggal 05 November 1952, kemudian pada tahun 1964 telah menjadi Penghubung Bupati dari Tenggarong di Barong Tongkok. Pada proses selanjutnya banyak pihak yang terlibat dan berjasa pada beberapa tahun sebelumnya, sehingga pada tanggal 04 Oktober 1999, lahirnya Udang-Undang No. 47 secara konkret bersama-sama Kabupaten Kota lainnya dibentuklah Kabupaten Kutai Barat oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, dengan melantik Pejabat Bupati Ir. Rama A Asia pada tanggal 12 Oktober 1999 di Jakarta. Kemudian dilanjutkan oleh Gubernur Kalimantan Timur dalam rangka meresmikan Kabupaten Kutai Barat serta melantik Aparatur Eselon II dan III pada tanggal 05 November 1999 di Sendawar.Setelah berjalan sebagaimana harapan semua pihak, dengan mengacu pada segala aturan yang berlaku, maka melalui berbagai upaya terbentuklah Lembaga Legislatif yang pertama dengan dilantiknya Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai Barat pada tanggal 15 Desember 2000. Lebih lanjut Lembaga tersebut lalu menindaklanjuti dengan melaksanakan pemilihan unsur pimpinan dan terpilihlah Bapak Drs. Y. Juan Jenau, MBA sebagai Ketua DPRD Kabupaten Kutai Barat yang pertama.Dalam rangka mengemban amanah rakyat, maka Lembaga Legislatif melaksanakan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati, dan hasil pemilihan tersebut secara demokratis menghasilkan pasangan sebagai pemenang dan dilantik pada Tanggal 19 April 2001 sebagai Bupati dan Wakil Bupati pertama Kabupaten Kutai Barat. Setelah terbentuknya Kabupaten dan dilantiknya Bupati dan Wakil Bupati, sehingga banyak pihak menginginkan agar rentetan fakta sejarah yang ada dapat dijadikan sebagai hari jadinya Kabupaten Kutai Barat. Untuk itu, maka pada tanggal 03 November 2001, telah diadakan Diskusi yang dihadiri oleh berbagai unsur dan hasilnya menyepakati bahwa tanggal 05 NOVEMBER adalah sebagai HARI JADINYA KABUPATEN KUTAI BARAT dan kemudian lalu dikukuhkan dengan Peraturan Daerah Nomor: 17 Tahun 2002 tertanggal 04 November Tahun 2002.Sebagai wujud pelaksanaan Roda Pemerintahan, maka selain melaksanakan berbagai kegiatan Pembangunan dan pelayanan bagi masyarakat, diperlukan juga berbagai Fasilitas terutama Perkantoran sebagai Wadah pelayanan publik. Ketika merencanakan Pembangunan Komplek Perkantoran tersebut, disini berhadapan dengan kendala sulitnya memperoleh lahan yang representative, sehingga terbentuklah Panitia yang bertugas khusus untuk menyediakan lokasi perkantoran sebagaimana Surat Keputusan Bupati Kutai Barat tertanggal 11 Juni 2001 nomor:004.1/K.049/2001 Tentang Pembentukan Panitia Pengadaan Tanah dan Pembangunan untuk pelaksanaan Pembangunan Ibu Kota Kabupaten Kutai Barat Sendawar, dan tugas khususMenyiapkan Tata Ruang untuk Pembangunan Kutai Barat : Kantor DPRD, Kantor Dinas/Instansi dan Rumah Pejabat Pemerintah Daerah, yang dipimpin oleh Wakil Bupati (Ismail Thomas) waktu itu.Setelah menempuh berbagai upaya dan memilih dari beberapa alternative yang ada, pada akhirnya melalui Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kutai Barat Bapak Ir. Syahruni (Alm) dan Kepala Dinas Pertanian Propinsi Kalimantan Timur ( Bapak Ir. H. Sofyan Alex ), telah bersepakat melalui Berita Acara Penyerahan secara tertulis untuk lahan pertanian seluas 35 Ha.Mengingat luas lahan tersebut dipandang belum cukup, maka dihimpunlah sejumlah warga masyarakat hingga memperoleh tambahan lahan 100 Ha. Dan dari luasan tersebut seluas 135 Ha, dengan rencana peng