seminar studio: rtr koridor yogya - magelang

Download Seminar studio: RTR koridor yogya - magelang

Post on 14-Jun-2015

625 views

Category:

Documents

9 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1. Tim Studio Penataan Ruang-MPWK 2012 UNIVERSITAS DIPONEGORO MAGISTER PEMBANGUNAN WILAYAH DAN KOTA

2. Pendahuluan Gambaran umum Isu Strategis dan Permasalahan Analisis perencanaan dalam 6 aspek pengembangan kawasan (fisik, sosial kependudukan, tata guna lahan, ekonomi, sarana prasarana, kebijakan dan kelembagaan) Konsep Perencanaan Rencana Tata Ruang Koridor Pengembangan Kota Magelang Kota Yogyakarta (2012-2032) Kesimpulan dan penutup Outline 3. Pendahuluan Koridor pengembangan Kota Magelang-Yogyakarta: Kawasan strategis dimana terdapat daerah-daerah yang berpotensi saling berinteraksi, yaitu Kota Magelang, Kota Yogyakarta, dan beberapa kecamatan di Kab. Magelang dan Kab. Sleman. Pengembangan perkotaan: desa-desa pinggiran sepanjang jalur koridor arteri primer memiliki sifat kekotaan. Akibat perubahan sebagai dampak dari proses aglomerasi pusat- pusat pertumbuhan yang tidak terencana dengan baik dan permasalahan yang dihadapi oleh desa-urban yang belum siap untuk memberikan pelayanan optimal bagi masyarakat permasalahan penataan ruang sepanjang koridor. 4. Tujuan Mewujudkan pengembangan ekonomi wilayah koridor pengembangan sebagai kawasan strategis perkotaan dengan memperhatikan aspek pembangunan berkelanjutan dan kearifan lokal penataan ruang kawasan strategis perkotaan yang berciri identik dengan keunikan lokal daerah, nyaman, aman dan mensejahterakan masyarakat. 5. Makro Mikro Koridor pengembangan yang terdiri dari 7 (tujuh) kecamatan meliputi 4 Kecamatan di Kabupaten Magelang (Mertoyudan, Mungkid, Muntilan, Salam), dan 3 Kecamatan di Kabupaten Sleman (Tempel, Sleman dan Mlati). Kawasan cepat tumbuh pada koridor jalan arteri nasional terbentuk hubungan saling interaksi antara Kota Yogyakarta dan Kota Magelang. Kota Magelang memiliki status sebagai PKW seperti yang tercantum di RTRW Provinsi Jawa Tengah. Gambaran Umum 6. Gambaran Umum Kriteria Desa Terpilih 1 Desa atau kelurahan yang dilalui jalur koridor Magelang Yogyakarta 2 Desa atau kelurahan yang berdasarkan perhitungan Indeks Marshall termasuk dalam hirarki I dan II dalam skala kecamatan 3 Desa atau kelurahan yang memiliki sektor unggulan non pertanian 7. 27 Desa Terpilih : Kecamatan Desa Mertoyudan Mertoyudan Sumberrejo Danurejo Mungkid Blondo Senden Ambartawang Mungkid Paremono Bojong Pabelan Muntilan Taman Agung Sedayu Pucungrejo Muntilan Muntilan Gunungpring Salam Gulon Jumoyo Sucen Kadiluwih Salam Tempel Lumbungrejo Margorejo Sleman Caturharjo Triharjo Tridadi Mlati Sendangadi Sinduadi PETA LOKASI 27 DESA TERPILIH DI SEPANJANG KORIDOR KOTA MAGELANG KOTA YOGYAKARTA 8. Terhambatnya percepatan pertumbuhan wilayah Kurangnya pengelolaan sumber daya lokal yang bernilai bagi pengembangan ekonomi wilayah Degradasi lingkungan, bencana alam seperti banjir, longsor, dsb Masih rendahnya kapasitas kelembagaan untuk memajukan potensi lokal daerah Kepadatan penduduk di wilayah sepanjang koridor yang semakin tinggi dan persebarannya yang kurang merata Tidak optimalnya fungsi kawasan strategis perkotaan yang kurang memperhatikan keseimbangan pertumbuhan kawasan fungsi budidaya dengan fungsi lindung Kota cenderung berkembang ke arah kapital dan tidak memperhatikan pengembangan kota yang berkelanjutan Perubahan fungsi lahan pertanian menjadi permukim an dan area komersil Menurunnya kualitas produk tata ruang di daerah yang kurang mengusung potensi lokal di daerah Kebutuhan masyarakat akan infrastruktur perkotaan tidak terpenuhi secara maksimal Tidak terpelihara nya fungsi lindung kawasan (hutan lindung, kawasan resapan air, DAS, dll) Kurangnya prasarana dan sarana infrastruktu r perkotaan Menurunnya kualitas hidup masyarakat yang tinggal di sepanjang koridor pengembangan FISIK, SDA, DAN LINGKUNGAN SARANA DAN PRASARANA TATA GUNA LAHAN EKONOMI KEBIJAKAN DAN KELEMBAGAAN SOSIAL DAN KEPENDUDUKAN Permasalahan Utama PenyebabAkibat 9. Isu Strategis Potensi kawasan yang didominasi fungsi lindung karena berada pada kaki Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Sumbing serta banyak dilalui DAS Adanya ancaman bencana Gunung Merapi yang sekaligus menimbulkan potensi wisata bencana Terdapatnya situs-situs cagar budaya yang tersebar di seluruh koridor perencanaan Adanya potensi kemacetan di beberapa titik di sepanjang koridor perencanaan terutama pada persimpangan menuju kawasan Borobudur Adanya kebutuhan yang tinggi akan infrastruktur perkotaan yang memadai Tekanan pertumbuhan menyebabkan terjadinya alih fungsi lahan sawah menjadi permukiman dan fungsi komersil Belum optimalnya potensi pariwisata (alam dan budaya) di sepanjang koridor Belum optimalnya pengembangan sektor pertanian dan pengolahan hasil pertanian sebagai sektor unggulan 10. ANALISIS PERENCANAAN KORIDOR KOTA MAGELANG KOTA YOGYAKARTA BERDASARKAN 6 ASPEK PENGEMBANGAN 11. Analisis Fisik, SDA dan Lingkungan Aspek kesesuaian lahan : Topografi Litologi Klimatologi Aspek Alam dan Lingkungan : Daerah Aliran Sungai Daerah Rawan Bencana 12. Analisis Fisik, SDA dan Lingkungan 13. Topografi Litologi Klimatologi Total Fungsi Kawasan Kemiringan Skor Jenis Tanah Skor Intensitas Skor 0-8 % 20 Alluvial 15 Sedang 30 65 Kawasan Budidaya 20 Latosol 30 Sedang 30 80 Kawasan Budidaya 20 Regosol 75 Sedang 30 125 Kawasan Penyangga 20 Regosol 75 Tinggi 40 135 Kawasan Penyangga 8-15 % 40 Alluvial 15 Sedang 30 85 Kawasan Budidaya 40 Latosol 30 Sedang 30 100 Kawasan Budidaya 25-40% 80 Regosol 75 Sedang 30 185 Kawasan Lindung Tabel Skoring Kesesuaian Lahan di Koridor Pengembangan Magelang Jogjakarta Sumber: Analisis Kelompok, 2012 Analisis Fisik, SDA dan Lingkungan 14. Aspek Sosial Kependudukan 0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 Mertoyudan Sumberrejo Danurejo Blondo Senden Ambartawang Mungkid Paremono Bojong Pabelan TamanAgung Sedayu Pucungrejo Muntilan Gunungpring Gulon Jumoyo Sucen Kadiluwih Salam Lumbungrejo Margorejo Caturharjo Triharjo Tridadi Sendangadi Sinduadi Jumlah Penduduk di Wilayah Studi Tahun 2010 0 5,000 10,000 15,000 20,000 25,000 30,000 35,000 40,000 Mertoyudan Sumberrejo Danurejo Blondo Senden Ambartawang Mungkid Paremono Bojong Pabelan TamanAgung Sedayu Pucungrejo Muntilan Gunungpring Gulon Jumoyo Sucen Kadiluwih Salam Lumbungrejo Margorejo Caturharjo Triharjo Tridadi Sendangadi Sinduadi Proyeksi Jumlah Penduduk di Wilayah Studi Tahun 2032 Jumlah Penduduk Eksisting Tahun 2010 Jumlah Penduduk Proyeksi untuk Tahun 2032 Jumlah Total 250.216 jiwa Jumlah Total 293.005 jiwa 15. Persebaran Kepadatan Penduduk Eksisting Tahun 2010 16. Persebaran Kepadatan Penduduk Proyeksi Tahun 2032 17. Aspek Tata Guna Lahan PEMUKIMAN 33% SAWAH 56% KEBUN/TEGA LAN 10% VEGETASI 0% PERAIRAN 1% Diagram Presentase Penggunaan Lahan (2000) PEMUKIMAN 38% SAWAH 52% KEBUN/TEGA LAN 9% VEGETASI 0% PERAIRAN 1% Diagram Presentase Penggunaan Lahan (2010) Secara umum penggunaan lahan di 27 desa di sepanjang koridor masih didominasi fungsi persawahan Luas lahan sawah berkurang sebanyak 397,82 Ha dalam 10 tahun terakhir Secara keseluruhan semua fungsi mengalami penurunan luasan kecuali fungsi permukiman yang meningkat seluas 488 Ha atau sebesar 5% Perubahan presentase penggunaan lahan pada desa-desa terpilih sepanjang koridor (2000-2010) 18. Luas perubahan lahan pada masing-masing desa Kategorisasi desa berdasarkan intesitas konversi lahan: Itensitas konversi tinggi: Desa Mungkid Kec.Mungkid, Desa Sendangadi dan Sinduadi Kec. Mlati, Desa Caturharjo Kec. Sleman, Desa Danurejo Kec. Mertoyudan, serta Desa Margorejo kec. Sleman. Itensitas Konversi Sedang: Desa Mertoyudan Kec. Mertoyudan, Desa Tridadi dan Triharjo Kec. Sleman, Desa Pabelan Kec. Mungkid, Desa Tamanagung Kec. Muntilan, Desa Sumberejo Kec. Mertoyudan, Desa Lumbungrejo Kec. Tempel. Itensitas Konversi Kecil/rendah: desa Blondo, Ambartawang, Bojong, dan Paremono Kec. Mungkid; Desa Sedayu, Pucungrejo, Muntilan, Gunungpring Kec. Muntilan; Desa Gulon, Jumoyo, Salam Kec. Salam Tidak terjadi Konversi ke area terbangun: Desa Senden Kec. Mungkid; Desa Kadiluwih Kec. Salam. 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 70.00 19. Analisis kebutuhan luasan kawasan permukiman Kategorisasi desa berdasarkan tingkat kebutuhan kawasan permukiman: 1. Kebutuhan Permukiman Tinggi: Desa Mertoyudan Kec. Mertoyudan; Desa Mungkid Kecamatan Mungkid; Desa Taman Agung, Desa Sedayu, Desa Pucungrejo, Desa Muntilan, Desa Gunungpring Kec. Muntilan; Desa Margorejo Ke. Tempel; Desa Sendangadi, Desa Sinduadi Kecamatan Mlati. 2. Kebutuhan Permukiman Sedang: Desa Sumberejo, Desa Danurejo Kec. Mertoyudan; Desa Blondo, Desa Bojong, Desa Pabelan Kec. Mungkid; Desa Jumoyo Kec. Salam; Desa Triharjo, Desa Tridadi Kec. Sleman. 3. Kebutuhan Permukiman Rendah: Desa Senden, Desa Ambartawang, Desa Paremono Kec. Mungkid; Desa Gulon, Desa Sucen, Desa Kadiluwih, Desa Salam Kec. Salam; Desa Lumbungrejo Kec. Tempel; Desa Caturharjo Kec. Sleman. 20. Aspek Ekonomi Prosentase PDRB Sektor Ekonomi di Koridor Magelang - Yogyakarta 12.8% 0.9% 23.8% 0.7% 8.0% 16.6% 7.0% 5.7% 24.5% PERTANIAN PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN LISTRIK, GAS DAN AIR MINUM BANGUNAN/KONSTRUKSI PERDAGANGAN, RESTORAN DAN HOTEL PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN JASA-JASA 21. Potensi dan Arahan Sektor Ekonomi di Koridor Magelang - Yogyakarta Sektor unggulan yang didapatkan dari hasil analisis ekonomi koridor wilayah studi adalah sektor fisik dan jasa, Dalam kebijakan perlu dipertimbangkan keterpaduan antar setiap sektor, termasuk sektor yang tidak diunggulkan, sehingga kedepannya sektor yang tertinggal dapat secara perlahan meningkat namun hanya untuk mendukung sektor unggulan utama untuk lebih berkembang. Sebagai pertimbangan kebijakan keberlanjutan ekonomi koridor Magelang-Yogyakarta sektor pertanian diarahkan pada desa-desa di Kecamatan Mungkid, Muntilan, Salam dan Tempel, sedangkan sektor non pertanian diarahkan pada desa-desa Kecamatan Mertoyudan, Sleman dan Mlati. 22. Aspek Sarana dan Prasarana