sejarah pembukuan

Post on 15-Jul-2015

181 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Penegrtian Tafsir dan Tawil

Pengertian TafsirMei 18 Posted by chekie Makna tafsir dari segi bahasa menjelaskan dan menerangkan.[1] Pengertian seperti itu dapat dilihat pemakaiannya dalam QS. al-Furqan (25) : 33 sebagai berikut:

Terjemahnya: Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.[2] Tafsir berasal dari akar kata al-fasr ( - - ) yang berarti menjelaskan, menyingkap, dan menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak. Dalam lisn al-Arab dinyatakan al-fasr ( ( secara leksikal berarti menyingkap sesuatu yang tertutup, sedangkan kata al-tafsir ( ) berarti menyingkap maksud suatu lafaz yang musykil atau pelik.[3] Di antara kedua bentuk itu, alfasr dan al-tafsir, kata al-tafsir (tafsir)lah yang paling banyak dipergunakan. Adapun pengertian tafsir secara terminologi ditemukan bahwa para ulama berbeda-beda secara redaksional dalam mengemukakan definisinya meskipun esensinya sama. Al-Jurjani misalnya mengetengahkan bahwa tafsir ialah menjelaskan makna ayat-ayat al-Quran dari berbagai segi, baik konteks historisnya maupun sebab turunnya, dengan menggunakan ungkapan atau keterangan yang dapat menunjuk kepada makna yang dikehendaki secara terang dan jelas. Kemudian Imam alZarqani mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas kandungan al-Quran dari segi pemahaman makna atau arti sesuai yang dikehendaki Allah menurut kadar kemampuan manusia. Selanjutnya, al-Zarkasyi mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu untuk mengetahui dan memahami kandungan al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan cara mengambil penjelasan maknanya, hukum serta hikmah yang terkandung di dalamnya.[4] Dari beberapa definisi tersebut, dapat dikemukakan bahwa tafsir adalah upaya mengungkapkan dan menjelaskan makna ayat-ayat al-Quran sesuai kadar kemampuan masing-masing yang sifatnya terbatas, sehingga dapat dijumpai pelajaran, hukum, dan hikmah yang terkandung di dalam kitab suci tersebut. Adapun pengertian tawil ditinjau dari aspek etimologi ialah mengembalikan. Sebagai contoh, dapat dilihat pemakaiannya dalam QS. Ali Imran (3): 7 sebagai berikut: ... Terjemahnya: . . . . Dan tidak ada yang mengerti tawilnya kecuali Allah [5] Tawil berasal dari akar kata al-aulu ( - - ) yang berarti kembali, mengembalikan kepada konteks yang ada dalam rangkaian kalimat. Sedangkan kata al-tawil berarti ungkapan atau penjelasan suatu ) dan al-tawil (tawil) lah yang sering pandangan.[6] Di antara kedua bentuk kata itu, al-aulu ( digunakan. Tawil menurut istilah, para ulama tampil mengemukakan dalam formulasi yang berbeda-beda. Muhammad Husain al-Zahabi berusaha merangkum berbagai pendapat tersebut lalu mengelompokkan ulama menjadi dua kelompok yaitu ulama salaf dan ulama khalaf. Menurut ...

ulama salaf bahwa pengertian tawil mengandung dua pengertian, yaitu : 1) tawil merupakan keterangan dan penjelasan arti suatu kalimat, 2) tawil berarti kalimat yang dimaksudkan itu sendiri. Sedangkan menurut ulama khalaf, tawil adalah suatu upaya memalingkan atau mengembalikan suatu lafaz dari makna biasanya ke makna lain yang memungkinkan karena ada dalil atau argumentasi yang menyertainya.[7] Dengan demikian, tawil adalah ilmu yang menjelaskan makna umum dan makna khusus dari susunan kalimat ayat-ayat al-Quran. Selanjutnya, hermeunitika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan dan hermenia berarti penafsiran atau interpretasi.[8] Kata hermeneutika merupakan derivasi dari kata hermes . Meskipun secara etimologis dan historis diambil dari mitologi Yunani, namun secara teologis, peran Hermes sesungguhnya tak ubahnya dari peran para Nabi utusan Tuhan yang bertugas sebagai juru penerang dan penghubung untuk menyampaikan pesan dan ajaran Tuhan kepada manusia. Menurut Hussein Nasr, Hermes tak lain adalah Nabi Idris as., yang disebut dalam al-Quran.[9] Dengan demikian, Hermes menjadi simbol seorang duta yang dibebani sebuah misi, yaitu menginterpretasikan atau menyadur sebuah pesan dalam text kedalam bahasa yang dipergunakan oleh pendengarnya. Secara terminologi, hermeneutika berarti upaya menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas, kabur, remang-remang dan kontradiksi, sehingga menimbulkan keraguan

Contoh Kitab-kitab tafsir bil-Masur yang terkenal : 1). Tafsir yang dinisbahkan kepada Ibn Abbas. 2). Tafsir Ibn Uyainah. 3). Tafsir Ibn Abi Hatim. 4). Tafsir Abusy Syaikh bin Hibban. 5). Tafsir Ibn Atiyah. 6). Tafsir Abuk Lais Samarqandi, Bahrul Ulum. 7). Tafsir Abu Ishaq, al-Kasyfu wal Bayan an Tafsiril Qur-an. 8). Tafsir Ibn Jarir at-Tabari, Jamiul Bayan fii Tafsiril Qur-an. 9). Tafsir Ibn Abi Syaibah. 10.) Tafsir al-Baghowi, Maalimut Tanzil. 11). Tafsir Abil Fida al-Hafizh Ibn Katsir, Tafsirul Qur-anul Azhim. 12). Tafsir as-Salabi, al-Jawahirul Hisan fii Tafsiril Qur-an. 13). Tafsir Jalaluddin as-Suyuti, ad-Durrul Mantsur fit Tafsiri bil Masur.

14). Tafsir asy-Syaukani, Fathul Qadir. Contoh Kitab-kitab Tafsir bir-Rayi yang terkenal : 1). Tafsir Abdurrahman bin Kaisan al-Asam. 2). Tafsir Abu Ali al-Jubai. 3). Tafsir Abdul Jabbar. 4). Tafsir az-Zamakhsyari, al-Kasysyaf an Haqaiqi Gawamidit. 5). Tafsir Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Gaib. 6). Tafsir Ibn Furak. 7). Tafsir an-Nasafi, Madarikul Tanzil wa Haqaiqut Tawil. 8). Tafsir al-Khozin, Lubabut Tawil fi Maanit Tanzil. 9). Tafsir Abu Hayyan, al-Bahrul Muhit. 10). Tafsir al-Baidawi, Anwarut Tanzil wa Asrarut Tawil. 11). Tafsir al-Jalalain; Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuti. ---Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, Pustaka Rizki Putra, 2002.s

Syarat syarat Mufassira. Syarat Pertama: Aspek Pengetahuan Aspek pengetahuan adalah syarat yang berkaitan dengan seperangkat ilmu yang membantu dan memiliki urgensitas untuk menyingkap suatu hakikat. Tanpa seperangkat ilmu tersebut, seseorang tidak akan memiliki kapabilitas untuk menafsirkan Al-Quran karena tidak terpenuhi faktor-faktor yang menjamin dirinya dapat menyingkap suatu hakikat yang harus dijelaskan. Para ulama memberikan istilah untuk aspek pengetahuan ini dengan syarat-syarat seorang alim. Syarat yang berkaitan dengan aspek pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang mufassir ini dibagi menjadi dua, yaitu: syarat pengetahuan murni dan syarat manhajiyah (berkaitan dengan metode). Imam Jalaluddin As-Suyuthy dalam Al-Itqn f Ulm al-Qurn menyebutkan lima belas ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mufassir.1 Lima belas ilmu tersebut adalah sebagai berikut:

1

As-Suyuthy, Jalaluddin. Al-Itqn f Ulm al-Qurn. Bab Marifah Syurth Al-Mufassir wa dbihi E-book. Diakses dari Mauqi Umm Al-Kitb li Al-Abhts wa Ad-Dirst Al-Ilikturniyah: www.omelketab.net pada 6 September 2007.

1. Bahasa Arab karena dengannya seorang mufassir mengetahui penjelasan kosakata suatu lafal dan maksudnya sesuai dengan objek. Oleh karena demikian urgennya penguasaan terhadap bahasa Arab dalam menafsirkan Al-Quran, Mujahid bahkan mengatakan,

.Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berbicara mengenai sesuatu yang terdapat dalam Kitbullh apabila ia tidak mengetahui bahasa Arab. 2. Nahwu karena suatu makna bisa saja berubah-ubah dan berlainan sesuai dengan perbedaan i rab. 3. Tashrf (sharaf) karena dengannya dapat diketahui bin (struktur) dan shghah (tense) suatu kata. 4. Isytiqq (derivasi) karena suatu nama apabila isytiqqnya berasal dari dua subjek yang berbeda, maka artinya pun juga pasti berbeda. Misalnya ( ), apakah berasal dari ( ) atau ( ).

5. Al-Ma ni karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkb (komposisi) suatu kalimat dari segi manfaat suatu makna. 6. Al-Bayn karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkb (komposisi) suatu kalimat dari segi perbedaannya sesuai dengan jelas tidaknya suatu makna. 7. Al-Bad karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkb (komposisi) suatu kalimat dari segi keindahan suatu kalimat. Ketiga ilmu di atas disebut ilmu balaghah yang merupakan ilmu yang harus dikuasai dan diperhatikan oleh seorang mufassir agar memiliki sense terhadap keindahan bahasa (i jz) Al-Quran. 8. Ilmu qir ah karena dengannya dapat diketahui cara mengucapkan Al-Quran dan kuat tidaknya model bacaan yang disampaikan antara satu qri dengan qri lainnya. 9. Ushluddn (prinsip-prinsip dien) yang terdapat di dalam Al-Quran berupa ayat yang secara tekstual menunjukkan sesuatu yang tidak boleh ada pada Allah ta ala. Seorang ahli ushul bertugas untuk menakwilkan hal itu dan mengemukakan dalil terhadap sesuatu yang boleh, wajib, dan tidak boleh. 10. Ushul fikih karena dengannya dapat diketahui wajh al-istidll (segi penunjukan dalil) terhadap hukum dan istinbth. 11. Asbbun Nuzl (sebab-sebab turunnya ayat) karena dengannya dapat diketahui maksud ayat sesuai dengan peristiwa diturunkannya. 12. An-Nsikh wa al-Manskh agar diketahui mana ayat yang muhkam (ditetapkan hukumnya) dari ayat selainnya. 13. Fikih. 14. Hadits-hadits penjelas untuk menafsirkan yang mujmal (global) dan mubham (tidak diketahui). 15. Ilmu muhibah, yaitu ilmu yang Allah ta ala anugerahkan kepada orang yang mengamalkan ilmunya. Dalam sebuah hadits disebutkan,

Siapa yang mengamalkan ilmunya, maka Allah akan menganugerahinya ilmu yang belum ia ketahui. Ibnu Abid Dunya mengatakan, Ilmu Al-Quran dan istinbth darinya merupakan lautan yang tidak bertepi. Ilmu-ilmu di atas merupakan alat bagi seorang mufassir. Seseorang tidak memiliki otoritas untuk menjadi mufassir kecuali dengan menguasai ilmu-ilmu ini. Siapa saja yang menafsirkan Al-Quran tanpa menguasai ilmu-ilmu tersebut, berarti ia menafsirkan dengan ra yu (akal) yang dilarang. Namun apabila menafsirkan dengan menguasai ilmu-ilmu tersebut, maka ia tidak menafsirkan dengan ra yu (akal) yang dilarang. Adapun bagi seorang mufassir kontemporer, menurut Ahmad Bazawy Adh-Dhawy2, maka ia harus menguasai tiga syarat pengetahuan tambahan selain lima belas ilmu di atas. Tiga syarat p