Salam Hangat Senja

Download Salam Hangat Senja

Post on 19-Feb-2016

38 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Salam hangat senja

TRANSCRIPT

<ul><li><p>1SALAM HANGAT, SENJA</p><p>Jogjkarta, Februari 2014Laki-laki itu masih bimbang, menimbang sebuah ajakan yang sudah lewatbeberapa hari. Bukan ajakan sebenarnya, hanya tawaran basa-basi karenatemannya yakin ia tak mungkin menerima ajakan itu.</p><p>Tapi, sekali lagi, sebagai teman apa salahnya bertanya, menawarkan dirimengajak temannya ke tanah kelahiran yang sudah nyaris lima belas tahun takpernah diinjaknya lagi. Hidupnya sudah lama ikut terseret dunia urban pulauJawa, mengikuti langkah kemana orang tuanya pergi, sebab ia masih belum bisamandiri, atau justru orang tuanya yang menghambatnya pergi sendiri. Apalagilaki-laki itu sahabat karibnya.</p><p>Sayang ia masih meragu, pun begitu orang yang mengajaknya. Keduanyamasih menyimpan sebersit enggan, meski letupan ketertarikan tak dapat dipungkiri, membayangkan perjalanan mereka nanti, membuat mereka tanpa sadardilanda perasaan senang setengah ragu.</p><p>jadi kamu ikut nggak?, biar aku punya temen disana, gak planga-plongo, tanyanya.</p><p>Yang ditanya, masih menunjukkan raut tak yakin tanpa bisa ia tutupi,sebentar deh aku mikir-mikir dulu.</p><p>yaa..yaaa..Tempat itu memang jauh, belum pernah terpikir olehnya untuk melarikan</p><p>diri kesana, menikmati waktunya yang memang terlalu senggang tanpa bebanuntuk memanjakan matanya dengan pemandangan yang katanya indah. Justrusebelumnya, laki-laki peragu itu sudah menyusun rencana sedemikian detil sejaklama untuk melakukan penjelajahannya sendiri, menyibak tempat-tempat dengansejuta pesona di Jawa Timur, provinsi terluas di pulau jawa.</p><p>Rencananya lengkap sudah, mengunjungi taman nasional Baluran hanyauntuk membanyangkan bagaimana jelmaan padang tandus dengan semak-semakkering di area yang luas mirip padang Afrika. Hingga sepanjang mata memandanghanya ada hamparan tanah, dengan rumput-rumput tinggi menguning. Jugapepohonan yang berjarak jarang, tempat bernaung meski batangnya mulaimeranggas, nyaris mati kekeringan. Lalu harapannya melihat sekawanan hewanpadang savana dari jauh, syukur-syukur bisa melihat kawanan banteng itumendekat, mendokumentasikannya dalam bidikan lensa yang mesra.Menyimpannya dalam folder-folder di komputer usangnya yang makin lamamakin tak terjamah.</p><p>Atau rencana keduanya, pergi ke Tanjung Papuma, pantai terkenal diJember. Kota yang populer dengan event Fasihon carnavalnya, meski tak pernahsekalipun ia melihatnya secara langsung. Hanya lewat berita yang menampilkanreportase pada khalayak, menyentuh masyarakat di belahan pulau bahkankebangsaan manapun untuk ikut menikmati rumbah-rumbai indah kostum dengantema beragam, berwarna-warni menarik mata, meski jenis sandang seperti itumemang tak pernah pantas untuk dipakai di kehidupan sehari-hari. Jika ada yangnekat memakainya, paling segera dicap sebagai orang yang sedikit kurang waras.</p><p>Mereka mungkin tak pernah tahu tepatnya Jember itu ada di sebelah mana,selain nama yang tertera kecil di peta Indonesia. Itu pun bagi mereka yang jelimengamati, sisanya bisa jadi memang tak pernah tahu dan tak mau tahu. Persis</p></li><li><p>2seperti orang-orang asing yang begitu hafal dengan nama Bali, tapi asing dengankata Indonesia, ironi yang menyedihkan juga menggelikan.</p><p>Atau opsi lainnya, pergi ke jalur kereta paling ujung timur pulau jawa,terdampar di Banyuwangi, menikmati pesona kawah Ijen, atau sekedar transitmemuaskan diri menikmati durian dan manggis sebelum menyebrang melaluipelabuhan Ketapang. Menuju pulau kecil di seberang timurnya, pulau dewata, dimana semua paket wisata ditawarkan. Paket hiburan dari kelas backpacker miskindana hingga sosialita yang rela menghamburkan uangnya hanya untuk dudukbersantai dengan bikini dan sunglassesnya menikmati sunset. Apalagi namanyakalau bukan Bali.</p><p>Ia masih menimbang opsi mana yang ingin di ambilnya, atau justru pilihanitu tampak sulit karena ketiganya memang ingin ia jelajahi, nikmati seorang diri,tanpa harus bersama dengan orang-orang yang dikenalnya. Biarlah ia hanya salingberbagi dengan mereka yang asing, yang sama-sama datang untuk menikmati apayang alam suguhkan, tanpa harus saling bicara untuk bertukar kekaguman yangvisualisasinya mereka terima lewat mata. Tidak, laki-laki peragu itu bukanpenyendiri, ia hanya sedang menginginkan waktunya untuk ia nikmati sendiri.</p><p>Lalu, kini muncul tawaran baru yang tak pernah terbersit dalampikirannya, antara ketertarikan yang membayang di otaknya, tapi juga keengganankarena aturan utamanya akan ia langgar sendiri. Semakin ia menimbang semakinia ragu. Tapi ini Ambon!, sebuah tempat di seberang lautan yang begitumengadiksi pikirannya akhir-akhir ini, betapa ia begitu ingin menginjakkankakinya di pulau yang terkenal kaya rempah oleh para penjajah dulu, The SpiceIsland.</p><p>Ambon, nama itu memikatnya kali ini, memanggil-manggil namanyauntuk mengajaknya pergi ke sana. Bukannya ia tak pernah pergi jauh kemanapun,sebab justru kawasan Asia Tenggara pernah beberapa ia singgahi, Singapura,Malaysia, Thailand. Destinasi wisata yang cukup murah, hampir setara denganbiaya perjalanan ke pulau-pulau bagian timur Indonesia. Toh bukan juga karena iarencanakan, tapi karena memang itu urusan kampus yang menyeretnya ikut serta,membuatnya mengenal gedung-gedung kampus lain yang tak ada bedanya dengangedung yang nyaris setiap hari ia datangi. Apa yang mau dinikmati?, Interaksidengan mahasiswa asing?, kepuasan menyombong? Mungkin.</p><p>Sayangnya sesuatu itu kerap kali mengganjal pikirannya ketika ia mulaiberpikir untuk berkata Ya. Bukankah tujuannya pergi adalah untuk menyendiri?,sengaja menceburkan diri di tempat asing untuk beberapa waktu, tanpa teman,tanpa orang yang dikenalnya dekat. Bagaimana mungkin ia bisa menyepi, jika iajustru mengikuti langkah kaki orang lain. Sebenarnya apa tujuannya pergi kaliini?. Ia berpikir makin keras, mencerna konflik antara otak dan hatinya.</p><p>Nggak ah, lanjut ke rencana semula, gumamnya pelan, namun sedetikkemudian ia menggeleng.</p><p>tapi ini Ambon, kapan lagi aku bisa kesana.bisa kapan aja kok?, kenapa harus buru-buru?kesempatan kedua gak terlalu menjanjikan.ah, sama aja, Baluran juga bisa kapan aja kok?, lebih deket pula, Jawa</p><p>Timur doang kan?Laki-laki peragu itu tertawa sendiri, membayangkan dirinya seperti dua</p><p>orang berbeda yang saling berdebat antara keputusan ya dan tidak. Lalu seperti</p></li><li><p>3orang bodoh, memanggut-manggutkan kepalanya sendiri seraya tersenyum.Membaca lagi pesan baru yang dikirim sobatnya itu, masih dengan pertanyaanyang sama.</p><p>Ah bodohnya aku.[ Kamu jadi ikut gak?, kalo iya buruan jangan ragu-ragu gak jelas</p><p>deh, biar cepet hunting tiket pesawatnya!]Ya, pergi memang tak asal pergi, masih ada yang perlu disiapkan meski</p><p>sebenarnya ia bisa dengan santai menyerahkan semua urusannya pada sahabatnya.Yang diperlukan olehnya hanya mental, untuk berkata jadi atau tidak. Tapi adabanyak hal yang bersarang dikepalanya, membuatnya semakin sulit memilih.Sayangnya kali ini dia harus segera memutuskan, keputusan sepele yang akanmemutuskan jenis penyembuhan apa yang akan dilakukannya.</p><p>Bagaimanapun destinasinya, tujuan perjalanannya ini adalah soal obat,mencari penyembuh hatinya yang ia rasa makin terkoyak persis jaring ikan usangpara nelayan yang sudah sobek sana sini. Ia menghela nafas, meyakinkan dirinyauntuk memilih rencananya yang semula. Mengabaikan godaan yangmemusingkan dirinya beberapa waktu kebelakang.</p><p>[kayaknya aku gak jadi ikut, haha sory ya]Jawabnya pasti, me-reply pesannya sebelum ia berubah pikiran lagi.[yakin?][ia, aku yakin][oke deh kalo gitu]Ia menghela nafas, kali ini ia yakin untuk kembali membuka rencana</p><p>detilnya yang sudah ia simpan sejak bulan lalu. Kesibukannya akhir-akhir initerpaksa membuatnya menunda rencananya itu nyaris dua bulan. Tapi kini, iapunya waktu luang, sangat luang hingga tak perlu pusing untuk membagiwaktunya yang terbatas. Skripsinya selesai, prosesi sidang yang semi sakral,hingga Acc revisi yang sudah didapatkannya dengan usaha nyaris kolaps akhirnyaselesai juga.</p><p>Bukan karena ia begitu menggebu ingin lulus, tapi karena ia ingin segerakeluar dari kungkungan yang mengganjal kebebasannya. Segera, setelah ini iaakan menjadi manusia bebas sesuai keinginannya.</p><p>Membanggakan orang tua?, itu motif semu yang ada di otak orang-orangyang mengenalnya. Baginya, kebanggaan untuk orang tua tak lebih dari wujudpenghambaannya pada ia yang meminta tanpa mau terbantah.</p><p>Ia menyimpan ponsel genggamnya begitu saja, lebih tepatnya melemparke kasur tempatnya biasa merebahkan diri. Pikirannya menerawang meskimatanya memandang langit-langit kamarnya yang bercat putih dengan lunturanwarna kuning di beberapa bagian, hasil karya rembesan hujan atau mungkin jugabercampur dengan pipis tikus yang bersembunyi dalam gelap, di para-para yangtertutup asbes, berjalan dengan kakinya yang kecil gesit, dengan ekor yangbergerak kanan kiri menjaga keseimbangan langkahnya.</p><p>Kosnya bukan kos mewah yang biasa ditawarkan pada mahasiswa berduittebal untuk kenyamanan belajar, meski sebenarnya slogan itu jadi kurang tepatkarena kenyamanan tidur jadi prioritas utama mereka pada akhirnya. Bagaimanabisa belajar dengan nyaman jika mereka terlelap tidur hingga lupa waktu. Tapiberbeda dengan jenis-jenis kamar berharga lumayan, kos ini, juga kamarnya,</p></li><li><p>4seolah menjalin ikatan erat dengannya saat pertama kali ia mendatanginya tanpasengaja. Membuatnya jatuh hati.</p><p>Rumah kecil itu terletak di belakang jalan raya dengan deretan pertokoansegala jenis barang dari counter-counter ponsel hingga etalase yang penuh dengansepatu ber-heels luar biasa tinggi. Letaknya masuk ke gang kecil sekitar lima ratusmeter lebih yang hanya muat dijejali dua motor. Di sana rumah kecil satu lantai,khas rumah jaman dulu dengan pohon mangga besar dipekarangannya berada.Pemiliknya seorang nenek dengan jumlah usia yang mampu menjadikannya saksihidup berbagai masa yang ada di Indonesia, juga seorang wanita paruh baya,kerabat jauhnya yang dibayar untuk setia menemaninya. Anak-anaknya?, janganditanya, sibuk dengan kehidupan keluarganya masing-masing hinggamengunjungi rumah ini ibarat ritual lebaran, setahun sekali cukup adanya.Beberapa kerabatnya bahkan anaknya membujuk untuk tinggal bersama mereka,tapi eyang, begitu biasa kusebut memilih kukuh menikmati hari-harimengenangnya disini, sampai Tuhan menakdirkan dia kembali pada kodratnyasebagai makhluk ciptaan Tuhan, kembali pulang ketika waktunya usai.</p><p>Hanya ada lima kamar yang berderet rapi yang disewakan untuk anak kos,dan tinggal satu kamar paling ujung yang kosong belum berpenghuni. Begitulahpertemuan terjadi, jodoh tak terduga, laki-laki yang biasanya peragu itu tak pernahsebelumnya dengan cepat merasa seyakin ini untuk berkata ya. Ia, menautkanhatinya pada kamar kecil yang disukainya sampai saat ini, hingga nyaris limatahun ia kuliah, tak pernah sekalipun terbersit keinginannya pindah dari sana.Bahkan ketika Papa dan Mamanya menyarankan ia mencari kos yang lebih luas,ia menolak. Baginya tempat ini sudah menarik hatinya, dan sulit untuk berpindah.Ia jatuh cinta pada rumah ini, kamar ini, sebuah tempat yang lebih rumah dibanding rumahnya sendiri.</p><p>Ia memejamkan matanya, meskipun pikirannya masih berkeliaran denganliar mengulik setiap kotak-kotak memori yang berusaha ia simpan rapat.</p><p>eh Willy, arep melu ngeburjo ora?1, suara itu terdengar disela ketukantangan yang mengetuk pintu kamarnya. Perlahan ia membuka pintu kamarnya,menjawab sapaan teman satu kosnya, penghuni samping kamarnya.</p><p>enggak lah mas, aku udah makan, jawabnya.yaudah, tak duluan, lanjutnya lagi, berlalu meninggalkannya. Laki-laki</p><p>peragu itu kembali menutup pintu kamarnya, menggeletakkan dirinya tanpa bebandi atas kasur tanpa ranjang, bukan karena tak ada, ia hanya sengaja memintaranjang di kamarnya dipindah agar space di kamarnya lebih luas.</p><p>Tanpa terasa lamunannya ternyata sudah memakan waktu, dua jam lewatbegitu saja tanpa satupun kegiatan dilakukannya, kepalanya justru makinberdenyut keras, membuatnya sulit memejam mata. Ada apa dengan isi kepalanyaini, bukankah tadi ia sudah begitu meyakinkan dirinya?. Tapi mengapa justrukeraguan makin membesar mengisi kepalanya, persis seperti balon yang diisi gas,makin lama makin mengembang. Sebelum akhirnya meledak, mengeluarkanbunyi Bam!, memecah karet elastis itu jadi perca.</p><p>Diluar dugaan ia mengambil ponselnya, mengirimkan pesan pendek.[Aku jadi ikut, hunting tiketnya jadi dua ya].</p><p>1 Mau ikut ke burjo, gak?. (Burjo : nama populer warung nasi dan mie instan yang buka 24 jam)</p></li><li><p>5Pesan yang bertolak belakang dengan pernyataannya tadi siang. Sulitmemang berurusan dengan orang yang pemikir atau peragu?, Entahlah, yang pastiorang yang menerima pesannya ini akan marah-marah seperti biasanya. Kebiasaanyang berubah jadi pemakluman bagaimanapun mengesalkannya.</p><p>Kini ia lega, menarik nafas kemudian tersenyum simpul, keputusan yanganeh. Benar kata orang, jika kamu meragukan satu keputusan yang kamu buat,maka bisa jadi itu memang bukan keputusan yang tepat. Meski bukan pilihanyang salah, hanya saja bukan pilihan terbaik. Sebab yang terbaik katanya takpernah menimbulkan keraguan.</p><p>Buang sisi subyektif atau obyektif yang dijadikan acuan dalam memilih.Karena bagaimanapun, pilihan subyektif akan selalu menang tanpa di sadari. Sisiobyektif hanya sudut pandang yang bisa atau tidak bisa, mampu atau kalahargumen yang menggiring si manusia untuk menetapkan pilihan akhir secarasubyektif. Entah teori ini valid atau tidak.</p><p>Baru saja ia akan terlelap, dering ponsel sontak membuka matanya yangterpejam tenang. Ia melihat layarnya, tertera nama yang sudah terbayang tampilanwajahnya, Ale. Dia temannya, nama lengkapya, Aledrian Miru.</p><p>Eh ikan lohan kampret!, kamu kalo jadi orang jangan plin-plan, tadibilang enggak sekarang mau. Mau ikut apa enggak sebenernya?, jangan bikinpusing deh.</p><p>Suara dari seberang sana merambat, menggelombang, tertangkap sinyallalu merangsek ke telinga si penerima hingga suara yang nyaring terdengar lebihmirip toa masjid di blok sebelah itu membuatnya sontak tertawa. Menahantawanya sesaat, ia kemudian menjawab ia, aku ikut, kurang jelas ya smsnya?,jawabnya tenang, membuat si lawan bicara makin gusar.</p><p>fixed ya jadi?, awas kalo plin-plan lagi, untung aku belum hunting tikettadi. Dasar kebiasaan!, runtuk pemilik suara itu, gumaman yang masih ia dengarmeski samar.</p><p>ia Ale-ale, gak usah ngomel kayak emak-emak gitu deh, komentarnyadengan menekankan nama Ale yang berulang, mirip merk minuman berperisa.</p><p>Eh Willy, ini juga demi elu tauuuk!, deuh aingmah sok harareneg bogabatur jiga maneh teh, nyaho teu ieu jam sabaraha?, jam hiji peuting, tunduh!2 ,jawab Ale kesal.</p><p>hahaa..Sory..,Tut tut tut tut..pembicaraan terputus sepihak. Suara gelak tawa masih</p><p>terdengar di kamar berdinding sunyi itu.</p><p>Bab 1. Eksekusi Rencana</p><p>Empat hari kemudian Willy dan Ale akhirnya jadi berangkat sesuairencana, setelah berburu tiket murah yang nyaris mustahil, juga dalam waktu yangterbatas, didapatnya tiket dengan rute penerbangan Jakarta-Makassar-Ambonuntuk Rabu lusa. Sebenarnya mungkin akan lebih cepat jika keduanya memilihrute Surabaya, sayangnya Ale harus mampir dulu ke rumahnya di Bandung,</p><p>2 Duh, aku kesal punya teman kayak kamu, tahu gak ini jam berapa?, jam satu malam, ngantuk!...</p></li></ul>