rubrik parenting jendela keluarga majalah hidayatullah

Click here to load reader

Post on 24-Dec-2014

134 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

 

TRANSCRIPT

  • 1. Jendela Keluarga Ayah Sang Pemimpinfoto: muh abdus syakur/suara hidayatullahDi sebuah supermarket, se orang suami terdiam melihat is trinya sedang memarahi anak nya. Si anak yang ber sia sekitar lima tahun u itu ingin meme sebuah mainan, namun b li ibunya me rangnya. Anak itu lalu menangis. Si ibu la menyuruh anaknya menghentikan tangisannya, namun tangisan si anak semakin keras. Akhirnya, si ibu me u m kui anaknya. Tangisan anak itu semakin menjadi-jadi. l Si ibu semakin tak sabar sehingga pukulannya semakin keras dan bertubi-tubi. Melihat keadaan itu, suaminya pergi menjauh. Seorang ibu yang membawa anak remaja lelakinya melihat kejadian ter e ut. Ibu itu kaget dan ingin sekali s b beri b cara kepada ibu yang memukuli anaknya itu. Namun, karena melihat ekspresi si ibu yang masih marah, ia mengurungkan niatnya. Sebab, ketika seseorang sedang marah tentu tidak bisa diajak bicara baik-baik. Akhirnya, ia mendekati bapak yang sudah menjauh dari ibu dan anaknya itu. Maaf Pak, apakah Bapak ayah dari anak itu? Si bapak mengangguk dengan ekspresi wajah sedih bercampur malu. Mengapa Bapak membiarkan anaknya dipukuli oleh istri Bapak? Mengapa membiarkan anak yang masih lemah dizalimi? Allah menitipkan anak pada kita untuk dididik dengan baik. Tentu Allah tidak ridha kalau titipannya dianiaya. Pak, kita akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah. Anak itu diam tak membalas karena ia masih lemah. Suatu saat dia sudah besar akan membalasnya. Dia menyimpan rasa dendam. Anak itu peniru. Kelak diaFEBRUARI 2014/RABIUL AWAL 1435akan meniru yang dilakukan ayah-ibunya terhadap anak dan keluarganya juga. Bagaimana perasaan Bapak kalau hal itu terjadi? Bapak tersebut terdiam mendengarkan si ibu yang sulit membendung kata-katanya. Tak lama kemudian Bapak itu mendekati anaknya. Ia membawa anaknya pergi de gan menaiki sepeda motor. n Anak remaja laki-laki itu menyaksikan semua kejadian tersebut. Lalu ibunya memberi penjelasan bahwa seorang ayah adalah pemimpin dalam keuarga. Ia seharusnya yang l mengendalikan dan mendidik keluarganya. Perbuatan si ibu ta i tidak boleh dibiarkan. d Hari itu, si anak remaja laki-laki itu beaar dua hal. l j Pertama, tentang bagaimana se a usnya peran seorang h r ayah. Kedua, baai ana jika melihat kemungkaran g m atau ketidakaadilan di depan mata tidak boleh membiarkannya. Di dalam masyarakat kita sering melihat seorang ayah yang begitu lemah tidak ber a a dalam memimpin d y keluarganya. Hal itu sering di dikan anekdot. Maka ja munculah istilah Ikatan suami takut istri, bahkan sampai dijadikan serial sinetron. Se ingga hal itu pun h berdampak dalam mendidik anak. Ayah tak mengambil peran dalam mendidik anak. Ibulah yang mengambil alih seluruh kepemimpinan pendidikan anaknya. Memang dalam pelaksanaannya seringkali ibulah yang lebih banyak berperan. Namun, tetap yang menjadi komandannya adalah ayah. Ayah turut mengkonsep, melaksanakan dan mengontrol pelaksanannya. Bayi manusia dikandung selama sembilan bulan. Sebuah waktu yang cukup lama. Selama itu, bukan hanya ibu yang bersiap menjalani peran sebagai ibu, namun juga ayah. Ayah harus belajar banyak bukan karena banyak melaksanakannya, namun karena ayahlah yang memimpin dan mengendalikannya. Ketika ada ke eliruan istri dalam mendidik anak, maka suami se k hausnya bertindak meluruskannya. Semoga Allah r seantiasa membimbing kita semua. n Penulis buku Men idik Karakter dengan Karakter. dcelahOleh Ida S. Widayanti*67

2. usrahMenjadi yang Kedua Oleh Kartika Ummu Arina*Buktikanlah bahwa kita adalah pembawa kebahagiaan, lebih terhormat, dan memang tepat untuk dicintaiTelepon genggam di tangan saya bergetar beberapa kali, sebaris nama muncul di layar. Beberapa detik kemudian saya sudah mendengar suara di ujung sana. Nadanya terdengar gembira. Saya bertanya-tanya apa gerangan yang hendak disampaikannya. Akhirnya karena tak sabar sekaligus iseng, saya menggodanya, Mau nikah iya, Mbak? Ia pun berseru tertahan, berusaha menyembunyikan kegembiraannya dan mengiyakan pertanyaan saya. Saya pun semakin penasaran. Menanyakan siapa gerangan jodoh yang menghampiri si mbak yang usianya telah menginjak pertengahan kepala empat ini. Akhirnya... itulah yang menghiasi benak saya. Ia pun menanyakan apakah saya mengenal sebuah nama. Seseorang yang aktif di sebuah wilayah dakwah yang tak jauh dari tempat saya tinggal. Tiba-tiba saya merinding. Hati-hati saya bertanya, Mbak, beliau sudah berkeluarga ya? Jawabannya yang membenarkan membuat hati saya yang sudah dihiasi oleh warna-warni kebahagiaan kini juga diwarnai rasa lain.68Jadi istri kedua. Itulah kabar gembira sekaligus rasa ngilu yang datang pada saya hari itu. Poligami. Kata itu masih sering saya eja dengan berbagai rasa hingga hari ini. Walaupun itu bagian dari perjalanan hidup junjungan agung Rasulullah SAW, tetapi secara manusiawi, saya belum mampu mengejanya dengan baik dan benar hingga hari ini.Persoalan Ada di HatiJadi yang kedua, ini yang sering mengganjal dalam hati. Yang kedua berarti menjadi yang setelah orang lain. Terlepas dari kata orang sebagai newcomer, pengganggu, perusak, dan lain sebagainya, siapapun punya kemungkinan untuk jadi yang kedua. Entah yang pertama masih di sisi atau sudah tiada. Akan tetapi, jadi yang kedua, sung guh persoalan dan jawaban sebenarnya ada di dalam hati. Berkutat pada apa yang kita pikirkan sebagai persoalan, pa ahal jalan keluar dari soal tersebut d seatinya juga tergantung bagaimana j kita membebaskan diri dari apa yang kita pikirkan dan bertindak yang terbaik. Lalu apakah menjadi yang kedua berarti mengundang petaka? Pastinya, bila hal ini hanya menyengsarakan hamba-Nya, Allah tidak akan pernah mengizinkan poligami (An-Nisa [4]:3) atau membolehkan seseorang yang telah berpisah dengan pasangan sebelumnya menikah kembali. Terlepas dari segala kelemahanhati, pelajaran yang saya peroleh dari pernikahan si mbak sungguh membuka cakrawala baru. Di hari pernikahannya, sang calon suami datang bersama istri pertama dan anak-anaknya. Mulai dari akad terucap hingga resepsi bergulir menjelang senja, istri pertama dan anak-anaknya setia menemani. Semua hal mereka lakukan bersama. Makan bersama hingga bergurau dan menyambut tamu-tamu yang datang. Semua mata yang datang merekam peristiwa itu hingga sekarang dan terkadang masih diputar ulang dalam perbincangan. Hari-hari si mbak pun menjadi le ih sibuk. Tak hanya berkunjung ke b sanak-saudara atau menghadiri ka jian rutin saja, kini hari-hari di akhir pe annya pun penuh terisi dengan k agen a bersama sang istri pertama dan d keluarga besarnya. Saat ditanya, apakah beliau bahagia, si mbak ini menjawab sumringah, Sebenarnya lebih enak begini, kami jadi punya waktu lebih banyak mengerjakan sesuatu untuk umat. Jawaban ini menghadapkan kita pada realitas bahwa mengurus rumah tangga memang menyita waktu. Mendidik anak-anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia akhirat. Mencari nafkah untuk membiayai kebutuhan rumah tangga pun sangat berat. Jadi, akan lebih menyenangkan bila ada orang yang bersedia berbagi beban. Seperti Rasulullah yangSUARA HIDAYATULLAH | www.hidayatullah.com 3. Jendela keluargaFOTO: MUH ABDUS SYAKUR/SUARA HIDAYATULLAHBuang jauh-jauh label yang sering ditempelkan masyarakat awam bahwa menjadi yang kedua berarti merusak keluarga orang menyuruh seorang lelaki yang mengadukan nasibnya yang miskin untuk menikah lagi. Pernikahan kedua, laki-laki ini tetap miskin. Ia pun kembali datang pada Rasulullah dan mengadukan nasibnya, Rasulullah kembali menyuruhnya menikah. Yakin bahwa Rasulullah tidak akan menipu umatnya, ia pun menikah untuk yang ketiga kalinya. Usai pernikahan yang ketiga, seiring waktu berjalan, nasibnya belum juga berubah. Ia tetap miskin. Ia pun kembali datang pada Rasulullah , jawaban yang diberikan padanya tetap sama. Menikah lagi. Rasulullah bersabda, Carilah rejeki dengan menikah! (Riwayat Ibnu Abbas) Akhirnya lelaki ini pun menikahFEBRUARI 2014/RABIUL AWAL 1435lagi. Pernikahannya yang keempat ini dilangsungkan dengan seorang Muslimah yang pandai menjahit. Keahlian ini ditularkannya pada istri-istri yang lain. Singkat kata, nasib perekonomian lelaki ini pun berubah. Ia menjadi seorang kaya dengan usaha menjahit baju yang dijalankannya bersama keempat istrinya.YaNG LeBIH BaIKJadi, inilah saatnya membebaskan pikiran dan bertindak tepat. Menjadi yang kedua atau yang seterusnya, tidaklah harus menjadi penerus apa yang sudah ada. Namun sebaliknya, menjadi yang kedua seharusnya memacu kita menjadi orang yang membawa perubahan yang lebih baikdalam kehidupan pasangan. Buang jauh-jauh label yang sering ditempelkan masyarakat awam bahwa menjadi yang kedua berarti merusak keluarga orang. Justru yang harus dibuktikan adalah dengan pernikahan yang terjadi, rejeki menjadi lebih lancar, kesulitan yang sebelumnya kuat menghadang menjadi lebih mudah diatasi, dan membuat wajah pasangan menjadi lebih cerah dibandingkan sebelumnya. Kehadiran kita sebagai yang kedua juga seharusnya menjadi pribadi yang menginspirasi bagi pasangan dan keluarga besar. Bukan sebaliknya, menjadi sumber masalah baru bagi kehidupan pasangan dengan keluarga besarnya. Menjadi yang kedua menuntut kita untuk dapat berpikir lebih dewasa, berhati lapang, dan mengambil tindakan yang didasari keputusan yang tepat. Karena, posisi kita menuntut kita untuk menjadi sosok yang lebih cerdas bersikap dan bertindak. Jadi yang kedua justru harus lebih pandai mengatur emosi dan bukan mengedepankan perasaan. Sehingga label yang kedua adalah si pembuat masalah, cengeng, dan cari perhatian dapat ditolak mentah-mentah. Masyarakat juga dapat belajar bahwa pernikahan kedua yang dipilih oleh pasangan kita justru adalah jalan yang terhormat dan menambah kebahagiaan. Jangan sungkan untuk belajar dari dia yang pertama untuk menjadi orang yang dicintai pasangan, karena belajar sejatinya bukan untuk menjadi pengekor tetapi lebih untuk membentuk karakter yang lebih baik pada diri kita. Sambungkanlah silaturahmi dengan keluarga besar, juga masyarakat. Buk