ruang lingkup ip_prof.samugyo

Download Ruang Lingkup IP_Prof.samugyo

Post on 11-Jul-2015

231 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 5/10/2018 Ruang Lingkup IP_Prof.samugyo

    1/24

    STATE OF THE ARTILMU PEMERINTAHAN

    (Sebagian materi disampaikan pada seminar jurusan IP tahun 1993, Revis! padaseminar Pasca Sarjana Unpad 12Maret 2001, Revisi untuk seminar jurusan IPtanggal 9 november 2011)

    Oleh:Samugyo Ibnu Redjo

    Pendahuluan.Perkembangan Ilmu Pemerintahan dimaksudkan sebagai

    perkembangan dan perubahan ke arah kemandirian bidang kajiankeilmuan, walaupun pada dasarnya sangat sulit untuk memisahkanbidang ilmu pemerintahan dari perkembangan bidang-bidang "iImulainnya. Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan ilmu pemerintahanlebih disebabkan oleh berbagai pasokan kajian ilmu administrasi negara,ilmu hukum tata pemerintahan, ilmu politik serta masalah-masalahmengenai negara dan pemerintah yang tidak terjawab oleh kajian ilrnusosiallainnya.

    Hal inimengakibatkan tumbuhnya kajian i1mu pemerintahan yanglebih spesifik dengan kemandirian keilmuan yang berorientasi padapemecahan masalah-masalah negara dan pemerintahan di luar batas-bataskajian ilmu adrninistrasi negara, ilmu hukum tata pemerintahan dan i1mupolitik. Jika iImu administrasi negara berorientasi pada teknisberpemerintahan (Moelyarto, 1993), sementara ilmu hukum tatapemerintahan berorientasi pad a kajian hukum atas pemerintahan, sertailmu politik berorientasi pada kekuasaan, maka ilmu pemerintahanberorientasi pada proses berpemerintahan. Hal itu setidaknyadikemukakan oleh Van Poelye yang menyatakan secara singkat bahwa:munculnya prakarsa untuk mengkhususkan studi mengenaipemerintahan yang kemudian menjadi gagasan mengenalkan ilmu

    I

  • 5/10/2018 Ruang Lingkup IP_Prof.samugyo

    2/24

    pemerintahan, bermula pada permasalahan yang timbul dari praktekpemerintahan pada tingkat daerah, seperti l oca l go v ernment di Inggris dandi Amerika Serikat, gemeenie di Nederland, hubungan prefectur dancommune di Perancis (Poelye, 1953).

    Praktek-praktek pemerintahan yang dimaksud dalamhubungannya dengan proses berpemerintahan di tingkat lokal tersebut,

    Perkembangan keiImuan ini semakin luas sebagai akibat tuntutanyang berkembang terhadap peran pemerintah, melalui pernyataan-pernyataan good governance seperti dikemukakan oleh Rogerio F. Pinto(1994) ; Barney and Oucki (1986);Deborah Brautigam (1991) dan Institutof Governance (1996) (Lihat Redjo, 1998: 110-112) kemudian juga

    ~sebagaimana dikemukakan oleh pakar lainnya tentang prinsip-prinsippemerintahan yang balk (Crince Le Roy, 1978). Disamping konsepre in ve ntin g g ov ern m en t yang dikemukakan oleh Osborne dan Gaebler(1992)serta konsep strategi pemerintahan Osborne dan Plastrik (1996).

    Tuntutan terhadap peran pemerintah atas keberadaanpemerintahan juga dikemukakan oleh Anthony Giddens (2000:54) yangmenyebutkan bahwa : keberadaan pemerintahan adalah untuk, per tama:menyediakan sarana untuk perwakilan kepentingan-kepentingan yangberagam. Kedua, menawarkan sebuah forum untuk rekonsiliasikepentingan-kepentingan yang saling bersaing. Ket iga, mendptakan danmelindungi ruang publik yang terbuka dimana debat bebas mengenai isu-isu kebijakan dapat dilakukan. Keempai, menyediakan beragam hal untukmemenuhi kebutuhan warga negara termasuk bentuk-bentuk keamanandan kesejahteraan kolektif. Kel ima, mengatur pasar menurut kepentinganpublik dan menjaga persaingan pasar ketika rnonopoli rnengancam.Ke e n u m , rnenjaga keamanan sosial melalui kontrol sarana kekerasan danmelalui penetapan kebijakan. Ketujuh, rnendukung perkernbangansumberdaya manusia melalui peran utamanya dalam sistem pendidikan.

    2

  • 5/10/2018 Ruang Lingkup IP_Prof.samugyo

    3/24

    Kede lapan , menopang sistem hukum yang efektif. Kesembi lan , memainkanperan ekonomi secara langsung sebagai pemberi kerja dalam intervensimakro dan mikro serta menyediakan infrastruktur. Kesepu luh ,membudayakan masyarakat dan pemerintah serta merefleksikan nilai dannorma yang berlaku secara luas, tetapi juga bisa rnernbantu rnernbentuknilai dan norma tersebut dalam sistem pendidikan dan sistem-sistemlainnya. Kesebelas , mendorong aliansi regional dan transnasional sertameraih sasaran-saran global.

    Tuntutan terhadap fungsi pemerintahan yang sepatutnya tersebutkemudian mengakumulasi pada perlunya kajian keilmuan yang semakinspesifik dan tumpuannya pada ilmu pemerintahan, Hal ini menjadi

    " 'semaldn dibutuhkan tatkaia berbagai persoalan yang menyangkutpelaksanaan peran pemerintah dalam kenyataannya tidak mampudipecahkan oleh berbagai kajian lainnya. Namun disadari bahwa, hal itulebih kernbali kepada peran peJakuj pelaksana pemerintahannya sendiri,karena berbagai kajian yang telah dibuat membutuhkan aplikasidilapangan. Apalagi jika hal itu dihubungkan dengan kondisi ke-Indonesiaan dewasa ini. Hal ini penting untuik dikemukakan karena"perkembangan dan penerapan serta keanekaragaman konsepsi ilrnupemerintahan sedikit banyaknya dipengaruhi oleh ~. lingkungan budayadan Q . sejarah penerapannya" ( Ateng Syafrudin, 1993).

    Mengacu pada pendapat tersebut, rnaka seyogyanya persoalandalam pemerintahan di Indonesia dewasa ini dapat dijawab oleh ilmupemerintahan, namun ternyata berbagai persoalan yang menimpa bangs aini relatif belum dapat dijawab oleh kajian ke-ilmupemerintahan.Walaupun sumbangan lingkungan budaya dan sejarah penerapannya diIndonesia terhadap perkembangan ilmu pemerintahan "cukup" ada (ataumemang belum ada ?).

    3

  • 5/10/2018 Ruang Lingkup IP_Prof.samugyo

    4/24

    Berbagai kasus di Indonesia yang sangat berkait dengan ilmupernerintahan, antara lain adalah: masalah sentralisasi dan desentralisasipernerintahan. [ika diteliti lebih lanjut pada Undang-undang No 22 tahun1948 politik desentralisasi yang dijalankan relatif telah mencerminkanpasal18 DUD 45, akan tetapi implementasinya masih dibingungkan olehtarikan kepentingan politik pusat. Pada undang-undang No.1 tahun 1957yang didasarkan pada politik otonomi UUDS 1950 mencerminkankehendak pusat untuk memberikan otonomi yang seluas-luasnya kepadadaerah, akan tetapi otonomi yang seluas-luasnya tersebut temyata tidakdiikuti dengan perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang wajarsebagaimana tuntutan UD No.1 tahun 1956. Kemudian UD No.1 tahun1957 ini mengkristaI kembali menjadi sentralistis sejalan dengan dekritPresiden 5 [uli 1959. Pad a UD No. 18 tahun 1965 yang mencobamelanjutkan otonorni Iuas sebagaimana UU. No.1 tahun 1957 dalamperjalanannya berubah menjadi sentralisasi sebagairnana tuntutan politikdemokrasi terpimpin.

    Demikian pula halnya dengan UU no. 5 tahun 1974 yang semulabernuansa pembaharuan sebagairnana tuntutan politik Orde Barn diawaItahun 1966 dan tahun 1968 saat dimulainya program Repelita, dalamperja!anan selanjutnya cenderung sangat sentralistis. Dan pengaturantentang otonominya sendiri barn ada setelah 25 tahun DD No.5 tahun1974 diundangkan. Dewasa ini dengan diberlakukannya UD No. 22tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 tahun 1999tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, tampaknya kernbaliakan digugat, karena temyata ada kepentingan-kepentingan politik yangterabaikan yang disebabkan oleh adanya anggapan bahwa denganotonorni daerah di tingkat Kota dan Kabupaten akan menyebabkanbermunculannya raja-raja keeil di daerah. Hal itu berarti mengurangi

    4

  • 5/10/2018 Ruang Lingkup IP_Prof.samugyo

    5/24

    ~\

    peran Gubemur untuk mengatur, karen a dia hanya punya fungsikoordinasi lintas Kota dan Kabupaten.

    Disamping itu adanya anggapan bahwa aparatur pemerintah diDaerah belum siap untuk melaksanakan otonomi di daerahnya, sehinggaperlu terus menerus dilaksanakan sosialisasi mengenai otonomi daerahkepada aparatur pemerintah di daerah, menyebabkan muncuInya indikasibahwa Otonomi Daerah telah menjadi komoditas dagang dan komoditaspolitik dan mengabaikan esensi dari otonomi daerah itu sendiri, yaitudemokrasi.

    Fenomena-fenomena sentralisasi dan desentraiisasi di atasmerupakan salah satu kajian dari ilmu pemerintahan, karena pada

    persoalan otonomi, maka ada tiga tataran kajian. Ketiga tataran kajiantersebut, adalah tataran Pusat, tataran Daerah dan tataran rakyat denganpola dan model relasionalnya.

    Model Relasi Pemerintahan.Pola dan model relasional antar ketiga tataran Pusat, Daerah dan

    rakyat di atas berada dalam konteks hubungan pemerintahan, yaituhubungan antara yang memerintah dengan yang diperintah. Dalamhubungan tersebut, kinerja pemerintah tidak akan dapat diketahui denganbenar, apabila rakyat sebagai subjek yang diperintah tidak merasakanhasil dari apa yang dilakukan oleh pemerintah, yaitu kesejahteraan bagimereka.

    Sebagaimana diketahui bahwa pemerintahan dibangun diatas duastruktur politik utama yang satu dengan lainnya diatur oleh seperangkataturan dan pelembagaan politik, kedua struktur tersebut memilikiketergantungan sarna besar, terkecnali pada aspek-aspek tertentu, dimanastruktur politik yang satu jauh lebih dominan dari struktur yang lain.Kedua struktur tersebut dalam pandangan Marxian (Ebenstein, 1960: 693),

    5

  • 5/10/2018 Ruang Lingkup IP_Prof.samugyo

    6/24

    -___--.---.--.---- ---

    adalah struktur yang memerintah dan struktur yang diperintah. Strukturyang memerintah ini disebut dengan Pemerintah dan struktur yangdiperintah adalah rakyat dan struktur pemerintah lebih dominan ataumendominasi struktur rakyat Hubungan ini menunjukkan hubungankekuasaan.

    Hubungan kekuasaan ini kemudian dipertegas melalui konsep"raja yang tidak pernah salah" menurut Machiavelli (Ebenstein,1960:287)karena seni memerintah yang dilaksanakan oleh penguasaadalah kombinasikecerdikandan kekejaman,yang kurang lebih diartikansebagai "pengabdian nilai-nilaimoral yang dipunyai umum, tetapi selalumemperlihatkan bahwa ia selalu memperhatikan nilai-nilai moral

    "tersebut" Dengan kata lain Pemerintah hams berkemampuanmemanipulasi nilai-nilaimoral umum, dalam hal inipemerintah sebagaiinstrumen kelas