responsi os

Download RESPONSI OS

Post on 04-Jul-2015

825 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

INJEKSI INTRAMUSKULARDisusun Oleh:Citra Putri Meirian Annisa Nur Amala Siti Eva Latifah Nurmilah Maelani Fitri Jachja Dita Septani Widya Dewi Utami 1601 1209 0531 1601 1209 0532 1601 1209 0533 1601 1209 0534 1601 1209 0535 1601 1209 0536 1601 1209 0538

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2010

BAB I SKIN TEST Sangat penting untuk mengetahui ilmu dasar sebelum melakukan skin tes. Skin test adalah melakukan test antibiotik melalui sub kutan untuk mengetahui ketahanan terhadap salah satu jenis antibiotik. Skin test termasuk salah satu tes alergi. Alergi adalah suatu keadaan hipersensitivitas yang diperoleh melalui paparan alergen tertentu. Alergen adalah suatu substansi antigenik yang mampu menghasilkan hipersensitivitas secara langsung (Dorland, 2004). Alergi tes adalah satu tindakan mengukur bagaimana reaksi seseorang terhadap alkohol spesifik. Ini melibatkan skin tes atau tes darah untuk mengetahui apa substansi atau penyebab alergi yang dapat memicu respon alergi terhadap seseorang. Skin tes paling sering digunakan kerana sifatnya yang aman, cepat dan murah. Hal ini sering dilakukan dengan memaparkan suatu ekstrak dari alergen ke kulit, menggaruk (Scratch) atau menusuk (Prick) kulit agar terpapar, dan kemudian mengevaluasi reaksi kulit. Dapat juga dilakukan dengan menyuntikkan alergen di bawah kulit, atau dengan menerapkan ke patch yang dipakai pada kulit dalam jangka waktu tertentu. Prosedur bervariasi tergantung pada bentuk skin tes. Tiga jenis utama skin tes adalah Prick/Scratch test, Intradermal test, dan Patch test. 1. Scratch test /Prick test Juga dikenal sebagai test tusukan. Pertama, seorang dokter atau perawat akan memeriksa kulit lengan bawah dan membersihkannya dengan alkohol. Kulit kemudian ditandai dengan pena untuk mengidentifikasi setiap penyebab alergi yang akan diuji. Setetes ekstrak untuk setiap potensi penyebab alergi seperti serbuk sari, ketombe binatang, atau racun serangga ditempatkan pada tanda yang sesuai. Ditusukkan kecil sekali sehingga ekstrak dapat masuk ke lapisan luar kulit, yang disebut epidermis. Menusuk kulit bukan ditembak dan tidak menyebabkan perdarahan.

Gambar kiri: proses penetesan bahan alergen ke kulit yang telah goresakan atau ditusuk menggunakan jarum atau peniti. Gambar kanan: tiap bahan alergen ditandai dan hasil test dapat diperoleh setelah 15 menit.

2. Intradermal test Setelah meneliti dan membersihkan kulit, sedikit alkohol disuntikkan di bawah kulit. Test ini lebih sensitif daripada scratch test dan ditunggu 15 menit untuk melihat hasilnya.

Gambar kiri: sudut perlekatan jarum untuk interdermal skin test adalah 10-15 derajat. Gambar kanan: daerah yang akan disuntikkan obat skin test haruslah pada kulit yang tidak mempunyai defek dan pada kulit yang cerah. 3. Patch test Metode lain adalah dengan memaparkan alergen dalam sebuah patch yang kemudian diletakkan pada kulit. Hal ini dapat dilakukan untuk menunjukkan kontak alergi yang memicu dermatitis. Jika terdapat alergi antibodi dalam sistem tubuh, kulit akan menjadi merah dan mungkin gatal, lebih mirip gigitan nyamuk. Reaksi ini menunjukkan alergi terhadap zat tersebut.

Gambar kiri: perlekatan patch pada kulit punggung. Gambar kanan: hasil patch test setelah 48 jam.

Persiapan Skin Test Sebelum melakukan skin test terlebih dahulu kita melakukan tahap pengenceran pada obat. Persiapan Alat dan Bahan 1. 2. 3. 4. 5. Disopsable syringe (spuit) 1 cc untuk skin test, 3 cc untuk penyuntikan IM, dan 5 cc Antibiotik, yaitu 1 gr Opimox sedian bubuk dalam vial Aqua bidestilata sebagai cairan pengencer Kapas dan alkohol Pulpen atau spidol untuk pengenceran obat

Persiapan Pasien Pasien diberi penjelasan mengenai tindakan yang akan dilakukan. Tahapan Pelaksanaan Skin Tes 1. Cuci tangan. 2. Menggulung lengan baju pasien bila perlu. 3. Menyediakan alat dan bahan seperti di atas. 4. Ambil 4 cc aqua bidestilata dengan menggunakan spuit 5 cc, kemudian masukkan ke dalam satu gram Opimox yang terdapat dalam vial untuk dilakukan pengenceran. Terlebih dahulu, tutup botol vial dioleskan dengan alkohol. Setelah dimasukkan, kocok vial sampai menjadi larutan yang homogenus. Sehingga konsentrasi dari antibiotik adalah 1:250 (1 cc larutan mengandungi 250 mg antibiotik). 5. Kemudian dengan spuit 1cc, diambil 0.9 cc aqua bidestilata dengan menggunakan jarum dari spuit 5cc dan dicampurkan dengan 0.1 cc larutan antibiotik Opimox tadi. 6. Mendesinfeksi kulit yang akan di suntik dengan menggunakan kapas alkohol dengan gerakan memutar dari dalam ke luar dengan arah berlawanan jarum jam. Harus diperhatikan, daerah skin tes haruslah bebas dari defek dan terletak di daerah kulit cerah. 7. Menyuntikan obat sampai permukaan kulit menjadi menggembung (diameter 0.5 cm) dengan bevel jarum menghadap ke atas dan membentuk sudut antara 1015 derajat terhadap permukaan kulit.

8. Lingkari daerah penyuntikan, tandai jenis obat dan waktu penyuntikkan. 9. Evaluasi reaksi obat setelah 15 menit dari waktu penyuntikan. 10. Hasil test reaksi alergi: a. Positif (+) : Terdapat bintik merah pada daerah penyuntikan dan pasien alergi terhadap obat tersebut. Ganti obat dan jalankan skin test sekali lagi. b. Negatif (-) : Normal, pasien tidak alergi terhadap obat.

BAB II ANTIBIOTIK PROFILAKSIS Antibiotik profilaksis adalah antibiotik yang digunakan bagi pasien yang belum terkena infeksi, tetapi diduga mempunyai peluang besar untuk mendapatkannya, atau bila terkena infeksi dapat menimbulkan dampak buruk bagi pasien. Penggunaan antibiotik di rumah sakit, sekitar 3050% untuk tujuan profilaksis bedah. Profilaksis bedah merupakan pemberian antibiotik sebelum adanya tanda-tanda dan gejala suatu infeksi dengan tujuan mencegah terjadinya manifestasi klinik infeksi. Tujuan dari profilaksis adalah untuk memperbesar mekanisme ketahanan tubuh terhadap invasi bakteri. Profilaksis adalah usaha unutk mencegah organisme sebelum mereka memiliki kesempatan untuk menginfeksi. Keuntungan penggunaan antibiotik profilaksis: 1. Atibiotik profilaksis menurunkan insidensi infeksi pasien sehingga menurunkan angka kematian post operatif. 2. Antibiotik profilaksis yang sesuai dan efektif menurunkan biaya perawatan kesehatan. 3. Penggunaan antibiotik profilaksis yang sesuai hanya membutuhkan waktu yang lebih singkat daripada pemberian terapi, sehingga menurunkan jumlah total antibiotik yang di perlukan. Kerugian pemakaian antibiotik profilaksis: 1. Dapat mengakibatkan infeksi sekunder 2. Jika resiko infeksi rendah, penggunaan antibiotik profilaksis tidak menghasilkan keuntungan sehingga tidak menurunkan insidensi infeksi. 3. Biaya antibiotik juga harus diperhitungkan. 4. Selalu ada resiko toksisitas terhadap obat yang di pakai. Pengenceran Antibiotik yang biasa dipergunakan di bagian Bedah Mulut RSHS adalah golongan penicillin, antara lain adalah antibiotik jenis Opimox. Untuk mencegah reaksi alergi terhadap Opimox, sebelum pemberian obat dilakukan skin test. Sebelum melakukan skin test terlebih dahulu kita melakukan tahap pengenceran pada obat seperti yang telah dijelaskan di atas.

Dosis Maksimum Obat Dosis antibiotik profilaksis adalah dua kali dari dosis terapi. Untuk anak-anak dosis profilaksis yang diberikan sesuai dengan rumus : BB x Dmax Dosis Profilaksis = 2 x ___________ T1/2 Contoh, menggunakan obat Opimox, dengan dosis max 50 mg/hari dan interval pemberian setiap 8 jam/hari, jadi T1/2 = 3. Misalnya BB anak adalah 6 kg. Jadi jumlah obat yang diberikan : 6 x 50 Dosis Profilaksis = 2 x _______ 3 Dosis Profilaksis = 200 mg Dosis Profilaksis = 200 mg : 250 ml = 0,8 cc Jadi jumlah antibiotik yang diberikan sebanyak 0,8 cc. Penyuntikan antibiotik provilaksis dilakukan dengan menggunakan spuit 3 cc.

Dosis Antibiotik Profilaksis SituasiStandard prophylaxis Tidak dapat meninum obat po

MedikasiAmoxicillin

DosisDewasa: 2.0 g; Anak: 50 mg/kg orally 1 jam sebelum prosedur Dewasa: 2.0 g IM or IV; Anak: 50 mg/kg IM or IV 30 menit sebelum prosedur

Ampicillin

Clindamycin Alergi Penicillin Cephalexin or cefadroxil or Azithromycin or clarithromycin Alergi penisilin dan tidak bisa minum obat po

Dewasa: 600 mg; Anak: 20 mg/kg 1 jam sebelum prosedur po Dewasa: 2.0 g; Anak; 50 mg/kg 1 jam sebelum prosedur po Dewasa: 500 mg; Anak: 15 mg/kg 1 jam sebelum prosedur po Dewasa: 600 mg; Anak: 20 mg/kg IV 30 menit sebelum prosedur Dewasa: 1.0 g; Anak: 25 mg/kg IM atau IV 30 menit sebelum prosedur

Clindamycin or Cefazolin

Jalan Masuk Obat ke Dalam Tubuh Obat dapat masuk ke dalam tubuh dengan berbagai jalan, diantaranya:

1.

Per oral Cara pemberian obat melalui mulut. Untuk cara pemberian obat ini relatif aman, praktis dan ekonomis. Kelemahan dari pemberian obat secara oral adalah efek yang timbul biasanya lambat, tidak efektif jika pengguna sering muntah-muntah, diare, tidak sabar, tidak kooperatif, kurang disukai jika rasanya pahit (rasa jadi tidak enak).

2.

Sublingual Cara pemberian obat ditaruh di bawah lidah. Tujuannya adalah agar efek yang ditimbulkan bisa lebih cepat karena pembuluh darah di bawah lidah merupakan pusat dari sakit. Kelebihan dari cara pemberian obat ini adalah efek obat akan terasa lebih cepat dan kerusakan obat pada saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari.

3.

Inhalasi Cara pemberian obat dengan disemprotkan ke dalam mulut. Kelebihan dari pemberian obat dengan cara inhalasi adalah absorpsi terjadi cepat dan homogen, kadar obat dapat terkontrol, terhindar dari efek lintas pertama dan dapat diberikan langsung kepada bronkus. Untuk obat yang diberikan dengan cara inhalasi ini obat yang dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi akan sangat cepat bergerak melalui alveoli paru-paru serta membran mukosa pada saluran pernapasan.

4.

Rektal Cara pemberian obat melalui dubur atau anus. Maksudnya adalah mempercepat kerja obat serta bersifat lok