refrat rsop repaired)

Download Refrat Rsop Repaired)

Post on 30-Aug-2014

114 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

REFRAT RSOP

FRAKTUR TERBUKA

Oleh: Intannuari Paringga Rizqinia Sheila Marah Yoni Frista Vendarani G0006 G0007147 G0008039

Pembimbing: Iwan Budiwan Anwar, dr., Sp.OT

KEPANITERAAN KLINIK SMF ORTHOPAEDI DAN TRAUMATOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSOP PROF. DR. R. SOEHARSO SURAKARTA

2012

2

HALAMAN PENGESAHAN Refrat ini disusun untuk memenuhi persyaratan kepaniteraan klinik Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Refrat dengan judul:

FRAKTUR TERBUKA

Oleh : Intannuari Paringga Rizqinia Sheila Marah Yoni Frista Vendarani G0006 G0007147 G0008039

Pembimbing

Iwan Budiwan Anwar, dr., Sp.OT

3

BAB I. PENDAHULUAN Salah satu trauma muskuloskeletal yang menyebabkan morbiditas yang tinggi adalah patah tulang panjang terbuka (Bedah UGM, 2009). Epidemiologi masih belum banyak diketahui. Kejadiannya bervariasi dari patah tulang terbuka

di tempat dan institusi yang berbeda, tergantung pada kejadian kecelakaan lalu lintas dan luka tembak. Level satu trauma center biasanya mendapatkan lebih banyak kasus patah tulang terbuka dari pada rumah sakit kecil di daerah terpencil (Court-Brown, McQueen, & Tornetta, 2006). Insidens patah tulang terbuka 4% dari semua kasus patah tulang. Pada penelitian Grecco et al tahun 2002 yang berjudul Epidemiology of Tibial Shaft Fractures di Brazil, mendapatkan dari 179 patah tulang pada tibia, 120-nya merupakan patah tulang terbuka. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Ibeanusi dan Ekere (2007) tentang patah tulang pendidikan Universitas Port Hartcourt, di Nigeria tibia terbuka di rumah sakit

menemukan dari 72 pasien, 70 merupakan patah tulang terbuka.

BAB II ISI A. DEFINISI Fraktur terbuka adalah putusnya kontinuitas jaringan tulang dimana terjadi kerusakan kulit dan jaringan dibawahnya berhubungan langsung dengan dunia luar. Compound fracture merupakan nama lain dari fraktur terbuka namun istilah tersebut sudah tidak digunakan lagi (Koval & Zuckerman, 2006). Cedera jaringan lunak dalam fraktur terbuka mungkin memiliki tiga konsekuensi penting: Kontaminasi dari luka dan patah tulang oleh paparan lingkungan.

4

-

Peremukan, pengelupasan, dan devaskularisasi menyebabkan jaringan lunak rentan terhadap infeksi. Kerusakan atau kehilangan jaringan lunak dapat mempengaruhi metode imobilisasi fraktur, membahayakan kontribusi dari jaringan lunak di atasnya untuk penyembuhan (misalnya, kontribusi sel osteoprogenitor), dan mengakibatkan hilangnya fungsi dari otot, saraf tendon, pembuluh darah , ligamen, atau kerusakan kulit.

B. MEKANISME Fraktur terbuka terjadi karena suatu kekuatan yang keras. Energi kinetik (.5 mv2) didisipasikan oleh jaringan lunak dan struktur tulang (Tabel 3.1) Jumlah tulang yang berpindah dan kominusi dapat menandakan tingkat cedera dan gaya yang diterapkan. Table 3.1. Energy transmitted by injury mechanism Injury Energy (Foot-Pounds) Fall from curb 100 Skiing injury 300500 High-velocity gunshot wound (single missile) 2,000 20-mph bumper injury (assumes bumper strikes fixed 100,000 target) Sumber: Bucholz et al, 2006. C. DERAJAT Tujuan dari sistem klasifikasi patah tulang terbuka manapun adalah untuk mengira keadaan fraktur dan parameter penatalaksanaan (Cross and Swiontkowski, 2008). Walau banyak sistem klasifikasi untuk patah tulang terbuka, sistem klasifikasi Gustillo-Anderson-lah yang paling sering Sistem ini menilai patah tulang terbuka 1990). Hal-hal lain yang juga digunakan di seluruh dunia.

berdasarkan ukuran luka, derajat kerusakan jaringan lunak dan kontaminasi, dan derajat fraktur (Gustillo et al, diperhatikan antara lain adalah ada atau tidaknya kerusakan pada saraf, energy transfer (derajat comminution dan periosteal stripping ), dan wound dimension . Terdapat tiga macam patah tulang terbuka pada sistem5

klasifikasi Gustillo-Anderson, dengan derajat yang ke tiga dalam tiga subtype lagi berdasarkan kerusakan

dibagi

ke

periosteal, Ada

tidaknya kontaminasi dan derajat kerusakan pembuluh darah (Gustillo et al, 1990). Pengklasifikasian patah tulang terbuka menurut Gustillo-Anderson adalah sebagai berikut:1. Derajat

I: Luka biasanya tersebut.

berupa Sedikit dan

tusukan kerusakan berupa

kecil dan jaringan tidak sederhana,

bersih berukuran kurang dari 1 cm. Terdapat tulang yang muncul dari luka kominutif. melintang, energi rendah. Patah lunak tanpa adanya crushing patah tulang

tulang biasanya

atau oblik pendek. Biasanya berupa patah tulang

Gambar 1: Fraktur Terbuka Gustilo-Anderson derajat 1 (http://eorif.com/General/Open%20Fx%20Class.html)2. Derajat II: Luka lebih besar dari 1 cm, tanpa adanya skin flap

ataupun avulsion. Kerusakan pada jaringan lunak tidak begitu banyak. Kominusi dan crushing injury terjadi hanya sedang. Juga terdapat kontaminasi sedang. Bisanya juga berupa patah tulang energi rendah.

6

Gambar 2: Fraktur Terbuka Gustilo-Anderson derajat 2 (http://eorif.com/General/Open%20Fx%20Class.html)3. Derajat III: Terdapat kerusakan yang luas pada kulit, jaringan

lunak, struktur neurovaskuler, dengan adanya kontaminasi pada luka. Dapat juga terjadi kehilangan jaringan lunak. Luka yang berat dengan adanya high-energy lunak. Biasanya fraktur transfer ke tidak tulang dan jaringan banyak segemental disebabkan oleh trauma stabil dan tulang

kecepatan tinggi sehingga komunisi. Amputasi terbuka,

traumatik, patah

luka tembak kecepatan tinggi, patah

tulang terbuka lebih dari 8 jam, patah tulang terbuka yang memerlukan perbaikan vaskuler juga termasuk dalam derajat ini. derajat III ini dibagi lagi menjadi tiga subtype:a.

Derajat ditutupi

IIIA

:

Tulang

yang

patah

dapat

oleh jaringan lunak, atau terdapat penutup

periosteal yang cukup pada tulang yang patah.

Gambar 3: Fraktur Terbuka Gustilo-Anderson derajat 3a (http://eorif.com/General/Open%20Fx%20Class.html)

7

b. Derajat IIIB : Kerusakan atau kehilangan jaringan

lunak yang periosteum yang massif.

luas disertai

dengan

pengelupasan

dan komunisi yang berat dari patahan

tulang tersebut. Tulang terekspos dengan kontaminasi

Gambar 4: Fraktur Terbuka Gustilo-Anderson derajat 3b (http://eorif.com/General/Open%20Fx%20Class.html)c.

Derajat tanpa

IIIC

: Semua

patah

tulang

terbuka

dengan kerusakan vaskuler

yang perlu diberbaiki,

meilhat kerusakan jaringan lunak yang terjadi

(Apley dan Solomon, 2001 dan Gustillo et al, 1990).

Gambar 5: Fraktur Terbuka Gustilo-Anderson derajat 3c (http://eorif.com/General/Open%20Fx%20Class.html) Klasifikasi dilihat ini menjadi sangat penting derajat untuk menentukan jaringan8

terapi. Klasifikasi ini juga menunjukkan resiko dari derajat kontaminasi,

terjadinya infeksi, kerusakan

lunak, semakin

dan tindakan operatif meningkat

pada patah tulang. Resiko

infeksi

seiring dengan derajat yang terjadi. Resiko terbuka ini juga sangat

terjadinya infeksi pada derajat I adalah 0-12%, pada derajat II 2-12%, dan pada derajat III 9-55%. Derajat patah tulang union, Penentuan dilakukan dan kecacatan derajat setelah patah atau erat kaitannya dengan kejadian amputasi, delayed penurunan terbuka adekuat yang tulang union dan nonfungsi ekstermitas. secara telah definitive dilakukan

debridement

(Gustillo et al, 1990). D. TATALAKSANA 1. Evaluasi Klinis

Nilai ABCDE:airway, breathing, circulation, disability, and Lakukan resusitasi dan penanganan cedera yang mengancam Evaluasi cedera dari kepala, thorak, abdomen, pelvis dan Identifikasi semua cedera hingga ekstremitas. Nilai status neurovascular di sepanjang cedera. Nilai kerusakan kulit dan jaringan lunak: eksplorasi luka

exposure. jiwa.

vertebra.

dalam keadaan darurat tidak diindikasikan jika intervensi operatif direncanakan karena risiko kontaminasi lebih lanjut dandapat menimbulkan perdarahan lebih lanjut.

Benda asing yang jelas mudah dibersihkan di ruang gawat darurat dalam kondisi steril. Irigasi luka dengan salin Injeksi steril sendi dengan kemungkinan kontinuitas.9

normal steril dapat

dilakukan untuk

dalamruang gawat darurat jika tindakan bedah ditunda.

salin dapat dilakukan

menentukan jalan keluar dari sisi luka untuk mengevaluasi

Identifikasi cedera tulang; memerlukan pemeriksaan radiografi.

2. Emergency Room Management Table 3.3. Factors that modify open fracture classification regardless of initial skin defect Contamination A. Exposure to soil B. Exposure to water (pools, lakes/streams) C. Exposure to fecal matter (barnyard) D. Exposure to oral flora (bite) E. Gross contamination on inspection F. Delay in treatment >12 hours Signs of high-energy mechanism A. Segmental fracture B. Bone loss C. Compartment syndrome D. Crush mechanismE. Extensive degloving of subcutaneous fat and skin

F. Requires flap coverage (any size defect) From Bucholz RW, Heckman JD, Court-Brown C, et al., eds. Rockwood and Greens Fractures in Adults, 6th ed. Philadelphia: Lippincott Williams &Wilkins, 2006.

After initial trauma survey and resuscitation for life-threatening injuries (see Chapter 2):

Perform a careful clinical and radiographic evaluation as outlined earlier. Wound hemorrhage should be addressed with direct pressure rather than limb tourniquets or blind clamping. Initiate parenteral antibiosis (see later). Assess skin and soft tissue damage; place a saline-soaked sterile dressing on the wound. Perform provisional reduction of fracture and place a splint.

10

Operative inter