refrat radiologi ca nasofaring

Download Refrat Radiologi CA Nasofaring

Post on 24-Apr-2015

40 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

aaaaaa

TRANSCRIPT

Refrat Radiologi Karsinoma Nasofaring & Aspek Radiologis

Disusun oleh: Jannsen Kurniawan (406101003)Pembimbing: Dr. HERMAN W HADIPRODJO, Sp. Rad

Kepaniteraan Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Periode 21 Maret 2011- 22 April 2011 RS Royal Taruma Jakarta

Karsinoma Nasofaring

Jannsen Kurniawan (406101003)

LEMBAR PENGESAHANNama NIM Perguruan Tinggi Fakultas Tingkat Judul Refrat Bagian Periode Kepaniteraan Diajukan Pembimbing : Jannsen Kurniawan : 406101003 : Universitas Tarumanagara : Kedokteran : Program Pendidikan Profesi Dokter : Karsinoma Nasofaring dan Aspek Radiologis : Radiologi : 21 Maret 2011-23 April 2011 : 23 April 2011 : dr. Herman W.H, Sp.Rad

Telah diperiksa dan disetujui tanggal

Mengetahui dan menyetujui Ketua SMF Ilmu Radiologi RS. Royal Taruma Pembimbing

Dr. Herman W.H, Sp.Rad

Dr. Herman W.H, Sp.Rad

KATA PENGANTARKepaniteraan Klinik Ilmu Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Royal Taruma Periode 21 Maret 2011-23 April 2011 2

Karsinoma Nasofaring

Jannsen Kurniawan (406101003)

Puji syukur kepada Tuhan YME atas hikmatNya yang menyertai penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini disusun selain untuk memenuhi tugas dalam menjalankan kepaniteraan dalam bidang Radiologi baik di RS Royal Taruma, tetapi juga dimaksudkan untuk menambah wawasan mengenai aspek radiologis pada wacana medis, dimana dewasa ini pencitraan dignostik semakin berkembang. Bahwasanya hasil usaha penyusunan ini tidak lepas dari bimbingan yang telah diberikan oleh dr. Herman W Hadiprodjo, Sp.Rad , dr. Linda Supardi Sp.Rad, dr. Sophie Utami Sp.Rad dan staff serta semua pihak yang telah mendukung penulis. Akhir kata, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya bila terdapat kesalahan baik dalam segi redaksional maupun interpretasi.

Hormat saya,

Penulis

DAFTAR ISIKepaniteraan Klinik Ilmu Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Royal Taruma Periode 21 Maret 2011-23 April 2011 3

Karsinoma Nasofaring

Jannsen Kurniawan (406101003)

Kata pengantar Daftar isi Bab I. Pendahuluan I.1. Anatomi I.2. Etiologi I.3. Klasifikasi Bab II. Pembahasan II.1 Golongan benigna II.1.1 Angiofibroma juvenile II.1.2 Inverted papiloma II.1.3 Hemangioma nasofaring II.2 Golongan maligna II.2.1 Kanker nasofaring Bab III. Aspek radiologis Bab IV. Kesimpulan Daftar pustaka 14 16 18 18 30 11

1 4 5 6 8 10 11 11

30 33

BAB I PENDAHULUANKepaniteraan Klinik Ilmu Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Royal Taruma Periode 21 Maret 2011-23 April 2011 4

Karsinoma Nasofaring

Jannsen Kurniawan (406101003)

Kasinoma nasopharynx merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di indonesia. Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher merupakan karsinoma nasofaring, kemudian diikuti oleh tumor ganas hidung dan sinus paranasal (18%), laring (16%) dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam presentase rendah. Berdasarkan data laboratorium patologi anatomi, tumor ganas nasopharynx sendiri selalu berada dalam kedudukan lima besar dari tumor ganas tubuh manusia bersama tumor ganas servik uteri, tumor payudara, tumor getah bening dan tumor kulit. Hampir 90% dari karsinoma nasopharynx adalah Squamous cell carcinomas dan 5% adalah melanomas, lymphomas, dan sarcomas. Penggolongan yang paling umum digunakan WHO dan histopathology, yang membagi tumor ini ke dalam tiga jenis: squamous cell carcinoma (type 1), nonkeratinizing carcinoma (type 2), and undifferentiated carcinoma (type 3). presentasi Yang klinis tergantung pada lokalisasi, dengan luka kecil menjadi asymptomatik. Diagnosa dini menentukan prognosis penderita, namun cukup sulit dilakukan, karena nasopharynx tersembunyi dibelakang tabir langit langit dan terletak dibawah dasar tengkorak serta hubungan dengan banyak daerah penting didalam tengkorak dan ke lateral maupun posterior leher. Oleh karena letak nasopharynx tidak mudah diperiksa oleh mereka yang bukan ahli, seringkali tumor ditemukan terlambat dan menyebabkan metastasis ke leher lebih sering ditemukan sebagai gejala pertama.

I.1. AnatomiKepaniteraan Klinik Ilmu Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Royal Taruma Periode 21 Maret 2011-23 April 2011 5

Karsinoma Nasofaring

Jannsen Kurniawan (406101003)

Nasofaring ialah salah satu bagian dari faring. Faring atau tekak, adalah saluran yang terletak antara rongga hidung serta rongga mulut dan kerongkongan. Dari gambar, bisa dilihat bahwa faring itu terbagi atas nasofaring (yang berhubungan dengan hidung atau nasal), orofaring (yang berhubungan dengan mulut atau oral) serta laringofaring (yang berhubungan dengan laring atau pangkal tenggorok).

Ruang nasopharynx yang relatif kecil terdiri dari atau mempunyai hubungan yang erat dengan beberapa struktur yang secara klinis mempunyai arti penting. a. Pada dinding posterior meluas kearah kubah adalah jaringan adenoid. b. Terdapat jaring limfoid pada dinding faringeal lateral dan pada resesus faringeus, yg dikenal sebagai fossa Rosenmuller. c. Torus tubarius refleksi mukosa faringeal diatas bagian kartilogo saluran tuba eustachius yang terbentuk bulat dan menjulang tampak sebagai tonjolan seperti ibu jari kedinding lateral nasofaring tepat diatas perlekatan polatum mole. d. e. Koana posterior rongga hidung Foramina kranial yang terletak berdekatan dan dapat terkena akibat perluasan

dari penyakit nasopharynx , termasuk foramen jugularis yang dilalui oleh saraf kranial glossofaringeus, vagus dan asesorius spinalis.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Royal Taruma Periode 21 Maret 2011-23 April 2011

6

Karsinoma Nasofaring

Jannsen Kurniawan (406101003)

f.

Struktur pembuluh darah yang penting yang terletak berdekatan termasuk sinus

petrosus inferior, vena jugularis interna, cabang meningeal oksipital dan arteri faringeal asenden, dan foramen hipoglosus yang dilalui saraf hipoglosus. g. h. Tulang temporalis bagian petrosa dan foramen laserum yang terletak dekat Ostium dari sinus sinus sfenoid Nasopharynx dapat diperiksa pada satu dari tiga jalan yang ada. Penderita benapas melalui mulut kemudian dilakukan penekanan yang lembut kearah bawah pada sepertiga tengah lidah dangan spatel, kemudian dimasukkan cermin kedalam orofaring. Pemeriksaan ini menggunakan cermin yang kecil, cermin digerakkan memutar dari satu kesisi lainnya untuk melihat keseluruhan nasopharynx, refleksi pada arah atas memberikan gambaran dari torus tubarius pada tiap-tiap sisi, koana posterior rongga hidung, ujung posterior dari konka inferior, dan kubah serta dinding poterior nasofpharynx. Seringkali penderita membutuhkan anastesi topikal untuk menurunkan reflek muntah yang akan menghambat pemberian gambar yang adekuat, muntah akan memberikan gambaran inadekuat nasofaring pada beberapa penderita yang diduga mempunyai masalah yang berhubungan dengan daerah ini jika anastesi topikal sendiri tidak memberikan pemeriksaan yang adekuat, mungkin digunakan kateter kecil melalui kateter kecil melalui rongga hidung, memegangnya di orofaring dan melalui kateter ini langsung kemulut.hal ini memberikan retraksi palatum mole. Tentu saja membutuhkan anastesi pada rongga hidung dan orofaring. Teknik yang lebih baik untuk melihat nasofaring adalah menggunakan nasofaringoskop fleksibel atau nasofaringoskop lurus yang non fleksibel secara langsung melalui hidung ke nasofaring. Dengan tehnik ini tidak hanya memberikan gambaran yang lebih baik tapi juga pembesaran. bagian lateral atap nasofaring.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Royal Taruma Periode 21 Maret 2011-23 April 2011

7

Karsinoma Nasofaring

Jannsen Kurniawan (406101003)

Gambaran Nasofaring dengan Nasofaringskop

I.3. ETIOLOGISudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasopharynx adalah virus epstein-barr, karena pada semua penderita karsinoma nasopharynx didapat titier anti-virus EB yang cukup tinggi. Titier ini lebih tinggi dari titer orang sehat, penderita tumor ganas leher dan kepala lainnya, tumor organ tubuh lainnya, bahkan kelainan nasopharynx yang lain sekalipun. Banyak penyelidik mengenai perangai dari virus ini dikemukakan, tetapi virus ini bukan satu-satunya faktor, karena banyak faktor lain yang sangat mempengaruhi kemungkinan timbul timbulnya tumor ini, seperti letak geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, lingkungan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial, ekonomi, infeksi kuman atau parasit. Tumor ini lebih banyak ditemukan pada laki2 dan apa sebabnya belum dapat diungkapkan dengan pasti, mungkin ada hubungannya dengan faktor genetik, kebiasaan hidup, pekerjaan dan lain lainnya. Faktor lingkungan yang berpengaruh adalah iritasi dari bahan kimia, asap sejenis kayu bakar, kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu, dan kebiasaan makan makanan yang terlalu panas. Terdapat hubunan antara kadar 8 Kepaniteraan Klinik Ilmu Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Rumah Sakit Royal Taruma Periode 21 Maret 2011-23 April 2011

Karsinoma Nasofaring

Jannsen Kurniawan (406101003)

nikel dalam air minum dan makanan dengan mortalitas karsinoma nasopharynx , sedangkan adanya hubungan dengan keganasan lain tidak jelas. Kebiasaan penduduk Eskimo memakan makanan yang diawetkan (daging dan ikan ) terutama pada musim dingin menyebabkan tingginya kejadian karsinoma ini. Tentang faktor genetik telah banyak ditemukan kasus herediter atau familier dari penderita karsinoma nasopharynx dengan keganasan organ tubuh lain. Secara umum didapatkan 10% dari penderita karsinoma nasop