referat cmv js

of 22/22
CYTOMEGALOVIRUS Etiologi 1 Stagno, sergio. Cytomegalovirus. Dalam Behrman RE, et al. Nelson textbook of pediatrics; ed 17. Philadelphia : WB Saunders Company. 2004; 1066- 1069 Human Cytomegalovirus (CMV) adalah anggota dari famili Herpes-viridae dengan penyebaran luas. Sebagian besar infeksi CMV tidak khas, tetapi virus ini dapat menyebabkan berbagai penyakit klinis dari derajat ringan sampai fatal. CMV merupakan penyebab infeksi kongenital yang paling sering, diperkirakan 0,2 – 2,2% janin terinfeksi intrauterin dan juga dapat menyebabkan sindrom Cytomegalic Inclusion Disease (hepatosplenomegali, ptekie, purpura, mikrosefal, demam). Pada orang dewasa yang immunokompeten, infeksi ini kadang ditandai oleh sindrom yang mirip infeksi mononukleosis. Sering terjadi pada individu dengan defisiensi imunologis, termasuk resipien transplantasi dan pasien dengan AIDS, CMV pneumonitis, retinitis, dan penyakit gastrointestinal umum yang dapat berakibat fatal. 1 Infeksi primer muncul pada indiviu yang rentan dan seronegatif. Infeksi ulangan merupakan reaktivasi dari infeksi laten dan reinfeksi pada individu dengan defisiensi imun dan seropositif. Penyakit ini dapat merupakan akibat dari infeksi primer atau infeksi ulang. Infeksi primer lebih sering sebagai penyebab penyakit berat. CMV adalah herpesvirus terbesar, dengan genome sebesar 240 kb dan diameter 200 nm. Berisi DNA untai ganda pada inti 64 nm diselimuti oleh capsid ikosahedral terbentuk dari 162 1

Post on 05-Dec-2014

110 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

CYTOMEGALOVIRUSEtiologi 1 Stagno, sergio. Cytomegalovirus. Dalam Behrman RE, et al. Nelson textbook of pediatrics; ed 17. Philadelphia : WB Saunders Company. 2004; 1066- 1069 Human Cytomegalovirus (CMV) adalah anggota dari famili Herpes-viridae dengan penyebaran luas. Sebagian besar infeksi CMV tidak khas, tetapi virus ini dapat menyebabkan berbagai penyakit klinis dari derajat ringan sampai fatal. CMV merupakan penyebab infeksi kongenital yang paling sering, diperkirakan 0,2 2,2% janin terinfeksi intrauterin dan juga dapat menyebabkan sindrom Cytomegalic Inclusion Disease (hepatosplenomegali, ptekie, purpura, mikrosefal, demam). Pada orang dewasa yang immunokompeten, infeksi ini kadang ditandai oleh sindrom yang mirip infeksi mononukleosis. Sering terjadi pada individu dengan defisiensi imunologis, termasuk resipien transplantasi dan pasien dengan AIDS, CMV pneumonitis, retinitis, dan penyakit gastrointestinal umum yang dapat berakibat fatal.1 Infeksi primer muncul pada indiviu yang rentan dan seronegatif. Infeksi ulangan merupakan reaktivasi dari infeksi laten dan reinfeksi pada individu dengan defisiensi imun dan seropositif. Penyakit ini dapat merupakan akibat dari infeksi primer atau infeksi ulang. Infeksi primer lebih sering sebagai penyebab penyakit berat. CMV adalah herpesvirus terbesar, dengan genome sebesar 240 kb dan diameter 200 nm. Berisi DNA untai ganda pada inti 64 nm diselimuti oleh capsid ikosahedral terbentuk dari 162 capsomer. Inti terbentuk dari nukleussel host. Capsid dikelilingi oleh amorphous tegument, dimana tegumen ini dikelilingi oleh suatu selubung yang berisi lemak. Selubung ini terbentuk selama proses pertunasan melalui membran nuklir ke dalam vakuola sitoplasma, yang berisi komponen protein. Virus dewasa keluar dari sel melalui proses pinocytosis terbalik. Tes serologi tidak dapat mengidentifikasi serotipe yang spesifik. Berbeda dengan analisa restriksi endonuklease dari DNA CMV, ini menunjukkan bahwa meskipun semua ketahanan manusia yang diketahui secara genetis sebangun, tidak ada satupun yang identik. Replikasi CMV dan nukleokapsid dibentuk dalam nukelus, selubung virus terdapat dalam sitoplasma. Setelah lepas dari sel, virus dapat ditemukan dalam urin, dan terkadang dalam cairan tubuh, menyerap 2 mikroglobulin, suatu rantai sederhana dari kelas I

1

molekul antigen lekosit manusia (HLA). Substansi ini melindungi antigen virus dan mencegah netralisasi oleh antibodi, sehingga meningkatkan aktifitasnya. Epidemiologi1 Survei seroepidemologis menggambarkan infeksi CMV pada setiap populasi yang diuji di seluruh dunia. Prevalensi infeksi, yang meningkat sesuai umur penderita, lebih tinggi di negara berkembang dan pada strata ekonomi lemah di negara maju. Kejadian infeksi kongenital berkisar antara 0.2 2.4% dari kelahiran hidup, dengan skala yang lebih tinggi pada negera dengan standar hidup yang lebih rendah. Janin dapat terinfeksi sebagai konsekuensi infeksi primer atau infeksi maternal. Risiko infeksi pada janin adalah yang terbesar dengan infeksi CMV primer maternal (40%) dan jauh lebih rendah dengan infeksi ulang ( 3 bulan. Dosis pemberiannya telah diteliti yaitu, 60 mg/kg/hari dengan didapatkan efek samping tercatat lebih sedikit dibanding dengan dosis 90 120 mg/kg/hari. Infeksi Kongenital Penelitian tahap ke II dengan ganciclovir (12 mg/kg/24 jam untuk total 6 minggu) memperlihatkan peningkatan pendengaran atau stabilisasi pada 5 dari 30 bayi. Penelitian acak dari infeksi CMV kongenital simptomatik menampakkan kemajun. Prognosis Prognosis pada infeksi CMV yang didapat, secara umum baik untuk penderita yang sebelumnya kondisinya baik. Pasien yang berkembang menjadi sindrom Guillain-Barre, sembuh dengan sempurna. Infeksi CMV yang dikarenakan transfusi darah mempunyai prognosis baik pada penderita yang tidak imunokompromais, kecuali pada bayi kecil preterm yang menerima darah dari donor dengan antibodi CMV positif. Pasien dengan CMV mononucleosis biasanya sembuh total, sekalipun beberapa memiliki gejala yang berkepanjangan. Sebagian besar pasien immunokompromais juga sembuh, tetapi dari pengalaman, pasien dengan pneumonitis berat, mempunyai tingkat kefatalan tinggi bila terjadi hipoksemia. Infeksi CMV mungkin merupakan peristiwa akhir pada individu dengan kerentanan terhadap infeksi yang meningkat, seperti pasien dengan AIDS.

11

Infeksi Kongenital Prognosis pada infeksi kongenital CMV sulit diprediksi. Penderita dengan lingkar kepala kurang pada saat lahir atau dengan kalsifikasi serebral pada saat 2 bulan pertama kehidupan biasanya mempunyai retardasi psikomotor sedang sampai berat. Prognosis untuk pertumbuhan normal pada penyakit cytomegalo simptomatik sangat kecil. Lebih dari 90% dari anak-anak ini menunjukkan adanya kerusakan fungsi saraf sentral dan pendengaran pada tahun-tahun sesudahnya. Pada bayi dengan infeksi subklinis, penampakan lebih baik. Yang perlu diperhatikan adalah perkembangan berikutnya dari kehilangan pendengaran sensorineural (5 10%), chorioretinitis (3 5%), dan manifestasi lain seperti abnormalitas perkembangan, mikrosefal, dan defisit neurologi. Pencegahan Penggunaan komponen darah bebas CMV, terutama untuk bayi prematur, dan bila mungkin, pemanfaatan organ dari donor bebas CMV untuk transplantasi yang merupakan hal penting untuk mencegah infeksi CMV dan pada pasien resiko tinggi. Wanita hamil dengan seropositif mempunyai resiko rendah melahirkan bayi simptomatik. Jika mungkin, wanita hamil harus melakukan tes serologi CMV. Mereka yang CMV seronegatif, harus diberitahu untuk mencuci tangan dengan baik dan menjaga kebersihan lainnya dan mencegah kontak dengan sekresi oral dengan orang lain. Vaksinasi tidak dapat diharapkan dapat memberikan pencegahan yang lebih baik dibanding infeksi alamiah sebelumnya, dimana dapat mencegah infeksi kongenital. a. Imunoprofilaksis Pasif Pemanfaatan IVIG dan CMV IVIG untuk profilaksis terhadap infeksi, pada penderita dengan transplantasi tulang belakang dan organ padat mengurangi resiko gejala penyakit tetapi tidak melindungi dari infeksi. Manfaat dari profilaksis lebih nyata pada saat resiko mendapat infeksi CMV primer besar, seperti pada transplantasi tulang belakang. Regimen yang direkomendasikan IVIG (1000 mg/kg) atau CMV IVIG (500 mg/kg) diberikan intravena sebagai dosis tunggal dimulai dari 72 jam setelah transplantasi dan sekali seminggu sampai hari ke 90 120 setelah operasi.

12

b. Imunisasi Aktif Keuntungan imunisasi sifatnya substansial, seperti terlihat bahwa hampir semua penyakit berat mengikuti infeksi primer, terutama pada infeksi kongenital, infeksi yang didapat dari transfusi, dan infeksi pada penerima transplantasi. Kelompok yang perlu mendapat vaksin CMV termasuk wanita seronegatif pada usia subur dan penerima transplantasi seronegatif. Vaksin hidup seperti prototipe rantai Towne sifatnya imunogenik, tetapi imuniotas berkurang cepat. Virus vaksin tidak tampak transmissible. Vaksin tidak melindungi penerima transplantasi ginjal dari infeksi CMV, tetapi terlihat bisa mengurangi virulensi dari infeksi primer. Dalam penelitian tentang efikasi vaksin pada wanita dewasa normal, vaksin rantai Towne tidak memberi proteksi terhadap infeksi alami. Tipe vaksin lainnya, seperti vaksin subunit dan rekombinan, sedang diteliti pada percobaan klinik. 000oooooo000

13

KEPUSTAKA 1. Stagno S. Cytomegalovirus. Dalam Behrman RE, et al. Nelson textbook of pediatrics; ed 17. Philadelphia : WB Saunders Company. 2004; 1066- 1069. 2. Boppana, Suresh B. et al. Neuroradiographic findings in the newborn period and long term outcome in children with symptomatic Congenital Cytomegalovirus infection. Pediatrics. 1997; 409- 414. 3. URL:file:///F:/Cytomegalovirus%20(CMV)%20Infection.htm. (2002) 4. Boppana, Suresh B. et al. Intrauterine transmission of cytomegalovirus to infants of women with preconceptional immunity. N Engl J Med, 2001;344: 1366- 1371.5.

URL:file://F:\emedicine%20-%20Cytomegalovirus%20Infection%20%20Article %20by%20Ma.. (2004)

6. Pickering, Larry K. Red book: 2003 Report of the Committee on Infectious Disease; ed 26. American Academy of Pediatrics. 2003; 259- 262. 7. Stagno S. Cytomegalovirus. Dalam Remington Jack S. et al. Infectious diseases of the fetus & newborn infant; ed 4. WB Saunders Company. 1995; 312- 346.

14