referat anemia defisiensi besi

Download Referat Anemia Defisiensi Besi

Post on 05-Aug-2015

382 views

Category:

Documents

9 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

TUGAS REFERAT BLOK SISTEM REPRODUKSI ANEMIA PADA IBU HAMIL

Pembimbing: dr. Catharina Widiartini, M.Med.Ed. Kelompok 3 : Nur Astuti Harahap Riza Revina Nur Fitri Margaretna Ratih Paringgit Rinda Puspita A. Atep Lutpia Pahlepi Elisabeth Serafiyani Rizka Dana Prastiwi Provita Rahmawati M Keliobas Andhita Chairunnisa G1A010004 G1A010012 G1A010017 G1A010023 G1A010033 G1A010069 G1A010079 G1A010080 G1A010082 G1A009137 G1A008115

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN PURWOKERTO 2012

LEMBAR PENGESAHAN

Oleh : Kelompok 3

Nur Astuti Harahap Riza Revina Nur Fitri Margaretna Ratih Paringgit Rinda Puspita A. Atep Lutpia Pahlepi Elisabeth Serafiyani Rizka Dana Prastiwi Provita Rahmawati M Keliobas Andhita Chairunnisa

G1A010004 G1A010012 G1A010017 G1A010023 G1A010033 G1A010069 G1A010079 G1A010080 G1A010082 G1A009137 G1A008115

Disusun untuk memenuhi persyaratan tugas kelompok referat Blok Sistem Reproduksi Jurusan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

diterima dan disahkan Purwokerto, Oktober 2012 Dosen Pembimbing

dr. Catharina Widiartini, M.Med.Ed.

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb Puji syukur diucapkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karuniaNya lah sehingga kami dapat menyelesaikan tugas dalam bentuk referat berjudul Anemia pada Ibu Hamil ini dengan tepat waktu. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan dr. Chatarina Widhiartini, M.Med.Ed. selaku pembimbing kami yang telah bersedia membimbing dalam proses penyusunan referat ini, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi teratasi. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. Fakultas kedokteran Unsoed khususnya blok istem Reproduksi yang telah memberikan tugas, petunjuk, kepada penulis sehingga penulis termotivasi dan menyelesaikan tugas ini. 2. dr. Chatarina Widhiartini, M.Med.Ed yang turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai. Anemia pada ibu hamil, merupakan referat yang telah kami susun secara sistematis. Di dalam referat ini, terdapat beberapa bab yang akan menjelaskan tentang judul tersebut diatas. Pembahasan yang ada telah berdasarkan referensi yang di percaya, sehingga dapat memudahkan pembaca untuk memahami isi referat. Adapun tujuan dari penyusunan referat ini adalah untuk memenuhi tugas di blok Sistem Reproduksi dan agar mahasiswa dapat memahami lebih mendalam tentang anemia pada ibu hamil. Dalam penyusunan referat ini masih terdapat beberapa kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik sangat dibutuhkan untuk perbaikan referat kelompok kami. Terimakasih. Wassalamualaikum wr.wb

Purwokerto, Oktober 2012 Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

Masa kehamilan merupakan masa dimana tubuh sangat membutuhkan asupan makan yang maksimal baik untuk jasmani maupun rohani (selalu rileks dan tidak stress). Di masa-masa ini pula, wanita hamil sangat rentan terhadap menurunnya kemampuan tubuh untuk bekerja secara maksimal. Dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr % terutama pada trimester I dan trimester ke III. Kadar Hb yang normal untuk wanita hamil trimester akhir minimal 10,5 g/dL. Jika kurang, disebut anemia. Pada wanita tidak hamil, kadar normal Hb adalah 1216 g/dL. Penyakit terjadi akibat rendahnya kandungan hemoglobin dalam tubuh semasa mengandung. Anemia ini secara sederhana dapat kita artikan dengan kurangnya sel-sel darah merah di dalam darah daripada biasanya (Varney, 2006). Total simpanan besi tubuh pada perempuan tidak hamil adalah 2,2 g dan jumlah ini meningkat 3,2 g pada ibu hamil. Sekitar 500-600 mg di antaranya digunakan untuk membentuk sel darah merah, dan 300 mg di antaranya digunakan oleh janin. Selama kehamilan, jumlah plasma ibu meningkat sampai 50% (sekitar 1000 cc). Jumlah sel darah juga meningkat, tapi hanya 25% dan baru timbul pada kehamilan akhir. Hal inilah yang menyebabkan kadar hemoglobin merosot (Mansjoer dkk, 2008). Anema dalam kehamilan dapat dibagi sebagai berikut: anemia defisiensi besi, anemia megaloblastik, anemia hipoplastik, dan anemia hemolitik. Anemia defisiensi besi merupakan anemia yang paling sering dijumpai dalam kehamilan. Kekurangan zat gizi yang satu ini merupakan penyebab 75% kasus anemia dalam kehamilan. Angka kejadiannya pada trimester pertama hanya 3-9%, dan meningkat 16-55% pada trimester ketiga. Biasanya anemia jenis ini terjadi pada ibu yang mengalami mual dan muntah yang berlebihan atau memiliki penyakit kronik (Varney, 2006). World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa 35-75%

perempuan pada negara berkembang dan 18% perempuan pada negara maju mengalami anemia dalam masa kehamilan (WHO, 2001).

Diketahui bahwa 10% - 20% ibu hamil di dunia menderita anemia pada masa kehamilannya. Di dunia 34 % terjadi anemia pada ibu hamil dimana 75 % berada di negara berkembang. Prevalensi anemia pada ibu hamil di Negara berkembang 43 % dan 12 % pada wanita hamil di daerah kaya atau negara maju. Di Indonesia prevalensi anemia kehamilan relatif tinggi, yaitu 38% -71.5% dengan rata-rata 63,5%, sedangkan di Amerika Serikat hanya 6%. Di Indonesia khususnya, salah satu sasaran yang ditetapkan pada Indonesia Sehat 2010 adalah menurunkan angka kematian maternal menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian neonatal menjadi n16 per 1000 kelahiran hidup. Seperti yang sudah diulas sekilas diatas, masalah utama yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia adalah tingginya prevalensi anemia ibu hamil yaitu 50,9% dan sebagian besar penyebabnya adalah kekurangan zat besi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin (Sarwono, 2002). Anemia yang terjadi pada ibu hamil yang tidak segera ditangani dapat menimbulkan berbagai komplikasi, karena itulah kejadian ini harus selalu diwaspadai. Anemia yang terjadi saat ibu hamil Trimester I akan dapat mengakibatkan abortus, missed abortus dan kelainan kongenital. Anemia pada kehamilan trimester II dapat menyebabkan persalinan prematur, perdarahan antepartum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrauterin sampai kematian, BBLR, gestosis dan mudah terkena infeksi, IQ rendah dan bahkan kematian. Saat inpartu, anemia dapat menimbulkan gangguan his, baik primer maupun sekunder, janin akan lahir dengan anemia, dan persalinan dengan tindakan yang disebabkan karena ibu cepat lelah. Saat post partum anemia dapat menyebabkan tonia uteri, tensio placenta, perlukaan sukar sembuh, mudah terjadi febris puerpuralis dan gangguan involusio uteri (Sohimah, 2006). Anemia akibat defisiensi besi perlu dibedakan dengan anemia akibat perubahan fisiologis. Caranya adalah dengan memeriksakan kadar simpanan besi yaitu ferritin dan kadar besi dalam darah yaitu serum iron. Kadar serum iron dan ferritin yang rendah jelas menggambarkan keadaan defisiensi besi. Namun terkadang, defisiensi besi belum sampai menyebabkan simpanan besi tubuh berkurang sehingga yang terlihat dalam pemeriksaan adalah kadar serum iron

yang turun. Jika pasien minum suplementasi besi beberapa hari sebelum pemeriksaan pun, kadar serum iron dapat terlihat normal. Gejala yang umum timbul adalah berdebar-debar, pucat, bernafas lebih cepat, cepat lelah, dan sakit kepala, rasa lemah, letih, pusing, kurang nafsu makan, menurunnya kebugaran tubuh dan gangguan penyembuhan luka. Diagnosis Anemia pada ibu hamil biasanya ditegaskan dan dapat diketahui melalui pemeriksaan darah atau kadar hemoglobin (Hb) Selain terapi obat penanganannya dapat dilakukan dengan terapi diet. Untuk memenuhi asupan zat besi, tingkatkan konsumsi bahan makanan tinggi zat besi (Fe) misalnya makanan hewani, kacang-kacangan, dan sayuran berwarna hijau tua. Defisiensi besi bukan satu-satunya penyebab anemia, tetapi apabila prevalensi anemia tinggi, defisiensi besi biasanya dianggap sebagai penyebab yang paling dominan. Pertimbangan itu membuat suplementasi tablet besi folat selama ini dianggap sebagai salah satu cara yang sangat bermanfaat dalam mengatasi masalah anemia. Anemia dapat diatasi dengan meminum tablet besi atau Tablet Tambah Darah (TTD). Kepada ibu hamil umumnya diberikan sebanyak satu tablet setiap hari berturut-turut selama 90 hari selama masa kehamilan. TTD mengandung 200 mg ferrosulfat, setara dengan 60 miligram besi elemental dan 0.25 mg asam folat. Pada beberapa orang, pemberian preparat besi ini mempunyai efek samping seperti mual, nyeri lambung, muntah, kadang diare, dan sulit buang air besar. Agar tidak terjadi efek samping dianjurkan minum tablet setelah makan pada malam hari. (Wasnidar, 2007)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanda dan Gejala Klinis Manifestasi klinis dari anemia defisiensi besi sangat bervariasi, bisa hampir tanpa gejala, bisa juga gejala-gejala penyakit dasarnya yang menonjol, ataupun bisa ditemukan gejala anemia bersama-sama dengan gejala penyakit dasarnya. Gejala-gejala dapat berupa kepala pusing, palpitasi, berkunangkunang, perubahan jaringan epitel kuku, gangguan sistem neurumuskular, lesu, lemah, lelah, disphagia dan pembesaran kelenjar limpa. (Wintrobe, 2005). Berkurangnya hemoglobin menyebabkan gejala-gejala urnum

sepertikeletihan, palpitasi, pucat, tinitus, dan mata berkunang-kunang disamping itu jugadijurnpai gejala tambahan yang diduga disebabkan oleh kekurangan enzim sitokrom,sitikrom C oksidase dan hemeritin dalam jaringan-jaringan, yang bersifat khasseperti pusing kepala, parastesia, ujung jari dingin, atropi papil lidah. Pada umumnya sudah disepakati bahwa bila kadar hemoglobin < 7 gr/dl maka gejala-gejala dan tanda-tanda anemia akan jelas (Wintrobe, 2005). B. Patogenesis Anemia adalah berkurangnya kadar hemoglobin (Hb) dalam darah. Hb adalah komponen di dalam sel darah merah (eritrosit) yang berfungsi menyalurka