refarat asma anak

Download Refarat Asma Anak

Post on 15-Dec-2015

46 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

REFERAT

Diagnosis dan Tatalaksana Terkini dan Komplikasi Asma pada Anak

DISUSUN OLEH :Brian Pasa Nababan 1061050080PEMBIMBING:dr. Leopold Simanjuntak, Sp.AKEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK

PERIODE 27 Juli - 03 Oktober 2015FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIAJAKARTA2015KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih Nya saya dapat menyelesaikan penyusunan referat ini yang berjudul Diagnosis dan Tatalaksana Terkini dan Komplikasi Asma pada Anak. Referat ini kami susun untuk melengkapi tugas Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dokter-dokter di bagian Ilmu Kesehatan Anak yang telah membimbing dan membantu kami dalam melaksanakan kepaniteraan dan dalam menyusun referat ini.

Kami menyadari masih banyak kekurangan baik pada isi maupun format referat ini. Oleh karena itu, segala kritik dan saran kami terima dengan tangan terbuka guna melengkapi dan menyempurnakan referat ini.

Akhir kata kami berharap referat ini dapat berguna bagi rekan-rekan serta semua pihak yang ingin mengetahui tentang Diagnosis dan Tatalaksana Terkini dan Komplikasi Asma pada Anak.

Jakarta, 8 Agustus 2015

Brian Pasa NababanDAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................... 2

Daftar Isi ..................................................................................................................... 3

Bab IPENDAHULUAN..................................................................................................... 4

Bab IITINJAUAN PUSTAKA................................................................................... 5II.1 Definisi Asma................................................................................................... 5II.2Etiologi Asma................................................................................................... 5II.3Patofisiologi serangan asma............................................................................. 7II.4Klasifikasi Asma ............................................................................................. 9II.5 Diagnosis Asma............................................................................................... 14II.6 Diagnosa banding asma................................................................................... 15II. 7 Penatalaksanaan asma..............................................................................................16II.8 Komplikasi asma............................................................................................. 28II.9Prognosis Asma........................................................................................... 28Bab III PENUTUP ..................................................................................................... 29III.1Kesimpulan ..................................................................................................... 29Daftar Pustaka BAB IPENDAHULUANI.1 Latar belakang

Asma merupakan penyakit respiratorik kronis yang paling sering dijumpai pada anak. Prevalensi asma meningkat dari waktu ke waktu baik di negara maju maupun negara

sedang berkembang. Peningkatan tersebut diduga berkaitan dengan pola hidup yang berubah dan peran faktor lingkungan terutama polusi baik indoor maupun outdoor. Prevalensi

asma pada anak berkisar antara 2-30%. Di Indonesia prevalensi asma pada anak sekitar 10% pada usia sekolah dasar, dan sekitar 6,5% pada usia sekolah menengah pertama. Berkembangnya patogenesis tersebut berdampak pada tatalaksana asma secara mendasar, sehingga berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi asma. Pada awalnya pengobatan hanya diarahkan untuk mengatasi bronkokonstriksi dengan pemberian bronkodilator, kemudian berkembang dengan anti inflamasi. Pada saat ini upaya pengobatan asma selain dengan antiinflamasi, juga harus dapat mencegah terjadinya remodelling. Selain upaya mencari tatalaksana asma yang terbaik, beberapa ahli membuat suatu pedoman tatalaksana asma yang bertujuan sebagai standar penanganan asma, misalnya Global Initiative for Asthma (GINA) dan Konsensus Internasional. Pedoman di atas belum tentu dapat dipakai secara utuh mengingat beberapa fasilitas yang dianjurkan belum tentu tersedia, sehingga dianjurkan untuk membuat suatu pedoman yang disesuaikan dengan kondisi masingmasing negara. Di Indonesia Unit Kerja Koordinasi (UKK) Pulmonologi dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah membuat suatu Pedoman Nasional Asma Anak (PNAA). Tatalaksana asma dibagi menjadi 2 kelompok yaitu tatalaksana pada saat serangan asma (eksaserbasi akut) atau aspek akut dan tatalaksana jangka panjang (aspek kronis). Pada asma episodik sering dan asma persisten, selain penanganan pada saat serangan, diperlukan obat pengendali (controller) yang diberikan sebagai pencegahan terhadap serangan asma. Oleh karena itu pengertian yang lebih baik tentang peran faktor genetik, sensitisasi dini oleh alergen dan polutan, infeksi virus, serta masalah lingkungan sosioekonomi dan psikologi anak dengan asma diharapkan dapat membawa perbaikan dalam penatalaksanaan asma.

BAB IITINJAUAN PUSTAKAII.1 DEFINISI

Menurut GINA (Global Initiative For Asthma) 2002, batasan asma menggambarkan konsep inflamasi sebagai dasar mekanismenya. Asma didefinisikan sebagai gangguan inflamasi kronik saluran nafas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel eosinofil dan limfosit T. Pada orang yang rentan inflamasi ini menyebabkan episode mengi berulang, sesak nafas, rasa dada tertekan dan batuk, terutama pada malam atau dini hari. Gejala ini biasanya berhubungan dengan penyempitan jalan nafas yang luas namun bervariasi, biasanya bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan.Konsensus Nasional tahun 2000 menggunakan batasan bahwa asma adalah mengi berulang dan / atau batuk persisten dengan karakteristik; timbul secara episodik, cenderung malam / dini hari (nokturnal), musiman, setelah aktifitas fisik, serta adanya riwayat asma atau atopi pada pasien / keluarganya.

II.2 ETIOLOGIPenyebab asma masih belum jelas. Diduga yang memegang peranan utama adalah reaksi yang berlebihan dari trakea dan bronkus (hiperreaktivitas bronkus). Hiperreaktivitas bronkus ini belum diketahui dengan jelas penyebabnya. Namun diduga karena adanya hambatan sebagian sistem adrenergic-beta, kurangnya enzim adenil siklase dan meningginya tonus system parasimpatis. Keadaan demikian cenderung meningkatkan tonus parasimpatis bila ada rangsangan sehingga terjadi spasme bronkus. Asma merupakan gangguan kompleks yang melibatkan banyak faktor yang turut menentukan derajat reaktivitas atau iritabilitas tersebut, karena itu asma disebut penyakit multifaktorial.Faktor-faktor yang erat hubungannya dalam proses terjadinya manifestasi asma adalah:

1. Faktor Genetik

2. Allergen

Allergen Hirup ( inhalan )

Debu rumah, tungau debu rumah

Bulu binatang

Kapuk dan wol

Allergen makanan (ingestan)

3 tahun (buah, coklat, kacang, ikan laut)

3. Bahan Iritan

Bau cat, hair spray, parfum, bahan bahan kimia, asap rokok.

Polusi udara

Udara dingin

Air dingin

4. Perubahan Cuaca

Perubahan cuaca sering dihubungkan sebagai pencetus asma, tetapi mekanisme dari efek ini belum dapat diketahui.

5. Infeksi

Infeksi virus

Infeksi jamur

Infeksi bakteri

Infeksi parasit

6. Latihan Jasmani

Lari dan naik sepeda

7. Faktor Emosi

Faktor emosi dapat mengakibatkan peninggian aktifitas parasimpatis, baik perifer maupun sentral, sehingga terjadi peningkatan aktifitas kolinergik yang mengakibatkan eksaserbasi asma. Faktor emosi dapat bersumber dari masalah antara kedua orangtua dengan anak atau masalah dengan teman atau guru disekolah.

8. Refluks Gastroesofagus

Iritasi trakeobronkial karena isi lambung dapat memberatkan asma pada anak dan orang dewasa.

9. Rinitis allergi, Sinusitis, dan Infeksi Saluran Pernafasan Atas

II.3 PATOFISIOLOGI SERANGAN ASMAKejadian utama pada serangan asma akut adalah obstruksi jalan napas secara luas yang merupakan kombinasi dari spasme otot polos bronkus, edema mukosa karena inflamasi saluran napas, dan sumbatan mukus. Sumbatan yang terjadi tidak seragam / merata di seluruh paru. Atelektasis segmentasi atau subsegmentalis dapat terjadi. Sumbatan jalan napas menyebabkan peningkatan tahanan jalan napas, terperangkapnya udara, dan distensi paru berlebihan. Perubahan tahanan jalan napas yang tidak merata di seluruh jaringan bronkus, menyebabkan tidak padu padannya ventilasi dengan perfusi.Hiperinflasi paru menyebabkan penurunan compliance paru, sehingga terjadi peningkatan kerja napas. Peningkatan tekanan intrapulmonal yang diperlukan untuk ekspirasi melalui saluran napas yang menyempit, dapat makin mempersempit atau menyebabkan penutupan dini saluran napas, sehingga meningkatkan resiko terjadinya pneumotoraks. Peningkatan tekanan intratorakal mungkin mempengaruhi arus balik vena dan mengurangi curah jantung yang bermanifestasi sebagai pulsus paradoksus.Ventilasi perfusi yang tidak padu padan, hipoventilasi alveolar, dan peningkatan kerja napas menyebabkan perubahan dalam gas darah. Pada awal serangan, untuk mengkompensasi hipoksia terjadi hiperventilasi sehingga kadar PaCO2 akan turun dan dijumpai alkalosis respiratorik. Selanjutnya pada obstruksi jalan napas yang berat, akan terjadi kelelahan otot napas dan hipoventilasi alveolar yang berakibat terjadinya hiperkapnia dan asidosis respiratorik. Karena itu jika dijumpai kadar PaCO2 yang cenderung naik walau nilainya masih dalam rentang normal, harus diwaspadai sebagai