puisi-puisi agraria revisi - filedemikianlah, puisi-puisi dalam buku ini lahir dari keterdesakan....

Click here to load reader

Post on 13-May-2019

285 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

ANTOLOGI PUISIAGRARIA

INDONESIA

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

Lingkup Hak CiptaPasal 21. Hak cipta merupakan hak ekslusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak

ciptaannya yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketentuan PidanaPasal 721. Barang siapa tanpa sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau

pasal 49 ayat (1) dan (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5 000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

ANTOLOGI PUISIAGRARIA

INDONESIA

Surya Saluang (Ed)

Epilog: Abdul Hadi, W.M.

STPN Press Bekerjasama dengan

Sajogyo Institute

ANTOLOGI PUISI AGRARIA INDONESIA

Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, 2010Hak cipta dilindungi undang-undang

Cetakan pertama, Desember 2010ISBN:

Editor: Surya SaluangCover: DanyTata Isi: Ahmady Averoez

Penerbit:STPN Press bekerjasama denganSajogyo Institute

Sekolah Tinggi Pertanahan NasionalJL. Tata Bhumi no. 5Yogyakarta Telp. (0274) 587239

Sajogyo InstituteJl. Malabar no. 22Bogor, 16151Telp/fax. (0251) 8374048

vKata Pengantar

Kata Pengantar Ketua STPN

vi Antologi Puisi Agraria Indonesia

viiKata Pengantar

Pengantar Editor

Cukup sulit sebenarnya untuk menentukan, bagaimana puisi-puisi di dalam buku ini disusun. Sedari awal, kami tidak menetapkan suatu kriteria tertentu dengan ketat, puisi-puisi seperti apa misalnya yang akan dimuat. Puisi di dalam buku ini juga bukan puisi biasa. Disini, puisi yang kami sebut biasa adalah puisi yang sepenuhnya lahir dari kegiatan kreatif secara bebas. Sementara puisi-puisi yang terkumpul dalam antologi ini, lahir dari situasi yang justru bertolak belakang dengan kebebasan. Apa lantas kami menyebut ini sebagai puisi luar biasa?

Puisi dianggap rumit dan berat bagi sebagian kita. Puisi juga bagi sebagian lainnya dianggap luar biasa, tidak umum dan sunyi. Tapi tak jarang pula kita justru menulis puisi setelah melewati pengalaman yang rumit dan berat pula hingga terantuk sunyi. Dalam kesunyian, puisi kemudian menjadi lebih mudah dimasuki. Jadi, mengapa pilihannya pada puisi? Mungkin sama halnya dengan menanyakan, mengapa dalam situasi yang sulit seseorang malah menulis puisi.

Demikianlah, puisi-puisi dalam buku ini lahir dari keterdesakan. Situasi agraria yang sunyi dari keadilan, sunyi dari kesetaraan, sunyi dari kesejahteraan rakyat desa, sunyi dari keberpihakan pada

viii Antologi Puisi Agraria Indonesia

petani, dan seterusnya. Berpuluh-puluh, ratusan, ribuan buku dan berbagai laporan penelitian mengatakan hal yang sama, ada persoalan dengan kenyataan agraria kita. Namun semuanya juga berujung pada sunyi yang lainnya, buku-buku dan berbagai laporan penelitian yang hanya tertata rapi di atas rak berdebu. Keadaan tak semakin membaik. Puisi-puisi dalam buku ini kemudian mencoba membuka jalan dalam sunyi.

Penulis-penulis dalam buku ini beragam, mulai dari anak SD hingga orang-orang dewasa. Semuanya adalah pelaku dari berbagai kerumitan agraria di negeri ini. Mungkin itulah kelebihan bahasa puisi, semua umur bisa setara dalam ungkapan. Anda tentu bisa menelusuri sendiri dalam buku ini. Karya-karya yang merekam situasi agraria dari beberapa tempat, Ujung Kulon, Tasikmalaya, Garut, Cilacap, Kulon Progo, Gorontalo, Makassar, Sapeken, dan Madura. Masih banyak tempat lain dengan kekhasan persoalan agrarianya masing-masing yang belum berhasil dirangkum dalam usaha ini. Berbagai keterbatasan masih meliputi penyusunan antologi ini. Terlepas dari itu, setidaknya usaha kecil ini bisa memberi cermin yang lain pula, ketika puisi mulai bicara.

Setelah mempelajari semua puisi yang ada, kami menangkap adanya beberapa kesamaan minat dan pengalaman agraria di dalam berbagai karya ini. Sekiranya jika bisa kami sebut sebagai pengalaman kolektif agraria. Pengalaman bersama, meliputi- yang kami istilahkan, Tanah-tanah basah, Tanah-tanah kerontang, Tanah-tanah urban, dan Tanah-tanah lengang. Ada empat penandaan, basah, kerontang, urban dan lengang. Kiranya itulah tematik utama dari diksi-diksi yang terkumpul dalam buku ini, menandai tematik situasi agraria di sekitar kita. Persisnya bagaimana penandaan itu terhubung, semua kita tentu bebas mendeteksi dengan modus pembacaan beserta pengalaman sendiri pula. Sebagai pengalaman bersama, kami kembalikan juga pada sidang pembaca untuk

ixKata Pengantar

merangkai buku ini agar hadir ke dalam sistem penandaan yang lebih luas. Selamat menikmati sajian sederhana ini!

Surya Saluang

xiDaftar Isi

Daftar Isi

Kata Pengantar Ketua STPN .............................................. vPengantar Editor ................................................................ viiDaftar Isi ............................................................................ xi

Tanah-tanah basahJalan yang Kupilih ....................................................... 2Pasir Bak Emas ............................................................ 3Sore Mulai Tiba ........................................................... 4Bumi Pertiwi ............................................................... 5Rangkaian Kata Sederhana: Pak Awa Belender ..................................................... 6

Tanah-tanah kerontangBerita Buruk Buat Penguasa ........................................ 10Surat pada Penguasa .................................................... 11Akupun Bisa Beri Janji ................................................ 12Di Sanalah Bersama Keluargaku Tak Berdaya .............. 13Hak Yang Terampas ..................................................... 14Jeritan Anak Petani ...................................................... 15Ratapan Anak Sekolah ................................................. 16Desaku ........................................................................ 17

xii Antologi Puisi Agraria Indonesia

Arti Hadirmu .............................................................. 18Butanya Mataku .......................................................... 19Pengorbanan Seorang Petani ........................................ 20Rintihan Petani ........................................................... 21Penderitaan ................................................................. 22Realita Hidup Orang Desa .......................................... 23Untukmu Petani .......................................................... 24Raih Keadilan Petani ................................................... 26Seruan Petualang ......................................................... 27Suara dari Gunung ...................................................... 28Syair Pesisir ................................................................. 29Pejuang Pesisir ............................................................. 30Pejuang Sejati .............................................................. 31Perjuangan Ayah .......................................................... 32Semangat Perjuangan .................................................. 33Aktivis Tua .................................................................. 34Suara Hati Nuraniku ................................................... 35Makan Malam Bersama Ayah:Munir! ........................................................................ 37Sembilu-Nya ............................................................... 38Tiga Kuli dalam Satu Puisi .......................................... 39Lewat Puisi Aku .......................................................... 40

Tanah-tanah urbanNgungsi ...................................................................... 42Cilacap ( 1 ) ................................................................ 43Maafkan Aku Bumi ..................................................... 44Kota Ini-Cilacap ....................................................................... 45Pengemis dan Keindahan Kota .................................... 46Risalah Pedagang Pisang ............................................. 47

xiiiDaftar Isi

Tukang Kebun ............................................................. 48Musnahlah Sudah Harapanku ..................................... 49Pesan Seorang Ibu kepada Anaknya Sebelum Anaknya Pergi ke Pusat Perbelanjaan Terbesar di Kota itu .......... 50Wajah Pribumi ............................................................ 52Reklame Satu Musim .................................................. 53Sumur Tepi Tubuhku................................................... 54Rekayasa Tubuh Berdaun Plastik ................................. 55Tanahku Rp. 6.000,- ................................................... 56Bor .............................................................................. 57Di Kota Mati Rumahku .............................................. 58

Tanah-tanah lengangHati Ini Ibarat Tanah ................................................... 60Pisuhan Anak Perahu .................................................. 61Titip Rindu Untuk Kebebasan .................................... 63Sketsa .............