puisi karya emha ainun najib

Click here to load reader

Post on 24-Oct-2015

113 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Kumpulan Puisi

TRANSCRIPT

Kumpulan Puisi Karya Emha Ainun Najib (Bagian 1) Jumat, 07 Januari 2011 ANTARA TIGA KOTA Oleh : Emha Ainun Najib

di yogya aku lelap tertidur angin di sisiku mendengkur seluruh kota pun bagai dalam kubur pohon-pohon semua mengantuk di sini kamu harus belajar berlatih tetap hidup sambil mengantuk

kemanakah harus kuhadapkan muka agar seimbang antara tidur dan jaga ?

Jakrta menghardik nasibku melecut menghantam pundakku tiada ruang bagi diamku matahari memelototiku bising suaranya mencampakkanku jatuh bergelut debu

kemanakah harus juhadapkan muka agar seimbang antara tidur dan jaga

surabaya seperti ditengahnya tak tidur seperti kerbau tua tak juga membelalakkan mata tetapi di sana ada kasihku yang hilang kembangnya jika aku mendekatinya

kemanakah haru kuhadapkan muka agar seimbang antara tidur dan jaga ? Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO,1997

BEGITU ENGKAU BERSUJUD Oleh : Emha Ainun Najib

Begitu engakau bersujud, terbangunlah ruang yang kau tempati itu menjadi sebuah masjid Setiap kali engkau bersujud, setiap kali pula telah engkau dirikan masjid Wahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjid telah kau bengun selama hidupmu? Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmu meninggi, menembus langit, memasuki alam makrifat

Setiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketika bernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujud Setiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepada ridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaan Setiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkan ke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyang Dan setiap tetes air yang kau taburkan untuk cinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suara adzan

Kalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjid Kalau engkau bawa matamu memandang yang dipandang Allah, engkaulah kiblat Kalau engkau pandang telingamu mendengar yang didengar Allah, engkaulah tilawah suci Dan kalau derakkan hatimu mencintai yang dicintai Allah, engkaulah ayatullah

Ilmu pengetahuan bersujud, pekerjaanmu bersujud, karirmu bersujud, rumah tanggamu bersujud, sepi dan ramaimu bersujud, duka deritamu bersujud menjadilah engkau masjid 1987DARI BENTANGAN LANGIT Oleh : Emha Ainun Najib

Dari bentangan langit yang semu Ia, kemarau itu, datang kepadamu Tumbuh perlahan. Berhembus amat panjang Menyapu lautan. Mengekal tanah berbongkahan menyapu hutan ! Mengekal tanah berbongkahan ! datang kepadamu, Ia, kemarau itu dari Tuhan, yang senantia diam dari tangan-Nya. Dari Tangan yang dingin dan tak menyapa yang senyap. Yang tak menoleh barang sekejap. Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO,1997

DITANYAKAN KEPADANYA Oleh : Emha Ainun Najib

Ditanyakan kepadanya siapakah pencuri Jawabnya: ialah pisang yang berbuah mangga Tak demikian Allah menata Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapakah penumpuk harta Jawabnya: ialah matahari yang tak bercahaya Tak demikian sunnatullah berkata Maka cerdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapakah pemalas Jawabnya: bumi yang memperlambat waktu edarnya Menjadi kacaulah sistem alam semesta Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya sapakah penindas Jawabnya: ialah gunung berapi masuk kota Dilanggarnya tradisi alam dan manusia Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapa pemanja kebebasan Ialah burung terbang tinggi menuju matahari Burung Allah tak sedia bunuh diri Maka berdusta ia

Ditanyakn kepadanya siapa orang lalai Ialah siang yang tak bergilir ke malam hari Sedangkan Allah sedemikian rupa mengelola Maka berdusta ia

Ditanyakan kepadanya siapa orang ingkar Ialah air yang mengalir ke angkasa Padahal telah ditetapkan hukum alam benda Maka berdusta ia

Kemudian siapakah penguasa yang tak memimpin Ialah benalu raksasa yang memenuhi ladang Orang wajib menebangnya Agar tak berdusta ia

Kemudian siapakah orang lemah perjuangan Ialah api yang tak membakar keringnya dedaunan Orang harus menggertak jiwanya Agar tak berdusta ia Kemudian siapakah pedagang penyihir Ialah kijang kencana berlari di atas air Orang harus meninggalkannya Agar tak berdusta ia

Adapun siapakah budak kepentingan pribadi Ialah babi yang meminum air kencingnya sendiri Orang harus melemparkan batu ke tengkuknya Agar tak berdusta ia

Dan akhirnya siapakah orang tak paham cinta Ialah burung yang tertidur di kubangan kerbau Nyanyikan puisi di telinganya Agar tak berdusta ia 1988

DOA SEHELAI DAUN KERING

Janganku suaraku, ya 'Aziz Sedangkan firmanMupun diabaikan Jangankan ucapanku, ya Qawiy Sedangkan ayatMupun disepelekan Jangankan cintaku, ya Dzul Quwwah Sedangkan kasih sayangMupun dibuang Jangankan sapaanku, ya Matin Sedangkan solusi tawaranMupun diremehkan Betapa naifnya harapanku untuk diterima oleh mereka Sedangkan jasa penciptaanMupun dihapus Betapa lucunya dambaanku untuk didengarkan oleh mereka Sedangkan kitabMu diingkari oleh seribu peradaban Betapa tidak wajar aku merasa berhak untuk mereka hormati Sedangkan rahman rahimMu diingat hanya sangat sesekali Betapa tak masuk akal keinginanku untuk tak mereka sakiti Sedangkan kekasihMu Muhammad dilempar batu Sedangkan IbrahimMu dibakar Sedangkan YunusMu dicampakkan ke laut Sedangkan NuhMu dibiarkan kesepian Akan tetapi wahai Qadir Muqtadir

Wahai Jabbar Mutakabbir Engkau Maha Agung dan aku kerdil Engkau Maha Dahsyat dan aku picisan Engkau Maha Kuat dan aku lemah Engkau Maha Kaya dan aku papa Engkau Maha Suci dan aku kumuh Engkau Maha Tinggi dan aku rendah serendah-rendahnya Akan tetapi wahai Qahir wahai Qahhar Rasul kekasihMu mashum dan aku bergelimang hawa Nabi utusanmu terpelihara sedangkan aku terjerembab-jerembab Wahai Mannan wahai Karim Wahai Fattah wahai Halim Aku setitik debu namun bersujud kepadaMu Aku sehelai daun kering namun bertasbih kepadaMu Aku budak yang kesepian namun yakin pada kasih sayang dan pembelaan-Mu

Emha Ainun Nadjib Jakarta 11 Pebruari 1999

IKRAR Oleh : Emha Ainun Najib

Di dalam sinar-Mu Segala soal dan wajah dunia Tak menyebabkan apa-apa Aku sendirilah yang menggerakkan laku Atas nama-Mu Kuambil siakp, total dan tuntas maka getaranku Adalah getaran-Mu lenyap segala dimensi baik dan buruk, kuat dan lemah Keutuhan yang ada Terpelihara dalam pasrah dan setia

Menangis dalam tertawa Bersedih dalam gembira Atau sebaliknya tak ada kekaguman, kebanggaan, segala belenggu Mulus dalam nilai satu

Kesadaran yang lebih tinggi Mengatasi pikiran dan emosi menetaplah, berbahagialah Demi para tetangga tetapi di dalam kamu kosong Ialah wujud yang tak terucapkan, tak tertuliskan

Kugenggam kamu Kau genggam aku Jangan sentuh apapun Yang menyebabkan noda Untuk tidak melepaskan, menggenggam lainnya Berangkat ulang jengkal pertama Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO,1997

KETIKA ENGKAU BERSEMBAHYANG Oleh : Emha Ainun Najib

Ketika engkau bersembahyang Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan Partikel udara dan ruang hampa bergetar Bersama-sama mengucapkan allahu akbar

Bacaan Al-Fatihah dan surah Membuat kegelapan terbuka matanya Setiap doa dan pernyataan pasrah Membentangkan jembatan cahaya

Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri Kemudian mim sujudmu menangis Di dalam cinta Allah hati gerimis

Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup Ilmu dan peradaban takkan sampai Kepada asal mula setiap jiwa kembali

Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

Sembahyang di atas sajadah cahaya Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun

Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang Dadamu mencakrawala, seluas 'arasy sembilan puluh sembilan 1987

ANTARA TIGA KOTA BEGITU ENGKAU BERSUJUD DARI BENTANGAN LANGIT DITANYAKAN KEPADANYA DOA SEHELAI DAUN KERING IKRAR KETIKA ENGKAU BERSEMBAHYANG KITA MASUKI PASAR RIBA KUDEKAP KUSAYANG-SAYANG MEMECAH MENGUTUHKAN SEPENGGAL PUISI CAK NUN SERIBU MASJID SATU JUMLAHNYA TAHAJJUD CINTAKU~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

ANTARA TIGA KOTAOleh :Emha Ainun Najibdi yogya aku lelap tertidurangin di sisiku mendengkurseluruh kota pun bagai dalam kuburpohon-pohon semua mengantukdi sini kamu harus belajar berlatihtetap hidup sambil mengantukkemanakah harus kuhadapkan mukaagar seimbang antara tidur dan jaga ?Jakrta menghardik nasibkumelecut menghantam pundakkutiada ruang bagi diamkumatahari memelototikubising suaranya mencampakkankujatuh bergelut debukemanakah harus juhadapkan mukaagar seimbang antara tidur dan jagasurabaya seperti ditengahnyatak tidur seperti kerbau tuatak juga membelalakkan matatetapi di sana ada kasihkuyang hilang kembangnyajika aku mendekatinyakemanakah haru kuhadapkan mukaagar seimbang antara tidur dan jaga ?Antologi Puisi XIV Penyair Yogya, MALIOBORO,1997

BEGITU ENGKAU BERSUJUDOleh :Emha Ainun NajibBegitu engakau bersujud, terbangunlah ruangyang kau tempati itu menjadi sebuah masjidSetiap kali engkau bersujud, setiap kalipula telah engkau dirikan masjidWahai, betapa menakjubkan, berapa ribu masjidtelah kau bengun selama hidupmu?Tak terbilang jumlahnya, menara masjidmumeninggi, menembus langit, memasukialam makrifatSetiap gedung, rumah, bilik atau tanah, seketikabernama masjid, begitu engkau tempati untuk bersujudSetiap lembar rupiah yang kau sodorkan kepadaridha Tuhan, menjelma jadi sajadah kemuliaanSetiap butir beras yang kau tanak dan kau tuangkanke piring ke-ilahi-an, menjadi se-rakaat sembahyangDan setiap tetes air yang kau taburkan untukcinta kasih ke-Tuhan-an, lahir menjadi kumandang suaraadzanKalau engkau bawa badanmu bersujud, engkaulah masjidKalau engkau

View more