prof. dr. h. abdul manan, sh.,sip.,m.hum. - ms-aceh.go.id paling ideal.pdf · yang sesuai dengan...

Download Prof. Dr. H. ABDUL MANAN, SH.,SIP.,M.Hum. - ms-aceh.go.id PALING IDEAL.pdf · Yang sesuai dengan ...…

Post on 13-Jun-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Oleh :Oleh :

Prof. Dr. H. ABDUL MANAN, SH.,SIP.,M.Hum.Prof. Dr. H. ABDUL MANAN, SH.,SIP.,M.Hum.

MENCARI HAKIM MENCARI HAKIM

PENGADILAN AGAMA YANG IDEAL PENGADILAN AGAMA YANG IDEAL

1

2

Oleh :Oleh :Prof. Dr. H. ABDUL MANAN, SH.,SIP.,M.Hum.Prof. Dr. H. ABDUL MANAN, SH.,SIP.,M.Hum.

I. KONDISI HAKIM PENGADILAN AGAMA

1. Rendah diri

2. Terikat Mazhab

3. Banyak tuntutan

4. Kurang membaca

5. Kurang pergaulan

MENCARI HAKIM MENCARI HAKIM PENGADILAN AGAMA YANG IDEALPENGADILAN AGAMA YANG IDEAL

II. TUGAS DAN PERANAN HAKIM

1. Hakim sebagai Penegak Keadilan

- Lihat surat An Nisa ayat

- Pasal 4 (1) UU No. 4 Tahun 2004, Peradilan dilakukan demi keadilan

berdasarkan Ke Tuhanan Yang Maha Esa

- Keppres No. 17 Tahun 1994 tentang Repelita ke 16 bidang Hukum,

Hakim dalam mengambil keputusan di samping senantiasa harus

berdasarkan pada hukum yang berlaku, juga berdasarkan atas

keyakinan yang seadil-adilnya dan sejujur-jujurnya

- Harus memakai hati nurani

- Azas legalitas sebagai pegangan utama

- Hakim tidak boleh terikat pada bunyi UU semata, tapi harus mempu

menciptakan hukum melalui putusan-putusannya.

- Tidak saja menjaga ketertiban, melainkan juga berfungsi sebagai

pengawas UU dan juga berfungsi sebagai paedagogis terhadap

pihak-pihak yang bersengketa, termasuk masyarakatnya.

3

2. Hakim sebagai Penegak Hukum

3. Hakim sebagai Pencipta Hukum

- Menjamin peraturan perundang-undangan diterapkan dengan benar dan

adil

- Sebagai dinamisator peraturan perundang-undangan dengan cara

menggunakan metode penafsiran dan kontruksi dan berbagai

pertimbangan sosio kultural berkewajiban menghidupkan peraturan

perundang-undangan untuk memenuhi kebutuhan nyata masyarakat.

- Melakukan koreksi terhadap kemungkinan kekeliruan atau kekosongan

hukum, Hakim wajib menemukan Hukum dan menciptakan hukum untuk

mengisi hukum tersebut.

- Melakukan penghalusan terhadap peraturan perundang-undangan, tanpa

penghalusan peraturan-peraturan perundang-undangan begitu keras

sehingga tidak mewujudkan keadilan atau tinjauan tertentu terwajar.

III. PENEMUAN HUKUM OLEH HAKIMIII. PENEMUAN HUKUM OLEH HAKIM

1. Perlunya Penemuan Hukum

- Kekosongan Hukum (Leemten in Het recht)

- Konflik antar norma Hukum (Antinomi Hukum)

- Norma Hukum yang kabur (voge normen)

(norma yang tidak jelas)

2. Antinomi Hukum dapat diselesaikan dengan asas

- Lex posteriori derogat legi priori

(UU yang kemudian yang di pakai)

- Lex Specialis derogat legi generalie

- Lex superiori derogat legi inferiori

(yang lebih tinggi yang dipakai)

4

PROSEDUR PENERAPAN HUKUM

Peristiwa yang diajukan

dalam gugatan Penggugat

Penemuan Hukum

Peristiwa konkrit yang

harus dikonstair Peraturan yang cocok

dengan peristiwa konkrit

PUTUSAN

Peristiwa konkrit Peristiwa Peristiwa

yang dibuktikan konkret Hukum

Peristiwa yang diajukan

dalam jawaban Tergugat

5

PROSEDUR PENEMUAN HUKUMPROSEDUR PENEMUAN HUKUM

11

2.2.

3.3.

4.4.

5.5.

6.6.

7.7.

8.8.

6

Peristiwa dikonstatasi

Beri terjemahan yuridis

sementara dari peristiwa

dalam kasus (kualifikasi)

Seleksi peraturan-peraturan

Berdasarkan hasil dari 3

tentukan syarat-syarat yang

sesuai dengan terjemahan 2

Apakah

Persyaratan

4 dipenuhi

Dalam 1

Terapkan peraturan hukum

dari 9 pada peristiwa dan

tentukan akibatnya

Apakah

akibat dari 6

dapat

diterima

Rumusan putusan

Interpretasi

- Gramatikal

- Historis

- Submatis

- Teologis/sosiologis

- Koperatif

- Fitristik

- Pestristif

METODE - Ekstentif

PENEMUAN HUKUM - Authentik

- Indisipliner

- Multi indisipliner

Metode Kontruksi

- Argumentasi peranalogian (analogi) (Psl 1576

KUHPerdata) jual beli tidak untuk sewa menyewa

- Argumentum a contrario

- Penyempitan Hukum (Rechtverfijning)

- Fiksi Hukum

Metode Hermanitik

7

8

3. Syarat utama melakukan Kontruksi

Menurut Rudolph Von Jhering syarat untuk melakukan konstruksi

hukum:

- Melipui materi hukum positif

Kontruksi Hukum disini harus mampu meliput semua bidang hukum positif yang bersangkutan

- Tidak boleh membantah dirinya sendiri didalam pembuatan kontruksi, tidak boleh ada pertentangan logis didalamnya

- Faktor Estetika

Kontruksi kiranya mengandung faktor keindahan yaitu kontruksi tidak merupakan sesuatu yang dibuat-buat. Dengan kontruksi diharapkan dalam belantara perundang-undangan itu muncul kejelasan-kejelasan

Tidak semata-mata bersifat legalistik

(La Bouche De La Loi)

Tidak sekedar memenuhi syarat formal

hukum, putusan hakim harus mendorong

kebaikan dan harmonisasi dalam

pergaulan masyarakat

Putusan Hakim

Yang sesuai dengan

Metode Penemuan Harus mempunyai visi pemikiran kedepan

Hakim (Visioner) yang mempunyai kebaranian

melakukan terobosan hukum

Harus Peka terhadap nasib dan keadaan

bangsa dan negaranya terutama rakyat

pencari keadilan 9

10

IV. NORMA LUHUR YANG ESSENSIAL MENJADI PEGANGAN

BAGI HAKIM

1. Norma Kemanusiaan

Norma ini menuntut supaya dalam penegakan hukum, manusia

senantiasa diperlakukan sebagai manusia, sebab ia mewakili

keluhuran pribadi.

2. Norma Keadilan

Adalah kehendak yang ajeg dan kekal untuk memberikan kepada

orang lain apa saja yang menjadi haknya.

3. Norma Kepatutan

Equity adalah hal yang wajib dipelihara dalam memberlakukan UU

dengan maksud untuk menghilangkan ketajamannya, kepatutan ini

perlu diperhatiakan terutama dalam pergaulan hidup manusia

4. Norma kejujuran