produksi pisang

Download produksi pisang

Post on 20-Jul-2015

1.241 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Pisang

I. PENDAHULUANIndonesia merupakan salah satu sentra primer keragaman pisang, baik pisang segar, olahan dan pisang liar. Lebih dari 200 jenis pisang terdapat di Indonesia. Tingginya keragaman ini, memberikan peluang pada Indonesia untuk dapat memanfaatkan dan memilih jenis pisang komersial yang dibutuhkan oleh konsumen. Pisang adalah salah satu komoditas buah unggulan Indonesia. Luas panen dan produksi pisang selalu menempati posisi pertama. Pada tahun 2002 produksinya mencapai 4.384.384 ton (BPS, 2003) dengan nilai ekonomi sebesar Rp 6,5 triliun. Produksi tersebut sebagian besar dipanen dari pertanaman kebun rakyat seluas 269.000 ha. Disamping untuk konsumsi segar beberapa kultivar pisang di Indonesia juga dimanfaatkan sebagai bahan baku industri olahan pisang misalnya industri kripik, sale dan tepung pisang. Perkembangan kebun rakyat dan industri olahan di daerah sentra produksi, dapat memberikan peluang baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap perluasan kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Pisang banyak mengandung vitamin dan mineral esensial yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Bahkan di beberapa daerah di Papua pisang merupakan subsitusi makanan pokok, seperti di beberapa negara di Afrika.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Pisang

II. KONDISI SAAT INIA. Usaha Pertanian Primer Sentra produksi pisang di Indonesia tersebar di 16 propinsi, 70 kabupaten. Selama periode 1995 sampai 2002 luas panen pisang berfluktuasi, namun pada tahun 2003-2004 cenderung meningkat (FAOSTAT, 2005). Produktivitas pisang juga berfluktuasi antara 11,6 ton/ha (1997) sampai 16,3 ton/ha (2002). Sedangkan produksi sejak tahun 1996 sampai 2003 meningkat. Enam belas daerah sentra produksi pisang di Indonesia berdasarkan produksi dari tahun 1999 sampai 2003 disajikan pada Tabel 1. Penanaman umumnya dilakukan menjelang musim hujan. Pada tahun 1993 usaha tani pisang dilaksanakan oleh sekitar 21.482.000 rumah tangga tani. Budidaya tanaman pada umumnya belum menerapkan inovasi teknologi secara optimal, karena sebagian besar pertanaman pisang merupakan usaha pekarangan skala kecil (0,5-5 ha) dengan inputs produksi dan distribusi minimal. Oleh karena itu mutu dan produktivitasnya masih rendah. Disamping itu kehilangan hasil pra panen dan pasca panen masih cukup tinggi.Tabel 1. Produksi buah pisang di enam belas propinsi di IndonesiaNo 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Sumatera Selatan Lampung Riau Jawa Timur Jawa Barat Jawa Tengah Banten Bali Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Selatan Maluku Utara 1999 32.274 55.064 87.437 77.661 74.820 41.136 649.842 1.333.879 440.283 62.903 28.958 18.994 18.332 143.072 2000 28.076 52.132 60.015 69.457 142.153 37.827 706.266 1.435.103 508.801 60.381 46.055 22.706 24.247 145.999 Produksi (ton) 2001 2002 26.491 27.833 60.235 93.467 64.099 46.389 79.108 95.687 142.470 184.554 37.697 31.243 700.836 731.230 1.431.941 1.473.460 522.261 503.841 208.854 229.511 90.094 124.253 119.687 55.711 29.409 42.445 27.945 42.905 119.884 165.036 3.119 28.163 2003 88.682 118.808 32244 95.048 319.081 56.673 873.616 1.068.875 455.031 179.616 102.157 94.155 76.059 58.325 98.973 125.532

Sumber: Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

2

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Pisang

Rata-rata produksi dan produktivitas pisang selama periode 1999 sampai 2003 masing-masing sekitar 4 juta ton dan 13,98 ton/ha (Tabel 2). Berdasarkan total produksi, pisang menduduki tempat pertama dibandingkan dengan total produksi mangga (1,5 juta ton), jeruk (1,5 juta ton), durian (741 ribu ton), dan manggis (79 ribu ton). Dari rata-rata produksi nasional pisang, sekitar 63% berasal dari pulau Jawa, Sumatera 18%, Kalimantan 6%, Sulawesi 6%, Bali dan Nusa Tenggara 8%.Tabel 2. Luas panen, produksi dan produktivitas pisang Indonesia Tahun 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Luas Panen (ha) 280.242 245.769 263.686 258.441 269.778 265.000 277.000 269.000 308.500 300.000 Produksi (ton) 3.805.431 3.023.485 3.057.080 3.176.750 3.375.851 3.746.962 4.300.422 4.384.384 4.311.959 4.400.000 Produktivitas (ton/ha) 13,58 12,30 11,60 12,29 12,51 14,14 15,53 16,30 13,98 14,67

Sumber: FAOSTAT, 2005

B. Usaha Agribisnis Hulu Secara umum penggunaan alat-alat/mesin pertanian dalam usahatani pisang dimulai dari persiapan lahan sampai pengolahan. Namun demikian, operasional penggunaan alat dan mesin tersebut untuk usahatani pisang skala rakyat masih sangat mahal dan hanya bisa dilakukan oleh perusahaan perkebunan besar. Untuk pengolahan tanah melibatkan mesin traktor untuk menyingkal dan meratakan tanah. Selanjutnya kegiatan yang melibatkan alat dan mesin adalah pengolahan hasil untuk produksi tepung, puree atau jam berskala besar. Sedangkan untuk skala rakyat alat yang digunakan adalah mesin pemotong buah untuk kripik pisang berkapasitas kecil.

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Pisang

Sebagian besar kebun rakyat masih menggunakan benih anakan atau belahan bonggol yang diusahakan sendiri oleh petani. Benih kultur jaringan umumnya diadakan untuk memenuhi permintaan program pengembangan perluasan tanam dari pemerintah atau pembukaan kebun oleh pihak swasta. Pada saat ini produsen benih pisang kultur jaringan antara lain: Tekno Agro, DAFA, Tamora, Mariwati, Pusat Penelitian Kakao dan Kopi Jember. C. Usaha Agribisnis Hilir Di Indonesia panen pisang tidak mengenal musiman, karena curah hujan tersebar merata sepanjang tahun. Dengan demikian produksi pisang dapat diatur secara rinci sepanjang tahun sesuai kebutuhan. Hal ini sangat menguntungkan dan berdaya saing terutama untuk tujuan usaha pascapanen buah pisang segar yang melibatkan berbagai tahapan operasional antara lain: panen (kriteria, waktu dan cara pemanenan), pengangkutan ke bangsal pengemasan, operasi bangsal pengemasan (pemotongan sisir, pencucian, perlakuan fungisida, pengeringan, pengemasan), transportasi kemasan pisang dan pemuatan ke kontainer berpendingin (cool storage) yang kemudian dimuat ke kapal, kereta api atau truk. Untuk tujuan ekspor dalam sarana transpor pada kegiatan distribusi hendaknya menggunakan rantai dingin. D. Pasar dan Harga Di pasar domestik harga jual pisang sangat bervariasi tergantung tempat, varietas dan musim. Sebagai contoh di Pasar Induk Kramajati harga Pisang Ambon berkisar Rp 4.200-5.800/kg. Sementara itu di pasar Senduro, Jawa Timur, harga pisang Tanduk pada saat normal berkisar Rp 8.00010.000 per tandan yang berisi 1-3 sisir, sedangkan pada saat lebaran mencapai Rp. 15.000-20.000 per tandan. Di Nusa Tenggara Barat harga pisang pada hari-hari biasa berkisar antara Rp. 1.500-5.000 per sisir, sedangkan pada saat hari Raya Galungan mencapai Rp. 2.500-Rp. 7.500 per sisir. Di lain pihak, akibat masih kurangnya sarana transportasi dari pusat produksi pisang ke pasar, menyebabkan harga pisang merosot. Hal ini terjadi di Kutai Timur, Kalimantan Timur, pada saat panen raya harga pisang hanya Rp. 700900 per sisir di tingkat petani. Sedangkan untuk dijual ke pasar Surabaya, Jawa Timur memerlukan biaya transportasi yang cukup mahal, akibatnya banyak buah pisang dibiarkan membusuk setelah dipanen

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Pisang

ataupun yang masih di pohon. Permasalahan ini sebetulnya dapat diatasi dengan mengembangkan industri pengolahan pisang di daerah sentra produksi pisang. Sebagai contoh industri getuk pisang yang berkembang pesat di Kediri, Jawa Timur. Harga getuk pisang di tingkat produsen dijual rata-rata Rp. 1.000 per bungkus, pada tahun 2002. Sementara itu di Jawa Barat telah berkembang industri pisang sale yang berasal dari pisang Ambon. Harga pisang sale dari produsen rata-rata Rp. 6.000 per bungkus (0,5 kg), pada tahun 2004. Dari 100 kg buah pisang dapat dihasilkan 70 bungkus pisang sale. Di pasar internasional volume ekspor pisang segar Indonesia pada periode 1995 sampai 1999 mencapai 70.000 100.000 ton per tahun. Volume ekspor tertinggi dicapai pada tahun 1996 dengan nilai sekitar US $ 18.166.141. Namun selanjutnya ekspor pisang Indonesia menurun dan pada tahun 2003 hanya sebesar 27 ton (US $ 8.000) (Tabel 3.). Volume impor pisang Indonesia tertinggi terjadi pada tahun 1999 yaitu 371 ton dengan nilai US $ 265 ribu, kemudian menurun sampai dengan tahun 2001 hanya sebesar 7 ton (US $ 15 ribu), dan pada tahun 2003 telah mencapai 464 ton (US $ 215.000). Peningkatan volume impor ini disebabkan tumbuhnya pasar ritel berupa supermarket, hypermarket dan toko buah yang menuntut mutu buah yang lebih baik. Jenis pisang yang diimpor adalah kelompok Cavendish dan ke depan kemungkinan besar akan masuk juga cultivar Usr kolontol dan Karat yang mengandung -carotene tinggi berasal dari Micronesia.Tabel 3. Perkembangan ekspor dan impor pisang Indonesia tahun 1996-2003 Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Ekspor Volume (ton) Nilai (US $) 101.495 18.166.141 71.028 13.224.000 77.473 14.074.000 76.087 11.102.000 2.105 412.805 262 49.839 5.126 979.730 27 8.000 Impor Volume (ton) Nilai (US $) 46 67.000 22 40.000 16 19.000 371 265.000 13 31.000 7 15.000 60 48.000 464 215.000

Sumber: FAOSTAT (2004)

Disamping itu Indonesia juga mengekspor produk olahan pisang meskipun volume dan nilainya masih kecil. Negara tujuan ekspor adalah

PDF created with pdfFactory Pro trial version www.pdffactory.com

Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis Pisang

Jepang, Singapura, Malaysia, Saudi Arabia, Afrika Selatan, Australia, Amerika Serikat dan Belanda. Negara eks