presus tonsilitis

Download Presus Tonsilitis

Post on 31-Dec-2015

16 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tht

TRANSCRIPT

PRESENTASI KASUS TONSILITIS KRONIS

Oleh:

Laras Puspa Nirmala

G1A212034Khuriyatun Nadhifah

G1A212035BAGIAN ANESTESI DAN REANIMASI

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU ILMU KESEHATAN

JURUSAN KEDOKTERAN

PURWOKERTO2012

LEMBAR PENGESAHANTelah dipresentasikan dan disetujui Presentasi Kasus yang berjudul

Tonsilitis KronisDiajukan untuk memenuhi syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik

di bagian SMF Anestesiologi

RSUD Prof. Margono Soekardjo Purwokerto

Disusun Oleh :

Laras Puspa Nirmala

G1A212034Khuriyatun Nadhifah

G1A212035Purwokerto, Desember 2012

Mengetahui

Pembimbing

dr. Tendi Novara, Sp. An.BAB I

PENDAHULUANA. Latar BelakangTonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincinWaldeyer. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam ronggamulut yaitu: tonsil laringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsila faucial), tonsila lingual (tonsilapangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring/ Gerlachs tonsil).Peradangan pada tonsila palatine biasanya meluas ke adenoid dan tonsil lingual. Penyebaraninfeksi terjadi melalui udara (air borne droplets), tangan dan ciuman. Dapat terjadi padasemua umur, terutama pada anak. Rusmarjono 2007, udayan 2011)Pembedahan yang dilakukan pada penderita tumor tiroid dilakukan dengan teknik anestesi umum. Hal tersebut sesuai dengan indikasi dari anestesi umum yaitu pembedahan yang lama, dewasa yang memilih anestesi umum serta operasi besar (Latief et al., 2002).

Teknik pembedahan yang dilakukan pada penderita tumor tiroid dapat menimbulkan beberapa komplikasi. Hipoparatiroid, kerusakan nervus laringeus rekurens, serta hipotiroid akibat tiroidektomi sub total merupakan komplikasi yang dapat terjadi post pembedahan. Pasien dengan keadaan komplikasi seperti yang sudah disebutkan diatas membutuhkan suatu pemantauan yang lebih intensif dan adekuat, sehingga pasien biasanya dimasukkan ke dalam perawatan intensif ( Morganet al., 2006). B. Tujuan penulisan

Mengetahui teknik general anestesi pada pasien Tonsilitis Kronis.BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Persiapan Pra AnestesiKunjungan pra anestesi pada pasien yang akan menjalani operasi dan pembedahan baik elektif dan darurat mutlak harus dilakukan untuk keberhasilan tindakan tersebut. Adapun tujuan pra anestesi adalah:1. Mempersiapkan mental dan fisik secara optimal.

2. Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai dengan fisik dan kehendak pasien.

3. Menentukan status fisik dengan klasifikasi ASA ( American Society Anesthesiology):

a. ASA I: Pasien normal sehat, kelainan bedah terlokalisir, tanpa kelainan faali, biokimiawi, dan psikiatris. Angka mortalitas 2%.

b. ASA II: Pasien dengan gangguan sistemik ringan sampai dengan sedang sebagai akibat kelainan bedah atau proses patofisiologis. Angka mortalitas 16%.

c. ASA III: Pasien dengan gangguan sistemik berat sehingga aktivitas harian terbatas. Angka mortalitas 38%.

d. ASA IV: Pasien dengan gangguan sistemik berat yang mengancam jiwa, tidak selalu sembuh dengan operasi. Misalnya insufisiensi fungsi organ, angina menetap. Angka mortalitas 68%.

e. ASA V: Pasien dengan kemungkinan hidup kecil. Tindakan operasi hampir tak ada harapan. Tidak diharapkan hidup dalam 24 jam tanpa operasi / dengan operasi. Angka mortalitas 98%. Untuk operasi cito, ASA ditambah huruf E (Emergency) tanda darurat .

f. ASA VI : Pasien yang telah dinyatakan mati batang otak dan organ tubuhnya akan digunakan untuk donor organ.

B. Kerja Hormon Tiroid

Kerja hormon tiroid memerlukan tirosin dan iodium, keduanya harus diserap dari darah oleh sel folikel. Tirosin suatu asam amino yang disintesis dalam jumlah memadai oleh tubuh, bukan merupakan kebutuhan esensial dalam makanan. Sedangkan iodium harus diperoleh dari makanan. Tirosin menyatu ke dalam molekul tiroglobulin sewaktu molekul besar diproduksi. Setelah diproduksi, tiroglobulin yang mengandung tirosin dikeluarkan dari sel folikel ke dalam koloid melalui eksositosis. Iodium yang masuk melalui makanan kemudian diserap oleh usus dalam bentuk iodida dan masuk ke dalam aliran darah. Tiroid kemudian menangkap iodida dari darah dan memindahkan ke koloid melalui pompa iodium yang sangat aktif atau iodine-trapping mechanism. Di dalam koloid iodida dengan cepat melekat ke sebuah tirosin di dalam molekul tiroglobulin. Pelekatan sebuah iodida ke tirosin menghasilkan monoiodotirosin (MIT) dan pelekatan dua iodium ke tirosin menghasilkan diiodotirosin (DIT). Kemudian terjadi penggabungan antara molekul-molekul tirosin beriodium untuk membentuk hormon tiroid. Penggabungan dua DIT menghasilkan tetraiodotironin (T4). Penggabungan satu MIT dengan satu DIT akan menghasilkan triiodotironin. (Sherwood, 2001).

C. Tanda-tanda Hipertiroid dan Hipotiroid1. Tanda-tanda Hipertiroida) Gugup dan mudah tersinggung.b) Peningkatan denyut jantung (takikardia).c) Tidak tahan panas dan keluhan berkeringat terutama di daerah perifer.d) Tremor.e) Berat badan menurun tetapi nafsu makan meningkat

f) Sering buang air besar.

g) Terdapat benjolan di leher.h) Tipis, kulit halus dan tidak teratur kuku dan pertumbuhan rambut

i) Menstruasi gangguan.

j) Gangguan tidur, termasuk insomnia.

k) Perubahan dalam penglihatan, mata iritasi atau eksoftalmus, yang merupakan penonjolan mata yang biasanya terjadi dengan penyakit Graves. 2. Tanda-tanda Hipotiroida) Mudah lelah dan lesu.b) Peningkatan sensitivitas terhadap dingin.c) Sembelit.d) Kulit pucat dan kering.e) Wajah bengkak.f) Perubahan suara menjadi serak.g) Berat badan tidak terkontrol.h) Nyeri otot dan kekakuan atau pembengkakan di sendi.i) Kelemahan otot.D. Fungsi Hormon TiroidFungsi Hormon Tiroid adalah :

a. Mengatur laju metabolisme tubuh.

b. Pertumbuhan saraf dan tulang.

c. Mempertahankan sekresi GH dan Gonadotropin.

d. Menambah kekuatan kontraksi otot jantung.

e. Merangsang pembentukan sel darah merah.

f. Mempengaruhi kekuatan dan ritme pernapasan sebagai kompensasi tubuh terhadap kebutuhan metabolisme.

g. Bereaksi sebagai antagonis insulin. Tirokalsitonin mempunyai jaringan sasaran tulang dengan menurunkan kadar kalsium serum dengan mengabsorpsi kalsium di tulang.

E. Tumor Tiroida. Definisi

Tumor tiroid merupakan pembesaran tiroid baik secara menyeluruh maupun sebagian. Tumor tiroid adalah suatu nodul yang teraba pada pemeriksaan kelenjar tiroid. Tumor tiroid adalah pembesaran kelenjar tiroid yang secara klinis teraba nodul, satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme (Hartini,2006). Penderita tumor umumnya tenang,tidak merasa sakit dan tidak sesak nafas (Sjamsuhidayat dan Jong, 2006).Pada beberapa penderita tumor tiroid, di dalam kelenjar tiroidnya timbul kelainan pada sistem enzim yang dibutuhkan untuk pembentukan hormon tiroid, diantaranya adalah :

1. Defisiensi mekanisme pengikatan iodida, sehingga iodium yang dipompakan ke dalam sel jumlahnya tidakadekuat.2. Defisiensi sistem peroksidase, di mana iodida tidak dioksidasi menjadi iodium.3. Defisiensi penggabungan tirosin teriodinasi di dalam molekul tiroglobulin, sehingga hormon tiroid tidak terbentuk.4. Defisiensi enzim deiodinasemencegah pulihnya iodium dari tirosin teriodinasi, yang tidakmengalami penggandengan untuk membentuk hormon tiroid, sehingga menyebabkan defisiensi iodium(Schteingart, 2006; Mansjoer et al, 2001)

b. Diagnosis

Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan melalui :1. Pada palpasi teraba batas yang jelas, bernodul satu atau lebih, konsistensinya kenyal.

2. Pada pemeriksaan laboratorium, ditemukan serum T4 (tiroksin), T3 (triyodotironin) dan TSH dalam batas normal.

3. Pada pemeriksaan USG (ultrasonografi) dapat dibedakan padat atau tidaknya nodul. Hasil USG pada umumnya menujukkan iso atau hiperekoik yang biasanya disertai halo, yaitu suatu lingkaran hipoekoik disekilingnya.4. Kepastian histologi untuk menentukan jinak atau ganasnya nodul dapat ditegakkan melalui biopsi(Mansjoer et al, 2001).c. Komplikasi

Kelenjar tiroid penderita mulai membesar secara lambat pada usia muda. Awalnya kelenjar ini membesar secara difus dengan permukaan licin kemudian berkembang menjadi besar dan multinodular pada saat dewasa.Karena pertumbuhannya lambat, tumor dapat menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan di leher. Namun demikian, tumor yang cukup besar dan berkembang kearah bilateral juga ditemukan pada beberapa orang. Keadaan tersebut dapat menyebabkan penekanan ke arah trakea sehingga dapat mengakibatkan gangguan respirasi dengan gejala stridor inspiratoar, selain itu tumor juga dapat menekan esofagus yang dapat mengakibatkan penderita mengalami gangguan menelan. Seringkali struma ini bersifat asimptomatik, berlangsung lama dan dapat menyebabkan pula penekanan pada trakea dan esofagus (Sjamsuhidayat dan Jong, 2006). F. General Anestesi (Anestesi Umum)

a. Definisi

Anestesi umum adalah suatu tindakan medis dengan tujuan utama untuk menghilangkan rasa nyeri atau sakit secara sentral disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversible. Anestesi umum juga mempunyai karakteristik menyebabkan amnesia anterograd pada pasien, sehingga pasien tidak akan bisa mengingat apa yang terjadi pada saat dilakukan anestesi atau pun operasi pada pasien tersebut. Komponen trias anestesi yang ideal pada anestesi umum terdiri dari hipnotik, analgesik, dan reaksasi otot (Miller, 2006).b. Keuntungan

1. Mengurangi kesadaran pasien

Memungkinkan pemilihan obat pelemah otot yang tepat untuk jan