presentasi pbb fix

Download Presentasi PBB FIX

Post on 18-Feb-2016

216 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

JURNAL PRESENTASI PENGELOLAHAN BAHAN BERBAHAYA

TRANSCRIPT

  • PBB.

    Toxicity Characteristics of Drilling Mud andIts Effect on Aquatic Fish PopulationsKELOMPOK Annita Karunia Savitri | Rara Citra Sulistina | Dewi Atika

  • Bab 1, Pendahuluan

  • Potensi lingkungan dampak lumpur pengeboran yang dibuang ke lingkungan laut dapat memberikan dasar bagi pengambilan keputusan yang bijaksana dan untuk meminimalkan kerusakan lingkungan. Saat ini, ada dua jenis utama dari cairan pengeboran yang digunakan oleh industri, yaitu, cairan berbasis air (WBFs) dan tak berair cairan pengeboran (NADFs) (Asosiasi Internasional Minyak dan Gas Bumi Produsen 2003).

  • Pembuangan bahan kimia ini berpotensi beracun ke lingkungan dapat menyebabkan dampak buruk pada sistem biologi perairan. Cairan ini secara kimiawi beracun dan secara fisik berbahaya bagi tumbuhan laut dan fauna (Mojtahid et al. 2006).

  • Tinjauan Pustaka*

  • Pengertian B3 atau Bahan Berbahaya dan Beracun*Menurut OSHA (Occupational Safety and Health of the United State Government) adalah bahan yang karena sifat kimia maupun kondisi fisiknya berpotensi menyebabkan gangguan pada kesehatan manusia, kerusakan properti dan atau lingkungan.

  • Biodegradasi*Salah satu alternatif pengolahan limbah yang dapat diaplikasikan adalah pengolahan secara biologi yang dikenal sebagai biodegradasi. Biodegradasi didefinisikan sebagai suatu proses oksidasi senyawa organik oleh mikroorganisme, baik di tanah, perairan, atau pada instalasi pengolahan air limbah. Biodegradasi terjadi karena bakteri dapat melakukan metabolisme zat organik melalui sistem enzim untuk menghasilkan karbon dioksida, air, dan energi.

  • Biodegradasi Minyak*Degradasi minyak bumi dapat dilakukan dengan memanfaatkan mikroorganisme seperti bakteri, beberapa khamir, jamur, sianobakteria, dan alga biru. Mikroorganisme ini mampu menguraikan komponen minyak bumi karena kemampuannya mengoksidasi hidrokarbon dan menjadikan hidrokarbon sebagai donor elektronnya. Mikroorganisme ini berpartisipasi dalam pembersihan tumpahan minyak dengan mengoksidasi minyak bumi menjadi gas karbon dioksida (CO2). Sebagai contoh, bakteri pendegradasi minyak bumi akan menghasilkan bioproduk seperti asam lemak, gas, surfaktan, dan biopolimer yang dapat meningkatkan porositas dan permeabilitas batuan reservoir formasi klastik dan karbonat apabila bakteri ini menguraikan minyak bumi.

  • Biodegradasi Minyak*Di dalam minyak bumi terdapat dua macam komponen yang dibagi berdasarkan kemampuan mikroorganisme menguraikannya, yaitu komponen minyak bumi yang mudah diuraikan oleh mikroorganisme dan komponen yang sulit didegradasi oleh mikroorganisme. Komponen minyak bumi yang mudah didegradasi oleh bakteri merupakan komponen terbesar dalam minyak bumi atau mendominasi, yaitu alkana yang bersifat lebih mudah larut dalam air dan terdifusi ke dalam membran sel bakteri. Jumlah bakteri yang mendegradasi komponen ini relatif banyak karena substratnya yang melimpah di dalam minyak bumi. Isolat bakteri pendegradasi komponen minyak bumi ini biasanya merupakan pengoksidasi alkana normal.

  • Biodegradasi Minyak*Komponen minyak bumi yang sulit didegradasi merupakan komponen yang jumlahnya lebih kecil dibanding komponen yang mudah didegradasi. Hal ini menyebabkan bekteri pendegradasi komponen ini berjumlah lebih sedikit dan tumbuh lebih lambat karena kalah bersaing dengan pendegradasi alkana yang memiliki substrat lebih banyak. Isolasi bakteri ini biasanya memanfaatkan komponen minyak bumi yang masih ada setelah pertumbuhan lengkap bakteri pendegradasi komponen minyak bumi yang mudah didegradasi.

  • Fluida Pengeboran*Dalam teknik geoteknologi, fluida pengeboran (Inggris: drilling mud) digunakan untuk membantu membuat lubang bor ke dalam perut bumi. Fluida pengeboran selain sering digunakan ketika membor sumur minyak bumi dan gas alam serta pada rig pengeboran eksplorasi, juga digunakan pada pengeboran yang lebih sederhana, seperti sumur mata air. Fluida pengeboran yang berupa cairan sering disebut lumpur pemboran. Fluida pengeboran dikelompokkan menjadi tiga kategori utama, yakni lumpur berbasis air (yang dapat berupa terdispersi dan non-dispersi), lumpur berbasis minyak dan fluida bergas, yang mencakupi berbagai jenis gas dapat digunakan.

  • 1.2 Rumusan Masalah

  • Rumusan MasalahBagaimana toksisitas spesies ikan yang memiliki efek pada campuran kimia yang kompleks pada lumpur pengeboran di perairan ekosistem?Bagaimana indikasi dari bahan kimia beracun pada biota yang dapat memberikan dasar penilaian penerimaan lingkungan? Bagaimana nilai biodegradabilitas dari minyak dasar pada lumpur pengeboran di perairan ekosistem?

  • Menentukan toksisitas spesies ikan yang memiliki efek pada campuran kimia yang kompleks pada lumpur pengeboran limbah di perairan ekosistem.Memberikan informasi tentang indikasi kemungkinan efek dari bahan kimia beracun pada biota dan dengan demikian memberikan dasar untuk menilai penerimaan lingkungan.

  • 3.2 Cara KerjaUji OrganismeAnalisis Psikokimia bahan Uji Cairan Uji Toksisitas Akut Ikan Preparasi Uji Larutan dari Toksisitas Akut pada IkanPengumpulan Data dan Analisis

  • 1. Uji Organisme

  • 2. Analisis Psikokimia bahanSampel air laut dan sedimen dikumpulkan dari Gorai, Mumbai. Tempat tersebut berlokasi di barat Mumbai dan tempat tersebut merupakan tempat yang terbebas oleh polusi. Organisme hidup bentik dapat ditemukan pada sedimen yang terdapat dilokasi tersebut. Lalu, air laut dan sediment pada tempat tersebut dikumpulkan untuk tujuan percobaan. Karakteristik dari air laut yang dianalisis menggunakan American Public Health Association method (APHA 1989) sedangkan sediment yang dibawa menggunakan metode yang disediakan dalam Black et al. (1965).

  • Cairan uji (baik lumpur pengeboran dan base oil) yang diperoleh dari Divisi Refining dan Pemasaran ENI SpA, Andheri, Mumbai. Lumpur pengeboran ini disiapkan dengan teknologi NADF. Cairan tradisional berbasis minyak (OBFs) yang digunakan untuk kegiatan pengeboran. Mereka memberikan kinerja terbaik dalam hal aktivitas pengeboran, tetapi mereka memiliki kinerja lingkungan yang buruk dalam hal eco-toksisitas dan oleh karena itu, WBFs dikembangkan. Cairan berbasis air tidak memberikan kinerja yang optimal dalam kondisi menantang. Tapi mereka memiliki kinerja lingkungan terbaik dalam hal sifat racun, dan mereka juga meningkatkan laju biodegradasi dibandingkan dengan OBFs. Baru-baru ini, NADFs telah dikembangkan untuk memberikan kinerja pengeboran yang sama seperti yang dari OBFs tetapi dengan peningkatan eko-toksisitas dan karakteristik biodegradasi yang mirip dengan WBFs.3. Uji Cairan

  • Uji toksisitas akut pada ikan di sesuaikan menurut pedoman USEPA guidelines-OPPTS 850.1075 (USEPA 1996). OSPAR (2006) menyediakan metode untuk penggunakan bahan kimia pada industri minyak lepas pantai. Seperti pedoman USEPA, nilai oksigen terlarut harus lebih dari 60 % sedangkan menurut pedoman OECD harus kurang dari 80%. Oleh karena itu, protol seperti USEPA menggunakan itu untuk penilain dari uji toksistas akut pada ikan baik pada spesies ikan airtawar atau laut. 4. Uji Toksisitas Akut Ikan

  • Nilai letal ( angka kematian organisme ) di catat setiap hari dengan observasi visual. Organisme yang telah mati dibuang dari aquarium pengujian dan 60% konsetrasi oksigen dijaga sepanjang percobaan. Persentase kematian yang terjadi harus kurang dari 10%. Serta konsumsi oksigen untuk biodegradasi kadar logam diganti setiap 7 hari sekali dengan selang waktu selam 28 hari. Kelemahan ikan serta organism bentik pada minyak hasil pengeboran dengan lumpur pengoboran ditenukan menggunakan metode probit dari analisi pada LC50 selama 96 jam menggunakan toxcal versi USEPA (Faircloth 2009). Program ini menghitung nilai LC50 dan 95% nilai kebenaran dari metode probit (Faircloth 2009). Dan untuk menghitung korelasi puncak menggunakan SPSS 7.5 (Gauthier 2001).5. Pengumpulan Data dan Analisis

  • PEMBAHASAN

  • Untuk menilai dampak polusi pada ekosistem laut , maka diterapkan beberapa tes toksikologi kritis. Dalam studi ini, toksisitas akut pengeboran lumpur dan minyak dasar dievaluasi dengan menggunakan perkiraan nilai 96 h LC50 dalam konsentrasi yang berbeda pada ikan air tawar , ikan laut , dan organisme bentik . Oleh karena itu , penilaian dari 96 h LC50 ditentukan untuk kedua SP ( solid phase ) dan SPP ( soluable phase ) . Lumpur pengeboran ini disiapkan dengan teknologi NADF yang mudah biodegradasi dan oleh karena itu, uji biodegradasi dilakukan untuk menentukan biodegrabilitas mereka .

  • Tidak ada kematian dalam percobaan kontrol. Estimasi dari Nilai 96 h LC50 pada minyak dasar untuk ikan air tawar , ikan laut , dan organisme bentik ditunjukkan pada Gambar.2 Hasil base oil untuk 96 jam LC50 adalah 22.414 mg/L (T. mossambica) dan 16.713,1 mg/L (M. persia). 10 hari LC50 untuk organisme bentik (B. boddarti) adalah 68.409,4 mg/kg dan 96 h LC50 yang sama organisme adalah 167.340,2 mg/kgESTIMASI DARI 96 H LC50

  • Dalam lumpur pengeboran , 96 h LC50 untuk ikan air tawar ( T. mossambica ) adalah 770.000 mg/L untuk SPP dan 200.000 mg/L untuk SP .

    Demikian pula,96 h LC50 untuk ikan air laut sh (M. persia) adalah 42.614,1 mg/L untuk SPP dan 31.107 mg /L untuk SP.

    ESTIMASI DARI 96 H LC50

  • Pada 10 hari LC50 untuk organisme bentik (B. boddarti) adalah 128.898,1 mg /kg, sedangkan untuk 96 h LC50 untuk organisme yang sama adalah 243.652,4 mg / kg. Dari gambar 3 dan gambar 2 maka diketahui uji toksisitas pada lumpur pengeboran jelas bahwa SP lebih berbahaya untuk pengujian organisme daripada SPP. Selain itu dapat dinyatakan bahwa M. persia (spesies laut) adalah yang paling rentan terhadap minyak dasar dan lumpur hasil pengeboran dibandingkan dengan organisme uji lain ya