ppt-fisiologi hormon pada seranga

Click here to load reader

Download Ppt-Fisiologi Hormon Pada Seranga

Post on 30-Dec-2014

160 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Fisiologi Hormon pada Insecta1. 2. 3. 4. 5. Dipresentasikan Oleh: Misna Gustia Ningsih Fitriyani Mariska Gita Putri Rosandi Nabella Istiana

HormonHormon adalah zat kimia yang terbentuk dalam satu bagian tubuh dan dibawa dalam darah ke bagian di mana mereka menghasilkan efek fungsional.

Hormon membawa pesan dari kelenjar kepada sel-sel untuk mempertahankan tingkat bahan kimia dalam aliran darah yang mencapai homeostasis.

Fungsi Hormon secara umummengendalikan perubahan-perubahan yang berlangsung lama dalam perkembangan, pertumbuhan, reproduksi, dan metabolisme.

Hubungan Hormon dgn Sarafbeberapa proses fisiologis melibatkan kerjasama struktural dan fungsional antara sistem endokrin dan sisem saraf. serangga dan vertebrata mempunyai sel-sel neurosekresi dalam otaknya yang mensekresikan hormon kedalam darah.

Faktor yang mempengaruhi fisiologi hormon pada serangga Usia Fase hidup Tingkah laku

Hormon pada InsectaBeberapa kelenjar dan sel neurosekretori pada serangga telah diketahui menghasilkan hormon. Fungsi utama dari hormon tersebut adalah untuk mengendalikan proses reproduksi, pergantian kulit, dan metamorfosis.

Adapun beberapa diantara hormon tersebut adalah : Hormon Protoraksikotropik (PTTH): berperan dalam pergantian kulit dan dalam pengendalian diapause. Berperan juga dalam merangsang penghasilan hormon ekdison.

Juvenile hormon Pengaruhnya : -perkembangan tanduk -pembagian kasta insecta sosial -induksi Polyphenism dan Polymorphism -Mengontrol pertumbuhan dan perkembangan serangga Hormon ini dihasilkan di : *proses pelepasaan hormon

Feromon Feromon adalah zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok dan untuk membantu proses reproduksi. *proses pelepasan

Berbeda dengan hormon, feromon menyebar keluar tubuh dan hanya memengaruhi dan dikenali oleh individu lain yang sejenis (satu spesies)

Hormon Ekdison Pengaruhnya: sebagai pengatur molting bekerja antagonis dengan JH diproduksi di kelenjar prothorax *proses pelepasan *sintesanya *apakah ada pengaruh edikson pada metamorfosis sempurna dan tidak sempurna?

MEKANISME KERJA HORMON PADA INSECTA Biosintesis hormon2nya

Proses ganti kulit pada serangga

Kupu-kupu Ketika kupu-kupu jantan atau betina mengepakkan sayapnya, saat itulah feromon tersebar diudara dan mengundang lawan jenisnya untuk mendekat secara seksual. Feromon seks memiliki sifat yang spesifik untuk aktivitas biologis dimana jantan atau betina dari spesies yang lain tidak akan merespons terhadap feromon yang dikeluarkan betina atau jantan dari spesies yang berbeda

Metamorfosis Kupu-kupu

rayap Untuk dapat mendeteksi jalur yang dijelajahinya, individu rayap yang berada didepan mengeluarkan feromon penanda jejak (trail following pheromone) yang keluar dari kelenjar sternum (sternal gland di bagian bawah, belakang abdomen), yang dapat dideteksi oleh rayap yang berada di belakangnya. Sifat kimiawi feromon ini sangat erat hubungannya dengan bau makanannya sehingga rayap mampu mendeteksi obyek makanannya. Di samping feromon penanda jejak, para pakar etologi (perilaku) rayap juga menganggap bahwa pengaturan koloni berada di bawah kendali feromon dasar (primer pheromones). Misalnya, terhambatnya pertumbuhan/ pembentukan neoten disebabkan oleh adanya semacam feromon dasar yang dikeluarkan oleh ratu, yang berfungsi menghambat diferensiasi kelamin. Segera setelah ratu mati, feromon ini hilang sehingga terbentuk neotenneoten pengganti ratu. Tetapi kemudian neoten yang telah terbentuk kembali mengeluarkan feromon yang sama sehingga pembentukan neoten yang lebih banyak dapat dihambat. Feromon dasar juga berperan dalam diferensiasi pembentukan kasta pekerja dan kasta prajurit, yang dikeluarkan oleh kasta reproduktif. Dilihat dari biologinya, koloni rayap sendiri oleh beberapa pakar dianggap sebagai supra-organisma, yaitu koloni itu sendiri dianggap sebagai makhluk hidup, sedangkan individu-individu rayap dalam koloni hanya merupakan bagian-bagian dari anggota badan supra-organisma itu. Perbandingan banyaknya neoten, prajurit dan pekerja dalan satu koloni biasanya tidak tetap. Koloni yang sedang bertumbuh subur memiliki pekerja yang sangat banyak dengan jumlah prajurit yang tidak banyak (kurang lebih 2 4 persen). Koloni yang mengalami banyak gangguan, misalnya karena terdapat banyak semut di sekitarnya akan membentuk lebih banyak prajurit (7 10 persen), karena diperlukan untuk mempertahankan sarang.

Ngengat Komunikasi melalui feromon sangat meluas dalam keluarga serangga. Feromon bertindak sebagai alat pemikat seksual antara betina dan jantan. Jenis feromon yang sering dianalisis adalah yang digunakan ngengat sebagai zat untuk melakukan perkawinan. Ngengat gipsi betina dapat mempengaruhi ngengat jantan beberapa kilometer jauhnya dengan memproduksi feromon yang disebut disparlur . Karena ngengat jantan mampu mengindra beberapa ratus molekul dari betina yang mengeluarkan isyarat dalam hanya satu mililiter udara, disparlur tersebut efektif saat disebarkan di wilayah yang sangat besar sekalipun.

Semut dan Lebah Madu Feromon memainkan peran penting dalam komunikasi serangga. Semut menggunakan feromon sebagai penjejak untuk menunjukkan jalan menuju sumber makanan. Bila lebah madu menyengat, ia tak hanya meninggalkan sengat pada kulit korbannya, tetapi juga meninggalkan zat kimia yang memanggil lebah madu lain untuk menyerang. Demikian pula, semut pekerja dari berbagai spesies mensekresi feromon sebagai zat tanda bahaya, yang digunakan ketika terancam musuh; feromon disebar di udara dan mengumpulkan pekerja lain. Bila semut-semut ini bertemu musuh, mereka juga memproduksi feromon sehingga isyaratnya bertambah atau berkurang, bergantung pada sifat bahayanya. Hormon yang menyebabkan terjadinya fenomena age polytheism adalah hormon juvenil atau biasa juga disebut sebagai JH. Pergantian divisi pekerjaan berdasarkan umur dipengaruhi oleh kadar JH dalam tubuh. Kadar JH meningkat seiring dengan pertambahan umur pekerja. peningkatan kadar JH itulah yang mengatur kebiasaan kerja pada lebah pekerja. Tetapi walaupun demikian pergantian divisi bukanlah sesuatu yang saklek. Proses tersebut merupakan suatu yang fleksibel, tergantung pada proporsi jumlah pekerja yang dibutuhkan pada divisi yang sudah ada. Peningkatan JH juga bisa dipengaruhi oleh lingkungan seperti keberadaan makanan, umur, dan struktur koloni serta respon yang berbeda terhadap lingkungan.

Sekian, Semoga Bermanfaat