pola rekruitmen kepala sefsekolah di era otonomi daerah

Download Pola Rekruitmen Kepala sefSekolah Di Era Otonomi Daerah

Post on 24-Oct-2015

80 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

sefsef

TRANSCRIPT

REVISI

POLA REKRUITMEN KEPALA SEKOLAH DI ERA OTOMI DAERAHOLEH

TATANG SUNENDAR ISKANDAR

(Widyaiswara LPMP Jabar)A. Latar Belakang

Sekolah merupakan sebuah institusi pendidikan yang mengemban misi tertentu dalam rangka menggapai visi tertentu. Secara umum, misi sekolah adalah melakukan proses edukasi, transformasi, dan sosialisasi peserta didik. Sedangkan visi sekolah secara umum adalah terbentuknya satuan pendidikan yang mampu menghantarkan peserta didik sehingga siap mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan berikutnya dan hidup di masyarakat..

Sebagai sebuah institusi pendidikan, sekolah merupakan sistem sosial yang kompleks, terdiri dari serangkaian kompenen, dalam bentuk raw input dan proses. Ada tiga macan masukan sekolah. Pertama, masukan mentah (raw input), yaitu peserta didik. Kedua, masukan intrumental (instrumental input), yaitu kurikulum, personil sekolah, sarana dan prasarana sekolah, dan uang. Ketiga, masukan lingkungan (environmental input), yaitu orang tua siswa dan masyarakat pada umumnya. Sedangkan proses sebagai komponen di sekolah berupa proses pendidikan dan pembelajaran yang menghantarkan peserta didik sebagai masukan mentah menjadi keluaran yang siap mengikuti pendidikan pada jenjang berikutnya dan hidup di masyarakat. Oleh karena sekolah melibatkan aneka ragam komponen, tidak hanya barang dan uang melainkan juga personil atau manusia, tidak hanya kompenen internal melainkan juga komponen eksternal, maka sekolah merupakan sistem sosial yang kompleks.

Kompleksitas sekolah sebagai satuan sistem pendidikan menuntut adanya seorang kepala sekolah yang profesional, yaitu kepala sekolah yang kompeten dalam menyusun perencanaan pengembangan sekolah secara sistemik; kompeten dalam mengkoordinasikan semua komponen sistem sehingga secara terpadu dapat membentuk sekolah sebagai organisasi pembelajar yang efektif; kompeten dalam mengerahkan seluruh personil sekolah sehingga merela secara tulus bekerja keras demi pencapaian tujuan institusional sekolah; kompeten dalam melakukan pembinaan kemampuan profesional guru sehingga mereka semakin terampil dalam mengelola proses pembelajaran; dan kompeten dalam melakukan monitoring dan evaluasi sehingga tidak satu komponen sistem sekolah pun tidak berfungsi secara optimal, sebab begitu ada satu saja diantara seluruh komponen sistem sekolah yang tidak berfungsi secara optimal akan mengganggu pelaksanaan fungsi komponen-komponen lainnya. Sistem pada hakikatnya merupakan keseluruhan komponen yang saling berkaitan dan berpengaruh satu sama lainnya. Dengan kata lain, Kompleksitas sekolah sebagai satuan sistem pendidikan menuntut adanya seorang kepala sekolah yang memiliki kompetensi manajerial dan supervisi

Tuntutan terhadap perlunya kepala sekolah yang profesional akhir-akhir ini semakin kuat, seiring dengan digalakkannya manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (School Based Quality Improvement) yang lebih populer dikenal kalangan kepala sekolah dengan Manajemen Berbasis Sekolah (school based management). Sebagaimana telah ditegaskan di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tepatnya pasal 51 ayat (1) bahwa Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah dilaksanakan berdasarkan standar pelayanan minimal dengan prinsip manajemen berbasis sekolah/madrasah. Penerapan manajemen berbasis sekolah di sebuah sekolah adanya seorang kepala sekolah yang tidak saja memiliki kompetensi manajerial dan supervisi, melainkan juga kompetensi kewirausahaan, yaitu menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah, bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang efektif, memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin satuan pendidikan, pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah, dan memiliki naluri kewirausahaan dalam pengelola kegiatan produksi/jasa sekolah sebagai sumber belajar siswa.Disamping itu dengan terbitnya peraturan menteri pendidikan Nasional Nomor 28 tahun 2010 tentang tugas penugasan guru sebagai kepala sekolah menjawab.fenomena yang terjadi sejalan dengan berlakunya Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2003 tentang otonomi daerah sehinga disparitas pengadaan kepala sekolah sangat beragam. Sehingga disparitas mutu Kepala sekolah sangat beragam pula padahal Kepala Sekolah memegang peran strategis pada pengembangan sekolah (Good Teachers + Good Principal = Good School) dan Kepemimipinan merupakan on-going processD.Fakta fakta yang terjadi dalam Pengadaan Kepala Sekolah di Era Otonomi Daerah Dengan ditetapkanyanya Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2005 , pemerintah kabupaten/Kota mempunyai kewenangan yang sangat penuh dalam pola rekrutmen kepala sekolah sehingga pengadaan kepala sekolah yang seharusnya identik dengan tiga aktivitas yang secara sekuensial berurutan, yaitu penetapan formasi, rekrutmen, dan seleksi calon penempatan dan pleatihan kepala sekolah. Banyak yang tidak dilaksanakan dengan konsisten mengingat :

1. Jabatan Kepala sekolah dijadikan suatu aset politik untuk melanggengkan kekuasaan Bupati/Walikota2. Kurangnya akuntabilitas publik sehingga pola rekutmen kepala sekolah tidak ada yang mengontrol

3. Prinsip-prinsip Pengadaan Kepala Sekolah tidak dilakukan secara profesional, yaitu dengan memegang teguh prinsip-prinsip manajerial, demokratis, obyektif, terbuka, yuridis, dan ilmiah. Kurang diperhatikan

4. Proses Pengadaan Kepala Sekolah tidak dilakukan berdasarkan sekuensial yang baku , tetapi tergantung selera dan kemauan kepala dearah pengadaan kepala sekolah merupakan proses mendapatkan calon kepala sekolah yang paling memenuhi kualifikasi dalam rangka mengisi formasi kepala sekolah pada satuan pendidikan tertentu. Sebagai sebuah proses, pengadaan kepala sekolah secara profesional melalui langkah-langkah: (1) penetapan formasi kepala sekolah, (2) rekrutmen calon kepala sekolah, (3) seleksi calon kepala sekolah, dan (4) pengangkatan calon kepala sekolah menjadi kepala sekolah. Seleksi kepala sekolah melalui seleksi administratif, seleksi akademik, uji kompetensi, dan uji akseptabilitas. Proses pengadaan kepala sekolah tidak dilakukan hanya mengandalkan pada kedekatan dan Tim Sukses Bupati/walikota5. Kurang diperhatikannya Persyaratan kepala sekolah dengan merujuk kepada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah. .6. Pengadaan Kepala Sekolah merupakan salah satu kegiatan dalam menajemen kepegawaian sekolah yang dilakukan untuk mengisi formasi jabatan Kepala Sekolah. Seleksi calon kepala sekolah dilakukan untuk mengisi kebutuhan (lowongan) yang tersedia dalam rangka menjamin terselenggaranya proses pendidikan dan pembelajaran yang efektif dan efesien di sekolah namun tidak dilakukan penetapan kepala sekolahsesuai dengan kompetensi yang dimilikinya mengingat hanya berdasarkan selera walikota/bupati saja7. Tidak dlakukannya Prinsip-prinsip Rekrutmen Rekrutmen calon Kepala Sekolah dilakukan Rekrutmen calon Kepala Sekolah dilakukan secara terbuka melalui surat kabar lokal dalam rangka memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua guru yang memenuhi kualifikasi tetapi hanya berdasarkan kedekatan dan formasi yang tertutup.8. Pelaksanaan Pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah bagi yang Guru memenuhi syarat, sesuai dengan Permendikanas Nomor 13 tahun 2007 diwajibkan mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Calon Kepala Sekolah di lembaga tertentu yang ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Pembinaan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas. Pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah diselenggarakan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi-kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial yang berguna dalam melaksanakan tugas kepala sekolah.tidak dilakukan sehingga kepala sekolah yang baru diangkat di era otonomi daerah berdasarkan data yang di peroleh hampir 60 % kepala sekolah kurang memahami kompetensi manajerial, 55 % kurang memahami kompetensi supervisi akademik ( LP2KS Pemetaan Kepala Sekolah 2010 )9. Pengangkatan sebagai kepala sekolah pada satuan pendidikan ditetapkan melalui surat keputusan bupati/walikota. Pada fase ini merupakan faktor dominan peran walikota merupakan orang orang yang layak di angkat, khususnya tim sukses.contoh kasus terjadi di Kota Cimahi Kepala sekolah diangkat dari pejabat Dinas pendidikan menjadi kepala SMA dan SMP yang tidak ada latar belakang guru.Kasus kab karawang dan Kab bekasi,Kab Indramatyu mengganti seluruh kepala Sekolah SD,SMP,SMA maupun SMK dengan dalih periodesasi tanpa ada analisis yang memadai PERSPEKTIF KEPMENDINAS NO 28 TAHUN 2010 Sejalan teori yang di kemukan oleh Randall dan Cassteter dalam pola rekutmen kepala sekolah Kemetrian pendiidkan Nasional Republik Indonesia Menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 28 tahun 2010 tentang peugasan guru sebgai kepala sekolah, adapun sekuensial tersebut diapat iuraikan sebagai berikut Ini.A. Pengertian Pengadaan Kepala Sekolah

Pengadaan kepala sekolah merupakan proses mendapatkan calon kepala sekolah yang paling memenuhi kualifikasi dalam rangka mengisi formasi kepala sekolah pada satuan pendidikan tertentu. Sebagai sebuah proses, pengadaan kepala sekolah dilakukan melalui serangkaian tahapan kegiatan, mulai dari penetapan formasi kepala sekolah sampai pada seleksi calon kepala sekolah dan diakhiri dengan pengangkatan kepala sekolah. Pengadaan kepala sekolah juga dapat diartikan sebagai proses rekrutmen dan seleksi calon kepala sekolah yang paling memenuhi kualifikasi dalam rangka pengisian formasi kepala sekolah. Oleh karena itu pengadaan kepala sekolah identik dengan tiga aktivitas yang secara sekuensial berurutan, yaitu penetapan formasi, rekrutmen, dan seleksi calon kepala sekolah.

B. Tujuan Pengadaan Kepal