pertemuan ke lima

Click here to load reader

Post on 05-Oct-2015

232 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Koperasi lahir pertama kali di Inggris, yaitu di kota Rochdale tahun 1884. koperasi timbul pada masa perkembangan kapitalisme sebagai akibat revolusi industri. Pada tahun 1851 koperasi tersebut akhirnya dapat mendirikan sebuah pabrik dan mendirikan perumahan bagi anggota-anggotanya yang belum mempunyai rumah

TRANSCRIPT

  • Perkembangan Peraturan Perundang-Undangan Koperasi di Indonesia

  • PendahuluanKoperasi adalah lembaga ekonomi yang berkembang di atas prakarsa masyarakat sendiriPerke,bangan koperasi di Indonesia mulai dianut oleh pegawai pemerintah daerah pedesaan sebagai pemersatu rakyat dalam mengusir penjajahan ( walaupun pada akhirnya mengalami kegagalan)Belum ada perundang- undangan yang mengatur kehidupan koperasi secara mendetail

  • Baru pada tahun 1915 dikeluarkan peraturan perkoperasian untuk umum dan tahun 1927 dikeluarkan peraturan khusus untuk golongan pribumiPendiri negara memasukan koperasi pada ke dalam UUD 1945 pasal 33 peraturan pemerintah yang mengatur aspek kehidupan koperasi,termasuk pembinaan dan pengembangannya Dalam hubungannya dengan peranan Pemerintah , maka UU No. 12/1967 pasal 37 , dinyatakan bahwa Pemerintah berkewajiban untuk memberikan bimbingan , pengawasan ,perlindungan dan fasilitas terhadap koperasi serta pemupukannya untuk melaksanakan pasal 33 UUD 1945 beserta penjelasannya.

  • Peranan pemerintah dalam membina dan mengembangkan koperasi jelas terungkap dalam GBHN 1983/1988 antara lain menyatakan bahwa Koperasi sebagai lembaga ekonomi rakyat yang berwatak sosial harus makin dikembangkan dan diperkuat dalam dalam rangka menumbuhkan demokrasi ekonomi sebagai salah satu landasan terciptanya masyarakat yang berkeadilan sosial

  • Peraturan Koperasi Di Masa PenjajahanPeratutan /Undang-Undang Koperasi Stb1915 No. 431 ( Verordening op deCooperative Vereeniging,Koninlijk Besluit,7April 1915,Ind Stb No. 431)Isinya sebagai berikut :Pendirian koperasi harus mendapatkan ijin dari Gubernur JenderalAkta pendirian harus dibuat dalan bahasa BelandaAkta pendirian harus mendapatkan pengesahan dari Notaris ditambah dengan materai sebesar f.50Hak tanah harus menurut aturan eropa

  • Peraturan Koperasi Stb 1927 No. 91Peraturan ini merupan hasil karya sebuahkomisis yang disebut CooperativeCommissie diketuai oelh Dr.J.H.Boeke, yangbertugas ;Bermanfaat tidaknya koperasi di IndonesiaKemungkinan menyusun peraturan/undang-undang tahun 1921.Komisis ini menyerahkan hasilnya penelitian ke Pemerintah, yang intinya:KOpersi bagi rakyat Indonesia sangat berfaedahMenyampaikan rancangan UU Koperasi yang baru dan disyahkan tahun 1927

  • Adanya peraturan khusus untuk pribumiantara lain:Pendirian koperasi tidak perlu pengesahan Notaris,tetapi cukup didaftarkan pada penasehat urusan kridit rakyat dan koperasiPengesahan tidak dipungut biaya kecuali materai f.3Koperasi dapat mempunyai hak atas tanah secara adatAkta pendirian boleh dalam bahasa daerah,bahasa Indonesia/Melayu/Belanda

  • Pertumbuhan koperasi sangat pesatTahun 1930 Pemerintah membentuk Jawatan Koperasi yang melakukan pendaftaran dan pengesahan koperasi.Tahun 1932 tercatat 1540 koperasi,172 buah mendapat pengesahan hukum

  • c. Peraturan Koperasi Stb 1933 No. 108Merupakan pengembangan dari Peraturan Koperasi Stb 1915 No. 431.Tahun 1939 Jwatan Koperasi diperluas menjadi Jawatan Koperasi dan Perdagangan Dalam Negeri yang berada di bawah Departemen Economische ZakenPeraturan Koperasi Pada masa JepangPeraturan yang berlaku pada saat itu adalah Peraturan Koperasi Stb 1927 No. 91.Sedangkan Jawatan Koperasi dan Perdagangan Dalam Negeri diromabah menjadi Syomin Kumiai Tyuo Djimusyo.Pendirian koperasi harus mendapatkan ijin dari Syutjokan(residen)

  • Peraturan Koperasi setelah KemerdekaanPeraturan Koperasi Stb 1949 No.179 sama dengan Peraturan Koperasi Stb 1927 No. 91 ketentuannya tidak sesuai dengan keadaan IndonesiaUndang-undang No. 79 tahun 1958 TTG Perkumpulan KoperasiTahun 1951 RUU Koperasi dirancang karena mengalami kemacetan belum sempat dibahas di DPRTahun 1958 UU Koperasi disahkan UU No. 79/1958 oleh DPR( merupakan UU pertama yang menganut dasar hukum Indonesia)Isi dari UU No. 79/1958 antara lain, 1)mengatur kewajiban pemerintah dalam pendaftaran dan pengawasan ttp juga kewajiban untuk bimbangan, pembinaan dan dorongan kepada rakyat ke arah hidup berkoperasi.2)Memuat asas kekeluargaan dan sendi dasar koperasi 3) Menetapkan hanya ada dua tingkatan koperasi yaitu koperasi primer dan sekunder Kehidupan koperasirasi pada saat itu mengalami pasang surut karena masih ada pergolakan di dalam negeri( peristiwa dekrit presiden 5 Juli 1959)

  • Peraturan Pemerintah No.69 Tahun 1959 ttg Perkembangan Gerakan KoperasiPeraturan dikeluarkan untuk menyesuaikan kebijakan pembinaan koperasi dengan manipol dan UUD 1945 juga menekannkan kewajiban pemerintah untuk mengambil peranan aktif dalam membina gerakan gerakan Koperasi dalam Demokrasi Terpimpin, yaitu menumbuhkan, membimbing, melindungi dan mengawasi perkembangan gerakan koperasi

  • PP No 60 1959 a.lSetiap perkumpulan koperasi yang telah memperoleh pengesahan sebagai Badan Hukum wajib memberi laporan kepada Pejabat tentang keadaan/perkembangan organisasi dan usaha sekurang- kurangnya dua tahun sekaliPenyesuaian koperasi ditekankan pada laporan usaha tempat tinggal anggota koperasiOrganisasi koperasi memiliki 4 tingkatan yaitu primer, Pusat, Gabungan dan Induk untuk setiap jenis koperasi

  • Undang Undang No. 14 Tahun 1965 tentang Perkoperasian Dekrit Presiden untuk kembali ke UUD1945 dan dijadikan Manipo sebagai GBHN dan landasan Idiil Revolusi Indonesia disamping pancasila ,mk UU No. 79/1958.UU koperasi baru kemudian diundangkan tanggal 2 Agustus 1965( Munaskop II) sebagai Undang- Undang No. 14 Tahun 1965

  • Intisari UU No. 14/1965Koperasi sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari dokrin Revolusi/dasar falsafah PancasilaKoperasi sebagai organisasi ekonomi maupun sebagai salah satu alat revolusi yang berfungsi sebagai tempat persemaian nsan masyarakat serta wahana menuju sosialisme Indonesia berdasarkan PancasilaPeranan Gerakan koperasi dalam Demokrasi ekonomi Terpimpin dibagi dalam dua tahap yaitu tahap Nasional Demokrasi dan tahap sosialisme IndonesiaTerdapat 3 jenis koperasi ; koperasi Produksi,koperasi konsumsi dan konsumsi Jasa termasuk Simpan PinjamAda tingkat koperasi yaitu, yaitu primer,Gabungan dan Induk koperasiMusyawarah Nasional Koperasi, merupakan lembaga tertinggi Gerakan KoperasiTidak lama berselang diundangkannya UU No. 14/1965 terjadilah gerakan tiga puluh september sehingga mengakibatkan suasana sosial ,politik dan ekonomi bangsa dan negara menjadi goncang. UU No. 14/1965 dianggap sudah tidak sesuai lagi

  • Undang- undang No. 12 Tahun 1967 tentang Pokok-pokok PerkoperasianUndang- undang No. 12 Tahun 1967 dirumuskan oleh panitia Peninjau Undang- Undang Perkoperasian No. 14/1965(anggotanya para mentri)Hasilnya diserahkan ke DPR-GR mensahkan RUU koperasi kemudian menjadi Undang- undang No. 12 Tahun 1967 tentang Pokok- pokok Perkoperasian

  • Pada tahun 1968, Direktorat Koperasi Departemen Nakertranskop RI menyusun bunga rampai tentang peraturan perkoperasian di Indonesia. Organisasi gerakan koperasi adalah berbentuk badan hukum menurut SK Menteri Transmigrasi dan Koperasi No. 64/KPTS/Mentrans/69 tertanggal 16 Juli 1969, yaitu tentang pengesahan Badan Hukum terhadap Badan Kesatuan Gerakan Koperasi Indonesia. Realisasi dari Kepmen tersebut adalah dibubarkannya GERKOPIN dan sebagai penggantinya dibentuk Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) pada tanggal 9 Pebruari 1970. Khususnya mengenai koperasi jenis KUD, badan ini mulai dibentuk sejak dikeluarkannya Inpres No. 1 Tahun 1973 tentang BUUD dan KUD.

  • Inpres N0.4/1984.peranan Pemerintah dalam untuk memperkuat KUD alPemerintah membuka seluas luasnya kesempatan berusaha dan menyediakan bantuan fasilias permodalan serta sarana yang memadaiMenyediakan kepastian usaha dalam bentuk jaringan pasar dan jaminan harga untuk meningkatkan daya saing barang dan jasa yang dihasilkan oleh KUD dan masyarakat pedesaan

  • Penumbuhkan kekuatan dan kemampuan KUD dalam bidang permodalan melalui peningkatan tabungan dan simpanan yang terpusat dan terpaduPeningkatan pembinaan organisasi, manajemen dan kemampuan pengendalian serta pengawasan intern dan ektern KUD melaui kegiatan pendidikan,penyuluhan latihan dan penataran pengurus, badan pemeriksa, manager dan pelaksana usahaPemantapan dan peningkatan kerja sama dalam keseluruhan jalinan kelembagaan KUD secara terpadu serta terkait dalam kegiatan ekonomi nasional,khususnya di pedesaan

  • Berdasarkan pada Inpres No.4 tahun 1984 ada tiga pembiana KUD :Menteri Koperasi mempunyai tanggungjawab tehnis perkoperasianMenteri Dalam Negeri memiliki tugas menyelenggarakan ,pembentukan serta pembinaan BPP-KUDKelompok Instansi pembina tehnis sesuai dengan bidang dan tanggung jawabnya

  • Inpres No.4/1973 tentang Unit DesaInpres ini bertujuan untuk menghindadri keaneka ragaman Binmas serta keseragaman pola pengembangan Unit Desa dengan berbagai fungsi BUUD

  • Inpres No. 2/1978 ttg BUUD/KUDInpres No. 2/1978 ttg BUUD/KUD diberi wewenang untuk mendorong,membimbing dan memelopori pengembangan dan pembinaan KUDPemerintah banyak mengatur mengenai pembentukan BUUD oleh Badan Pembina Bimas Propinsi.Kegiatan BUUD/KUD adalah di bidang pertanian aneka usaha

  • Inpres No.4/1984 ttg Pembinaan dan Pengembangan KUDPembentukan dan pengembangan KUD dan BUUD digantikan dengan BPP-KUD

  • Agar dapat memperoleh predikat mandiri, maka KUD harus memenuhi 13 syarat berikut: 1. Anggota penuh minimal 25% dari jumlah penduduk yang memenuhi syarat keanggotaan; 2.Volume usaha KUD minimal 60% dari total usaha untuk melayani anggota. 3.Rapat Anggota harus tepat waktunya (paling lambat bulan Februari tahun anggaran berikutnya)4.Jumlah pengurus maksimal 5 orang, pengawas 3 orang dan semuanya berasal dari kalangan anggota. 5.Mempunyai modal sendiri minimal Rp. 5.000.000,- 6.Hasil audit laporan keuangan harus tanpa kualifikasi

  • 7.Kewajaran suatu rencana mempunyai deviasi 20% (untuk program dan non program) 8.Mempunyai rasio keuangan sebagai berikut : likuiditas antara 150% - 200% dan solvabilitas > 100%. 9.Perkembangan volume harus proposional dengan jumlah anggota, yaitu : Rp.250.000 setahun per orang. 10.Pendapatan kotor minimal dapat menutupi biaya berdasarkan efisiensi usaha. 11.Sarana usaha layak dikelola sendiri. 12.Tidak ada penyelewengan dan manipulasi yang merugikan KUD. 13.Tidak mempunyai tunggakan.