perlukah saya kerja

71
Perluk ah Saya Kerja

Upload: aidilrizali

Post on 07-Nov-2014

3.180 views

Category:

Career


2 download

DESCRIPTION

 

TRANSCRIPT

Page 1: Perlukah Saya Kerja

Perlukah Saya Kerja

Perlu Nggak Ya?

Page 2: Perlukah Saya Kerja

Prakata

Perlukah seseorang bekerja? Perlukah anda bekerja? Perlukah saya bekerja?

Jawaban yang diberikan kepada kita biasanya adalah ‘iya’. Tetapi ini bisa

menjadi jawaban yang masuk akal atau tidak masuk akal, tergantung pada

situasi orang tersebut. Karena itu kita harus tahu terlebih dahulu situasi

orang tersebut. Misal, apakah seseorang yang sedang tidur perlu bekerja?

Apakah seseorang yang baru pulang kerja musti bekerja lagi? Apakah

seseorang dibenarkan bekerja malas-malasan? Apakah baik seseorang terlalu

banyak bekerja tanpa istirahat? Kita harus melihat definisi bekerja dulu.

Jika bekerja diartikan ‘melakukan sesuatu’, maka ini terlalu umum,

sehingga setiap orang pasti bekerja. Bahkan orang yang mengupil pun

melakukan sesuatu.

Jika bekerja diartikan ‘melakukan sesuatu yang bermanfaat’, ini juga

masih rancu, apakah misalnya, pembunuh bayaran, pelacur, dan bandar

narkoba termasuk pekerja, atau tidak? Karena apa yang mereka lakukan toh

bermanfaat untuk mereka sendiri (mendapat uang, dan mungkin si

pembunuh bayaran memang hobi membunuh jadi ia sekalian saja kerja

sebagai pembunuh bayaran, dan mungkin si pelacur memang seksmania jadi

sekalian saja dapat uang) dan klien mereka, tapi sungguh tidak bermanfaat

bagi orang-orang lain yang mendapat getah pekerjaan mereka (orang yang

dibunuh pembunuh bayaran, istri yang dapat penyakit kelamin dari

suaminya yang berhubungan seks dengan pelacur yang tidak sadar terinfeksi

penyakit kelamin dari klien sebelumnya, dan keluarga orang yang ngobat).

Jika mereka tidak bekerja, lalu mereka itu lagi ngapain? Bukan nganggur

kan?

Page 3: Perlukah Saya Kerja

Jika bekerja diartikan ‘melakukan sesuatu yang menghasilkan uang’, ini

juga tidak sepenuhnya tepat. Apa berarti jutaan budak-budak sepanjang

sejarah manusia yang tidak dibayar yang membuat piramid, yang membuat

Taj Mahal, yang membuat Tembok Besar Cina, sampai yang membuat

puluhan istana kerajaan Eropa dan juga White House di Washington D.C.

dan juga orang-orang Indonesia yang membuat rel kereta api untuk Belanda

sampai banyak yang mati semuanya bukan pekerja dan tidak bekerja? Belum

ditambah dengan ratusan juta ibu rumah tangga yang memasak, mencuci,

membersihkan rumah, membantu PR anaknya, semua tanpa dapat uang, atau

kakek nenek yang menjaga cucunya kala si orangtua pergi ke kantor atau

kemana saja. Bagaimana dengan jutaan orang yang menjadi relawan menjadi

guru di pedalaman, membuat rumah orang yang terkena gempa bumi, atau

saya sendiri yang banyak menulis dan mempublikasikan di internet tanpa

mendapat bayaran apapun padahal sudah keluar banyak uang (listrik), waktu

(yang bisa dihabiskan untuk hal lain), dan tenaga (capek kan ngetik dan

duduk lama itu bikin pegal).

Jika bekerja diartikan ‘pergi ke kantor’, ini juga menghina ratusan juta

orang yang kerjanya dari rumah, toko, supir taxi, bus, masinis kereta, pilot,

pramugari, bintang film, musisi, pemain bola, supir F1, pemain tenis,

astronot yang diluar angkasa sampai ke tukang mie ayam, bubur ayam,

tukang sayur, tukang cuci, pembantu, kuli, dan satpam perumahan.

Sedangkan orang yang pergi ke kantor juga kadang malah tidak ada kerjaan

di kantor kan? Banyak saya lihat kantor-kantor itu orang di dalamnya kok

malah pada santai-santai, ngerokok, ngopi, ngobrol tidak penting padahal

lagi jam kerja! Lha nanti pas jam istirahat pada ngapain ya?

Page 4: Perlukah Saya Kerja

Sedangkan kalau bekerja diartikan sebaliknya ‘tidak pergi ke kantor’ yah

ratusan juta orang yang bekerja di dalam kantor baik si tukang lap sampai

Dirut pada komplain dong.

Jadi nggak gampang kan sebenarnya mengartikan bekerja itu? Bisa jadi

seseorang itu terlihat bekerja padahal nggak kerja, dan bisa jadi orang yang

dianggap nggak kerja justru bekerja jauh lebih banyak.

Jadi gimana nih sebenarnya, perlukah saya bekerja? Ini tergantung dari

beberapa faktor latar belakang yang perlu diketahui terlebih dahulu sebelum

kita bisa membuat penilaian yang tepat (proper assessment) tentang perlu

tidaknya anda bekerja.

1. Apakah anda punya financial support?

2. Bagaimana status keuangan anda?

3. Berapa umur anda?

4. Apakah anda ingin atau harus bekerja?

5. Apakah anda seorang perempuan atau laki-laki?

6. Anda tinggal di negara mana dan kota mana?

7. Apakah hubungan anda dengan orangtua anda baik-baik?

8. Seberapa besar dan banyak kebutuhan dasar anda?

9. Seberapa besar dan banyak barang-barang yang anda mau beli?

10.Seberapa lama anda ingin hidup?

Nah, karena prakata ini sudah kepanjangan, kita jeda dulu, nanti kita

sambung di beberapa halaman berikutnya ya…

Page 5: Perlukah Saya Kerja

Karya ini dibuat hari Jumat, 19 Maret 2010, dari jam 07.37 pagi sampai jam

12.02 siang oleh Aidil Rizali. Segera karya ini saya jadikan public domain

yang berarti Anda bisa mengaksesnya tanpa memperdulikan hak-hak saya

sebagai penulis dan berarti karya ini sama sekali tidak dilindungi undang-

undang negara manapun.

Saya mendukung Copyleft.

dan Knowledge Should Be Free Movement seperti

yang diadvokasikan oleh Komisi Eropa.

Page 6: Perlukah Saya Kerja

Tulisan sederhana ini saya dedikasikan kepada ratusan juta umat manusia

yang dianggap tidak bekerja padahal mereka bekerja lebih banyak dan lebih

baik daripada kebanyakan mereka yang menyandang status ‘pekerja’.

You know who you are…

Kepada ratusan juta umat manusia yang bekerja tetapi kecewa terhadap

fasiltas kerja, situasi kerja, atasan, bawahan, rekan.

Semoga keadaan lebih baik…

Kepada pembaharu zaman yang diam-diam sedang ikut revolusi budaya

untuk membuat dunia yang lebih sadar lingkungan, tidak konsumerisme,

dan tidak berlebihan…

Page 7: Perlukah Saya Kerja

Daftar Isi

Definisi kerja

Jenis kerja

Tempat kerja

Waktu kerja

Kerja dengan apa

Hasil kerja

Upah kerja

Teman kerja

Musuh kerja

Keluarga kerja

Apakah anda punya financial support?

Bagaimana status keuangan anda?

Berapa umur anda?

Apakah anda ingin atau harus bekerja?

Apakah anda seorang perempuan atau laki-laki?

Anda tinggal di negara mana dan kota mana?

Apakah hubungan anda dengan orangtua anda baik-baik?

Seberapa besar dan banyak kebutuhan dasar anda?

Seberapa besar dan banyak barang-barang yang anda mau beli?

Seberapa lama anda ingin hidup?

Page 8: Perlukah Saya Kerja

Definisi kerja

Seperti sudah dibahas di depan, tidak ada yang bisa memberikan definisi

kerja yang disetujui semua orang. Tetapi saya mengartikan bekerja sebagai

‘segala sesuatu tindakan yang langsung mempunyai dampak yang baik bagi

diri sendiri dan lingkungan secara mental, emosional dan fisikal, baik itu

tindakan dibayar dengan uang atau dibayar dengan perasaan telah berbuat

sesuatu yang berharga atau apapun juga (seks, makanan, apalah, asal bukan

malah dibunuh tapi banyak juga yang kerja rodi mati dibunuh atau

kecapekan).’

Meskipun begitu ini bukanlah definisi satu-satunya cara saya

mendefinisikan kata ‘kerja’ di tulisan ini.

Page 9: Perlukah Saya Kerja

Jenis kerja

Kerja bisa berarti apa saja. Ada jenis kerja yang sungguh kejam bagi mata

dan hidung manusia: menjadi tukang sampah. Tukang sampah ini

sebenarnya profesi yang sangat penting dan terhormat. Penting karena tanpa

mereka sampah dirumah kita akan terus menumpuk dan akhirnya sampah

jadi sarang penyakit. Terhormat karena mereka berani terjun ke dunia najis

ini, merekalah pahlawan kebersihan tanpa tanda jasa.

Ada jenis kerja yang sungguh kejam bagi intelek manusia yaitu menjadi

kasir atau penjaga toko. Setiap kali saya pergi ke mall-mall, apalagi mall

level dua seperti ITC, aduh kasihan sekali melihat penjaganya ada dua tiga

orang dengan tatapan kosong karena tidak ada pembeli. Mereka juga sudah

malas ngobrol dengan temannya karena buang-buang bacot saja, sudah

kehabisan bahan obrolan, sudah capek hati karena sudah berapa jam buka

yang datang baru lima atau enam orang, itu pun nggak ada yang beli.

Kebanyakan dari mereka ya diam saja seperti itu atau baca yang mudah

dibaca, jadinya stimulasi untuk pengembangan otak sangat terbatas. Begitu

juga dengan supir bajaj yang berjejer menunggu penumpang, ya mereka

diam saja di bajajnya, sambil ngerokok.

Ada jenis kerja yang justru kebalikannya: penuh intelek. Tetapi ini pun

bisa sekedar asumsi tetapi di kenyataan bisa iya bisa tidak, yaitu menjadi

profesor, menjadi dosen, menjadi peneliti. Karena kadang hanya titel tetapi

mereka karena disibukkan mengajar justru tidak sempat atau tidak mampu

membaca buku-buku terbaru dibidang mereka. Walhasil yang mereka

ajarkan hanyalah apa yang mereka dapat dari studi mereka puluhan atau

belasan tahun lalu. Jadi peneliti bukan berarti pintar juga dalam artian

Page 10: Perlukah Saya Kerja

menemukans sesuatu yang baru secara efektif dan efisien, bisa saja peneliti

itu ya teliti saja.

Ada jenis kerja yang membuat barang, mengirim barang (jasa antar),

mendistribusikan barang (toko), memperbaiki barang (reparasi), mengambil

sampah, merecycle sampah, dst. Kerja adalah apapun yang anda dengar,

lihat, sentuh dan rasakan. Karena semua itu pasti ada yang buat dari mulai

hal remeh seperti bungkus permen sampai gedung bertingkat, dari kapur

sampai mobil Rolls-Royce.

Page 11: Perlukah Saya Kerja

Tempat kerja

Tempat kerja bisa sekecil kamar mandi (bagi penulis seperti saya yang

dibutuhkan hanya sedikit ruang untuk mengetik dan duduk, J.K.Rowling

yang membuat Harry Potter tempat kerjanya adalah duduk di kafe

favoritnya) atau bisa seluas jarak antarnegara (untuk pilot tempat kerjanya

kan dari satu airport ke airport lain) atau diluar bumi (astronot). Pokoknya

semua tempat yang anda lihat kemungkinan disitu ada seseorang yang

sedang bekerja entah di pabrik, di WC (di mal-mal kan ada seorang petugas

WC yang standby membersihkan sisa kencing yang jatuh dilantai), di

kuburan, sampai di Istana Negara, di Istana Buckingham, dst.

Bagi tukang pijat tempat kerjanya ya di tempat tidur kliennya, ya kan?

Bagi tukang benerin toilet tempat kerjanya di toilet. Bagi tukang cukur

rambut presiden tempat kerjanya ya di kepala presiden. Bagi nelayan

kerjanya di laut. Bagi tukang copet kerjanya di pasar. Bagi tukang catut dan

koruptor kerjanya di… (lihat tulisan saya Daftar Lengkap Koruptor

Indonesia) Begitulah keanekaragaman tempat kerja.

Page 12: Perlukah Saya Kerja

Waktu kerja

Tidak ada sedetik pun berlalu tanpa ribuan orang sedang bekerja di

seantero dunia. Yang kadang lepas dari kesadaran kita adalah saat disini jam

8 pagi, di zona waktu yang lain sekarang ini juga adalah jam 1 siang atau

jam 4 sore atau jam 8 malam. Jadi detik ini juga ada orang yang sedang

berangkat kerja, ada yang sudah kerja, ada yang pulang kerja, dan ada yang

sedang tidur malam. Orang bisa kerja waktu siang, malam, pagi atau sore.

Bagi pegawai hotel dan dokter UGD ada yang kebagian shift malam ada

yang shift siang.

Waktu kerja sebenarnya tidak selalu jam 9 sampai jam 4 sore. Bagi guru,

ia mulai bekerja sejak jam 7 pagi. Bagi penulis, ia bekerja bisa 20 jam sehari

atau malah hanya 2 jam sehari. Bagi aktor, olahragawan, musisi, artis,

penari, semuanya punya jam kerja ireguler.

Pada tahun 1930 seorang profesor ekonomi bernama John Maynard

Keynes pernah bilang kalau jam kerja manusia kelak bisa hanya 3 jam sehari

untuk 5 hari kerja. Ini karena ia beranggapan manusia akan terus

mengakumulasi barang sehingga kelak barang akan murah dan si manusia

juga sudah tercukupi kebutuhannya. Tetapi rupanya ramalan Keynes tidak

terbukti karena manusia bukan hanya mau barang berharga murah tetapi

mau barang mahal agar merasa dirinya ‘superior’ atau ‘mahal’ atau

‘penting’. Jadilah air minum tidak cukup Aqua tapi Evian import dari

Perancis, jadilah HP tiap berapa bulan ganti mode terbaru, jadilah menonton

film tidak cukup nonton TV tetapi musti di bioskop 3 dimensi. Sedang

biasanya tabungan tidak bertambah banyak, justru hutanglah yang

Page 13: Perlukah Saya Kerja

bertambah banyak dengan adanya kartu kredit yang membuat orang mudah

mengikuti keinginan hawa nafsunya.

Page 14: Perlukah Saya Kerja

Kerja dengan apa

Semua yang ada di diri manusia dan di alam bisa digunakan untuk alat

kerja. Musisi butuh telinga, pelukis butuh mata, penjahit butuh tangan, aktor

butuh mulut, pemain sepakbola butuh kaki, dsb.

Kerja bisa dengan pulpen, atau komputer, atau mobil, atau obat atau

gunting, apa saja deh. Tapi umumnya butuh listrik. Distribusi kerja tidak

merata ke seluruh badan. Bagi penulis, mata adalah kebutuhan tetapi ia tidak

perlu banyak bicara. Bagi penyiar radio, mulutlah yang terpenting. Itu

sebabnya lama-kelamaan ada orang yang bisa menulis cepat, karena ia

memang kerjanya sebagai tukang ketik. Ada yang bisa tahan napas lama-

lama dalam air, ini karena mereka bekerja mengambil kerang di bawah laut.

Ada yang bisa tahan menyupir mobil formula, ini karena mereka pengemudi

formula. Lama-kelamaan kerja kita menjadi sangat dekat dengan identitas

kita. Hingga kadang seluruh hidup kita terserap ke pekerjaan kita itu. Kalau

kerja dengan hati biasanya pekerjaan itu bagus. Tetapi itu juga tidak cukup

untuk membuat suatu mahakarya, kalau ini kerja dengan apa tiada yang tahu

pasti. Tidak ada yang tahu kenapa dari ribuan band, The Beatles menjadi

band paling populer dan berpengaruh, apa yang membuat keempat orang ini

begitu tinggi di tanah legenda musik? Tentu bukan karena mereka laki-laki,

bukan karena mereka dari Liverpool, bukan karena mereka orang kelas

menengah, bukan karena mereka semua tidak pernah kuliah. Jadi ini faktor

X. Jangan terlalu berambisi menjadi yang terhebat, tapi berambisilah untuk

menjadi cukup hebat. Kerjalah dengan profesional.

Page 15: Perlukah Saya Kerja

Hasil kerja

Hasil kerja bisa berupa barang, tetapi banyak yang tidak terlihat seperti

kerja padahal itu kerja keras. Jika anda ke toko buku lalu melihat susunan

buku rapi, nah itu ribuan buku nggak berbaris dengan sendirinya, banyak

tangan pegawai toko buku yang merapikannya. Lalu lantainya bersih kan?

Karena ada yang ngepel tiap harinya. Terang kan? Karena ada yang pasang

lampunya. Dingin kan? Karena ada yang pasang AC. Lalu ada juga hasil

kerja yang sebenarnya lucu karena mereka tidak menghasilkan apapun

kecuali perasaan saja. Pernah lihat satpam di toko buku? Mereka tidak

bekerja sama sekali kan? Cuma diam, nggak merapikan buku, nggak ngepel,

jadinya selama nggak ada yang melakukan kriminal ya dia sebenarnya

nggak dibutuhkan. Tapi karena perasaan was-was yang punya toko akhirnya

dia dipasang disitu. Menurut saya sendiri sih mereka sebenarnya justru

nggak bekerja, cuma berdiri saja, tapi berdirinya itu dibayar. Capek lahir

batin lho cuma berdiri ditempat itu memperhatikan orang lewat berjam-jam.

Adalah hasil kerja orangtua anda bahwa anda bisa hidup sampai sekarang,

atau hasil kerja orangtua dari orangtua anda atau hasil kerja orang yang

perduli kepada anda atau jelas hasil kerja anda sendiri…

Hasil kerja ada yang baik ada yang buruk. Hasil kerja chef warteg dan

chef restoran bintang lima jelas jauh berbeda. Inilah yang membedakan

harganya. Montir yang kerja di pabrik Rolls-Royce beda dengan yang kerja

di bengkel mobil lokal anda. Hasil kerja ‘Made in Japan’ masih superior

dibanding hasil kerja ‘Made in China’. Jadi kalau mau sukses, hasil kerjanya

harus lebih bagus dibanding kompetitor.

Page 16: Perlukah Saya Kerja

Upah kerja

Upah kerja yang sekarang lazim diterima adalah uang. Walaupun uang

sudah ada sejak jaman Mesir kuno, sebenarnya selama ribuan tahun upah

kerja yang paling lazim adalah kerja itu sendiri. Nenek moyang kita yang

memburu binatang bukan memburu binatang untuk dapat selembar kertas

dengan gambar orang yang sudah lama mati dan beberapa lingkaran dan

tanda tangan jelek, tetapi untuk makan hasil kerjanya itu. Lalu mereka mulai

bercocok tanam dan bisa makan dari hasil cocok tanam mereka sendiri.

Kemudian mulai barter. Bahkan ketika uang sudah ada, banyak masyarakat

yang memilih barter baik barter sesama barang atau barter barang dengan

tenaga. Misal seseorang membantu bercocok tanam lalu orang itu diberi

makan. Namun ada juga orang-orang yang bekerja karena itu memberi

mereka kepuasan batin atau mereka rasa hasil kerja itu untuk kepentingan

orang banyak, walaupun mereka tidak mendapat uang atau pengakuan atau

apapun. Bertahun-tahun lalu ada seseorang yang berada di tanah tandus

kering. Setiap orang malas tinggal disitu. Tetapi orang ini melihat dengan

sudut pandang yang beda. Dia justru melihat kesempatan untuk membuat

tanah tandus ini menjadi tanah sejuk yang indah dan penuh kehidupan. Ia

mulai menghabiskan waktu berpikir bagaimana caranya agar tanah ini bisa

bagus. Setelah dapat ide bagus ia segera melakukannya. Ia buat jalur agar air

bisa sampai tanah ini. Ia bawa beberapa biji tanaman. Hal ini ia lakukan

beberapa puluh tahun, sampai ketika ia meninggal, tanah tandus kering itu

sudah berisi penuh tanaman, hewan-hewan dan tentunya komunitas manusia.

Itu mungkin jenis kerja yang sangat mulia, mendapat kepuasan karena tahu

Page 17: Perlukah Saya Kerja

ia bermanfaat bagi lingkungan, walaupun tidak ada yang tahu dan

memberinya pengakuan atau sekedar dukungan.

Page 18: Perlukah Saya Kerja

Teman kerja

Teman kerja yang terpenting adalah semangat, passion. Hampir bisa

dipastikan tanpa semangat, segala pekerjaan jadi seperti beban berat. Entah

bagaimana buruh pabrik mendapatkan semangat ini, apakah ia memikirkan

anaknya yang kecil yang butuh makan hari ini sehingga ia semangat bekerja

atau apa. Tapi tidak bisa dibayangkan apa jadinya jika Rowling tidak

semangat menulis Harry Potter, Schumacher malas mengemudi Formula 1

atau Johnny Depp tidak serius bermain peran , atau arsitek membuat desain

nggak karuan atau pembuat kurikulum asal-asalan buat kurikulum, jadinya

kacau semua dan nggak bermutu.

Teman kerja yang lain adalah dukungan, support, pastilah kita senang bila

kita didukung, minimal oleh keluarga dan maksimal oleh banyak orang, dan

didukung fasilitas yang memadai. Obama misalnya dielu-elukan banyak

orang, wah dia jadi semangat. Coba misalnya pas di inagurasi nggak banyak

orang yang datang, dia bisa kurang semangat. Dan Obama ada pada saat

yang tepat di negeri yang tepat yang sudah bisa melihat tanpa batas ras, bila

ia di Indonesia belum tentu ia bisa jadi presiden RI. Coba di final Piala

Dunia yang menonton cuman empat atau lima orang, bisa nggak optimal

mainnya.

Tapi beralih ke dunia nyata, teman kerja ada yang baik ada yang buruk.

Teman kerja yang malas-malasan, mengajak untuk korupsi atau bahkan

korupsi terang-terangan jelas adalah ‘musuh’ kerja. Tapi teman seperti ini

bukan hanya dikantor, kalau teman sesama pembantu atau sesama bintang

film malas-malasan itu juga salah.

Page 19: Perlukah Saya Kerja

Musuh kerja

Musuh kerja yang paling jelas adalah kebosanan. Bisa dipastikan kalau

anda bosan, sesuatu yang tadinya menarik pun bisa membuat anda muak dan

muntah. Maka beristirahatlah. Dan pastikan anda memang cocok dengan

pekerjaan itu (sekali lagi saya kasihan kepada orang-orang yang terpaksa

kerja dan kerjaan itu tidak cocok sebenarnya untuk siapapun seperti bekerja

di gunung pembuangan sampah akhir atau dipabrik-pabrik tanpa ventilasi

udara yang baik).

Di dunia nyata musuh kerja adalah orang-orang yang iri atau takut

pekerjaannya diambil oleh anda, wah, orang-orang seperti ini bahaya.

Waspadalah. Dan kalau anda orang seperti ini, insaflah.

Page 20: Perlukah Saya Kerja

Keluarga kerja

Karena manusia makhluk sosial mereka biasanya masuk ke suatu

komunitas. Hampir setiap jenis pekerjaan ada klub atau asosiasi, misal

asosiasi penulis, ikatan dokter, persatuan atlet, himpunan psikologi dan

semacamnya. Bisa jadi orang tertarik kepada suatu pekerjaan karena prestis

dan masuk ke suatu klub pekerjaan itu membuat dia puas. Tapi hati-hati,

tidak jarang karena terlalu sibuk mengurusi organisasi kantor justru keluarga

beneran jadi tidak terurus dan jarang bertemu. Jadilah kerja jadi keluarga

dan keluarga jadi kerja. Kadang malah akhirnya terjadi cerai dan menikah

lagi dengan orang sekantor.

Bagi Ralph Nader, seorang aktivis lingkungan dari Partai Hijau Amerika,

ia katakan ia harus memilih punya karir atau keluarga, dan ia memilih

berkarir. Hingga umur 73 tahun ia tidak punya istri tidak punya anak dan

mungkin masih perjaka. Tetapi itu tidak masalah karena Ralph tidak

sendirian, di Eropa dan Jepang sudah jamak orang lebih memilih

membangun karir daripada membangun keluarga. Perempuan Eropa dan

Jepang emoh menjadi ibu yang sibuk mengurus bayi, lebih baik mengurus

karir. Disisi lain banyak juga orang –biasanya perempuan- yang memilih

punya keluarga dan melepaskan karir. Kalau orang seperti ini sudah sampai

tingkat S1 atau S2 apalagi S3 maka ia buang-buang waktu, tenaga, dan uang

saja, apalagi apabila ia memakai uang beasiswa negara. Seorang ibu tidak

dilihat baik atau tidaknya dari tinggi rendah level pendidikan formalnya,

karena dipendidikan formal tidak diajarkan mengurus bayi. Jadi tidak ada

relevansi bahwa seorang ibu yang profesor anaknya bakal atau bakat jadi

profesor juga karena kita lihat ternyata ibunya si profesor tidak pernah

Page 21: Perlukah Saya Kerja

kuliah. Betapa banyak profesor dan rektor di dunia lahir dari ibu yang tidak

tamat SD dan berasal dari kampung. Lebih baik apabila niat jadi ibu rumah

tangga segera berhenti saja kuliah dan mulai belajar memasak, belajar

kedokteran tingkat dasar, belajar cara membesarkan anak dan menyusun

anggaran belanja rumah tangga, sampai tingkat dasar memperbaiki rumah.

Kalau empat tahun belajar itu semua tidak perlu lagi makan diluar rumah

karena semua resep buat pizza, yakiniku, donut udah bisa semua dan

reparasi rumah bisa dikerjakan berdua suami. Kenapa tidak? Amat lebih baik

belajar hal praktis yang aplikatif daripada belajar banyak teori orang yang

cuma relevan di dunia abstrak yang setelah beberapa tahun menjadi ibu

rumah tangga sudah terlupakan semuanya.

Fenomena anak muda sekarang mereka enggan bekerja karena melihat

biaya bekerja jauh lebih besar dari keuntungan bekerja. Jika seorang bekerja

maka dia harus bangun jam 5 pagi, jalan kaki keluar atau naik kendaraan

(udah keluar tenaga, uang dan waktu), lalu sampai kantor bekerja sampai

jam 4, begitu terus selama sebulan dan dapat gaji misal 2 juta. Nah bila

dikalkulasikan biaya transportasi dan makan saja, sudah mencapai 1,1 juta

sendiri. Belum biaya tak terlihat seperti biaya politik kantor, biaya macet ke

dan dari kantor (bila naik taksi sangat ngefek ke argo dan bila naik bis biaya

‘kegerahan’ di bis dihitung), biaya karena melihat pasangan dan anak jadi

jauh berkurang, biaya waktu dan tenaga untuk mengembangkan diri

berkurang, biaya harus menyiapkan diri di rumah untuk persiapan kerja lagi

besok. Nah uang 0,9 juta sisanya setimpal tidak dengan biaya tak terlihat

itu? Sepertinya tergantung, kalau anda punya bantuan finansial yang

permanen dan bisa diandalkan sebaiknya tidak usah kerja seperti itu karena

gaya bekerja seperti itu bisa memperpendek umur anda dan mempercepat

proses penuaan anda. 900 ribu sebulan berarti anda dapat sekitar 225 ribu

Page 22: Perlukah Saya Kerja

per minggu atau 45 ribu per hari, anda kerja 8 jam sehari plus 2 jam bolak

balik kantor berarti 10 jam ya, berarti anda dibayar 4,5 ribu per jam. Nah

tukang parkir bisa dapat 2 ribu per 15 menit. Go figure. Mungkin anda pikir

keadaan akan berubah setelah beberapa tahun. Tetapi entahlah, baru-baru ini

saya ke sekolah dasar dan guru-guru yang mengajar saya dulu masih

mengajar disana pelajaran yang sama dan sepertinya gajinya tidak jauh beda,

mereka semua masih kere-kere juga. Jadi jangan berharap terlalu banyak.

Page 23: Perlukah Saya Kerja

Akhirnya sampai pada yang ditunggu-tunggu, jawaban dari ‘perlukah saya kerja?’ merupakan jawaban besar yang musti dipilah menjadi beberapa pertanyaan:

Apakah anda punya financial support?

Di jaman Romawi kuno, anak-anak dan keturunan orang kaya tidak

bekerja. Bekerja dalam artian bekerja untuk orang lain dianggap sesuatu

yang hina dan bukan untuk bangsawan, tetapi untuk bangsatwan alias budak.

Mereka dikelilingi pelayan yang bertugas memandikan mereka, memakaikan

mereka baju, bahkan kalau malas berjalan ada budak-budak hitam berbadan

tegap yang akan membawa kursi anda kemana saja anda mau di rumah

mewah anda. Bahkan mereka beneran punya budak seks, jadi bila anda dan

pasangan bosan bercinta, masing-masing boleh bercinta dengan budak

seksnya terang-terangan, karena dianggap budak itu bukan manusia

setingkat mereka tapi dianggap seperti binatang peliharaan.Nah karena

mereka jadi tidak punya kerjaan apapun –makan saja bisa disuapin-maka

biasanya mereka jadi sekolah melulu. Sekolah untuk anak orang kaya di

jaman Romawi kuno jangan dibayangkan seperti sekolah di Jakarta. Jauh

lebih eksklusif dibanding sekolah anak orang kaya disini. Sekolah dirumah

masing-masing. Bergantian diajar oleh guru (dan guru ini bukan sekedar

pekerjaan tetapi mereka memang punya reputasi bagus) untuk melukis,

berpuisi, berdiskusi, berdebat, sejarah, belajar memanah, pedang, olahraga,

bermain kuda,dsb. Jadi nggak ada kurikulum pemerintah, tapi memang skill

yang penting.

Ketika agama Kristen masuk ke Romawi dan kemudian selama beratus-

ratus tahun masuk ke dalam pikiran orang Eropa, timbulah suatu gaya pikir

Page 24: Perlukah Saya Kerja

baru. Bahwa bekerja itu mulia dan orang dilahirkan untuk bekerja demi

kemuliaan Tuhan. Bahkan ketika pengaruh agama mulai berkurang dan

sekularisme datang, pengaruh ide ‘kerja ini mulia’ sudah begitu melekat di

pikiran orang sehingga sampai sekarang orang superkaya macam Bill Gates,

Warren Buffett, dan Carlos Slim pun masih merasa perlu datang ke kantor

dan jadi bos, walalupun kekakayaan masing-masing mereka sudah mencapai

diluar nalar 99.99% penduduk dunia, yaitu 500 triliun rupiah. Bila biaya

hidup mereka sebegitu mahal sehingga setahun butuh 1 triliun, butuh waktu

500 tahun untuk duit mereka itu habis, jadi lebih dari tujuh turunan sudah

terjamin.

Hal ini berbeda dari yang dilakukan pada jaman Yunani kuno, orang-orang

kaya yang biasanya jadi penguasa memang anak-anaknya kerja juga di

pemerintahan tetapi tidak terikat jam kerja dan kata ‘kerja’ disini beda

dengan kata ‘kerja’ dalam kalimat ‘Jutaan rakyat Indonesia pergi kerja setiap

hari’. Kerja bagi para penguasa ini sangat nyaman. Dan satu hal lagi yang

perlu dicamkan adalah jangan sampai kerja membuat kita tidak punya waktu

untuk berpikir. Filsuf-filsuf terbesar seperti Epicurus, Socrates, Plato,

Aristoteles, semuanya juga bekerja, tetapi mereka juga bisa menjadi guru-

guru dan pemikir-pemikir. Socrates bahkan terkenal apabila sewaktu jalan ia

mendapat pikiran bagus maka ia langsung berhenti di tempat, bisa lama,

sampai pikiran bagus itu selesai formulanya. Kelak Mark Twain, penulis

Amerika, berkata ‘Work is a necessary evil to be avoided if possible’.

(Bekerja itu adalah kejahatan yang diperlukan, tapi kalau bisa hindari) tentu

ia tidak melihat menulis sebagai sesuatu yang jahat, tetapi pekerjaan yang

anda ambil karena terpaksa untuk cari makan.

Kalau anda kaya, jangan anak anda disuruh sekolah umum. Sekolah

sekarang sudah bingung mau memberi pelajaran apa, makanya para murid

Page 25: Perlukah Saya Kerja

pun juga jadi bingung, coba lihat anak-anak jaman sekarang, mukanya pada

kebingungan, terlalu banyak pelajaran tetapi terlalu sedikit yang bermakna.

Lebih baik fokuskan dia ke apa yang dia mau sejak dini. Jika anak anda

ingin jadi pengemudi Formula 1. Ya lebih baik sejak kecil dilatih menyetir.

Jika anak anda ingin jadi pegolf terbaik atau petenis terbaik atau pemain

basket terbaik, lakukan apa yang dilakukan orangtua Tiger Woods, Serena

dan Venus Williams, dan Michael Jordan, mereka sangat intens berlatih

sejak umur 5 tahun. Karena kebanyakan kurikulum sekolah sebenarnya tidak

diperlukan. Anda pasti tahu itu kan? Anda sudah selesai kuliah dan ketika

anda mengingat 16 tahun perjalanan anda belajar, ternyata yang anda ingat

sangat sedikit dan dari yang anda ingat malah hampir tidak ada yang

penting. Walaupun sudah diajarkan berpuluh-puluh kali, mayoritas rumus

matematika, fisika dan kimia yang diajarkan di SMP dan SMA sudah saya

lupakan sama sekali, dan kalaupun ingat untuk apa? Apa aplikasi rumus-

rumus in untuk hidup saya? Saya sudah lama lupa nama ‘pahlawan-

pahlawan’ atau kapan atau dimana mereka perang. Saya sudah lama nama

kabinet ini atau itu atau apa isi dekrit ini atau itu, atau isi UUD’45 atau butir-

butir Pancasila tetapi selama ini tidak ada satupun aparat pemerintah yang

menahan saya karena saya lupa, bahkan saya yakin Presiden pun tidak hapal

butir-butir Pancasila atau tanggal lahir Imam Bonjol atau berapa kandungan

batubara di daerah tertentu, toh beliau tetap jadi Presiden kan? Saya bahkan

tidak yakin rektor sebuah universitas atau kepala sekolah ingat butir-butir

Pancasila ini. Siapa yang perduli sih?

Jadi kalau anda punya financial support, ya jelas anda tidak perlu kerja

banting tulang. Anda tidak harus kerja bangun pagi pulang malam. Anda

bisa kerja kalau anda mau. Anda boleh-boleh saja kerja seperti Bernie

Ecclestone kerja jadi bos Formula 1 karena memang dia senang menjadi

Page 26: Perlukah Saya Kerja

penguasa arena balap dan jalan-jalan keliling sirkuit di seluruh dunia, atau

Oprah Winfrey yang karena dia memang suka bicara ya dia terus buat acara

TV. Tetapi anda tidak perlu kerja.

Tapi harap sadari bahwa financial support yang berarti dukungan

finansial tidak punya batasan minimal atau maksimal uang. Saya teringat

ucapan seorang kaya disuatu film dokumenter tentang orang kaya, dia

bilang, ‘Uang 50 miliar bagi saya tidak cukup.’ Bayangkan, uang 50 miliar

tidak cukup untuknya. Padahal lebih dari enam milyar manusia tidak akan

pernah melihat uang 50 miliar apalagi memilikinya. Jadi artinya cukup atau

tidak cukup itu bukan dari besarnya jumlah uang kita, tetapi dari besarnya

nafsu kita.

Jika orangtua anda mempunyai gaji 50 juta sebulan dan anda bercita-cita

beli apartemen di Trump Tower seharga 5 milyar, ya anda perlu kerja.

Jika orangtua anda mempunyai gaji 5 juta sebulan dan anda merasa cukup

untuk makan tempe dan nasi setiap hari, tanpa perlu keluar untuk ke mal,

makan-makan, nonton film, maka anda tidak perlu kerja. Anda bisa bilang

anda bisa barter tenaga dengan fasilitas rumah plus makanan. Di majalah

Time edisi Maret 2010 awal, ada tulisan ‘The Dropout Economy’, dimana

disitu ditulis jumlah orang muda yang hidup bersama orangtuanya

meningkat, banyak yang memilih menjadi funemployed (sebutan bagi orang

yang sengaja tidak kerja karena ingin mengeksplorasi hidupnya dan tidak

mau jadi budak perusahaan berbasis ekonomi kapitalis konsumerisme. Ingat

lho kasus buruh pabrik Nike. Biaya buat sepatu Nike cuma 10 ribu rupiah,

dijual diluar negeri bisa sampai 2 juta, nah si buruh sepatu cuma dapat upah

10 rupiah tiap sepatu, mereka produksi 3000 sepatu per hari, nah yang

1.999.990 lainnya ya untuk bos-bos mereka, semakin tinggi semakin banyak

duit, walaupun kerjanya semakin nyaman), mereka semakin lama semakin

Page 27: Perlukah Saya Kerja

tidak nyaman dengan gaya hidup kerja 9-to-5 dan merasa hidup di budaya

yang terlalu berlebihan memuja barang dan uang serta tidak perduli

lingkungan. Orang-orang muda juga jadi malas sekolah dan kuliah karena

merasa mereka diberikan pelajaran yang sudah tidak relevan lagi dengan

tuntutan jaman dan jenis pekerjaan. Tanda-tanda kemalasan ini dapat dilihat

dari data bahwa di Amerika Serikat jumlah orang yang kuliah menurun

sampai sepertiga. Orang melihat pendidikan tinggi itu hanya penanda status

saja (status marker and nothing else). Duapuluh sampai tigapuluh tahun lagi,

hampir 80% jenis pekerjaan yang sekarang dilakukan manusia sudah bisa

dilakukan secara total oleh robot atau mesin. Sisanya hanya bisa dilakukan

oleh spesialis-spesialis. Kelak di negara-negara maju, akan ada robot

pembantu rumah tangga dan mobil yang dapat menyupir sendiri. Sehingga

PRT, TKI dan supir jadi nggak laku. Guru-guru les bahasa sebenarnya juga

tidak efektif. Satu orang guru mengajar sepuluh orang dengan kemampuan

berbeda selama 45 menit atau sejam berarti masing-masing hanya dapat

perhatian 6 menit dan musti bayar ratusan ribu per bulan. Padahal di internet

ada banyak layanan les bahasa yang gratis, lengkap, dan anda bisa interaksi

dengan banyak orang (BBC/languages dan busuu contohnya).

Page 28: Perlukah Saya Kerja

Bagaimana status keuangan anda?

Jika cashflow anda positif, artinya dukungan finansial positif dan anda

tidak punya hutang dalam bentuk apapun, anda tidak perlu kerja. Apalagi

jika situasinya begini: Anda adalah satu dari tiga anak. Orangtua anda

bekerja. Lalu anda dan kedua saudara anda semua menikah, mereka

kemudian pindah rumah ke mertua masing-masing. Rumah orangtua anda

yang tadinya punya empat kamar tempat tidur, kini kosong tiga. Nah

daripada anda juga ikut pindah rumah, lebih baik anda menempati salah satu

kamar itu dan kelak satu kamar untuk anak anda, atau kalau ada dua anak ya

masih ada satu kamar kosong. Kalkulasikan kebutuhan anda dan keluarga

anda selama satu tahun, pecah menjadi satu bulan, lalu pecah menjadi

mingguan. Kalau keluarga anda tidak banyak maunya, anda bisa hidup

dengan makan nasi dan telor saja, menonton TV dirumah, dan menggunakan

fasilitas internet. Dengan hidup green, anda bisa menghemat pengeluaran

listrik rumah. Jadi sebenarnya anda justru menghemat pengeluaran orangtua

anda dan diri anda sendiri. Menurut situs-situs how to be green, tinggal di

satu rumah yang kecil atau tinggal rame-rame lebih baik untuk lingkungan

karena membutuhkan daya listrik yang lebih kecil dan lebih berdayaguna.

Rumah Al Gore yang begitu luas membuat dia tidak green, dia harus bayar

biaya listrik Rp.300 juta per bulan, itu bisa buat biaya listrik 300 bulan bagi

suatu rumah kecil yang sadar listrik (rumah kecil maksudnya rumah standar

yang garasinya muat satu atau dua mobil, ada tiga atau empat kamar mandi,

ada tiga atau empat AC). Sedangkan misal anda adalah orangtua dan anak

anda yang tadinya tinggal sama anda sekarang punya rumah sendiri, jadilah

dobel biaya listrik untuk lemari es, gas dapur, penerangan waktu malam,

Page 29: Perlukah Saya Kerja

belum lagi pasang TV kabel dan internet sendiri (padahal biasanya jarang

digunakan). Belum apabila ingin bicara atau bertemu jadi buang-buang pulsa

telepon dan bensin, padahal tadinya gratis. Mengenai privasi sih santai saja,

asalkan masih ada pintu untuk menutup anda ketika buang air besar, tidak

ada yang akan melanggar privasi anda. Memangnya selama ini orangtua

anda terlalu ikut campur apa? Atau memangnya selama in anak anda terlalu

ingin tahu apa? Kan tidak. Alasan pindah rumah karena ingin mandiri itulah

yang diiklankan oleh pembuat real estate agar anda bersedia mengeluarkan

uang dan pisah dari orangtua untuk menyenangkan hati pengusaha real

estate yang menjual rumah puluhan kali harga beli awal. Itu tindakan bodoh,

setidaknya oleh aktivis hijau yang sudah sewajarnya menjadi panutan kita.

Jadi bila dulu orang berlomba-lomba mempunyai rumah sendiri dan besar-

besar, anda sebenarnya musuh lingkungan bila sekarang anda berbuat seperti

itu. Hal ini bukan sekedar ide saja, jutaan orang yang sadar lingkungan

sudah mulai tinggal lagi bareng orangtua mereka dan sadar listrik. Dengan

begini juga uang yang tadinya untuk cicilan rumah bisa ditabung untuk dana

darurat (dana darurat seharusnya cukup untuk hidup 3 bulan tanpa ada uang

masuk) dan untuk kebutuhan dasar masa depan. Mereka juga mulai anti-

mobil pribadi, dan memilih tranportasi umum atau keluar apabila perlu. Dan

biasanya pergi ke pasar lokal (untuk mendukung perekonomian lokal dan

juga hasil lokal lebih green karena carbon offset yang dihasilkan lebih kecil

dibanding produk impor) atau toko kecil (tidak pergi ke perusahaan besar

yang menguasai pangsa pasar). Dan belinya sekali banyak karena jatuhnya

lebih murah dan jadi tidak perlu sering-sering pergi (yang mengakibatkan

buang-buang uang, waktu, dan tenaga). Beli sambal misalnya, belilah

langsung yang 5 kg, harganya sekitar 55.000 lebih murah daripada beli yang

Page 30: Perlukah Saya Kerja

750gr seharga 18.000. Beli pampers langsung beli beberapa box besar

daripada satu box kecil. Beli beras untuk keperluan tiga bulan.

Page 31: Perlukah Saya Kerja

Berapa umur anda?

Percaya atau tidak, bila umur anda kurang dari 1 hari, anda malah dilarang

kerja, kerja anda adalah tidur, menangis, minum ASI, dan buang air, dan

siklus itu berulang terus sampai sekitar 2 tahun (dengan perkembangan fisik

dan motorik tentunya). Umumnya orang kelas menengah sampai ke atas

tidak perlu kerja sampai usia 12 tahun. Walaupun pernah dulu adik saya

yang kelas 4 SD bantu-bantu saya jualan barang ‘bekas’ yang kami pakai

seperti kaset atau VCD selama beberapa menit. Sayangnya kalau anda orang

miskin, anda sudah mulai kerja sejak anda berumur beberapa bulan. Sering

kan kita lihat ibu-ibu bawa anak bayi meminta uang di lampu merah? Ya itu

kerjaan juga lho, butuh tekad dan usaha yang saya yakin kebanyakan dari

kita kelas menengah nggak bakal bisa atau mau melakukan.

Kalau di negara Barat anak umur SMP atau SMA sudah bisa part-time job

sih atau kerjaan bantuin tetangga seperti memotong rumput tetangga atau

menjadi babysitter pada hari sabtu, dan bayarannya selama beberapa jam

bisa sama dengan bayaran pembantu disini selama satu bulan.

Kalau anda bagian dari kaum kelas bawah, kerjaan sudah menanti, anda

biasanya tidak sekolah, bahkan SD pun tidak tamat. Data menyebutkan ada

110 juta anak yang nggak sekolah di dunia ini pada tahun 2009, jadi bila

anda tidak sekolah, jangan khawatir, ada banyak sekali teman tidak sekolah

anda. Nah siap-siaplah bekerja menjadi pengemis, banci, bandar narkoba,

pelacur, germo, tukang sampah, gembel, atau kalau anda beruntungan sedikit

anda bisa jadi tukang parkir atau buat lapangan sewa parkir nah ini bisa

banyak uang, atau jadi pembantu atau supir atau jualan mie atau bubur

ayam, kalau sukses anda bisa buka cabang. Dulu pembuat restoran

Page 32: Perlukah Saya Kerja

‘Sederhana’ termasuk golongan bawah, dia jualan makanan padang pakai

gerobak, tetapi karena makanannya enak dan dia semangat, jadi deh ada

puluhan restoran ‘Sederhana’ yang sekarang sudah tidak sederhana lagi.

Page 33: Perlukah Saya Kerja

Apakah anda ingin atau harus bekerja?

Percaya atau tidak, bagi sebagian orang bekerja itu bukan kewajiban,

bukan keharusan, bukan keperluan, tapi keinginan. Orang seperti ini malah

gerah kalau disuruh liburan ke tempat eksotik menikmati matahari dan

pantai bersama pasangan dan anak. Mereka inginnya kerja, kerja, dan kerja

terus. Di Jepang pada tahun 1980-an banyak sekali orang meninggal di

tempat kerja! Bagi orang Jepang mereka merasa bangga kalau datang paling

pagi dan pulang paling malam, jadinya ya makin lama orang makin lama

tinggal di kantor. Bisa jadi 18 jam di kantor.

Menurut saya sih, orang yang hidupnya wajar-wajar saja, maksudnya tidak

sederhana tapi tidak berlebihan juga dapat hidup dengan biaya 100-200 juta

per tahun. Sederhana itu kalau mobil cuman satu dan mereknya kijang tahun

1990an. Itu sederhana. Kalau berlebihan misalnya koleksi mobil Rolls

Royce sampai ratusan. Tetapi kalau pas sesuai kebutuhan ya mobil dua atau

tiga dengan merek Toyota atau Nissan atau Honda yang cukup baru.

Sederhana apabila liburan hanya ke Ancol, tidak pernah keluar kota

(sebenarnya kaum Greeners menganjurkan hal ini, liburan dalam kota saja,

karena carbon offsetnya jauh lebih kecil, tidak buang-buang bensin ke luar

kota apalagi ke luar negeri), berlebihan apabila sering ke luar negeri cuma

buat lihat-lihat arsitektur jaman dulu padahal nggak ngerti-ngerti amat dan

nggak perlu-perlu amat. Pas misal ya ke Bali setahun sekali masih bisa

dimengerti.

Sayangnya banyak orang yang walaupun sudah sering shalat atau ke

gereja atau relijius tetapi ternyata hawa nafsunya untuk beli barang dan

Page 34: Perlukah Saya Kerja

berpergian dan makan-makan malah ibarat rem blong, akhirnya

konsumerisme terus dan terus dan terus. Kalau begini, uang sebanyak

apapun tidak akan cukup.

Bila anda mau hidup tidak berlebihan, anda tidak perlu dua-duanya kerja,

satu orang sudah cukup. Bila kedua orangtua anda kerja dan mereka punya

cukup tabungan, anda tidak perlu kerja. Jika anda dan pasangan bekerja dan

cukup kaya (punya uang 10 miliar di tabungan misalnya), anak cucu cicit

anda (dengan kalkulasi anak cucu cicit anda jumlahnya dua-dua) bisa

mendapat financial freedom bebas finansial tidak perlu kerja lagi.

Page 35: Perlukah Saya Kerja

Apakah anda seorang perempuan atau laki-laki?

Kalau anda seorang perempuan yang mempunyai kodrat keibuan yang

amat kuat, anda tidak perlu kerja diluar rumah seumur hidup. Perempuan

masa kini sudah makin banyak yang hilang kodrat keibuannya, takut hamil

karena nanti perutnya nggak bagus lagi atau kelaminnya ‘melar’, malas

besarin anak karena nanti kurang tidur, uang untuk make-up dan parfum jadi

buat susu dan pampers anak, nah perempuan seperti ini justru kasihan kalau

punya anak, sama-sama menderita, maka bagi mereka silahkan menjadi

wanita karir, atau kalau punya anak cukup satu seperti Hillary Clinton.

Tetapi jika anda penyayang anak, silahkan menjadi ibu. Sekarang ini di

Amerika pun semakin banyak ibu yang memilih menjadi ibu tanpa embel-

embel karir dan semacamnya. Mereka merasa kehidupan pekerjaan

mengurangi kualitas interaksi mereka dengan anak-anak mereka. Padahal

menjadi ibu adalah naluri alamiah mereka, bukannya jadi sekretaris di kantor

atau mengurusi anak orang lain di sekolah atau universitas. Biarkan suami

anda yang bekerja.

Nah kalau anda laki-laki, anda harus lebih aktif, ini memang adil tidak

adil, tetapi bila kita lihat awal sejarah. Laki-lakilah yang berburu dan

kemudian berbagi makanan dengan perempuan. Ini mungkin juga

menjelaskan kenapa kelamin laki-laki dari hampir semua spesies bentuknya

lurus seperti tombak. Karena senjata pertama manusia juga tombak. Entah

kelamin manusia berevolusi mengikuti tombak atau manusia melihat

kelaminnya lalu jadi berpikir membuat tombak. Sedang kelamin perempuan

Page 36: Perlukah Saya Kerja

jadi mirip biji buah-buah menandakan mereka itu bertugas untuk produsi

manusia baru, mirip seperti biji buah yang dari situ muncul tanaman baru..

Tapi lagi-lagi yang penting bukan kerja saja lho. Seperti sudah disebutkan

diatas, kerja itu ada yang enak ada yang nggak, ada yang baik ada yang

buruk, dan kerja itu tidak melulu harus kerja punya bos atau karyawan, hasil

kerja juga tidak perlu produk atau jasa. Yang jelas umat manusia ini selalu

berkembang dalam pemikiran dan ide-ide, ingat umur listrik baru berapa

ratus tahun, umur handphone dan internet bahkan belum sampai dua dekade.

Jadi definisi dan cara bekerja pun akan selalu berubah mengikuti

perkembangan jaman. Namun begitu jika anda memilih menjadi stay-at-

home dad seperti beberapa juta orang di dunia, silahkan saja. Tidak perlu

perdulikan kata orang, memangnya mereka beri anda makan apa? Ini kan

hidup anda, dan kalau itu sudah dipikirkan betul, ya jalani saja.

Page 37: Perlukah Saya Kerja

Anda tinggal di negara mana dan kota mana?

Bila anda tinggal di Zimbabwe, hampir 90% penduduknya nggak bekerja.

Jadi 1 dari setiap 10 orang yang anda temui sudah pasti tidak bekerja.

Bayangkan. Dan mereka ternyata hidup juga. Hidup sederhana sepertinya,

tapi kalau dipikir-pikir, jika hidup kita mewah lalu makan-makan

kebanyakan akhirnya obesitas atau kena penyakit karena makanan misal

kolesterol tinggi, radang usus, sakit jantung, dsb. Jadi ada untungnya hidup

sederhana, walau terpaksa. Ambil baiknya saja. Hidup mewah jadi bingung

sendiri mau liburan kemana, mau pakai mobil yang mana, mau tidur di

rumah yang mana, uangnya mau dipakai apa lagi, mau pakai baju atau

sepatu yang mana, karena banyak inginnya akhirnya pusing dan punya

penyakit tidak puas, kerjaannya mengeluh karena semua tidak pernah seperti

yang diharapkan. Bila tetangga punya mobil lebih baru sedikit langsung iri

dan segera beli lagi, walau nggak perlu. Atau beli lukisan mahal (ada orang

beli lukisan seharga 50 miliar), jadi sinting akhirnya.

Bila anda tinggal di Amerika lalu pindah ke Bali, biaya hidup anda jadi

sangat murah. Banyak turis Bali yang dinegara asalnya bekerja sebagai

pelayan restoran tapi sanggup liburan tiga bulan penuh dari hasil sebulan

kerja. Nah bayangkan bila anda orang Eropa atau Amerika atau Australia

ngumpulin uang lalu tinggalah di negara Asia, asal anda hidup tidak

berlebihan (setiap hari surfing-surfing saja, nggak beli yacht) ya anda bisa

hidup tanpa perlu kerja lagi.

Page 38: Perlukah Saya Kerja

Apakah hubungan anda dengan orangtua anda baik-baik?

Saya tanya ini karena kalau hubungan baik-baik dan orangtua anda

mampu, pastinya mereka tidak mempermasalahkan anda tinggal bareng

mereka. Kelak jika anda punya anak, dan anda berhubungan baik dengan

anak anda, anak anda juga boleh kan tinggal terus bareng anda? Atau kalau

anak anda banyak uang, gantian deh anda tinggal bareng dia. Jadinya anda

tidak pernah kerja sama orang karena sampai umur 40 tahun anda tinggal

bareng orangtua yang kerja dan dari 40 tahun sampai 80 tahun anda tinggal

bareng anak yang kerja. Tapi ini bisa menyakiti harga diri kalau tidak hati-

hati. Namun contohnya banyak, ada saja orang yang sejak lahir sampai umur

80 tahun tidak pernah kerja, baik karena cacat, koma, malas, gila atau

hikikomori (fenomena 2 juta anak muda Jepang yang suatu hari menutup

kamar tidurnya dan tidak pernah keluar-keluar kamar lagi sampai 20 tahun,

30 tahun., fenomena ini mulai menyerempet ke negara lain, sekarang sudah

sampai Korea, Taiwan dan Cina). Kalau anda tidak punya orangtua,

pertanyaannya bisa dimodifikasi: apakah hubungan anda dengan kakek

nenek anda baik-baik? dengan mertua baik? dengan saudara baik? dst.

Karena ada saja lho saudara kandung yang seumur hidup membiayai

saudaranya hidup karena mereka sangat dekat.

Page 39: Perlukah Saya Kerja

Seberapa besar dan banyak kebutuhan dasar anda?

Artinya apakah anda punya cita-cita besar atau biasa atau kecil. Apakah

anda ingin punya pesawat jet pribadi sebesar Boeing 747 dan secepat

Concord yang sanggup membawa semua keluarga dan teman Anda keliling

dunia, plus punya kapal pesiar sendiri, kapal ruang angkasa, kapal selam,

mobil-mobil termewah, motor termewah, dan bahkan kereta sendiri? Nah

kalau begini nama anda harus Bill Gates dan anda punya uang 500 triliun.

Atau anda kerja satu juta tahun. Tetapi kalau anda ternyata tidak perlu punya

transportasi sama sekali, nah ini bisa tanpa kerja.

Apakah anda perlu jadi orang yang cerdas atau biasa saja. Apakah anda

perlu bisa banyak bahasa, keliling universitas-universitas mahal dan top

dunia dan mendapat banyak gelar, dan gelar honorer, dan pengakuan serta

banyak Prize dan Awards, dan masuk sejarah yang ketika 2000 tahun lagi

orang buka buku sejarah nama anda disebut-sebut terus? Atau anda pikir

tidak perlu pengakuan dan banyak ilmu. Cukup ilmu untuk hidup sehat dan

waras, tidur gampang, buang air gampang, makan gampang. Nah ini bagus.

Apakah anda perlu jadi orang cakep dan dikelilingi orang-orang terkenal,

bintang, selebritis dunia dan diundang ke acara-acara eksklusif? Atau anda

cukup hidup seadanya dengan keluarga dan teman yang sewajarnya.

Apa setiap hari anda perlu makan daging dan masakan enak? Atau telor

saja atau tempe atau lima ikan teri sudah cukup?

Hati-hati karena apa yang enak dilidah belum tentu sehat untuk perut,

banyak orang suka makan pedas akhirnya radang usus. Keseringan minun

Page 40: Perlukah Saya Kerja

susu dan buah justru bisa membuat batu ginjal. Dan apa yang mahal belum

tentu lebih sehat dari yang murah. Harga duren jauh lebih mahal dari harga

pepaya atau tomat, tetapi pepaya dan tomat jauh lebih sehat dan banyak

manfaatnya dari duren. Dan apa yang populer belum tentu kita sukai, jadi

jangan jadi korban sesuatu yang populer. Misal film Harry Potter. Banyak

orang yang nonton karena ajakan iklan saja, padahal banyak yang pas

nonton malah bosan atau tidak ngerti. Nah begitulah kejadiannya pada

banyak hal yang kita konsumsi baik bacaan, film, musik, pakaian, rumah,

mobil, bisa saja kita ikut-ikutan apa yang dianggap bagus oleh media massa

padahal menurut kita justru nggak suka. Intinya jika anda suka musik

dangdut, belilah musik dangdut jangan karena gengsi jadinya beli musik

rock yang sebenarnya tidak anda suka. Atau kalau anda suka rock jangan

beli dangdut supaya dianggap kerakyatan padahal telinga anda sakit

dengarnya.

Page 41: Perlukah Saya Kerja

Seberapa besar dan banyak barang-barang yang anda mau beli?

Ini sudah dijawab tetapi sengaja saya tulis spesifik ‘barang’, karena memang

biasanya biaya itu larinya ke barang-barang ‘kemauan’ bukan barang-barang

‘kebutuhan’. Misalnya, anda memang perlu makan, jelas. Tapi kalau anda

lebih memiih menelepon KFC atau McDonald’s atau Hoka-Hoka Bento atau

Es Teler 77 atau Sederhana atau Bread Talk atau Pizza Hut atau Domino

Pizza untuk pesan antar daripada masak telor dadar dan nasi sendiri, itu

‘kemauan’ bukan ‘kebutuhan’. Nah biaya masak telor dadar dan nasi sendiri,

bila dikalkulasi sekitar Rp.2000 rupiah (termasuk biaya gas dan minyak

untuk telor dan air untuk nasi), sedangkan nasi pesan antar sudah 5000

sendiri.

Anda perlu handphone, tetapi membeli BlackBerry atau iPhone

sedangkan anda tidak mengerti dan tidak pula menggunakan fitur-fiturnya

adalah ‘kemauan’ karena anda cukup tolol untuk dipersuasi membeli sesuatu

oleh iklan atau persuasi kapitalis hiper-konsumerisme.

Anda perlu musik, anda sebenarnya bisa nonton MTV, Channel V atau

dengar di radio. Tetapi bila anda mengoleksi 10,000 lagu di iPod, atau beli

5,000 DVD asli atau menghabiskan jutaan rupiah nonton konser musik di

Jakarta, Singapura, dan Hong Kong, sedangkan anda bukan orang kaya

(punya uang diatas 10 miliar di tabungan), maka anda sedang menggali

makam untuk diri anda dan keluarga anda sendiri. Padahal Henry David

Thoreau, seorang filsuf Amerika sudah bilang lebih dari 200 tahun yang

lalu: A man is rich in proportion to the number of things which he can afford

to let alone. (Orang yang kaya itu bukan kaya uang tetapi orang yang nggak

Page 42: Perlukah Saya Kerja

perlu beli banyak barang. Orang yang punya duit 5 juta masih miskin apabila

ia mau beli handphone Vertu seharga 30 juta, tetapi orang yang punya uang

500 ribu sudah kaya karena ia nggak perlu beli handphone apapun)

Dan sebenarnya kecanduan beli barang atau bahkan beli pengetahuan

(terlalu banyak baca buku, nonton film, dengar musik, ke museum) bisa

buruk untuk kesehatan kita secara umum. Maka Thoreau pun mengajak kita

hidup sewajarnya: Simplicity! Simplicity! Simplicity! Let your affairs be as

two or three, and not a hundred or a thousand. (Dikitin urusanmu, jangan

kebanyakan! Dua atau tiga buku kan cukup nggak perlu seratus atau seribu

buku/musik/film. Karena kalau dipikir-pikir plot film, melodi lagu, dan jalan

cerita kan hampir-hampir mirip cuma yang main, yang nyanyi dan yang

nulis beda aja.)

Page 43: Perlukah Saya Kerja

Seberapa lama anda ingin hidup?

Ini penting juga karena, kalau anda mau hidup panjang, anda perlu kerja.

Tentunya ini kalau anda tidak kaya (atau anda merasa masih ingin lebih

kayaan lagi), dan hidup anda ternyata jauh lebih lama dari hidup orangtua

dan anak anda (Misalnya orangtua anda meninggal usia 70an, anak anda

meninggal usia 60an, sedangkan anda masih hidup sampai 120 tahun). Kalau

anda kaya, anda bisa hidup sampai kapan saja. Bahkan para scientist sedang

memikirkan membuat jantung buatan dan organ-organ buatan lain yang bisa

membuat kita hidup lebih lama kalau bukan terlalu lama (ribuan tahun).

Pendiri Kodak, George Eastman, yang kaya dan terkenal, dia bunuh diri

pada umur 60 tahun. Dia menulis surat bunuh diri yang isinya: ‘Saya sudah

hidup penuh, jadi buat apa lagi hidup?’. Dan ada benarnya. Dia sudah kaya,

terkenal, bermanfaat bagi masyarakat banyak, sering beramal, jadi dia sudah

merasa pol hidup sebagai manusia, jadi bosan. Mungkin dia ingin jadi jin,

lalu malaikat, lalu setan, lalu binatang lalu tumbuhan, entahlah, mungkin dia

percaya reinkarnasi. Yang jelas dia bunuh diri bukan karena stres tetapi

karena pertimbangan rasional. Sama misalnya dengan banyak orang yang

tetap memelihara pertemanan padahal hubungan teman itu sudah tidak pas

lagi, ya sebaiknya dilepaskan saja. Kalau kita sudah tidak perlu sesuatu,

lepaskan saja. Bagi George Eastman, ia sudah tidak perlu bangun lagi.

Kalau anda merasa hidup anda sudah penuh pada usia 40 tahun atau 50

tahun, ya silahkan apa anda mau mengikuti George atau hidup terus.

Nyatanya banyak orang yang hidup lama tanpa pernah kerja dan tanpa

pernah berpikir serius tentang masa depan.

Page 44: Perlukah Saya Kerja

Atau anda adalah orang miskin yang merasa hidup terlalu berat, atau

bencong yang merasa benci terhadap nasib, atau siapapun yang merasa

hidupnya berat dan betapa mobilitas sosial itu lambat (90% orang tetap

berada dalam kategori status sosial yang sama dengan orangtua mereka, jika

orangtua anda miskin besar kemungkinan anda juga miskin, jika orangtua

anda kelas menengah anda juga kelas menengah, jika orangtua anda kaya ya

anda kaya. Mungkin beda-beda sedikit saja.), bisa saja anda seperti ribuan

petani India yang karena dililit hutang akibat WTO membuka pasar bebas

sehingga harga produk mereka jadi begitu rendah akhirnya bunuh diri

massal, atau petani di Kalimantan yang ketika krisis moneter bunuh

sekeluarga daripada mereka disiksa penagih hutang. Hidup memang begitu.

Page 45: Perlukah Saya Kerja

Penutup

Nyatalah bahwa perlu tidaknya seseorang itu kerja dipengaruhi berbagai

faktor. Sejarah menunjukkan sistem kerja kantor baru ada sekitar 90 tahun

yang lalu diawal tahun 1910an. Ketika sistem produksi masal mulai dikenal

luas dan industri melebar kemana-mana. Tadinya orang bekerja enam hari,

sekarang bagi sebagian orang ada yang sudah bekerja lima hari saja.

Walaupun di Jepang sehabis perang tahun 1945, semua orang kerja setiap

hari dengan niat ‘Membangun Jepang’. Sedangkan di Zimbabwe tingkat

pengangguran (tidak semua orang yang tidak kerja pengangguran.

Pengangguran adalah orang yang mau kerja tapi nggak dapat kerja)

mencapai 90%.

Saat ini ada 3 miliar orang yang hidup miskin di dunia, walaupun lebih

dari setengah jumlah itu bekerja. Dari anak kecil yang menjadi pengemis

sampai kakek-kakek dan nenek-nekek pemungut sampah. Disisi lain ada saja

generasi ketujuh orang superkaya yang tidak pernah terpaksa kerja (sudah

lebih dari tujuh generasi hidup enak), seperti kisah sebuah keluarga Italia

yang buyut mereka sudah berkuasa di Florence sejak tahun 1400 dan punya

tanah perkebunan luas dan ribuan kuda. Itu mungkin kehidupan yang

didambakan banyak orang. Menunggang kuda yang bagus, dipegunungan

udara segar di Italia, punya rumah megah, dan mengetahui sudah tradisi

keluarga anda selama 600 tahun untuk tidak perlu kerja, tapi kerja untuk

bersenang-senang saja. Karena memang kerja itu menyehatkan. Sama seperti

otot akan sakit atau lemah bila tidak pernah digunakan, kita juga bisa sakit

bila malas-malasan atau hidup tanpa tujuan. Kerja memberikan kita tujuan.

Maka itu seorang ibu yang serius membesarkan anaknya sedang bekerja.

Page 46: Perlukah Saya Kerja

Seorang pembaharu dan pendobrak budaya sedang bekerja. Ingat lho, 90

tahun yang lalu perempuan dan kulit hitam tidak boleh ikut voting di

Amerika. Jadi bekerja belum tentu demi uang. Dan orang yang dapat uang

belum tentu bekerja. Dan orang yang bekerja dan dapat uang belum tentu

benar, seperti para koruptor atau orang yang menerima miliaran uang suap

atau ‘hibah’. Apakah kita ingin hidup kotor seperti itu? Atau hidup

sewajarnya, bermanfaat, dan nyaman seperti Thoreau dan Epicurus. Lebih

dari 2000 tahun yang lalu Epicurus bilang kekayaan yang sesungguhnya

adalah kesehatan, persahabatan dan pengembangan diri (True wealth is

about good health, good relationships, and continued self-improvement),

kunci kebahagiaan adalah tidak berlebihan (Practice moderation), jangan

terlalu banyak pilihan (We’re actually happier with limited options), jangan

kecanduan barang dan mengikuti hawa nafsu karena itu menghancurkan

hidup (addiction and impulsiveness ruin lives), jangan bandingkan diri

dengan orang lain (Don’t compare yourself with others) dan hidup dimasa

sekarang, fokus kepada kehidupan kita sendiri (Don’t let the past eat away

your happiness, focus on the now, focus on your own life, on your own

goals.)

Apakah mungkin dunia ada tanpa kerja? Tanpa kata ‘kerja’ mungkin saja

tetapi tanpa definisi kata ‘kerja’ tidak mungkin. Bagaimana bila semua orang

tidak kerja? Ini pertanyaan yang sama absurdnya dengan bertanya

bagaimana bila semua orang kerja? Jelas tidak mungkin, karena bayi tidak

mungkin kerja kan? Jadi pertanyaan ‘What if’ yang seperti ini tidak perlu

ditanyakan apalagi dijawab. Jawablah khusus untuk diri anda sendiri, karena

situasi anda tidak mungkin sama dengan kondisi orang lain.

Page 47: Perlukah Saya Kerja