peraturan kpu no. 05 2008 tentang tata kerja kpu, kpu provinsi, dan kpu kabupatenkota

Download Peraturan KPU No. 05 2008 Tentang Tata Kerja KPU, KPU Provinsi, Dan KPU KabupatenKota

Post on 28-Oct-2015

159 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Peraturan KPU 5 2008

TRANSCRIPT

  • PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM

    NOMOR 05 TAHUN 2008

    TENTANG

    TATA KERJA KOMISI PEMILIHAN UMUM, KOMISI PEMILIHAN UMUM PROVINSI, DAN

    KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN/KOTA

    KOMISI PEMILIHAN UMUM,

    Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 5 ayat (4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, dipandang perlu menetapkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum tentang Tata Kerja Komisi Pemilihan Umum, Komisi Pemilihan Umum Provinsi, dan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota;

    Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok

    Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3890);

    2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

    (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4287);

    3. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara

    Pemilihan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4721);

    4. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum

    Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4277);

    5. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang

    Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4263);

  • - 2 -

    6. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;

    7. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 33 Tahun 2002

    tentang Kode Etik Pelaksana Pemilihan Umum;

    8. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 89 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Keuangan Komisi Pemilihan Umum;

    Memperhatikan : 1. Keputusan Presiden Nomor 70 Tahun 2001 tentang Pembentukan

    Komisi Pemilihan Umum;

    2. Keputusan Rapat Pleno Komisi Pemilihan Umum tanggal 23 Januari 2008

    MEMUTUSKAN :

    Menetapkan : PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM TENTANG TATA

    KERJA KOMISI PEMILIHAN UMUM, KOMISI PEMILIHAN UMUM PROVINSI, DAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN/KOTA.

    BAB I

    KETENTUAN UMUM

    Pasal 1

    Dalam Peraturan ini, yang dimaksud dengan : 1. Pemilihan Umum, selanjutnya disebut Pemilu adalah sarana pelaksanaan kedaulatan

    rakyat yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945.

    2. Pemilu anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Pemilu untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

    3. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden adalah Pemilu untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

    4. Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah Pemilu untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

  • - 3 -

    5. Penyelenggara Pemilu adalah lembaga yang menyelenggarakan Pemilu untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, dan Presiden dan Wakil Presiden serta Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara langsung oleh rakyat.

    6. Undang-Undang adalah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara

    Pemilu. 7. Komisi Pemilihan Umum, selanjutnya disebut KPU, adalah lembaga Penyelenggara

    Pemilu yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri . 8. Komisi Pemilihan Umum Provinsi dan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota,

    selanjutnya disebut KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota, adalah Penyelenggara Pemilu di provinsi dan kabupaten/kota.

    9. Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, Dewan Perwakilan Rakyat

    Daerah Provinsi, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota selanjutnya disebut DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota adalah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

    10. Pegawai Negeri adalah Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud dalam Undang-

    Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999;

    11. Tata kerja adalah pengaturan uraian tugas dan mekanisme kerja organisasi yang

    meliputi penetapan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan pertanggungjawaban kerja.

    12. Rapat Pleno adalah merupakan forum tertinggi dalam pengambilan keputusan Anggota

    KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota berdasarkan peraturan perundang-undangan.

    Pasal 2

    Penyelenggara Pemilu berpedoman kepada asas : a. mandiri; b. jujur; c. adil; d. kepastian hukum; e. tertib penyelenggara Pemilu; f. kepentingan umum; g. keterbukaan; h. proporsionalitas; i. profesionalitas; j. akuntabilitas; k. efisiensi; dan l. efektivitas.

  • - 4 -

    Pasal 3

    (1) KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota bersifat hierarkis. (2) KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota adalah bagian dari KPU yang bersifat tetap

    sebagai pelaksana kegiatan penyelenggara pemilihan umum di provinsi dan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2.

    (3) Dalam menjalankan tugasnya, KPU dibantu oleh Sekretariat Jenderal, KPU Provinsi dan

    KPU Kabupaten/Kota dibantu oleh Sekretariat.

    Pasal 4

    (1) Untuk penyelenggaraan Pemilu di wilayah kecamatan dan desa/kelurahan, KPU Kabupaten/Kota membentuk Panitia Pemilihan Kecamatan di tiap kecamatan atau sebutan lainnya dan Panitia Pemungutan Suara di tiap desa/kelurahan atau sebutan lainnya.

    (2) Untuk penyelenggaraan Pemilu bagi warga negara Indonesia yang sedang berada di luar

    negeri, KPU membentuk Pokja Pemilu Luar Negeri yang berkedudukan di Departemen Luar Negeri, dan Panitia Pemilihan Luar Negeri yang berkedudukan di setiap perwakilan Republik Indonesia di luar negeri dan bersifat sementara.

    BAB II

    KOMISI PEMILIHAN UMUM

    Bagian Kesatu

    Umum

    Pasal 5 (1) Wilayah kerja KPU meliputi seluruh wilayah Negara Kesatuan Repiblik Indonesia. (2) KPU menjalankan tugasnya secara berkesinambungan. (3) Dalam menyelenggarakan Pemilu, KPU bebas dari pengaruh pihak manapun berkaitan

    dengan pelaksanaan tugas dan wewenangnya.

    Bagian Kedua Kedudukan dan Susunan Organisasi

    Pasal 6

    (1) Komisi Pemilihan Umum adalah lembaga Penyelenggara pemilihan umum Anggota

    DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota, Presiden dan Wakil Presiden serta Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri.

    (2) KPU berkedudukan di Ibu kota negara.

  • - 5 -

    Pasal 7

    (1) Keanggotaan KPU terdiri dari seorang Ketua merangkap anggota dan anggota. (2) Jumlah anggota KPU sebanyak 7 (tujuh) orang.

    Bagian Ketiga Uraian Tugas

    Pasal 8

    Pengambilan keputusan KPU dilakukan dalam Rapat Pleno Anggota KPU.

    Pasal 9

    Keputusan KPU adalah keputusan atau kebijakan yang merupakan pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilihan umum.

    Pasal 10

    (1) Jenis Rapat Pleno sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, terdiri dari :

    a. Rapat Pleno tertutup; dan b. Rapat Pleno terbuka.

    (2) Penetapan hasil Pemilu dan rekapitulasi penghitungan suara dilakukan oleh KPU dalam rapat pleno terbuka.

    Pasal 11

    (1) Rapat pleno KPU sah apabila dihadiri oleh sekurang-kurangnya 5 (lima) orang anggota

    KPU yang dibuktikan dengan daftar hadir. (2) Keputusan rapat pleno KPU sah apabila disetujui oleh sekurang-kurangnya 4 (empat)

    orang anggota KPU yang hadir. (3) Dalam hal tidak tercapai persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), keputusan

    rapat pleno KPU diambil berdasarkan suara terbanyak.

    Pasal 12

    (1) Dalam hal tidak tercapai kuorum, khusus rapat pleno KPU untuk menetapkan hasil Pemilu ditunda selama 3 (tiga) jam.

    (2) Dalam hal rapat pleno telah ditunda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan tetap

    tidak tercapai kuorum, rapat pleno dilanjutkan tanpa memperhatikan kuorum. (3) Khusus rapat pleno KPU untuk menetapkan hasil Pemilu tidak dilakukan pemungutan

    suara.

  • - 6 -

    Pasal 13

    (1) Undangan dan agenda rapat pleno KPU disampaikan paling lambat 3 (tiga) hari sebelum rapat pleno KPU dilaksanakan.

    (2) Rapat pleno dipimpin oleh Ketua KPU. (3) Apabila ketua berhalangan, rapat pleno KPU dipimpin oleh salah satu anggota yang

    dipilih secara aklamasi. (4) Sekretaris Jenderal KPU wajib memberikan dukungan teknis dan administratif dalam

    rapat pleno.

    Pasal 14 (1) Ketua KPU wajib menandatangani penetapan hasil Pemilu yang diputuskan dalam rapat

    pleno

Recommended

View more >