peraturan daerah kota bontang - ?· 5. undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintahan...

Download PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG - ?· 5. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah…

Post on 08-Mar-2019

215 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PERATURAN DAERAH KOTA BONTANGNOMOR 10 TAHUN 2003

TENTANG

PELAYANAN DAN RETRIBUSI IZIN GANGGUAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALI KOTA BONTANG,

Menimbang

Mengingat

:

:

a. bahwa setiap orang atau badan hukum yang mengadakan kegiatan yang termasuk 20 (dua puluh) jenis usaha sebagaimana dimaksud pasal 1 ayat (1) Undang-undang Gangguan (Hinder Ordonantie) Tahun 1926 diwajibkan memiliki Izin Gangguan;

b. bahwa untuk melaksanakan sebagaimana dimaksud huruf a di atas serta untuk menjaga kepentingan umum, keamanan, dan keselamatan lingkungan perlu menetapkan Peraturan Daerah Kota Bontang tentang Pelayanan dan Retribusi Izin Gangguan dalam Daerah Kota Bontang.

1. Undang-undang Gangguan (Hinder Ordonantie) Stbl Tahun 1926 Nomor 226 yang diubah dan ditambah dengan Stbl Tahun 1940 Nomor 14 dan 450;

2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209);

3. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048);

4. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699);

5. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);

6. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848);

7. Undang-undang nomor 47 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten

1

Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur dan Kota Bontang (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 175, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3896) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2000 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara nomor 3962);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3258);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838);

10. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Pemerintah Provinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);

11. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan atas Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090);

12. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 Tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4139);

13. Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2002 tentang Pembentukan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Kota Bontang;

Dengan Persetujuan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA BONTANG

M E M U T U S K A N :

Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG TENTANG PELAYANAN DAN RETRIBUSI IZIN GANGGUAN

BAB IKETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Kota Bontang;

2. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta Perangkat Daerah Otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah;

3. Kepala Daerah adalah WaliKota Bontang;

2

4. Izin Gangguan adalah izin yang diberikan bagi tempat-tempat usaha berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-undang Gangguan/Hinder Ordonantie (Stbl Tahun 1926 jo Stbl Tahun 1940 Nomor 14 dan 450);

5. Perusahaan adalah badan hukum atau perorangan yang melakukan kegiatan usaha secara teratur dalam suatu kegiatan usaha untuk mencari keuntungan;

6. Industri adalah kegiatan yang mengolah bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau bahan baku menjadi bahan jadi;

7. Retribusi Perizinan Tertentu adalah retribusi atas kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksud untuk pembinaan, pengaturan, pengendalian dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang penggunaan sumber sumber daya alam, prasarana sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan;

8. Tempat Usaha adalah tempat-tempat melakukan usaha yang dijalankan secara teratur yang meliputi luas bangunan dan luas lahan sarana penunjang dalam suatu bidang usaha tertentu dengan maksud mencari keuntungan;

9. Luas Ruang Tempat Usaha adalah luas ruang yang digunakan untuk usaha meliputi bangunan tertutup maupun terbuka yang dapat menimbulkan gangguan;

10. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengelola data atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan Pemeriksa Kewajiban Daerah berdasarkan Peraturan Perundang-undangan Retribusi Daerah;

11. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut Peraturan Pemerintah tentang Retribusi Daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi;

12. Surat Ketetapan Retribusi Daerah selanjutnya disingkat SKRD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah yang terutang;

13. Surat Tagihan Retribusi Daerah untuk selanjutnya disingkat STRD adalah untuk melakukan tagihan retribusi dan atau sanksi administrasi berupa biaya dan atau denda;

14. Penyidikan Tindak Pidana dibidang perpajakan daerah dan retribusi adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana dibidang perpajakan daerah dan retribusi yang terjadi serta menemukan tersangkanya;

15. Indeks Lokasi adalah angka indeks klasifikasi jalan yang ditetapkan berdasarkan lokasi atau letak dan kondisi lingkungan;

16. Indeks Gangguan adalah angka indeks besar kecilnya gangguan yang mungkin ditimbulkan oleh perusahaan industri;

17. Jalan Arteri adalah jalan yang melayani angkutan jarak jauh dan sedang, kecepatan rata-rata tinggi dan jumlah jalan masuk dibatasi;

18. Jalan Kolektor adalah jalan yang melayani angkutan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang dan jumlah jalan masuk dibatasi;

19. Jalan Lokal adalah jalan yang melayani angkutan setempat, dengan ciri-ciri pelayanan jarak dekat;

3

20. Pemrakarsa adalah setiap orang atau badan yang melakukan kegiatan usaha.

BAB IIOBYEK DAN SUBYEK IZIN GANGGUAN

Pasal 2

(1) Objek Izin Gangguan adalah semua tempat usaha yang diadakan di Kota Bontang yang kegiatan usahanya berdasarkan pasal 1 ayat (1) Undang-undang Gangguan (HO) Staatblaad tahun 1926 yang telah diubah dan disempurnakan terakhir dengan Staatblaad tahun 1940 Nomor 14 dan 450;

(2) Subyek Izin Gangguan ialah Setiap Orang atau Badan Hukum yang mendirikan dan atau memperluas tempat usaha berdasarkan pasal 1 ayat (1) Undang-undang Gangguan (HO) Staatblaad tahun 1926 yang telah diubah dan disempurnakan terakhir dengan Staatblaad tahun 1940 Nomor 14 dan 450.

BAB IIIPENGGOLONGAN USAHA/PERUSAHAAN

Pasal 3

(1) Penggolongan usaha/perusahaan terdiri dari jenis usaha/perusahaan yang menggunakan mesin dan usaha/perusahaan yang tidak menggunakan mesin, yaitu:

a. Jenis usaha/perusahaan yang menggunakan mesin dengan intensitas gangguan besar/tinggi;

b. Jenis usaha/perusahaan yang menggunakan mesin dengan intensitas gangguan sedang;

c. Jenis usaha/perusahaan yang menggunakan mesin dengan intensitas gangguan kecil;

d. Jenis usaha/perusahaan yang tidak menggunakan mesin dengan intensitas gangguan besar/tinggi;

e. Jenis usaha/perusahaan yang tidak menggunakan mesin dengan intensitas gangguan sedang;

f. Jenis usaha/perusahaan yang tidak menggunakan mesin dengan intensitas gangguan kecil;

(2) Penggolongan jenis usaha/perusahaan sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini tercantum dalam lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.

BAB IV

4

TATA CARA DAN PERSYARATAN PEMBERIAN IZIN UNDANG-UNDANG GANGGUAN

Pasal 4

(1) Untuk memperoleh Izin Undang-undang Gangguan, pemohon harus mengajukan permohonan tertulis kepada Kepala Daerah melalui Kantor Pelayanan Terpadu Kota Bontang;

(2) Permohonan sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini dilengkapi dengan persyaratan sebagai berikut:

a. Melampirkan denah lokasi dan ukuran tempat usaha;

b. Surat Pernyataan tidak keberatan dari tetangga/penyanding Pemilik Rumah yang berbatasan dengan tempat usaha diketahui oleh RT dan Lurah setempat dan atau rekomendasi dari Instansi terkait sesuai dengan jenis usaha;

c. Photo copy KTP pemohon;

d. Tanda bukti kepemilikan/penguasaan tanah;

e. Akta pendirian perusahaan;

f. Surat Izin Mendirikan Bangunan dan atau bukti kepemilikan/ penguasaan bangunan tempat usaha;

g. Tanda lunas pembayaran PBB;

h. Materai Rp. 6.000,- dan Rp. 3.000,-