penggunaan media kartu bergambar ... - digilib.uns.ac.id... · perpustakaan.uns.ac.id...

of 129/129
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user i PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR (FLASH CARD) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA ANAK KELOMPOK B1 SEMESTER II TK PELANGI KLUWUNG KEMIRI PURWOREJO SKRIPSI OLEH: IRNA DWI RAHMAYANTI X8110024 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA Juli 2012

Post on 12-Mar-2019

213 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

i

PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR (FLASH CARD)

UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA

ANAK KELOMPOK B1 SEMESTER II TK PELANGI

KLUWUNG KEMIRI PURWOREJO

SKRIPSI

OLEH:

IRNA DWI RAHMAYANTI

X8110024

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

Juli 2012

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ii

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

iii

PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR (FLASH CARD)

UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA

ANAK KELOMPOK B1 SEMESTER II TK PELANGI

KLUWUNG KEMIRI PURWOREJO

Oleh:

IRNA DWI RAHMAYANTI

X8110024

Skripsi

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan mendapatkan gelar Sarjana

Pendidikan Program Pendidikan Anak Usia Dini, Jurusan Ilmu Pendidikan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

Juli 2012

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

iv

PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji.

Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.

Surakarta, Juli 2012

Pembimbing I

Dra. Yulianti, M.Pd

NIP. 19541116 198203 2 002

Pembimbing II

Drs. M. Shaifuddin, S. Pd, M.Pd, M.Sn

NIP. 19530428 198803 1 001

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

v

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

vi

MOTTO

Selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik walau belum pasti berhasil

tapi Allah pasti akan selalu membimbing.

Mulai dari mimpi raih dengan jujur wujudkan dengan usaha dan doa

nikmati hasilnya dengan berbagi kepada orang lain.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

vii

PERSEMBAHAN

Teriring syukurku pada-Mu, kupersembahkan karya ini untuk:

Bapak dan Ibu tercinta

Doamu yang tiada terputus, kerja keras tiada henti, pengorbanan yang tak

terbatas dan kasih sayang tidak terbatas. Semuanya membuatku bangga memiliki

kalian. Tiada kasih sayang yang seindah dan seabadi kasih sayangmu.

Wahyu Eri H, Nisa Rahmadhani, Indra Yulianto dan seluruh keluarga

Terima kasih karena senantiasa mendorong setiap langkahku dengan

perhatian dan semangat serta selalu ada di sampingku baik di saat kutegar

berdiri maupun saat kujatuh dan terluka.

Bapak H. Y. Padmono yang telah berpulang kerahmatullah

Terima kasih atas jasamu yang telah membimbing dan memberikan arahan,

semoga segala amal baikmu diterima di sisi Allah SWT. Amin.

Teman-temanku tercinta

Terima kasih atas semangat, perjuangan dan kerjasamanya.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

viii

ABSTRAK

Irna Dwi Rahmayanti, NIM X8110024. PENGGUNAAN MEDIA KARTU

BERGAMBAR (FLASH CARD) UNTUK MENINGKATKAN

KETERAMPILAN BERBICARA ANAK KELOMPOK B1 SEMESTER II

TK PELANGI KLUWUNG KEMIRI PURWOREJO.

Skripsi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Surakarta, Juli 2012.

Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan keterampilan berbicara melalui

penggunaan media kartu bergambar (flash card) anak kelompok B1 Semester II

TK Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo.

Bentuk penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas terdiri dari tiga

siklus. Tiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan,

observasi dan refleksi. Subjek penelitian adalah anak kelompok B1 TK Pelangi

Kluwung Kemiri Purworejo yang berjumlah 25 siswa yang terdiri dari 15 laki-laki

dan 11 perempuan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi,

wawancara, tes dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik

analisis model interaktif yang terdiri dari tiga komponen analisis yaitu reduksi

data, penyajian data dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Uji validitas penelitian

ini menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan digunakannya media kartu

bergambar dapat meningkatkan aktivitas anak dan keterampilan berbicara dari

prasiklus ke siklus I, dari siklus I ke siklus II dan dari siklus II ke siklus III.

Adanya peningkatan prosentase ketuntasan belajar anak yaitu pra tindakan 40%

atau 10 anak, siklus pertama 56% atau 14 anak dengan nilai rata-rata kelas 1,9,

siklus kedua 72% atau 18 anak dengan nilai rata-rata kelas 2,18, dan siklus ketiga

88% atau 22 anak dengan nilai rata-rata kelas 2,45. Berdasarkan hasil penelitian di

atas maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media kartu bergambar (flash

card) dapat meningkatkan keterampilan berbicara anak kelompok B1 Semester II

TK Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo.

Simpulan penelitian ini adalah penggunaan media kartu bergambar (flash

card) meningkatkan keterampilan berbicara anak kelompok B1 Semester II TK

Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo.

Kata kunci: media kartu bergambar, keterampilan berbicara anak usia dini

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ix

ABSTRACT

Irna Dwi Rahmayanti, NIM X8110024. USEING OF FLASH CARD MEDIA

FOR CHILDREN SPEAKING SKILLS TO IMPROVE IN B1 GROUP OF

TK PELANGI KLUWUNG KEMIRI PURWOREJO SEASON II AT

2011/2012 ACADEMI9C YEAR. Minithesis, Teacher Training and Education

Faculty of Sebelas Maret University. July 2012.

The purpose of this research is to improve speaking skills through the

using of flash card media of the B1 group of kindergarten children Pelangi

Kluwung Kemiri Purworejo Season II At 2011/2012 Academic Year.

The type of this research is classroom action research consisting of three

cycles. Each cycles was consist of four phases, there are planning, action

implementation, observation and reflection. The subject of this study is

kindergarten students Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo B1 group, amounting

to 25 students consisting of 15 boys and 10 girls The technique to collection data

is observation, interviews, test and documentation. The technique to analysis data

used was an interactive model, which consist of three components, namely data

reduction, presentation of data and drawing conclusions (verification). The

validity test of this research used triangulation of resources and triangulation on

techniques.

The results showed that the use of flash card media can increase the

activity of the child and speaking skills to cycle pre-action I, from cycle I to cycle

II and from cycle II to cycle III. There is an increasing percentage of completeness

that is pre-action childrens learning 40% or 10 children, the first cycle of 56% or

14 children with an average grade 1.9, the second cycle of 72% or 18 children

with an average value of 2.18 grade, and The third cycle of 88% or 22 children

with an average grade 2.45. Based on the above results it can be concluded that

the use of flash card media can enhance the skills speaking of the B1 group

kindergarten children Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo school Season II At

2011/2012 Academic Year.

Conclusion The results of this study is the use of flash card media improve

speaking skills B1 group of kindergarten children Pelangi Kluwung Kemiri

Purworejo Season II At 2011/2012 Academic Year.

Key words: Flash card, speaking skills of early childhood

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan kepada Allah SWT atas

limpahan berkat, rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini dengan judul Penggunaan media Kartu Bergambar (Flash Card)

Untuk Meningkatkan Keterampilan berbicara Anak Kelompok B1 Semester II TK

Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo.

Penulisan skripsi ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat guna

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan program Pendidikan anak Usia Dini

(PAUD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Surakarta. Penulis menyadari penulisan skripsi ini telah melibatkan beberapa

pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih

kepada:

1. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Surakarta.

2. Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Ketua Program Studi PG-PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Dra. Yulianti, M. Pd selaku Dosen Pembimbing I Program Studi PG-PAUD

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang mengarahkan dan membimbing

dengan sabar hingga selesainya skripsi ini.

5. Drs. M. Shaifuddin, S. Pd, M. Pd, M.Sn selaku Dosen Pembimbing II yang

mengarahkan dan membimbing dengan sabar hingga selesainya skripsi ini.

6. Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak Pelangi Kluwung Kecamatan Kemiri

Kabupaten Purworejo yang telah memberikan izin dan tempat penelitian.

7. Suprapti selaku guru kelas kelompok B1 Taman Kanak-kanak Pelangi

Kluwung Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo yang telah membantu

dalam pelaksanaan penelitian.

8. Teman-teman sealmamater yang telah memberikan semangat dan

kerjasamanya.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xi

9. Keluarga tercinta yang selalu memberikan doa dan motivasi.

10. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini

yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih banyak

kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang

membangun untuk perbaikan penulis di kemudian hari. Penulis berharap bahwa

penulisan skripsi ini dapat memberikan manfaat membantu perkembangan ilmu

pengetahuan dan pendidikan terutama di Taman kanak-kanak dan dunia

pendidikan pada umumnya.

Surakarta, Juli 2012

Penulis

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PERNYATAAN ... ii

HALAMAN PENGAJUAN iii

HALAMAN PERSETUJUAN iv

HALAMAN PENGESAHAN v

HALAMAN MOTTO vi

HALAMAN PERSEMBAHAN vii

ABSTRAK viii

KATA PENGANTAR x

DAFTAR ISI xii

DAFTAR GAMBAR xv

DAFTAR TABEL xvii

DAFTAR LAMPIRAN xviii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah .... 1

B. Rumusan Masalah .... 5

C. Tujuan Penelitian .... 5

D. Manfaat Penelitian .... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori 8

1. Hakikat Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini 8

a. Pengertian Keterampilan . 8

b. Pengertian Berbicara .... 9

c. Pengertian Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini .... 10

d. Tujuan Berbicara 12

e. Faktor Yang Mempengaruhi Keterampilan Berbicara Anak

Usia Dini 13

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xiii

f. Proses Berbicara 15

2. Hakikat Media Kartu Bergambar ... 16

a. Pengertian Media ... 16

b. Pengertian Media Kartu Bergambar . 17

c. Jenis-jenis Media Pembelajaran ..... 19

d. Keunggulan dan Kekurangan Media Kartu Bergambar 21

e. Penggunaan Media Kartu Bergambar dalam Pembelajaran

Anak Usia Dini ..... 23

B. Hasil Penelitian yang Relevan .... 23

C. Kerangka Berpikir .... 29

D. Hipotesis Tindakan .... 31

BAB III METODELOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian .... 32

B. Subjek Penelitian .... 33

C. Data dan Sumber Data .... 33

D. Teknik Pengumpulan Data .... 33

1. Observasi .... 34

2. Wawancara ... 34

3. Dokumentasi ... 35

4. Tes Perbuatan ... 35

E. Uji Validitas Data ....... 36

1. Triangulasi Sumber ... 36

2. Triangulasi Teknik ....... 36

F. Analisis Data ... 37

1. Reduksi Data ... 37

2. Penyajian Data ... 37

3. Penarikan Kesimpulan .. 38

G. Indikator Kinerja Penelitian ... 39

H. Prosedur Penelitian ... 39

1. Siklus I ... 40

2. Siklus II ... 44

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xiv

3. Siklus III ... 47

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Pratindakan 51

B. Deskripsi Hasil Penelitian 55

1. Siklus I 55

a. Perencanaan Tindakan 56

b. Pelaksanaan Tindakan .. 58

c. Observasi atau Pengamatan 64

d. Refleksi 67

2. Siklus II 70

a. Perencanaan Tindakan 70

b. Pelaksanaan Tindakan .. 73

c. Observasi atau Pengamatan 78

d. Refleksi 81

3. Siklus III 83

a. Perencanaan Tindakan ... 83

b. Pelaksanaan Tindakan ... 86

c. Observasi atau Pengamatan ... 90

d. Refleksi .. 93

C. Perbandingan Hasil Tindakan Antar Siklus dan Pembahasan 95

D. Pembahasan .. 103

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Simpulan .. 107

B. Implikasi .. 107

C. Saran .. 109

DAFTAR PUSTAKA .. 111

LAMPIRAN ... 114

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Contoh Media Kartu Bergambar Tunggal ...... 23

2.2 Contoh Media Kartu Bergambar Seri . 24

2.3 Kerangka Berfikir .. 31

3.1 Komponen-komponen Analisis Data ......... 38

3.2 Model PTK .... 40

4.1 Grafik Nilai Keterampilan Berbicara Anak Kelompok B1

TK Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo Sebelum Tindakan . 54

4.2 Grafik Nilai Keterampilan Berbicara Anak Kelompok B1

TK Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo Siklus I .. 70

4.3 Grafik Nilai Keterampilan Berbicara Anak Kelompok B1

TK Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo Siklus II .... 83

4.4 Grafik Nilai Keterampilan Berbicara Anak Kelompok B1 TK

Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo Siklus II ... 95

4.5 Grafik Perbandingan Hasil Observasi Kinerja Guru Mengajar

Siklus I, Siklus II dan Siklus III ... 97

4.6 Perbandingan Rata-rata Hasil Observasi Kinerja Guru Siklus I,

Siklus II dan Siklus III .... 98

4.7 Grafik Perbandingan Hasil Observasi Aktivitas Anak Kelompok

B1 TK Pelangi Kluwung Siklus I, Siklus II dan Siklus II . 99

4.8 Perbandingan Rata-rata Hasil Aktivitas Anak Siklus I, Siklus II

dan Siklus III . 100

4.9 Grafik Perbandingan Nilai Keterampilan Berbicara Anak

Kelompok B1 TK Pelangi Kluwung Prasiklus, Siklus I, Siklus II

dan Siklus III .. 100

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xvi

4.10 Grafik Hasil Nilai Rata-rata Keterampilan Berbicara Pada Kondisi

Awal, Siklus I, Siklus II dan Siklus III . 102

4.11 Grafik Peningkatan Ketuntas Belajar Anak Kelompok B1 TK

Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo pada Prsiklus, Siklus I,

Siklus II dan Siklus III . 103

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xvii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Indikator Kinerja dan Pengukurannya ....... 39

4.1 Daftar Nilai Keterampilan Berbicara dalam Kegiatan Bercerita

pada Anak Kelompok B1 ... 53

4.2 Data Frekuensi Nilai Keterampilan Berbicara Kelompok B1

TK Pelangi Kemiri Purworejo Sebelum Tindakan .. 54

4.3 Data Frekuensi Nilai Keterampilan Berbicara Kelompok B1

TK Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo Siklus I ... 69

4.4 Data Frekuensi Nilai Keterampilan Berbicara Kelompok

B1 TK Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo Siklus II ... 82

4.5 Data Frekuensi Nilai Keterampilan Berbicara Kelompok

B1 TK Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo Siklus III ... 94

4.6 Perbandingan Hasil Obsevasi Guru (Peneliti) Kelompok B1

TK Pelangi Kluwung pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III ..... 96

4.7 Rata-rata Hasil Obsevasi Guru (Peneliti) kelompok B1 TK Pelangi

Kluwung pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III .. 97

4.8 Perbandingan Hasil Obsevasi Aktivitas Anak Kelompok B1

TK Pelangi Kluwung pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III . 98

4.9 Perbandingan Nilai Rata-rata Aktivitas Anak Kelompok B1

TK Pelangi Kluwung pada Siklus I, Siklus II, dan Siklus III 99

4.10 Distribusi Nilai Rata-rata Keterampilan Berbicara Anak Kelompok

B1 TK Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo Pada Kondisi Awal,

Siklus I, Siklus II dan Siklus III 101

4.11 Ketuntasan Belajar Anak Kelompok B1 TK Pelangi Kluwung pada

Prasiklus, Siklus I, Siklus II dan Siklus III 102

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Rincian Waktu Penelitian 115

2. Format Wawancara dengan Guru Sebelum Menggunakan Media

Kartu Bergambar (Flash Card) 116

3. Hasil Wawancara dengan Guru Sebelum Menggunakan Media

Kartu Bergambar (Flash Card) 118

4. Nilai Kondisi Awal Sebelum Ditarapkan Media Kartu Bergambar .. 120

5. Descriptor Penilaian Keterampilan Berbicara 122

6. Rencana Kegiatan Harian Siklus I Pertemuan 1 124

7. Rencana Kegiatan Harian Siklus I Pertemuan 2 132

8. Rencana Kegiatan Harian Siklus I Pertemuan 3 143

9. Rencana Kegiatan Harian Siklus II Pertemuan 1 154

10. Rencana Kegiatan Harian Siklus II Pertemuan 2 165

11. Rencana Kegiatan Harian Siklus II Pertemuan 3 174

12. Rencana Kegiatan Harian Siklus III Pertemuan 1 183

13. Rencana Kegiatan Harian Siklus III Pertemuan 2 191

14. Rencana Kegiatan Harian Siklus III Pertemuan 3 199

15. Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus I Pertemuan 1 208

16. Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus I Pertemuan 2 211

17. Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus I Pertemuan 3 214

18. Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus II Pertemuan 1 217

19. Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus II Pertemuan 2 220

20. Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus II Pertemuan 3 223

21. Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus III Pertemuan 1 226

22. Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus III Pertemuan 2 229

23. Lembar Observasi Kinerja Guru Siklus III Pertemuan 3 232

24. Rekapitulasi Kinerja Guru Siklus I 235

25. Rekapitulasi Kinerja Guru Siklus II 236

26. Rekapitulasi Kinerja Guru Siklus III 237

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

xix

27. Lembar Observasi Aktivitas Anak Siklus I Pertemuan 1 ... 238

28. Lembar Observasi Aktivitas Anak Siklus I Pertemuan 2 ... 239

29. Lembar Observasi Aktivitas Anak Siklus I Pertemuan 3 ... 240

30. Lembar Observasi Aktivitas Anak Siklus II Pertemuan 1 ... 241

31. Lembar Observasi Aktivitas Anak Siklus II Pertemuan 2 ... 242

32. Lembar Observasi Aktivitas Anak Siklus II Pertemuan 3 ... 243

33. Lembar Observasi Aktivitas Anak Siklus III Pertemuan 1 ... 244

34. Lembar Observasi Aktivitas Anak Siklus III Pertemuan 2 .... 245

35. Lembar Observasi Aktivitas Anak Siklus III Pertemuan 3 .. 246

36. Rekapitulasi Aktivitas Anak Siklus I . 247

37. Rekapitulasi Aktivitas Anak Siklus II . 248

38. Rekapitulasi Aktivitas Anak Siklus III . 249

39. Format Penilaian Keterampilan Berbicara Siklus I Pertemuan 1 . 250

40. Format Penilaian Keterampilan Berbicara Siklus I Pertemuan 2 . 252

41. Format Penilaian Keterampilan Berbicara Siklus I Pertemuan 3 . 254

42. Rekapitulasi Penilaian Keterampilan Berbicara Siklus I . 256

43. Format Penilaian Keterampilan Berbicara Siklus II Pertemuan 1 .. 257

44. Format Penilaian Keterampilan Berbicara Siklus II Pertemuan 2 .. 259

45. Format Penilaian Keterampilan Berbicara Siklus II Pertemuan 3 ... 261

46. Rekapitulasi Penilaian Keterampilan Berbicara Siklus II .. 263

47. Format Penilaian Keterampilan Berbicara Siklus III Pertemuan 1 . 264

48. Format Penilaian Keterampilan Berbicara Siklus III Pertemuan 2 266

49. Format Penilaian Keterampilan Berbicara Siklus III Pertemuan 2 268

50. Rekapitulasi Penilaian Keterampilan Berbicara Siklus III 270

51. Hasil Wawancara Guru Setelah Diterapkan Media Kartu Bergambar 271

52. Absensi Anak .. 273

53. Foto Pelaksanaan Tindakan 274

54. Surat Izin Penelitian 280

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

1

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Taman kanak-kanak adalah salah satu bentuk satuan Pendidikan Anak

Usia Dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program

pendidikan bagi anak usia empat sampai enam tahun. Berdasarkan PP No. 27

Tahun 1990, Bab I pasal I disebutkan bahwa Taman Kanak-kanak merupakan

salah satu bentuk pendidikan pra sekolah yang menyediakan program pendidikan

dini bagi anak usia 4-6 tahun sampai memasuki pendidikan dasar. Tujuan

Pendidikan Taman Kanak-kanak adalah membantu anak didik mengembangkan

berbagai potensi baik fisik maupun psikis yang siap merespon stimulasi yang

diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan masa untuk meletakkan dasar

pertama dalam mengembangkan kemampuan fisik motorik, kognitif, bahasa,

konsep diri, disiplin, kemandirian tanggung jawab, seni, sosial emosional, moral

dan nilai-nilai agama untuk siap memasuki pendidikan dasar. Optimalisasi seluruh

potensi tersebut berkembang dan tersalurkan menjadi lebih baik apabila

komunikasi guru dengan anak didik dapat berjalan dengan baik.

Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang utama dan

yang pertama kali dipelajari oleh manusia dalam hidupnya sebelum mempelajari

keterampilan berbahasa lainnya. Sejak seorang bayi lahir, ia sudah belajar

menyuarakan lambang-lambang bunyi bicara melalui tangisan untuk

berkomunikasi dengan lingkungannya. Suara tangisan itu baru menandakan

adanya potensi dasar kemampuan berbicara dari seorang anak yang perlu distimuli

dan dikembangkan lebih lanjut oleh lingkungannya melalui berbagai latihan dan

pembelajaran.

Bahasa merupakan alat berkomunikasi yang penting bagi setiap orang.

Melalui berbahasa seseorang atau anak akan dapat mengembangkan kemampuan

bergaul dengan orang lain. Penguasaan keterampilan bergaul dalam lingkungan

sosial dimulai dengan penguasaan kemampuan berbahasa. Tanpa bahasa

seseorang tidak akan dapat berkomunikasi dengan orang lain. Anak dapat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

2

mengekspresikan pikirannya menggunakan bahasa sehingga orang lain dapat

menangkap apa yang dipikirkan oleh anak. Komunikasi antar anak dapat terjalin

dengan baik melalui bahasa, anak dapat membangun hubungan sosial yang baik

sehingga tidak mengherankan bahwa bahasa dianggap sebagai salah satu indikator

kesuksesan seorang anak. Anak yang dianggap banyak berbicara, kadang

merupakan cerminan anak yang cerdas.

Pada hakikatnya bahasa adalah alat yang berfungsi untuk berkomunikasi,

dengan bahasa manusia dapat menyampaikan pesan, pikiran, perasaan, dan

pengalamannya kepada orang lain. Selain itu bahasa dapat dimaknai sebagai suatu

sistem tanda, baik lisan maupun tulisan dan merupakan sistem komunikasi antar

manusia. Menurut Tariggan (2008:1) pada setiap keterampilan berbahasa

mempunyai keterkaitan yang sangat erat antara satu dengan yang lain. Dalam

memperoleh keterampilan berbahasa biasanya melalui suatu hubungan yang

berurutan dan teratur, mula-mula dengan belajar menyimak atau mendengarkan

bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu belajar membaca dan menulis. Keempat

keterampilan tersebut merupakan satu kesatuan atau merupakan catur tunggal.

Keterampilan berbicara perlu dimiliki oleh setiap orang, khususnya anak

didik. Berbicara merupakan kegiatan yang dilakukan oleh anak dalam

memperoleh ilmu dan pengalaman. Semua pengetahuan dan pengalaman yang

diperoleh anak baik dari lingkungan tempat tinggal maupun sekolah diperoleh

dengan memanfaatkan kegiatan berbicara. Seperti yang diungkapkan oleh Aqib

(2009: 37) berbicara merupakan alat berkomunikasi. Pada awal masa kanak-kanak

tidak semua bicara digunakan untuk berkomunikasi. Bicara merupakan bentuk

komunikasi yang paling efektif, penggunaannya paling luas dan paling penting.

Bahasa mencakup komunikasi non verbal dan komunikasi verbal serta dapat

dipelajari secara teratur tergantung pada kematangan serta kesempatan belajar

yang dimiliki seseorang, demikian juga bahasa merupakan landasan seorang anak

untuk mempelajari hal-hal lain. Sebelum dia belajar pengetahuan-pengetahuan

lain, dia perlu menggunakan bahasa agar dapat memahami dengan baik. Anak

akan dapat mengembangkan kemampuannya dalam bidang pengucapan bunyi,

menulis, membaca yang sangat mendukung kemampuan keaksaraan di tingkat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

3

yang lebih tinggi. Oleh karena itu, kemampuan berbicara seharusnya mendapat

perhatian dalam mengembangkan bahasa anak.

Keterampilan berbicara selalu meningkat sesuai dengan meningkatnya usia

anak. Dalam hal tersebut, peningkatan keterampilan berbicara dan media

pembelajaran memiliki kontribusi yang penting bagi tercapainya tujuan

pembelajaran, dimana ada satu hubungan yang erat antara kesesuaian penggunaan

media pembelajaran dengan tujuan yang hendak dicapai sehingga akan

menghasilkan kemudahan anak didik dalam mencapai tujuan standar keberhasilan.

Sama halnya dengan media kartu bergambar yang dapat merangsang motivasi dan

minat berbicara anak disajikan dalam konteks pembelajaran yang bermakna dan

dikemas dengan semenarik mungkin.

Pemlilihan dan penentuan strategi belajar mengajar dalam keterampilan

berbicara belum efektif dalam menyalurkan nilai-nilai edukatif bahasa kepada

anak didik sehingga tercapainya tujuan pembelajaran berbahasa khususnya

keterampilan berbicara anak belum optimal. Dalam penggunaan dan pemilihan

metode dan media kurang tepat sehingga nilai-nilai pembelajaran kurang dapat

dikuasai anak. Minimnya ketersediaan fasilitas dan kesempatan belajar kurang

anak peroleh dari lingkungan belajarnya yang menghambat kebebasan anak untuk

bereksplorasi dan menemukan pengetahuan baru secara mandiri. Ketersediaan

lingkungan belajar yang meningkatkan dan mengembangkan kecakapan hidup

belum terealisasi dan terkoordinasi sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini dapat

diketahui berdasarkan hasil observasi awal yang telah dilakukan peneliti,

diperoleh nilai hasil kemampuan berbicara anak kelompok B1 TK Pelangi

Kluwung Kemiri Purworejo, menunjukkan bahwa hasil keterampilan berbicara

anak masih rendah.

Pembelajaran yang dilakukan guru Taman Kanak-kanak Pelangi Kluwung

sebenarnya sudah baik dan seharusnya dapat memberikan rangsangan bagi

keterampilan berbicara anak, karena guru kelas B1 Taman Kanak-kanak Pelangi

merupakan guru yang sudah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan dan

dunia anak-anak. Berdasarkan observasi yang berkaitan dengan keterampilan anak

berbicara dapat dilihat bahwa masih banyak anak yang belum mencapai tingkat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

4

perkembangan. Ditemukan dari 25 anak diantaranya: 10 anak sudah mampu

dalam keterampilan berbicara atau mendapat nilai ketuntasan (), 8 anak

mendapat nilai ketuntasan cukup (), dan 7 anak masih kurang dalam

keterampilan berbicara atau mendapat nilai ketuntasan (). Sekitar 60% anak

belum tuntas dalam keterampilan berbicara. Dari data keterampilan berbicara anak

tergolong masih rendah karena tingkat ketuntasan belum mencapai 80%. Hal ini

terjadi karena anak kurang latihan berbicara sehingga perbendaharaan kata anak

masih kurang. Keterampilan dan minat anak dalam mengikuti kegiatan

pembelajaran rendah, walaupun sudah ada media pembelajaran akan tetapi belum

begitu mendukung interaksi antara anak dengan guru.

Berdasar dari temuan di atas, sangatlah penting bagi peneliti mencoba

menerapkan media pembelajaran dalam meningkatkan keterampilan berbicara

anak kelompok B1 Taman Kanak-kanak Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo

yang berjumlah 25 anak. Penggunaan media pada zaman yang serba teknologi ini

hampir sama pentingnya dengan peranan dari seorang guru dalam memberikan

pembelajaran. Media pembelajaran menurut Daryanto (2011: 4) adalah sarana

perantara dalam proses pembelajaran. Di sinilah peran dari media pembelajaran

yang mampu membantu anak untuk menyerap berbagai informasi dan mampu

menyimpannya dalam memori otak dengan baik. Sehingga ke depannya

diharapkan dapat menjadi modal dasar bagi anak dalam mengembangkan

keterampilannya. Salah satu media yang sesuai untuk meningkatkan keterampilan

berbicara adalah kartu bergambar atau flash card.

Penggunaan media kartu bergambar atau flash card mampu memberikan

visualisasi-visualisasi dengan gambaran yang lebih jelas. Kartu bergambar

merupakan salah satu media yang tidak hanya mampu mengajak anak untuk

memiliki emosional yang baik dalam berhubungan dengan teman, tetapi juga

mampu menggali keterampilan berbicara dan berkomunikasi yang dimiliki anak.

Seperti yang dikemukakan oleh Arsyad (2002: 121) kartu yang berisi gambar-

gambar dapat digunakan untuk melatih mengeja atau memperkaya kosa kata.

Kartu-kartu tersebut menjadi petunjuk dan rangsangan bagi siswa untuk

memberikan respon yang diinginkan. Jadi penggunaan media kartu bergambar

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

5

mampu memberikan proses belajar yang baru bagi anak. Kartu bergambar inilah

yang mampu menarik perhatian anak didik sehingga lebih terkesan dengan materi

pelajaran yang diberikan. Selain itu anak didik akan dengan mudah

menyampaikan apa yang dilihantnya kepada orang lain. Anak didik mampu

berbicara dengan dengan baik dan lancar dengan melihat gambaran-gambaran

yang lebih nyata. Kartu bergambar yang menarik dapat memotivasi anak dalam

berbicara sehingga dapat disimpulkan bahwa perkembangan anak dapat tercapai

secara optimal.

Berdasarkan uraian di atas, untuk mengetahui permasalahan yang

berkaitan dengan peningkatatan keterampilan berbicara anak dengan

menggunakan media kartu bergambar, maka peneliti tertarik untuk mengadakan

penelitian pada anak kelompok B1 Taman Kanak-kanak Pelangi Kluwung Kemiri

Purworejo. Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan

judul Penggunaan Media Kartu Bergambar (Flash Card) Untuk

Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Kelompok B1 Semester II TK

Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas

dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: Apakah Penggunaan Media Kartu

Bergambar (Flash Card) Dapat Meningkatan Keterampilan Berbicara Anak

Kelompok B1 Semester II TK Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka tujuan penelitian adalah:

Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Melalui Penggunaan Media Kartu

Bergambar (Flash Card) Anak Kelompok B1 Semester II TK Pelangi Kluwung

Kemiri Purworejo.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

6

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian di atas manfaat

penelita ini dapat dilihat dari dua aspek yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis.

Manfaat dari masing-masing komponen antara lain sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini untuk meningkatkan aspek perkemangan

bahasa dalam keterampilan berbicara, berkomunikasi, serta dapat menambah

wawasan yang luas tentang penggunaan media kartu bergambar atau flash

card.

2. Manfaat Praktis

Manfaat yang diambil berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian

di atas adalah sebagai berikut:

a. Bagi Anak Didik

1) Meningkatnya keterampilan anak untuk berbicara secara lancar.

2) Meningkatnya perbendaharaan kosa kata yang dimiliki oleh anak.

3) Meningkatnya keterampilan anak dalam berkomunikasi.

4) Meningkatnya kecakapan hidup serta dapat memperoleh kesempatan

seluas-luasnya untuk mengembangkan kreativitas.

b. Bagi Guru

1) Meningkatnya keterampilan dalam penggunaan media yang tepat dalam

proses pembelajaran.

2) Meningkatnya kualitas proses pembelajaran dan kualitas profesional

guru dalam melakukan pembelajaran.

3) Berkembangnya media pembelajaran yang lebih inovatif dengan

penggunaan media kartu bergambar atau flash card yang dimodifikasi

dalam bentuk wayang dan permainan untuk meningkatkan keterampilan

berbicara.

4) Meningkatnya motivasi guru untuk berupaya menemukan dan

menggali media pembelajaran yang menarik dan efektif.

5) Meningkatnya kreativitas guru untuk menciptakan kondisi belajar yang

menarik, menyenangkan, dan berkualitas.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

7

c. Bagi Lembaga

1) Meningkatkan mutu pembelajaran yang kreatif dan inovatif.

2) Tumbuhnya kondisi proses pembelajaran yang kondusif.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

8

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Hakikat Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini

a. Pengertian Keterampilan

Keterampilan berasal dari kata terampil yang berarti cakap dalam

menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan. Keterampilan berarti kecakapan

untuk menyelesaikan tugas (Depdikbud, 1990: 935). Dawson dalam

Tarigan (2008: 1), mengartikan bahwa setiap keterampilan itu erat sekali

hubungannya dengan proses-proses berfikir yang mendasari bahasa. Bahasa

seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang

berbahasa, semakin cerah dan jelas jalan pikirannya. keterampilan berbahasa

berhubungan erat dengan keterampilan lain yaitu menyimak, berbicara

sesudah itu di sekolah belajar membaca dan menulis. Sejalan dengan hal

tersebut Aksay dari http://aksay.multiply.com/journal/item/20/05/2011

diperoleh 27 April 2011, mengemukakan pendapat secara morfologis istilah

keterampilan diambil dari skill maka memuat arti kemampuan mengerjakan

sesuatu dengan baik dan dilakukan dengan cara memanfaatkan pengalaman

dan pelatiahan.

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan

adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk menyelesaikan suatu

tugas. Sedangkan keterampilan berbahasa yaitu kecakapan yang dimiliki

oleh seseorang yang memiliki empat aspek kebahasaan yaitu menyimak,

berbicara, membaca dan menulis. Dalam hal ini, pembelajaran keterampilan

dirancang sebagai proses komunikasi belajar untuk mengubah perilaku

siswa menjadi cekat, cepat dan tepat melalui pembelajaran. Anak usia dini

membutuhkan asupan kegiatan-kegiatan yang dapat menstimulasi seluruh

potensi kognitif, afektif dan psikomotor. Dengan kegiatan yang melibatkan

seluruh potensi memungkinkan anak untuk berkembang, kaya akan

http://aksay.multiply.com/journal/item/20/05/2011%20diperoleh%2027%20April%202011http://aksay.multiply.com/journal/item/20/05/2011%20diperoleh%2027%20April%202011

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

9

pengetahuan dan pengalaman. Selain itu anak usia dini memerlukan

kegiatan yang dapat merangsang seluruh kemampuan dan karakteristiknya

yang meliputi, rasa ingin tahu yang besar, egosentris dan masa belajar yang

paling baik.

b. Pengertian Berbicara

Berbicara merupakan salah satu kemampuan yang harus dikuasai oleh

seorang individu. Dengan berbicara dapat mengungkapkan suatu perasaan,

ide, gagasan yang dimiliki secara lisan. Bicara merupakan alat untuk

berkomunikasi dengan orang lain. Menurut Indriati (2011: 22) bicara

(speech) dan bahasa (language) memiliki perbedaan. Berbicara lebih

berkonotasi ke produksi bunyi, sedangkan bahasa merupakan sistem

lambang bunyi yang digunakan untuk berkomunikasi dan bersosialisasi.

Hurlock (1978: 176) menegungkapakan pendapat yang berbeda yaitu bicara

adalah bentuk bahasa yang menggunakan artikulasi atau kata-kata yang

digunakan untuk menyampaikan maksud. Karena bicara merupakan bentuk

komunikasi yang paling efektif, penggunaannya paling luas, dan paling

penting. Dalam kamus besar bahasa Indonesia bicara adalah berkata,

bercakap, berbahasa, melahirkan pendapat dengan perkataan ataupun

tulisan.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

bicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-

kata secara lisan untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan

pikiran, gagasan dan perasaan untuk menyampaikan pesan secara lisan.

Menurut Aqib (2009: 38) bicara merupakan keterampilan mental-

motorik. Bicara tidak hanya melibatkan koordinasi kumpulan otot

mekanisme suara yang berbeda, tetapi juga mempunyai aspek mental yaitu

kemampuan mengaitkan arti dengan bunyi yang dihasilkan. Kemapuan

berbicara tidak akan datang dengan sendirinya melainkan dengan latihan

dan praktek. Menurut Guevremont dalam Lawrence (2003: 181)

mengemukakan bahwa keterampilan bercakap-cakap, seperti keterampilan-

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

10

keterampilan berbahasa yang lain, dapat diajarkan dan ditingkatkan melalui

praktek.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa berbicara

adalah kemampuan mengucapkan bunyi atau vokal, dimana dalam

penyampainnya tidak hanya kata-kata tetapi melibatkan kemampuan

mengaitkan arti dengan bunyi yang dihasilkan untuk mengungkapkan

pikiran, perasaan dan gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai

dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar.

c. Pengertian Keterampilan Berbicara Anak Usia Dini

Kemampuan berbahasa adalah salah satu aspek perkembangan anak

yang diperlukan sebagai alat komunikasi dengan lingkungannya. Aspek

kemampuan berbahasa pada anak meliputi mendengarkan, berbicara,

membaca pesan dan menulis. Menurut Vygotsky dalam Susanto, (2011: 73)

mendefinisikan bahwa:Language is critical for cognitive development.

Language provide a means for expressing ideas and asking question and it

provides the categories and concept for thinking. Dari uraian tersebut

dapat diketahuai bahwa bahasa merupakan alat untuk mengekspresikan ide

atau bertanya, dan bahasa juga menghasilkan konsep dan langkah untuk

berfikir.

Keterampilan berbicara adalah salah satu kemampuan yang harus

dikembangkan dalam diri anak. Dengan keterampilan berbicara yang baik

dan benar anak dapat berkomunikasi dengan orang lain tanpa ada hambatan.

Kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis merupakan

aspek perkembangan bahasa yang saling berkaitan satu sama lain.

Keberanian anak untuk berbicara, bertanya dan mengungkapkan gagasan

sangat mendukung dalam proses kegiatan pembelajaran. Arsjad dan Mukti

(1988: 17) mengemukakan pendapat bahwa kemampuan berbicara adalah

kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-

kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan,

dan perasaan. Hal senada juga diungkapkan oleh Tarigan (2008: 16), bahwa

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

11

keterampilan berbicara adalah kemampuan mengucap bunyi-bunyi,

artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, mengatakan serta

menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar menerima

informasi melalui rangkaian nada. Jika komunikasi berlangsung secara tatap

muka ditambah lagi dengan gerak tangan dan muka (mimic) pembicara.

Pembelajaran bahasa pada anak usia dini diarahkan pada kemampuan

berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan (simbolis). Untuk

memahami bahasa simbolis, anak perlu belajar membaca dan menulis.

Belajar bahasa sering dibedakan menjadi dua yaitu bahasa untuk

komunikasi dan belajar literasi (membaca dan menulis) menurut Suyanto

dalam Susanto (2011:74). Hal senada juga diungkapkan oleh Vygotsky

dalam Susanto antara lain sebagai berikut:

Pada umumnya bahasa dan pikiran anak berbeda. Kemudian secara

perlahan, sesuai tahap perkembangan mentalnya, bahasa dan

pikirannya menyatu sehingga bahasa merupakan ungkapan pikiran.

Anak secara alami belajar bahasa dari interaksi dengan orang lain

untuk berkomunikasi, yaitu menyatakan pikiran dan keinginannya

memahami pikiran dan keinginan orang lain. Oleh karena itu, belajar

bahasa yang paling efektif ialah dengan bergaul dan berkomunikasi

dengan orang lain.

Menurut Suyanto dalam Susanto (2011: 75) melatih anak belajar

bahasa dapat dilakukan dengan cara berkomuniksi melalui berbagai setting,

antara lain sebagai berikut:

(1) Kegiatan bermain bersama, biasanya anak secara otomatis

berkomunikasi dengan temannya sambil bermain bersama; (2)

Bercerita, baik mendengarkan cerita maupun menyuruh anak untuk

bercerita; (3) Bermain peran, seperti memerankan penjual atau

pembeli; (4) Bermain puppet dan boneka tangan yang dapat

dimainkan dengan jari (fngerplay), anak berbicara mewakili boneka

ini; (5) Belajar dan bermain dalam kelompok (cooperative play dan

cooperative learning).

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, bahwa keterampilan

berbicara adalah kemampuan yang dimiliki oleh setiap diri individu untuk

menyampaikan informasi, gagasan dan perasaan secara lisan. Dengan

berbicara dapat mengembangkan pola pikir anak, perbaikan lafal dan

pengucapan dan menambah perbendaharaan kosa kata.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

12

d. Tujuan Berbicara

Berbicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif.

Semenjak anak masih bayi sering kali menyadari bahwa dengan

mempergunakan bahasa tubuh dapat terpenuhi kebutuhannya. Namun hal

tersebut kurang mengerti apa yang dimaksud oleh anak. Hal ini yang

mendorong orang untuk belajar berbicara dan membuktikan bahwa

berbicara merupakan alat komunikasi yang paling efektif dibandingkan

dengan bentuk-bentuk komunikasi lain yang dipakai anak sebelum pandai

berbicara. Oleh karena itu bagi anak berbicara tidak sekedar merupakan

prestasi akan tetapi juga birfungsi untuk mencapai tujuannya. Menurut

Gardner dalam Susanto (2011: 81) fungsi bahasa bagi anak taman kanak-

kanak adalah sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual

dan kemampuan dasar anak. Secara khusus fungsi bahasa bagi anak taman

kanak-kanak adalah untuk mengembangkan ekspresi-perasaan, imajinasi

dan pikiran. Pendapat lain mengenai tujuan berbicara diungkapkan oleh

Dhieni (2005: 3.6) antara lain sebgai berikut:

Untuk memberitahu, menghibur, melapor, membujuk, dan

menyakinkan seseorang, ada beberapa faktor yang dapat dijadikan

ukuran kemampuan berbicara seseorang yang terdiri dari aspek

kebahasaan dan non kebahasaan. Aspek kebahasaan meliputi: (1)

Ketepatan ucapan (pelafalan); (2) Penekanan atau penempatan nada

dan durasi yang sesuai; (3) Pemilihan kata; (4) Ketepatan sasaran

pembicaraan (tata krama). sedangkan faktor aspek non kebahasaan

yaitu : (1) Sikap tubuh, pendangan, bahasa tubuh, mimik wajah yang

tepat; (2) Kesediaan menghargai pembicaraan maupun gagasan orang

lain; (3) Kenyaringan suara dan kelancaran dalam berbicara; (4)

Relevansi, penalaran, dan penguasaan terhadap topik.

Suryani dalam http://adeirmasuryani.wordpress.com/2010/11/29/

makalah-perkembangan-bahasa-berbicara-pada-anak-usia-dini/ diperoleh

10 Februari 2012 mengemukakan tujuan berbicara yang berbeda yaitu:

(1) Pemuas kebutuhan dan keinginan. Dengan berbicara anak mudah

untuk menjelaskan kebutuhan dan keinginannya tanpa harus

menunggu orang lain mengerti tangisan, gerak tubuh atau ekspresi

wajahnya; (2) Sebagai alat untuk menarik perhatian orang lain; (3)

Alat untuk membina hubungan sosial. Kemampuan anak

berkomunikasi dengan orang lain merupakan syarat penting untuk

http://adeirmasuryani.wordpress.com/2010/11/29/%20makalah-perkembangan-bahasa-berbicara-pada-anak-usia-dini/http://adeirmasuryani.wordpress.com/2010/11/29/%20makalah-perkembangan-bahasa-berbicara-pada-anak-usia-dini/

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

13

dapat menjadi bagian dari kelompok di lingkungannya; (5) Sebagai

alat untuk mengevaluasi diri sendiri; (6) Untuk mempengaruhi pikiran

dan perasaan orang lain.

Berdasarkan berbagai macam tujuan berbicara yang telah disebutkan

di atas, fungsi bahasa bagi anak taman kanak-kanak terutama ditujukan

pada fungsi secara langsung pada anak itu sendiri menurut Depdiknas

dalam Susanto (2011: 81) antara lain sebagai berikut:

(1) Sebagai alat untuk berkomunikasi dengan lingkungan; (2)

Sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan intelektual anak; (3)

Sebagai alat untuk mengembangkan ekspresi anak; (4) Sebagai alat

untuk menyatakan perasaan dan buah pikiran kepada orang lain.

Berdasarkan berbagai pendapat mengenai tujuan berbicara, dapat

disimpulkan bahwa pada dasarnya anak berbicara untuk menyampaikan

gagasan dalam rangka memuaskan kebutuhan dan keinginan, untuk dapat

menarik perhatian orang lain serta mempengaruhi pikiran dan perasaan

orang tersebut.

e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Bicara Anak

Anak usia taman kanak-kanak berada dalam fase perkembangan yang

baik. Anak dapat mengungkapkan keinginannya, penolakannya maupun

pendapatnya dengan menggunakan bahasa lisan atau berbicara. Berbicar

sudah dapat digunakan anak sebagai alat komunikasi. Menurut jamaris

dalam susanto (2011: 77) berpendapat tentang aspek-aspek yang berkaitan

dengan perkembangan bahasa anak, yaitu:

(1) Kosa kata. Seiring dengan perkembangan anak dan pengalanan

berinteraksi dengan lingkungannya, kosa kata anak berkembang

dengan pesat; (2) Sintaksis (tata bahasa), walaupun anak belum

mempelajari tata bahasa, akan tetapi melalui contoh berbahasa yang di

dengar dan dilihat anak di lingkungannya, anak telah dapat

menggunakan bahasa lisan dengan susunan kalimat yang baik; (3)

Smantik yaitu penggunaan kata sesuai tujuannya. Anak di taman

kanak-kanak sudah dapat mengekspresikan keinginan, penolakan dan

pendapatnya dengan dengan menggunakan kata-kata atau kalimat

yang tepat.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

14

Awal masa kanak-kanak terkenal sebagai masa tukang ngobrol, karena

sering kali anak dapat berbicara dengan mudah tidak terputus-putus

bicaranya. Banyak sedikitnya berbicara anak dipengaruhi oleh sejumlah

faktor, adapun faktor-faktor yang dominan yang mempengaruhi kemampuan

bicara anak menurut Susanto (2011: 37) sebagai berikut:

(1) Faktor biologis yaitu adanya evolusi biologis yang membentuk

manusia menjadi manusia linguisti. Setiap anak mempunyai language

aquisition device (LAD) yaitu kemampuan alami untuk berbahasa.

Tahun-tahun awal merukan periode terpenting untuk belajar bahas; (2)

Faktor kognitif yaitu faktor kognitif individu merupakan satu hal yang

tidak dapat dipisahkan pada perkembangan bahasa karena kemampuan

berbahasa tergantung pada kematangan kognitifnya; (3) Faktor

lingkungan yaitu proses penguasaan bahasa tergantung dari stimulus

dari lingkungan luar.

Hal senada juga diungkapkan oleh Hurlock (1978: 190) menjelaskan

secara rinci faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan anak berbicara

yaitu sebagai berikut:

(1) Kesehatan: anak yang sehat cepat belajar berbicara karena

motivasinya lebih kuat; (2) kecerdasan (IQ); (3) keadaan sosial

ekonomi: anak dengan ekonomi tinggi lebih banyak bicara

dibandingkan ekonomi biasa karena mereka lebih banyak didorong

untuk berbicara; (4) jenis kelamin; (5) keinginan berkomunikasi; (6)

dorongan: semakin banyak anak didorong untuk berbicara dan

menanggapi maka semakin baik kualitasnya; (7) urutan kelahiran:

anak pertama lebih unggul dibandingkan anak berikutnya karena

waktu yang diluangkan untuk mengajarkan anak lebih banyak; (8)

kelahiran kembar: anak kembar umumnya terlambat berbicara karena

lebih banyak bergaul dengan saudaranya; (9) hubungan dengan teman

sebaya; (10) kepribadian: anak yang dapat menyesuaikan diri

cenderung kemampuan berbicaranya lebih baik.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa

pengenalan bahasa (kemampuan berbicara) sejak dini dibutuhkan untuk

memperoleh keterampilan bahasa yang baik. Faktor biologis, faktor kognitif

dan faktor lingkungan saling mendukung untuk menghasilkan kemampuan

berbahasa. Perkembangan anak dalam belajar berbicara tidak muncul

dengan sendirinya melainkan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu.

Faktor-faktor tersebut adalah kesehatan, kecerdasan/IQ, keadaan sosial,

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

15

jenis kelamin, keinginan berkomuniksi, dorongan, urutan kelahiran, metode

pelatihan, kelahiaran kembar, hubungan dengan teman dan kepribadian.

f. Proses Berbicara

Berbicara merupakan keterampilan seperti halnya semua

keterampilan, berbicara perlu dipelajari. Berbicara terdiri atas kemampuan

mengeluarkan bunyi tertentu dalam kombinasi yang dikenal dengan kata,

yaitu aspek motorik bicara dan kemampuan mengaitkan arti dengan kata-

kata tersebut. Menurut Hurlock (1978: 185), hal-hal penting yang harus

diperhatikan dalam belajar berbicara yaitu: kesiapan fisik anak untuk

berbicara, kesiapan mental untuk berbicara, model yang baik untuk ditiru,

kesempatan untuk berpraktek, motivasi dan bimbingan. Lebih lanjut Ellis

dalam Rofiuddin dan Zuhdi (2001: 12) mengemukakan ada cara

meningkatkan kemampuan berbicara, yaitu: (1) menirukan pembicaraan

orang lain (khususnya guru); (2) mengembangkan bentuk-bentuk ujaran

yang telah dikuasai; (3) mendekatkan atau menyejajarkan dua bentuk ujaran,

yaitu bentuk ujaran sendiri yang belum benar dan ujaran orang dewasa

terutama guru. Hal senada juga diungkapkan oleh Rofiuddin dan Zuhdi

(2001: 13), kegiatan yang dapat digunakan sebagai strategi untuk

mengembangkan kemampuan berbicara adalah bertanya kepada teman

sebelum bertanya kepada guru, menyajikan informasi, menghibur

(sandiwara boneka, bercerita, atau membaca puisi dan bermain peran),

berpartisipasi dalam diskusi, curah pendapat, wawancara, dan bercakap-

cakap.

Selain hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam belajar

berbicara, Hurlock (1978: 176) menjelaskan dalam belajar berbicara

mencakup tiga proses terpisah tetapi saling berhubungan satu sama lain

yakni belajar mengucapkan kata-kata, membangun kosa kata dan

membentuk kalimat. Lebih lanjut Hurlock mengemukakan 3 kriteria untuk

mengukur kemampuan berbicara anak antara lain sebagai berikut:

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

16

(1) Anak mengetahui arti kata yang digunakan dan mampu

menghubungkan dengan objek yang diwakili; (2) Anak mampu

melafalkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain dengan mudah;

(3) Anak dapat memahami kata-kata tersebut, bukan karena telah

sering mendengar atau menduga-duga.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa

proses berbicara memerlukan waktu yang panjang. Sebelum anak siap untuk

belajar, lingkungan khususnya orang tua atau guru menyediakan bentuk

komunikasi yang sifatnya membimbing dan memotivasi. Dengan adanya

model sangat membantu anak dalam melafalkan dan memahami kata-kata.

2. Hakikat Penggunaan Media Kartu Bergambar

a. Pengertian Media

Menurut Purnawati dan Eldarni dalam Dhieni (2001: 4) media adalah

segala sesuatau yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari

pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan,

perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar.

Djamarah dan Zain (2006: 120) media adalah alat bantu apa saja yang dapat

dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran.

Menurut Briggs dalam Rahardjo, Ssadiman, haryono dan Raharjito (2008:

6) media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta

mendorong anak untuk belajar. Buku, film, kaset, film bingkai adalah

contoh-contohnya. Sedangkan Gerlach dan Ely dalam Fathurohman

(2011:3) mengemukakan pendapat yang berbeda, anatara lain sebagai

berikut:

Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi,

atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu

memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Dalam pengertian

ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara

lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar

cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, photografis, atau

elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali

informasi visual atau verbal.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

17

Berdasarkan definisi yang dikemukakan dalam uraian-uraian di atas

dapat disimpulkan bahwa media adalah segala alat yang digunakan untuk

menyampaikan suatu pesan atau informasi dari pengirim kepenerima pesan

dalam proses belajar mengajar sehingga tercapai suatu tujuan pembelajaran.

Di dalam konteks formal (sekolah) sumber informasi adalah guru sedangkan

penerima adalah anak didik. Media dapat melayani berbagai peranan di

dalam proses belajar mengajar. Suatu pembelajaran yang baik tergantung

pada kehadiran seorang guru. Dalam hal ini, media dapat menolong guru

didalam memberikan berbagai informasi kepada anak didik

b. Pengertian Media Kartu Bergambar atau Flash card

Pada proses pembelajaran guru dapat menggunakan gambar untuk

memberi gambaran tentang sesuatu sehingga penjelasannya lebih konkrit

daripada diuraikan dengan kata-kata. Melalui media kartu bergambar atau

flash card guru dapat menjelaskan ide-ide abstrak dalam bentuk yang lebih

realistis atau nyata. Kartu biasanya terbuat dari kertas karton dengan ukuran

sesuai dengan yang dikehendaki. Menurut Smaldino dalam Anitah (2009:

128) berpendapat bahwa gambar dapat memberikan gambaran tentang

segala sesuatu seperti binatang, orang, tempat atau peristiwa. Kusnadi dan

Bambang (2011: 45) gambar berfungsi untuk menyampaikan pesan melalui

gambar yang menyangkut indera penglihatan. Menutut Block dari

http://carapedia.com/pengertian_definisi_gambar_menurut_para_ahli_info

514.htmlg diperoleh 10 Februari 2012, gambar adalah mewakili sesuatu

yang telah ditetapkan serta memiliki kualitas atau karakteristik dari bentuk

dan warna dari sesuatu yang diwakilinya. Pendapat lain diungkapkan oleh

Berdasaran uraian di atas dapat disimpulkan bahwa media kartu

bergambar adalah kartu yang dibuat dengan menggunakan gambar atau foto

dengan ukuran yang bervariasi. Gambar-gambarnya dibuat dengan tangan

atau foto, atau memanfaatkan gambar/foto yang sudah ada yang kemudian

ditempelkan pada kartu-kartu yang terbuat dari kertas karton. Gambar

selain berfungsi untuk menyampaikan pesan, juga dapat memberikan

http://carapedia.com/pengertian_definisi_gambar_menurut_para_ahli_info514.htmlghttp://carapedia.com/pengertian_definisi_gambar_menurut_para_ahli_info514.htmlg

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

18

pengalaman belajar dari kata-kata ke taraf yang lebih konkrit atau

pengalaman langsung.

Dalam kutipan tersebut dijelaskan bahwa kartu bergambar dibuat

dengan ukuran yang bervariasi. Akan tetapi Dhieni (2005: 6.42)

mengemukakan pendapat yang berbeda yaitu: media kartu bergambar adalah

alat bantu pembelajaran berupa kartu dengan gambar-gambar di atasnya

dengan ukuran 10x10 cm, terdiri dari gambar-gambar yang berseri atau

tidak. Menurut Anitah (2009: 126) Alat bantu dalam pembelajaran

merupakan suatu alat yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang riil

sehingga memperjelas pengertian pembelajaran.

Dalam jurnal internasional pendidikan (2012: Vol.No3) Maryam

Eslahcar Komachali mengemukakan Word lists and flash cards can be used

for the initial exposure to a word, but most students continue to use them to

review it afterwards. One main advantage of flash cards is that they can be

taken almost anywhere and studied when one has a free moment. Mondria-

de VriesSchmitt (2012: Vol.No3) Working with flash cards help learners in

acquiring vocabulary more effectively than word lists. It can be seen that

flash cards have been used for teaching a variety of purposes during the

history of language teaching. Dalam jurnalinternasional pendidikan (2012:

Vol.No3), Maryam Eslahcar Komachali dan Mondria-de Vries Schmitt

mengemukakan bahwa kartu flash card sering digunakan siswa untuk

memaparkan kata. Selain itu salah satu keuntungan utama dari kartu flash

adalah dapat diambil hampir di mana saja dan dipelajari ketika seseorang

memiliki waktu luang. Belajar dengan kartu flash membantu peserta didik

dalam memperoleh kosa kata lebih efektif.

Menurut Indriana (2011: 68) flash card adalah media pembelajaran

dalam bentuk kartu bergambar yang ukurannya seukuran postcard atau

sekitar 25 x 30 cm. Gambar ditampilkan dalam kartu tersebut adalah

gambaran tangan atau foto, atau gambar/foto yang sudah ada dan

ditempelkan pada lembaran kartu-kartu tersebut. Lebih lanjut Arsyad (2011:

119) mengemukakan pendapat yang berbeda yaitu sebagai berikut:

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

19

Media kartu bergambar atau flash card adalah kartu kecil yang berisi

gambar, teks atau tanda symbol yang mengingatkan atau menuntun

siswa kepada sesuatu yang berhubungan dengan gambar itu. Kartu

bergambar biasanya berukuran 8x12 cm, atau dapat disesuaikan

dengan besar kecilnya kelas yang dihadapi. Kartu yang berisi gambar-

gambar (benda-benda, binatang, dan sebagainya) dapat digunakan

untuk melatih anak mengeja dan memperkaya kosa kata.

Jika dilihat dari ketiga pendapat di atas terdapat perbedaan, Nurbiana

Dhieni menjelaskan bahwa media kartu bergambar berukuran 10x10 cm,

Indriana menjelaskan kartu bergambar ukurannya seukuran postcard atau

sekitar 25 x 30 cm, sedangkan Arsyad berpendapat bahwa media kartu

bergambar berukuran 8x12 cm atau bisa disesuaikan dengan keadaan anak

yang dihadapi. Selain itu Azhar Arsyad menjelaskan bahwa media kartu

bergambar dapat digunakan untuk melatih mengeja dan memperkaya kosa

kata anak.

c. Jenis-jenis Media Pembelajaran

Saat ini cukup banyak jenis dan bentuk media yang telah dikenal, dari

yang sederhana sampai yang berteknologi tinggi, dari yang mudah dan

sudah ada secara natural sampai kepada media yang harus dirancang sendiri

oleh guru. Media yang dapat digunakan guru dalam mengajar banyak

jenisnya. Menurut Djamarah (2006: 124) dilihat dari jenisnya media dibagi

ke dalam media auditif, visual dan media audiovisual sebagai berikut:

1) Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, piringan hitam.

2) Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indera penglihatan. Media visual ada yang menampilkan gambar atau symbol

yang bergerak seperti foto, gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula

media visual yang menampilkan gambar atau symbol yang bergerak

seperti filem bisu dan filem kartun.

3) Media audiovisual adalah media yang memiliki unsur suara dan unsure gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan lebih baik karena

meliputi kedua jenis media yaitu audiovisual diam dan audiovisual

gerak.

Sehubungan dengan hal di atas kompetensi yang ingin ditingkatkan

dalam perkembangan bahasa mencakup aspek mendengarkan, berbicara,

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

20

membaca dan menulis. Seperti yang dikemukakan Faturohman dan Sutikno

(2009: 67), untuk mencapai kompetensi tersebut dibutuhkan suatu media

yang sesuai. Media tersebuat banyak ragamnya antara lain media dilihat dari

daya liputnya menjadi dua, yaitu sebagai berikut:

(1) Media dengan daya liput luas dan serentak. Penggunaan media ini

tidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah

anak didik yang banyak dalam waktu yang sama; (2) Media dengan

daya liput yang terbatas oleh ruang dan tempat. Dalam

penggunaannya media ini membutuhkan ruang dan tempat yang

khusus seperti filem, sound slide, filem rangkai yang harus

menggunakan tempat tertutup dan gelap; (3) Media dilihat dari bahan

pembuatannya media dibagi menjadi dua yaitu: pertama, media

sederhana, yakni media yang bahan dasarnya mudah diperoleh dengan

harga murah, cara pembuatannya mudah, dan penggunaannya tidak

sulit seperti media kartu kata, kartu bergambar atau flash card, kartu

huruf, flip chart, dan lain sebagainya. Kedua, media kompleks yakni

media dengan bahan yang sulit di dapat, alat tidak mudah dibuat dan

harga relatif mahal.

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahuai bahwa terdapat tiga jenis

media pembelajaran yaitu pertama: media auditif meliputi foto, gambar atau

lukisan, cetakan. Kedua: media visual yang dibagi lagi kedalam daya

liputnya meliputi daya liput luas, daya liput terbatas dan dilihat dari bahan

pembuatannya seperti kartu kata, kartu bergambar atau flash card, flip chart

dan lain sebagainya. Ketiga yaitu media audiovisual. Jenis-jenis media

tersebut dalam penggunaannya tidak dinilai dari kecanggihan medianya,

tetapi yang lebih penting adalah fungsi dan penerapannya dalam membantu

meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Sebuah media sederhana dinilai

lebih berfungsi apabila digunakan sesuai dengan materi dan tujuan

pembelajaran.

Media selain dapat mengantarkan pembelajaran secara utuh dapat juga

dimanfaatkan untuk menyampaikan bagian tertentu dari kegiatan

pembelajaran, memberikan penguatan maupun motivasi. Eliyawati (2005:

112) mendefinisikan manfaat media sebagai berikut:

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

21

1) Penggunaan media pendidikan bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi memiliki fungsi tersendiri sebagai sarana bantu untuk

mewujudkan proses pendidikan yang lebih efektif.

2) Media merupakan bagian integral dari keseluruhan proses pendidikan. Media sebagai komponen yang tidak berdiri sendiri tetapi saling

berhubungan dengan komponen lainnya.

3) Media harus relevan dengan tujuan dan isi pesan pendidikan. 4) Media berfungsi mempercepat proses pembelajaran. 5) Media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan kualitas proses

pendidikan.

6) Media pendidikan meletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berpikir.

Berdasarkan fungsi dan peranan media pembelajaran diatas dapat

disimpulkan bahwa media pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan

kualitas proses dan hasil pembelajaran. Menggunakan media pendidikan

yang bervariasi dan menarik sesuai dengan tujuan pendidikan, anak akan

lebih tertanam serta tahan lama dan mengendap dalam pikiran anak

sehingga kualitas pendidikan lebih bermakna dan memiliki nilai yang tinggi.

d. Keunggulan dan Kekurangan Media Kartu Bergambar atau Flash

Card

Media kartu bergambar atau flash card tergolong ke dalam media

berbasis visual gambar diam. Media berbasis visual memiliki peranan

penting dalam proses pembelajaran. Menurut Ngadino (2009: 38) gambar

adalah media yang paling umum dipakai, sifatnya universal, mudah

dimengerti, melewati batasan bahasa verbal. Beberapa kelebihan dan

kekurangan gambar antara lain sebagai berikut:

1) Sifatnya konkrit, dapat menerjemahkan ide-ide abstrak ke dalam bentuk yang lebih nyata.

2) Dapat mengatasi batas ruang, waktu dan indera. 3) Relatif murah harganya, mudah menggunakan serta membuatnya. 4) Dapat digunakan untuk semua tingkat pengajaran dan bidang studi. 5) Banyak tersedia dalam buku-buku, majalah, koran, catalog dan

kalender.

Kekurangan media gambar antara lain:

1) Ukurannya terbatas untuk kelompok besar, dan bila terlalu kompleks kurang efektif untuk tujuan pembelajaran.

2) Tidak dapat menunjukkan gerak.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

22

3) Anak tidak selalu mengetahui bagaimana membaca atau menginterpretasikan gambar.

Gambar yang ada pada media kartu bergambar atau flash card

merupakan rangkaian pesan yang disajikan dengan keterangan pada bagian

belakang. Kelebihan media kartu bergambar atau flash card menurut

Indriyana (2011: 69) antara lain sebagai berikut:

(1) Mudah dibawa-bawa karena ukurannya yang seukuran postcard;

(2) Praktis dalam membuat dan menggunakannya, sehingga kapanpun

anak didik bisa belajar dengan baik menggunakan media ini; (3)

Gampang diingat karena kartu ini bergambar, atau berisi huruf atau

angka yang simple dan menarik, sehingga merangsang otak untuk

lebih lama mengingat pesan yang ada dalam kartu tersebut; (4) Media

ini sangat menyenangkan digunakan sebagai media pembelajaran,

bahkan bisa digunakan dalam bentuk permainan.

Media kartu bergambar atau flash card merupakan media yang paling

umum digunakan karena media ini mudah dimengerti dan dinikmati, serta

mudah didapatkan serta banyak memberikan penjelasan bila dibandingkan

verbal. Menurut Anitah (2009: 130) media yang baik mempunyai ciri-ciri

sebagai berikut:

(1) Cocok dengan tingkat umur dan kemampuan pelajar; (2) Tidak

terlalu kompleks, karena dengan gambar maka anak mendapat

gambaran yang pokok; (3) Realistis, gambar tersebut harus sesuai

dengan benda sesungguhnya atau sesuai dengan apa yang digambar

dfan perbandingan ukurannya harus disesuaikan; (4) Gambar dapat

diperlakukan dengan tangan. Sebagai media pembelajaran, gambar

harus dapat dipegang, diraba oleh anak didik.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan media kartu bergambar

mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Penggunaan media

gambar atau flash card dalam proses pembelajaran sangat tergantung pada

kreasi dan inisiatif guru, asalkan dari sisi seni baik dan sesuai dengan

tujuan pembelajaran dapat digunakan. Guru dapat mengkreasikan media

kartu bergambar atau flash card menjadi lebih menarik dengan

mengkombinasikan dengan kesenian daerah seperti wayang. Media kartu

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

23

bergambar atau flash card dapat dibuat seperti wayang dengan diberi

sedikit pengait agar dapat berdiri dan digerakkan sehingga menambah

semangat dan minat anak untuk belajar dan menggunakan media tersebut.

e. Penggunaan Media Kartu Bergambar atau Flash Card dalam

Pembelajaran Anak Usia Dini

Proses pembelajaran di taman kanak-kanak tidak lepas dari adanya

media yang dapat menunjang lancarnya kegiatan belajar mengajar. Dengan

digunakannya media dalam proses belajar mengajar sangat membantu guru

dalam memberikan materi pembelajaran yang lebih riil. Khususnya dalam

keterampilan berbicara media kartu bergambar atau flash card dapat

memberikan kontribusi bagi anak untuk dapat terampil dalam berbicara,

mampu mengungkapkan cerita melalui gambar dan menambah

perbendaharaan kata serta dapat membangun sosialisasi antar anak. Berikut

ini contoh media kartu bergambar yang dapat digunakan untuk melatih

ketarampilan berbicara anak:

Gambar 2.1 Contoh Media Kartu Bergambar Tunggal

Sumber: Majalah Contohlah Aku Taman Kanak-kanak Taswati (2009: 1)

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

24

Gambar 2.2 Contoh Media Kartu Bergambar Seri

Sumber: Majalah Akar edisi 01(2009: 26)

Media kartu bergambar atau flash card mudah untuk dibuat dan

digunakan. Dalam pembuatannya kita dapat memotong gambar yang sesuai

dan menempelkannya pada karta karton. Untuk membuat kartu bergambar

atau flash card pendidik harus mengikuti langkah-langkah yang ungkapkan

oleh Indriana (2011: 136) sebagai berikut:

(1) Siapkan kertas yang agak tebal seperti kertas dupleks atau dari

bahan kardus. Kertas ini berfungsi untuk menyimpan atau

menempelkan gambar-gambar yang sesuai dengan tujuan

pembelajaran; (2) Kertas tersebut diberi tanda dengan pensil atau

spidol dan menggunakan penggaris untuk menentukan ukuran 25 x 30

cm; (3) Potong kertas sesuai dengan ukuran 25 x 30 cm. dan buatlah

gambar sejumlah materi yang akan disajikan media pengajaran; (4)

Jika objek gambar dibuat dengan tangan, maka kertas alas tadi perlu

dilapisi dengan kertas halus untuk menggambar; (5) Mulailah

menggambar dengan menggunakan alat gambar seperti kuas, cat air,

spidol dan pensil warna. Atau buatlah desain dengan bantuan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

25

computer yang ukurannya telah disesuaikan, kemudian tempelkan

pada alas tersebut; (6) Jika gambar yang akan ditempel tersebut

memanfaatkan gambar yang sudah ada, maka gambar-gambar tersebut

tinggal dipotong sesuai ukuran, lalu ditempelkan; (7) Langkah terakhir

adalah memberikan tulisan atau pesan pada bagian belakang kartu

tersebut sesuai dengan objek yang ada di bagian depannya.

Media kartu bergambar dapat digunakan pada semua rentang usia

dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Cara penggunaan media kartu

bergambar atau flash card secara umum dapat dijabarkan menjadi dua

bagian yaitu sesaat sebelum penyajian dan pada saat penyajian. Menurut

Susilana dan Riyani, diperoleh 9 Februari 2012 dari http://repository.

upi.edu/operator/upload/s_jrm_060079_chapter2. pdf mendeskripsikan

langkah-langkah penggunaan media sebagai berikut:

1) Pesiapan penggunaan a) Mempersiapkan diri

Guru perlu menguasai bahan pelajaran dengan baik, memiliki

keterampilan menggunakan media tersebut. Jika perlu untuk

memperlancar lakukan dengan berulang meski tidak langsung

dihadapan siswa.

b) Mempersiapkan kartu bergambar. Sebelum dimulai pelajaran pastikan jumlahnya cukup, urutannya

betul, dan perlu tidaknya media untuk membantu.

c) Mempersiapkan tempat Posisi penyaji baik atau tidak, bagaimana penerangannya apakah

semua siswa dapat melihat dengan jelas dan pastikan ruangan tidak

ada suara bising mengganggu.

d) Mempersiapkan siswa Posisi siswa sebaiknya ditata dengan baik, agar semua siswa dapat

melihat kartu bergambar.

2) Cara Penggunaan a) Kartu-kartu yang sudah disusun, dipegang setinggi dada dan

menghadap ke depan siswa.

b) Cabutlah satu-persatu kartu tersebut setelah guru menerangkan. c) Berilah kartu-kartu yang telah diterangkan kepada siswa yang duduk

di dekat guru. Mintalah siswa untuk mengamati kartu tersebut satu

persatu, kemudian teruskan kepada siswa lain sampai semua siswa

kebagihan.

d) Jika penyajian dengan cara permainan, letakkan kartu-kartu tersebut di dalam sebuah kotak secara acak tidak perlu disusun. Siapkan

siswa yang akan berlomba misalnya tiga orang berdiri sejajar,

kemudian guru memberikan perintah, misalnya cari binatang kuda,

maka siswa berlari menghampiri kotak tersebut untuk mengambil

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

26

kartu bergambar kuda dan menceritakan isi gambar tersebut sesuai

imajinasi anak. Dengan permainan tersebut dapat melatih anak

berbicara dan mengasah kemampuan piker dan kosa kata anak.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa cara menggunakan media

kartu bergambar terdapat dua bagian, yaitu persiapan sebelum penyajian dan

pada saat penyajian. Persiapan sebelum penyajian meliputi: mempersiapkan

diri, mempersiapkan kartu bergambar, dan mempersiapkan tempatnya. Cara

penggunaan atau penyajian kartu bergambar atau flash card yaitu dapat

dipegang langsung oleh guru atau melalui sebuah permainan.

Senada dengan uraian yang dikemukakan oleh Susilana dan Riyani di

atas, menurut Surana yang diperoleh 9 Februari 2012 dari http://repository.

upi.edu/operator/upload/s_jrm_060079_chapter2.pdf memberikan pendapat

mengenai cara penggunaan media kartu bergambar atau flash card sebagai

berikut:

(1) Dengan bimbingan guru anak mengatur posisi duduknya; (2)

Berdiri dengan jarak 1-1,5 meter di depan kelas dimana semua anak

dapat melihat guru; (3) Siapkan kartu-kartu dari kelompok yang sama,

ditumpuk dan dipegang setinggi dada. Untuk menarik perhatian siswa,

tunjukkan halaman kartu bergambar dengan cara mengambil kartu

bagian paling belakang dan meletakkan pada urutan depan sambil

mengucapkan nama jelas gambar tersebut; (4) Anak mendengarkan

guru berbicara/ bercerita dan memperhatikan gambar yang

diperlihatkan; (5) Mintalah anak untuk mengulang apa yang guru

ucapkan; (6) Setelah itu ambil kartu kedua dari kartu urutan paling

belakang, kemudian lakukan seperti langkah 3, 4 dan 5; (7) Setelah

seluruh kartu disebutkan satu-persatu, berikan kartu-kartu yang telah

diterangkan kepada anak yang duduk di dekat guru; (8) Mintalah agar

semua anak melihat lagi kartu-kartu satu-persatu, dan teruskan kepada

yang lain; (9) Beri kesempatan pada beberapa anak untuk mengulang

kalimat yang diucapkan guru atau menceritakan isi gambar sesuai

dengan imajinasi anak.

Indriana (2011: 138) juga berpendapat sama proses pengoprasian

kartu bergambar atau flash card dalam pembelajaran, antara lain sebagai

berikut:

1) Kartu-kartu yang sudah disusun dipegang setinggi dada dan menghadap ke siswa.

2) Cabutlah satu persatu kartu tersebut setelah guru selesai menerangkan.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

27

3) Berikan kartu-kartu yang telah diterangkan kepada siswa yang duduk di dekat guru. Mintalah siswa untuk mengamati kartu tersebut, lalu

teruskan kepada siswa yang lain hingga semua siswa kebagihan.

4) Jika sajian menggunakan jenis atau cara permainan, letakkan kartu-kartu tersebut di dalam sebuah kotak secara acak dan tidak perlu disusun.

Siapkan siswa yang akan berlomba, misalnya 3 orang, untuk berdiri

sejajar di ujung sini. Sedangkan kotak yang berisi kartu tersebut di

sebelah sana. Kemudian guru memberikan perintah kepada siswa untuk

mencari suatu benda. Selanjutnya anak berlomba lari menuju kotak dan

mencari gambar. Setelah mendapatkannya, anak didik harus kembali ke

tempat start. Siswa yang paling cepat larinya dan mendapatkan

bendanya harus menyebutkan nama benda tersebut. Dalam permainan

menggunakan kartu bergambar atau flash card, kreativitas guru harus

bermain untuk mendapatkan proses pembelajaran yang menarik sambil

bermain menggunakan media tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa cara

menggunakan media kartu bergambar atau flash card yaitu harus dilakukan

dengan cara yang dekat, agar semua siswa dapat melihat kartu dengan jelas.

Penggunaan media kartu bergambar dapat dilakukan dengan cara

menyebutkan kartu satu persatu atau dengan cara permainan, yaitu dengan

cara meletakkan kartu-kartu di dalam kotak secara acak, kemudian

persiapkan siswa untuk berlomba mengambil kartu sesuai perintah. Setelah

mengambil kartu minta anak untuk menceritakan isi dari kartu yang telah

diambilnya. Selain itu guru dapat mengkreasi media kartu bergambar

dengan mengadopsi budaya jawa yaitu wayang. Kartu bergambar yang

sudah siap bisa diberi kayu seolah-olah seperti wayang. Dalam

pelaksanaannya guru dapat menggunakan kaleng sebagai panggung. Media

kartu bergambar atau flash card dapat digerak-gerakkan seolah-olah

berjalan. Kegiatan ini dapat dikreasikan dalam sebuah permainan agar

proses belajar mengajar lebih berkesan dan bermakna.

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian yang relevan dengan penelitia ini antaralain, penelitian yang

dilakukan oleh Indrarti Yhuaningsih (2010) dengan judul Penggunaan Media

Kartu Bergambar untuk Meningkatkan Kemampuan Berbahasa pada Anak

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

28

Kelompok di RA Miftahul Khoir Grati Pasurua. Hasil penelitian ini menunjukkan

penggunaan media kartu gambar dapat meningkatkan kemampuan berbahasa anak

kelompok B di RA Miftahul Khoir, terbukti dari hasil yang diperoleh anak dapat

dilihat dari rata-rata hasil observasi anak mulai dari pratindakan (46) dengan

prosentase (10%), meningkat pada siklus I (66) dengan prosentase (45%), dan

meningkat lagi pada siklus II (84,15) dengan prosentase (90%) yang terus

mengalami peningkatan.

Chustini (2010) dengan judul Penggunaan Media Kartu Bergambar untuk

Mengembangkan Kemampuan Bercerita Anak Kelompok A Di TK Muslimat NU

34 Kota Malang. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media kartu

bergambar dapat meningkatkan kemampuan bercerita anak yaitu pada siklus 1,

nilai rata-rata kemampuan bercerita mencapai 2.1 dengan nilai prosentase sebesar

51,3%. Pada siklus 2 kemampuan bercerita anak mengalami peningkatan dengan

nilai rata-rata 3,1 dengan nilai prosentase 77,95%, artinya rata-rata kemampuan

anak mengalami peningkatan sebesar 26,7%.

Suzi Lediana Sari (2011) dengan judul Peningkatan Keterampilan

Membaca Permulaan dengan Menggunakan Media Kartu Bergambar (Flash

Card) Siswa Kelas 1 SD Negeri 1 Nungkulan Kecamatan Girimarto Kabupaten

Wonogiri. Terbukti dari hasil belajar yang di peroleh anak sebelum menggunakan

media kartu bergambar yaitu 68%. Setelah diadakan tindakan pada siklus I dan

siklus II, mengalami peningkatan. Pada siklus I nilai rata-rata adalah 72 dengan

keberhasilan belajar 88% dan meningkat menjadi 100% dengan nilai rata-rata 81

pada siklus II.

Penelitian di atas menggunakan media yang sama yaitu media kartu

bergambar. Akan tetapi terdapat perbedaan dari penelitian Indriyani dan Chustini

yaitu aspek yang ditingkatkan mengenai kemampuan berbahasa dan kemampuan

bercerita. Sedangkan peneliti akan meneliti tentang penggunaan media kartu

bergambar untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Penelitian Suzi Lediana

Sari juga membahas tentang penggunaan media kartu bergambar, akan tetapi ada

perbedaan antara penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu terletak pada

variable yang diteliti, peneliti melakukan penelitian terhadap anak usia dini

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

29

sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Suzi Lediana Sari dilakukan terhadap

anak usia sekolah dasar kelas 1.

C. Kerangka Berfikir

Kerangka berfikir merupakan alur penalaran yang sesuai dengan tema dan

masalah penelitian, serta didasarkan pada kajian teoritis. Kerangka berfikir ini

digambarkan dengan skema secara holistik dan sistematik. Selaras dengan judul

penelitian yang diambil, yaitu Penggunaan Media Kartu Bergambar (Flash Card)

Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak kelompok B1 Semester II TK

Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo.

Pada kondisi awal keterampilan berbicara anak Kelompok B1 Taman

Kanak-kanak Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo diidentifikasi masih rendah.

Siswa yang mendapat nilai tuntas () hanya 10 anak atau 40% dari 25, sedangkan

15 anak (60%) mendapat nilai dibawah tuntas. Adapun faktor-faktor yang

menyebabkan rendahnya keterampilan berbicara anak yaitu: sikap dan minat anak

dalam mengikuti kegiatan pembelajaran rendah, pada umumnya anak merasa

takut dan malu saat ditugaskan untuk tampil berbicara atau bercerita di depan

teman-teman, anak kurang terampil sebagai akibat dari kurangnya latihan

berbicara. Media pembelajaran yang digunakan oleh guru belum begitu

mendukung adanya interaksi antar anak. Sehingga hasilnya banyak anak yang

pendiam dan kurang berani dalam kegiatan berbicara di depan kelas. Itu

disebabkan karena dalam kegiatan pembelajaran anak hanya mendengarkan guru

dalam berbicara dan mengerjakan lembar kegiatan. Selain itu dapat ditarik

kesimpulan bahwa guru belum memaksimalkan media pembelajaran dalam proses

kegiatan berbicara kelompok B1 TK Pelangi kluwung Kemiri Purworejo.

Bertolak dari permasalahan tersebut, diperlukan adanya solusi untuk

memecahkan masalah tersebut yaitu menggunakan media kartu bergambar atau

flash card. Pembelajaran dengan menggunakan media kartu bergambar atau flash

card diharapkan dapat meningkatkan proses kegiatan pembelajaran keterampilan

berbicara anak. Media kartu bergambar atau flash card juga dapat memberikan

motivasi yang lebih tinggi karena selalu dikaitka dengan permainan dan

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

30

kreativitas. Media pembelajaran kartu bergambar atau flash card mengandalkan

gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi

faktor utama dalam proses pembelajaran, sehingga sebelum proses pembelajaran

guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan. Perbaikan pembelajaran

dengan menggunakan media kartu bergambar atau flash card akan dilaksanakan

dalam tiga siklus yang terdiri dari tiga pertemuan yang meliputi tahap

perencanaan, tahap pelaksanaan tindakan ,tahap pengamatan atau observasi dan

tahap refleksi.

Pada kondisi akhir dengan digunakannya media kartu bergambar atau flash

card dapat mengajarkan siswa bersosialisasi dengan kelompok dan belajar untuk

bertanggung jawab. Penggunaan media kartu bergambar diharapkan anak dapat

tertarik dan mudah memahami materi yang disampaikan, anak tidak hanya

mendengarkan guru menjelaskan materi pembelajaran, melainkan mereka mulai

menunjukkan sikap berani dan percaya diri dalam berbicara, berkomunikasi dan

bersosialisasi dengan teman. Media kartu bergambar atau flash card yang menarik

akan membuat anak antusias, senang dan lebih aktif dan kreatif dalam berbicara.

Setelah menggunakan media kartu bergambar atau flash card melalui kegiatan

pembelajaran bercerita, diharapkan keterampilan berbicara anak meningkat. Hal

ini ditandai oleh ketuntasan klasikal yang diperoleh mencapai 80% dari

keseluruhan jumlah siswa.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat peneliti gambarkan kerangka berpikir

penelitian dilihat pada gambar 3 sebagai berikut:

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

31

Gambar 2.3 Kerangka Berfikir

D. Hipotesis Tindakan

Hipotesis yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah dengan

menggunakan media kartu bergambar atau flash card, maka keterampilan

berbicara Anak Kelompok B1 Semester II TK Pelangi Kluwung Kemiri

Purworejo dapat meningkat.

Guru mengajar belum

menggunakan media kartu

bergambar atau flash card.

Keterampilan

berbicara anak

rendah.

Guru menggunakan media

kartu bergambar atau flash

card untuk meningkatkan

keterampilan berbicara.

Melalui penggunaan media

kartu bergambar atau flash

card dapat meningkatkan

keterampilan berbicara anak

kelompok B1 Semester II

TK Pelangi Kluwung

Kemiri Purworejo.

Siklus I

1. Perencanaan

2. Tindakan

3. Observasi

4. Refleksi

Siklus II

1. Perencanaan

2. Tindakan

3. Observasi

4. Refleksi

Kondisi

Awal

Kondisi

Akhir

Tindakan

Siklus III

1. Perencanaan

2. Tindakan

3. Observasi

4. Refleksi

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

32

32

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian dengan judul Penggunaan Media Kartu Bergambar (Flash

Card) Untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Anak Kelompok B1

Semester II TK Pelangi Kluwung Kemiri Purworejo akan dilaksanakan di

Taman Kanak-kanak Pelangi Kluwung yang terletak di desa Bedono Kluwung

Rt 01 Rw 1 Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo Provinsi Jawa Tengah

Kode pos 54262. Taman Kanak-kanak Pelangi Kluwung Kemiri berdiri di atas

tanah seluas 300 m2. Taman Kanak-kanak Pelangi Kluwung Kemiri memiliki

3 lokal gedung yang terbagi menjadi dua ruang kelas, satu ruang kantor dan

ruang tamu serta satu ruang kamar mandi dan wc.

Anak didik