pengendalian penyakit terpadu pada tanaman kedelai .makalah ini membahas konsep, ekologi, arti...

Download Pengendalian Penyakit Terpadu pada Tanaman Kedelai .Makalah ini membahas konsep, ekologi, arti penting,

Post on 10-Aug-2019

216 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 319Saleh dan Hardaningsih: Pengendalian Penyakit Terpadu pada Kedelai

    Pengendalian Penyakit Terpadu pada Tanaman Kedelai

    Nasir Saleh dan Sri Hardaningsih Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang

    PENDAHULUAN

    Produktivitas tanaman kedelai di Indonesia masih rendah yaitu sekitar 1,28 t/ha (BPS 2005), jauh di bawah potensi hasil beberapa varietas unggul yang dapat mencapai 2-2,5 t/ha (Suhartina 2005). Salah satu penyebab rendahnya produktivitas tersebut adalah adanya gangguan penyakit tanaman. Tidak kurang dari 20 jenis penyakit yang disebabkan oleh patogen jamur, bakteri, virus, dan mikoplasma menyerang tanaman kedelai di Indonesia telah diidentifikasi (Semangun 1991; Sudjono et al. 1985). Intensitas serangan penyakit beragam antarlokasi dan musim tanam. Tetapi data intensitas serangan, luas serangan, dan kehilangan hasil kedelai akibat serangan setiap jenis penyakit tanaman belum terdokumentasi dengan baik. Kehilangan hasil kedelai dapat ringan (< 10%) hingga > 50% bahkan puso, tergantung jenis patogen, musim, umur dan varietas tanaman, serta teknik pengendalian yang dilakukan.

    Petani umumnya kurang memahami penyakit tanaman karena: (1) patogen penyebab penyakit bersifat mikroskopis/submikroskopis, tidak kasat mata, (2) gejala penyakit tanaman kadang-kadang serupa dengan gejala kahat atau keracunan hara, (3) keterbatasan pengetahuan petugas dan petani tentang patogen dan penyakit tanaman. Di beberapa daerah munculnya gejala penyakit bercak daun sering diartikan sebagai tanda bahwa tanaman mereka sudah cukup umur untuk dipanen. Penggunaan fungisida dan bakterisida jarang atau bahkan tidak pernah dilakukan. Berbeda halnya, penggunaan insektisida untuk menekan serangan hama sudah umum dilakukan, bahkan yang terjadwal tanpa memantau populasi hama (Marwoto dan Suharsono 1988).

    Makalah ini membahas konsep, ekologi, arti penting, dan perkembangan epidemi penyakit kedelai serta strategi dan langkah operasional untuk mengendalikannya secara terpadu.

    KONSEP PENYAKIT PADA TANAMAN

    Tanaman kedelai disebut sehat atau normal apabila semua fungsi fisiologis- nya (pembelahan sel, diferensiasi sel, absorpsi air/mineral dari tanah dan

  • 320 Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan

    translokasinya ke seluruh bagian tanaman, fotosintesis dan translokasi produk fotosintesis, kegiatan metabolisme, dan reproduksi) berjalan sesuai dengan potensi genetiknya. Apabila tanaman terganggu oleh patogen atau kondisi lingkungan tertentu sehingga satu atau lebih fungsi fisiologisnya terganggu maka tanaman tersebut sakit (Agrios 1988).

    Penyakit tanaman kedelai yang disebabkan oleh gangguan abiotik seperti halnya akibat cekaman kondisi fisik tertentu sering disebut sebagai penyakit fisiologis. Sebagai contoh adalah kahat hara, keracunan, cekaman ke- keringan, ataupun suhu yang terlalu panas/dingin. Di tanah Vertisol, tanaman kedelai sering kahat unsur kalium yang ditandai dengan pertumbuhan yang tidak optimal dan tepi daun menguning. Demikian juga di tanah Ultisol masam dengan kandungan ion Al yang dapat dipertukarkan (Al-dd) tinggi, pertumbuhan tanaman kedelai menjadi kerdil, terhambat akibat keracunan hara Al.

    Penyakit tanaman yang disebabkan oleh gangguan biotik berupa patogen disebut dengan penyakit patogenik. Misalnya penyakit karat daun yang disebabkan oleh jamur Phakopsora pachyrizhi, penyakit bakteri pustul oleh bakteri Xanthomonas xampestris dan berbagai penyakit oleh patogen virus. Makalah ini hanya membahas penyakit tanaman yang disebabkan oleh patogen.

    Tanaman mudah sakit apabila rentan terserang oleh patogen dan kondisi lingkungannya mendukung perkembangan patogen tersebut. Jadi penyakit merupakan interaksi antara inang tanaman, patogen, dan kondisi lingkungan yang mendukung. Konsep tersebut lebih dikenal sebagai segitiga penyakit atau triangle disease (Gambar 1).

    Alam bebas dengan berbagai jenis tumbuhan mempunyai tingkat ke- ragaman genetik yang tinggi dan umumnya telah mengalami keseimbangan

    Gambar 1. Segitiga penyakit. I = tanaman inang, P=patogen dan L= lingkungan.

    P I

    L

    P I

    L

  • 321Saleh dan Hardaningsih: Pengendalian Penyakit Terpadu pada Kedelai

    segitiga penyakit sehingga ledakan epidemi penyakit tidak terjadi. Namun apabila keseimbangan tersebut terganggu, maka epidemi penyakit terjadi. Usaha pertanian modern pada dasarnya merupakan upaya manusia untuk menyeragamkan genetik tanaman (menanam satu jenis tanaman kedelai dalam hamparan yang luas) dan memanipulasi lingkungan agar mendukung produksi yang optimal. Dalam ekosistem demikian, keragaman genetik menjadi lebih sempit, mengakibatkan kerentanan terhadap timbulnya epidemi penyakit tanaman.

    Apabila ditanam secara luas, varietas tanaman yang berpotensi produksi tinggi namun rentan terhadap patogen sering menimbulkan ledakan epidemi penyakit. Demikian pula penggunaan pupuk N yang berlebihan sering membuat tanaman tumbuh terlalu subur, sukulen, dan menjadi lebih rentan terhadap infeksi penyakit busuk daun dan busuk polong yang disebakan oleh jamur Rhizoctonia solani. Penanaman suatu varietas tanaman tahan secara terus-menerus memicu timbulnya strain patogen yang mampu mematahkan ketahanan itu. Peran manusia tersebut apabila ditambahkan pada konsep segitiga penyakit menjadi piramida penyakit atau disease pyramide (Gambar 2).

    EKOLOGI TROPIKA DAN USAHATANI KEDELAI DI INDONESIA

    Perkembangan tanaman dan patogen penyebab penyakit tanaman sangat dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh mikro maupun makro. Indonesia yang berada antara 11 Lintang Selatan (LS) dan 8 Lintang Utara (LU), merupakan daerah tropika basah yang secara umum mempunyai ciri-ciri berbeda dengan daerah beriklim sedang antara lain (Semangun 1991):

    Gambar 2. Konsep piramida penyakit. M = aktivitas manusia, I = tanaman inang, P = patogen, L = lingkungan

    P

    L

    M

    I P

    L

    M

    I

  • 322 Kedelai: Teknik Produksi dan Pengembangan

    a. Tidak ada perbedaan tajam antara rata-rata suhu setiap bulan maupun antara siang dan malam. Perbedaan suhu siang dan malam umumnya lebih besar dibanding suhu bulan panas dan dingin. Perbedaan suhu lebih ditentukan oleh tinggi tempat (altitude) daripada oleh derajat lintang (latitude). Tidak ada musim dingin yang panjang dan tegas yang dapat menghilangkan sumber infeksi dan menekan laju infeksi.

    b. Curah hujan tahunan umumnya tinggi, antara 1000 mm hingga > 10.000 mm/tahun, mengakibatkan kelembaban relatif udara menjadi tinggi yang mendorong perkembangan penyakit.

    c. Perbedaan suhu yang kecil serta perbedaan kecil kecepatan rotasi di sekitar katulistiwa, menimbulkan kecilnya perbedaan tekanan udara sehingga membatasi hembusan angin yang kencang. Di Indonesia tanaman kedelai dibudidayakan di lingkungan yang sangat

    beragam. Berdasar lahan dan musim tanamnya, sebagian besar (60%) tanaman kedelai diusahakan di lahan sawah pada awal musim kemarau (April-Juni) atau akhir musim kemarau (Juli-Oktober) dengan polatanam padi-kedelai-kedelai atau padi-kedelai-palawija lain. Sebagian kedelai (40%) ditanam di lahan sawah tadah hujan (tegal) pada awal musim hujan (Maret- April) dengan pola tanam padi-kedelai-kedelai atau padi-kedelai-kedelai. Lahan tegal tadah hujan pada awal atau akhir musim hujan tergantung pada polatanam dan ketersediaan air irigasi dan curah hujan setempat. Di Sumatera Selatan, dan Sulawesi Tenggara kedelai juga diusahakan di lahan bukaan baru pada awal atau akhir musim hujan dan ditanam dalam tumpangsari dengan padi, jagung, atau ubi kayu. Sebagai tanaman kedua (secondary crops), kedelai jarang dibudidayakan secara serempak dalam hamparan yang luas dengan teknologi budi daya intensif. Pemilikan lahan yang sempit, terpencar serta keterbatasan modal seringkali mendorong petani bertanam kedelai dengan teknologi budidaya sederhana.

    PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT TANAMAN KEDELAI

    Lebih dari 20 jenis patogen penyebab penyakit tanaman kedelai dari golongan jamur, bakteri, mikoplasma dan virus telah diidentifikasi di Indonesia (Semangun 1991, Sudjono et al. 1985) (Tabel 1). Di lapang, penyebaran penyakit terjadi dengan bantuan angin, percikan air hujan, aliran air pengairan, tanah/bahan tanaman yang terinfeksi, serangga penular (vektor) dan alat-alat pertanian yang membawa atau terkontaminasi dengan patogen yang berupa spora/konidia/hifa/propagul jamur, bakteri atau virus. Beberapa penyakit tanaman kedelai juga dapat tersebar melalui benih, misalnya anthraknose (Colletotrichum sp.), bercak ungu (Cercospora kikuchii), virus mosaik (Soybean mosaic virus ), dan penyakit virus katai kedelai (Soybean stunt virus).

  • 323Saleh dan Hardaningsih: Pengendalian Penyakit Terpadu pada Kedelai

    Intensitas serangan penyakit beragam tergantung tingkat kerentanan tanaman, patogenisitas patogen, dan kondisi lingkungan di lapang. Secara umum penyakit jamur dan bakteri pada tanaman kedelai lebih mudah berkembang dalam udara yang hangat dan lembab. Sedangkan penyakit virus dan mikoplasma umumnya menyerang di musim kemarau seiring dengan meningkatnya populasi serangga penular berupa kutu daun (Aphis spp.) dan kutu kebul (Bemisia tabaci) di lapang.

    Bioekologi Penyakit Utama Kedelai

    Penyakit karat daun, bakteri pustul, bakteri hawar, antraknose, busuk batang, dan penyakit virus merupakan penyakit yang sering menimbulkan kerugian besar. Pengetahuan tentang bioekologi penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya di lapang dapat membantu upaya pengendalian secara efektif.

    Penyakit Karat Daun

    Penyakit karat daun disebabkan oleh jamur Phakopsora pachyrhizi Syd, (sinonim P. sojae, P. vignae, Uredo sojae, Uromyces sojae) dan merupakan penyakit penting yang tersebar luas di