pengelolaan hama penyakit tanaman cabai

Download Pengelolaan Hama Penyakit Tanaman Cabai

Post on 02-Aug-2015

560 views

Category:

Documents

15 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUM KLINIK TANAMAN (PTN402)

PENGAMATAN KEJADIAN SERANGAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADA KOMODITAS CABAI DI DESA SUKA DAMAI KECAMATAN DRAMAGA, BOGOR

Disusun Oleh: Andrixinata B Maeniwati Rachmah R Tia Santiani Heryana Muhammad Prio Santoso A34070016 A34080054 A34080072 A34080081

Dosen: Dr. Suryo Wiyono

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

PENDAHULUAN

Latar Belakang Cabai (Capsicum annum varlongum) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terongterongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabai berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negaranegara benua Amerika, Eropa dan Asia termasuk Negara Indonesia. Tanaman cabai banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di Negara asalnya. Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja, yakni cabai besar, cabai keriting, cabai rawit dan paprika. Secara umum cabai memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Kabohidarat, Kalsium, Vitamin A, B1 dan Vitamin C. Selain digunakan untuk keperluan rumah tangga, cabai juga dapat digunakan untuk keperluan industri diantaranya, Industri bumbu masakan, industry makanan dan industri obatobatan atau jamu. Buah cabai ini selain dijadikan sayuran atau bumbu masak juga mempunyai kapasitas menaikkan pendapatan petani. Disamping itu tanaman ini juga berfungsi sebagai bahan baku industri, yang memiliki peluang eksport, membuka kesempatan kerja. Kebutuhan akan cabai merah, diduga masih dapat ditingkatkan dengan pesat sejalan dengan kenaikan pendapatan dan atau jumlah penduduk sebagaimana terlihat dari trend permintaan yang cenderung meningkat yaitu tahun 1988 sebesar 2,45 kg/kapita, menjadi sebesar 2,88 kg/kapita pada tahun 1990 dan pada tahun 1992 mencapai sebesar 3,16 kg/kapita. Sekalipun ada kecenderungan peningkatan kebutuhan, tetapi permintaan terhadap cabai merah untuk kebutuhan sehari-hari dapat berfluktuasi, yang disebabkan karena tingkat harga yang terjadi di pasar eceran. Fluktuasi harga yang terjadi di pasar eceran, selain disebabkan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi sisi penawaran. Dapat dijelaskan bahwa kadang-kadang keseimbangan harga terjadi pada kondisisi jumlah yang ditawarkan relatif jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang diminta. Hal ini yang mengakibatkan harga akan sangat tinggi. Demikian pula terjadi sebaliknya sehingga harga sangat rendah. Tujuan Melakukan observasi dan identifikasi serangan organisme pengganggu tanamana (OPT) pada tanaman cabai merah serta memberikan rekomendasi pengendalian yang spesisfik.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Pengamatan Pengamatan dilakukan di lahan Cabai bapak Ata yang dikelola oleh bapak Eman desa Sukadamai, kecamatan Dramaga, Bogor barat, Jawa Barat. Pengamatan dilakukan mulai tanggal 19 september 2011, pengamatan dilakukan seminggu sekali selama 5 minggu. Bahan Pada pengamatan kali ini bahan-bahan yang digunakan adalah daun, buah dan batang tanaman yang terinfeksi pada lahan pengamatan seluas 4000 m2. Bagian tanaman yang diambil tersebut adalah sampel dalam pengamatan. Alat Alat yang digunakan berupa kamera untuk pengambilan gambar bagian tanaman yang terinfeksi, mikroskop cahaya dan stereo, cawan petri, spatula, plastik dan label Metode Pengamatan dilakukan di desa Koncong, kelurahan Sukadamai kecamatan Dramaga kabupaten Bogor. Lahan yang diamati adalah milik Bapak Ata dan pengelola lahan adalah Bapak Eman, tanaman cabai ditanam pada lahan seluas 4000 m2. Metode pengambilan contoh Tanaman tumbuh di atas lahan seluas 4000 m2 sehingga tanaman yang diamati adalah hanya tanaman yang sudah ditentukan secara acak. Metode pengacakan dilakukan dengan metode silang. Pada lahan diambil beberapa tanaman yang berada pada garis silang yang telah ditentukan. Sehingga diperoleh 22 tanaman contoh yang akan diambil bagian-bagiannya yang menunjukkan gejala kemudian diamati secara mikroskopis. Metode wawancara Informasi yang lebih lengkap dapat diperoleh dengan cara melakukan wawancara pada pemilik lahan, dan pengelola lahan. Informasi yang diperoleh berupa tanaman budidaya, penggunaan benih, sistem budidaya, sejarah pertanaman, kondisi pertanaman disekitarnya,dan sejarah pengendalian. Metode pengamatan. Pengamatan dilakukan secara lapang dan laboratorium. Pengamatan lapang pada tanaman contoh dilakukan seminggu sekali selama 5 minggu dengan mengamati perkembangan gejala penyakit yang timbul pada saat itu, sedangkan

pengamatan laboratorium dilakukan di laboratorium pendidikan Proteksi Tanaman. Pengamatan laboratorium dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya untuk mendeteksi gejala penyakit yang ditimbulkan oleh cendawan. Bagian tanaman yang menunjukkan gejala dibawa dengan menggunakan plastik yang digelembungkan dan diamati. Perlakuan sama untuk bagian tanaman yang terserang oleh hama atau cendawan.

TINJAUAN PUSTAKA

Cara Budidaya Tanaman 1. Pengolahan tanah Pengolahan tanah bertujuan mengubah struktur tanah menjadi gembur sesuai untuk perkembangan akar tanaman, menstabilkan peredaran air, peredaran udara dan suhu di dalam tanah. Sebelum dibajak lahan digenangi sehari semalam agar tanah menjadi lunak dan tidak melekat pada mata bajak saat pembajakan. Setelah dibajak lahan dikeringkan dan digaru, kemudian diangin-anginkan selama 5-7 hari. Plot dibuat dengan ukuran panjang 10-12 m. lebar 110-20 cm, tinggi 3040 cm (untuk musim kemarau) 50-70 cm (untuk musim hujan), lebar parit 50-55 cm (musim kemarau), dan 60-70 cm (musim hujan). 2. Pengapuran Pengapuran bertujuan untuk menaikkan pH tanah, selain itu juga untuk menambahkan unsur hara Calsium (Ca) maupun unsur Magnesium (Mg). Kebutuhan Kapur sangat tergantung tinggi rendahnya pH. Pada pH < 5 dibutuhkan kapur 5-10 ton/ha, sedangkan pada pH > 6 diperlukan kapur 1- 4 ton. 3. Pemupukan Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur hara yang di butuhkan tanaman, unsur tersebut terdiri dari unsur makro yaitu N, P, K, Ca, S, C, H dan Mg dan unsur mikro yaitu Fe, B, Zn, Cu dan Mo. Jenis dan dosis pupuk makro dan mikro, yang diberikan melalui akar maupun melalui daun. 4. Waktu dan Cara Pemupukan Pemupukan pertama masing-masing pupuk kandang (pupuk organik) sebanyak 100%, pupuk buatan (an-organik) sebanyak 40% dan nematisida furadan diberikan 7-10 hari sebelum tanam menjelang pemasangan mulsa. Pemupukan kedua dan ketiga masing-masing 30% pupuk buatan diberikan pada umur 30 dan 60 hari setelah tanam melalui lubang yang dibuat antar tanaman. Aplikasi ZPT masing-masing jenis diberikan tiap 10 hari sekali secara bersamaan. Sedangkan pupuk daun Gandasil D diberikan pada awal pertumbuhan vegetatif dan Gandasil B diberikan pada akhir masa vegetatif sampai akhir masa generatif. 5. Pemasangan Mulsa Selain mulsa plastik hitam-perak (MPHP) mulsa jerami dapat juga diberikan sebanyak 5ton/ha. Pemasangan mulsa dikerjakan setelah penyiraman secukupnya dan pemberian pupuk dasar.

6. Pembuatan Lubang Tanaman Bedengan yang telah ditutup mulsa dibiarkan selama 5-7 hari agar unsur hara dengan pupuk bereaksi dan dalam bentuk tersedia hingga segera dapat diserap tanaman muda. Satu atau dua hari sebelum penanaman, lubang tanaman sudah dipersiapkan dengan ukuran diameter 10cm. 7. Persiapan Polybag Sebaiknya persemaian cabai merah dilakukan dalam polybag sebelum penanaman ke lapangan. Media tanam dalam polybag merupakan campuran tanah yang telah diayak terlebih dahulu kemudian dicampur dengan pupuk kandang atau kompos, dengan dosis 1:1. Pemberian pupuk an-organik dan kapur pada media persemaian masing-masing pupuk majemuk NPK sebanyak 2 kg dan kapur 10 kg/ton media kompos dan tanah. Setelah media tanam diisi dalam polybag, lalu dibiarkan antara 5-7 hari sebelum benih disemai. 8. Persemaian Benih Sebelum disemai, benih yang terpilih terlebih dahulu direndam dalam larutan fungisida sampai 12 jam dan dikering-anginkan hingga airnya kering. Setelah itu, benih ditebarkan ke dalam media tanam (polybag) sebanyak 1 biji benih per polybag. Perawatan persemaian terdiri dari penyiraman, pengaturan cahaya, dan pemberantasan hama/penyakit. 9. Penanaman dan Model Tanam Setelah umur bibit di persemaian 18-25 hari, bibit sudah dapat dipindahkan ke lapangan, pemindahan sebaiknya dilakukan pagi-pagi sebelum terik matahari atau sore hari. Jarak tanam dianjurkan bervariasi 60 x 50 cm, 60 x 70 cm atau 70 x 70 cm, hal ini tergantung tingkat kesuburan tanah dan varietas yang digunakan. Bentuk pertanaman sebaiknya dengan sistem tanam segitiga (zigzag). 10. Penyulaman Bibit atau tanaman muda yang mati harus diganti atau disulam. Bibit sulaman yang baik diambil dari tanaman yang sehat dan tepat waktu (umur bibit) untuk penanaman. Penyulaman dilakukan pada minggu pertama atau selambatlambatnya minggu kedua. Sebaiknya penyulaman dilakukan pagi atau sore hari. 11. Perempelan Perempelan bertujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki kualitas produksi. Bagian yang dirempel yaitu tunas samping, yang keluar di ketiak daun pada saat tanaman berumur 10-20 hari. Perempelan dilakukan 2-3 kali sampai terbentuk percabangan utama yang ditandai dengan munculnya bunga pertama, sekitar umur 18-22 HST dataran rendah, dan 25-30 HST dataran tinggi. Selain perempelan tunas, perempelan bunga pertama dan bahkan sampai bunga kedua pada tanaman yang cukup sehat perlu dilakukan. Perempelan bunga bertujuan untuk mengoptimalkan pertumbuhan vegetatif dengan menunda pertumbuhan generatif.

12. Pemasangan Ajir (sokongan) Sokongan harus dipasang sedini mungkin, yaitu dimulai pada saat tanam atau maksimal 1 (satu) bulan setelah penanaman. Sokongan dipasang sekitar 10 cm dari pangkal batang tanaman. Ukuran sokongan 125 - 150 cm, lebar 4 cm, dan tebal 2,5 cm. Sisi ajir perlu dihaluskan untuk mengurangi kerusakan mekanis pada tanaman akibat gesekan