pengaruh desain ergonomi dalam tata ruang rawat inap terhadap kondisi psikologis pasien

Download Pengaruh Desain Ergonomi dalam Tata Ruang Rawat Inap terhadap Kondisi Psikologis Pasien

Post on 11-Jul-2016

307 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Kajian Pustaka

TRANSCRIPT

SEMINAR

PENGARUH DESAIN ERGONOMI DALAM TATA RUANG RAWAT INAP TERHADAP KONDISI PSIKOLOGIS PASIEN

Dosen Pembimbing:Arnis Rochma Harani, ST, MT

Disusun Oleh:Natalya Indah Prameswari21020113130155

JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2016BAB IITINJAUAN PUSTAKA

2.1. Teori yang Berkaitan dengan Penelitian

2.1.1. Teori Tata Ruang Dalam

Tata ruang dalam biasa juga disebut sebagai desain interior. Ching menyimpulkan bahwa artian desain interior adalah perencanaan tata letak dan perancangan ruang dalam sebuah bangunan sehingga keadaan fisiknya memenuhi kebutuhan dasar kita akan naungan dan perlindungan, mempengaruhi bentuk aktivitas dan memenuhi aspirasi penghuninya, serta mengekspresikan gagasan yang menyertai tindakan, disamping itu sebuah desain interior mampu mempengaruhi pandangan, suasana hati, dan kepribadian seseorang (Ching dalam Tjoret Creative Studio, 2010). Variabel dalam sebuah ruang menurut Haryadi & Setiawan (1995:55) antara lain ukuran dan bentuk ruang, perabot dan penataannya, warna serta unsur lingkungan ruang seperti suara, temperatur, dan pencahayaan.Desain interior sebagaimana dirinya adalah bagian dari arsitektur, memiliki prinsip venustas, firmitas, dan utilitas. Venustas berbicara mengenai estetika atau keindahan secara visual yang diperoleh dari penataan elemen-elemen ruang. Firmitas berbicara mengenai kekokohan struktur atau material yang dipilih dan digunakan pada elemen-elemen tata ruang. Sedangkan utilitas berbicara mengenai fungsi atau kegunaan utama dari ruang sebagai wadah dari aktivitas tertentu yang dilakukan oleh penghuni ruang. Di dalam arsitektur, kegunaan dan citra bangunan atau ruang seharusnya berjalan berdampingan sebagai wadah kegiatan dan representasi jiwa manusia yang menempatinya (Mangunwijaya, 1988)Unsur dasar dalam sebuah desain terdiri dari yang paling sederhana, yaitu titik. Unsur paling sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi unsur yang lebih kompleks, dimulai dari noktah, garis, bidang, lalu menciptakan bentuk dan ruang (Kusumarini, 2005). Unsur dasar yang berpengaruh terhadap unsur dasar desain diantaranya adalah jumlah, tekstur, warna, letak, ukuran, ilusi, jarak, arah, selang, waktu, dan orientasi. Dalam ranah desain interior juga dipelajari unsur desain spesifik seperti cahaya, suara, gerak, dan aroma, dalam rangka untuk menciptakan atmosfer ruang.Ruang terbentuk dari elemen linier dan elemen vertikal. Elemen linier berfungsi sebagai base atau dasar, yang biasa disebut dengan lantai, dan enclosure atau penutup, yang biasa disebut sebagai atap. Elemen linier menentukan luasan sebuah ruang. Sedangkan elemen vertikal berfungsi sebagai pembatas ruang, baik secara solid atau berwujud, seperti dinding dan kolom, maupun void atau tidak berwujud. Elemen vertikal berfungsi sebagai penentu ketinggian ruang. Luas dan tinggi ruang menciptakan sebuah volum ruang, yang kemudian dikategorikan sebagai dimensi dan proporsi. Proporsi berprinsip pada hubungan matematis antara ukuran bentuk atau ruang sebenarnya, sedangkan skala berprinsip pada bagaimana seseorang memandang besarnya suatu unsur ruang secara relatif terhadap bentuk-bentuk lainnya (Ching, 1979:326). Skala dapat menunjukkan besarnya atau pentingnya fungsi sebuah ruangan serta mengubah persepsi seseorang mengenai ukuran ruang atau ukuran fasad.Cahaya sebagai unsur spesifik pembentuk ruang memegang peranan penting dalam mewujudkan atmosfer ruang dalam. Menurut Kusumarini (2005:35), pencahayaan yang baik dan sesuai dengan karakter ruang akan dapat memaksimalkan aktivitas dan produktivitas di dalam ruang tersebut. Sistem pencahayaan terdiri dari sistem pencahayaan alami dan buatan. Keduanya memiliki masing-masing karakternya. Permainan cahaya dalam perancangan interior akan merangsang kepekaan pengguna ruang terhadap komposisi dan bentuk ruangan.

2.1.2. Teori Ergonomi

Ergonomi didefinisikan sebagai suatu ilmu tentang manusia dalam usahanya untuk meningkatkan kenyamanan di lingkungan kerjanya (Nurmianto, 1996). Etimologi dari istilah ergonomi berasal dari bahasa Latin, yaitu ergon (kerja) dan nomos (hukum alam) sehingga dapat didefinisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, keteknikan, manajemen, dan desain atau perancangan. Ergonomi dianggap sebagai ilmu antardisiplin yang mempelajari hubungan antara manusia dan lingkungannya, dan sering dikaitkan dengan rekayasa manusia (Panero dan Zelnik, 1979: 5). Di dalam ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem dimana manusia, fasilitas kerja, dan lingkungannya saling berinteraksi dengan tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana kerja dengan manusianya.Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas rancang bangun (desain) ataupun rancang ulang (re-desain). Namun ranahnya tidak terbatas hanya pada dimensi ruang, furnitur, dan bukaan saja, melainkan rancang bangun lingkungan kerja (working environtment). Ergonomi memberikan peranan penting dalam meningkatkan faktor keselamatan dan kesehatan penggunanya, serta meminimalkan risiko kesalahan, serta hilangnya risiko kesehatan akibat metode kerja yang kurang tepat.Ergonomi berdasarkan International Ergonomics Association dalam Nurmianto digunakan oleh berbagai macam ahli atau profesional pada bidangnya, misalnya: ahli anatomi, arsitektur, perancangan produk industri, fisika, fisioterapi, terapi pekerjaan, psikologi, dan teknik industri. Selain itu ergonomi dapat diterapkan untuk bidang fisiologi, psikologi, perancangan, analisis, sintesis, evaluasi proses kerja dan produk bagi wiraswastawan, manajer, pemerintahan, militer, dosen dan mahasiswa.Dasar keilmuan dari ergonomi banyak yang hanya berdasarkan pada common sense atau suatu hal yang dianggap sudah biasa terjadi. Namun karakteristik fungsional dari manusia seperti kemampuan penginderaan, waktu respon, daya ingat, posisi optimum tangan dan kaki, dan lain-lain adalah merupakan suatu hal yang belum sepernuhnya dipahami oleh masyarakat awam. Sehingga dalam suatu perancangan pekerjaan tidak harus menggunakan trial and error untuk menyatakan suatu rancangan dikatakan ergonomis. Ilmu-ilmu yang banyak berhubungan dengan fungsi tubuh manusia antara lain anatomi dan fisiologi sebagai pengetahuan dasar tentang fungsi dari sistem rangka dan sistem otot. Tiga hal yang menjadi landasan dalam ergonomi, antara lain:a. Kinesiologi (mekanika pergerakan manusia atau mechanics of human movement)b. Biomekanika (aplikasi ilmu mekanika teknik untuk analisis sistem rangka dan sistem otot manusiac. Antropometri (kalibrasi tubuh manusia)Faktor manusia sebagai faktor utama dalam studi ergonomi berkaitan dengan ukuran tubuh dan dimensinya. Hubungan antara ukuran atau dimensi manusia dengan lingkungannya disebut kesesuaian ergonomik atau ergofitting. Tentu studi ergonomi dalam bidang arsitektur sebagai ilmu perancangan yang berbasis manusia adalah antropometri atau dimensi tubuh manusia (Panero dan Zelnik, 1979: 6). Antropometri menjadi ukuran dalam ergonomi, terutama berkaitan dengan sistem secara menyeluruh, antara lain meliputi accessibility atau aksesibilitas, restraint atau ketahanan, visibility atau visibilitas, seating atau kedudukan, display atau penampang, controls atau pengaturan penggunaan, dan environment atau lingkungan.

2.1.3. Teori Hubungan Psikologis dengan Kesehatan Manusia

Di dalam psikologi terdapat yang dinamakan psikologi klinis, yaitu ilmu yang mempelajari keterkaitan psikologis terhadap kesehatan tubuh secara fisiologis. Salah satu bagian dari psikologi klinis yaitu mengenai psikologi abnormal, yaitu ilmu yang mempelajari berbagai perilaku, pikiran, dan perasaan yang tidak biasa terjadi atau tidak normal.Menurut Robert S. Feldman dalam Fausiah dan Widury, stress adalah suatu proses yang menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menantang, ataupun membahayakan, dan individu merespon peristiwa itu pada level fisiologis, emosional, kognitif dan perilaku. Suatu peristiwa didefinisikan sebagai peristiwa yang menekan secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada respon yang diberikan oleh individu. Suatu individu dikatakan optimal ketika dirinya terbebas dari faktor-faktor emosional dan gangguan psikofisiologis. Faktor-faktor emosional antara lain stress, sedih, dan lain sebagainya, sedangkan gangguan psikofisiologis disebabkan adanya masalah fisik sesungguhnya.Pada bidang ilmu psikologi, terdapat suatu anggapan bahwa seluruh penyakit, tidak hanya beberapa saja, dapat disebabkan oleh faktor-faktor psikologis (Neale, Davison dan Haaga pada Fausiah dan Widury, 2005:10). Ilmu yang mempelajari hal tersebut terdapat di bidang psikologi klinis DSM IV (Diagnostic and Statical Manual of Mental Disorder) mengenai Faktor Psikologis Mempengaruhi Kondisi Medis. Tinggi rendahnya tingkat stress seseorang dapat berpengaruh pada kondisi fisiknya, seperti pernapasan atau tekanan darah. Stress dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh sehingga menyebabkan munculnya penyakit fisik.Setiap individu memiliki coping atau usaha yang berbeda dalam menghadapi stress, begitu juga dengan responnya akan dukungan orang sekitarnya. Menurut Lazarus dan Folkman dalam Fausiah dan Widury, terdapat dua tipe coping: problem-focused coping, dimana individu berfokus pada mencari solusi berupa tindakan atau info atas suatu masalah; dan emotion-focused coping, dimana individu berfokus untuk menurunkan emosi negatif yang atas suatu masalah. Selain coping, keberadaan dan kualitas dukungan sosial untuk individu juga salah satu yang membantu menurunkan stress. Adanya saudara, teman, atau kenalan mampu membantu seseorang untuk menggunakan coping-nya lebih optimal.Pandangan mengenai hubungan antara psikologis dengan kesehatan dibagi menjadi tiga, antara lain:a. Pandangan PsikodinamikYaitu suatu pandangan dimana gangguan diakibatkan oleh emosi-emosi yang dipendam sehingga hal tersebut menentukan organ mana yang t