pengantar - usm

of 83 /83

Author: others

Post on 04-Oct-2021

4 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PENGANTAR Allhamdulillahi Robbil alamin, Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,
yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan buku ini.
Kebijakan privatisasi tidak bisa dipisahkan dari kebijakan pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dalam operasionalnya BUMN menghadapi masalah yang cukup rumit. Di satu sisi harus mengemban misi menjadi organisasi yang profitable, namun di sisi lain juga mengemban misi sosial sebagai layanan publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Buku ini ditulis dengan harapan dapat dijadikan penambahan literatur manajemen yang kajian detailnya dapat dikembangkan sendiri oleh para pengajar, mahasiswa, praktisi maupun untuk pertimbangan pengambilan keputusan bagi pemerintah. Buku ini akan membahas tentang Manajemen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan juga menjelaskan penemuan studi empirik efektivitas aset BUMN di Indonesia pasca privatisasi. Penulis menyadari buku ini masih banyak kekurangan, meskipun sudah kami mulai pada tahun 2009.
Terimakasih ditujukan pula kepada anak anak tercinta Dea Aulia Widyaevan, Bryan Brama Ramadhana dan Demas Haryo Bismantoko yang telah memberi semangat motivasi menyelesaikan buku ini. Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, khususnya kepada teman-teman yang telah memberikan arahan arahan yang berarti untuk kesempurnaan buku ini
Semoga buku ini dapat membantu memberikan pemahaman yang komprehensif bagi sivitas akademika, masyarakat dan semua pihak yang berkepentingan.
Semarang, April 2011
2
PENDAHULUAN
Isu isu yang berhubungan dengan privatisasi secara makro telah banyak dibahas, namun masih terbatas yang membahas isu-isu privatisasi secara mikro yang berkaitan dengan strategi keuangan untuk meningkatkan kinerja.
Pro dan kontra mengenai peran dan kinerja Badan Usaha Milik Negara (BUMN ) menjadi wacana diskusi di berbagai pihak. Satu pihak menyatakan bahwa peran dan fungsi BUMN cenderung tidak efisien dalam mengelola sumberdaya, dan kurang efektif kinerjanya, sehingga kelompok ini berpendapat bahwa BUMN lebih baik diprivatisasi, agar lebih mampu memperbaiki kinerjanya di waktu mendatang. Namun kelompok ini menyadari bahwa kebanyakan BUMN pada saat ini belum memiliki daya jual yang optimal dan daya tarik terhadap pihak luar yang akan membelinya. Sehingga, sebelum diprivatisasi kinerja BUMN harus diperbaiki dulu. Pihak lain meragukan keberhasilan privatisasi BUMN, mengingat bahwa dengan privatisasi, penyelenggaraan fungsi sosial BUMN dalam memenuhi kepentingan umum dan peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi terabaikan, sehingga kebijakan privatisasi ini akan mengarah pada system, perkonomian kapitalis –liberal.
Untuk meningkatkan kinerja BUMN , dalam arti mampu menjalankan fungsinya sebagai badan usaha yang menghasilkan laba dan sekaligus menyumbang pada peningkatan kesejahteraan umum , berbagai langkah telah ditempuh antara lain melakukan profitisasi, restrukturisasi, dan privatisasi. Restrukturisasi BUMN berkenaan dengan tatanan makro, yaitu perihal kebijakan politik BUMN, dan berkenaan dengan tatanan mikro, yaitu tentang strategi penataan ulang korporasi BUMN. Selanjutnya profitisasi adalah peningkatan laba atau profitisasi adalah sebagai langkah lanjut dari restrukturisasi. Sedangkan Privatisasi berkenaan dengan upaya untuk mengurangi peran negara yang berlebihan di sektor bisnis, khususnya dalam rangka menggerakkan dan memberdayakan perekonomian masyarakat.
Privatisasi adalah untuk meningkatkan kinerja pemerintah dan menghemat biaya serta meningkatkan pelayanan pada masyarakat . Akan tetapi pasti terdapat privatisasi yang jelek atau tidak efisien . Menurut Joseph Stigliz, mantan Presiden Bank Dunia, mengartikan “privatisasi” adalah lawan dari “nasionalisasi”. Dalam Economics of Public Sector (1988), disampaikan bahwa proses konversi perusahaan swasta (private enterprise) menjadi perusahaan negara (public enterprise) disebut “nasionalisasi”, sementara proses pengkonversian perusahaan negara menjadi perusahaan swasta disebut sebagai ”privatisasi”
Privatisasi pertama-tama bermakna sebuah transformasi yang lebih sempurna ke arah kapitalis. Gagasan privatisas berawal dari semakin pudarnya keyakinan di dalam pemikiran ekonomi sosialis bahwa pengelolaan ekonomi oleh negara akan menciptakan kesejahteraan. Alasan kedua privatisasi adalah karena pudarnya keyakinan terhadap teori negara kesejahteraan dengan premis dasarnya adalah bahwa menyerahkan kepemilikan dan pengelolaan sebagian kegiatan ekonomi, apalagi yang strategis, kepada negara adalah sia- sia. Alasan ketiga adalah alasan yang mengatakan bahwa pemerintah harus fokus pada pekerjaan-pekerjaan pemerintahan saja, tidak usah mengurus hal- hal yang bukan core competence-nya (Peter Drucker, The New Realitties, 1986).
Harapan dilakukannya privatisasi adalah untuk memperbaiki tata kelola perusahaan (governance). Good Corporate Governance yang menjunjung tinggi transparasi, akuntabilitas dan profesionalisme, dimungkinkan dapat terjadi pada kepemilikan baik berada di tangan swasta asing, swasta domestik atau ditangan pemerintah. Untuk mewujudkan harapan tersebut , diperlukan evaluasi kinerja BUMN yang telah di privatisasi. Evaluasi ini bertujuan untuk dapat memberi penjelasan sampai seberapa jauh peran privatisasi dalam upaya peningkatan kinerja BUMN.Privatisasi BUMN adalah sebuah keniscayaan untuk mendorong kenaikan efisiensi, sebagaimana dipahami dari aspek normatif-teoretis. Sedangkan dari aspek positif-empiris, juga diketahui bahwa privatisasi BUMN merupakan isu kritis yang rawan resistensi .
3
Strategi privatisasi membutuhkan pemikiran melalui sebuah rencana yang akan memobilisasikan koalisi didalam hubungannya dengan privatisasi untuk mengatasi oposisi yang diharapkan dari kelompok kepentingan. Menurut Porter (1996), ada hubungan antara strategi dan daya saing. Strategi melibatkan pilihan-pilihan yang sulit (trade-off) , dan berurusan dengan upaya untuk menjadi berbeda (to be different), dan sering berkaitan dengan yang harus dikerjakan (what to do). Strategi adalah lebih dari sekedar meningkatkan efisiensi.
Para ahli menghadirkan diskusi sederatan luas tentang aspek teoretis maupun praktis tentang privatisasi. Pengalaman telah banyak membuktikan, bahwa sebagus apa pun sebuah kebijakan publik (taruhlah privatisasi masuk kualifikasi ini), hanya akan memberi hasil yang optimal bila diikuti dengan pemenuhan sejumlah prasyarat.Untuk menghadapi persaingan global yang terbuka di setiap negara, privatisasi menawarkan sebuah kesempatan penting untuk bergerak didalam arah baru. Kecenderungan akhir-akhir ini dimana para ahli mengeksplorasi tantangan privatisasi dengan berbagai dimensinya. Berdasarkan pandangan dari berbagai pihak, privatisasi tetap bisa diteruskan untuk mendorong perbaikan kualitas corporate governance, dengan prasyarat: (1) dilakukan pada sektor yang kompetitif (bukan natural monopoly); (2) dilakukan pada saat yang tepat, terutama dalam konteks harga; serta (3) sebisa mungkin dilakukan di pasar modal.
Buku ini dimaksudkan untuk menjadi salah satu buku tentang strategi privatisasi yang menfokuskan pembahasan Kinerja BUMN dengan menampilkan suatu temuan efektivitas aset BUMN pasca privatisasi Indonesia. Buku ini disusun menjadi empat bagian yaitu Bagian I .Pengertian Privatisasi, Bab II membahas Motivasi Privatisasi, Bagian III membahas Penataan BUMN di Indonesiaa dan Bab IV. membahas Privatisasi BUMN di Indonesia, dan bab Studi Empirik dan Penutup
4
1.1.Definisi Privatisasi Privatisasi memiliki berbagai definisi. Ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli
di bidang privatisasi dan institusi. Diantaranya adalah Savas (1987) mendifinisikan bahwa privatisasi adalah sebagai “the act of reducing the role of government, or increasing the role of private sector, in an activity or in the ownership of assets”. akan meningkatkan penyebaran kepemilikan baik kepada masyarakat umum, swasta asing maupun domestik. Hal itu dilakukan dengan maksud untuk akses pendanaan, pasar, teknologi, maupun peningkatan kapabilitas bersaing dalam pasar akibat penghapusan monopoli.
Potensi perusahaan melakukan privatisasi adalah untuk mendapatkan peluang perluasan pasar. Dikemukakan oleh Savas bahwa dengan privatisasi selain mendapat peluang dalam segi finansial, juga mempunyai peluang pasar : “The privatization programmes of countries are shaped not only the outlook for government’s finances but also by market opportunities and constraints. The size of the public sector clearly determines the ultimate potential for privatization. Didukung oleh Ramanadham (1991) yang mendifinisikan privatisasi adalah sebagai “pemasaran” atau membawa perusahaan ke dalam disiplin pasar (marketization or bringing the enterprise under the disciplins of market). Sementara Indra Bastian (2002) dengan mengutip pendapat akademisi dan pakar privatisasi dari Inggris membuat kerangka serta menyimpulkan definisi dan pengertian privatisasi sebagaimana terangkum pada Tabel 1.1 berikut ini :
5
(1930-an)
Privatisasi, pada umumnya diartikan sebagai pemindahan kepemilikan industri dari pemerintah ke sektor swasta yang berimplikasi bahwa dominasi kepemilikan saham akan berpindah ke pemegang saham swasta : ‘....Privatisasi mencakup perubahan “dari dalam ke luar”, dimana terdapat kontrak pembelian dan jasa pemerintahan”.
2 Beesley dan Littlechild (1980-an)
Secara umum, “Privatisasi” diartikan sebagai “pembentukan perusahaan”. Sedangkan, menurut Company Act, privatisasi diartikan sebagai penjualan yang berkelanjutan sekurang- kurangnya sebesar 50% dari saham milik pemerintah ke pemegang saham swasta. Jadi ide privatisasi merupakan konsep pengembangan industri dengan meningkatkan peranan kekuatan pasar.
3 Dunleavy (1980-an)
Privatisasi diartikan sebagai pemindahan permanen aktivitas produksi barang dan jasa yang dilakukan oleh perusahaan negara ke perusahaan swasta atau dalam bentuk organisasi non publik, seperti lembaga swadaya masyarakat
4 Clementi (1980-an)
1. Pemindahan kepemilikan perusahaan sektor publik ke swasta
2. Liberalisasi aktivitas melalui kompetisi
3. Menghapus fungsi tertentu yang dilakukan oleh sektor publik secara bersamaan atau melakukan sub- kontrak kepada sektor swasta, sehingga dapat dilakukan dengan biaya yang lebih rendah
4. Mengurangi jasa sektor publik yang tidak mempunyai nilai manfaat
5 Pirie (1980-an)
Ide privatisasi melibatkan pemindahan produksi barang dan jasa sektor publik ke sektor swasta. Pemindahan ini mengakibatkan perubahan manajemen perusahaan sektor publik ke mekanisme swasta. Privatisasi lebih merupakan
6
metode, bukan semata-mata kebijakan final. Sebuah metode regulasi yang memiliki kecenderungan untuk mengatur aktivitas ekonomi sesuai mekanisme pasar.
6 Posner (1980)
....sebuah perusahaan perdagangan, dapat beraktivitas dengan jalan membeli atau menjual barang dan jasa perusahaaan ke agen-agen ekonomi lainnya. Baik perusahaan sektor publik seperti British Stell, atau perusahaan sektor swasta seperti ICI mengusulkan bahwa perusahaan harus mengadaptasi dari satu kondisi ke kondisi lain dalam menyusun argumentasi untuk privatisasi. Mark One merupakan sebuah industri besar yang menyediakan pelayanan masyarakat secara berbeda dibanding mekanisme perusahaan publik pada umumnya yang biasanya supplier atau konsumen dominan, dan aktiva modal perusahaan ini mempunyai status hukum. Seperti perusahaan negara lainnya di Inggris, seperti Kantor Pos, British telecom, atau NCB, Mark One hendaknya segera dialihkan ke sektor sawta melalui program privatisasi. Berpindahnya pengelolaan perusahaan dari sektor publik ke swasta diasumsikan sebagai alat pengurangan jumlah pegawai negeri. Berbagai perkembangan di atas menunjukkan perkembangan implementasi kebijakan publik “privatisasi” dari waktu ke waktu.
7 Kay dan Thompson (1970-an)
Privatisasi adalah suatu terminologi yang mencakup perubahan hubungan antara pemerintah dengan sektor swasta. Perubahan yang paling penting adalah adanya “dis- nasionalisasi” penjualan kepemilikan publik, deregulasi terhadap pengenalan kompetisi ke status monopoli dan kontrak melalui franchise ke perusahaan swasta terhadap produksi barang dan jasa yang dibiayai oleh negara.
8 Shackleton (1970-an)
Penggunaan istilah “Privatisasi” sangatlah beragam. Ada beberapa istilah yang merefleksikan pemindahan kepemilikan. Kategori yang paling besar mencakup berbagai hal yang memberi arti bahwa sektor publik diekspos terhadap kekuatan pasar. Selaras dengan kategori ini, Shackleton secara khusus membicarakan dua tipikal ukuran, yaitu :
1. Terkait dengan industri yang telah
7
“dinasionalisasi” maupun perusahaan negara yang lain
2. Terkait dengan Konsep Negara Sejahtera dan Jasa yang disediakan oleh sektor publik.
Dua tipikal ini semakin memperjelas tidak adanya konsensus umum tentang “definisi privatisasi.
Sumber Indra Bastian, 2002
Definisi privatisasi juga diberikan oleh Bank Dunia. Lembaga keuangan internasional ini membedakan privatisasi dalam arti sempit dan privatisasi dalam arti luas. Privatisasi dalam arti sempit merupakan bentuk pembebasan perusahaan, tanah, dan aset-aset lain yang dikuasai negara. Privatisasi dalam arti luas di definisikan sebagai semua tindakan yang menggerakkan perusahaan atau suatu sistem perekonomian ke arah kepemilikan swasta, atau semua tindakan yang cenderung membuat perilaku perusahaan negara mirip seperti perusahaan swasta.
Privatisasi bukan semata-mata berurusan dengan transfer of ownership perusahaan negara, tetapi juga mencakup restrukturisasi perusahaan yang berupaya memasukkan manajemen dan perilaku swasta ke dalam pengelolaan perusahaan negara.
Sesuai dengan UU Nomor 19 Tahun 2003, definisi privatisasi adalah penjualan saham Persero, baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat, serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat.
Sebagaimana didefinisikan dalam Master Plan BUMN tahun 2002-2006 (Master Plan) yang dikeluarkan oleh Kementrian BUMN, privatisasi didefinisikan sebagai penyerahan control efektif dari sebuah perseroan (BUMN) kepada manajer dan pemilik swasta dan biasanya terjadi apabila mayoritas saham perusahaan dialihkan kepemilikannya kepada swasta .Privatisasi mengandung makna sebagai berikut :
1. Perubahan peranan Pemerintah dari peran sebagai pemilik dan pelaksana menjadi regulator dan promotor dari kebijakan , serta penetapan sasaran baik nasional maupun sektoral.
2. Para manajer selanjutnya akan bertanggung jawab kepada pemilik baru. Diharapkan pemilik baru akan mengejar pencapaian sasaran perusahaan dalam kerangka regulasi perdagangan, persaingan, keselamatan kerja dan peraturan lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah termasuk kewajiban pelayanan masyarakat.
3. Pemilihan metode dan waktu privatisasi yang terbaik bagi Badan Usaha dan Negara mengacu kepada kondisi pasar dan kebijakan regulasi sektoral
1.2. Pro dan Kontra Kata private dalam privatisasi sering dipertentangkan dengan kata public, sehingga
menimbulkan banyak miskonsepsi dan kontroversi. Kata private tersebut sering dianggap sebagai tindakan untuk meninggalkan kepentingan umum, membatasi akses public, suatu program asingisasi, denasionalisasi atau yang sejenisnya. Padahal sesungguhnya, kata private dan public harus dilihat sebagai suatu konsep multi-dimensi, sebagaimana ditulis Bozeman (1987 : 84-85)
8
“Organization can be viewed as more or less public and, at the same time, more or less private. It is public to the extent that it exerts or is constrained by political authority, and is private to the extent that it exerts or is constrained by economic authority. Any organization can be considered in terms of is authority mix. Authority mix is the proportions of economic and political authority influencing organization”.
Penolakan awal terhadap Privatisasi didasarkan pada kesalahan asumsi yang merupakan anti pemerintah.Artikel pertama yang dipublikasikan Municeple Monopoli di 1971 di New York menekan penolakan tersebut bahwa privatisasi bukanlah ‘Publik” melawan “Swasta” tapi lebih bermakna pada penekanan “Monopoli” melawan “Kompetisi”, Asumsi lain yang salah adalah bahwa Privatisasi merupakan anti masyarakat dan tidak sejalan dengan program pemerintah , padahal masyarakat seharusnya terganggu oleh kinerja pelayanan publik.
Terdapat perbedaan pengelolaan perusahaan dalam menangani ketidak efisienan perusahaan. Pada perusahaan swasta, untuk dapat meningkatkan efisiensi dilakukan dengan cara menciptakan suatu kondisi dengan tingkat persaingan yang semakin besar. Berbeda dengan pengelolaan di BUMN, untuk mengatasi berbagai masalah, biasanya dengan menggantungkan subsidi, dari pemerintah.
Akhir-akhir ini masih terjadi perdebatan tentang isu privatisasi. Misalnya beberapa peneliti menyatakan bahwa, privatisasi hanya untuk menjual BUMN yang hasilnya akan digunakan untuk menutupi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sedangkan pendapat lainnya, beranggapan bahwa privatisasi selain untuk mencapai target pemenuhan APBN juga untuk meningkatkan efisiensi dalam upaya meningkatkan daya saing di pasar global.
1.3. Strategy dan Metode Privatisasi Tema penting lain yang sering diperdebatkan adalah soal strategi atau metode pelaksanaan privatisasi. Terkait dengan strategi privatisasi , Savas (1982) yang dikutip dalam Faisal Basri (2003) menawarkan empat cara tipikal pelaksanaan privatisasi yang dewasa ini sudah menjadi strategi konvensional.
Empat cara tipikal itu adalah sistem kontrak (contract), waralaba (franchise), dana bantuan (grant) dan kupon (voucher) Sistem kontrak mewakili pelayanan publik yang diserahkan pemerintah kepada swasta di bawah perjanjian kontrak untuk jangka waktu tertentu. Dalam waralaba, pemerintah berfungsi sebagai penyusun pelayanan, sementara pihak swasta adalah pencipta (produser) layanan, dan konsumen membayar produser untuk layanan waralabanya. Sementara dengan pelayanan yang dikontrakkan konsumen membayar layanan pemerintah, buka membayar layanan produser. Bila memakai sistem grant, maka pemerintah memberikan subsidi kepada produser berupa modal dana bantuan langsung dan tidak jarang dalam bentuk status pembebasan pajak. Hal itu berbeda dengan voucher, dimana subsidi diberikan langsung kepada konsumen, sehingga mereka dapat bebas menentukan pilihan di pasar.
Savas juga memaparkan strategi umum privatisasi mencakup pelepasan (divestment), deregulasi (deregulation, dan pendelegasian (delegation). Strategi pelepasan mencakup penjualan perusahaan-perusahaan negara (BUMN) kepada pembeli tertentu dan/atau penjualan saham
9
Strategi deregulasi dilakukan dengan skema pemerintah yang bertanggung jawab mengawasi operasionalisasi perusahaan yang diselenggarakan oleh swasta. Hal ini bisa dilaksanakan dengan sistem kontrak, franchise, leasing, grant, atau voucher. Sedangkan strategi delegasi, yang disebut oleh Chu Chang-hyun sebagai displacement, mencakup pengurangan pengaruh dan campur tangan pemerintah saat pasar sudah mulai berkembang dan bisa memenuhi kebutuhan sementara akan pelayanan. Organisasi swsata perlahan-lahan bisa memasok barang dan jasa berbasis pada kebutuhan pasar, karena secara bertahap pula agen pemerintah akan menarik diri dari berbagai proses penyediaan barang dan jasa.
Privatisasi BUMN memiliki sejumlah strategi dan metode yang terus menerus mengalami perkembangan. Dalam pelaksanaannya, ada beberapa kategori strategi dan metode. Kategori pertama dimasukkan ke dalam kelompok privatisasi lewat pengalihan kepemilikan, privatisasi lewat pengalihan tim manajmen, dan privatisasi lewat penyempurnaan mekanisme internal/eksternal BUMN. Pengalihan kepemilikan BUMN sendiri dapat berupa pengalihan total, pengalihan parsial, atau likuidasi. Pengalihan total dan parsial dilakukan dengan public offering, baik lewat pasar saham maupu lewat penawaran langsung (direct private placement), atau negosiasi dengan pihak swasta. Sedangkan likuidasi dapat ditempuh apabila tidak ada swasta yang berminat, atau pengoperasian BUMN sudah tidak layak lagi ditinjau dari kemanfaatannya. Tentu saja ini memerlukan pertimbangan sangat matang, baik dari segi keuangan maupun dari segi nonprofit yang dunilai relevan
Kategori kedua, privatisasi lewat pengalihan tim manajmen, antara lain dengan menyewa tim manajemen swasta untuk mengelola bagian otonom suatu BUMN yang menyediakan public goods.
Sementara privatisasi kategori ketiga, privatisasi melalui penyempurnaan mekanisme internal/eksternal BUMN, mencakup soal deregulasi dan debirokratisasi.
Beberapa negara di dunia pernah dan masih menjalankan privatisasi. Fenomena yang ada menunjukkan bahwa tidak ada metode tunggal dalam pelaksanaan privatisasi. Metode privatisasi yang dipilih terutama lebih mengacu pada siapa yang paling diuntungkan, meski idealnya semua pihak yang dilibatkan dalam privatisasi mendapat keuntungan yang sama . Semua strategi dan metode privatisasi mengarah pada terciptanya transisi yang berjalan lebih efektif, efisien, lembut dan tentu saja menguntungkan pihak-pihak yang terlibat dan bermanfaat bagi banyak orang. Strategi dan metode privatisasi memang semestinya didasarkan pada kondisi nasional dan lokalitas masing- masing negara. Pelaksanaan privatisasi memang berbeda, tergantung situasi dan kondisi perekonomian negara yang bersangkutan, disamping variabel lain yang juga mempunyai banyak pengaruh. Hasil akhir privatisasi yang diharapkan adalah untuk membuat organisasi menjadi kompetitif sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Selain itu hasil yang diharapkan adalah upaya untuk mewujudkan praktik good corporate governance yang dicirikan oleh keterbukaan (transparency), pertanggungjawaban publik (accountability), keadilan (fairness) dan responsibilitas (responsibility) dalam seluruh kinerja perusahaan negara.
10
1.4. Proses Privatisasi Beberapa faktor yang mendukung efektifitas dan keberhasilan privatisasi :
(1) ekonomi yang secara komparatif (a comparatively strong economy). (2) sektor swasta yang bergairah (a viable private sector). (3) pendekatan privatisasi yang lazim ( a common approach to privatization). (4) faktor- faktor hukum dan kelembagaan yang baik (favorable legal and istitutional factors).
Selain itu keberhasilan Privatisasi ditentukan oleh proses yang mengiringinya. Berkaitan dengan
definisi privatisasi sebagai transfer sebuah fungsi aktivitas, atau organisasi dari publik untuk sektor swasta “Proses privatisasi” menjalankan sejumlah bentuk.
Dalam divestasi lengkap, aset yang dimiliki publik ini mungkin seluruhnya ditransfer melalui penjualan kepada individu atau perusahaan swasta setelah pemerintah tidak lagi menanggung kewajiban untuk operasi aset itu. Hal ini merupakan bentuk privatisasi yang paling bebas dan tidak dikehendaki, namun seringkali sulit untuk dipenuhi.
Di dalam proses privatisasi BUMN (State-Owned Enterprises), “pemerintah” bukan satu-satunya pihak yang terkait (privatization stakeholders). Menurut Ernst & Young terdapat juga pihak lain yang mempunyai kaitan dengan privatisasi yaitu : pegawai pemerintah; manajer dan pekerja.
Masing masing pihak yang mempunyai kepentingan (stakeholders) dengan privatisasi itu mempunyai interest yang berbeda. Pemerintah pusat dan pegawai lokal berkepentingan untuk mengurangi defisit anggaran pendapatan dan belanja negara. Melalui penjualan saham perusahaan negara diharapkan mendapatkan pemasukan keuangan yang akan mengurangi defisit tersebut. Manajemen dan para pekerja BUMN mempunyai kepentingan dalam privatisasi berupa kesempatan untuk mendapatkan saham (distribution of ownership) perusahaan yang dijual kepada mereka dengan cara khusus, misalnya dengan harga diskon atau mendapatkan voucher yang dapat ditukarkan dengan saham privatisasi
Sebagai alternatif, dalam divestasi sebagian negara mempertahankan kepemilikan parsial aset divestasi dengan menjual sebagian untuk para pembeli individu baik secara langsung maupun dengan alat sebuah flotation saham publik. Proporsi divestasi mungkin meninggalkan pemerintah baik oleh saham mayoritas atau minoritas, namun efek praktis harus menempatkan operasi terbaru perusahaan atau pelayanan ditangan para manajer swasta; pemerintah tetap menjadi pemegang saham dengan representasi pada dewan. Divestasi parsial, atau kepemilkan bersama, membuat masalah khusus yang akan dibicarakan kemudian.
Privatisasi sebagai salah satu bentuk dari restrukturisasi BUMN merupakan suatu fenomena global terutama pada dekade terakhir ini. Privatisasi menjadi fokus perhatian dnia ketika pada tahun 1979 pemerintahan Konservatif Margaret Thatcher mengubah perekonomian Inggris yang sedang dalam kesulitan keuangan dengan menjual perusahaan negara yang bergerak dalam sektor industri, komunikasi dan sektor jasa lainnya. Upaya privatisasi telah menyebar seluruh Eropa Barat, khusunya Perancis, dan yang paling gencar di Inggris Raya (United Kingdom). Privatisasi berkenaan dengan upaya untuk mengurangi peran negara yang berlebihan di sektor bisnis, khususnya dalam rangka menggerakkan dan memberdayakan perekonomian masyarakat.
11
1.5. Makna Privatisasi Mengacu pada beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa privatisasi
memiliki makna yang luas dan kompleks, lebih dari sekedar pengurangan peran pemerintah atau peningkatan peran swasta dalam sektor ekonomi. Setiap bentuk tindakan yang mengubah pola relasi pemerintah dan sektor swasta dalam hubungannya dengan pengelolaan perusahaan negara merupakan hal-hal yang dicakup dalam privatisasi. Demikian pula upaya untuk memasukkan semangat dan unsur-unsur bisnis swasta ke dalam perusahaan negara merupakan bagian penting dari privatisasi. Dengan kata lain, privatisasi merupakan tindakan untuk mengubah manajemen dan performance perusahaan negara, baik melalui pengalihan kepemilikan kepada sektor swasta maupun melalui cara lain, yang membuat sistem manajerial menjadi lebih efektif dan semakin efisien.
Faisal H.Basri (2003) dengan bukunya Privatisasi Versus Neo-Sosialisme Indonesia mengemukakan bahwa Teori dan konsep privatisasi sebagai salah satu bentuk restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara terus menerus berkembang sesuai dengan konteksnya. Alasan, tujuan, strategi, metode, dan sebagainya disesuaikan dengan kepentingan dan realitas perekonomian suatu negara. Masalah privatisasi memang complicated, sama seperti yang pernah dikemukakan Keith Hartley dan Attiat F. Ott bahwa”....privatization is an appealing simple phrase which conceals major complexities...” (privatisasi merupakan istilah sederhana yang mengandung beragam persoalan). Namun bukan berarti tidak bisa dijelaskan secara sistematik. Privatisasi memiliki makna yang berbeda sesuai dengan tekanan dan konteksnya, namun ada “benang merah” yang menyatukan definisi privatisasi. Benang merah itu adalah “penguatan peran sektor swasta dan pengurangan peran pemerintah dalam urusan ekonomi dan bisnis”.
Pengertian privatisasi dalam arti luas diberikan oleh J.A.Kay dan D.J. Thomson sebagai “...means of changing relationship between the government and the private sector” (privatisasi merupakan cara mengubah hubungan antara pemerintah dan sektor swasta). Ini berarti privatisasi tidak semata- mata berurusan dengan soal pengalihan kepemilikan badan- badan usaha milik negara, melainkan juga mencakup deregulasi, debirokratisasi, dan sebagainya.
Istilah privatisasi versi Ramanadham (1991) tampak berkaitan erat dengan konsep good corporate governance yang menjadi tujuan strategis dari pelaksanaan program privatisasi BUMN. Privatisasi yang mengarahkan pemasaran BUMN ke dalam disiplin pasar berarti badan usaha ini dapat terkena mekanisme pendisiplinan market for corporate control, memiliki jalan bagi disiplin persaingan produk, pasar modal, dan membebaskan perusahaan/top management dari tekanan langsung pihak-pihak vested interest. Diharapkan melalui privatisasi tersedia insentif untuk meningkatkan efisiensi produktif BUMN dan mengurangi rintangan yang mengahambat terselenggaranya efisiensi dan produktifitas perusahaan.
Sedangkan Kikeri ,Nellis dan Shirley (1994:242) mengartikan privatisasi sebagai “the transfer of majority ownership of SOEs to the private sector by the sale of ongoing concerns or of assets following liquidation”. Pendapat tentang konsep privatisasi telah dikemukakan oleh beberapa penulis dengan pandangan yang berbeda diantaranya : privatisasi dipandang sebagai memperkuat peranan pasar dengan mengurangi intervensi negara (Milne, 1991).
12
Secara umum arti dari phenomena privatisasi mengacu pada perubahan kepemilikan dan perubahan perubahan lainnya yg terjadi di dalamnya termasuk perubahan dalam sistem pengendalian dan tata kelolanya (Ramammurti, 1992 ; Zahra, 2000). Sehingga beberapa metode yang dipakai di privatisasi dasar perbedaannya dapat dijelaskan pada antara pemindahan kepemilikan negara ke investor swasta . .
Jika merujuk pengalaman banyak negara, maka akan terlihat privatisasi tidak hanya terbatas pada pengurangan peran pemerintah dan peningkatan peran sektor swasta dalam urusan ekonomi. Privatisasi lebih dari sekadar penjualan perusahaan –perusahaan negara yang tidak sehat dengan harga tertentu. Bahkan privatisasi dapat didefinisikan sebagai pemindahan atau penjualan semua aset, organisasi, fungsi, atau aktivitas perusahaan negara kepada sektor swasta. Sebagai tambahan, istilah privatisasi juga mencakup joint venture antara negara dan swasta, konsensi, sewa –menyewa, kontrak manajemen, dan beberapa instrumen khusus seperti perjanjian BOOT (build-own operate and transfer).
Privatisasi juga dapat diartikan sebagai kebijakan yang diterapkan pemerintah dengan memberi berbagai fasilitas yang memudahkan pihak swasta dalam mengambil alih perusahaan- perusahaan milik negara. Dengan kata lain privatisasi berkaitan erat dengan pemberian kesempatan seluas-luasnya kepada pihak swasta untuk mengelola sektor sektor perkonomian. Hal ini juga berhubungan langsung dengan fenomena global, di mana sistem ekonomi yang terpusat pada negara (state centered economic system) di transformasikan menjadi suatu sistem ekonomi yang berpusat pada mekanisme pasar bebas (free market economic system).
13
dikemukakan Savas (1987) diagnosisnya adalah tercermin pada rendahnya indikator kinerja perusahaan pemerintah (BUMN) serta rendahnya pelayanan pemerintah. Symptom inilah yang mengarah adanya permintaan dilakukan privatisasi atau pembenahan BUMN. Karakteristik perusahaan yang potensi akan diprivatisasi adalah sebagai berikut :
1. inefficiency, overstaffing, and low productivity 2. poor quality of goods and services 3. continuing losses and rising debt of for-profit government enterprises 4. lack of managerial skills or sufficient managerial autority 5. Unresponsiveness to the public 6. Under maintenance of facilities and equipment 7. Insufficient funds for needed capital investment 8. Excessive vertical integration 9. Absolute practices or products, and little marketing capability 10. Multiple and conflicting goals 11. Misguided and irrelevant agency missions 12. Underutilized and underperforming assets 13. Illegal practices 14. Corruption
Mengapa privatisasi tetap diperlukan? Dari sisi BUMN, privatisasi bisa menjadi sebuah “jendela kesempatan” (a window of opportunity) untuk memperbaiki masalah hubungan antara pemilik (principal) dan pengelola (agent).
Pengelola BUMN selama ini dihadapkan pada posisi yang tidak jelas, kepada siapa mereka mesti bertanggung jawab? Pemilik BUMN yang sesungguhnya adalah rakyat. Namun, bagaimana mekanisme pertanggungjawaban direksi kepada rakyat?
Hubungan yang serba tanggung dan canggung antara pemilik dan pengelola perusahaan inilah yang kemudian diangkat sebagai isu utama principal-agent theory (misalnya oleh Jensen dan Meckling, 1976). Dalam kasus BUMN, persoalan ini menjadi mendesak, karena pengelola dirasa kurang mendapat insentif untuk menunjukkan kinerja terbaik. Inilah esensi teori X-efficiency yang dikemukakan oleh Leibenstein (1966, 1976).
Insentif yang bisa menggairahkan pengelola BUMN untuk bekerja keras adalah melalui mekanisme pasar modal. Ketika saham BUMN beredar di sana, maka semakin banyak pihak
14
Mengapa aktivitas Privatisasi meningkat? Jawabannya adalah
1. Cost savings
3. More flexibility and less red tape
4. Faster implementation
6. Increased innovation
2.2 Tujuan dari program Privatisasi
1. Reduce the cost of government 2. Generate revenues, both by selling assets and then by collecting taxes from them 3. Reduce government debt, for instance, through debt equity swaps 4. Supply infrastructure or other facilities that government cannot otherwise provide 5. Bring in specialized skills needed for technologically advanced activities 6. Initiate or expand a service quickly 7. Lessen government interference and direct presence in the economy 8. Reduce the role of government in society (build or strengthen civil society) 9. Accelerate economic development 10. Decentralize the economy and broaden the ownership of economic assets 11. Show commitment to economic liberalization and increase business confidence 12. Promote the development of capital markets (by creating and selling shares) 13. Attract new foreign an domestic investment and encourage return of flight capital 14. Satisfy foreign lenders (including international bodies such as the World Bank) 15. Improve living standards 16. Gain popular support (by getting rid of malfunctioning bureacracies) 17. Rewar political allies 18. Weaken political opponnets (for example, labor unions)
Berdasarkan UU No. 19/2003 tentang BUMN maksud dan tujuan Privatisasi adalah :
1. Memperluas kepemilikan masyarakat atas BUMN/Persero 2. Meningkatkan efisiensi dan produktifitas perusahaan 3. Menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat 4. Menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif 5. Menciptakan persero yang berdaya saing dan berorientasi global 6. Menumbuhkan iklim usaha, ekonomi makro, dan kapasitas pasar
15
motif tersebut adalah peningkatan kinerja, penyebaran kepemilikan,efisiensi, penerapan good corporate government, dan meningkatkan daya saing. Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:
2.3.1 Peningkatan Kinerja
Negara maju maupun berkembang akhir akhir ini secara siknifikan ada kecenderungan
mengarah pada strategi privatisasi BUMN. Salah satu aspek yang paling penting mengapa pemerintah menjual kepemilikan mereka ke investor swasta adalah karena harapannya ingin “meningkatkan kinerja” perusahaan.
Pemerintah melakukan privatisasi karena berdasarkan kekecewaannya terhadap kinerja BUMN, (Megginson, Nash & Van Randenborgh, 1994;403). BUMN sebagai salah satu lembaga perekonomian yang berperan penting dalam system ekonomi Indonesia, merupakan perwujudan fungsi Negara dalam memajukan kesejahteraan umum. Berkaitan dengan hal tersebut, BUMN harus memiliki kinerja yang sehat agar mampu melaksanakan fungsi gandanya.
Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 122 tahun 2001 tentang Tim Kebijakan Privatisasi BUMN disebutkan bahwa : Privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan kebijakan Pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja BUMN yang meliputi perbaikan struktur permodalan, peningkatan profesionalisme dan efisiensi usaha, perubahan budaya perusahaan, perluasan partisipasi masyarakat dalam kepemilikan saham BUMN serta penciptaan nilai tambah perusahaan melalui penerapan prinsip good corporate governance yang didasarkan pada transparansi, akuntabilitas, dan kemandirian. Privatisasi BUMN dilakukan dengan tujuan meningkatkan kinerja, nilai tambah perusahaan, good governance, dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam kepemilikan saham persero (Ruru B. Kementrian BUMN, 2003).
Peningkatan kinerja BUMN dapat dilakukan melalui privatisasi dalam berbagai bentuk . Kebijakan privatisasi meliputi kebijakan dalam bentuk menjual asset dan memasukkan manajemen swasta. Bagi BUMN yang masih dianggap penting dimiliki (seluruh atau sebagian) oleh Negara , bentuk yang dapat diterapkan adalah pemindahan pengelolaan (manajemen) swasta ke dalam BUMN. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan membuka kesempatan luas secara terbuka bagi para manajer untuk bekerja pada BUMN berdasarkan kompetisi yang sehat. Bagi BUMN yang dianggap tidak mengemban misi tertentu maka bentuk privatisasi yang dapat diterapkan adalah dengan cara menjual asset BUMN tersebut ke masyarakat dengan berbagai cara seperti , initial public offering (IPO), strategic partner dan tender offer.
Untuk meningkatkan kinerja BUMN , dalam arti mampu menjalankan fungsinya sebagai badan usaha yang menghasilkan laba dan sekaligus menyumbang pada peningkatan kesejahteraan umum , berbagai langkah telah ditempuh antara lain melakukan profitisasi, restrukturisasi, privatisasi, rekapitalisasi, merger, likuidasi dan penataan manajemen
Terdapat temuan dari 15 studi privatisasi yang diteliti (Megginson dan Netter ,2001) menunjukkan bahwa setelah privatisasi perusahaan tersebut kinerjanya lebih baik. Kinerja
16
perusahaan pada umumnya diukur dari profitabilitas atau (harga – cost margin), dan struktur pasar dengan indeks konsentrasi (Sleuwaegen & Dehandschuffer1986). Kinerja digunakan sebagai konstruk untuk mengukur dampak dari sebuah strategi privatisasi perusahaan. Didukung oleh penelitian Andrew& Dowling (1998) , Megginson et al (1994), bahwa privatisasi dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan . Demikian juga Qian Sun and Wilson H.S.Tong (2002), melakukan comprehensive study privatisasi yang pertama di Malaysia, untuk membandingkan kinerja financial dan operating dari sample 24 perusahaan sebelum dan sesudah privatisasi selama periode 1983 – 1997. Dari 24 perusahaan yang diprivatisasi via public listing pada Malaysian exchange sebagai “shares issued to privatize “ companies (SIP),terdapat temuan yang menunjukkan perusahaan yang privatisasi menjadi lebih profitable, menaikkan capital investment spending dan menaikkan labor productivity, serta subsidi yang diterima lebih sedikit( Megginson and Netter ,1998) .
2.3.2 Penyebaran Kepemilikan
Motif privatisasi lebih menitikberatkan pada pertimbangan penyebaran kepemilikan. Pandangan tentang “kebaikan privatisasi” tersebut dikembangkan dari konsep kepemilikan, oleh argumentasi Joseph Schumpeter seorang Ahli ekonomi dari Austria : “The evil of monopoly which concerned the neoclassical economists was viewed as irrelevant because such power was short-lived given the technological innovation inherent in the economy . The possibility then of achieving monopoly power by the introduction of new products was misplaced as this only provided an incentive to innovate, with existing monopoly profits generating a pool of funds to finance innovation. Consequently , the lack of incentives for innovation and efficiency under public ownership means that from Schumpeter’s viewpoint public sector privatizations is both necessary and sufficient for the realization of significant economic benefits
Sebagaimana diungkapkan (Megginson Nash & Van Rendenborgh, 1994 ; Qian Sun & Wilson H.S, 2002; Tong, Boubakri & Cosset, 1998 dan D”Souza & Megginson, 1999) bahwa perusahaaan melakukan privatisasi sebagian besar adalah dalam rangka memperoleh manfaat dari pelebaran kepemilikan saham (large shareholder) .
Dampak struktur kepemilikan terhadap kinerja telah diteliti oleh peneliti Tatiana Andreyeva, yang memberikan bukti untuk kinerja perusahaan Ukraine dapat diperbaiki dengan ownership. Setiap metoda privatisasi ada trade off antara pencapaian social equity dan tujuan efisiensi ekonomi. Penelitian Berle and Means menunjukkan adanya dampak dari penyebaran susunan struktur kepemilikan pada kinerja perusahaan.
Banyak Penelitian terdahulu yang menekankan adanya dampak privatisasi dari sisi tipe & konsentrasi kepemilkan berpengaruh pada kinerja perusahaan. Prediksi bahwa BUMN pasca privatisasi akan lebih baik kinerjanya ,dibandingkan sebelum privatisasi. Hal ini bisa dikaitkan dengan hasil yang dilakukan peneliti Schwodiauer (2000) di study Ukrainian, Akimova yang menunjukkan bahwa konsentrasi kepemilikan outside mempunyai pengaruh positip yang siknifikan pada kinerja perusahaan. Hasil ini didukung dengan penemuan bahwa kehadiran lembaga investor dan para direktur mempunyai pengaruh yang positip pada kinerja perusahaan. Frydman et al (1999)
17
menganalisis 218 sampel dari perusahaan manufaktur yang ukurannya sedang di Czech Republic, Hungary and Poland, dan memandang bahwa hanya kepemilikan “outsider “ yang dapat mengakibatkan efficiency .
2.3.3 Efisiensi
Motif efisiensi didasari oleh sebuah kepercayaan bahwa perusahan “Swasta” lebih efisien dibandingkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Ada beberapa bukti empiris tentang hal tersebut. Di Amerika Serikat, biaya produksi perusahaan Negara 40% lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan swasta, sementara di Jerman perbedaannya mencapai 50 %. Di Indonesia sendiri, perbedaan itu mencapai angka 29% hingga 50% (Riphat, 2000).
Studi di banyak Negara secara universal menyimpulkan bahwa efisiensi perusahaan swasta lebih baik daripada BUMN. Dalam kasus Indonesia , I Ketut Mardjana (1995) juga menyimpulkan hal yang sama. Perusahaan –perusahaan swasta di bidang transportasi (bus) di Jakarta dan perhotelan bintang lima di Nusa Dua, Bali, terbukti mengungguli BUMN yang bergerak di bidang yang sama.
Strategi Privatisasi dilakukan berawal dari gagasan Savas (2000) yang telah mendalami Privatisasi selama 30 th , mulai di New York 1969, ketika itu Walikota New York meminta Savas untuk mengamati dan menjelaskan apa yang harus dilakukan supaya tidak terjadi lagi politik yang tidak karu-karuan yang terjadi pada saat itu. Terjadi ketidak efisienan di perbagai dinas, banyak cofee break, kerjanya hanya setengah hari. Penasaran bagaimana agensi (manager) menghadapi masalah tersebut, kemudian Savas membandingkan dinas swasta dan pemerintah. Ternyata yang swasta lebih efektif hampir tiga kali (3X) lipat dari yang dinas pemerintah. Dari situ Savas menyarankan walikota untuk menyewa kontraktor swasta mengelola 3 dari 63 dinas kebersihan di seluruh kota Kecamatan, dan membandingkan kerja mereka. Akan tetapi sebelum ide Savas itu terlaksana, terjadilah pergantian kekuasaan di kota New York, dari Walikota yang sebelumnya mendukung ide tersebut berganti ke Walikota yang sama sekali tidak menggubris ide tersebut. Karena tidak mendapat perhatian pada saat itu, Savas melakukan riset sendirian. Beberapa bulan kemudian, berdasarkan riset dan pengalaman yang dimiliki Savas, ia menjadi seorang advocate tentang privatisasi. Tidak lama, perhatian pemerintah kembali menuju ke Savas, dan selanjutnya Savas ditunjuk sebagai assisten sekretaris departmen pemukiman dan urban development Amerika oleh Ronald Reagan. Dan merubah hal-hal yang tidak efisien melalui privatisasi.
Sebagaimana dikemukakan oleh Savas (1995) : “One important objective of privatization and perhaps the aim ideological motive has been to reduse the extent of the state’s economic theory. The economic argument for private ownership rests on the idea that the pursuit of profit by the owners of capital will result in “greater efficiency”, owing to their closer attention to consumer demand, technological change and lower production cost. “More efficient “production means that society benefits as a whole as it frees other resources to produce more goods. In contrast, supporters of this view contend, public ownership is seen as lacking incentives and is regarded as having a poor record with respect to consumer demands, innovation and efficiency. In general privatization has “improved economic efficiency”.
18
2.3.4 Governance (Tata Kelola Perusahaan) Privatisasi memungkinkan penerapan good corporate governace (GCG) dengan lebih baik dan konsisten di lingkungan BUMN, yang pada gilirannya menumbuhkan keyakinan investor terhadap BUMN.
Kenyataan menunjukkan bahwa berbagai Persero yang telah di privatisasi dapat menjamin adanya transparansi dan akuntabilitas. Mengapa? Karena perusahaan-perusahaan go public tunduk pada berbagai regulasi pasar modal yang mewajibkan adanya disclosure dan transparency pada emiten di pasar modal. Privatisasi merupakan langkah startegik yang terbukti mampu meningkatkan kinerja BUMN.
Namun berbagai langkah strategik ini membutuhkan pondasi yang kuat. Pondasi ini mencakup penerapan prinsip-prinsip GCG secara serius dan konsisiten.Oleh karena itu , privatisasi dilakukan dalah dalam rangka implementasi GCG. Kerangka kerja corporate governance yang diimplementasikan secara efektif akan mampu menjamin bahwa manajemen bertanggung jawab penuh atas kinerja BUMN dan pemegang saham sebagai pemilik dpat memantau manajemen secara efektif serta dapat melindungi kepentingan para stakeholder lainnya.
Termotivasi oleh Shleifer dan Vishny (1997) dan La Porta , Lopez de Dilanes , Shleifer and Vishny (1998, 1999, 2000) , banyak penelitian yang menguji beberapa variabel yang berhubungan pada mekanisme corporate governance. Hal ini dilakukan untuk mencari penjelasan “explanation” yang berkaitan dengan perubahan kinerja.
Mekanisme governance yang efektif dapat memecahkan beberapa masalah masalah agency. Mekanisme ini dikelompokkan kedalam dua kategori yaitu : mekanisme control internal (organization based) dan mekanisme control eksternal (market based) (Boyd, 1994 ; Rediker & Seth,1995 ; Wals & Seward ). Mekanisme internal dan eksternal governance dapat di subsitusi satu dengan yang lain yang dapat memecahkan masalah masalah agency (Rediker & Seth,1995; Wals & Seward, 1990.) Hal inilah yang merupakan implikasi yang penting pada privatisasi .
Berdasarkan penelitian mereka ditunjukkan bahwa privatisasi di Negara berkembang terjadi mekanisme internal dan eksternal yang “lemah’ . Hal ini karena perusahaan yang baru diprivatisasi di negara berkembang , mekanisme tata kelolanya dan pelaksanaan property right nya tidak efektif , sehingga akan menimbulkan masalah masalah agency yang unik. Sebalikannya privatisasi di Negara maju akan terjadi mekanisme internal dan eksternal yang “kuat”.
Sebagaimana telah sering dikemukakan oleh para pakar manajemen bahwa corporate governance merupakan proses dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis dan urusan-urusan perusahaan dalam rangka meningkatkan kemakmuran bisnis dan
19
Corporate governance menekankan pentingnya pemenuhan tanggung jawab perusahaan sebagai entitas bisnis dalam masyarakat kepada seluruh stakeholder. Terselenggaranya sebuah good corporate governance harus dilandasi oleh transparansi (transparency), akuntabilitas (accountability), dan tanggung jawab (responsibility).
Sudah selayaknya semua pihak memahami bahwa tanpa adanya satu langkah konkret dari jajaran manajemen masing-masing BUMN untuk mengimplementasikan corporate governance, tentu tidak akan ada jaminan bahwa suatu perusahaan akan dikelola dengan memperhatikan kepentingan seluruh “stakeholder” secara optimal. Setelah privatisasi, diharapkan BUMN dapat menerapkan good corporate governance sehingga dapat mewujudkan sistem manajemen BUMN yang bersih, mandiri serta bertanggung jawab.
2.3.5 Peningkatan Daya Saing
Motivasi lain dari privatisasi adalah adanya harapan dapat meningkatkan daya saing perusahaan. Perusahaan yang telah di privatisasi dalam mengambil keputusan apapun akan melibatkan stakeholder. Masyarakat adalah sebagai salah satu stakeholder yang penting dalam kesuksesan implementasi suatu strategi.
Parisipasi masyarakat luas berpengaruh besar pada pengembangan daya saing pasar serta sekaligus meningkatkan kualitas barang dan jasa perusahaan yang diprivatisasi. Selain penciptaan nilai perusahaan melalui biaya rendah, peningkatan kualitas serta efisiensi operasional, perusahaan setelah privatisasi juga akan dapat menimbulkan berbagai perubahan munculnya aktivitas baru, misalnya : perubahan sumberdaya perusahaan khususnya sumber daya manusia (Cuncha & Cooper,1995); perubahan struktur dan kultur perusahaan (Johnson dan Loveman, 1995); perubahan insentif manajer (Wright, Hoskisson, Busenitz, & Dial, 2000); perubahan stimulasi pembelajaran organisasional (Doh, 2000); akuisisi skil baru (Zahra, 2000); dan perubahan mainset baru organisasi.
Sebagaimana dikemukakan oleh Smit (1999) bahwa privatisasi perusahaan BUMN oleh swasta asing akan menciptakan lingkungan bisnis baru (Hitt, 2000); proses peniruan (Zahra, 2000); kegiatan percobaan percobaan sebagai transisi dari proses peniruan ke proses inovasi (Kim,1997); dan transfer teknologi (Filatotchev, 1999). Product differentiation merupakan stratejik bisnis yang diharapkan dapat memelihara dan mempertahankan keunggulan kompetitif.
Menurut Kornai (1992) perusahaan BUMN mempunyai produk pasar yang kecil dan soft budget constrains. Sementara Wright et al (1998) mengemukakan bahwa sebagian besar BUMN mempunyai cadangan keuangan yang sangat kecil, dan peneliti Cragg dan Dyck (1999) menyebutkan bahwa para manajer BUMN mempunyai keterbatasan kebijakan dalam melakukan implementasi perubahan strategi. Namun, setelah privatisasi perusahaan BUMN beserta manajemennya sebagai subjek kekuatan pasar. Sehubungan dengan itu, manajer menjadi bertanggung jawab pada pemegang saham dan mendorong para manajer untuk menerapkan strategi yang dapat meningkatkan kekayaan pemegang saham (Zahra, 2000).
20
Manajer diasumsikan dapat melakukan reorganisasi modal, tenaga kerja, penjualan dan unit pemasaran, melakukan implementasi sistem akuntansi dan sistem pengendalian yang baru, menentukan strategi produk baru, mengembangkan dan melakukan implementasi program investasi yang baru ( Sachs dan Lipton, 1990). Menurut Zahra (1996) hasil reputasi dan kompensasi manajer akan berhubungan dengan kinerja perusahaan. Oleh karena itu, manajer akan berupaya memformulasikan dan melakukan implementasi strategi yang dapat meningkatkan nilai perusahaan.
Setelah privatisasi akan terjadi suatu rangkaian baru yang bersifat dinamik, terutama manajer senior mulai merencanakan dan mengembangkan strategi strategi berdasarkan analisis analisis kondisi industri dan pasar. Para Manajer juga mempunyai kebijakan tersendiri untuk menetapkan kembali tujuan organisasinya yang merefleksikan tujuan pemegang saham utama. (Yarrow,1986). Selanjutnya, mereka mempunyai kebijakan tersendiri dalam hubungannya dengan alokasi sumber daya dan tujuan perusahaan. Kebijaksanaan kapabilitas melalui manajer adalah sebagai bagian yang penting untuk mencapai tujuan perusahaan jangka panjang.
Keputusan alokasi sumberdaya sebaiknya merefleksikan realitas pasar yang disesuaikan dengan tindakan tindakan stratejik yang berpeluang besar dalam meningkatkan keuntungan perusahaan. Setelah melakukan privatisasi perusahaan akan memperbaiki kebijaksanaan alokasi sumberdaya dan kapabilitas sesuai tujuan perusahaan. Peneliti Zahra berasumsi bahwa manajer mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk mengembangkan dan melakukan implementasi startegi-strategi yang berorientasi pasar.
Perusahaan BUMN yang diprivatisasi memungkinkan untuk meningkatkan posisi kompetitif melalui perencanaan perencanaan secara desentralistik yang berorientasi pada pasar dan pelanggan. Oleh karena itu, perilaku manajer di perusahaan BUMN akan berbeda pada perusahaan BUMN privatisasi.
Esensi dari privatisasi sebagai sumber keunggulan daya saing tidak hanya valuable akan tetapi juga mempunyai karakteristik rarely dan costly to imitate (Bharadwaj & Varadarajan, 1993, Barney,2002). Perusahaan setelah di privatisasi bernilai (valuable) jika potensi ekononomis dapat dieksploitasi sebagai cost advantage dan costly to duplicate. Transfer kompetensi merupakan costly to duplicate. Sumber daya intangible biasanya lebih mahal untuk ditiru dibandingkan sumber daya tangible. Sebagaimana Barkema dan Vermeulen (1998) mengemukakan bahwa intangible resource seperti spesifik knowledge tentang pasar/produk akan memberikan keuntungan kompetitif lebih besar dibandingkan tangible resource.
Perusahaan BUMN setelah di privatisasi akan memperoleh tambahan sumberdaya intangible yang biasanya terlalu mahal untuk ditiru perusahaan lain seperti : brand, reputation, trademarks , cooperative relationship dan network . Sebagaimana dikemukakan Barney, 1991 bahwa sumber daya yang dikembangkan secara internal akan mempunyai kapasitas yang sulit ditiru pesaing dan berhubungan dengan peningkatan kinerja perusahaan.
Perusahaan privatisasi BUMN berupaya melakukan ekspansi di pasar internasional untuk memanfaatkan keuntungan sumber daya dan kapabilitas yang ada dalam pasar baru. Disamping itu juga untuk mengembangkan sumber daya dan kapabilitas baru dalam pasar asing. Secara kritikal bahwa sumber daya dan kapabilitas yang dikembangkan memungkinkan menghasilkan suatu keuntungan dalam pasar baru. Oleh karena itu perusahaan hendaknya me re-apply sumber daya the
21
VRIO framework ketika masuk pasar baru. Sebagaimana yang dilakukan oleh perusahaan yang masuk pasar baru, dimana proses pembelajaran dalam merubah mindset penting bagi kesuksesan perusahaan. Sumber daya dan kapabilitas apa yang memenuhi kriteria VRIO dalam pasar baru serta apa yang dapat perusahaan pelajari dari partner dalam pasar baru merupakan efek stratejik transformasi organisasional.
Perusahaan privatisasi memungkinkan sebagai sumber keunggulan daya saing karena dapat mengeksploitasi sinergi diantara unit bisnis untuk mencapai keunggulan yang berbeda dengan pesaing.
Potensi ekonomis dapat diperoleh melalui hubungan network dari adanya sharing activities & penghematan joint cost yang akan menghasilkan cost advantage sebagai sumber kompetitif yang dapat meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Potensi lainnya dapat diperoleh dari transfer kompetensi melalui technological leadership untuk membangun complementary aset sehingga menghasilkan differentiation advantage, sebagai sumber keunggulan daya saing (Barney 2002).
Perusahaan privatisasi BUMN diasumsikan akan berada pada kondisi pasar baru yang lebih kompetitif, dan untuk dapat mengambil keuntungan dari peluang pasar baru tersebut perusahaan harus melakukan transformasi untuk memperbaiki sumber daya perusahaan yang ada untuk penciptaan keunggulan daya saing. Perusahaan harus dapat mengelola sumber daya untuk menciptakan nilai agar posisi kompetitifnya meningkat.
Peningkatan kapabilitas pemasaran dan pengembangan produk baru akan tercipta dengan adanya privatisasi. Demikian juga peningkatan reputasi akan terwujud dengan adanya brand- brand baru yang diperoleh dari partnership. Hal ini bermakna bahwa dampak positif dari privatisasi akan menghasilkan pencapaian keunggulan daya saing BUMN. Dengan demikian akan terjadi perubahan dalam pengaturan sumberdaya BUMN secara keseluruhan yang mencakup sumberdaya tidak berwujud (skill manager) dan juga sumberdaya berujud (keuangan) (Hall 1992). Hal ini didukung oleh teori resource-advantage oleh Conner (1991) dan Hunt/Morgan (1996).
Perusahaan yang baru di privatisasi di Eropa Tengah Timur mengalami kesulitan untuk bersaing dalam teknologi produk dengan perusahaan dari negara negara maju. Hal ini disebabkan karena mereka ‘tidak mempunyai kapabilitas “untuk mengembangkan secara efektif dalam menawarkan produk baru dan canggih dalam kuantitas dan kualitas yang cukup untuk bersaing dengan perusahan dari negara lain. Oleh karena itu perusahaan harus mempunyai banyak akal dalam mengelola sumberdaya untuk bersaing dengan perusahaan asing yang masuk (Peng ,2000).
2.3.6 Peningkatan Kapabilitas Pembelajaran dan Inovasi Privatisasi memungkinkan untuk terjadinya proses pembelajaran secara lebih efektif yang
akan berdampak pada percepatan inovasi. Perusahaan yang mempunyai tingkat kapabilitas pembelajaran yang tinggi akan memudahkan untuk mengembangkan sumberdaya untuk menciptakan keunggulan daya saing. Sebagaimana dikemukakan (Nelson dan Winter, 1982,) bahwa perusahaan yang di privatisasi akan memberi peluang terjadinya pembelajaran dan selanjutnya dapat berinovasi. Privatisasi akan membuat organisasi tidak kaku dalam kebiasaan kebiasaannya dan tidak membatasi kemampuan perusahaan untuk mengembangkan kapabilitas baru di aktivitas
22
bisnis yang berbeda secara nyata dari aktivitas yang sebelumnya telah ada di BUMN. Kogut dan Zander,(2000);Krueger, (1995) berpendapat, meskipun akses pasar ditingkatkan, namun perusahaan juga perlu mempelajari hal hal yang berkaitan dengan pelanggan untuk memperbaiki produk yang telah ada. Dengan memperluas penjualan, dan memperbaiki produk diharapkan dapat mempertinggi kapasitas organisasi untuk mempelajari dan selanjutnya mengembangkan kemampuannya.
Dengan privatisasi diharapkan ada “transfer knowledge”, merubah sumberdaya berorientasi pada pasar sehingga dapat meningkatkan posisi yang lebih kompetitif. Oleh karena itu “pengambilalihan sistem managerial dan teknologi “merupakan sumberdaya penting dalam “transformasi” perusahaan dan hal ini merupakan esensi dari privatisasi BUMN. Privatisasi biasanya disertai dengan meningkatnya aktivitas pelatihan dan pengembangan .Sumberdaya perusahaan yang tak berujud (intangible resource) seperti skill manager dan karyawan perlu ditingkatkan sebagai sumberdaya yang dapat mendukung pencapaian peningkatan daya saing dan kinerja.
Variabel peningkatan “pelatihan “merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan dalam daya saing perusahaan. Hal ini didukung oleh penelitian perusahaan di Poland, Hungary dan Czech Republic yang membangun kekuatan pengembangan skill teknikal dari karyawan untuk dapat menumbuhkan bisnis mereka. (Business Week 1997).
Penelitian Klaus Uhlenbruck (2000), menunjukkan bahwa perusahaan yang baru di privatisasi di Eropa Tengah Timur (CEE) memberikan rekomendasi pada bagaimana manajer perusahaan privatisasi dapat mengelola sumberdaya mereka dengan lebih baik. Khususnya, perusahaan dapat meningkatkan kemampuan pembelajaran mereka dengan pencarian aktivitas untuk mendapatkan informasi produk dan pasar (May et al, 2000) . Demikian juga perusahaan perlu untuk menyesuaikan struktur dan proses organisasional untuk lebih efisien dalam memproses informasi.
Manaer perlu untuk investasi usaha- usaha yang siqnifikan untuk mengintegrasikan sumberdaya dalam mencapai konsistensi internal dan strategic flexibility yang perlu untuk mendapatkan keuntungan dari peluang peluang yang ada.
Privatisasi berkaitan dengan penambahan , pemindahan dan pertukaran sumberdaya . Pemerintah dan investor mencari suatu “strategic fit” melalui integrasi sumberdaya antara perusahaan investor, pemerintah dan perusahaan milik Negara (Uhlenbruck & De Castro,1998). Investor seharusnya memutuskan bagaimana yang terbaik untuk mendorong transfer sumberdaya kearah pembentukan transformasi entrepreneurial dari perusahaan milik Negara dan bagaimana caranya untuk dapat memperluas pasar. Menurut Zahra, 2000 terdapat dua kunci hasil entrepreneurial dari privatisasi yaitu ; innovation dan new ventures. Inovasi sebagai penciptaan barang dan jasa,meliputi perbaikan mutu dan perluasan produk yang ada (incremental innovation), dan juga termasuk pengembangan produk baru secara radikal.
Hasil entrepreneurial dari privatisasi adalah inovasi proses atau pengenalan metode baru dalam memproduksi barang dan jasa. Inovasi proses diperlukan untuk menggabungkan teknologi asing di dalam industri domestik sehingga dapat membuat sistim pabrik baru yang efisien. Oleh karena itu inovasi proses memberikan kontribusi untuk efisiensi operasional dalam meningkatkan produktifitas pada perusahaan yang di privatisasi. Sedangkan New ventures berkaitan dengan penciptaan bisnis baru
23
Perusahaan yang baru di privatisasi pada umumnya mempunyai keperluan yang kritis untuk modal keuangan , teknikal dan kapabilitas managerial (Klaus Uhlenbruck, 2000). Hal ini didukung pendapat Zahra, (2000) berdasarkan penelitian di Eropa Tengah dan Timur (Central dan Eastern Europe /CEE) ,manager yang hanya mempunyai pengalaman kerja di BUMN , tidak mungkin efektif dalam mengelola perusahaan yang berorientasi pasar. Hal ini disebabkan karena , keterbatasan keahlihan manajerial dalam mengembangkan sumberdayanya di perusahaan privatisasi.
Manajemen yang efektif penting bagi perusahaan untuk mengembangkan sumberdaya baru dan “strategic flexibility “ perusahaan .(Hitt et al, 1998; Penrose, 1959; Teece et al ,1997). Integrasi dari “sumberdaya baru “ dan “ sumberdaya lama “ untuk memanfaatkan peluang pasar , memerlukan keahlihan general manajemen , namun secara umum keahliahan general manajemen di BUMN di Eropa timur dan Tengah terbatas (Pearce,1991; Puffer et al, 1994). Oleh karena manajer yang sebelumnya hanya berpengalaman BUMN seyogyanya ditingkatkan pengetahuan dan kapabilitasnya melalui pelatihan pelatihan manajemen. Dengan program program pelatihan ini dapat membantu para manajer dalam meningkatkan pengetahuan mereka yang selanjutnya diharapkan dapat berinovasi untuk mendapatkan keuntungan peluang yang ada.
24
PENATAAN BUMN 3.1 Landasan BUMN
Berdasarkan pasal 33 UUD 1945, perekonomian Indonesia tersusun atas 3 pilar utama yaitu : 1) Koperasi, 2) Badan Usaha Milik Negara atau BUMN dan 3) Swasta. Yang termasuk pilar “Koperasi” adalah perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Sementara yang tergolong sebagai pilar “BUMN” adalah meliputi a) cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat orang banyak dikuasai oleh negara, serta b) bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Adapun yang tergolong pilar “Swasta” adalah perkonomian nasional yang diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Perusahaan Negara telah lama dikenal di Indonesia sejak sebelum proklamasi kemerdekaan. Pada masa pemerintahan Belanda terdapat perusahaan Kereta Api, Timah, Pegadaian dan lainnya. Setelah proklamasi kemerdekaan beberapa BUMN di dirikan oleh pemerintah . Pada waktu perjuangan pengembalian Irian Barat pada tahun 1957, pemerintah “menasionalisasi” beberapa perusahaan milik Belanda.
Jumlah perusahaan negara menjadi semakin meningkat karena pada akhir tahun 1950-an Presiden Soekarno, dalam konsep ekonomi terpimpin di mana Perusahaan Negara sebagai sarana utama untuk meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional
Pengertian yang sering digunakan yang dimaksud Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan [Pasal 1 Angka 1].
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN, hanya dikenal 2 bentuk BUMN yaitu Perusahaan Perseroan (Persero) dan Perusahaan Umum (Perum) [Pasal 9]. Sementara itu BUMN didirikan dengan maksud dan tujuan [Pasal 2 ayat (1)] :
a. memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan penerimaan negara pada khususnya;
b. mengejar keuntungan; c. menyelenggarakan kemanfaatan umum berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang
bermutu tinggi dan memadai bagi pemenuhan hajat hidup orang banyak; d. menjadi perintis kegiatan-kegiatan usaha yang belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta
dan koperasi; e. turut aktif memberikan bimbingan dan bantuan kepada pengusaha golongan ekonomi
lemah, koperasi, dan masyarakat.
25
3.2 Visi dan Misi BUMN Berdasarkan Master plan BUMN tahun 2002 -2006 ditegaskan bahwa ada tiga fungsi dari
Kementrian Negara BUMN : Pertama, perumusan kebijakan pemerintah di bidang pembinaan BUMN yang meliputi kegiatan pengendalian, peningkatan efisiensi, restrukturisasi dan privatisasi BUMN. Kedua, pengkoordinasian dan peningkatan keterpaduan penyusunan, analisis dan evaluasi di bidang pembinaan BUMN. Dan, ketiga, penyampaian laporan hasil, saran dan pertimbangan di bidang tugas serta fungsinya kepada Presiden.
Berkaitan dengan pembinaan BUMN, visi yang dikembangkan adalah menjadikan BUMN sebagai pelaku utama (champion) yang kompetitif di industrinya. Adapun misi BUMN adalah sebagai berikut :
1. Reformasi BUMN sesuai dengan amanat Konstitusi dan Perundang-Undangan yang berlaku 2. Memfokuskan restrukturisasi BUMN secara Sektoral & Korporasi (Organisasi, Legal,
Operasional, & Financial) 3. Mencari synergi antar BUMN dan memperbaiki Private-Public Partnership untuk
meningkatkan nilai 4. Memaksimalkan nilai perusahaan melalui peningkatan efisiensi & produktifitas BUMN 5. Peningkatan daya saing BUMN di dalam dan luar negeri
Sebagai suatu organisasi, misi BUMN memang ideal sekali. Namun demikian, di lapangan, beberapa misi tersebut seringkali kurang berjalan selaras. Bahkan di dalam mengantisipasi tantangan pasar global tidak tertutup kemungkinan timbul berbagai kerancuan visi dan persepsi sehingga akhirnya menyulitkan penentuan langkah-langkah strategis BUMN secara efektif dan efisien.
Pada dasarnya BUMN memang rentan lantaran berbagai misi yang diembannya, sehingga wajar jika sering terjadi konflik kepentingan antar stakeholder. Tuntutan pemerintah terhadap keberadaan BUMN sebagai agent of development serta misi lain terkadang mengurangi fokus perhatian BUMN sebagai business entity yang harus mengejar target keuangan. Sebaliknya bisa menjadi peluang terjadinya penyimpangan yang bernuansa KKN.
Diharapkan jajaraan manajemen dapat menjabarkan misi tersebut, sehingga tidak akan terjadi perbenturan kepentingan. Walaupun masing-masing BUMN punya permasalahan yang spesifik, akan tetapi pada umumnya jajaran manajemen BUMN memiliki tantangan yang sama, yaitu belum terpadunya persepsi atau visi masing-masing pimpinan terhadap misi dan sasaran perusahaan.
Dari sudut perencanaan organisasi, seringkali tampak bahwa desain organisasi perusahaan terbentuk dalam struktur yang berlapis-lapis dan cenderung bersifat hirarkis. Dari sisi lain, penyusunan organisasi di BUMN terkesan kurang didasarkan pada hasil analisis tugas serta perilaku organisasi melainkan lebih mengesankan kebijakan sektorat.
Akibat dari kondisi di atas adalah semakin kaburnya tugas dan tanggung jawab dari masing masing unit kerja sehingga dapat menimbulkan kesan organisasi perusahaan yang kurang tertib. Sementara itu mengingat bahwa organisasi BUMN pada umumnya heterogen, maka tentunya
26
Seiiring dengan tuntutan dunia global yang sarat persaingan, maka seluruh jajaran manajemen BUMN semakin dituntut profesional. Untuk menguji profesionalisme dan optimal kinerja jajaran manajemen BUMN secara keseluruhan, maka selain membuat parameter yang jelas dari misi yang diemban BUMN, setidaknya perlu dipertimbangkan, adanya peningkatan professionalisme dan otonomi kepada jajaran manajemen BUMN.
Tentu saja, tidak mudah mengoptimalkan kinerja BUMN, karena diperlukan kesiapan-kesiapan. Untuk itu dirancang reformasi BUMN dengan visi yang di bawa adalah bagaimana membangun BUMN yang berdaya saing dan berkelas global.
Pembangunan BUMN merupakan bagian dari pembangunan ekonomi nasional. BUMN Indonesia mengemban misi yang amat strategis dalam pembangunan nasional. Kita dituntut untuk mampu memberikan kontribusi optimal bagi pembangunan perekonomian nasional, diantaranya melalui deviden dan pajak.
Konsep strategis BUMN disusun atas dasar program strategis pembangunan ekonomi Pemerintah Indonesia. Sebagaimana dikemukakan Sugiarto (2002) bahwa program strategis Pemerintah Indonesia dipaparkan sebagai berikut :
a. Di bidang pertanian adalah
(1) Peningkatan produksi beras dua juta ton, dan (2) Revitalisasi sawit, karet, coklat, dan jagung
b. Di bidang pertahanan adalah peningkatan industry strategis nasional di bidang pertahanan.
c. Di bidang energy dan sumber daya mineral adalah
(1) Peningkatan produksi migas (2) Pembangunan PLTU 10.000 MW, dan (3) Pengurangan subsidi BBM dengan teknologi dan investasi
d. Di bidang industry adalah
(1) Peningkatan kinerja industry dalam negeri, (2) Pembangunan industry listrik skala menengah 2.000 MW/tahun
e. Di bidang tenaga kerja dan transmigrasi adalah penataan masalah perburuhan yang kondusif melalui system asuransi
f. Di bidang pekerjaan umum adalah
(1) Pembangunan jalan tol Trans Jawa (2) Pembangunan jalan-jalan di luar Jawa, dan (3)Pembangunan prasarana pengairan skala menengah
27
g. Di bidang perhubungan adalah penyelesaian pembagunan bandara, pelabuhan, dan
jaringan kereta api yang vital
h. Di bidang kelautan dan perikanan adalah peningkatan produksi perikanan sebesar
20%
i. Di bidang perumahan rakyat adalah pembangunan rumah susun 1.000 unit tower
dalam 5 tahun
j. Di bidang perdagangan adalah peningkatan ekspor 20% per tahun
k. Di bidang kebudayaan dan pariwisata adalah peningkatan wisatawan mancanegara
menjadi 7 juta per tahun
l. Di bidang penertiban aparatur Negara adalah Peningkatan peringkat Indonesia dalam
“Doing Bussiness”
m. Di bidang BUMN adalah
(a) Peningkatan kinerja BUMN dan (b) Divestasi BUMN kecil dan tidak strategis
n. Di bidang koperasi dan UMKM adalah Peningkatan kredit perbankan untuk UKM melalui sistem jaminan untuk kredit kecil
3.3 Permasalahan di Kementrian BUMN Permasalahan di BUMN dewasa ini memang sangat complicated sehingga jajaran manajemen seringkali mengalami “disorientasi permasalahan”.
Banyak yang menyoroti permasalahan yang ada di tubuh Kementrian BUMN, yang selama ini menjadi objek perbincangan di seminar. Menneg BUMN diharapkan bisa mencerminkan kriteria sebagai the best CEO for the firm, dan seluruh jajaran manajemen BUMN tentunya juga dituntut hal yang sama. Selain perlu memahami teori ekonomi makro dan mikro, juga harus memiliki pengalaman dan wawasan luas di sektor finansial serta pasar modal sebagai fondasi dalam mengelola operasi perusahaan.
Selama ini, bentuk organisasi Kementerian BUMN telah berubah beberapa kali misalnya dari (Ditjen PBUMN => Kementerian Negara BUMN => Ditjen BUMN => Kementerian Negara BUMN). Perubahan bentuk organisasi ini dilakukan sebagai akibat perubahan dari kebijakan pemerintahan. Dampak dari perubahan bentuk organisasi yang terlalu sering tersebut akan mempengaruhi :
28
1) Produktivitas dan kualitas kerja turun karena fokus perhatian lebih kepada perubahan organisasi
2) Disorientasi visi, misi, & perumusan strategi pejabat kementerian maupun manajemen BUMN dalam pengembangan BUMN
3) Career planning dan regenerasi SDM terampil terabaikan 4) Capacity building dalam SDM, Sistim Prosedur dan Peraturan terabaikan. 5) Demotivasi kerja diseluruh lapisan SDM Kementerian. 6) Kurangnya perhatian Kementerian terhadap pengembangan dan pengawasan BUMN
yang semestinya Selain itu permasalahan lainnya yang muncul adalah struktur organisasi dan Sumber Daya
Manusia “kurang efektif “mendukung penanganan permasalahan di BUMN dan kurang mampu meningkatkan kinerja. Kemungkinan faktor-faktor penyebab lainnya diantaranya adalah lemahnya leadership dan lemahnya peran pembinaan serta pengawasan mengakibatkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) hanya sekedar semboyan dan mendorong maraknya penyimpangan di BUMN. Permasalahan timbul dimungkinkan karena Kebijakan yang dilakukan cenderung kurang menguntungkan BUMN, contoh :
1) Privatisasi, lebih diutamakan untuk menutup APBN
2) Sinergi antar BUMN tidak dilaksanakan, malah terjadi persaingan antar BUMN yang saling merugikan (Kimia Farma Vs Indo Farma, atau persaingan antar BUMN Konstruksi)
3) Kuatnya intervensi birokrasi dan politisi yang merugikan BUMN
Mencermati permasalahan yang ada, sudah saatnya BUMN dibenahi secara keseluruhan. Beberapa kondisi manajerial dan kinerja BUMN patut dicermati, termasuk kredibilitas dan kapabilitas board of director maupun komisaris di BUMN yang menghadapi tekanan berbagai pihak.
3.4 Daya Saing BUMN Walaupun masih banyak pihak yang sangsi atas kemampuan BUMN dalam menembus pasar
global, pemerintah tampak telah berketetapan untuk mewujudkan manajemen BUMN yang sehat dan profesional.
Keberadaan BUMN memang punya daya tarik tersendiri untuk suatu perdebatan. Di satu sisi berbagai pihak suka mencontohkan BUMN sebagai entitas bisnis yang sulit memperoleh laba. Namun tak kurang pula ahli yang mengutarakan added value yang dimiliki BUMN.
Tantangan bisnis BUMN menghadapi pasar global , akan diperlukan kesamaan visi dan persepsi jajaran manajemen BUMN untuk mengubah paradigma yang selama ini menjadi citra organisasi BUMN. Jika selama ini BUMN identik dengan penonjolan comparative advantage yang semata-mata mengandalkan modal dasar yang murah. Maka untuk visi ke depan, perlu paradigma baru yang
29
Sebagai pemegang saham mayoritas, sudah tentu pemerintah memiliki wewenang terhadap gerak langkah BUMN dalam taraf corporate level, namun untuk aspek operasional yang seringkali memerlukan kecermatan dan kecepatan mengambil keputusan seyogianya diberikan “otonomi” atau empowerment pada jajaran manajemen BUMN terkait.
Apabila suatu BUMN telah mendapatkan kepercayaan dan empowerment untuk pengelolaan usahanya, maka langkah pertama yang harus dirumuskan adalah sasaran perusahaan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Dari perjalanan beberapa BUMN selama ini, tersirat adanya kelemahan dalam menentukan arah dan sasaran perusahaan, sehingga mengakibatkan lemahnya proses perencanaan strategis (strategic planning) di BUMN.
Fenomena yang ada menunjukkan bahwa daya saing sebagian BUMN rendah akibat dari beberapa faktor diantaranya :
a) Fasilitas produksi yang tua dan tidak efisien
b) sistim manajemen & teknologi yang sederhana dan
c) overstaffing sumberdaya manusia berkemampuan rendah, namun understaffing sumberdaya manusia yang terampil dengan kompetensi tinggi.
Untuk dapat mengoptimalkan peran dari BUMN agar mampu mempertahankan keberadaannya dalam perkembangan ekonomi dunia yang makin terbuka dan kompetitif, BUMN perlu menumbuhkan profesionalisme antara lain melalui pengurusan dan pengawasannya. Penerapan sistem pengurusan dan pengawasan BUMN harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip efisiensi dan prinsip-prinsip tata-kelola perusahaan yang baik (good corporate governance). Hal ini untuk mengatasi masalah agar BUMN dapat dipimpin oleh Direksi yang profesional, kompeten, jujur, dan diangkat karena factor keahlihan di bidangnya dan bukan kepentingan politik atau lobby. Direksi diharapkan dapat memperlakukan BUMN sebagai perusahaan korporasi , yang dapat menguntungkan BUMN .
Jika BUMN ingin memiliki keunggulan kompetitif, sehingga mampu bersaing dengan badan usaha swasta nasional maupun trans-nasional, perlu adanya “pembenahan yang terintegrasi”. Untuk mengatasi masalah keterbatasan pendanaan untuk pengembangan usaha, akibat ketidakmampuan keuangan Pemerintah, khususnya pada BUMN yang bermasalah keuangan, Pemerintah menetapkan PP No.55 tahun 190 tentang Perusahaan Perseroan (PERSERO) yang menjual sahamnya kepada masyarakat melalui pasar modal. Inti peraturan pemerintah ini memberikan otonomi yang luas kepada BUMN yang go public untuk meningkatkan kemandirian dan kemampuan BUMN sebagai pelaku ekonomi yang memberikan perubahan yang mendasar dalam pengelolaan BUMN.
Profesionalisme jajaran manajemen BUMN tidak bisa ditawar-tawar lagi. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia agar bisa kompeten (competence) telah menjadi suatu tantangan di dalam mengantisipasi customer satisfaction. Selain competency, diperlukan pula connection yang merupakan kemampuan manajemen melakukan networking. Pembentukan jaringan, kemitraan, atau aliansi, merupakan salah satu strategi manajerial untuk menghadapi persaingan.
30
Dari segi sistem, sudah saatnya manajemen BUMN melakukan reorientasi proses manajemen sebagaimana diidentifikasikan oleh Rosabeth Moss Kanter (1989) dalam istilah “5F” yaitu membuat usaha menjadi lebih focus (jelas sasarannya), fast moving (gerak cepat), flexible (lincah), friendly (ramah terhadap mitra) dan free (bebas dari pengaruh birokrasi)
3.5 Strategi Reposisi BUMN
Beberapa strategi yang dlakukan dalam rangka mereposisi BUMN diantaranya adalah mengacu pada Francis Gouilart dan James N. Kelly, yang menasihatkan bahwa untuk men-transformasikan organisasi diperlukan empat langkah :
1) reframing corporate direction,
2) restructuring the company,
4) renewing people.
1) restrukturisasi (penataan ulang),
2) profitisasi (peningkatan laba yang signifikan sebagai langkah lanjut dari restrukturisasi dan
3) privatisasi/pelepasan kepemilikan dari negara ke publik.
Skenario ini direspon pada awal program kerja Kementrian BUMN di bawah Kabinet
Indonesia Bersatu, dan telah disampaikan dalam “Roadmap BUMN” yang mengagendakan perlunya perubahan di BUMN. Strategi yang digariskan dan sudah menjadi roadmap adalah restrukturisasi, profitisasi, dan privatisasi. Privatisasi adalah resultan dari profitisasi yang optimal.
Peningkatan efisiensi dan efektifitas BUMN telah menjadi fokus perhatian pemerintah sehingga dalam keputusan Menteri Keuangan No. 740/KMK.00/1989 tanggal 28 Juni 1989 disebutkan bahwa peningkatan efisiensi dan produktivitas BUMN dapat dilakukan melalui resrukturisasi
Secara teoritis restrukturisasi BUMN adalah pembenahan BUMN yang menyangkut struktur, organisasi, aspek hukum, komposisi kepemilikan, aset, dan intern manajemen yang pada dasarnya mempunyai tujuan untuk membentuk BUMN menjadi pelaku ekonomi yang efisien, efektif, produktif, dan dikelola secara profesional bisnis sehingga mampu mendapatkan keuntungan.
31
Pelaksanaan arah kebijakan restrukturisasi BUMN ditujukan untuk meningkatkan efisiensi usaha dan nilai kompetitif BUMN, baik yang berbentuk Perum, maupun Persero. Restrukturisasi dilakukan dengan memperhatikan dan tetap menjamin:
(1) tingkat pelayanan,
(3) tidak menimbulkan ekonomi biaya tinggi.
Program restrukturisasi BUMN bertujuan untuk meningkatkan keuntungan, kesehatan, dan kualitas pelayanan perusahaan negara. Sasaran program ini adalah meningkatnya efisiensi usaha dan daya saing BUMN serta terwujudnya kemitraan yang kuat antara BUMN dengan usaha-usaha lainnya
3.6 Pembinaan dan Pengembangan BUMN
Kementerian Negara BUMN akan mengambil langkah-langkah kebijakan dalam rangka pembinaan dan pengembangan BUMN antara lain :
1. Penyelesaian proses restrukturisasi BUMN terutama dalam rangka mendorong sinergi dan melakukan konsolidasi BUMN, transformasi bisnis dan kelanjutan rencana regrouping BUMN;
2. Identifikasi aliansi strategis dan pengembangan usaha BUMN yang diutamakan pada BUMN yang berbasis sumber daya alam (resource based) ;
3. Penyelarasan secara optimal kebijakan internal dan industrial serta pasar tempat BUMN beroperasi dan mengimplementasikan linkages programme antar-BUMN;
4. Membangun BUMN yang tangguh dan “berdaya saing tinggi” dalam persaingan global melalui kegiatan revitalisasi BUMN;
5. Konsolidasi per sektor sesuai dengan kajian konsultan yang independen serta memisahkan fungsi komersial dan public service obligation/PSO;
6. Penyempurnaan sistem pembinaan BUMN yang antara lain meliputi dalam rangka pemberian reward and punishment, penerapan Key Performance Indicators (KPI), penyempurnaan sistem remunerasi yang mengarah kepada market, dan penyempurnaan penilaian tingkat kesehatan BUMN khususnya untuk BUMN Jasa Keuangan;
7. Peningkatan upaya pemahaman masyarakat dan daerah terhadap keberadaan fungsi dan program BUMN;
8. Peningkatan profitisasi BUMN untuk mendukung peningkatan penerimaan APBN dari BUMN; 9. Pengelolaan database BUMN secara baik melalui sistem informasi manajemen yang
terintegrasi; 10. Peningkatan implementasi program Good Corporate Governance (GCG) dan manajemen
resiko secara baik di BUMN maupun di Kementerian Negara BUMN; 11. Peningkatan implementasi program PKBL sebagai wujud Corporate Social Responsibility
(CSR)
32
Penataan BUMN ke depan diarahkan untuk memperoleh jumlah BUMN yang paling efisien sehingga dapat memberikan kontribusi yang paling optimal baik bagi Negara maupun masyarakat luas. Jumlah BUMN yang paling efisien akan diperoleh dengan cara melakukan kebijakan yang terdiri dari:
(1) stand alone,
(5) likuidasi
Adapun jenis pemetaan BUMN dan tujuannya dapat dijelaskan pada tabel berikut ini:
Tabel 3. 1 .Pemetaan BUMN
Jenis Pemetaan 1. Pemetaan mengenai
perlu tidaknya kepemilikan Negara secara mayoritas
2. Pemetaan BUMN
PSO dan Non-PSO
3. Pemetaan BUMN
Tujuan • Konsentrasi pada BUMN yang
benar-benar harus dimiliki oleh Negara;
• Orientasi restrukturisasi dan kebijakan privatisasi BUMN.
Penetapan kebijakan pembinaan yang jelas dan terarah. Menyusun perencanaan tindakan yang didasari oleh kondisi sektoral, kinerja perusahaan, potensi penciptaan nilai dan potensi sinergi antar BUMN.
Sumber ; Kementrian BUMN 2006
Privatisasi memainkan peranan dalam mengarahkan perlebaran kepemilikan swasta. Namun hal ini tergantung pada karakteristik dari suatu perusahaan. Karakteristik Utama penentuan Kepemilikan Negara pada BUMN harus dimiliki Negara secara mayoritas jika terdapat satu atau lebih dari karakteristik dibawah ini:
• UU Mengharuskan Dimiliki oleh Negara • Mengemban Public Service Obligation(PSO) yang Signifikan • Terkait erat dengan Keamanan Negara
33
• Melakukan Konservasi Alam/Budaya • Berbasis Sumber Daya Alam • Penting bagi stabilitas ekonomi Jika BUMN tidak memiliki karakteristik diatas tidak harus dimiliki negara secara mayoritas.
Sebagaimana dapat dilihat pada Tabel dibawah ini
Tabel 3.2. Kepemilikan Negara pada BUMN Terbuka dan Perusahaan Minoritas
Ministry of SOE’s 1
Nama BUMN % Kepemilikan Negara
PT Bank Negara Indonesia Tbk 99,12%
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk 59,50%
PT Perusahaan Gas Negara Tbk 61,00%
PT Semen Gresik Tbk 51,01%
Nama BUMN % Kepemilikan Negara
PT Aneka Tambang Tbk 65,00%
PT Timah Tbk 65,00%
PT Indofarma Tbk 80,20%
Nama Perusahaan % Kepemilikan Negara PT Jakarta Industrial Estate Pulogadung 50,00% PT Surabaya Industrial Estate Rungkut 50,00% PT Kertas Padalarang 48,54% PT Asuransi Kredit Indonesia 45,00% PT Indonesia Asahan Aluminium 41,12% PT Semen Kupang 38,48% PT Atmindo 36,56% PT Bank Bukopin 21,72% PT Bahana PUI 17,78% PT Indosat Tbk 15,00%
Nama Perusahaan % Kepemilikan Negara PT Asean Bintulu Fertilizer 13,00% PT Asean Copper Product 13,00% PT Socfindo 10,00% PT Intirub 9,99% PT Freeport Indonesia 9,36% PT Dirgantara Indonesia 7,10% PT Prasadha Pamunah Limbah Industri 5,00% PT Rekayasa Industri 4,97% PT Kertas Blabak 1,64% PT Jakarta International Hotel Development 1,33% PT Kertas Basuki Rahmat 1,29%
B U
M N
T e
r b
u k
Tabel 5.2 menunjukkan kepemilikan negara pada BUMN Terbuka ada 12 perusahaan dengan prosentase kepemilikan rata-rata diatas 50%. Sementara kepemilikan minoritas dari 19 perusahaan rata rata prosentase kepemilikan dibawah 50% (kepemilikan minoritas).
3.7 Perkembangan Kinerja BUMN
Pokok-pokok kinerja Keuangan BUMN meliputi pertumbuhan aset, perkembangan utang, ekuitas, laba dan kerugian BUMN.
Pertumbuhan aset BUMN selama periode 2001-2005 mengalami peningkatan. Misal tahun 2001 total aset BUMN sebesar Rp 809.563 M yang meningkat menjadi Rp 1.308.893 M pada tahun 2005. Peningkatan aset disebabkan beberapa sebab, diantaranya peningkatan bisnis dan suntikan dana segar pemerintah.
Selama periode 2001-2005 jumlah utang BUMN cenderung meningkat. Hal ini disebabkan oleh peningkatan bidang usaha yang dimasuki BUMN, sehingga utang jangka panjang dan utang jangka pendek yang terus meningkat selama periode tersebut.
Sementara Ekuitas BUMN di Indonesia selama periode 2001-2005 cenderung meningkat. Tahun 2004 ekuitas BUMN meningkat tajam sebesar Rp.406.004 M dibandingkan tahun sebelumnya Rp 278.579 M. Peningkatan ekuitas BUMN selama periode tersebut diikuti dengan meningkatnya laba.
Pada tahun 2001 laba BUMN sebesar Rp 18.676 M , dan tahun 2005 naik menjadi Rp 42.349 M. Namun selama periode tersebut kerugian BUMN berfluktuasi naik turun. Pada tahun 2002 kerugian meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi pada tahun 2004 kerugian menurun dibandingkan tahun 2003. Hal ini disebabkan karena meningkatnya efisiensi operasinya. Untuk lengkapnya dapat dilihat tabel dibawah ini:
Tabel 3.3. Pokok-Pokok Kinerja Keuangan BUMN ,2001-2005
35
Uraian 2001 2002 2003 2004*) 2005**)
• Jumlah BUMN 150 158 157 158 139
• Total Asset (Rp M) 809.563 932.977 980.017 1.196.654 1.308.893
• Total Utang (Rp M) 678.506 664.084 696.735 783.141 876.499
• Total Ekuitas (Rp M) 129.074 265.782 278.579 406.004 423.496
• Total Laba BUMN (Rp M) 18.676 25.526 21.369 44.155 42.349
• Total Kerugian BUMN (Rp M) (2.222) (9.466) (8.681) (5.353) (6.477)
Keterangan: *) Pada tahun 2004, jumlah BUMN mencapai 158 BUMN. Dari jumlah tersebut, BUMN yang menyerahkan laporan keuangan sebanyak 140 BUMN. Sedangkan dari 140 BUMN yang menyerahkan laporan keuangan diketahui bahwa sebanyak 112 BUMN mencetak laba dan sebanyak 28 BUMN mengalami kerugian. **) Pada tahun 2004, jumlah BUMN mencapai 139 BUMN. Dari jumlah tersebut, BUMN yang menyerahkan laporan keuangan sebanyak 134 BUMN. Sedangkan dari 134 BUMN yang menyerahkan laporan keuangan diketahui sebanyak 103 BUMN mencetak laba dan yang merugi sebanyak 31 BUMN.
Sumber : Kementrian BUMN 2006
Perkembangan jumlah BUMN di Indonesia selama periode 2001-2005 , tidak banyak mengalami perubahan yang berarti. Pengurangan jumlah BUMN yang cukup berarti terjadi pada tahun 2005. Pada tahun 2005 jumlah BUMN sebanyak 139 perusahaan atau ada pengurangan 19 perusahaan dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 158 perusahaan.
Pengurangan jumlah BUMN ini karena ada sebanyak 13 BUMN Perjan rumah sakit berubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU) dan pengelolaannya kembali ke Departemen Kesehatan. Perjan RRI dan TVRI menjadi BLU dan dikembalikan ke Departemen Komunikasi & Informasi. Empat BUMN perikanan yaitu Tirta Raya Mina, Perikani, Usaha Mina, dan Perikanan Samudera Besar merger pada Oktober 2005. Sedangkan satu BUMN lagi yaitu PT. Asean Aceh Fertilizer (AAF) dilikuidasi pada akhir 2005. Kondisi BUMN dengan figur keuangan terbesar dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel : 3.4 BUMN dengan Figur Keuangan Terbesar
36
PT PELINDO II19
PT BA Tbk22
PT AP II21
PT PGN Tbk12 PT BULOG11
PT TASPEN10 PT PUSRI9 PT BTN8 PT JAMSOSTEK7 PT TELKOM Tbk6 PT BRI Tbk5 PT BNI Tbk4 PT PERTAMINA3 PT PLN2 PT BANK MANDIRI Tbk1
1 0
b e
s a
Sumber : Kementrian BUMN 2006
Dari total 139 BUMN, terdapat 22 BUMN yang memiliki setidaknya 3 figur keuangan terbesar dari 4 figur keuangan yang berupa (1) aset, (2)Ekuitas, (3) penjualan dan (4) laba bersih sebagaimana tabel dibawah ini :
Tabel 3.5. Figur Keuangan Pokok dari 22 BUMN Terbesar 2005
37
467,060 2,998,686.00 2,052,660.00 PT Tambang Batubara Bukit Asam 22
441,952 1,710,379.35 3,550,770.61 3,889,344.53 PT Angkasa Pura II (AP II) 21
6,908 2,616,533.84 3,094,862.48 4,260,568.67 PT Kereta Api Indonesia (KAI) 20
702,189 1,784,683.53 3,329,002.28 4,467,058.43 PT PELINDO II 19
334,864 1,214,836.52 4,325,394.83 4,724,944.38 PT AP I 18
841,936 3,287,268.83 3,029,642.90 6,402,714.13 PT ANTAM Tbk17
1,022,568 7,532,208.19 4,487,178.40 7,296,963.64 PT Semen Gresik, Tbk 16
200,511 600,050.00 3,837,169.00 7,535,121.58 PT BEI 15
293,137 1,923,859.75 1,967,691.59 9,715,807.12 PT Jasa Marga 14
236,995 11,632,509.00 5,211,656.00 10,689,077.00 PT Krakatau Steel (KS) 13
862,013 5,433,739.71 4,198,300.71 12,574,760.56 PT PGN Tbk 12
15,552 10,620,