pengantar ritel & waralaba

Download Pengantar ritel & waralaba

If you can't read please download the document

Post on 13-Jan-2015

361 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

 

TRANSCRIPT

  • 1. RITEL DAN WARALABA BAHAN BACAAN : PHILIP KOTLER : MANAJEMEN PEMASARAN JLD 2 CHRISTINA WHIDYA UTAMI : MANAJEMEN RITEL HENDRI MARUF : PEMASARAN RITEL INTERNET

2. PERBANDINGAN ANTARA KONSEP PENJUALAN DAN KONSEP PEMASARAN Pabrik Produk Menjual dan berpromsi Laba melalui penjualan Pasar sasaran Kebutuhan pelanggan Pemasaran terintegrasi Laba melalui kepuasan pelanggan Titik awal Fokus Sasaran Hasil Konsep Penjualan Konsep Pemasaran 3. NO MATERI METODE PEMBLJRN ALOKS WAKTU KETE- RANGAN 1 Pengantar Ritel & Waralaba 2 Perilaku Belanja Pelanggan dalam Bisnis Ritel 3 Strategi Pemasaran dalam Bisnis Ritel 4 Aspek SDM & Manajemen Keuangan dalam Bisnis Ritel 5 Pemilihan Lokasi dalam Bisnis Ritel 6 Sistem Informasi dan Jaringan Manejemen Persediaan dalam Bisnis Ritel 7 Membangun Manajemen Relasional dam Bisnis Ritel 8 Perencenaan & Pengelolaan Barang Dagangan 9 Strategi Penetapan Harga dalam Bisnis Ritel 10 Bauran Komunikasi dalam Bisnis Ritel 11 Rancangan Tata Ruang Toko 12 Kualitas Layanan dalam Bisnis Ritel 13 Sistem Antrean dan Penanganan Keluhan 14 Menganalisis Kinerja bisnis Ritel RENCANA PEMBELAJARAN MK. MANAJEMEN RITEL & WARALABA 4. MENGELOLA RITEL Kata Ritel berasal dari bahasa Perancis : ritellier, yg berarti memotong, atau memecah sesuatu. Eceran (retailing) meliputi semua kegiatan yg terlibat dalam penjualan barang atau jasa langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan non-bisnis (Kotler). Setiap organisasi yg melakukan penjualan kepada konsumen akhir apakah itu produsen, pedagang besar, atau pengecer melakukan eceran. Apakah melalui orang, surat, telepon, mesin penjaja, internet, apakah di toko, di pinggir jalan, atau di rumah konsumen). (Kotler). Bisnis ritel dapat dipahami sebagai semua kegiatan yg terlibat dalam penjualan barang atau jasa, secara langsung kepada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi atau bukan bisnis. Christina W Utami (Manajemen Ritel, hal. 5). 5. JENIS-JENIS RITEL Kotler membagi tipe-tipe pedagang eceran menjadi 3 bagian besar yaitu: 1. Store Retailer (Pengecer Umum) - speciality store - departement store - supermarket - convenience store - superstore, combination store and hypermarket - discount store - off price retailer - catalog showroom. 6. JENIS-JENIS RITEL 2. Non Store Retailer (Eceran Non Toko) - direct selling - direct marketing - automatic vending machine - buying service 3. Retailer Organization (Eceran Korporat) - corporate chain - valuntary chain and retail cooperative - customer cooperative - franchise organization - merchandising conglomerate. 7. Major Retailer Types Specialty store Department store Supermarket Convenience store Discount store Off-price retailer Superstore Catalog showroom 8. Major Retailer Types Speciality Store : lini produk yg sempit dg keragaman yg dalam. Cth: Athletes Foot, The Body Shop. Department Shop : Beberapa lini produk biasanya pakaian, perlengkapan rumah, brg kebutuhan rumah tangga, cth Matahari, dll. Supermarket : Usaha yg relatif besar, berbiaya rendah, marjin rendah, volume tinggi, swa layan - kebutuhan makanan, sarana mencuci, produk2 keluarga Cth : Hero, Giant, Indomart. Convinience Store : toko yg relatif kecil terletak di daerah pemukiman, dibuka berjam-jam, tujuh hari dalam seminggu, menjual lini terbatas produk- 2 kenyamanan dg tkt perputaran tinggi, hrg sedikit rendah, ada minuman ringan. Cth : 7-Eleven, Circle K. Discount Store : Brg dagangan standar, lebih murah, marjin rendah, volume tinggi. Cth : Wal-mart, Off-Price Retailer : Brg dagangan dijual di bawah harga pedagang besar, sering merupakan brg sisa, berlebihan dan tdk biasa, Superstore : Ruang penjualan sekitar 35.000 kaki persegi, memenuhi seluruh kebutuhan konsumen untk jenis produk makanan / non makanan yg lebih rutin, ditambah layanan seperti binatu, perbaikan sepatu, pencairan cek, pembayaran tagihan. Cth : Hipermarket, Carrefour. Ruang Pameran Katalog : Barang berharga tinggi, perputaran cepat, bermerek dg harga tinggi. 9. Nonstore Retailing Direct selling Buying service Automatic vending Direct marketing 10. Nonstore Retailing Direct selling : penjualan dari rumah ke rumah. Cth : Electrolux, Tupperware Direct marketing : berakar dalam pemasaran surat langsung dan katalog seperti telemarketing, tanggapan langsung televisi, belanja elektronik (amazon.com) Automatic vending machine : mesin penjaja otomatis untuk produk-2 seperti rokok, minuman ringan, permen, kosmetik, makanan hangat, dll. Mesin tsb menerina uang receh dan memberikan kembalian uang kertas. Biasanya di tempatkan di kantor, toko eceran besar, pompa bensin, hotel, restoran dsb. Buying service : jasa pembelian yg melayani karyawan dg mendapatkan diskon sbg imbalan keanggotaan. 11. Major Types of Corporate Retail Organizations Corporate chain store Voluntary chain Retailer cooperative Consumer cooperative Franchise organization Merchandising conglomerate 12. Major Types of Corporate Retail Organizations Corporate chain store: Memiliki dua gerai atau lebih, dg melakukan pembelian dan perdagangan terpusat, dan menjual lini dagangan yg mirip. Cth : GAP Valuntary chain : kelompok pengecer independen yg disponsori pedagang besar, melakukan pembelian besar-besaran dan perdagangan umum. Retail cooperative : pengecer-2 independen yg membentuk organisasi pembelian pusat dan melakukan kegiatan promosi bersama. Cth : ACE Hardware. Customer cooperative : kelompok menyerahkan uang untuk membuka toko bersama, memberikan suara unt menetapkan kebijakan, memilih kelompok pengelola, menerima dividen keanggotaan Franchise organization : perhimpunan berdasarkan kontrak antara pemberi waralaba (produsen, pedagang besar, organisasi jasa) dan pemegang waralaba (pengusaha independen yg membeli hak) untuk memiliki dan menjalankan satu atau beberapa unit dlm sistem waralaba. Cth : McDonalds, Pizza Hut, 7-Eleven. Merchandising conglomerate : Perusahaan berbentuk bebas yg menggabungkan beberapa unit eceran yg berbeda-beda dan terbentuk di bawah kepemilikan yg terpusat, penggabungan distribusi dan manajemen. Cth : Dunkin Donuts. 13. Corporate Retailing 14. Pengecer dapat memposisikan diri dalam menawarkan salah satu dari empat tingkat layanan : 1. Swa-layan (self service). Pelanggan bersedia melakukan proses menemukan, membandingkan, memilih sendiri guna menghemat uang. 2. Swa-pilih (self selection). Pelanggan mencari barangnya sendiri, walaupun mereka dapat meminta bantuan. 3. Layanan terbatas (limited service). Pelanggan memerlukan lebih banyak informasi dan bantuan. Pengecer menawar-kan sistem kredit dan hak mengembalikan barang. 4. Layanan lengkap (full service). Wiraniaga siap membantu dalam setiap tahap proses menemukan, membandingkan, memilih barang. Biaya karyawan yg tinggi, ditambah dg jlh barang khusus yg tinggi dan jenis brg yg perputarannya lambat, menyebabkan ritel yg berbiaya tinggi. TINGKAT LAYANAN RITEL 15. Levels of Retail Service Self-service Self-selection Limited service Full service 16. Strategi Pemosisian Bagi Pengecer 1. Toko-toko yg menampilkan produk yg sangat beragam dan bernilai tinggi. Memperhatikan rancangan toko, mutu produk, layanan, dan citra. Marjin laba tinggi & volume tinggi. 2. Menampilkan keragaman produk yg sempit dan bernilai tambah tinggi. Mengembangkan citra eksklusif dan cenderung beroperasi dg marjin tinggi dan volume rendah. 3. Menampilkan lini sempit dan bernilai rendah. Biaya dan harga rendah, melakukan pembelian, perdagangan, iklan, dan distribusi terpusat. Marjin rendah, volume rendah 4. Menampilkan lini produk yg luas dan bernilai rendah. Mempertahankan harga tetap rendah sehingga memiliki citra sbg tempat untuk membeli brg. Marjin laba rendah dg volume yg tinggi. 17. Retail Positioning Map 18. WARALABA Waralaba (franchise) adalah kelompok usaha yg terkait erat, pengelolaannya sistematis, direncanakan, diarahkan, dan dikendalikan inovator usaha tsb (franchiser). Waralaba memiliki tiga ciri / karakter : 1. Pemberi waralaba memiliki merek dagang atau merek jasa dan melisensikannya kepada pemegang hak waralaba dg imbalan royalti. 2. Pemegang waralaba membayar hak tsb untuk menjadi bagian sistem. Biaya awal meliputi perlengkapan sewa dan kontrak, peralatan tetap, dan biasanya biaya lisensi reguler. Pemegang waralaba kemudian membayar persentase penjualan ditambah sewa pokok bulanan. 3. Pemberi waralaba memberikan sistem bisnis kepada pemegang hak waralaba. Umumnya mengikuti pelatihan sistem, standar operasi dan prosedur menjalankan bisnis. 19. What is a Franchising System? A franchising system is a system of individual franchisees, a tightly knit group of enterprises whose systematic operations are planned, directed, and controlled by the operations franchisor. 20. Characteristics of Franchises The franchisor owns a trade or service mark and licenses it to franchisees in return for royalty payments The franchisee pays for the right to be part of the system The franchisor provides its franchisees with a system for doing business 21. Franchising Menurut Hisrich-Peters: Franchising didefinisikan sbg pelimpahan dari pabrikan atau distributor suatu produk atau jasa yg diberikan kepada agen-2 lokal atau pengecer dgn membayar royalti. Menurut Robert T. Justis: Frachising merupakan sebuah peluang bisnis dimana pemilik, produsen atau distributor sbg franchisor dari barang & jasa atau merek tertentu memberi hak kpd individu atau franchising utk menjadi agen lokal dari barang & jasa & sebagai imbalannya menerima pembayaran atau royalti yg telah ditetapkan. 22. Orang yang memberikan franchising disebut franchisor, sedangkan orang yang menerima franchising disebut franchisee. Untuk pelaksanaan franchising dibuat semacam kontrak antara frachisor & franchisee. Kontrak franchising ini disebut license agreement atau franchise contract 23. Apa saja yang dapat dijadikan franchising? 1. Barang atau jasa yang telah memp