pengantar jurnalistik

Click here to load reader

Post on 06-Feb-2016

79 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PENGANTAR JURNALISTIKOleh : Padlah Riyadi, SE. Ak

I. PENDAHULUANPengertian JurnalistikDari sejarah peradaban manusia, kita kenal orang Yunani, beribu tahun sebelum Masehi, menggunakan nyala obor sebagai isyarat yang dapat dilihat oleh rekannya yang berada jauh dari tempatnya. Orang-orang Indian menggunakan asap untuk mengirimkan informasi kepada rekan-rekannya yang jauh darinya. Orang pun mengorek sepotong batang kayu agar berbunyi bila ditabuh, dan bunyinya dapat didengar dari jauh. Alat itu pun digunakan untuk memberitahukan sesuatu kejadian atau menyampaikan informasi yang perlu diperhatikan semua atau segolongan orang. Sampai kini suku Ashanti di Ghana masih menggunakan kayu demikiah untuk menyampaikan berita ke tempat-tempat yang jauh. Mereka memukulnya dengan kombinasi nada yang bisa dimengerti oleh rekannya yang mendengar. Demikian pula praktik-praktik pengiriman berita dalam bentuk komunikasi yang sederhana itu berkembang menjadi suatu gejala yang mirip dengan kegiatan jurnalistik. Demikian pula halnya dengan sebuah nama yang kita sebut jurnalistik ini. Secara alamiah, di dalam nama itu terkandung ciri-ciri tertentu yang menjadi pengetahuan bagi kita untuk mengenalinya lebih jauh, sehingga kita bisa membedakannya dari nama atau istilah-istilah lain yang ada di sekeliling kita. Untuk itu kita memerlukan pendekatan dan pemikirannya melalui tiga segi, yaitu rangkaian istilahnya (etimologi), lingkungan kegiatannya (sosiologi dan komunikasi), dan sejarah pertumbuhannya.Dari segi etimologi kita melihat istilah jurnalistik terdiri dari dua suku kata, jurnal dan istik. Kata jurnal berasal dari bahasa Perancis, journal, yang berarti catatan harian. Sehubungan dengan kegiatan jurnalistik, pada zaman kerajaan Romawi Kuno yang diperintah oleh Julius Caesar dikenal dengan istilah acta diurna yang mengandung makna rangkaian akta (gerakan, kegiatan, dan kejadian) hari ini. Adapun kata istik merujuk pada istilah estetika yang berarti ilmu pengetahuan tentang keindahan. Keindahan dimaksud adalah mewujudkan berbagai produk seni dan/ keterampilan dengan menggunakan bahan-bahan yang diperlukannyaseperti kayu, batu, kertas, cat, atau suara; dalam hal ini meliputi semua macam bangunan, kesusastraan, dan musik (Pringgodigdo, 1973: 383). Dengan demikian secara etimologis jurnalistik dapat diartikan sebagai suatu karya seni dalam hal memhuat catatan tentang peristiwa sehari-hari, karya mana memiliki nilai keindahan yang dapat menarik perhatian khalayaknya sehingga dapat dinikmati dan dimanfaatkan untuk keperluan hidupnya.Para filosof memberikan batasan jurnalistik sebagai sarana pemberitahuan dengan pemyataannya yang berbunyi berilah publik apa yang mereka inginkan dan berilah publik suatu kebenaran yang harus dimilikinya (Bond, 1961: 1).

Seperti halnya manusia tempo dulu yang membuat kepulan asap ataupun memperdengarkan pukulan genderangnya dengan nada yang khas untuk memberitahukan sesuatu kepada rekannya yang berada jauh dari tempat mereka. Demikian pula filosof lain menyatakan, bahwa jurnalistik merupakan upaya membuat semua orang menjadi tahu apa yang belum diketahuinya.Dalam pengamalan kehidupannya, manusia selalu dipengaruhi oleh empat faktor sosialisasi, yaitu hereditas (warisan biologis), warisan sosial, lingkungan hidup, dan kelompok (Polak, 1974: 13). Istilah komunikasi berasal dari bahasa Latin, communicare yang berarti memberitahukan atau berpartisipasi. Selain itu dalam bahasa Latin pula kita mengenal istilah communi yang bermakna milik bersama atau berlaku di mana-mana. Dalam bahasa Inggris pun kita mengenal istilah communication yang secara denotatif berarti hubungan, kabar, atau pemberitahuan. Secara konotatif, dari pengertian-pengertian akar katanya tadi, kiranya dapat diartikan sebagai suatu proses pemberitahuan yang mengarah pada terwujudnya persamaan makna terhadap apa yang diberitahukan itu. Lebih lengkap lagi Carl I Hovland, yang dikenal sebagai "Bapak Komunikasi", melalui bukunya, Social Communication, men-definisikan komunikasi sebagai proses di mana seseorang insan (ko-munikator) menyampaikan rangsangan (biasanya berupa lambang-lambang dalam bentuk kata-kata) untuk mengubah tingkah laku insan-insan lainnya (komunikan). Jelasnya Hovland (1953: 12) mengatakan bahwa communication is the process by which an individual (the communicator) transmits stimuli (usually verbal symbols) to modify the behavior of other individuals (the communicatees).Lebih rinci lagi Harold Lasswell melalui tulisannya "The Structure and Function of Communication in Society" dalam Wilbur Schramm, Mass Communication, memberikan paradigma yang menyatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi adalah menjawab pertanyaan: who says what in which channel to whom with what effect? Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media, yang menimbulkan efek (akibat) tertentu.Dari kedua pendapat itu kiranya bisa dilihat adanya unsur-unsur yang terlibat dalam proses komunikasi itu, yakni: komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek (akibat).Namun demikian Wilbur Schramm melalui bukunya, How Communication Works (Onong, 1973: 39) mengatakan bahwa komunikasi selalu menghendaki adanya paling sedikit tiga unsur: sumber (source), pesan (message), dan sasaran (destination). Dari proses terjadinya suatu komunikasi tadi kiranya kita bisa melihat bahwa proses tersebut berlangsung dengan melibatkan tujuh unsur komunikasi, yaitu: sumber, komunikator, pesan, media, komunikan, tujuan, dan akibat (lihat bagan). Tergolong ke dalam pesan komunikasi kita temukan antara lain apa yang disebut produk jurnalistik berupa pemberitahuan melalui media cetak atau media elektronik. Dengan demikian dari kacamata komunikasi jurnalistik merupakan karya yang dibentuk komunikator sebagai upaya mencapai tujuan komunikasinya (apa yang diinginkannya). Dengan kata lain, produk jurnalistik dimaksud dibentuk melalui suatu keterampilan atau seni yang disebut jurnalistik dengan tujuan mempengaruhi komunikan (khalayak).Dari segi pengertian tadi, yaitu menurut kacamata etimologi, komunikasi dan sejarah perkembangannya, kita dapat menarik kesimpulan bahwa di dalam istilah jurnalistik terkandung makna sebagai suatu seni dan atau keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, dan menyajikan informasi dalam bentuk berita secara indah agar dapat diminati dan dinikmati sehingga bermanfaat bagi segala kebutuhan pergaulan hidup khalayak. Lebih jauh agama Islam mengajarkan bahwa manusia wajib berkomunikasi dengan Allah Swt dan dengan sesamanya (Al-Quran [3]: 112) serta wajib mengajak (mempengaruhi) manusia agar berbuat amarma rufnahi munkar (Al-Quran [3]: 104 dan 110). Bahkan makna konotatif dari pemberitahuan pun dijelaskan Allah Swt dalam Al-Quran sebagai kewajiban untuksaling tolong menolong dalam kebaikan (Al-Quran [5]: 2). Lebih tegas lagi Nabi Besar Muhammad Saw beramanah kepada umatnya agar selalu menyampaikan informasi walaupun hanya sepotong ayat (Hadis riwayat Muslim). Dari ajaran tersebut jelas menunjukkan bahwa jurnalistik merupakan kewajiban bagi semua umat di dunia ini. Malahan Allah Swt mengajarkan metode komunikasinya melalui Al-Quran surat An-Nahl avat 125.DEFINISI JURNALISTIKJurnalistik adalah seni dan keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga rerjadi perubahan sikap, sifat, pendapat, dan perilaku khalayak sesuai dengan kehendak para jurnalisnya.Adinegoro sendiri melalui bukunya, Publisistik dan Djurnalistik (1963: 38) membedakan jurnalistik dari publisistik dengan penegasan bahwa jurnalistik adalah kepandaian yang praktis, sedangkan publisistik adalah kepandaian yang ilmiah. Sebagai kepandaian praktis, jurnalistik adalah salah satu obyek di samping obyek-obyek lainnya dari ilmu publisistik, yang mempelajari seluk beluk penyiaran berita-berita dalam keseluruhannya dengan meninjau segala saluran, bukan saja pers, tapi juga radio, televisi, film, teater, rapat-rapat umum, dan segala lapangan.Astrid S. Susanto melalui bukunya, Komunikasi Massa (1986:73) mendefinisikan jurnalistik sebagai kejadian pencatatan dan atau pelaporan serta penyebaran tentang kejadian sehari-hari. Senada dengan itu Onong Uchjana Effendy (1981:102) menyatakan bahwa jurnalistik merupakan kegiatan pengolahan laporan harian yang menarik minat khalayak, mulai dari peliputan sampai penyebaran-nya kepada masyarakat. Jurnalistik adalah seni dan/ keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya. Indah di situ punya arti dapat diminati dan dinikmati sehingga bisa mengubah sikap, sifat, pendapat, dan tingkah laku khalayaknya.SEJARAH PERKEMBANGAN JURNALISTIKPerkembangan jurnalistik dimulai dari perkembangan publisistik sebagai pengetahuan kemasyarakatan dalam bidang pernyataan antar manusia. Namun, gejalanya jauh sebelum itu sudah tampak. Jauh sebelum itu para ahli sejarah tersebut menuturkan hasil penyelidikannya yang bersandar pada buku Perjanjian Lama (Genesis 8 ayat 10-12), di mana dikisahkan bahwa sewaktu di dunia ini turun hujan lebat tujuh hari tujuh malam terus menerus, timbullah air bah yang memusnahkan segala makhluk hidup dan semua tanaman sebagai pidana Tuhan terhadap kejahatan dan dosa manusia, Bandingkan dengan Al-Quran (surat Nuh ayat 25 dan Surat Hud ayat 37-45).Sebelum Allah Swt menumnkan hanjir yang sangat hebat kepada kaum yang kafir, maka datanglah malaikat utusan Allah Swt kepada Nabi Nuh agar ia memberitahukan cara membuat kapal sampai selesai. Kapal itu cukup untuk dipergunakan sebagai alat evakuasi oleh Nabi Nuh beserta sanak keluarganya yang shaleh dan segala macam hewan masing-masing satu pasang. Tidak lama kemudian, seusainya Nuh membuat kapal, hujan lebat pun turun ber