Penelitian Sosiologi

Download Penelitian Sosiologi

Post on 01-Jul-2015

521 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Pada saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada kondisi negara yang sangat memprihatinkan di mana dibutuhkan pembangunan di segala sektor yang benar-benar menyentuh dan berdampak luas pada masyarakat, baik itu pembangunan di sektor ekonomi, politik, budaya, pendidikan, dan yang paling utama pula adalah pembangunan di sektor mental masyarakat Indonesia karena pembangunan di sektor mental masyarakat inilah pembangunan suatu negara dapat berkembang dan berjalan lancar. Indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum. Hukum bersifat mengikat dan memaksa artinya setiap penduduk dan warga negara Indonesia tanpa terkecuali harus mematuhi hukum yang berlaku di Indonesia. Apabila seseorang melanggar maka akan dikenai sanksi, baik itu berupa denda atau hukuman kurungan penjara. Akan tetapi, akhir-akhir ini banyak masyarakat Indonesia yang sudah kehilangan kesadaran tertib hukum dan berani untuk melanggar hukum yang berlaku, hal tersebut tidak lain disebabkan karena kualitas dan mutu mental masyarakat Indonesia terlihat semakin terpuruk. Sejak pemerintah Indonesia melaksanakan pembangunan dapat dilihat begitu banyak perkembangan. Dengan pembangunan yang sungguh-sungguh ditangani, taraf kehidupan rakyat Indonesia bertambah baik. Begitu pula sektor industri maju dengan pesat, dan ini terbukti dari banyaknya barang-barang hasil industri yang memenuhi pasaran. Berbagai jenis produk ditawarkan dengan melimpah dalam masyarakat, tidak terkecuali dengan kendaraan bermotor, baik yang beroda dua maupun beroda empat. Daya beli masyarakat Indonesia sudah semakin membaik. Hal ini dapat dilihat dengan makin banyaknya kendaraan bermotor yang dibeli oleh masyarakat , baik secara tunai maupun dengan angsuran. Yang jelas kendaraan bermotor benar-benar sudah menjadi milik masyarakat.</p> <p>Namun, setiap sisi positif pasti memiliki sisi negatif. Semakin banyak kendaraan bermotor maka masalah yang ditimbulkan juga semakin bertambah, misalnya asap kendaraan yang semakin banyak dapat menggangu kesehatan. Selain itu, tingkat kecelakaan lalu lintas menunjukkan pertambahan yang cukup mengejutkan. Begitu juga masalah parkir, terutama di daerah perkotaan yang menjadi semakin rumit. Sebagaimana disebutkan dalam paragraf di atas bahwa kualitas dan mutu mental masyarakat Indonesia sudah mulai rusak adalah benar. Hal itu tampak dari sikap masyarakat Indonesia yang bertindak sewenang-wenang, tidak tertib, berani melanggar hukum, dan sebagainya. Ambil saja sebuah contoh kecil, budaya parkir tertib. Budaya parkir tertib sudah mulai jarang terlihat. Masyarakat sudah mulai melupakan ketertiban dalam memarkir kendaraan mereka. Mereka lebih senang memarkir kendaraan mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri tanpa memperhatikan ketertiban di sekitarnya. Namun, tidak hanya masyarakat yang bertanggungjawab terhadap ketertiban lahan parkir akan tetapi tukang parkir juga ikut andil dalam hal ini. Di sini profesionalitas kerja mereka kurang dapat dirasakan manfaatnya secara luas. Kadangkala, mereka hanya semprat-semprit tanpa memperhatikan keteraturan dan kerapian posisi parkir kendaraan. Adakalanya juga, mereka tidak memberikan karcis parkir namun tetap menarik biaya parkir. Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, penulis merasa perlu melakukan penelitian guna penulisan skripsi yang berjudul Profesionalitas Kerja Tukang Parkir di Kecamatan Kota Pamekasan Tahun 2005. A. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana latar belakang mereka menjadi tukang parkir ? 2. Bagaimana latar belakang perekonomian mereka ?</p> <p>3. Apa saja kendala yang ditemui dalam menjalankan tugasnya ? 4. Bagaimana profesionalitas kerja mereka ? 5. Adakah tindak lanjut dari pemerintah setempat terhadap para tukang parkir tersebut ? B. Tujuan Penelitian Segala aktivitas pasti memiliki tujuan tertentu. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui latar belakang mereka menjadi tukang parkir; 2. Untuk mengetahui latar belakang perekonomian mereka; 3. Untuk mengetahui kendala-kendala yang ditemui dalam menjalankan tugas sebagai tukang parkir; 4. Untuk mengetahui profesionalitas kerja mereka; 5. Untuk mengetahui ada tidaknya tindak lanjut dari pemerintah setempat. C. Pembatasan Masalah Untuk mempermudah penelitian, maka peneliti menetapkan beberapa pembatasan permasalahan sebagai berikut: 1. Peneliti hanya membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan profesionalitas kerja tukang parkir; 2. Peneliti hanya mewawancarai beberapa tukang parkir di beberapa tempat di kecamatan kota Pamekasan pada tahun 2005; 3. Wawancara dilakukan secara random artinya tidak mewawancarai tukang parkir tertentu. B. Kegunaan Penelitian Adapun beberapa manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi Peneliti a. Untuk memenuhi tugas dari guru pengajar sosiologi kami, yaitu bapak Mukti Ali, Spd;</p> <p>b. Peneliti dapat membuktikan hipotesanya sehingga dapat menambah wawasannya sebagai hasil dari pengamatan. 2. Bagi Pembaca a. Pembaca dapat mengetahui peranan tukang parkir sebagai penegak disiplin; b. Pembaca dapat mengetahui profesionalitas kerja tukang parkir di Pamekasan pada tahun 2005; 3. Bagi Pemerintah a. Dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi pemerintah agar lebih memperhatikan kesejahteraan mereka; b. Pemerintah dapat mengetahui latar belakang perekonomian tukang parkir di Pamekasan.</p> <p>BAB II KAJIAN PUSTAKAA. Tinjauan Tentang Profesionalitas Kerja 1. Definisi Untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang profesionalitas tukang parkir, berikut dikemukakan pengertian profesi. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu. Dengan pengertian ini, profesi merupakan suatu pekerjaan yang untuk melaksanakannya memerlukan sejumlah keahlian tertentu sebagai persyaratan dalam melakukannya. Artinya, ia merupakan pekerjaan-pekerjaan tertentu, bukan pekerjaan sembarang orang. Menurut Ahmad Tafsir (2004 ; 56) pada taraf perkembangan selanjutnya, profesi mendapatkan arti yang lebih jelas dan khusus lagi. Untuk itu ada dua ketentuan mengenai penggunaan kata profesi sebagai berikut: Pertama, suatu kegiatan hanya dapat dikatakan profesi apabila kegiatan tersebut digunakan untuk mencarikan nafkah yang pokok, melainkan hanya mencari kesenangan atau kepuasan batin. Kedua, suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencari nafkah yang dilakukan dengan keahlian cukup tinggi. Dengan demikian profesi adalah suatu bidang keahlian yang dimiliki seseorang yang digunakan untuk menopang kelangsungan hidupnya berdasarkan pada pengetahuan yang mendalam. Dari dua istilah teknis yang berbeda definisi operasionalnya, pekerjaan adalah istilah umum (general term) yang artinya kegiatan manusia yang menggunakan tenaga, pikiran, peralatan, dan waktu untuk membuat sesuatu, mengerjakan sesuatu atau menyelesaikan sesuatu. Sedangkan profesi, sebagaimana yang dikemukakan di atas adalah pekerjaan orang-orang tertentu, yang memiliki keahlian khusus yang tidak semua orang memiliki keahlian tersebut, jadi bukan pekerjaan sembarang orang.</p> <p>Jadi, jelaslah letak perbedaan antara profesi dan pekerjaan, hal ini berarti bahwa jenis pekerjaan tertentu akan dapat dilakukan jika seseorang memiliki kemampuan atau profesi tertentu, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat AlIsra 84 yang berbunyi.</p> <p>Artinya : Hendaklah bahwa setiap orang itu bekerja sesuai dengan bakat dan kemampuannya masing-masing, maka Tuhanmu mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. Dalam Islam setiap pekerjaan harus dilakukan secara profesional, dalam arti harus dilakukan dengan benar, itu mungkin hanya bisa dilakukan oleh orang yang ahli, karena jika suatu pekerjaan dilakukan oleh orang yang tidak ahli, maka pekerjaan itu tidak akan mencapai hasil yang diinginkan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW dalam hadist yang berbunyi:</p> <p>Artinya : Bila suatu urusan dilakukan oleh orang yang tidak ahli maka tunggulah kehancuran. (HR. Bukhari) Selanjutnya terdapat istilah-istilah lain yang berhubungan dengan profesi. Salah satunya adalah profesional yang berarti orang yang melaksanakan profesi pendidikan minimal S1 dan mengikuti ujian profesi atau lulus ujian profesi. Dengan demikian profesional adalah orang yang dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Berikutnya istilah ini berkembang menjadi istilah profesionalitas, yang bermakna keprofesionalan seseorang dalam melakukan tugasnya. Ketika dikaitkan dengan istilah tukang parkir, maka profesionalitas tukang parkir dapat dimaknai sebagai kecakapan dan keterampilan khusus yang dimiliki tukang parkir dalam mengatur dan menertibkan kendaraan parkir, dengan demikian tukang parkir yang berkualifikasi profesional, yaitu tukang parkir yang mengetahui secara mendalam tentang tugasnya dan dapat mempertanggungjawabkan tugasnya.</p> <p>2. Kriteria Sebagai Suatu Bidang Profesi Menurut Ahmad Tafsir (1997 ; 61) kriteria bagi suatu profesi untuk disebut sebagai suatu bidang profesi adalah sebagai berikut: a) Profesi harus memiliki suatu keahlian khusus. Keahlian tidak dimiliki oleh profesi lain, misalnya: keahlian kimia tidak dikenal oleh ahli hukum, keahlian hukum tidak dikenal oleh profesi kedokteran. b) Profesi harus diambil sebagai panggilan pemenuhan hidup. Oleh karena itu, profesi dikerjakan sepenuh waktu sebagai pengetahuan hidup, artinya profesi itu dipilih karena dirasakan oleh panggilan hidupnya, artinya itulah lapangan pengabdiannya, jadi ada suatu kesungguhan dalam memiliki profesi. Dilakukan sepenuh waktu maksudnya profesi itu dijalani dalam waktu yang panjang bahkan seumur hidup. Jadi bukan dilakukan secara part time, melainkan full time, bukan dilakukan sebagai pekerjaan sambilan atau pekerjaan sementara yang akan ditinggalkan jika menemukan pekerjaan lain yang dirasakan lebih menguntungkan. c) Profesi memiliki teori-teori yang baku secara universal, artinya profesi itu dijalankan menurut teori-teorinya, teori harus baku artinya teori itu bukan sementara, teori itu harus dikenal secara umum, artinya dikenal oleh semua pemegang profesi itu dimanapun ia berada. Inilah yang dimaksudkan dengan universal. d) Profesi harus dilengkapi dengan kecakapan diagnotis dan kompetensi optimal. Kecakapan diagnotis sudah jelas dalam profesi kedokteran. Akan tetapi, kadangkala ada profesi yang kurang jelas kecakapan diagnotisnya, hal tersebut disebabkan karena belum berkembangnya teori dalam profesi itu. Kompetensi aplikasi adalah kewenangan yang digunakan dalam teori-teori yang ada di dalam keahliannya. Penggunaan itu harus didahului oleh diagnotis. Jadi kecakapan diagnotis memang tidak bisa dipisahkan dari kewenangan aplikatif, seorang yang tidak mampu mendiagnotis tentu tidak berwenang melakukan apa-apa terhadap kliennya.</p> <p>e) Pemegang profesi memiliki otonomi dalam melakukan profesinya, otonomi itu hanya dapat dan boleh diuji oleh rekan-rekan seprofesinya, otonomi yang ada pada pemegang profesi dibatasi oleh aturan-aturan (teori-teori) yang ada pada profesinya. f) Profesi hendaklah mempunyai kode etik, kode ini disebut kode etik profesi. Gunanya ialah untuk dijadikan pedoman dalam melakukan tugas profesi. Kode etik itu tidak akan bermanfaat bila tidak diakui oleh pemegang profesi dan juga oleh masyarakat. g) Profesi harus mempunyai klien yang jelas, klien disini maksudnya adalah pemakai jasa profesi, seperti klien guru adalah murid. h) Profesi memerlukan organisasi profesi. Gunanya adalah untuk keperluan meningkatkan mutu profesi itu sendiri, profesi itu perlu menjalin kerja sama demi kepentingan bersama. i) Mengenali hubungan profesinya dengan bidang-bidang lain. B. Tinjauan Tentang Parkir 1. Definisi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, parkir adalah menghentikan atau menaruh (kendaraan bermotor) untuk berapa saat di tempat yang telah disediakan. Dengan pengertian ini, berarti tempat parkir adalah suatu tempat yang telah disediakan sebelumnya dan dikelola oleh seseorang yang dikenal sebagai tukang parkir. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tukang adalah orang yang memiliki kepandaian dalam suatu pekerjaan tangan (dengan alat atau bahan yang tertentu). Jadi, tukang parkir adalah orang yang memiliki keahlian dalam memarkir kendaraan. Biasanya setelah memarkir kendaraan, tukang parkir akan segera memberi karcis parkir, sebagai bukti bahwa telah ada suatu perikatan antara pelanggan dan tukang parkir. perikatan adalah adalah hubungan hukum yang terjadi antara debitur dan kreditur yang terletak dalam bidang harta kekayaan. Keseluruhan aturan hukum yang</p> <p>mengatur hubungan hukum dalam bidang harta kekayaan ini disebut hukum harta kekayaan (Abdul Kadir Muhammad, dalam Sri Hariyati, 2004 ; 14). 2. Parkir Sebagai Suatu Perjanjian Penitipan Manusia sebagai makhluk sosial aktivitasnya sehari-hari banyak sekali yang merupakan hubungan hukum. Karena merupakan hubungan hukum maka sudah barang tentu akan menimbulkan akibat hukum pula. Hal tersebut terjadi karena pada dasarnya manusia yang menempuh hidup bermasyarakat memiliki sifat saling ketergantungan. Sifat saling ini muncul mengingat banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia. Maka, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, antara warga masyarakat akan saling mengadakan ikatan. Wujud ikatan-ikatan yang sering diadakan oleh masyarakat dapat berupa jual-beli, sewa-menyewa, pengangkutan, tukar-menukar, dan sebagainya. Jadi, lebih tegasnya masyarakat, banyak sekali melakukan perjanjian dalam kehidupannya. Di dalam kehidupan bermasyarakat, para warganya banyak sekali dan sering pula mengadakan berbagai jenis perjanjian. Ada yang mengadakan perjanjian jualbeli, perjanjian sewa-menyewa, perjanjian tukar-menukar, begitu pula yang mengadakan perjanjian penitipan. Tentang perjanjian penitipan ini terjadi apabila seseorang menerima sesuatu barang dari orang lain dengan suatu persyaratan bahwa pihak pertama akan menyimpannya demi kepentingan pihak kedua dan akan mengembalikannya dalam keadaan asalnya. Demikianlah inti makna pasal 1694 KUHPdt yang menyangkut tentang perjanjian penitipan. Tentang perjanjian penitipan ini digolongkan sebagai suatu perjanjian riil. Artinya, perjanjian itu baru terjadi kalau sudah dilakukan suatu perbuatan yang nyata, yakni dengan diserahkannya barang yang dititipkan. Jadi tidak seperti perjanjian lainnya yang umumnya merupakan dan bersifat konsensual dimana perjanjian seperti ini baru melahirkan hak dan kewajiban saja (Subekti, dalam Sri Hariyati, 2004 ; 19). Berdasarkan ketentuan-ketentuan yang ada di dalam KUHPdt mengenai perjanjian penitipan barang ini dikenal ada 2 macam, yaitu perjanjian penitipan sejati dan perjanjian penitipan sekestrasi (Subekti, dalam Sri Hariyati, 2004 ; 19). Untuk lebih jelasnya uraian berikut dapat dipergunakan sebagai pegangan.</p> <p>a) Penitipan barang sejati Penamaan dari jenis perjanjian ini sebenarnya juga tidak begitu tepat. Sebab kalau ada penitipan barang...</p>