penelitian pisang

Download Penelitian pisang

Post on 27-Jun-2015

3.450 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 1. BAB I PENDAHULUAN Pisang sebagai komoditas buah-buahan unggulan Nasional, prioritas program pengembangannya secara agribisnis. Selama periode sepuluh tahun terakhir, produksi pisang Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang relatif rendah, yaitu dengan laju pertumbuhan produksi rata-rata 3,26 persen pertahun. Walaupun produktivitas pisang meningkat hingga 8,96 persen pertahun, tetapi rendahnya pertumbuhan produksi tersebut disebabkan adanya penurunan areal panen sebesar 5,72 persen pertahun. Konsumsi pisang perkapita masyarakat Indonesia selama lima tahun terakhir (1987- 1993) terjadi penurunan sekitar 0,48 persen pertahun. Namun demikian ekspor pisang justru mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Pada tahun 1993 ekspor buah pisang Indonesia mencapai 24,9 ribu ton atau senilai 3,3 juta US dollar (BPS, 1994). Disamping itu telah berkembang industri olahan yang memanfaatkan komoditas pisang. Hal ini menunjukkan bahwa pisang mempunyai prospek untuk ditingkatkan pengembangannya. Secara nasional, Sulawesi Tenggara merupakan daerah sentra produksi pisang terbesar kedua setelah Sulawesi Tenggara. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya kontribusi terhadap produksi nasional sebesar 15,18 persen. Sebagian besar areal tanaman pisang di SULTRA berada di lahan kering. Tingkat produktivitasnya masih sangat rendah, yaitu baru mencapai sekitar 18 kg pertandan pada tahun 2001 (Dinas Pertanian Tanaman Pangan Propinsi Sulawesi Tenggara, 2001). Sedangkan dari uji rakitan teknologi di Kendari dan Lumajang pada lahan kering Inceptisol dengan tingkat kesuburan rendah bisa mencapai 21,6 23,9 kg/tandan (Kasijadi dkk, 1996). Selain itu , beberapa tahun terakhir populasi pisang di Sulawesi Tenggara menurun secara drastis akibat serangan layu fusarium dan bakteri. Akibatnya pemenuhan permintaan konsumen, yang seleranya semakin meningkat dan kebutuhan industri olahan pisang (sale, keripik dan tepung) yang berkembang belum dapat terpenuhi. Masalah utama yang menyebabkan rendahnya produktivitas dan mutu buah pisang di lahan kering adalah : (a) pengembangan tanaman pisang belum mengikuti petunjuk zona agroekologi yang sesuai, sehingga tidak semua wilayah pengembangan mempunyai keunggulan komparatif yang tinggi; (b) kualitas bibit yang ditanam petani umumnya kurang baik, karena varietas beragam dan bibit berasal dari anakan; (c) jarak tanam tidak teratur dan pemeliharaan sangat sederhana, diantaranya tidak dipupuk dan tidak mengurangi Jumlah anakan serta membuang daun kering; (d) berkembangnya lalat buah dan fusarium yang tanpa dilakukan pencegahannya; dan (e) kurangnya pengetahuan petani tentang teknik panen agar tampilan buah berkualitas sesuai permintaan pasar (Kasijadi, dkk. 1996). Dalam rangka menanggulangi masalah di atas, telah tersedia hasil penelitan komponen teknologi budidaya pisang, meliputi : bibit berasal dari kultur jaringan atau bit (Kasijadi, dkk, 1996); populasi optimal 1600 pohon/ha (Widjajanto, 1993; Ernawanto, dkk. ii

2. 1997); dosis pemupukan berdasarkan tingkat keseburan tanah (Satuhu dan Supriyadi, 1993; Ernawanto, dkk. 1997); pengendalian hama ngengat (Nacolia actasima) dengan penyaputan menggunakan pestisida sistemik pada pangkal jantung pisang atau injeksi pada ujung jantung pisang (Handoko, dkk. 1996) dan pengendalian penyakit busuk batang coklat dan layu bakteri menggunakan agensia hayati (Hanudin dan Djatmika, 1998; Rosmahani, 1999; Sulistyaningsih, dkk. 1995; Suwastika, dkk. 2000). Selain itu untuk meningkatkan produktivitas lahan dalam usahatani pisang telah tersedia rakitan teknologi tanaman sela saat tanamn pisang sebelum berumur 1 tahun menggunakan nenas atau jagung kacang tanah (Kasijadi, dkk. 2000). Walaupun demikian komponen teknologi tersebut belum dikaji dalam bentuk rakitan teknologi sistim usahatani. Banyak jenis pisang yang dikembangkan petani di sulawesi tenggar, namun jenis unggulan dan spesifik lokasi antara lain adalah pisang kultivar Ambon kuning. Untuk mendukung keberhasilan pengembangan produksi pisang Ambon kuning di sulawesi tenggara, diperlukan tersedianya paket teknologi usahatani pisang di lahan kering yang efisien dan mudah diterapkan oleh petani. Pengkajian sistim usahatani pisang di lahan kering bertujuan untuk : (a) mendapatkan rakitan teknologi pisang ambon kuning spesifik lokasi lahan kering yang memberikan pertumbuhan tanaman optimal; (b) mendapatkan teknologi tanaman sela yang layak secara ekonomis pada sistem usahatani pisang ambon kuning spesifik lokasi lahan kering; dan (c) mendapatkan cara penggunaan fungisida hayati yang efektif untuk pengendalian penyakit layu fusarium pada sistem usahatani tanaman pisang ambon kuning spesifik lokasi lahan kering ii 3. BAB II KAJIAN TEORI Karakterisasi merupakan proses mencari ciri spesifik yang dimiliki oleh tumbuhan yang digunakan untuk membedakan diantara jenis dan antarindividu dalam satu jenis suatu tumbuhan. Berikut ini merupakan karakterisasi tanaman pisang yang diadaptasi dari International Plant Genetic Resources Institute (IPGRI), 1996. 1. Ketinggian tanaman Tidak semua tanaman pisang memiliki ketinggian yang sama. Ketinggian tanaman pisang terbagi menjadi: (a) kerdil, dan (b) normal. Ketinggian tanaman pisang yang kurang dari 1 meter termasuk tanaman yang kerdil, sedangkan ketinggian tanaman lebih dari 1 meter termasuk normal. Gambar 14. Karakter berdasarkan ketinggian tanaman pisang. (Sumber: Dokumentasi penelitian) 2. Ketegakan daun Ketegakan daun yang dimiliki pisang mas pun berbeda-beda. Ada yang memiliki ketegakan daun: (a) tegak, (b) menengah (intermediate), dan (c)melengkung kebawah. ii 4. Gambar 15. Karakter berdasarkan ketegakan daun (Sumber: Dokumentasi penelitian) 3. Warna batang semu Batang pada tanaman pisang yang sering kita lihat itu sebenarnya bukanlah batang yang sesungguhnya. Batang yang sesungguhnya terletak jauh di dalam dan tertutupi oleh pelepah- pelepah daun pisang. Pelepah-pelepah daun pisang ini sering disebut dengan sebutan batang semu. Ada beberapa variasi warna yang terjadi pada batang semu, antara lain: (a) kuning, (b) kuning kehijauan, (c) merah kehijauan, (d) hijau, (e) merah, (f) merah muda keunguan. Gambar 16. Karakter berdasarkan warna batang semu (Sumber: Dokumentasi penelitian) 4. Warna tepi tangkai daun Pada tepi tangkai daun tanaman pisang terdapat variasi warna. Ada yang berwarna antara lain: (a) hijau, (b) hitam, dan (c) merah muda keunguan. Gambar 17. Karakter berdasarkan warna tepi tangkai daun (Sumber: Dokumentasi penelitian) 5. Bercak pada batang semu Pada pisang mas mamiliki bercak batang semu yang berbeda-beda, ada yang berwarna: (a) merah, (b) keunguan, dan (c) berwarna coklat. ii 5. Gambar 18. Karakter berdasarkan bercak pada batang semu (Sumber: Dokumentasi penelitian) 6. Keadaan tepi tangkai daun Keadaan tepi tangkai daun pun dapat dibedakan. Ada yang memiliki tepi tangkai daun: (a) bersayap dan menjepit batang, (b) bersayap dan tidak menjepit batang, dan (c)bersayap dan bergelombang. Gambar 19. Karakter berdasarkan keadaan tepi tangkai daun (Sumber: Dokumentasi penelitian) 7. Bentuk pangkal daun Bentuk pangkal daun yang dapat kita amati dari jenis tanaman pisang mas memiliki variasi. Terdapat 3 variasi bentuk pangkal daun pada tanaman pisang mas yaitu dengan bentuk pangkal daun (a) membulat keduanya, (b) salah satu sisi membulat dan (c) bentuk pangkal daun yang meruncing keduanya. (Sumber : IPGRI, 1996: 29) Gambar 20. Karakter berdasarkan bentuk pangkal daun ii 6. 8. Tipe kanal (potongan melintang tangkai daun ketiga) Tipe kanal ini dapat kita lihat jika kita memotong melintang tangkai daun pisang (tangkai daun yang ketiga). Terdapat bentuk tipe kanal yang berbeda dari jenis tanaman pisang mas, yaitu: (a) terbuka dengan tepi yang melebar kesamping, (b)terbuka dengan tepi yang melebar dan tegak, (c) lurus dengan tepi tegak, (d) tepi menutup, dan (e) tepi saling menutupi. (Sumber : IPGRI, 1996: 27) Gambar 21. Karakter berdasarkan tipe kanal (Sumber: Dokumentasi penelitian) 9. Bercak pada pangkal tangkai daun Apabila kita mengamati pada pangkal tangkai daun terdapat bentuk bercak yang berbeda yaitu: (a) bercak kecil, (b) bercak besar, dan (c) tidak memiliki bercak (tanpa bercak). Gambar 22. Karakter berdasarkan bercak pada pangkal tangkai daun (Sumber: Dokumentasi penelitian) 10. Warna bercak tangkai daun Warna bercak pada tangkai daun dapat dibedakan lagi dari warnanya. Ada bercak tangkai yang berwarna: (a) coklat, (b) coklat tua, dan (c) coklat kehitaman. Gambar 23. Karakter berdasarkan warna bercak tangkai daun ii 7. 11. Warna helaian daun bagian permukaan atas dan bawah Warna helaian daun bagian permukaan atas berbeda dengan warna bagian permukaan bawah pada setiap tanaman. Pada permukaan atas daun terdapat warna: (a)hijau kekuningan, (b) hijau sedang, dan (c) hijau. Pada bagian permukaan bawah terdapat warna: (a) hijau kekuningan, (b) hijau sedang, dan adapula yang berwarna (c) merah keunguan. a. Warna daun permukaan atas b. Warna daun permukaan bawah (Sumber: Dokumentasi penelitian) ii 8. BAB III MATERI DAN METODOLOGI Pengkajian sistem usahatani pisang ambon kuning spesifik lokasi lahan kering dilakukan di dataran rendah iklim sedang-basah (C B) menurut Schemidt Ferguson). Pengkajian mengikut sertakan petani dan penyuluh dengan menggunakan prinsip On Farm Research. Dari hasil pelaksanaan PRA yang mengikut-sertakan Dinas Pertanian Tanaman Pangan, penyuluh pertanian dan ketua kelompok tani, pengkajian dilaksanakan di lahan petani desa Olehsari kecamatan Glagah kabupaten Banyuwangi seluas 1 ha, dengan melibatkan 4 petani kooperator. Rancangan percobaan menggunakan petak berpasangan, terdiri 3 perlakuan dan 4 petani sebagai ulangan. Setiap ulangan dilakukan oleh seorang kooperator. Perlakuan meliputi : (a) Teknologi input tinggi, (b) Teknologi input madya, dan (c) Teknologi petani (Tabel 1). Data agronomis yang diamati dalam kajian ini adalah : (a) pertambahan tinggi tanaman dan diameter batang pisang setiap bulan, dan (b) produksi tanaman se