pendidikan yunani dan romawi

Download Pendidikan Yunani Dan Romawi

Post on 02-Dec-2015

686 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

31

Pendidikan Yunani-Romawi

Manusia berada dan diciptakan dalam sejarah. Di satu sisi, manusia menentukan perjalanan sejarah tetapi di sini lain, dalam arti khusus, manusia juga diciptakan oleh sejarah. Manusia tidak bisa berada di luar dari sejarah, sebaliknya, ia selalu berada bersama dengan perjalanan sejarah. Selain itu, ia juga menemukan dirinya sebagai yang bereksistensi dalam sejarah dan bukan di luar sejarah. Agar perjalanan sejarah dapat bernilai maka, pertama-tama ia harus membuat dirinya bernilai di dalam dan di hadapan sejarah.Demi pencapaian tujuan inilah maka banyak orang dalam perjalanan sejarah telah terlibat dalam memikirkan, bagaimana membuat diri manusia bernilai, bermoral dan baik sehingga mengakibatkan dunia yang bernilai, bermoral dan baik. Munculah para ahli filsafat. Pertanyaan tentang filsafat dari masa ke masa menimbulkan perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat, sampai menimbulkan muculnya ilmu-ilmu baru; mulai dari teologi dan sampai kepada teknologi.Salah satu ilmu yang cukup berkembang yaitu pedagogi atau yang sering disebut juga dengan edukasi atau pendidikan. Perkembangan ilmu ini juga sebenarnya telah ada sejak manusia memikirkan tentang dirinya di hadapan dirinyaa, alam, lingkungan dan bahkan Tuhan. Tetapi secara perlahan, menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri, otonom.

A. Pendiidkan Di Yunani Kuno1. Pendidikan pada Masa Peradaban KunoPada masa peradaban tua, tekanan utama pendidikan kepada manuasia ialah bagaimana cara berusaha agar manusia tidak lupa akan segala norma yang berlaku secara lisan di tengah-tengah masyarakat. Ini berlaku untuk semua peradaban tradisional sebelum manusia mengenal alfabet (huruf-huruf). Dan cara yang paling ampuh untuk mengatasi kelupaan ialah melalui cerita lisan yang diteruskan kepada anak atau cucu, tentang segala aturan dan norma hidup, yang juga ditetapkan secara lisan. Begitulah dari generasi ke generasi, manusia mendidik generasi berikutnya dengan cara bercerita.2. Pendidikan ala Homeros dan HesiodosPada masa ini, pendidikan dibagi dalam 2 bagian, menurut Homeros dan Hesiodos; yang semuanya berkembang di Yunani. Pendidikan ala Homeros (dalam Illiad dan Odisea) menekankan pada menjadi manusia ideal. Manusia ideal adalam manusia yang memiliki arete. Orang yang memiliki arete ialah orang yang memiliki kekuatan fisik seperti keberanian dan juga kehebatan untuk meraih kegemilangan dan hormat. Ini dicirikan dengan menang dalam perang, kuat, besar, tampan, bicara sopan dan baik, punya nasehat yang masuk akal, kaya dan berkuasa (ide kepahlawanan). Tujuan pendidikan ialah membuat manusia memiliki kualitas-kualitas tersebut. Selain ada dua hal yang ditekankan juga dalam arete yaitu: kemampuan dalam hal gymnastik dan musik, serta memiliki kebaikan dan keindahan.Hal yang kedua yaitu pendidikan ala Hesiodos. Pendidikan yang ditekankan Hesiodos ialah pendidikan yang membuat mereka yang dididik memiliki visi popolis (visi publik-umum-masyarakat). Konsep arete dalam Homeros berkembang dari ide kepahlawanan menjadi keutamaan dalam pergulatan hiidup sehari-hari yang dialami kaum tani. Dasar moralitas dalam arete Hesiodos ialah keadilan dan kerja keras. Orang yang adil ialah orang yang bekerja keras. Kerja keras adalah jalaan satu-satunya menuju kepada keutamaan.3. Pendidikan di Sparta dan Athena (Yunani)Pendidikan di Sparta (abad VIII VI sm), mulai dari yang lebih humanis kepada komunitaris yang anti demokrasi. Arete bukan lagi dipahami sebagai serdadu yang mengutamakan semangat patriotisme, yang dilakukan secara bebas, tetapi kegiatan pendidikan diambil alih oleh negara sebagai institusi tertinggi. Sifat pendidikan menjadi sangat tiranis, totalitarian (sedangkan di wilayah Atena, ciri pendidikan kepada masyarakat lebih demikratis, dialogis dan menghargai individu). Memang arah dan tujuan pendidikan di Sparta ialah keutamaan moral sebagai warga negara yang memiliki cinta secara total kepada tanah air, menghargai nilai kekuatan dan kekerasan, mengutamakan latihan fisik demi kesiapan tempur dan ketaatan total kepada tanah air (patria). Arete kepahlawan Homerian berubah menjadi cita-cita cinta akan tanah air, kematian demi membela tanah air adalah kematian yang indah dan membahagiaan. Kepahlawanan dalam Homerian yang lebih aristokratis berubah menjadi kepahlawanan yang sifatnya kolektif (demi orang lain-negara). Inilah awal dari kebangkitan kebangsaan atau jiwa patriotisme yang luar biasa (arete patria).Sedangkan pendidikan di Atena lebih menekankan keharmonisan. Tatanan sosial tidak didominasi militer tetapi masyarakatlah yanag mengatur kehidupan polis (kota-negara) melalui sebaauh tata sosial politik. Sipil diberi kekuasaan yang sangat besar dan luas untuk mengurus negara dan polis. Arete Homerian yang aristokratis mulai dipraktikan oleh setiap warga negara yang ingin berprestasi. Ideal kepahlawanan dalam Homerian tidak lagi hanya milik seseorang tetapi menjadi milik setiap warga polis. Persaingan kepahlawanan di medan tempur, sekarang juga berubah menjadi persaingan dalam perlombaan di Olympiade. Sekolah-sekolah yang sebelumnya milik keluarga bangsawan berubah menjadi milik publik. Pada masa inilah muncul banyak ilmu pendidikan di sekolah: gimnastik, musik, puisi, teater, dan sastra. 4. Pendidikan menurut Para Filsuf dan SocratesPada sekitar abad ke-5 sm, pendidikan oleh para filsuf sangat menekankan gaya bicara retoris. Manusia dididik untuk menjadi seorang retoris, kepandaian dalam bicara atau berpidato. Orang dididik untuk mampu berbicara dengan baik dan logis serta bijaksana. Mereka diajar untuk menyebarkan gagasan dan pendapat, tata bahasa yang baik, teknik bicara serta retorika yang meyakinkan. Tujuan pendidikan ialah mencetak para orator ulung. Karena itu arete berkembang kepada yang sifatnya politis, arete politis, yang termanifestasi melalui kemampuan retoris yang indah.Lain dengan pendapat Sokrates. Sokrates menekankan pada jiwa. Pendidikan harus mengantar manusia sampai kepada penemuan jiwa dan inilah yang sangat sentral dalam diri manusia. Jiwa ini setelah ditemukan harus dipelihara. Jiwa dilihat penting karena jiwa adalah sentral dari kegiatan berpikir, bertindak dan menegaskan nilai-nilai moral. Orang yang mampu memelihara jiwa ialah orang yang mengenal dirinya sendiri. Karena itu arete yang sebelumnya lebih bersifat politis berubah menjadi arete yang lebih interior, lebih kepada pengolahan dimensi moralitas manusia.5. Pendiidkan menurut Plato (kira-kira 428-348 sM.)Dia berasal dari keluarga bangsawan dan dalam silsilah nenek moyangnya terdapat nama raja-raja kota Atena dan seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang bernama Solon. Sebagai seorang pemuda, Plato turut ambil bagian dalam Pekan olahraga yang terkenal di kota Korintus, suatu pengalaman yang memupuk minatnya terhadap bidang keolahragaan seumur hidupnya. Meskipun pengalaman itu muncul sebagai latar belakang dalam karya tulisnya, namun pengaruh yang jauh lebih penting berporos pada gurunya yang ternama, yaitu Sokrates. Sayang sekali tidak banyak yang kita ketahui tentang orang luar biasa ini. Da tidak menulis apa-apa yang diwariskan kepada kita. Hampir segala sesuatu yang terhimpun mgnjadi warisan dunia intelektual tentang Sokrates adalah akibat kesan yang timbul atas dirinya oleh muridnya, Plato. Dalam tulisan Plato seringkali Sokrates menempati kedudukan atau peranan pokok. Plato, bersama dengan satu atau dua orang lainnya, membicarakan pelbagai masalah yang ditampilkan Sokrates. Bentuk tulisan-tulisan tersebut dinamakan "dialog"' meskipun dialog sebenarnya jarang sekali terjadi, sebab Sokrates sendiri. lah pembicara utama. Da menanyakan, memeriksa jawaban, menjernihkan jawaban dengan jalan mengajukan pertanyaan baru dan seterusnya , sampai peserta lainnya menentukan arti dari sesuatu yang dapat dipertahankan dan bukannya yang diterima karena merupakan semacam pendapat umum belaka yang ditelan begitu saja. Sokrates sendiri selalu mengatakan bahwa ia tidak mengetahui apa-apa, tetapi ia ingin sekali mencari kebenaran. Dalam bukunya Pokok-Pokok Filsafat Junani. Muchtar Jahja mengutip dari contoh gaya mengajar Sokrates yang dibuat oleh Guru besar JohnAdams dari Universitas Oxford. Demikianlah isinya:Socrates: "Apakah yang dimaksud dengan serangga (insect) itu? Banyak kali betul saya dengar orang memperkatakannya, hingga ingin pulalah saya hendak mengetahuinya'"Murid: "Serangga ialah binatang kecil bersayap." (Si murid yakin bahwa penjawabannya itu benar.)Socrates: Kalau begitu, tentu ayam pun boleh kita namai serangga. Sampai sekarang saya yakin bahwa ayam itu bukanlah serangga'"Murid: "Ayam bukan demikian kecilnya hingga dapat dinamai serangga. Ayam itu amat besar kalau dibandingkan dengan serangga'"Socrates: "Jadinya: Serangga ialah binatang yang amat kecil mempunyai sayap."Murid: "Betul!"Soctates: "Kalau demikian, butung pipit dapat dinamai serangga' sebab dia demikian kecilnYa."Murid:''Tidak! Burungsekali-kali tidak dapat dinamai serangga.''Socrates: Jadinya: Serangga ialah binatang yang amat kecil, dia bersayap, tetapi bukan dari jenis burung."Murid: "Benar!"Socrates: "Kemarin saya memasuki salah satu toko, di dalamnya saya melihat kaleng-kaleng kecil. Pada masing-masing kaleng itu tertulis: "Tepung Keating yang paling manjur untuk pemberantas serangga." Pada masing-masing kaleng itu juga tergambar beberapa macam binatang kecil bukan dari jenis burung, tetapi tidak ada mempunyai sayap, umpama: pijat-pijat, kutu kucing dan lain-lain. Rupa-rupanya mereka salah menamakan binatang-binatang tenebut setangga, sebab masing-masingnya tiada bersayap. Adakah masuk akal serangga tidak bersayap, menurut yang telah kita tetapkan itu?"Murid: "Binatang-binatang tersebut memang serangga, semua orang tahu itu."Socrates: "Aneh, aneh. Apa pulakah arti serangga sekarang, menurut fikiranmu. Apakah sekarang kau berpendapat bahwa Serangga ialah binatang yang amat kecil, mempunyai sayap, bukan dari ienis burung, dan kadang-kadang tiada bersayap. Sesungguhnya perkat