pendahuluan kue

Download Pendahuluan Kue

Post on 25-Jul-2015

289 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

I.

PENDAHULUAN

I.I. Latar Belakang

Budidaya kakao (Theobroma cacao L.) dewasa ini ditinjau dari penambahan luas areal Indonesia terutama kakao rakyat sangat pesat karena kakao merupakan salah satu komoditas unggulan nasioanl setelah tanaman karet, kopi, kelapa sawit, dan teh. Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang berperang penting bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia terutama dalam penyediaan lapangan kerja baru, sumber pendapatan petani, dan penghasil devisa bagi negara. Indonesia merupakan negara terbesar ketiga mengisi pasokan kakao dunia yang diperkirakan mencapai 20% bersama negara Asia lainnya seperti Malaysia, Filipina, dan Papua New Guinea (UNCTAD, 2007; WCF,2007 dalam Supartha, 2008). Peningkatan luas areal pertanaman kakao belum diikuti oleh produktifitas dan mutu yang tinggi. Data biro pusat statistik menunjukkan bahwa pada tahun 1983, luas aeal tanaman kakao 59.928 ha, dengan produksi sekitar 20.000 ton/tahun, dan pada tahun 1993 luas areal tanaman kakao menjadi 535.000 ha dengan produksi mencapai 258.000 ton/tahun ( direktur Jenderal perkebunan, 1994). Produksi kakao saat ini mencapai 35.000 ton/tahun dengan produksi dari perkebunan rakyat sekitar 87%. Produksi tertinggi yakni 67% di peroleh dari wilayah sentra produksi kakao yang berpusat di daerah SulSel, Sultengg, dan Sulteng (Suhendi, 2007).

1

Propinsi Bali merupakan salah satu di antara daerah lain penghasil kakao nasional yang juga memberi sumbangan rata-rata sekitar 5.968,11 ton setiap tahunnya mulai pada tahun 2003 (Dinas perkebunan propinsi Bali, 2009). Luas areal tanaman kakao di propinsi Bali mengalami peningkatan antara tahun 2007 seluas 11.641 ha dan tahun 2009 mencapai luas areal 12.796 ha (dinas perkebunan provinsi bali, 2009). Produksi kakao di provinsi Bali pada tahun 2009 mengalami peningkatan , namun peningkatan tersebut tersebut sebagaian besar disebabkan oleh meningkatnya jumlah tanaman produktif, sementara laju produktivitas tanaman perhektar pertahun cenderung menurun. Menurut Suhendi 2007 beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas kakao selain serangan hama dan penyakit, anomani iklim, tajuk tanaman rusak, populasi tanaman berkurang, tehnologi budidaya oleh petani yang masih sederhana, penggunaan bahan tanaman yang mutunya kurang baik juga karena umur tanaman yang sudah cukup tua sehingga kurang produktif lagi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman kakao produktivitasnya mulai menurun setelah berumur 15-20 tahun. Tanaman tersebut umumnya memiliki produktivitas yang hanya tinggal setengah dari potensi produktivitasnya. Kondisi ini berarti bahwa tanaman kakao yang sudah tua potensi

produktivitasnya rendah sehingga perlu dilakukan rehabilitasi ( Zaenuddin dan Boon, 2004). Upaya rehabilitasi tanaman kakao dimaksudkan untuk memperbaiki atau meningkatkan potensi produktivitasnya yang dimana di antaranya sambung samping, sampung pucuk/chupon dan penanaman ulang. Demi terlaksananya kegiata rehabilitasi tersebut perlu adanya penyediaan bahan tanam. Penyediaan 2

bahan tanam atau pembibitan merupakan mata rantai utama dalam memeroleh bibit yang berkualitas tinggi. Keberhasilan dalam budidaya kakao di pembibitan dengan metode sambung pucuk atau perbanyakan tanaman dengan cara vegetatif, juga akan mempengaruhi keberhasilan pada tahapan budidaya tanaman kakao berikutnya. Untuk menunjang program pemerintah dalam rangka peningkatan produksi dan mutu, maka perlu diperbaiki mulai dari pemilihan sumber benih, perkecambahan hingga pada pemeliharaan bibit sambungan. 1.2. Tujuan dan kegunaan Tujuan dilaksanakannya kegiatan praktek kerja lapang (PKL) adalah, untuk mengetahui bagaimana cara budidaya tanaman kakao dengan perbanyakan tanaman kakao secara vegetatif maupun secara generatif. Kegunaan dari kegiatan praktek kerja lapang (PKL) ini adalah, sebagai bahan informasi tentang budidaya tanaman kakao untuk pribadi dan masyarakat. teknik

3

II.

GAMBARAN UMUM LOKASI

2.1.

Keadaan lokasi dan perusahaan

Salah satu proyek pengembangan kakao terpadu yang dimiliki PT. Mars Incorporated adalah Mars Cocoa Depelovment Center (MCDC) terletak di Desa Tarengge, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur. Di desa pada ketinggian tempat 30 meter dari permukaan laut dengan suhu rata-rata 30-320 C dan jenis tanah alluvial (pH 6-7), dikelolah perkebunan kakao melalui pengembangan klonklon unggul dan teknis budidaya yang menjamin keberlanjutan produksi. PT. Mars Incorporated adalah sebuah perusahaan swasta (Perseroaan Terbatas) milik keluarga yang didirikan pada 1191 dan mempekerjakan 70.000 asosiasi dari 300 situs termasuk lebih dari 130 pabrik, disekitar 75 negara di seluruh dunia. Berkantor pusat di Mc Lean, Virginia, USA. Mars Incorporated adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia yang menghasilkan pendapatan global lebih dari $ 30 milyar pertahun dan beroperasi dalam segmen bisnis produk makanan olahan di mana di antaranya Chocolate, Petcare, Wrigley Gum, aneka kue minuman dan symbioscience. Segmen ini menghasilkan

beberapa merek terkemuka di dunia sebagai M dan MS snickers dan Mars bar yang berbahan baku coklat. PT. Mars menjalankan lima prinsip yaitu : Quality, tanggung jawab, kebersamaan, efesiensi dan kebebasan dan berupaya untuk menempatkan prinsip itu dalam segala hal untuk membuat signifikan melalui kinerja. Mars Incorporated adalah salah satu pembeli terbesar biji kakao dan menjalankan aktivitas pengelolaan perkebunan kakao melalui kemitraan dengan 4

petani dan pendirian Kakao Clinic dan Kakao Development Centre. Sejak tahun 1991 PT. Mars Incorporated masuk ke Indonesia dan memulai aktivitasnya melakukan pembelian biji kakao yang difermentasi. Tahun 1992-1995 melakukan survey perkebunan kakao dan pada tahun 1996 mendirikan pabrik pengolahan kakao pertama yang berlokasi di PT. KIMA Makassar. Pabrik pengolahan

berkualitas International tersebut mempekerjakan 124 karyawan dan merupakan pabrik pengolahan biji kakao pertama di kawasan regional Sulawesi. Setiap tahun pabrik tersebut mengolah sekitar 17.000 ton biji kakao menjadi tepung dan butter kakao. Tahun 2003-2005, PT. Mars mendirikan prima kakao proyek bekerja sama dengan pemerintah Belanda dan melibatkan diri dengan Cocoa Sustainability Partnership (CSP) program pada 2005. Setelah sukses dengan usaha pengelolaan biji kakao, PT. Mars membina pengelolaan perkebunan kakao rakyat dibeberapa daerah di Sulawesi selatan dengan tujuan menerapkan metode budidaya tanaman dan pengelolaan perkebunan kakao yang

berkelanjutan

dan memenuhi standar kualitas produk untuk pangsa pasar

international. Pada tahun 2009, Mars Incorporated ikut aktif dalam program GERNAS kakao melalui pengelolaan kebun lestari dan bekerjasama dengan petani-petani kakao dibeberapa daerah di Indonesia. Aktivitas Mars Incoporated dalam pengelolaan perkebunan kakao di Indonesia dilakukan dengan membuka unit bisnis bernama PT. Mars symbioscience Indonesia dengan tiga devisi yaitu Mars Sustainable Indonesia, Mars Cocoa Clinik dan Mars Cocoa Developmen Center. Perusahaan ini selalu menerapkan ilmu pengetahuan dalam industri global untuk kakao yang berkelanjutan dan sebagai inovator dalam pengembangan 5

kakao yang bertujuan membuat perbedaan positif bagi petani dan masyarakat seluruh dunia.

2.2.

Jenis-jenis Klon

Jenis-jenis klon yang umum dikembangkan dan dibudidayakan di PT.Mars khusus PT. Mars Cocoa development center di desa tarengge adalah Mukhtar M 06 (M 06), Mukhtar M 01 (M 01), klon sulawesi 1 (PBC 123), Mukhtar M04 (M 04), Sulawesi 2 (BR 25). 2.2.1 Mukhtar 06 (M 06) Klon ini mempunyai potensi produksi mencapai 1,086 ton /ha pada tahun ketiga dengan kadar lemak 48,60%. Klon ini tahan terhadap serangan hama PBK dan penyakit black pod tetapi rentan terhadap penyakit VSD. Secara umum dapat dideskripsikan sebagai berikut: buah Berbentuk ovale panjang, berwarna merah, buahnya mempunyai leher botol, permukaan kulit kasar,dan pantat buahnya runcing. Panjang buah mencapai 21,17 cm dengan diameter 9,53 cm. Alur buah dangkal,dengan warna merah kehijauan. Biji berbentuk ovale bulat, total biji dalam 100 gram adalah 91, dan kadar lemaknya adalah 48,60. Daunnya berbentuk lebar panjang dan pucuk atau flushnya berwarna merah, produktivitas mencapai 1.086 pada 800 pohon pada usia 3 tahun.klon ini dapat melakukan penyerbukan sendiri dan pebungaannya cepat.

6

Gambar 1. Klon Mukhtar 06 (M 06) 2.2.2. Muhtar 01 (M 01) Bentuk buah bulat pendek berwarna hijau, tidak memiliki leher buah, pantat buah runcing,permukaannya halus,kulit halus,panjang buah 19,17cm, dengan

diameter mencapai 10,67cm. kerutan buah berupa alur dangkal yang berwarna hijau.Biji dari klon M01 adalah berbentuk ovale, dalam 100 gram sekitar 63 biji, dengan kadar lemak 48,90%. Daun berbentuk lebar panjang dengan pucuk berwarna hijau muda coklat. Potensi produktivitas mencapai 3.645 kg/tahun dengan umur 6 tahun. Rentan terhadap hama PBK dan penyakit VSD tetapi resisten terhadap penyakit black pod. pembungaannya cepat dan melakukan penyerbukan sendiri.

7

Gambar 2. Mukhtar 01 (M 01) 2.2.3. PBC 123 (sulawesi 1) Klon ini berproduksi optimal pada tahun kelima setelah tanam dengan potensi produksi sekitar 1,8-2,5 ton/ha pertahunnya. Klon ini memiliki kadar lemak 4953% /100 gramnya. Morfologi klon Sulawesi 1 ini adalah bentuk buah oval

panjang berwarna merah, tidak mempunyai leher botol,permukaan buah halus dan pantat buah tumpul. Panjang buah mencapai 20,17 cm dengan diameter 10,23 cm,kerutan pada buah dangkal dengan warna merah. Biji berbentuk ovale,.Daun berbentuk panjang sempit ddengan flush berwarna

merah,percabangan yang terbentuk mengarah ke atas. Klon ini cukup toleran terhadap serangan hama dan penyakit, PBK 2,25%, Busuk buah 1, 27%, VSD 1,50%. pembungaannya cepat dan melakukan penyerbukan sendiri.

8