penanaman nilai-nilai pendidikan karakter dalam

of 140 /140
PENANAMAN NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI 13 MAKASSAR TAHUN PELAJARAN 2019/2020 SKRIPSI Oleh Muh. Fahrizal Syahdan NIM: 10519214114 Diajukan unruk memenuhi salah satu sarat untuk memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada program studi Pendidikan Aagama Islam Fakultas Ajaran Islam Universitas Muhammadiyah Makassar PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1441 H/ 2020

Author: others

Post on 05-Oct-2021

3 views

Category:

Documents


1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP
NEGERI 13 MAKASSAR TAHUN PELAJARAN 2019/2020
SKRIPSI
memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) pada program studi
Pendidikan Aagama Islam Fakultas Ajaran Islam
Universitas Muhammadiyah Makassar
FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS
Setelah dengan seksama memeriksa dan meneliti, maka skripsi ini dinyatakan
telah memenuhi syarat untuk diajukan dan dipertahankan dihadapan tim penguji ujian skripsi
pada Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah
Makassar
NAMA : MUH. FAHRIZAL SYAHDAN
PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI 13
MAKASSAR TAHUN PELAJARAN
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa penulisan Skripsi ini berdasarkan hasil
penelitian, pemikiran dan pemaparan asli dari saya sendiri, baik untuk naskah laporan
maupun kegiatan program akademik yang tercantum sebagai bagian dari Skripsi ini. Jika
terdapat karya orang lain, saya akan mencantumkan sumber yang jelas. Demikian pernyataan
ini saya buat dengan sesungguhnya dan apabila dikemudian hari terdapat penyimpangan dan
ketidakbenaran dalam pernyataan ini, mohon di berikan bimbingan dan proses dalam
memperbaiki skripsi yang baik dan benar sesuai persyaratan penulisan karya ilmiah dan yang
telah ditentukan di perpustakaan karya tulis ilmiah Universitas Muhammadiyah Makassar.
Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar tanpa paksaan dari pihak manapun.
Makassar, 25 september 2020
NIM. 10519214114
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karuniaNya kepada penulis,
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat dan salam senantiasa
tercurah kepada Rasulullah SAW yang mengantarkan manusia dari zaman kegelapan ke zaman
yang terang benderang ini. sehingga bisa menyelasaikan skripsi dengan judul “PENANAMAN
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM DI SMP NEGERI 13 MAKASSAR (Studi kasus pada Coffee Groove
Semarang)” sebagai syarat untuk menyelesaiakan Program Sarjana (S1) pada Program Sarjana
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Jurusan Manajemen Universitas Diponegoro.
Dalam penyusunan skripsi ini banyak hambatan serta rintangan yang penulis hadapi
namun pada akhirnya dapat melaluinya berkat adanya bimbingan dan bantuan dari
berbagai pihak baik secara moral maupun spiritual. Untuk itu pada kesempatan ini
penulis menyampaikan ucapan terimah kasih kepada : 1. Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I Selaku Dekan Fakultas Agama Islam Universitas
Muhammadiyah Makassar.
2. Dr. Amirah Mawardi, S.Ag, M.Si Selaku Ketua Prodi Fakultas Agama Islam Universitas
Muhammadiyah Makassar dan Dosen Pembimbing yang telah memberikan saya arahan selama
penyusunan skripsi
3. Ahmad Nasir, S.Pd, M.Pd.I Selaku Wakil Dekan Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas
Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar dan Dosen Pembimbing yang telah
membimbing dan memberikan saya pengarahan terhadap penyusunan skripsi dan juga pada
masa perkuliahan.
4. Seluruh jajaran Dosen dan Staf Fakultas agama islam Universitas Muhammadiyah Makassar.
5. Seluruh responden yang telah membantu dan meluangkan waktu dalam pengisian kuesioner.
6. Seluruh Staf dan guru Smp Negeri 13 Makassar yang telah memberikan ijin penelitian dan
membantu kelancaran penelitian ini.
7. Kedua orang tua dan saudari yang telah memberikan doa dan dukungan selama proses
pembuatan skripsi.
membantu dan memberikan pengarahan.
9. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan yang telah membantu memberikan dukungan.
Penulis mohon maaf atas segala kesalahan yang telah dilakukan. Semoga skripsi ini dapat
memberikan manfaat untuk mendorong penelitian-penelitian selanjutnya
Makassar,September2020
Penulis,
Karakter dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13
Makassar. Skripsi. Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah
Makassar. Penelitian ini adalah merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang
bertujuan mendeskrispikan (1) Nilai-nilai pendidikan karakter di SMP Negeri 13 Makassar. (2) Proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13
Makassar. (3) Penanaman nilai-nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar.
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 13 Makassar. Objek penelitian
ini adalah guru Pendidikan Agama Islam dan seluruh peserta didik SMP Negeri 13
Makassar yang tersebar pada tiga tingkatan kelas (kelas VII, VIII, dan IX) pada
pembelajaran pendidikan Agama Islam. Data penelitian ini, yaitu data tentang
nilai pendidikan karakter yang diterapkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama
Islam di SMP Negeri 13 Makassar. Data nilai pendidikan penelitian ini, yaitu
segala teks yang mengandung muatan nilai pendidikan karakter yang terdapat
dalam pembelajaran Agama Islam. Sumber data penelitian ini, yaitu proses
pembelajaran Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah daftar pertanyaan wawancara dan format
pengamatan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pendidikan karakter yang
ditanamkan di SMP Negeri 13 Makassar mengacu pada Permendikbud Tahun
2018 dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama
nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri,
demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai
prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli
sosial, dan bertanggung jawab. Proses pembelajaran agama Islam di SMP Negeri
13 Makassar kadang terkendala oleh sarana pembelajaran dan karakteristik peserta
didik. Namun, hal tersebut dapat diatasi dengan kreativitas guru dalam mengolah
pembelajaran dengan baik dan guru mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan
karakter pada setiap tahapan pembelajaran. Penanaman nilai-nilai pendidikan
karakter dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13
Makassar dilakukan oleh guru dengan menggunakan beberapa metode dan teknik
yaitu dengan metode pembiasaan dan kegiatan rutin seperti salah berjamaah di
masjid setiap hari sekolah. Selanjutnya, melalui keteladanan dengan memberikan
contoh kepada peserta didik, seperti karakter selalu syukur dengan
mengungkapkan rasa syukur di depan peserta didik setiap pertemuan dan ketika
ada peserta didik yang berprestasi di kelas. Metode berikutnya adalah kegiatan
spontanitas yang sifatnya sumbangsih dana kepada warga sekolah yang secara
tiba-tiba membutuhkan karena terdampak bencana dan sebaginya.
iii
B. Rumusan Masalah ............................................................................................................ 9
C. Tujuan Penelitian ............................................................................................................ 10
D. Manfaat Penelitian ......................................................................................................... 10
A. Penanaman Nilai-Nilai Pendidikan Karakter ........................................................ 12
1. Pengertian Pendidikan Karakter ........................................................................ 12
2. Tujuan dan Fungsi Pendidikan Karakter ......................................................... 15
3. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter ................................................................ 16
4. Sasaran Pendidikan Karakter di SMP .............................................................. 17
5. Metode dalam Implementasi Pendidikan Karakter ...................................... 21
6. Peran Guru dalam Pendidikan Karakter .......................................................... 23
vi
1. PembelajaranPendidikan Agama Islam di SMP……………………… .32
2. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP………………35
3. Ruang Lingkup Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP…........35
C. Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ............ 39
BAB III. METODE PENELITIAN ........................................................................................... 45
A. Desain Penelitian......................................................................................................... 45
C. Fokus Penelitian .......................................................................................................... 46
D. Deskripsi Fokus ........................................................................................................... 46
F. Instrumen Penelitian ................................................................................................... 47
H. Teknik Analisis Data.................................................................................................. 48
A. Gambaran Umum Penelitian .................................................................................... 46
B. Hasil Penelitian ............................................................................................................ 51
BAB V PENUTUP ...................................................................................................................... 104
A. Latar Belakang
Era revolusi industri 4.0 saat ini sangat berbeda dengan era sebelumnya,
karena di era 4.0 ini sangat bergantung pada internet. Semua proses kehidupan
berkaitan dengan internet. Bahkan dunia pendidikan pun bergantung dengan
internet. Era revolusi industri 4.0 ini diharapkan dapat menyejahterakan manusia
bukan merobotkan manusia. Posisi pendidikan karakter di era revolusi industri 4.0
ini sangat penting karena manusia diharapkan untuk mempunyai karakter yang
bijak dalam menggunakan teknologi dengan baik.
Berdasarkan pada konsep terseut, maka Indonesia memerlukan sumber
daya manusia dalam jumlah dan mutu yang memadai sebagai pendukung utama
dalam pembangunan di era 4.0. Untuk memenuhi sumberdaya manusia di era 4.0,
pendidikan memiliki peran yang sangat penting dengan menerapkan amanah UU
No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang
menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
2
pendidikan di setiap jenjang, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) harus
diselenggarakan secara sistematis guna mencapai tujuan tersebut. Hal tersebut
berkaitan dengan pembentukan karakter peserta didik sehingga mampu bersaing,
beretika, bermoral, sopan santun dan berinteraksi dengan masyarakat. Kesuksesan
seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis
(hard skill), tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen
oleh hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Bahkan, orang-orang
tersukses di dunia bisa berhasil dikarenakan lebih banyak didukung kemampuan
soft skill daripada hard skill. Hal ini mengisyaratkan bahwa mutu pendidikan
karakter peserta didik sangat penting untuk ditingkatkan.
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan
dengan Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan
kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan
perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat
istiadat. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap
Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan
sehingga menjadi manusia berbudi pekerti luhur.
Pendidikan karakter merupakan upaya untuk membantu perkembangan
jiwa anak-anak baik lahir maupun batin, dari sifat kodratinya menuju ke arah
3
peradaban yang manusiawi dan lebih baik, yang bertujuan untuk meningkatkan mutu proses
dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta
didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada
setiap satuan pendidikan 1 . Pendidikan berkarakter merupakan pendidikan yang
mengembangkan nilai dan karakter pada diri peserta didik sehingga memiliki nilai dan
karakter dirinya dan menerapkannya dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyaraka
telah memberikan konsep -konsep tentang pendidikan karakter. Salah satu ayat yang
menerangkan tentang pendidikan karakter adalah Q.S Luqman ayat 12-24, Walaupun
terdapat banyak ayat Al -Qur’an yang memiliki keterkaitan dengan pendidikan karakter
tetapi Q.S Luqman ayat 12 -14 mewakili pembahasan ayat yang memiliki keterkaitan
makna paling dekat dengan konsep pendidikan karakter
Terjemahannya :
“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, "Bersyukurlah kepada
Allah!. Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk
dirinya sendiri, dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah
Mahakaya lagi Maha Terpuji”(12). Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya,
ketika dia memberi pelajaran kepadanya,"Wahai anakku! Janganlah engkau
mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan allah adalah benar – benar suatu
1
4
yang besar” (13). keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua
tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku
kembalimu (14). 2
harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi
kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan
atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau
kegiatan kokurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja
seluruh warga dan lingkungan sekolah.
Terlepas dari berbagai kekurangan dalam penyelenggaraan pendidikan di
Indonesia, apabila dilihat dari standar nasional pendidikan yang menjadi acuan
pengembangan kurikulum 2013, dan implementasi pembelajaran dan penilaian di
sekolah, tujuan pendidikan di SMP sebenarnya dapat dicapai dengan baik.
Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan
dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Mengacu pada uraian tersebut, maka penanaman nilai pendidikan karakter
pada pembelajaran di sekolah, khususnya pembelajaran agama Islam sangat
penting. Penanaman tersebut mempunyai aspek-aspek pemahaman tentang hakikat
pembelajaran, hakikat nilai, hakikat belajar, hakikat proses belajar mengajar bahan
ajar, dan hakikat pembudayaan bahan ajar. Di sisi lain, nilai pendidikan karakter
harus mampu menjelaskan hakikat karakter, implementasi, dan contoh-contohnya;
menjelaskan sumber-sumber pengetahuan dan nilai-nilai dan jenis karakter yang
harus digali dan dikembangkan, ukuran atau pembenaran
2 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, (Jakarta : Mahkota
Surabaya, 1989).
pengembangannya menjadi sangat penting.
wahana bagi pengembangan karakter di sekolah. Perpaduan atau sinergi antara
pendidikan karakter dan pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan
keadaan unik sebagai suatu proses pembelajaran yang dinamis yang merentang
dalam ruang dan waktunya. Dengan demikian, pendidikan karakter dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan potensi sekaligus fakta yang
harus menjadi bagian tak terpisahkan bagi setiap insan pengembang pendidikan,
baik pendidik, tenaga pendidik maupun pengambil kebijakan pendidikan.
Secara umum, kiranya semua sependapat bahwa tidaklah mudah
memahami kompleksitas karakter sebagai suatu nilai atau suatu isi atau konten.
Jika memikirkan karakter sebagai suatu isi atau konten maka secara umum, apa
pun yang dibicarakan, selalu berkaitan dengan dua hal yaitu: konten dan
metodenya. Apakah isi atau konten formal dan isi atau konten material pendidikan
karakter itu? Apakah isi atau konten formal dan isi atau konten material pada
bahan ajar itu? Apakah isi atau konten formal dan isi atau konten material
pendidikan karakter pada bahan ajar itu? Untuk dapat menjawab semua
pertanyaan itulah, diperlukan kajian tentang hakikat dari semua aspek yang
terkandung di dalam nilai pendidikan karakter pada pembelajaran Agama Islam.
6
Pendidikan Agama Islam meliputi berbagai proses yang secara hierarkis
merentang mulai dari kesadaran diri dan lingkungannya, perhatian, rasa senang,
dan rasa membutuhkan disertai dengan harapan ingin mengetahui, memiliki, dan
menerapkannya; merasa perlunya memunyai sikap yang selaras dan harmoni
dengan keadaan di sekitarnya, baik dalam keadaan pasif maupun aktif, serta
mengembangkannya dalam bentuk tindakan dan perilaku berkarakter; merasa
perlunya disertai usaha untuk mencari informasi dan pengetahuan tentang karakter
dan karakter dalam bahan ajar, yang dianggap baik; mengembangkan
keterampilan menunjukan sifat, sikap, dan perilaku berkarakter pada bahan ajar;
serta keinginan dan terwujudnya pengalaman mengembangkan hidupnya dalam
bentuk aktualisasi diri berkarakter dalam bahan ajar, baik secara sendiri, bersama
ataupun dalam jejaring sistemik.
pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar sangat
penting, mengingat intensitas merebaknya sikap hidup yang buruk bagi genarasi
muda/pelajar. Selain itu, dengan melembaganya budaya kekerasan atau
merakyatnya bahasa ekonomi dan politik, disadari atau tidak, telah ikut
melemahkan karakter anak-anak bangsa, sehingga menjadikan nilai-nilai luhur
dan kearifan sikap hidup mati suri. Anak-anak sekarang gampang sekali
melontarkan bahasa oral dan bahasa tubuh yang cenderung tereduksi oleh gaya
ungkap yang kasar dan vulgar. Nilai-nilai etika dan estetika telah terbonsai dan
terkerdilkan oleh gaya hidup instan dan konstan.
7
Berbagai kasus yang marak dalam masyarakat bertentangan dengan nilai-
nilai moral dan rendahnya nilai karakter. Data konkret mulai dari kasus Prita,
Gayus Tambunan, Makam Priok, Angelina Sondakh, dan sebagainya menjadi
dasar betapa pentingnya pendidikan karakter ditanamkan sejak dini terutama di
bangku sekolah. 3 Lebih memprihatinkan lagi, perbuatan itu tidak sedikit
melibatkan orang-orang yang terdidik. Ini menunjukkan bahwa pendidikan kurang
berhasil dalam membentuk watak (karakter) yang terpuji. Dalam kondisi yang
demikian, kiranya cukup relevan untuk diungkapkan kembali “paradigma lama”
tentang pendidikan, yakni pendidikan sebagai pewarisan nilai-nilai. Warisan nilai-
nilai budaya masa lalu itu tidak sedikit yang merupakan nilai-nilai moral.
Paradigma pendidikan seperti itu sering dianggap kuno, konservatif, dan tidak
sesuai dengan tuntutan zaman. Namun, hal itu tidak berarti bahwa nilai-nilai
warisan masa lalu, lebih-lebih nilai-nilai moral dan sopan santun, adalah sesuatu
yang usang dan harus dibuang. 4
Mencermati problematik tersebut, maka seharusnya penamanam nilai
karakter harus ditanamkan kepada generasi muda di sekolah dengan
memanfaatkan segala komponen yang dapat mendukung penanaman nilai
pendidikan karakter, termasuk mengoptimalkan pembelajaran Pendidikan Agama
Islam. Integrasi nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran pada setiap mata
pelajaran diyakini dapat merestorasi dan menguatkan kembali nilai-nilai
pendidikan karakter pada anak didik.
3 Muslich, Masnur. Pendidikan Karakter: Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara. 2011.hal.1.
4 Poespoprojo. Filsafat Pendidikan. Bandung: Pustaka Grafika. 1999.
8
Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai pada setiap
mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks
kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak
hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan
nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.
Berdasarkan uraian tentang pentingnya penanaman nilai karakter pada
pembelajaran Pendidikan Agama Islam, maka peneliti tertarik melakukan
penelitian penanaman nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran Pendidikan
Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar. Hal tersebut dilakukan mengingat
banyaknya pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah-sekolah yang isinya
kurang sesuai dengan adat dan budaya masyarakat. Persoalan lain yang terjadi
dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah kurang tergambarnya nilai-
nilai pendidikan. Faktanya dalam buku teks, sangat sulit menemukan nilai-nilai
pendidikan di dalamnya. Konten buku teks tersebut lebih cenderung menyajikan
konsep dan informasi terbaru yang terjadi di seantero dunia. Diperparah ketika
pembelajaran membaca teks wacana tentang perkembangan teknologi
(handphone, gadget, dan sebagainya) yang merupakan suatu suguhan materi yang
nihil dengan nilai-nilai pendidikan karakter.
Kurangnya nilai pendidikan karakter menjadi tugas dan tanggung jawab
guru untuk mengoptimalkan penanaman nilai pendidikan karakter melalui strategi
dan berbagai cara lain, misalnya ketika guru mengajarkan materi yang minim
dengan nilai karakter, maka guru harus cermat dan terampil mengintegrasikan
nilai pendidikan karakter.
“Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar”. Hal ini dilakukan
untuk mengkaji dan mengetahui lebih mendalam tentang nilai pendidikan pada
pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Data lain adalah buku yang merupakan
suplai dari berbagai penerbit sehingga dapat menyaring buku-buku yang layak
digunakan sesuai dengan tujuan penanaman nilai pendidikan karakter. Selain itu,
penelitian ini dilakukan untuk mengetahui proses dan metode guru menanamkan
nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP
Negeri 13 Makassar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah penelitian ini, yaitu:
1. Bagaimanakah nilai-nilai pendidikan karakter di SMP Negeri 13
Makassar?
Negeri 13 Makassar?
pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar?
C. Tujuan Penelitian
2. Proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13
Makassar.
10
Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar.
D. Manfaat Hasil Penelitian
1. Manfaat Teoretis
mengenai nilai-nilai pendidikan karakter yang ditanamkan dalam
pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar.
b. Menambah wawasan dan pengetahuan bagi guru tentang perlunya
pembelajaran pendidikan karakter di sekolah-sekolah sehingga dapat
meningkatkan pembelajaran dan penanaman nilai pendidikan karakter bagi
peserta didik.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi peserta didik, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar dan
contoh penanaman nilai karakter dalam diri (peserta didik).
b. Bagi guru pendidikan Agama Islam sebagai acuan dan pedoman dalam
mengajarkan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam
pembelajaran Agama Islam.
c. Bagi peneliti lanjut, hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi dan acuan
dalam melakukan penelitian yang relevan.
11
1. Pengertian Pendidikan Karakter
Karakter adalah keadaan asli yang ada dalam diri individu seseorang yang
membedakan antara dirinya dengan orang lain. Karakter adalah kualitas mental
atau moral, kekuatan moral, nama atau reputasi. Karakter adalah sifat-sifat
kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang
lain atau bermakna bawaan, hati, jiwa, kepribadibadian, budi pekerti, perilaku,
personalitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak. 5
Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan
Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan
yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan
berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Menurut Sumardjo bahwa untuk mengenal watak seseorang dapat diteliti
(1) Apa yang dikatakan (2) Apa yang dilakukannya (3) Bagaimana sikapnya
dalam menghadapi persoalan (4) Bagaimana penilaian tokoh lain atas dirinya 6 .
Pendidikan karakter merupakan upaya untuk membantu perkembangan
jiwa anak-anak baik lahir maupun batin, dari sifat kodratinya menuju ke arah
peradaban yang manusiawi dan lebih baik, yang bertujuan untuk meningkatkan
mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan
5 Gunawan, Heri. Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi. Bandung: Alfabeta. 2012.hal.3.
6 Sumardjo, Jacob. Memahami Kesusastraan. Bandung: Alumni. 1994.hal.56.
12
akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai dengan
standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan. 7
Pendidikan berkarakter merupakan pendidikan yang mengembangkan nilai
dan karakter pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter
dirinya dan menerapkannya dalam kehidupan dirinya sebagai anggota masyarakat.
Nilai-nilai moral sosial, meliputi: bekerjasama, suka menolong, kasih
sayang, kerukunan, suka memberi nasihat, peduli nasib orang lain, dan suka
mendoakan orang lain. nilai-nilai moral religi, meliputi: percaya kekuasaan tuhan,
percaya adanya tuhan, berserah diri kepada tuhan/bertawakal, dan memohon
ampun kepada tuhan.
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap
Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun
kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan karakter di
sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-
komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan
penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran,
pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kokurikuler,
pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan
lingkungan sekolah.
sekolah, tujuan pendidikan di sekolah sebenarnya dapat dicapai dengan baik.
Pembinaan karakter juga termasuk dalam materi yang harus diajarkan dan
dikuasai serta direalisasikan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Permasalahannya, pendidikan karakter di sekolah selama ini baru menyentuh pada
tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai, dan belum pada tingkatan
internalisasi dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun oleh Alwi, dkk. menjelaskan
bahwa karakter adalah sifat atau ciri kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dari yang lain; tabiat; watak. Karakter merupakan nilai
perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri,
sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap,
perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma agama, hukum, tata krama,
budaya, dan adat istiadat. Karakter juga merupakan cara berpikir dan berperilaku
yang menjadi ciri khas setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam
lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Individu yang berkarakter
baik adalah individu yang mampu membuat suatu keputusan dan siap
mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang dibuatnya. 8
Berkaitan dengan karakter, Saryono mengemukakan bahwa pembelajaran Agama
Islam dapat dijadikan sarana untuk membentuk karakter bangsa, antara nilai atau
aspek (1) literer-estetis, (2) humanistis, (3) etis dan moral, dan (4) religius-
8 Alwi, Hasan, dkk. (Eds.). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV. Jakarta: Balai
Pustaka.2008.hal.623.
14
bahan ajar buku teks dalam pembentukan karakter bangsa 9 .
Karakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi
dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti reflektif, percaya diri, rasional,
logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung
jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat
dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati, malu berbuat salah, pemaaf,
berhati lembut, setia, bekerja keras, tekun, ulet/gigih, teliti, berinisiatif,
berpikir positif, disiplin, antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja, bersemangat, dinamis, hemat/efisien, menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif, ramah, cinta keindahan (estetis), sportif, tabah, terbuka, tertib. Individu juga memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif
sebagai individu (intelektual, emosional, sosial, etika, dan perilaku). 10
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan
karakter dapat dimaknai sebagai “the deliberate use of all dimensions of school
life to foster optimal character development”. Dalam pendidikan karakter di
sekolah, semua komponen (pemangku pendidikan) harus dilibatkan, termasuk
komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses
pembelajaran dan penilaian, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran,
pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan kokurikuler,
pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga
sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknai sebagai suatu
9 Saryono, Djoko. Dasar Apresiasi Sastra. Yogyakarta: Elmatera Publishing. 2009.hal.52.
10 Agus Wibowo, Pendidikan Karakter: Strategi Membangun Bangsa Berperadaban, (Yogyakarta: 2012), hlm. 9-10.
15
berkarakter.
pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi
pekerti yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku
yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, kerja keras, dan
sebagainya.
a) Tujuan
bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi
ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan pancasila. Pendidikan karakter
bertujuan pula meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di
sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia
peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi
lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara
mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan
menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia
sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari 11
.
16
berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik, (2) memperkuat dan
membangun perilaku bangsa yang multicultural, (3) meningkatkan peradaban
bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia.
3. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter
berikut:
perasaan, dan perilaku.
membangun karakter.
e) Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang
baik.
f) Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang
menghargai semua peserta didik, membangun karakter peserta didik, dan
membantu untuk mencapai kesuksesan.
h) Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang
bertanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang
sama.
17
membangun inisiatif pendidikan karakter.
j) Memfunsgikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha
membangun karakter.
k) Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru karakter,
dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta didik 12
.
Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan
budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan
keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan
masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau
watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.
Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh Sekolah Menengah Pertama
(SMP) di Indonesia negeri maupun swasta. Semua warga sekolah, meliputi para
peserta didik, guru, karyawan administrasi, dan pimpinan sekolah menjadi sasaran
program ini. Sekolah-sekolah yang selama ini telah berhasil melaksanakan
pendidikan karakter dengan baik dijadikan sebagai best practices, yang menjadi
contoh untuk disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya.
Dalam Kemendiknas dijelaskan tentang nilai pendidikan karakter sebagai
berikut: Nilai Religius, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri,
demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai
12 Gunawan, Heri. Op.cit. hal.35.
18
lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab 13
.
ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia,
kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian
yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Pada tataran yang lebih
luas, pendidikan karakter nantinya diharapkan menjadi budaya sekolah.
Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui melalui
pencapaian indikator oleh peserta didik sebagaimana tercantum dalam Standar
Kompetensi Lulusan SMP, yang antara lain meliputi sebagai berikut:
a) Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan
remaja;
c) Menunjukkan sikap percaya diri;
d) Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih
luas;
e) Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial
ekonomi dalam lingkup nasional;
f) Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-
sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif;
g) Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif;
13 Kemendiknas. Panduan Pendidikan Karakter di Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Direktur Jenderal Mandikdasmen. 2010.hal.3.
19
h) Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang
dimilikinya;
kehidupan sehari-hari;
l) Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan
Republik Indonesia;
n) Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya;
o) Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang
dengan baik;
p) Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;
q) Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di
masyarakat;
s) Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana;
t) Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis
dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana;
u) Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan
menengah;
Dalam proses pendidikan, termasuk pendidikan karakter diperlukan
metode-metode pendidikan yang mampu menanamkan nilai-nilai karakter kepada
peserta didik sehingga peserta didik bukan hanya mengetahui tentang moral
karakter atau moral knowing, melainkan juga diharapkan mampu melaksanakan
moral atau moral action yang menjadi tujuan utama pendidika karakter.
Menurut Gunawan bahwa metode dalam mengimplementasikan
pendidikan karakter sebagai berikut:
Metode percakapan dilakukan dengan berdialog secara silih berganti
antara dua pihak atau lebih melalui tanya jawab mengenai satu topik dan dengan
sengaja diarhakan pada satu tujuan yang dikehendaki. b) Metode Cerita
Dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah, cerita sebagai metode
pendukung pelaksanaan pendidikan yang memiliki peranan yang sangat penting
dalam kisah cerita terdapat berbagai keteladanan berdasarkan jelajah kejadian
masa lalu.
Metode perumpamaan baik digunakan oleh guru dan mengajari peserta
didiknya, terutama dalam menanamkan nilai karakter. Cara penggunaan metode
perumpamaan yaitu dengan berkisah.
Dalam penanaman karakter kepada peserta didik di sekolah, keteladanan
merupakan metode yang lebih efektif dan efisien karena peserta didik pada
umumnya cenderung meneladani guru atau pendidiknya. Keteladanan dapat
ditunjukkan dalam perilaku dan sikap pendidik dalam memberikan contoh
tindakan-tindakan yang baik sehingga diharapkan menjadi panutan bagi peserta
didik.
sesuatu itu dapat menjadi kebiasaan. Salah contoh penerapan metode pembiasaan
adalah membiasakan peserta didik melakukan sendiri dan jangan selalu menunggu
dari guru.
Metode nasihat disebut dengan istilah mau’idhoh yakni nasihat yang
lembut yang diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancamannya.
g) Metode Janji
kenikmatan akhirat, yang disertai dengan bujukan 14
.
Membangun peradaban sebuah bangsa pada hakikatnya adalah
pengembangan watak dan karakter manusia unggul dari sisi intelektual, spiritual,
emosional, dan fisikal yang dilandasi oleh fitrah kemanusiaan. Fitrah adalah titik
14 Gunawan, Heri. Op.cit. hal.88.
22
tolak kemuliaan manusia, baik sebagai bawaan seseorang sejak lahir atau sebagai
hasil proses pendidikan. Nelson Black dalam bukunya yang berjudul “Kapan
Sebuah Bangsa Akan Mati” menyatakan bahwa nilai-nilai akhlak, kemanusiaan,
kemakmuran ekonomi, dan kekuatan budaya merupakan sederet faktor
keunggulan sebuah masyarakat yang humanis. Sebaliknya, kebejatan sosial dan
budaya merupakan faktor penyebab kemunduran sebuah peradaban. Hidup
haruslah diarahkan pada kemajuan, keberadaban, budaya dan persatuan, dan
masyarakat seharusnya tidak menolak elemen-elemen yang datang dari peradaban
asing. Ini adalah demi mendorong proses pertumbuhan dan pemerkayaan yang
lebih lanjut bagi kehidupan nasional serta secara mutlak untuk menaikkan
martabat kebanggaan bangsa Indonesia. 15
Terlepas dari persoalan kuantitatif maupun kualitatif tersebut, dalam
konteks pembangunan sektor pendidikan, guru merupakan pemegang peran yang
amat sentral dalam proses pendidikan. Upaya meningkatkan profesionalisme para
pendidik adalah suatu keniscayaan. Guru harus mendapatkan program-program
pelatihan secara tersistem agar tetap memiliki profesionalisme yang tinggi dan
siap melakukan adopsi inovasi. Guru juga harus mendapatkan ”Reward” (tanda
jasa), penghargaan dan kesejahteraan yang layak atas pengabdian dan jasanya,
sehingga setiap inovasi dan pembaruan dalam bidang pendidikan dapat diterima
dan dijalaninya dengan baik. Di sinilah kemudian karakteristik pendidikan guru
memiliki kualitas ketika menyajikan bahan pengajaran kepada subjek didik.
15 Marlis, Alen. 2010. “Manfaat Pendidikan Karakter bagi Guru untuk Membangun
Peradaban Bangsa.” Dikutip dari http://alenmarlissmpn1gresik.wordpress. com/2012/10/03/manfaatkarakteristikpendidikan-bagi-guru-untuk membangun peradabanbangsa/ diakses hari Minggu tanggal 10 April pukul 20.02 WIB.
23
Kualitas seorang guru dapat diukur dari segi moralitas, bijaksana, sabar dan
menguasai bahan pelajaran ketika beradaptasi dengan subjek didik. Sejumlah
faktor itu membuat dirinya mampu menghadapi masalah-masalah sulit, tidak
mudah frustasi, depresi atau stress secara positif, dan tidak destruktif.
Dalam karakter pendidikan guru penting sekali dikembangkan nilai-nilai
etika dan estetika inti seperti kepedulian, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan
rasa hormat terhadap diri dan orang lain bersama dengan nilai-nilai kinerja
pendukungnya seperti ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan kegigihan sebagai
basis karakter yang baik. Guru harus berkomitmen untuk mengembangkan
karakter peserta didik berdasarkan nilai-nilai yang dimaksud serta
mendefinisikannya dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dalam kehidupan
sekolah sehari-hari. Yang terpenting adalah semua komponen sekolah
bertanggung jawab terhadap standar-standar perilaku yang konsisten sesuai
dengan nilai-nilai inti.
Seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai
dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan
moral dalam hidupnya. Demikian juga seorang pendidik dikatakan berkarakter,
jika memiliki nilai dan keyakinan yang dilandasi hakikat dan tujuan pendidikan
serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam menjalankan tugasnya sebagai
pendidik. Dengan demikian, pendidik yang berkarakter, berarti telah memiliki
kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, seperti sifat kejujuran,
amanah, keteladanan, ataupun sifat-sifat lain yang harus melekat pada diri
pendidik. Pendidik yang berkarakter kuat tidak hanya memiliki kemampuan
24
memiliki kemampuan mendidik dalam arti luas (keteladanan sehari-hari).
Tujuan model pendidikan holistik berbasis karakter adalah membentuk
manusia secara utuh (holistik) yang berkarakter, yaitu mengembangkan aspek
fisik, emosi, sosial, kreativitas, spiritual dan intelektual peserta didik secara
optimal. Selain itu, untuk membentuk manusia yang lifelong learners (pembelajar
sejati) bisa dilakukan dengan beberapa langkah sebagaimana uraian berikut.
a) Menerapkan metode belajar yang melibatkan partisipasi aktif murid, yaitu
metode yang dapat meningkatkan motivasi murid karena seluruh dimensi
manusia terlibat secara aktif dengan diberikan materi pelajaran yang konkrit,
bermakna, serta relevan dalam konteks kehidupannya (student active
learning, contextual learning, inquiry-based learning, integrated learning).
b) Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif (conducive learning
community) sehingga anak dapat belajar dengan efektif di dalam suasana
yang memberikan rasa aman, penghargaan, tanpa ancaman, dan memberikan
semangat.
berkesinambungan dengan melibatkan aspek knowing the good, loving the
good, and acting the good.
d) Metode pengajaran yang memperhatikan keunikan masing-masing anak,
yaitu menerapkan kurikulum yang melibatkan juga 9 aspek kecerdasan
manusia.
25
Nilai adalah suatu perangkat ataupun perasaan yang diyakini sebagai
identitas yang memberikan corak khusus kepada pola pemikiran, perasaan,
keterkaitan, dan perilaku. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan
bahwa nilai adalah siat-sifat atau hal-hal yang pentin dan berguna bagi
kemanusiaan 16
. Wahid mengatakan ”Sesuatu yang mempunyai nilai itu tidak
hanya sesuatu yang berwujud benda material saja, tetapi juga sesuatu yang
berwujud abstrak juga dapat mempunyai nilai yang sangat tinggi dan mutlak bagi
kemanusiaan 17
perbandingan dua benda yang dipertukarkan, bisa juga berarti angka kepandaian
(nilai ujian, nilai rapor), kadar, mutu, dan bobot. Namun, dalam sosiologi, nilai
mengandun pengertian yang lebih luas daripada pengertian sehari-hari. Nilai
merupakan sesuatu yang baik, yang diinginkan, dicita-citakan, dan dianggap
penting oleh warga masyarakat.
Nilai merupakan sesuatu yang dihargai atau dihormati, atau sesuatu yang
ingin dicapai atau dianggap sebagai sesuatu yang berharga. Dengan demikian,
nilai sosial adalah sesuatu yang dianggap sangat berharga untuk dicapai atau
dihormati dalam masyarakat. Nilai terbentuk daripada yang besar, pantas, dan
luhur untuk dikerjakan dan diperhatikan. Nilai bukanlah keinginan, melainkan
apa yang diinginkan, jadi bersifat subjektif. Selain itu, nilai juga bersifat relatif
16 Alwi, Hasan, dkk. (Eds.). Op.cit. hal. 690.
17 Wahid, Sugirah. Kapita Selekta Kritik Sastra. Makasar: BSID FBS, UNM.2004.hal.19.
26
karena apa yang menurut kita sudah benar dan baik belum tentu disebut nilai.
Jadi, nilai merupakan tujuan yang ingin dicapai.
Nilai-nilai (dalam pengertian sebagai penggambaran kecenderungan
terhadap apa-apa yang tidak di sukai) akan kelihatan bila sistem-sistem sosial
dipakai sebagai alat konsepsi di dalam tindakan sosial.
Nilai merupakan wujud penikmatan. Dengan penikmatan dapat
memberikan corak tersendiri antara individu akan sesuatu yang dianggapnya atau
dinilainya. Dengan nilai, sesuatu dapat dikategorikan atau ditaksir bagaimana dan
apa yang dinilai. Begitu pula dalam pembelajaran Agama Islam, banyak hal yang
patut menjadi penilaian, meskipun wujud dari penilaian pembaca berbeda antara
satu sama lain, karena hal tersebut dapat dilihat dari tingkat intensitas perindividu
berbeda. Jadi, secara singkat dapat diartikan bahwa nilai adalah hasil penelitian
pertimbangan baik atau buruk terhadap sesuatu yang kemudian dipergunakan
sebagai dasar melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.
b. Perspektif Nilai Pendidikan Karakter
Setiap pembelajaran Agama Islam tentu saja menanamkan sejumlah nilai.
Di dalamya terdapat berbagai nilai di antaranya: nilai moral, nilai sosial, budaya,
dan nilai pendidikan.
Aksiologi merupakan ilmu tentang nilai. Dalam kaitannya dengan
pendidikan, maka aksiologi menelusuri seluk-beluk nilai pendidikan. Sementara,
pendidikan dapat dirumuskan sebagai suatu pembimbingan yang diberikan
dengan sengaja oleh pendidik kepada anak didik ke arah satu tujuan. Mengenai
pembimbingan atau bagaimana cara memberikan bimbingan, materi apa yang
27
anak didik itu sendiri, dapat tergantung pada dasar filsafah pendidikan.
Pendidikan menurut Alwi dkk. (Eds.), 2008: 149) adalah usaha dan
perbuatan dari generasi tua dan mengalihkan pengalaman, pengetahuan dan
keterampilan kepada generasi muda untuk melangsungkan fungsi hidup dengan
baik.
kemandirian kesadaran pembangunan bangsa dan kesadaran individu secara
terpadu. Dengan demikian, manusia dapat mengkomunikasikan kebudayaan dan
warisan intelektualnya pada generasi yang akan datang serta memberikan
inspirasi cita-cita hidupnya.
subjek tertentu (pendidik atau anak didik). Ini berarti bahwa pendidikan
merupakan tahap perkembanan yang terus- menerus. Proses tersebut terjadi
karena interkasi berbagai faktor. Jadi, bukan hanya interaksi antara orang dewasa
dan manusia belum dewasa, melainkan juga bahan yang dipelajari, faktor
lingkungan (alam, kebudayaan, masyarakart, dan sebagainya).
Berdasarkan lingkungannya, pendidikan dapat pula digolongkan dalam 3
golongan kecil, yaitu pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan
masyarakat. Ketiga golongan ini dikenal dengan istilah “tripusat pendidikan”. 18
Keluarga adalah pranata kehidupan terkecil yang secara langsung dialami
untuk pertama kali oleh seorang manusia. Kehadiran seorang anak dalam
18 Alwi, Hasan, dkk. (Eds.). Op.cit. hal. 149.
28
Masyarakat merupakan suatu bentuk tata kehidupan sosial yang mencakup tata
nilai dan tata budaya sendiri.
Nilai pendidikan masyarakat dan keluarga mengalami perkembangan
sesuai dengan kemajuan kebudayaan manusia, demikian juga pendidikan yang
didapatkan di sekolah. Pendidikan dalam bentuk sekolah ini berkembang sesuai
dengan perkembangan kebudayaan manusia. Di sekolah anak mengalami
pendidikan formal seperti taman-taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan
seterusnya sampai perguruan tinggi.
anggota masyarakat yang berguna dan bertanggungjawab atas kesejahteraan
bangsa, tanah air, serta manusia pada umumnya. Harapan itu memperlihatkan
bahwa betapa pentingnya dunia pendidikan bagi masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan adalah suatu proses bimbingan manusia untuk mencapai tujuan yang
berguna bagi individu dan masyarakat.
Berdasarkan uraian tersebut, maka aksiologi pendidikan berhubungan
dengan ilmu tentang nilai. Aksiologi mengkaji seluk beluk nilai. Aksiologi
menyangkut pula nilai-nilai yang berupa pertanyaan tentang kebaikan. Aksiologi
adalah suatu bidang yang menyelidiki nilai-nilai (value). Bidang kajian aksiologi,
yaitu moral conduct (tindakan moral), esthetic expression (ekspresi keindahan),
sosiopolitical life (kehidupan sosial politik). Nilai terdiri atas tiga bentuk, yaitu
nilai digunakan sebagai kata benda yang abstrak, nilai sebagai kata
29
benda konkret, dan nilai sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai, memberi nilai,
dan dinilai.
Substansi nilai-nilai karakter dalam standar kompetensi lulusan SMP
.
No. Standar Kompetensi Lulusan Nilai Karakter yang
Dikembangkan
1. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai Religious, jujur, dan
dengan tahap perkembangan remaja tanggung jawab
2. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri Jujur dan cerdas
3. Menunjukkan sikap percaya diri Jujur
4. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku Bertanggung jawab
dalam lingkungan yang lebih luas
5. Menghargai keberagaman agama, budaya, uku, Peduli dan toleransi ras, dan golongan sosial ekonomi dalam
lingkungan nasional
lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara
logis, kritis, dan kreatif
kreatif, dan inovatif
8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri Cerdas dan sesuai dengan potensi yang dimilikinya bertanggung jawab
9. Menunjukkan kemmapuan menganalisis dan Cerdas
memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-
hari
jawab cerdas
bernegara demi terwujudnya persatua dalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia
13. Menghargai karya seni dan budaya nasional Peduli dan bertanggung jawab
14. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki Bertanggung jawab dan kemampuan untuk berkarya kreatif
19 Gunawan, Heri. Op.cit. hal.218.
30
15. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan Bersih dan sehat
memanfaatkan waktu luang
16. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan Peduli dan kreatif santun
17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain Bertanggung jawab dalam pergaulan di masyarakat
18. Menghargai adanya perbedaan pendapat Jujur dan peduli
19. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis Cerdas dan kreatif
naskah pendek sederhana
dan bahasa Inggris sederhana
B. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP
1. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “instruction” yang dalam
bahasa Yunani disebut instructus atau “intruere”yang berarti menyampaikan
pikiran, dengan demikian arti instruksional adalah menyampaikan pikiran atau ide
yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran 20
.
melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta
didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka
pencapaian kompetensi dasar. Pembelajaran adalah kegiatan dimana guru
melakukan perananperanan tertentu agar peserta didik dapat belajar untuk
mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Strategi pengajaran merupakan
keseluruhan metode dan prosedur yang menitikberatkan pada kegiatan peserta
didik dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan tertentu.
20 Warsita, Bambang. Teknologi Pembelajaran: Landasan dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta. 2008. hal. 265.
31
.
Selain itu, pembelajaran merupakan suatu proses membelajarkan peserta
didik agar dapat mempelajari sesuatu yang relevan dan bermakna bagi diri
mereka, disamping itu, juga untuk mengembangkan pengalaman belajar dimana
peserta didik dapat secara aktif menciptakan apa yang sudah diketahuinya dengan
pengalaman yang diperoleh. Dan kegiatan ini akan mengakibatkan peserta didik
mempelajari sesuatu dengan cara lebih efektif dan efisien 22
.
untuk membantu proses belajar peserta didik, yang berisi serangkaian peristiwa
yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung
terjadinya proses belajar peserta didik yang bersifa internal 23
.
kondisi dengan sengaja agar tujuan pembelajaran dapat dipermudah (facilitated)
pencapaiannya. Sedangkan Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar yang
dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini,
memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Zakiyah Darajat berpendapat bahwa pendidikan agama islam adalah
suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat
.
Pendidikan agama Islam sebagai upaya mendidikkan agama Islam atau
ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap
21 Hamalik, Oemar. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. 2014.hal. 201.
22 Muhaimin, dkk. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: Citra Media. 1996. hal.157.
23 Warsita, Bambang. Op.cit. hal. 266.
24 Darajat, Zakiyah. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 2008. Hal.87.
32
hidup) peserta didik. Pendidikan agama Islam juga merupakan upaya sadar untuk
mentaati ketentuan Allah sebagai pedoman dan dasar para pesera didik agar
berpengetahuan keagamaan dan handal dalam menjalankan ketentuan-ketentuan
Allah secara keseluruhan 25
agama Islam adalah sebuah sistem pendidikan yang mengupayakan terbentuknya
akhlak mulia peserta didik serta memiliki kecakapan hidup berdasarkan nilai-nilai
Islam. Karena pendidikan agama Islam mencakup dua hal, (a) mendidik peserta
didik untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak Islam, (2) mendidik
peserta didik unuk mempelajari materi ajaran Islam yang sekaligus menjadi
pengetahuan tentang ajaran Islam iu sendiri. Sedangkan Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam adalah suatu upaya membuat peserta didik dapat belajar, butuh
belajar, terdorong belajar, mau belajar, dan tertarik untuk terus menerus
mempelajari agama Islam, baik untuk kepentingan mengetahui bagaimana cara
beragama yang benar maupun mempelajari Islam sebagai pengetahuan yang
mengakibatkan beberapa perubahan yang relatif tetap dalam tingkah laku
seseorang yang baik dalam kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Menurut Majid bahwa pendidikan Agama Islam di sekolah/madrasah
bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian
dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta
didik tentang Agama Islam sehingga menjadi manusia yang terus berkembang
25 Saputra. Aplikasi Metode Contextual Teaching Learning (CTL) dalam Pembelajaran PAI, (Jurnal At-Ta’dib Volume VI, No. 1, April-September 2014).hal.17.
33
dalam hal keimanan, ketakwaan, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat
melanjutkan pada jenjang yang lebih tinggi 26
.
Lebih lanjut, tujuan ialah suatu yang diharapkan tercapai setelah sesuatu
usaha atau kegiatan selesai. Maka pendidikan, karena merupakan usaha dan
kegiatan yang berproses melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, tujuannya
bertahap dan bertingkat. Tujuan pendidikan bukanlah suatu benda yang berbentuk
tetap dan statis, tetapi ia merupakan suatu keseluruhan dari kepribadian seseorang,
berkenaan dengan seluruh aspek kehidupannya
3. Ruang Lingkup Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP
Islam sebagai agama dan objek kajian akademik memiliki cakupan dan
ruang lingkup yang luas. Secara garis besar Islam memiliki sejumlah ruang
lingkup yang saling terkait yaitu lingkup keyakinan (akidah), lingkup norma
(syariat), muamalat, dan perilaku (akhlak/behavior). 27
a) Akidah
Akidah secara bahasa (etimologi) biasa dipahami sebagai ikatan simpul
dan perjanjian yang kuat dan kokoh. Ikatan dalam pengertian ini merujuk pada
makna dasar bahwa manusia sejak azali telah terikat dengan satu perjanjian yang
kuat untuk menerima dan mengakui adanya Sang Pencipta yang mengatur dan
menguasai dirinya, yaitu Allah SWT. Selain itu, akidah juga mengandung
cakupan keyakinan terhadap yang ghaib, seperti malaikat, surga, neraka, dan
sebagainya. Akidah Islam berisikan ajaran tentang apa saja yang harus dipercaya,
diyakini dan diimani oleh setiap Muslim. Karena agama Islam bersumber kepada
26 Majid, Abdul dan Dian andayani. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi (Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004). Bandung: Remaja Rosdakarya. 2006. Hal.230.
27 Rois, Mahfud. AL-ISLAM Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Erlangga, 2011.
34
kepercayaan dan keimanan kepada Allah, maka akidah merupakan sistem
kepercayaan yang mengikat manusia kepada Islam. a) Iman Iman secara umum
dipahami sebagai suatu keyakinan yang dibenarkan dalam hati, diikrarkan dengan
lisan, dan dibuktikan dengan amal perbuatan yang didasari niat yang tulus dan
ikhlas dan selalu mengikuti petunjuk Allah SWT serta Sunnah Nabi Muhammad
SAW. Dalam AlQur’an terdapat sejumlah ayat yang menunjukkan kata-kata iman,
diantaranya terdapat pada firman Allah:
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-
tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu
mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat
siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)”. (QS. Al-Baqarah:2/165). 28
Rukun iman yang dipahami oleh kaum Muslim secara umum meliputi
iman kepada Allah, iman kepada malaikat, iman kepada kitab Allah, iman kepada
nabi, iman hari kiamat, dan iman kepada qhada dan qadar Allah SWT. Esensi
iman kepada Allah SWT adalah pengakuan tentang keesaan (tauhid)- Nya. Tauhid
berarti keyakinan tentang kebenaran keesaan Allah, tidak mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu apa pun. Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang
termasuk gaib, tidak dapat dicapai dengan pancaindera, dan oleh karenanya
28 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, (Jakarta : Mahkota
Surabaya, 1989).
termasuk golongan makhluk yang immaterial (rohani). Namun demikian, ia tetap
ada dan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Allah SWT yang tidak
pernah melanggar perintah Allah SWT. Selain percaya kepada Allah SWT, orang
yang beriman juga wajib percaya kepada kitabkitab Allah, sebab iman kepada
Allah dan iman kepada Rasul-Nya menjadi satu kesatuan yang utuh. Allah
menurunkan kitab-kitab Nya untuk dijadikan pedoman oleh manusia dalam
menata dan mengatur kehidupannya demi mencapai keridhoan Allah sebagai
puncak dari tujuan hidup uang sesungguhnya. b) Syariat
Secara etimologis, syariat berarti jalan ke tempat pengairan atau jalan pasal
yang diturut atau tempat mengalir air di sungai. Syariat merupakan aturan-aturan
Allah yang dijadikan referensi oleh manusia dalam menata dan mengatur
kehidupannya baik dalam kaitannya dengan hubungan antara manusia dengan
Allah SWT, hubungan antara manusia dengan manusia dan hubungan manusia
dengan alam sekitarnya.
Syariat tidak hanya satu hukum positif yang kongkrit, tetapi juga suatu
kumpulan nilai dan kerangka bagi kehidupan keagamaan Muslim. Ruang lingkup
syariat secara umum dapat dikategorikan ke dalam dua aspek, yaitu ibadah dan
muamalah. Ibadah diartikan secara sederhana sebagai persembahan, yaitu
sembahan manusia kepada Allah SWT sebagai wujud penghambaan diri kepada
Allah SWT. Ibadah dalam Islam secara garis besar terbagi kedalam dua jenis yaitu
mahdah (ibadah khusus) dan ibadah ghair mahdah (ibadah umum).
36
Ruang lingkup ajaran Islam yang ketiga adalah akhlak. Akhlak merupakan
refleksi dari tindakan nyata atau pelaksanaan akidah dan syariat. Kata akhlak
secara bahasa merupakan bentuk jamak dari kata khulukun yang berarti budi
pekerti, perangai, tabiat, adat, tingkah laku, atau sistem perilaku yang dibuat.
Sedangkan secara terminologis akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara
baik dan buruk, antar yang baik dan buruk, antara yang terbaik dan tercela, baik
itu berupa perkataan maupun perbuatan manusia, lahir dan batin. Akhlak berarti
budi pekerti atau perangai. Dalam berbagai literatur Islam, akhlak diartikan
sebagai pengetahuan yang menjelaskan arti baik dan buruk, tujuan perbuatan,
serta pedoman yang harus diikuti. Pengetahuan yang menyelidiki perjalanan hidup
manusia sebagai parameter perbuatan, perkataan, dan ihwal kehidupannya.
C. Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Pendidikan karakter yang ditanamkan dalam pendidikan Islam yaitu
penciptaan fitrah peserta didik yang ber-akhlakul karimah, karena inti dari Islam
yakni terciptanya akhlakul karimah. Jika akhlak seseorang hilang berarti sebuah
kegagalan atas tujuan dari ajaran-ajaran agama Islam, sehingga pendidikan perlu
ditanamkan sejak dini. Beberapa hikmah yang dapat diraih apabila pendidikan
akhlak dapat ditanamkan sejak dini antara lain: pertama, pendidikan akhlak
mewujudkan kemajuan rohani, kedua, pendidikan akhlak menuntun kebaikan, dan
ketiga, pendidikan akhlak mewujudkan kesempurnaan iman. Keempat, pendidikan
akhlak memberikan keutamaan hidup di dunia dan kebahagiaan di hari kemudian.
37
pergaulan di masyarakat dan pergaulan umum. 29
Dalam Kemendiknas Pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan
pendidikan kewarganegaraan, pendidikan karakter harus menjadi fokus utama
yang mana karakter dikembangkan sebagai dampak pembelajaran dan juga
dampak pengiring. Dengan hal ini, diharapkan dapat menjadikan peserta didik
peduli dan mampu mengamalkan nilai-nilai karakter yang telah didapatkannya itu.
Integrasi pendidikan karakter juga dapat dilakukan pada penginternalisasi nilai-
nilai di dalam tingkah laku yang dilakukan guru setiap hari dalam proses
pelaksanaan pembelajaran. Contohnya, guru yang datang tepat waktu secara tidak
sengaja telah memodelkan karakter disiplin. Dalam proses pembelajaran,
pendidikan karakter dimulai pada tahap perencanaan, kemudian dilaksanakan, dan
akhirnya dievaluasi 30
Perencanaan ialah proses penyusunan pola kegiatan pembelajaran yang
akan dilakukan untuk mencapai tujuan. 41 Dalam silabus dan RPP memuat SK,
KD, tujuan pembelajaran, strategi dan metode pembelajaran, evaluasi
pembelajaran, indikator pencapaian, alokasi waktu, materi pembelajaran dan
sumber belajar. Dalam perencanaan pembelajaran pendidikan karakter perlu
dilakukan perubahan pada tiga komponen silabus dan RPP, yaitu:
a) Penambahan atau modifikasi kegiatan pembelajaran sehingga ada kegiatan
29 Achmadi. Meluruskan Islam Fobia Mengembalikan Fitrah Islam dengan Pendidikan, (Jurnal Edukasi. 2007. Hal.24.
30 Kemendiknas. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Pedoman Sekolah. Jakarta: Balitbang. 2010. Hal. 34.
38
b) Penambahan atau modifikasi pencapaian sehingga ada indikator yang terkait
dengan pencapaian peserta didik dalam hal karakter
c) Penambahan atau modifikasi teknik penilaian yang dapat mengembangkan
atau mengukur perkembangan karakter Berdasarkan hal tersebut dapat
disimpulkan bahwa RPP memiliki peranan penting dalam pengintegrasian
nilai-nilai pendidikan karakter ke dalam proses pembelajaran di sekolah. RPP
merupakan gambaran tentang pembelajaran yang akan dilakukan dalam
proses pembelajaran.
implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi pendahuluan,
kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pendidikan haruslah masuk atau ada dalam
setiap kegiatan tersebut Praktik penanaman pendidikan karakter harus dilakukan
menggunakan metode yang tepat. Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan
Nasional dalam kaitannya dengan pengembangan budaya sekolah yang
dilaksanakan dalam kaitan pengembangan diri, menyarankan empat hal yang
meliputi:
a) Kegiatan rutin Kegiatan rutin merupakan kegiatan yang dilaksanakan peserta
didik secara terus-menerus dan konsisten setiap saat.
b) Kegiatan spontan Bersifat spontan saat itu juga, pada waktu terjadi keadaan
tertentu, misalnya mengumpulkan sumbangan bagi korban bencana alam.
39
c) Keteladanan Timbulnya sikap dan perilaku peserta didik karena meniru
perilaku dan sikap guru dan tenaga kependidikan di sekolah, bahkan seluruh
warga sekolah yang dewasa lainnya sebagai model.
d) Pengkondisian Penciptaan kondisi yang mendukung keterlaksanaan
pendidikan karakter.
“Pendidikan Karakter, Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional”
menyatakan beberapa metode yang dapat digunakan dalam
mengimplementasikan pendidikan karakter, di antaranya:
a) Keteladanan
sungguh dan berkelanjutan. Jadi penanaman pendidikan karakter tidak bisa hanya
dilakukan dalam satu kali pertemuan pembelajaran. Penanaman pendidikan
karakter juga jangan hanya dilakukan di ruang kelas, namun dalam setiap kegiatan
dan di lingkungan sekolah guru harus dapat memberikan contoh atau dapat
mengarahkan peserta didik untuk bertindak yang sesuai dengan karakter yang
baik. Jadi upaya untuk mengimplementasi pendidikan karakter perlu dilakukan
dengan pendekatan holistis, yaitu mengintegrasikan perkembangan karakter
kedalam setiap aspek kehidupan sekolah.
40
berikut:
hubungan antara peserta didik, guru, dan masyarakat.
b) Sekolah merupakan masyarakat peserta didik yang peduli dimana ada
ikatan yang jelas yang menghubungkan peserta didik, guru, dan sekolah.
c) Pembelajaran emosional dan sosial setara dengan pembelajaran akademik.
d) Kerjasama dan kolaborasi diantara peserta didik menjadi hal yang lebih
utama dibandingkan persaingan.
e) Nilai-nilai seperti keadilan, rasa hormat, dan kejujuran menjadi bagian
pembelajaran sehari-hari baik di dalam maupun diluar kelas.
f) Peserta didik-peserta didik diberikan banyak kesempatan untuk
mempraktikkan perilaku moralnya melalui kegiatankegiatan seperti
pembelajaran memberikan pelayanan.
g) Disiplin dan pengelolaan kelas menjadi focus dalam memecahkan masalah
dibandingkan hadiah dan hukuman.
memudahkan dalam melakukan penelitian. Dalam hal ini, mendatangkan hasil
yang baik, sehingga penulis menyusun desain penelitian. Sebagai langkah awal
yaitu penulis menentukan rumusan penelitian, kemudian penelitian mengadakan
studi kepustakaan. Selanjutnya menyelidiki variabel, memberikan definisi
operasional penelitian, serta menentukan metode yang akan digunakan dalam
penelitian.
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
kualitatif, yaitu suatu prosedur pemecahan masalah dengan cara kerjanya
mendiskripsikan nilai pendidikan karakter yang diimplementasikan dalam
pembelajaran Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar.
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 13 Makassar. Objek penelitian
ini adalah guru Pendidikan Agama Islam dan seluruh peserta didik SMP Negeri
13 Makassar yang tersebar pada tiga tingkatan kelas (kelas VII, VIII, dan IX)
yang belajar pendidikan Agama Islam.
42
1. Penanaman nilai pendidikan karakter. Nilai dalam yang diamati di
antaranya: nilai religius, kerja keras, kreatif, rasa ingin tahu, semangat
kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat dan komunikatif, cinta damai,
gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab
2. Pembelajaran Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar difokuskan pada
cara dan proses kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru.
D. Deskripsi Fokus Penelitian
karakter.
peserta didik yang religius, semangat kebangsaan, jujur, cinta tanah air,
toleransi, menghargai prestasi, disiplin, bersahabat/komunikatif, kerja
keras, cinta damai, kreatif gemar membaca, mandiri, peduli lingkungan,
demokratis, peduli sosial, rasa ingin tahu, dan tanggung jawab.
2. Pembelajaran Agama Islam adalah cara dan proses kegiatan belajar
mengajar yang dilakukan oleh guru dengan memberikan bimbingan dan
asuhan terhadap peserta didik agar kelak setelah selesai pendidikannya
dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta
menjadikannya sebagai pendangan hidup (way of life). Selain itu,
pembelajaran agama Islam merupakan proses bimbingan dan asuhan
terhadap peserta didik nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat
43
diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan ajaran agama Islam itu sebagai
suatu pandangan hidupnya demi keselamatan hidup di dunia maupun di akhirat
kelak.
1. Data
Data penelitian ini, yaitu data tentang nilai pendidikan karakter yang
diimplementasikan dalam pembelajaran Agama Islam di SMP Negeri 13
Makassar.
Data nilai pendidikan penelitian ini, yaitu segala teks yang mengandung
muatan nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam pembelajaran Agama Islam.
2. Sumber Data
Sumber data penelitian ini, yaitu proses pembelajaran Agama Islam di
SMP Negeri 13 Makassar.
wawancara dan format pengamatan.
G. Teknik Pengumpulan Data
berikut:
Islam.
tentang wujud dan bentuk penanaman nilai pendidikan karakter.
c. Teknik Observasi
peserta didik dalam pembelajaran Agama Islam untuk mengamati karakter yang
ditanamkan.
I. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model alir
(Miles dan Huberman 2004). Model alir merupakan salah satu teknik analisis
dengan memadukan konsep yang menghasilkan sebuah metode analisis yakni:
pencatatan data, reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan sementara,
validasi (sahih), dan penarikan kesimpulan akhir.
Kegiatan analisis data dimulai dari kegiatan pencatatan data. Kegiatan
reduksi data pada dasarnya merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian,
penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi “data mentah”. Reduksi data
dimaksudkan untuk menyesuaikan bentuk data yang ada dengan bentuk data yang
dibutuhkan dengan kegiatan analisis. Kegiatan reduksi data setiap saat dapat
dilakukan selama dalam proses pengumpulan dan analisis data. Apabila ada data
yang tidak relevan dengan masalah, dilakukan reduksi data berupa pembuangan
45
data. Setelah diperoleh data yang representatif melalui reduksi data, dilakukan
penyajian data. Penyajian data diharapkan dapat tersusun secara sistematis
sehingga memudahkan peneliti mengamati dan menafsirkan (menginterpretasi)
data-data tersebut.
nilai pendidikan karakter apa sajakah yang ditanamkan dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar. (2) Metode guru
menanamkan nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran Pendidikan Agama
Islam di SMP Negeri 13 Makassar.
46
SMP Negeri 13 Makassar didirikan pada tanggal 31 Desember 1981
melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 01 Januari
1980. SMP Negeri 13 Makassar didirikan bertujuan untuk meningkatkan
pendidikan khususnya pendidikan dasar menengah sejak tahun 1980-1981 dan
didirikan untuk mengantisipasi lonjakan lulusan SD sampai dampak keberhasilan
program wajar dikdas 9 tahun serta membantu pemerintah dalam pembentukan
SDM yang berkualitas baik IMTAK maupun IPTEK. Kepemilikan
tanah/bangunan SMP Negeri 13 Makassar merupakan milik pemerintah dengan
luas tanah 17693/ SHM dan luas bangunan 2975/SHM 31
.
a. Menanamkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan melalui pengalaman
ajaran agama yang dianut.
mengembangkan potensi siswa secara optimal.
31 Dokumentasi SMPN 13 Makassar pada tanggal 20 Maret 2020
47
seluruh warga sekolah.
d. Mengembangkan bakat, minat dan potensi siswa dalam bidang akademik
maupun non akademik.
warga sekolah.
lingkungan bagi seluruh warga sekolah.
g. Menanamkan anti korupsi dan anti narkoba bagi seluruh warga sekolah.
h. Melestarikan nilai-nilai budaya daerah dan budaya bangsa bagi peserta
didik.
i. Membudayakan senyum, salam, sapa, sopan, santun, semngat dan sepenuh
hati bagi seluruh warga sekolah.
j. Menerapkan manajeman berbasis sekolah yang partisipatif, transparan dan
akuntabel dengan melibatkan selruh kompenen sekolah 32
.
2. Letak Geografis
Letak Geografis SMP Negeri 13 Makassar terletak di Jl. Tamalate VI
No.2, Kelurahan Kassi-Kassi, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar. Sekolah
ini bertempat di belakang Kantor Dinas Pendidikan Kota Makassar dan berada
ditengah pemukiman penduduk Tamalate VI. Lokasi SMP Negeri 13 Makassar
termasuk yang strategis karena berdekatan dengan SDN, SMPN lainnya,
SMAN dan Universitas. SMP Negeri 13 Makassar karena letaknya
32 Dokumentasi SMPN 13 Makassar pada tanggal 20 Maret 2020
48
berdekatan dengan Dinas Pendidikan Kota Makassar dan memiliki ruangan guru
yang luas maka sering digunakan sebagai tempat pertemuan/rapat Dinas
Pendidikan Kota Makassar sepulang siswa sekolah 33
.
berikut:
4. Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Jumlah pendidik di SMP Negeri 13 Makassar sebanyak 60 orang guru
mata pelajaran termasuk kepala sekolah dan wakil kepala sekolah dan
beberapa bertindak sebagai wali kelas untuk 30 rombel kelas. Sebagian guru
33 Dokumentasi SMPN 13 Makassar Pada Tanggal 20 Maret 2020
49
kantin, kepala laboratorium IPA dan Kepala Laboratorium Komputer,
Pembina Pengurus Mushalla, Pembina pengurus Aula Kesenian, dan beberapa
Pembina Ekstrakulikuler.
Jumlah Tenaga kependidikan terdiri atas Staff Tata Usaha dan Petugas
keamanan sekolah. Jumlah Staff Tata Usaha yang mengurus Administrasi
sekolah sebanyak 10 orang dan jumlah petugas keamanan sekolah sebanyak 5
orang 34
2019/2020 sebanyak 1070 siswa, dengan perincian:
a. Jumlah siswa kelas VII berjumlah 396 siswa terdiri dari 157 peserta didik
putra dan 239 peserta didik putri, masing-masing sebanyak 10 rombel
terdiri atas 36 siswa.
b. Jumlah siswa kelas VIII berjumlah 358 siswa terdiri dari 155 peserta didik
putra dan 203 peserta didik putri, masing-masing sebanyak 10 rombel
terdiri atas 34/36 siswa.
c. Jumlah siswa kelas IX berjumlah 346 siswa terdiri dari 165 peserta didik
putra dan 181 peserta didik putri, masing-masing sebanyak 10 rombel
terdiri atas 34/35 siswa 35
.
34 Dokumentasi SMPN 13 Makassar Pada Tanggal 20 Maret 2020
35 Dokumentasi SMPN 13 Makassar Pada Tanggal 20 Maret 2020
50
Sarana dan prasarana yang tersedia di SMP Negeri 13 Makassar termasuk
lengkap sehingga dapat mendukung berlangsungnya proses belajar mengajar
yang kondusif. Adapun sarana dan prasarana yang ada di SMP Negeri 13
Makassar antara lain:
a. Terdapat 30 ruang kelas yaitu: kelas VII sebanyak 10 kelas, kelas VIII
sebanyak 10 kelas, dan kelas IX sebanyak 10 kelas
b. Terdapat ruang kepala sekolah, ruang wakil kepala sekolah, ruang
kurikulum, ruang guru, ruang staff tata usaha, ruang BK, UKS, ruang 10
K, Koperasi, kantin, gudang, toilet, pos satpam dan parkir guru, dan
kolam ikan.
Laboratorium Komputer, Laboratorium IPA, Laboratorium Bahasa,
lapangan basket, lapangan Volly, lapangan bola, rumah kaca, taman baca,
Mushola beserta tempat wudhu
markas PMR, ruang OSIS dan Aula Kesenian36.
7. Kurikulum
Makassar adalah Kurikulum 2013 sejak tahun ajaran 2013/ 2014. Kurikulum
2013 di SMPN 13 Makassar diterapkan secara utuh mulai dari RPP, buku
cetak berbasis K13, proses belajar mengajar dalam kelas, dan proses evaluasi.
36 Dokumentasi SMPN 13 Makassar Pada Tanggal 20 Maret 2020
51
Kurikulum 2013 juga selalu mengalami revisi sehingga setiap pergantian
revisi maka diikuti dengan penggantian RPP, buku cetak yang dibagikan ke
siswa, serta penilaian.
evaluasi pembelajarannya pun harus berbasis K13 yaitu setiap kali pertemuan
dilakukan penilaian baik dalam bentuk tes maupun non tes serta adanya
penilaian karakter pada setiap mata pelajaran.
B. Hasil Penelitian Pada bab ini dipaparkan hasil penelitian tentang penanaman nilai-nilai
pendidikan karakter dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam di SMP Negeri
13 Makassar. Hasil penelitian diperoleh dari hasil wawancara dan pengamatan di
sekolah, khususnya pada saat pembelajaran Agama Islam berlangsung.
Wawancara dan pengamatan yang dilakukan telah menemukan nilai-nilai
pendidikan karakter di SMP Negeri 13 Makassar. Proses pembelajaran Pendidikan
Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar. Penanaman nilai-nilai pendidikan
karakter dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13
Makassar.
Dalam Permendikbud Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter
pada Satuan Pendidikan, pasal (2) ayat (1) dinyatakan bahwa Penguatan
Pendidikan Karakter (PPK) dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila
52
bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan,
cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca,
peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab. Nilai-nilai ini
sebagaimana dimaksud pada ayat tersebut merupakan perwujudan dari 5 (lima)
nilai utama yang saling berkaitan yaitu religiusitas, nasionalisme, kemandirian,
gotong royong, dan integritas yang terintegrasi dalam kurikulum.
Menurut guru Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar dari
hasil wawancara bahwa dalam pembelajaran Agama Islam pada tiga tingkatan
kelas, guru agama Islam memiliki tujuan pembelajaran Agama Islam yang
dirumuskan pada komptetensi spiritual yang tercantum dalam Perencanaan
Pembelajarannya. Implementasi nilai spiritual yang diterapkan oleh guru Agama
Islam secara umum diklasifikasi ke dalam beberapa kategori, yakni nilai aqidah,
ibadah, dan akhlak.
a. Nilai Aqidah
Nilai aqidah terdiri dari 4 (empat) nilai karakter Islam, yaitu nilai religius,
tanggungjawab, toleransi, dan jujur, dan masing-masing nilai karakter tersebut
memiliki indikator.
diberikan oleh warga masyarakat kepada beberapa masalah pokok dalam
kehidupan keagamaan yang bersifat suci sehingga dijadikan pedoman bagi tingkah
laku keagamaan warga masyarakat yang bersangkutan. Makna religiusitas
53
lebih luas (universal) daripada agama, karena agama terbatas pada ajaran-ajaran
atau aturan-aturan, berarti ia mengacu pada agama (ajaran) tertentu. Nilai religius
dapat berkaitan dengan hubungan manusai dengan Tuhannya, hubungan sesama
manusia, hubungan manusia dengan alam atau lingkungan, serta yang berkaitan
dengan pendidikan keagamaan.
Hasil wawancara dari 4 guru agama Islam, rata-rata menyatakan bahwa
nilai riligius selalu menjadi prioritas untuk ditanamkan kepada peserta didik
dalam setiap pembelajaran. Guru menambahkan bahwa kompetensi spiritual aspek
religius harus sejalan dengan penanaman kompeteni pengetahuan kepada peserta
didik. Hal ini tampak pada kutipan wawancara dua orang guru Agama Islam di SMP
Negeri 13 Makassar, yaitu (Muslihati guru Pendidikan Agma Islam kelas IX, 11
Maret 2020)
“Jika yang berkaitan dengan penanaman nilai karakter religius, saya kira itu
menjadi program dan tujuan utama kita sebagai guru agama Islam. Namanya
pelajaran Agama Islam, ya tentu harus berbasis religi, atau keislaman, dan itu
tanggung jawab kita sebagai guru untuk mengajari dan menanamkannya
kepada peserta didik agar dapat berguna bagi orang-orang di sekitarnya
kelak.”
Kutipan wawancara dengan (Muammar,guru Pendidikan Agama Islam kelas VII,12 Maret 2020)
“Kalau saya, ya sebagai guru agama Islam punya tanggung jawab besar kepada anak didik kami untuk menanamkan nilai religius. Saya selalu
berupaya dan mengulang-ulangi di setiap pembelajaran bahwa kalian sebagai hamba harus selalu menjaga hubungan baik dengan Tuhan,
melaksanakan segala yang dianjurkannya dan menjauhi segala larangannya.
Adapun bentuk tindakannya biasanya dilakukan dalam praktik pembelajaran. Selalu juga mengajarkan kepada anak didik terutama anak
kelas VII bagaimana menjalin hubungan antara sesama manusia, hubungan manusia dengan alam atau lingkungan, serta yang berkaitan dengan
pendidikan keagamaan”.
Data hasil waancara tersebut menunjukkan bahwa guru pendidikan agama
Islam di SMP Negeri 13 Makassar telah menanamkan nilai pendidikan karakter
religius pada peserta didiknya. Menurut guru sebagai responden bahwa mereka
merumuskan tujuan pembelajaran pada aspek kompetensi spiritual lebih utama
dengan tujuan menanamkan nilai karakter. Guru menyatakan pula bahwa
pembelajaran yang dilaksanakan harus mencerminkan pembelajaran agama Islam,
punya ciri khas dan tujuan yang berbeda dengan mata pelajaran lain.
Kutipan tersebut juga mengindikasikan wujud nilai pendidikan karakter
yang selalu ditanamkan oleh guru dalam pembelajaran agama Islam di SMP
Negeri 13 Makassar. Guru pendidikan Agama Islam menyatakan bahwa tanggung
jawabnya kepada peserta didik sangat besar untuk membekalinya dalam
pengetahuan spiritual.
ditemukan wujud penanaman nilai karakter oleh guru terhadap peserta didiknya.
Nilai karakter yang ditanamkan sebagai wujud religiusitas adalah peserta didik
dibiasakan berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran sebagai tampak pada
gambar berikut ini.
Gambar 4.1 Aktivitas Peserta Didik Sebelum Memulai Pembelajaran Agama Islam
Gambar tersebut mencerminkan wujud penanaman nilai karakter religius
kepada peserta didik. Dalam kegiatan ini, peserta didik dituntut agar mampu
memahami dan meningkatkan intensitas hubungannya dengan Tuhan sebagai
Sang Pencipta melalui berdoa kepada-Nya agar segala sesuatu yang dilakukan
(belajar selama di sekolah) diberikan kemudahan, kelancaran, dan terutama
keberkahan sehingga bernilai ibadah untuk dunia dan akhirat .37
Gambar 4.2 Aktivitas Peserta Didik dalam Melaksanakan Salat Wajib
37
Observasi proses kegiatan belajar mengajar pada tanggal 13 Maret 2020 pada kelas IX 2
56
Lebih lanjut, wujud penanaman nilai karakter religius kepada peserta didik
di SMP Negeri 13 Makassar tampak pada upaya guru meningkatkan kompetensi
spiritual peserta didik melalui kegiatan rutinitas salat, terutama salat berjamaah di
masjid sekolah ditambah salat sunnah lainnya. 38
Pada konteks lain, tampak wujud penanaman nilai karakter religius kepada
peserta didik melalui kegiatan keagamaan di sekolah, seperti mengikuti peringatan
hari besar keagamaan, seperti Maulid Nabi Besar Muhammad saw dan Isra Miraj.
Walaupun sifatnya kegiatan sekolah, tetapi hal ini diitegrasikan oleh guru sebagai
bagian pembelajaran agama Islam. Pada kegiatan ini, peserta didik diwajibkan
mengikuti semua rangkaian kegiatan dan guru memberikan tugas tertentu yang
bekaitan dengan materi, seperti meringkas materi ceramah, menuliskan hikmah
dari kegiatan tersebut, dan sebagainya.
2) Tanggung Jawab
mewakili kehendak untuk dapat melaksanakan semua tugas dengan sebaik
mungkin dengan tujuan untuk mengembangkan rasa tanggung jawab dalam diri
peserta didik. Tangggung jawab juga diartikan sebagai sikap dan perilaku untuk
melaksanakan tugas dan kewajaiban sebagaimana seharusnya dilakukan terhadap
diri sendir, masyarakat, lingkungan, negara, dan Tuhan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Pendidikan Agama Islam di
SMP Negeri 13 Makassar bahwa penanaman karakter bertangung jawab sering
38
Observasi proses kegiatan belajar mengajar pada tanggal 12 Maret 2020 pada kelas IX 2
57
berikut ini.
(Muslihati guru Pendidikan Agma Islam kelas IX, 11 Maret 2020)
“Kita sebagai guru juga punya tanggung jawab, yakni mendidik peserta didik. Jadi,
bukan hanya peserta didik yang punya tanggung jawab di sekolah. Jika
pertanyaannya tentang apakah Anda sering menanamkan nilai karakter tanggung
jawab di sekolah, ya jawabannya pasti seringlah sebagaimana telah tertuang dalam
program pembelajaran atau RPP yang disusun oleh setiap guru. Dalam RPP sudah
tergambar karakter yang ingin ditanamkan kepada peserta didik. Dalam kaitannya
dengan karakter tanggung jawab, ada beberapa komponen yang perlu ditanamkan
kepada peserta didik, di antaranya menanamkan dalam dirinya tentang perlunya
memajukan diri sendiri, menjaga kehormatan diri, komitmen pada tugas-tugas, dan
tentunya adalah bertanggung jawab atas keberhasilan sekolahnya dengan mengikuti
proses belajar dengan baik untuk sebagai wujud bukti kepada orang tuanya.” 42
Data wawancara tersebut menggambarkan bahwa karakter tanggung jawab
merupakan salah satu wujud karakter yang sering ditanamkan kepada peserta
didik di SMP Negeri 13 Makassar. Ada beberapa wujud karakter tanggung jawab,
seperti melatih peserta didik agar mampu memajukan diri sendiri, menjaga
kehormatan diri, komitmen pada tugas-tugas, dan tentunya adalah bertanggung
jawab atas keberhasilan sekolahnya dengan mengikuti proses belajar dengan baik
untuk sebagai wujud bukti kepada orang tuanya.
Pada gambar berikut ini juga menggambarkan bentuk penanaman karakter
tanggung jawab kepada peserta didik di SMP Negeri 13 Makassar.
58
Pada gambar tersebut tampak kegiatan pembelajaran diskusi dalam belajar
Agama Islam di SMP Negeri 13 Makassar. Menurut guru bahwa konteks kegiatan
tersebut diharapkan dapat membentuk rasa tanggung jawab kepada peserta didik.
Ketika peserta didik belajar kelompok, semua memiliki beban tugas masing-
masing untuk diselesaikan. 39
Pada dasarnya, konsep toleransi erat hubungannya dengan sikap jiwa
terhadap segala sesuatu yang berbeda. Sikap jiwa yang dimaksudkan adalah sikap
untuk menghormati, menghargai, bertenggang rasa, dan memberi kesempatan
terhadap keberadaan segala sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di dalam
diri kita. Konsep toleransi juga mengandung arti sebagai suatu sikap untuk tidak
menghina, tidak mencela, tidak menghujat, tidak merasa benar sendiri, dan tidak
ingin