penanaman nilai-nilai moral dalam keluarga beda...

of 103/103
PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL DALAM KELUARGA BEDA AGAMA (Studi Kasus pada Tiga Keluarga Islam dan Kristen di Desa Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang) SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam Disusun oleh: LILIS HANDAYANI 11111149 JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA 2016

Post on 30-Apr-2020

33 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL

    DALAM KELUARGA BEDA AGAMA

    (Studi Kasus pada Tiga Keluarga Islam dan Kristen di Desa Doplang

    Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang)

    SKRIPSI

    Diajukan untuk Memperoleh Gelar

    Sarjana Pendidikan Islam

    Disusun oleh:

    LILIS HANDAYANI

    11111149

    JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

    FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

    INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

    SALATIGA

    2016

  • ii

    PERSETUJUAN PEMBIMBING

    Lamp : 4 (empat) eksemplar

    Hal : Pengajuan Naskah Skripsi

    Kepada Yth.

    Dekan FTIK IAIN Salatiga

    Di Salatiga

    Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Disampaikan dengan hormat, Setelah dilaksanakan bimbingan, arahan dan

    koreksi, maka naskah skripsi mahasiswa:

    Nama : Lilis Handayani

    NIM : 11111149

    Judul : PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL DALAM

    KELUARGA BEDA AGAMA (Studi Kasus pada Tiga

    Keluarga Islam dan Kristen di Desa Doplang Kecamatan

    Bawen Kabupaten Semarang)

    dapat diajukan kepada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN

    Salatiga untuk diujikan dalam sidang munaqasyah.

    Demikian persetujuan pembimbing ini dibuat, untuk menjadi perhatian dan

    digunakan sebagaimana mestinya.

    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Salatiga, 11 Januari 2016

    Pembimbing

    Dr. Mukti Ali, M.Hum.

    NIP. 19750905 200112 1001

  • iii

    SKRIPSI

    PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL DALAM KELUARGA BEDA AGAMA

    (Studi Kasus pada Tiga Keluarga Islam dan Kristen di Desa Doplang

    Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang)

    DISUSUN OLEH

    LILIS HANDAYANI

    NIM : 11111149

    Telah dipertahankan di depan Panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan Pendidikan

    Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri

    (IAIN) Salatiga, pada tanggal 27 Januari 2016 dan telah dinyatakan memenuhi

    salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana S1 Kependidikan Islam

    Susunan Panitia Penguji

    Ketua Penguji : Fatchurrohman, S.Ag., M.Pd. _________________

    Sekretaris Penguji : Dr. Mukti Ali, M.Hum. _________________

    Penguji I : Dr. Muh. Saerozi, M.Ag. _________________

    Penguji II : Rovi’in, M.Ag. _________________

    Salatiga, 02 Februari 2016

    Dekan

    FTIK IAIN Salatiga

    Suwardi, M.Pd.

    NIP. 19670121 199903 1 002

  • iv

    PERNYATAAN KEASLIAN

    Saya yang bertanda tangan dibawah ini:

    Nama : Lilis Handayani

    ` NIM : 11111149

    Jurusan : Pendidikan Agama Islam

    Fakultas : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

    Judul : PENANAMAN NILAI-NILAI MORAL DALAM

    KELUARGA BEDA AGAMA (Studi Kasus pada Tiga

    Keluarga Islam dan Kristen di Desa Doplang Kecamatan

    Bawen Kabupaten Semarang)

    menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar merupakan hasil karya sendiri, bukan

    jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat

    dalam skripsi ini dikutip dan dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

    Bawen, 09 Januari 2016

    Yang menyatakan,

    Lilis Handayani

  • v

    MOTTO DAN PERSEMBAHAN

    MOTTO

    Sesuatu yang belum dikerjakan, sering kali mustahil. Kita baru yakin

    kalau kita telah berhasil melakukannya dengan baik.

    Berdoa dan berusaha adalah kunci dari keberhasilan.

    PERSEMBAHAN

    Untuk kedua orang tuaku yang selalu mendo’akanku

    Untuk Kakek dan Nenekku yang saya hormati

    Untuk Adekku yang aku sayang

    Untuk saudara-saudaraku tercinta

    Untuk teman terbaikku yang memberikan semangat dan do’a

    Untuk dosen-dosen IAIN Salatiga yang telah membagi ilmunya

    Untuk teman-teman seperjuanganku yang telah berbagi Semangat

  • vi

    KATA PENGANTAR

    بسم اهلل الرمحن الرحيم

    Asslamualaikum wr. wb.

    Alhamdulillahirabbil’alamin. Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah

    memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

    penelitian dan penulisan skripsi ini. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada

    junjungan kita baginda Rasulullah SAW yang selalu kami harapkan syafa’atnya.

    Penulis menyadari keterbatasan pengetahuan yang dimiliki, sehingga bimbingan,

    pengarahan dan bantuan telah banyak penulis peroleh dari berbagai pihak. Oleh

    karena itu, penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada yang

    terhormat:

    1. Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga.

    2. Suwardi, M.Pd. selaku Dekan FTIK IAIN Salatiga.

    3. Siti Rukhayati, M.Ag. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam.

    4. Dra. Ulfah Susilawati, M.Si. selaku Pembimbing Akademik yang telah

    membimbing penulis dalam perkuliahan.

    5. Dr. Mukti Ali, M.Hum. selaku pembimbing skripsi yang telah

    meluangkan waktu, tenaga, dan pikiranya guna membimbing penulis

    hingga terselesaikannya skripsi ini.

    6. Seluruh dosen dan staff IAIN Salatiga, terimakasih atas ilmu yang

    diberikan.

  • vii

    7. Orang tuaku dan adekku, Bapak Mudakir, Almarhumah Ibu Sukiyari dan

    Adek Farida tersayang yang selalu membantu, mendo’akan dan memberi

    dukungan.

    8. Kakek dan nenekku yang memberikan do’a dan dukungan.

    9. Teman terbaikku Hanif Ahmad Saifuddin yang telah mendo’akan,

    membantu dan selalu meluangkan waktunya untukku disaat sedih

    maupun senang.

    10. Teman-teman Jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan 2011, Eva,

    Chamidah, laila, nisa dan lain-lain yang telah memberikan semangat.

    11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah

    berperan dan membantu hingga skripsi ini dapat terselesaikan.

    Akhirnya penulis menyadari atas keterbatasan yang dimiliki dalam

    menyelesaikan penulisan skripsi ini, sehingga masih banyak ditemui kekurangan

    dan ketidak sempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat

    penulis harapkan. Namun demikian sekecil apapun karya ini, penulis berharap

    skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menjadi ilmu yang berkah.

    Teriring do’a dan harapan semoga amal baik dan jasa semua pihak tersebut

    di atas akan mendapat balasan yang melimpah dari Allah SWT. Amin.

    Penulis

  • viii

    ABSTRAK

    Handayani, Lilis. 2015. Penanaman Nilai-Nilai Moral dalam Keluarga Beda

    Agama (Studi Kasus pada Tiga Keluarga Islam dan Kristen di Desa

    Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang). Skripsi. Fakultas

    Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Institut

    Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dr. Mukti Ali, M.Hum..

    Kata Kunci: Penanaman, Nilai-Nilai Moral dan Keluarga Beda Agama

    Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penanaman nilai-nilai moral

    pada keluarga beda agama. Pertanyaan yang ingin dijawab adalah (1) Bagaimana

    cara orang tua menanamkan nilai-nilai moral pada anak dalam keluarga beda

    agama?, (2) Apa masalah yang muncul dalam menanamkan nilai-nilai moral pada

    anak dalam keluarga beda agama? dan (3) Bagaimana cara memecahkan masalah

    yang muncul dalam menanamkan nilai-nilai moral pada anak dalam keluarga beda

    agama?.

    Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian lapangan (field research)

    yang dilakukan di Desa Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang.

    Pelaksanaannya menggunakan metode pendekatan kualitatif diskriptif analisis

    yang umumnya menggunakan strategi multi metode yaitu wawancara,

    pengamatan, serta penelaahan dokumen. pengolahan data dalam penelitian ini

    dilakukan secara rasional dengan menggunakan pola induktif.

    Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah cara menanamkan nilai-

    nilai moral pada anak dalam keluarga beda agama meliputi: (1) menanamkan

    nilai-nilai religiusitas yaitu menanamkan keyakinan dari usia dini, menjalankan

    praktik agama dan memberikan ilmu pengetahuan agama, (2) menanamkan nilai-

    nilai disiplin yaitu menanamkan disiplin dengan memberikan hukuman,

    penghargaan dan menanamkan disiplin secara konsistensi dan (3) menanamkan

    nilai-nilai akhlak yaitu mengajarkan kesopanan, kesederhanaan dan pembiasaan

    untuk menjauhkan perbuatan yang tercela. Masalah yang mucul dalam

    menanamkan nilai-nilai moral pada anak adalah perbedaan agama di dalam

    keluarga, kurangnya pengetahuan orang tua dalam mengajarkan nilai-nilai moral

    pada anak, rendahnya motivasi dan semangat anak dalam melakukan nilai-nilai

    moral yang ditanamkan orang tua, sosialisasi yang kurang dengan masyarakat

    sekitar dan orang tua yang terkesan tidak perhatian terhadap perkembangan anak.

    Cara memecahkan masalah yang dilakukan keluarga beda agama dalam

    menanamkan nilai-nilai moral pada anak: menanamkan sikap toleransi dan hidup

    rukun di dalam keluarga dan masyarakat, mengikutsertakan anak pada Taman

    Pendidikan Al qur’an dan majlis ta’lim, meningkatkan motivasi dan semangat

    anak dalam melakukan nilai-nilai moral yang ditanamkan orang tua, bersosialisasi

    dengan masyarakat sekitar dan perhatian kedua orang tua dalam perkembangan

    nilai-nilai moral anak.

  • ix

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i

    PERSETUJUAN PEMBIMBING...................................................................... ii

    PENGESAHAN KELULUSAN ......................................................................... iii

    PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .......................................................... iv

    MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...................................................................... v

    KATA PENGANTAR ......................................................................................... vi

    ABSTRAK ........................................................................................................... viii

    DAFTAR ISI ........................................................................................................ ix

    DAFTAR TABEL................................................................................................ xii

    DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xiii

    BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1

    A. Latar Belakang Masalah ......................................................................... 1

    B. Rumusan Masalah ................................................................................... 7

    C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 7

    D. Kegunaan Penelitian ............................................................................... 8

    E. Penegasan Istilah ..................................................................................... 8

    F. Telaah Pustaka ........................................................................................ 9

    G. Metode Penelitian ................................................................................... 13

    H. Sistematika Penulisan ............................................................................. 19

  • x

    BAB II KAJIAN PUSTAKA .............................................................................. 20

    A. Penanaman Nilai-Nilai Moral ................................................................. 20

    1. Pengertian Penanaman Nilai-Nilai Moral ........................................ 20

    2. Nilai-Nilai Moral yang harus Ditanamkan terhadap Anak .............. 22

    B. Keluarga Beda Agama ............................................................................ 36

    1. Pengertian Pernikahan Beda Agama ................................................ 36

    2. Pernikahan antara Orang yang Berlainan Agama Menurut Hukum

    Islam ................................................................................................. 37

    3. Pernikahan Beda Agama Menurut Agma-agama Di Indonesia ...... 39

    BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN .......................... 43

    A. Profil Desa Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang ............. 43

    1. Letak dan Keadaan Geografis .......................................................... 43

    2. Keadaan Penduduk .......................................................................... 43

    3. Data Responden ............................................................................... 48

    B. Profil Subjek Penelitian .......................................................................... 48

    1. Profil Keluarga Bapak JK ................................................................ 48

    2. Profil Keluarga Bapak DC ............................................................... 49

    3. Profil Keluarga Bapak JN ............................................................... 50

    C. Temuan Penelitian .................................................................................. 51

    1. Cara Orang Tua Menanamkan Nilai-Nilai Moral pada Anak dalam

    Keluarga Beda Agama .................................................................... 51

    2. Masalah yang Muncul dalam Menanamkan Nilai-Nilai Moral pada

    Anak dalam Keluarga Beda Agama ................................................ 58

  • xi

    3. Cara Memecahkan Masalah yang Muncul dalam Menanamkan Nilai-

    Nilai Moral pada Anak dalam Keluarga Beda Agama ................... 60

    BAB IV PEMBAHASAN .................................................................................... 63

    A. Cara Orang Tua Menanamkan Nilai-Nilai Moral pada Anak dalam

    Keluarga Beda Agama ....................................................................... 63

    B. Masalah yang Muncul dalam Menanamkan Nilai-Nilai Moral pada

    Anak dalam Keluarga Beda Agama .................................................. 71

    C. Cara Memecahkan Masalah yang Muncul dalam Menanamkan Nilai-

    Nilai Moral pada Anak dalam Keluarga Beda Agama ...................... 73

    BAB V PENUTUP ............................................................................................... 76

    A. Kesimpulan......................................................................................... 76

    B. Saran ................................................................................................... 77

  • xii

    DAFTAR TABEL

    Tabel 3.1 Jumlah Penduduk Menurut Usia .......................................................... 43

    Tabel 3.2 Jumlah penduduk Menurut Agama ...................................................... 44

    Tabel 3.3 Jumlah Penduduk Menurut Pendidikan ............................................... 45

    Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Menurut Mata Pencaharian ..................................... 46

    Tabel 3.5 Jumlah Kepala Keluarga ...................................................................... 47

    Tabel 3.6 Data Responden Keluarga Pasangan Beda Agama .............................. 48

  • xiii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1 Daftar Riwayat Hidup

    Lampiran 2 Daftar Nilai SKK

    Lampiran 3 Lembar Konsultasi

    Lampiran 4 Daftar Pertanyaan

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang sangat heterogen,

    di mana terdiri dari bermacam-macam suku bangsa, beraneka ragam budaya

    dan perbedaan agama. Hal ini sangat berpengaruh dalam pergaulan sehari-

    hari serta kehidupan bermasyarakat. Masyarakat dapat bergaul dengan bebas

    dengan pemeluk agama lain, tanpa membeda-bedakan agama satu dengan

    yang lain. Keanekaragaman yang ada tidak menjadikan bangsa Indonesia

    terpecah dan saling memunculkan sikap fanatik antara satu dengan lainnya.

    Kerukunan dapat terjalin dengan baik jika dalam diri masing-masing

    masyarakat tertanam sikap toleransi dan mau menerima pendapat orang lain

    sehingga tidak memunculkan sikap curiga terhadap kelompok atau pemeluk

    agama lain. Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku dan agama yang

    berbeda-beda, dalam kondisi kemajemukan seperti itu masyarakat satu

    dengan yang lain hampir dipastikan sulit untuk menghindari dari persentuhan

    dan pergaulan dengan orang yang berbeda agama. Pada posisi seperti ini

    ketertarikan pria atau wanita yang berbeda agama mungkin terjadi dan

    ketertarikan tersebut bisa berujung pada pernikahan hampir pasti tidak

    terelakkan. Dengan kata lain, persoalan pernikahan antar agama hampir pasti

    terjadi pada setiap masyarakat yang majemuk seperti di Indonesia.

  • 2

    Pernikahan beda agama merupakan salah satu akibat dari interaksi

    sosial yang terbina dalam masyarakat majemuk. Pernikahan beda agama pada

    dasarnya terbentuk dari ikatan pernikahan atau perkawinan yang

    dilangsungkan antar pasangan yang berbeda agama satu sama lain.

    Perkawinan adalah sebuah akad yang mengikat kedua pihak yang setara yaitu

    laki-laki dan perempuan yang masing-masing telah memenuhi persyaratan

    berdasarkan hukum yang berlaku atas dasar kerelaan dan kesukaan kedua

    belah pihak untuk membentuk keluarga (Kamal dan Mulia, 2003:1).

    Indonesia sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, yang sila pertamanya

    ialah Ketuhanan Yang Maha Esa, maka antara perkawinan dengan agama

    mempunyai hubungan yang erat, karena perkawinan bukan saja mempunyai

    unsur jasmani tetapi juga mempunyai unsur rohani yang memegang peranan

    penting. Sebuah keluarga akan terasa lengkap jika telah dikaruniai anak,

    memiliki keturunan merupakan salah satu tujuan dari pernikahan.

    Manusia dilahirkan sebagai makhluk yang telah memiliki potensi-

    potensi bawaan atau fitrah. Dengan pengajaran, bimbingan dan latihan ke

    depannya seseorang akan mampu mengembangkan kemampuan atau potensi

    yang telah dimilikinya. Oleh sebab itu, orang tua mempunyai kewajiban

    untuk mendidik anaknya sesuai dengan ajaran agama Islam karena orang

    tualah yang mempunyai pengaruh besar terhadap kepribadian dan akhlak

    anaknya. Dengan kata lain, keluarga merupakan wadah pertama dan utama

    bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Di dalam keluarga itulah akan

  • 3

    berkembang dan terbentuknya kepribadian anak serta tempat untuk belajar

    berinteraksi sosial.

    Dalam pandangan Islam, anak adalah amanat yang dibebankan oleh

    Allah SWT kepada orang tuanya, karena manusia milik Allah SWT. Mereka

    harus mengantarkan anaknya untuk mengenal dan menghadapkan diri kepada

    Allah SWT (Thoha, 1996:103). Anak adalah pengikat hati dalam keluarga

    yang diamanatkan oleh Allah kepada bapak dan ibu mereka. Anak yang

    shaleh adalah sumber kebahagiaan, namun sebaliknya anak juga bisa menjadi

    fitnah bagi kedua orang tuanya. Oleh karena itu orang tua bertanggung jawab

    untuk menanamkan nilai-nilai moral terhadap anak. Penanaman nilai-nilai

    moral anak adalah termasuk bidang-bidang yang harus mendapat perhatian

    penuh oleh keluarga. Dikarenakan penanaman nilai-nilai moral merupakan

    hal yang sangat penting untuk anak. Penanaman nilai-nilai moral juga sangat

    penting bagi masa depan anak.

    Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting yang berguna bagi

    kemanusiaan. Nilai merupakan suatu yang ada hubungannya dengan subyek,

    sesuatu yang dianggap bernilai jika pribadi itu merasa bahwa sesuatu itu

    bernilai. Nilai difungsikan untuk mengarahkan, mengendalikan, dan

    menentukan kelakuan seseorang, karena nilai dijadikan standar perilaku. Nilai

    juga mempunyai arti sesuatu dianggap memiliki nilai apabila sesuatu tersebut

    secara instrinsik memang berharga. Moral adalah ukuran baik-buruknya

    seseorang, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakat, dan

    warga negara. Sedangkan pendidikan moral adalah pendidikan untuk

  • 4

    menjadaikan anak manusia bermoral dan manusiawi. Moral juga mempunyai

    arti prinsip baik atau buruk yang ada dan melekat dalam diri individu atau

    seseorang. Walaupun moral itu berada dalam diri individu, tetapi moral

    berada dalam suatu sistem yang berwujut aturan. Moral dan moralitas

    memiliki sedikit perbedaan, karena moral adalah prinsip baik-buruk

    sedangkan moralitas merupakan kualitas pertimbangan baik-buruk. Dengan

    demikian, hakekat dan makna moralitas bisa dilihat dari cara individu yang

    memiliki moral dalam mematuhi maupun menjalankan aturan. moral

    memegang peranan penting dalam kehidupan manusia yang berhubungan

    dengan baik atau buruk terhadap tingkah laku manusia. Tingkah laku ini

    mendasarkan diri pada norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

    Seseorang dikatakan bermoral, bilamana orang tersebut bertingkah laku

    sesuai dengan norma-norma yang terdapat dalam masyarakat, baik apakah itu

    norma agama, norma hukum dan sebagainya. Jadi, nilai moral adalah sifat-

    sifat atau hal-hal yang penting yang berguna bagi kemanusiaan ukuran baik

    atau buruknya seseorang, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga

    masyarakat, dan warga negara.

    Nilai merupakan ukuran atau pedoman perbuatan manusia. Karena

    itulah maka nilai itu diungkapkan dalam bentuk norma dan norma ini

    mengatur tingkah laku manusia. Diantara beberapa macam nilai, ada nilai

    etik. Nilai-nilai etik ini dapat berupa antara lain nilai-nilai kemanusiaan atau

    nilai-nilai yang bersumberkan pada keyakinan atau kepercayaan dan religi.

    Nilai etik atau yang bersifat susila, memberi kualitas perbuatan manusia yang

  • 5

    bersifat susila, sifatnya universal tidak tergantung waktu, ruang dan keadaan.

    Nilai etik tersebut diwujudkan dalam norma moral. Norma moral merupakan

    landasan perbuatan manusia, yang sifatnya tergantung pada tempat, waktu

    dan keadaan. Sehingga norma moral itu dapat berubah-ubah sesuai dengan

    waktu,tempat dan keadaannya (Daroeso, 1986:26-27).

    Tidak bisa disangkal, agama mempunyai hubungan erat dengan moral.

    Setiap agama mengandung suatu ajaran moral. Ajaran moral yang terpendam

    dalam suatu gama dapat dipelajari secara kritis dan sisitematis dengan tetap

    tinggal dalam konteks agama itu. Upaya seperti itu sering disebut teologi

    moral. Teologi adalah refleksi kritis dan sistematis yang dilakukan oleh

    penganut agama tentang agamanya sendiri. Jadi, teologi moral hanya

    merupakan sebagian teologi lebih luas tentang agama. Perlu ditekankan,

    studi teologi baik teologi moral maupun cabang-cabang teologi lain hanya

    bisa dijalankan oleh penganut agama itu sendiri. Tentu saja setiap orang bisa

    mempelajari agama apa saja. Tetapi usaha terakhir ini adalah studi agama,

    yang mengandung agama dari luar, bukan teologi. Sebab, teologi adalah

    refleksi orang beriman tentang keimananya, jadi, dengan tidak meninggalkan

    agamanya atau dengan tidak memilih sudut pandang di luar agamanya.

    Demikian juga teologi moral dipraktekkan oleh penganut agama itu sendiri.

    Hanya bisa dicacat lagi, tidak perlu selalu dipakai nama teologi moral. Jika

    kita membaca tentang etika kristen, etika islam, etika budha, yang dimaksud

    tidak lain daripada teologi moral tadi (Bertens, 1993:35).

  • 6

    Sejak usia dini anak harus ditanamkan nilai-nilai moral yang baik

    sehinga ketika anak menginjak usia dewasa, anak tidak akan mengembangkan

    sikap destruktif atau cenderung ke arah buruk. Pertanyaannya, nilai-nilai

    moral apa saja yang harus ditanamkan kepada anak untuk membentuk

    karakter yang baik?.

    Pertama, nilai moral yang harus diajarkan adalah religiusitas.

    Religiusitas adalah aspek religi yang telah dihayati oleh individu didalam

    hati. Kedua, disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui

    proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan,

    kepatuhan, kesetiaan, keteraturan atau ketertiban. Ketiga, akhlak adalah

    perbuatan yang dilakukan dengan mendalam dan tanpa pemikiran. Namun

    perbuatan itu telah mendarah daging dan melekat dalam jiwa, sehingga saat

    melakukan perbuatan tidak lagi memerlukan pertimbangan dan pemikiran.

    Penanam nilai-nilai moral terhadap anak tidak akan menjadi masalah

    bagi keluarga yang tidak berbeda agama. Sedangkan apabila itu terjadi dalam

    keluarga beda agama masalah-masalah itu akan muncul. Dalam menanamkan

    nilai-nilai moral terhadap anak, keluarga beda agama sudah pasti akan

    mendapatkan dampak positif maupun negatif dari pernikahan tersebut.

    Sebagaimana latar belakang tersebut, maka penting untuk dilakukan

    penelitian terhadap masyarakat terkait. Untuk mengetahui penanam nilai-nilai

    moral dalam keluaga beda agama. Hal menarik yang ingin penulis teliti

    adalah bagaimana cara orang tua menanamkan nilai-nilai moral pada anak

    dalam keluarga beda agama, apa masalah yang muncul dalam menanamkan

  • 7

    nilai-nilai moral pada anak dalam keluarga beda agama dan bagaimana cara

    memecahkan masalah yang muncul dalam menanamkan nilai-nilai moral

    pada anak dalam keluarga beda agama. Dan penulis menentukan judul yang

    sesuai dari penelitian ini adalah “Penanaman Nilai-nilai Moral dalam

    Keluarga Beda Agama (Studi Kasus pada Tiga Keluarga Islam dan Kristen di

    Desa Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang)”.

    B. Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang masalah sebagaimana tersebut di atas

    maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

    1. Bagaimana cara orang tua menanamkan nilai-nilai moral pada anak

    dalam keluarga beda agama?

    2. Apa masalah yang muncul dalam menanamkan nilai-nilai moral pada

    anak dalam keluarga beda agama?

    3. Bagaimana cara memecahkan masalah yang muncul dalam menanamkan

    nilai-nilai moral pada anak dalam keluarga beda agama?

    C. Tujuan Penelitian

    Tujuan dari penelitian ini adalah:

    1. Untuk mengetahui cara orang tua menanamkan nilai-nilai moral pada

    anak dalam keluarga beda agama.

    2. Untuk mengetahui masalah yang muncul dalam menanamkan nilai-nilai

    moral pada anak dalam keluarga beda agama.

    3. Untuk mengetahui cara memecahkan masalah yang muncul dalam

    menanamkan nilai-nilai moral pada anak dalam keluarga beda agama.

  • 8

    D. Kegunaan Penelitian

    Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat kepada

    semua pihak terkait, baik kalangan akademis maupun masyarakat umum.

    Manfaat penelitian ini adalah:

    1. Secara Teoritis

    Penelitian ini diharapkan memperkaya kajian mengenai keluarga

    dalam Islam, khususnya pernikahan beda agama.

    2. Secara Praktis

    Dapat digunakan sebagai pijakan untuk pembinaan keagamaan

    bagi keluarga pasangan beda agama.

    E. Penegasan Istilah

    Untuk menghindari terjadinya silang pengertian dalam memahami

    judul yang telah kami sebutkan diatas, maka penulis menegaskan beberapa

    istilah pokok yang terdapat dalam rumusan judul seperti berikut ini:

    1. Penanaman nilai-nilai moral

    Penanaman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:1198)

    adalah perihal, perbuatan, cara menanamkan. Nilai menurut kamus besar

    Bahasa Indonesia (2007:783) adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting

    yang berguna bagi kemanusiaan. Nilai merupakan suatu yang ada

    hubungannya dengan subyek, sesuatu yang dianggap bernilai jika pribadi

    itu merasa bahwa sesuatu itu bernilai. Jadi nilai adalah sesuatu yang

    bermanfaat dan berguna bagi manusia sebagai tingkah laku (Imam dan

    Kholifah, 2009:4). Moral menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

  • 9

    (2007:983) adalah ajaran tentang baik buruk yang diterima umum

    mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya. Sedangkan

    penanaman nilai-nilai moral yang dimaksud dalam skripsi ini adalah

    menanamkan sifat-sifat yang berguna bagi kemanusiaan mengenai

    perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya.

    2. Pernikahan Beda Agama

    Pernikahan (perkawinan) dalam Islam merupakan suatu akad atau

    transaksi. Perkawinan adalah sebuah akad atau kontrak yang mengikat

    dua pihak yang setara, yaitu laki-laki dan perempuan yang masing-

    masing telah memenuhi persyaratan berdasarkan hukum yang berlaku

    atas dasar kerelaan dan kesukaan kedua belah pihak untuk membentuk

    keluarga (Kamal dan Mulia, 2003:1). Menurut Undang-Undang Nomor 1

    Tahun 1974 pengertian pernikahan adalah ikatan lahir batin antara

    seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan

    membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal

    berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Adji, 1989:21). Sedangkan

    pernikahan beda agama yang dimaksud dalam skripsi ini adalah

    perkawinan antara seseorang yang beragama Islam (Muslim) dan orang

    yang bukan Islam (non-Muslim).

    F. Telaah Pustaka

    Penelitian terdahulu dibutuhkan untuk memperjelas, menegaskan,

    melihat kelebihan dan kelemahan berbagai teori yang digunakan penulis lain

    dalam penelitian atau pembahasan masalah yang serupa. Selain itu penelitian

  • 10

    terdahulu perlu disebutkan dalam sebuah penelitian untuk memudahkan

    pembaca melihat dan membandingkan perbedaan teori yang digunakan dan

    perbedaaan hasil kesimpulan oleh penulis dengan peneliti yang lain dalam

    melakukan pembahasan tema yang hampir serupa. Berikut ini penelitian yang

    mempunyai topik atau tema yang hampir serupa dengan skripsi ini:

    1. Penelitian yang dilakukan oleh Yaquta Mustofiyah dalam skripsinya

    yang berjudul Pendidikan Agama Islam Pada Anak Dalam Keluarga

    Beda Agama di Kelurahan Sidorejo Lor. Penelitian ini merupakan

    penelitian kualitatif, Untuk mendapatkan data yang konkrit metode yang

    penulis gunakan adalah metode observasi, metode wawancara, metode

    dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian disusun dan dianalisis

    dengan menggunakan reduksi data untuk penyusunan data dan

    mengambil kesimpulan. Dalam penelitianya dijelaskan bahwa

    keberagaman anak pada keluarga beda agama di Kelurahan Sidorejo Lor,

    Kota Salatiga tahun 2012 adalah anak melaksanakan sholat lima waktu

    secara berjama’ah di masjid atau sholat di rumah sendiri, Belajar mengaji

    di TPA, melaksanakan puasa ramadhan, melaksanakan sholat jum’at,

    mengikuti pengajian-pengajian di masjid. Pendidikan agama Islam yang

    di berikan orang tua terhadap anak dalam keluarga beda agama antara

    lain yaitu: Penanaman akidah, penanaman ibadah, pembentukan akhlak.

    Masalah yang muncul dalam pendidikan agama Islam pada anak dalam

    keluarga beda agama: adanya perbedaan keinginan terhadap agama anak,

    kurangnya pengetahuan agama Islam pada orang tua, orang tua yang

  • 11

    selalu sibuk dengan pekerjaan, rendahnya semangat atau motivasi

    beribadah anak. Solusi yang ditempuh untuk mengatasi masalah-masalah

    tersebut adalah penanaman siskap toleransi antara anggota keluarga,

    menanamkan kesadaran hidup rukun, memberi kesempatan yang sama

    untuk beribadah pada masing-masing anggota keluarga, rajin membaca

    buku keagamaan, bersosialisasi dengan lingkungan luar, mengikuti

    kajian-kajian keagamaan, memberikan buku-buku kajian keagamaan.

    2. Penelitian yang dilakukan oleh Mohammad Yasin dalam skripsinya yang

    berjudul Pola Pengasuhan Anak terhadap Kepenganutan Agama Studi

    Kasus pada Lima Keluarga Beda Agama. Penelitian ini mengunakan

    metode kualitatif bertipe deskriptif, data penelitian ini diambil dengan

    teknik observasi dengan tujuan melihat secara nyata dan faktual

    mengunakan wawancara tak terstruktur namun terfokus. Dalam

    penelitianya dijelaskan bahwa pola asuh anak terhadap agamanya

    cederung otoriter, berdampak pada konversi agama dan anak cenderung

    bingung dalam memilih agama yang diyakininya benar.

    3. Penelitian yang dilakukan Azazi dalam skripsinya yang berjudul Hak

    Memilih Agama Bagi anak dari Pasangan Beda Agama dalam Perspektif

    Hak Asasi Manusia. Penelitian ini mengunakan jenis penelitian kualitatif,

    untuk mendapatkan data penulis menggunaka dua cara yaitu

    pengumpulan data lapangan dan kepustakaan. Dalam penelitiannya di

    jelaskan bahwa kebebasan memilih agama merupakan hak-hak asasi

    lainya, karena hak ini bersifat individual dan langsung berkaitan dengan

  • 12

    martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan orang tua yang

    berbeda agama memberikan hak kebebasan kepada anak memilih

    agamanya dengan melalui bimbingan dan pendidikan agama sampai anak

    dapat menentukan pilihannya sepenuh hati tanpa ada paksaan-paksaan.

    4. Penelitian yang dilakukan oleh Minarti Subakti dalam skripsinya yang

    berjudul Pemilihan Agama pada Anak dari Perkawinan Beda Agama.

    Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan sebuah

    model studi kasus. informasi dari para informan pokok diperoleh dengan

    melakukan wawancara mendalam dan dengan menggunakan life history

    method. Dalam penelitiannya peneliti menyimpulkan walaupun memiliki

    agama yang berbeda dalam satu keluarga, mereka selalu berusaha

    mengutamakan perdamaian tanpa menyinggung masalah perbedaan

    agama diantara mereka. mereka tidak pernah mengganggu saudara yang

    berbeda agama dengannya. Dengan demikian, sehari-sehari terlihat

    bahawa kehidupan beragama bukanlah suatu masalah yang harus mereka

    besar-besarkan. karena sebagian besar dari mereka bukanlah penganut

    agama yang fanatik. Di daerah tersebut masyarakatnya lebih

    mengutamakan hubungan baik dalam sistem adat-istiadat mereka. Jika

    ada anggota keluarga yag dikucilkan karena keluar dari agama yang telah

    mereka anut dan telah berpindah ke agama yang lain, hubungan tali

    silaturahmi mereka masih tetap bisa terjalin melalui acara adat-istiadat

    yang mengharuskan kehadiran mereka. jadi dalam hal ini kebudayaan

    atau adat-istiadat yang menjadi pengikat dan menyatukan mereka.

  • 13

    5. Penelitian yang dilakukan Oktafiani dalam sikripsinya yang berjudul

    Problematika Pengamalan Ibadah Anak pada Keluarga Beda Agama

    (Studi Kasus pada Masyarakat Ngentak RT 10 RW V Kelurahan

    Kutowinangun, Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga). Penelitian ini

    mengunakan jenis penelitian Kualitatif dan untuk mendapatkan data

    digunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam

    penelitian ini dijelaskan bahwa cara pengamalan ibadah anak yang

    tinggal di lingkungan keluarga beda agama di dukuh Ngentak adalah

    dengan menjalankan sholat lima waktu, puasa ramadhan, membayar

    zakat, dan ibadah-ibadah umum lainnya sedangkan anak yang beragama

    non islam mereka menjalankan ibadah ke gereja setiap hari Minggu.

    Problem pengamalan ibadah anak yang tinggal di lingkungan beda agama

    di dukuh Ngentak antara lain yaitu: anak kurang mampu mendalami

    ajaran agama yang mereka yakini, anak kurang menjiwai ketika

    beribadah di rumah, rendahnya semangat atau motivasi beribadah anak.

    solusi yang di tempuh untuk mengatasi problem-problem tersebut adalah:

    bersosialisasi dengan masyarakat luar, aktif mengikuti kajian-kajian

    keagamaan, banyak membaca buku-buku keagamaan.

    G. Metode Penelitian

    1. Jenis dan pendekatan penelitian

    Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian lapangan (field

    research) dalam pelaksanaannya menggunakan metode pendekatan

    kualitatif diskriptif analisis yang umumnya menggunakan strategi multi

  • 14

    metode yaitu wawancara, pengamatan, serta penelaahan dokumen atau

    studi documenter yang antara satu dengan yang lain saling melengkapi,

    memperkuat dan menyempurnakan (Sukmadinata, 2008:108).

    2. Kehadiran Peneliti

    Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data

    dan sebagai instrumen aktif dalam upaya mengumpulkan data-data di

    lapangan. Sedangkan instrumen pengumpulan data yang lain selain

    manusia adalah berbagai bentuk alat-alat bantu dan berupa dokumen-

    dokumen lainya yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan hasil

    penelitian namun berfungsi sebagai instrumen pendukung, oleh karena

    itu kehadiran peneliti secara langsung di lapangan sebagai tolak ukur

    keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti, sehingga keterlibatan

    peneliti secara langsung dan aktif dengan informan dan atau sumber data

    lainya di sini mutlak diperlukan.

    3. Lokasi Penelitian

    Penelitian dilaksanakan di Desa Doplang Kecamatan Bawen

    Kabupaten Semarang. Adapun peneliti memilih lokasi di Desa Doplang

    Kecamatan Bawen ini karena fenomena di tempat ini belum pernah

    diteliti sebelumnya oleh peneliti sehingga peneliti tertarik dan ingin

    meneliti lebih jauh lagi.

    4. Sumber Data

    Ada dua sumber data yang digunakan oleh peneliti yaitu:

  • 15

    a. Data primer

    Data primer adalah data yang dapat diperoleh langsung dari

    lapangan atau tempat penelitian. Kata-kata dan tindakan merupakan

    sumber data yang diperoleh dari lapangan dengan mengamati atau

    mewawancarai. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan

    informasi langsung tentang penanaman nilai-nilai moral dalam

    keluarga beda agama. Adapun sumber data langsung penulis

    dapatkan dari warga yang melakukan nikah beda agama di Desa

    Doplang Kecamatan Bawen.

    b. Data sekunder

    Data sekunder adalah data yang, didapat dari sumber bacaan

    dan berbagai macam sumber lainya yang terdiri dari surat-surat

    pribadi, sampai dokumen-dokumen resmi dari instansi pemerintah.

    Data ini dapat berupa hasil-hasil studi, hasil survei. Peneliti

    mengunakan data skunder ini untuk memperkuat penemuan dan

    melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara

    langsung dengan keluarga beda agama.

    5. Prosedur pengumpulan data

    a. Wawancara mendalam

    Dalam metode ini penulis menggunakan teknik interview

    guide yaitu cara pengumpulan data dengan menyampaikan secara

    langsung daftar pertanyaan yang telah disusun sebelumnya guna

  • 16

    memperoleh jawaban yang langsung pula dari seorang responden

    (Koentjaraningrat, 1986:138).

    Dalam penelitian ini wawancara dilakukan secara mendalam

    yang diarahkan pada masalah tertentu dengan para informan yang

    sudah dipilih untuk mendapatkan data yang diperlukan yaiu keluarga

    beda agama di Desa Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten

    Semarang. Teknik wawancara yang digunakan ini dilakukan secara

    tidak terstruktur, dimana peneliti tidak melakukan wawancara

    dengan struktur yang ketat kepada informan agar informasi yang

    diperoleh memiliki kapasitas yang cukup tentang berbagai aspek

    dalam penelitian ini.

    b. Observasi

    Metode observasi adalah teknik pengumpulan data dengan

    pengamatan langsung kepada objek penelitian (Surakhmad,

    1994:164). Metode ini digunakan untuk mengetahui situasi dan

    kondisi lingkungan di Desa Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten

    Semarang. Pengamatan disini termasuk juga didalamnya peneliti

    mencatat peristiwa dalam situasi yang berkaitan dengan pengetahuan

    proporsional maupun langsung diperoleh dari data (Moleong,

    2007:174).

    Observasi ini dilakukan dengan melakukan serangkaian

    pengamatan dengan menggunakan alat indera penglihatan dan

    pendengaran secara langsung terhadap objek yang diteliti. Dalam

  • 17

    penelitian ini, penulis menggunakan teknik observasi berperan pasif

    dimana observasi bisa dilakukan secara langsung maupun tidak

    langsung.

    c. Dokumentasi

    Sejumlah besar fakta dan data yang tersimpan dalam bahan

    yang berbentuk dokumentasi yang berkaitan dengan penanaman

    nilai-nilai moral dalam keluarga beda agama di Desa Doplang

    Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang.

    6. Analisis Data

    Penelitian ini bersifat kualitatif, artinya mengunakan data yang

    dinyatakan secara verbal dan kualifikasinya secara teoritis. Sedangkan

    pengolahan datanya dilakukan secara rasional dengan menggunakan pola

    induktif.

    7. Tahap-tahap Penelitian

    Pelaksanaan penelitian ada empat tahap yaitu: tahap sebelum ke

    lapangan, tahap pekerjaan lapangan, tahap analisis data, tahap penulisan

    laporan. Dalam penelitian ini tahap yang ditempuh adalah sebagai

    berikut:

    a. Tahap sebelum ke lapangan

    Tahap ini meliputi kegiatan penentuan fokus, penyesuaian

    paradigma dengan teori, penjajakan alat peneliti, mencakup

    observasi lapangan dan permohonan ijin kepada subyek yang diteliti,

    konsultasi fokus penelitian, penyusunan usulan penelitian.

  • 18

    b. Tahap pekerjaan lapangan

    Tahap ini meliputi pengumpulan bahan-bahan yang berkaitan

    dengan penanaman nilai-nilai moral dalam keluarga beda agama di

    Desa Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang. Data

    tersebut diperoleh dengan observasi, wawancara dan dokumentasi.

    c. Tahap Analisis Data

    Tahap analisis data, meliputi analisis data baik yang

    diperoleh melalui observasi, dokumen maupun wawancara

    mendalam tentang penanaman nilai-nilai moral dalam keluarga beda

    agama di Desa Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang.

    Kemudian dilakukan penafsiran data sesuai dengan konteks

    permasalahan yang diteliti selanjutnya melakukan pengecekan

    keabsahan data dengan cara mengecek sumber data yang di dapat

    dan metode perolehan data sehingga data benar-benar valid sebagai

    dasar dan bahan untuk memberikan makna data yang merupakan

    proses penentuan dalam memahami konteks penelitian yang sedang

    diteliti.

    d. Tahap Penulisan Laporan

    Tahap ini meliputi : kegiatan penyusunan hasil penelitian dari

    semua rangkaian kegiatan pengumpulan data sampai pemberian

    makna data. Setelah itu melakukan konsultasi hasil penelitian dengan

    dosen pembimbing untuk mendapatkan perbaikan saran-saran demi

    kesempurnaan skripsi yang kemudian ditindak lanjuti hasil

  • 19

    bimbingan tersebut dengan penulis skripsi yang sempurna. Langkah

    terakhir melakukan penyusunan kelengkapan persyaratan untuk ujian

    skripsi.

    H. Sistematika Penulisan

    Untuk memudahkan bagi para pembaca dalam mempelajari dan

    memahami skripsi ini, penulis telah membagi sistematika penulisan sebagai

    berikut:

    1. Bab 1 adalah pendahuluan yang berisi tentang latar belakang masalah,

    rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan

    istilah, metode penelitian dan sistematika penulisan.

    2. Bab 2 adalah kajian pustaka yang berisi tentang pengertian penanam

    nilai-nilai moral dan pengertian pernikahan beda agama.

    3. Bab 3 adalah profil subjek penelitian dan temuan penelitian mengenai

    penanaman nilai-nilai moral dalam keluarga pasangan beda agama di

    Desa Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang.

    4. Bab 4 adalah pembahasa yang berisi tentang analisis mengenai

    penanaman nilai-nilai moral dalam keluarga pasangan beda agama.

    5. Bab 5 adalah penutup yang berisi tentang kesimpulan dan saran-saran.

  • 20

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA

    A. Penanaman Nilai-Nilai Moral

    1. Pengertian Penanaman Nilai-Nilai Moral

    Nilai adalah sifat-sifat atau hal-hal yang penting yang berguna bagi

    kemanusiaan. Nilai merupakan suatu yang ada hubungannya dengan subyek,

    sesuatu yang dianggap bernilai jika pribadi itu merasa bahwa sesuatu itu

    bernilai. Nilai difungsikan untuk mengarahkan, mengendalikan, dan

    menentukan kelakuan seseorang, karena nilai dijadikan standar perilaku. Nilai

    juga mempunyai arti sesuatu dianggap memiliki nilai apabila sesuatu tersebut

    secara instrinsik memang berharga.

    Nilai merupakan ukuran atau pedoman perbuatan manusia. Karena

    itulah maka nilai itu diungkapkan dalam bentuk norma dan norma ini

    mengatur tingkah laku manusia. Diantara beberapa macam nilai, ada nilai

    etik. Nilai-nilai etik ini dapat berupa antara lain nilai-nilai kemanusiaan atau

    nilai-nilai yang bersumberkan pada keyakinan atau kepercayaan dan religi.

    Nilai etik atau yang bersifat susila, memberi kualitas perbuatan manusia yang

    bersifat susila, sifatnya universal tidak tergantung waktu, ruang dan keadaan.

    Nilai etik tersebut diwujudkan dalam norma moral. Norma moral merupakan

    landasan perbuatan manusia, yang sifatnya tergantung pada tempat, waktu

    dan keadaan. Sehingga norma moral itu dapat berubah-ubah sesuai dengan

    waktu,tempat dan keadaannya (Daroeso, 1986:26-27).

  • 21

    Nilai merupakan suatu hal yang melekat pada suatu hal yang lain yang

    menjadi bagian dari identitas sesuatu tersebut. Bentuk material dan abstrak di

    alam ini tidak bisa lepas dari nilai. Nilai memberikan definisi, identitas, dan

    indikasi dari setiap hal konkret ataupun abstrak. Nilai adalah suatu yang

    bersifat abstrak, ideal. Nilai bukan benda konkrit bukan fakta dan tidak hanya

    persoalan benar adalah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan soal

    penghayatan yang dikehendaki, disenangi maupun tidak disenangi (Toha,

    2000:60).

    Moral adalah ukuran baik-buruknya seseorang, baik sebagai pribadi

    maupun sebagai warga masyarakat, dan warga negara. Moral juga

    mempunyai arti prinsip baik atau buruk yang ada dan melekat dalam diri

    individu atau seseorang. Walaupun moral itu berada dalam diri individu,

    tetapi moral berada dalam suatu sistem yang berwujut aturan. Moral dan

    moralitas memiliki sedikit perbedaan, karena moral adalah prinsip baik-buruk

    sedangkan moralitas merupakan kualitas pertimbangan baik-buruk. Dengan

    demikian, hakekat dan makna moralitas bisa dilihat dari cara individu yang

    memiliki moral dalam mematuhi maupun menjalankan aturan. moral

    memegang peranan penting dalam kehidupan manusia yang berhubungan

    dengan baik atau buruk terhadap tingkah laku manusia. Tingkah laku ini

    mendasarkan diri pada norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.

    Seseorang dikatakan bermoral, bilamana orang tersebut bertingkah laku

    sesuai dengan norma-norma yang terdapat dalam masyarakat, baik apakah itu

    norma agama, norma hukum dan sebagainya (Daroeso, 198:23).

  • 22

    Jadi, penanaman nilai-nilai moral adalah cara menanamkan sifat-sifat

    atau hal-hal yang penting dan berguna bagi kemanusiaan sebagai ukuran baik

    atau buruknya seseorang, baik sebagai pribadi maupun sebagai warga

    masyarakat, dan warga negara.

    2. Nilai-Nilai Moral yang harus Ditanamkan terhadap Anak

    a. Religiusitas

    1) Pengertian Religiusitas

    Religiusitas berasal dari bahasa Inggris religiusity dari akar

    kata religion yang berarti agama. Religiusity merupakan kata bentuk

    dari religius yang berarti agama (Echols dan Sadily, 1975:476).

    Berdasarkan arti kata tersebut, dapat dipahami bahwa religiusitas

    berkaitan dengan keberagamaan seseorang. Dalam khasanah

    psikologi, istilah religiusitas mempunyai makna yang berbeda

    dengan religi atau agama. Religi atau agama menunjuk pada aspek

    formal yang berkaitan dengan aturan-aturan atau kewajiban-

    kewajiban, sedangkan religiusitas menunjuk pada aspek religi yang

    telah dihayati oleh individu didalam hati.

    2) Dimensi-Dimensi Religiusitas

    Keberagamaan atau religiusitas dapat diwujudkan dalam

    berbagai kehidupan manusia. Bukan hanya sekedar melakukan ritual

    (peribadatan) saja, namun juga segala aktivitas yang didorong oleh

    kekuatan supra natural. Oleh karena itu keberagamaan seseorang

    akan meliputi berbagai macam sisi atau dimensi, sebagaimana

  • 23

    menurut Glock & Stark dalam buku karangan Djamaluddin Ancok

    dan Fuat Nashori Suroso yang berjudul Psikologi Islami Solusi

    Islami Atas Problem-Problem Psikologi (1995:76-78), yaitu:

    a) Dimensi Keyakinan

    Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan di mana

    religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan

    mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Setiap agama

    mempertahankan seperangkat kepercayaan di mana para

    penganut diharapkan akan taat. Walaupun demikian ruang

    lingkup dan isi keyakinan itu bervariasi tidak hanya di antara

    agama-agama, tetapi seringkali antara tradisi-tradisi dalam

    agama.

    b) Dimensi Praktik Agama

    Dimensi ini mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan

    hal-hal yang dilakukan untuk menunjukkan komitmen terhadap

    agama yang dianutnya. Dimensi ini dibagi menjadi dua, yakni

    ritual (mengacu pada seperangkat ritus, tindakan keagamaan

    formal dan praktek-praktek suci yang semua mengharapkan para

    pemeluk melaksanakan, seperti perkawinan) dan ketaatan (hal

    ini terwujut tatkala ritual dipenuhi).

    c) Dimensi Pengalaman

    Dimensi ini berkaitan dengan pengalaman keagamaan,

    perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, dan sensasi-sensasi yang

  • 24

    dialami seseorang atau didefinisikan oleh suatu kelompok

    keagamaan (suatu masyarakat) yang melihat komunikasi,

    walaupun kecil, dalam suatu esensi ketuhanan, yaitu dengan

    Tuhan, kenyataan terakhir, dengan otoritas transcendental.

    d) Dimensi Pengetahuan Agama

    Dimensi ini mengacu kepada harapan bahwa orang-

    orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal

    pengetahuan mengensi dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab

    suci dan tradisi-tradisi.

    3) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penanaman Religiusitas Anak

    Jiwa beragama atau kesadaran beragama merujuk kepada

    aspek rohaniah individu yang berkaitan dengan keimanan kepada

    Allah yang direfleksikan ke dalam peribadatan kepada-Nya, baik

    yang bersifat hablumminallah maupun hablumminannas. Maka dari

    itu faktor yang mempengaruhi penanaman agama anak itu terbagi

    atas dua bagian (Yusuf, 1992:136) yaitu:

    a) Faktor pembawaan (internal)

    Perbedaan hakiki antara manusia dengan hewan adalah

    manusia mempunyai fitrah (pembawaan) beragama (homo

    religious). Setiap anak yang lahir ke dunia, baik yang lahir di

    negara komunis maupun kapitalis, baik yang lahir dari orang tua

    yang saleh maupun jahat, sejak Nabi Adam sampai akhir zaman.

    Menurut fitrah kejadiannya mempunyai potensi beragama atau

  • 25

    keimanan kepada Tuhan atau percaya adanya kekuatan di luar

    dirinya yang mengatur hidup dan kehidupan alam semesta.

    Dalam perkembangannya fitrah beragama ini ada yang berjalan

    secara alamiah dan ada juga yang mendapat bimbingan dari para

    Rasul Allah SWT. Keyakinan bahwa manusia mempunyai fitrah

    atau kepercayaan kepada Tuhan.

    b) Faktor lingkungan (eksternal)

    Faktor pembawaan atau fitrah beragama merupakan

    potensi yang mempunyai kecenderungan untuk berkembang,

    namun perkembangan itu tidak akan terjadi manakala tidak ada

    faktor luar (eksternal) yang memberikan rangsangan atau

    stimulus yang memungkinkan fitrah itu berkembang dengan

    sebaik-baiknya, faktor eksternal itu tiada lain adalah lingkungan

    dimana anak itu hidup.

    b. Disiplin

    1) Pengertian Disiplin

    Riberu dalam buku karangan Maria J. Wantah yang berjudul

    pengajaran disiplin dan pembetukan moral (2005:139) menjelaskan

    bahwa istilah disiplin diturunkan dari kata latin diciplina yang

    berlangsung dengan dua istilah lain, yaitu discere (belajar) dan

    discipulus (murid) sedangkan Suharsini (1997:167) mengatakan

    bahwa disiplin berasal dari bahasa latin diciplina yang menunjuk

    kepada belajar dan mengajar. Kata ini sangat dekat dengan istilah

  • 26

    disceple yang berarti mengikuti orang belajar dibawah pengawasan

    pimpinan. Didalam pembicaraan disiplin dikenal dua istilah yang

    pengertiannya hampir sama tetapi satu sama lain berurutan. Kedua

    istilah itu adalah disiplin dan ketertiban.

    Disiplin diartikan sebagai penataan perilaku peri hidup sesuai

    dengan ajaran yang dianut. Penataan peilaku yang dimaksud yaitu

    kesetiaan dan kepatuhan seseorang terhadap penataan perilaku yang

    umumnya dibuat dalam bentuk tata tertib atau peraturan harian.

    Demikan halnya seorang dikatakan berdisiplin apabila ia setia dan

    patuh terhadap penataan perilaku yang disusun dalam bentuk aturan-

    aturan yang berlaku dalam satu instansi tertentu. pernyataan sikap

    mental dari individu maupun masyarakat yang mencerminkan rasa

    kepatuhan, ketaatan yang didukung oleh kesadaran untuk

    menunaikan tugas dan kewajiban dalam rangka pencapaian tujuan.

    Tujuan disiplin tersebut berkenaan dengan pengendalian diri

    seseorang terhadap bentuk-bentuk aturan dan penataan perilaku

    seseorang agar menjadi pribadi yang baik sesuai dengan status sosial

    kelompok masyarakat.

    2) Unsur-Unsur Disiplin

    Penanaman disiplin perlu mengetahui adanya unsur-unsur

    disiplin supaya orang tua mudah menerapkan dan mengambil

    keputusan dalam mendisiplinkan anak. Hurlock (1978:152)

    mengatakan bahwa ada beberapa unsur penting dalam disiplin yang

  • 27

    perlu diterapkan oleh orang tua yaitu: peraturan, kebiasaan,

    hukuman, penghargaan, dan konsistensi. Hal ini dapat dijelaskan

    sebagai berikut:

    a) Peraturan

    Peraturan adalah ketentuan-ketentuan yang telah

    ditetapkan untuk menata tingkah laku seseorang dalam

    kelompok, organisasi, institusi,atau komunitas. Tujuannya

    adalah membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui

    dalam situasi tertentu.

    b) Kebiasaan

    Kebiasaan dibagi dua macam yaitu pertama kebiasaan

    tradisional berupa kebiasaan menghormati dan memberi salam

    kepada orang tua baik di rumah, di perjalanan, di sekolah,

    maupun tempat sosial kegiatan lainnya. Kedua kebiasan modern

    seperti kebiasaan bangun pagi, sikat gigi, mandi, berganti

    pakaian, kebiasaan berdoa sebelum tidur, membaca buku,

    menonton TV. Kebiasaan diatas perlu diperhatikan sebagai

    unsur penting dalam membentuk kedisiplinan.

    c) Hukuman

    Hukuman berarti suatu bentuk kerugian dan kesakitan

    yang dijatuhkan pada seseorang yang berbuat kesalahan,

    perlawanan atau pelanggaran sebagai ganjaran maupun

    pembalasan. Hukuman mempunyai tiga unsur penting dalam

  • 28

    pekembangan anak diantaranya: Pertama hukuman mempunyai

    fungsi menghalangi, yaitu hukuman diharapkan dapat

    menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh

    masyarakat. Kedua hukuman mempunyai fungsi mendidik, yaitu

    mereka belajar bahwa perilaku tertentu benar dan yang lainnya

    salah dengan mendapat hukuman bila mereka berperilaku salah

    dan tidak mendapat hukuman bila mereka berperilaku sesuai

    standar sosial kelompoknya. Selain itu hukuman juga

    seharusnya dapat memberikan pelajaran pada anak membedakan

    besar kecilnya kesalahan yang mereka buat. Oleh karena itu

    orang tua perlu mengukur berat ringannya kesalahan anak dan

    menyesuaikannya dengan hukuman yang diberikan pada anak

    atas kesalahan tersebut. Ketiga hukuman berfungsi memberi

    motivasi pada anak untuk menghindari perilaku yang tidak

    diterima oleh masyrakat. Pengetahuan tentang berbagai

    alternatif perilaku serta akibat masing-masing alternatif dapat

    memacu motivasi untuk menghindari perilaku yang salah. Salah

    satu contoh diatas misalnya, memberi tangapan positif, memuji

    setiap anak melakukan hal yang benar.

    d) Penghargaan

    Maslow dalam buku karangan Maria J. Wantah yang

    berjudul pengajaran disiplin dan pembetukan moral (2005:163)

    mengatakan bahwa penghargaan adalah salah satu dari kebtuhan

  • 29

    pokok yang mendorong seseorang untuk mengaktualisasikan

    dirinya. Seseorang akan terus berupaya akan meningkatkan dan

    mempertahankan disiplin apa bila disiplin itu menghasilkan

    prestasi dan produktivitas yang kemudian mendapatkan

    penghargaan. Penghargaan adalah unsur disiplin yang sangat

    penting dalam pengembangan diri dan tingkah laku anak.

    Penghargaan yang diberikan kepada anak tidak hanya berbentuk

    materi tetapi dapat berupa kata-kata pujian maupun senyuman

    pada anak.

    e) Konsistensi

    Konsistensi menunjukkan kesamaan dalam isi dan

    penerapan dalam sebuah autran. Konsistensi digunakan bila

    orang tua ingin menerapkan pemberian hukuman untuk

    mengendalikan perilaku anak, atau memberikan penghargaan

    untuk memperkuat perilaku yang baik. meski anak memiliki

    perbedaan latar belakang sosial budaya, etnis, ekonomi maupun

    kondisi perkembangan usia.

    3) Bentuk Penanaman disiplin pada anak

    Penanaman disiplin yang digunakan orang tua dalam upaya

    membimbing dan membentuk disiplin anak, supaya mereka

    berperilaku sesuai dengan harapan masyarakat dan menghindari

    perilaku yang tidak diinginkan, orang tua biasanya menerapkan

    berbagai cara yang berasal dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat

  • 30

    setempat, atau cara-cara baru yang mereka pelajari dari

    lingkunganya. Maria J. Wantah (2005:170) mengatakan bahwa ada

    dua pendekatan yang digunakan dalam membentuk disiplin anak

    yaitu pendekatan disiplin secara negatif dan pendekatan disiplin

    secara positif.

    a) Pendekatan disiplin secara negatif

    Pendekatan disiplin negatif yaitu cara pembentukan yang

    diakukan dengan memahami tingkah laku anak yang tidak

    sesuai dengan standar-standar yang ditentukan sekolah, keluarga

    maupun masyarakat. Agar anak dapat bertingkah laku sesuai

    yang diharapkan, pendidik mengajarkan anak tentang perilaku

    moral dengan membuat suatu perjanjian pada anak yang baik itu

    benar dan yang buruk itu salah. Namun banyak pendidik yang

    tidak menyadari mengajarkan anak didik mereka dengan cara

    disiplin yang negatif, berupa hukuman fisik dan kata-kata yang

    dapat merugikan anak.

    b) Pembentukan disiplin secara positif

    Pembentukan disiplin positif adalah cara pembentukan

    disiplin yang dilakukan orang dewasa dalam memperlakukan

    anak dengan respek dan harga diri. Hal Ini merupakan tindakan

    yang berpusat pada anak dan tidak egois, berpusat pada apa

    yang dibutuhkan anak, dan tidak menekankan pada apa yang

    dibutuhkan dan diinginkan orang dewasa. Dapat dikatakan

  • 31

    bahwa disiplin positif adalah berpusat pada pengajaran bukan

    pada hukuman. Dengan disiplin positif anak diberikan informasi

    yang benar dan dibutuhkan agar mereka dapat belajar dan

    mempraktekkan tingkah laku yang benar. Selain itu, juga

    diajarkan pada anak bagaimana membina hubungan baik seperti

    saling menghargai, kerjasama, melibatkan ketegasan,

    kewibawaan, dan rasa hormat pada sesama dan pada orang lebih

    tua.

    4) Cara menanamkan disiplin pada anak

    Upaya dalam menanamkan disiplin kepada anak bertujuan

    untuk membantu anak membangun pengendalian diri mereka.

    Hurlock (1978:93) mengatakan bahwa ada beberapa cara yang

    digunakan dalam menanamkan perilaku disiplin anak, diantaranya:

    disiplin otoriter atau keras, disiplin permisif dan disiplin secara

    demokratis.

    a) Disiplin otoriter dan keras

    Disiplin otoriter berarti pengendalian tingkah laku

    berdasakan tekanan, dorongan, pemaksaan dari luar diri

    seseorang. Hukuman kerap kali dipakai untuk memaksa,

    menekan, mendorong untuk mematuhi dan mentaati peraturan.

    Disiplin otoriter cenderung tidak memberi kesempatan untuk

    bertanya tentang aturan yang diterapkan. Kalau sedikitpun anak

    tidak mengindahkannya, ia akan mendapatkan hukuman fisik

  • 32

    maupun kata-kata yan menyakitkan. Hal ini menyebabkan anak

    tidak mendapat kesempatan dan tidak didorong untuk mandiri

    dalam mengambil keputusan-keputussan dalam mengendalikan

    perilaku sendiri.

    b) Disiplin permisif

    Disiplin permisif berarti sedikit disiplin atau tidak

    ditanamkan disiplin. Anak tidak diberi rambu-rambu atau batas-

    batas yang mengatur perilakunya, mereka tidak diberika apa

    yang boleh diakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Anak

    dibiarkan berbuat berbuat sekehendak hatinnya, boleh

    mengambil keputusan sendiri apapun bentuknya.

    c) Disiplin demokratis

    Disiplin demokratis adalah penggabungan ciri yang baik

    dari cara pendisiplinan yang bersifat otoriter dan permisif.

    Disiplin demokratis ini dilakukan dengan menggunakan

    penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak

    mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan dan yang lain

    tidak. Misalnya, untuk menjelaskan pada anak bahwa ia tidak

    boleh bermain api atau bahwa kompor panas, oleh karena itu

    tidak boleh memegangnya, orang tua dapat mendekatkatkan

    tangan anak pada kompor.

  • 33

    c. Akhlak

    1) Pengertian Akhlak

    Akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mendalam

    dan tanpa pemikiran. Namun perbuatan itu telah mendarah daging

    dan melekat dalam jiwa, sehingga saat melakukan perbuatan tidak

    lagi memerlukan pertimbangan dan pemikiran (Nata, 1997:5)

    Akhlak juga menjelaskan tentang arti baik dan buruk,

    menerangkan segala tingkah laku yang harus dilaksanakan oleh

    sebagian manusia kepada manusia lainnya, kepada Tuhannya,

    kepada lingkungan sekitar serta menjelaskan tujuan yang hendak

    dicapai oleh manusia dalam perbuatan dan menunjukkan jalan yang

    harus dibuat.

    Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan diatas dapat

    diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan akhlak adalah

    suatu sikap atau kehendak manusia disertai dengan niat yang tentram

    dalam jiwa berlandaskan al-Qur’an dan al Hadits, yang dari padanya

    timbul perbuatan-perbuatan atau kebiasaan secara mudah tanpa

    memerlukan pertimbangan terlebih dahulu. Bila kehendak jiwa itu

    menimbulkan perbuatan-perbuatan dan kebiasaan jelek, maka

    disebut akhlak yang tercela begitu pula sebaliknya.

    2) Tujuan Penanaman Akhlak

    Menurut Barmawie Umary (1995:2) tujuan penanaman

    akhlak adalah menjadikan seseorang agar terbiasa melakukan

  • 34

    perbuatan yang baik, indah, mulia, terpuji, serta menghindari

    perbuatan yang buruk, jelek, hina dan tercela Sedangkan menurut

    Ibn Maskawaih dalam buku karangan Suwito yang berjudul filsafat

    pendidikan akhlaq (2004:16) tujuan penanaman akhlak adalah

    terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan

    untuk melahirkan semua perbuatan bernilai baik sehingga mencapai

    kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan yang sempurna.

    Karena tujuan penanaman akhlak itu menjalin hubungan

    antara kita dengan Allah SWT dan dengan sesama makhluk,

    sehingga selalu dapat terpelihara dengan baik dan harmonis (Umary,

    1995:2). Dari pernyataan ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan

    akhlak supaya dapat memahami tentang perbuatan amal yang baik,

    sehingga dapat mengamalkan ajaran Islam yang telah diterimanya.

    3) Materi Penanaman Akhlak

    Dalam rangka menyelamatkan dan memperkokoh penanaman

    akhlak untuk anak. Anak harus dilengkapi dengan pendidikan akhlak

    yang memadai. Sebelum dikenalkan kepada anak-anak sebaiknya

    pendidikan menerapkan akhlak bukan hanya pengenalan tentang

    teori-teori tata krama atau akhlak saja tetapi juga praktek-praktek

    tata krama yang mereka tiru dan teladani dari para guru. Samsyu

    Yusuf, menyatakan bahwa anak-anak perlu diajarkan atau dilatih

    tentang kebiasaan-kebiasaan melaksanakan akhlak madzmumah

    seperti mengucapkan salam, membaca hamdalah pada saat mendapat

  • 35

    kenikmatan dan setelah mengerjakan sesuatu, menghormati orang

    lain, memberi sedekah, memelihara kebersihan baik diri sendiri

    maupun lingkungan (seperti mandi, menggosok gigi dan membuang

    sampah pada tempatnya) (Yusuf, 2002:7). Sedangkan pandangan

    Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin Jilid I terjemahan

    Muhammad zuhri (1990:149) tentang pendidikan akhlak anak

    meliputi:

    a) Kesopanan dan kesederhanaan

    Al-Ghazali sangat menganjurkan kesopanan dan

    kesederhanaan dalam hal makan, berpakaian dan tidur. Salah

    satu hal yang biasa terjadi terhadap diri anak-anak ialah

    mempunyai sifat rakus makan, maka ini perlu di didik pula.

    Misalnya pada waktu makan itu senantiasa menggunakan tangan

    kanannya dan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim (Al-

    Ghazaly, 1990:149).

    b) Kesopanan dan Kedisiplinan

    Al-Ghazali sangat mengutamakan kedisiplinan anak

    untuk menghindarkan perbuatan yang tidak pantas di pandang

    umum dan membiasakan anak untuk berbuat hal-hal yang patut

    sesuai dengan norma-norma masyarakat yang berlaku. Dalam

    hal ini al-Ghazali melatih kesopanan dan kedisiplinan anak

    dalam tata cara duduk, berbicara, dan meludah (Al-Ghazaly,

    1990:149).

  • 36

    c) Pembiasaan dan latihan bagi anak untuk menjauhkan perbuatan

    yang tercela

    Al-Ghazali menganjurkan agar mendidik anak dengan

    pembiasaan dan latihan untuk menghindarkan dari perbuatan

    yang tercela serta tidak sesuai dengan norma masyarakat

    maupun ajaran agama (Islam) (Al-Ghazaly, 1990:149).

    B. Keluarga Beda Agama

    1. Pengertian Pernikahan Beda Agama

    Pernikahan beda agama pada dasarnya berarti pernikahan yang

    dilangsungkan antara pasangan yang beda agama satu sama lain. Pernikahan

    bernuansa keragaman ini banyak terjadi dan masih dijumpai di dalam

    kehidupan bermasyarakat. Mungkin contoh yang banyak terekspos ke

    masyarakat luas hanyalah pernikahan atau perkawinan dari pasangan para

    selebritis saja. Beberapa contoh dari pasangan suami istri, Nurul Arifin dan

    Mayong, Ira Wibowo dan Katon Bagaskara, Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale.

    Perkawinan yang dilakukan oleh mereka tidak lagi didasarkan pada suatu

    akidah agama, melainkan hanya pada cinta. Seolah cinta semata yang menjadi

    dasar suatu pernikahan. Masalah agama dalam beberapa argumen pasangan-

    pasangan seperti itu kira-kira dapat dirumuskan seperti ini. Berdasarkan

    hukum munakahat yang diajarkan Islam kepada penganutnya ialah

    pernikahan yang dibenarkan oleh Allah SWT adalah suatu pernikahan yang

    didasarkan pada satu akidah, di samping cinta dan ketulusan hati dari

    keduanya. Dengan landasan dan naungan keterpaduan itu, kehidupan suami-

  • 37

    istri akan tenteram, penuh rasa sinta dan kasih sayang. Keluarga mereka akan

    bahagia dan kelak memperoleh keturunan yang sejahtera lahir batin.

    Jadi yang dimaksud dengan pernikahan beda agama adalah pernikahan

    orang Islam (pria atau wanita) dengan orang bukan Islam (pria dan wanita)

    (Zuhdi, 1996:4).

    2. Pernikahan Antara Orang yang Berlainan Agama Menurut Hukum Islam

    Mengenai masalah perkawinan beda agama ini Islam membedakan

    hukumnya menjadi tiga macam yaitu:

    a. Perkawinan antara Perempuan Muslimah dengan Laki-Laki Non Muslim

    Semua ulama telah sepakat bahwa perempuan muslimah tidak

    diperbolehkan (haram) kawin dengan laki-laki non muslim, baik Ahli

    Kitab maupun musyrik. Baik calon suaminya itu termasuk pemeluk

    agama yang mempunyai kitab suci, seperti Kristen dan Yahudi ataupun

    pemeluk agama yang mempunyai kitab serupa kitab suci, seperti

    Budhisme dan Hinduisme, maupun pemeluk agama dan kepercayaan

    yang tidak punya kitab suci dan juga kitab yang serupa kitab suci.

    Termasuk pula di sini penganut Animisme, Ateisme, Politeisme, dan

    sebagainya (Zuhdi, 1996:6).

    Adapun dalil yang menjadi dasar hukum untuk larangan kawin

    antara wanita muslimah dengan pria non-muslim, ialah: Firman Allah

    dalam surat Al-Baqarah ayat 221:

  • 38

    َََن م نْؤِمُنَك م َيي ِرا ا ن نن نْؤِررَُا و َوَلِ َعِجَبَتِكحاِم َوَل َولَ ي َى ؤ اِمُنني ى َو نَ ِكُحوا ا اِلهاِررَُاُِ َحي َى ؤ اِمُنكا ا َوَلَعِتدم نْؤِمُننم َيي ِرا ا ن نن نْؤِررُكو َوَلِ َعِجَبَتحاِم عاِوَلُئَك ؤَِدجا ََ ناكُحوا ا اِلهاِررُُانَي َح

    ََاي ى ُإَل ُاِم ؤَ َك ُِ َلَعني ى ُِ لُنكي ىِ ََاؤَُِن ا ُُِِ َوؤ اتَ ني ن ِْ َُِرُِ بُُِ ِْ َكي ىُ َواِلَه ِْ ُِ َواهللا ؤَِدجا ا ُإَل ا .راو ََ الكي ىِ

    Artinya: “Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik

    dengan wanita-wanita yang mukmin sebelum mereka beriman.

    Sesungguhnya budak yang beriman lebih baik daripada orang

    musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu

    nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang

    beriman) sebelu mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-

    laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik

    meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka,

    sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya.

    menerangkan ayat-ayatnya kepada manusia agar mereka

    mengambil pelajaran”.

    Hikmah dilarangnya perkawinan antara seorang wanita Islam

    dengan pria Kristen atau Yahudi karena dikhawatirkan wanita Islam itu

    kehilangan kebebasan beragama dalam menjalankan ajaran-ajaran

    agamanya, kemudian terseret kepada agama suaminya. Demikian pula

    anak-anak yang lahir dari hasil perkawinannya dikhawatirkan pula

    mereka akan mengikuti agama bapaknya, karena bapak sebagai kepala

    keluarga terhadap anak-anak melebihi ibunya (Zuhdi, 1996:6-7).

    b. Perkawinan antara Laki-laki Muslim dengan Perempuan Musyrik

    Para ulama sepakat bahwa laki-laki muslim tidak halal kawin

    dengan perempuan penyembah berhala, perempuan zindiq, perempuan

    keluar dari Islam, menyembah sapi, perempuan beragam politeisme

    (Zuhdi, 1996:4).

  • 39

    Kebanyakan ulama berpendapat, bahwa seorang pria muslim

    boleh kawin dengan wanita Ahli Kitab (Yahudi atau Kristen) (Zuhdi,

    1996:5). Berdasarkan firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 5:

    ِؤَن ااِون اِ ااِلُحَكَب ُحلٌّ لي ىحاِم َوَطَعِ ناحاِم ُحلٌّ َّلي ىاِم َُ اَِليَ ِ َم ااُحلي ى َلَنحاما الطي ىي نتتا َوَطَعِما الي ىَْا انَ ِيكاهاِ هاني ى َواِلهاِوَصكتا ُنَن ِؤَن ااِون اِ ا اِلُحكَب ُنِن قَ ِتُنحاِم ُا َُ اِلهاِمُنكُت َواِلهاِوصكتا ُنَن الي ى

    ِاِر بُِ ُل ِْيَِ َُ فَ َقِد َحُتَط َُي اَِيَدا َو َوَنِن ؤي ىِح ااجاِ َِهاني ى ُماُِصُكنِيَ َغي َِر ناَسِ ُفُونِيَ َوَلناكي ىُخِا َوهاَ ىُف اِلَ ُيَرُِ ُنَن اِْلُسرُِؤَن. َجَهنا

    Artinya: “Pada hari ini dihalalkan bagimu segala yang baik-baik.

    Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan

    makananmu halal bagi mereka. Dan (dihalalkan bagimu

    menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di

    antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-

    perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang

    yang diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar

    maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dngan maksud

    berzina dan bukan untuk menjadikan perempuan piaraan.

    Barang siapa kafir setelah beriman maka sungguh, sia-sia amal

    mereka dan di akhirat dia masuk orang-orang yang rugi”.

    3. Pernikahan Beda Agama Menurut Agama-agama Di Indonesia

    a. Pandangan Agama Kristen Protestan

    Dalam Al-Kitab di jelaskan bahwa pernikahan adalah suatu

    “peraturan Allah” yang bersifat sacramental (suci), yakni ia diciptakan

    dalam rangka seluruh maksud karya penciptaannya atas alam semesta

    (Monib dan Kholis, 2008:110).

    Perkawinan adalah persekutuan hidup meliputi keseluruhan

    hidup, yang menghendaki laki-laki dan perempuan menjadi satu. Satu

    dalam kasih tuhan, satu dalam mengasihi, satu dalam kepatuhan, satu

  • 40

    dalam menghayati kemanusiaan, dan satu dalam memikul beban

    pernikahan (Ichtiyanto, 2003:132).

    Demi kesejahteraan perkawinan, gereja Kristen menganjurkan

    kepada ummatnya mencari pasangan hidup yang seagama dengan

    mereka. Tetapi karena menyadari bahwa ummatnya hidup bersama-

    bersama dengan pemeluk agama lain, gereja tidak melarang umatnya

    menikah dengan orang-orang yang bukan beragama Kristen. Perkawinan

    campuran antara pemeluk agama yang berbeda dapat dilangsungkan di

    gereja menurut hukum gereja Kristen apabila yang bukan Kristen

    bersedia membuat pernyataan bahwa dia tidak berkeberatan

    perkawinannya di laksanakan di gereja (Ichtiyanto, 2003:133)

    Akibatnya dalam gereja Kristen ada tiga macam perkawinan

    campuran yaitu: perkawinan campuran antar sesama agama Kristen yang

    lain gereja, perkawinan campuran antara orang Kristen dengan orang

    Katolik, perkawinan campuran antara orang Kristen dengan penganut

    agama lain.

    b. Pandangan Agama Kristen Katolik

    Secara umum Gereja Katolik memandang bahwa pernikahan

    antara seorang penganut Katolik dengan seorang non Katolik bukanlah

    bentuk pernikahan yang ideal, sebab pernikahan dianggap sebuah

    sakraman (sesuatu yang kudus atau suci).

    Untuk menyelamatkan iman kristiani & perkawinan, agama

    Katolik menempuh sikap sebagai berikut:

  • 41

    1) pada dasarnya perkawinan campuran antar agama adalah tidak

    menurut hukum dan tidak sah.

    2) perkawinan campuran antar orang Katolik dan penganut agama lain

    adalah sah kalau mendapat dispensasi dari gereja (Monib dan Kholis,

    2008:111)

    Dispensasi atau pengecualian ini menurut baru diberikan apabila

    ada harapan dapat terbinanya suatu keluarga yang baik dan utuh setelah

    pernikahan. Juga untuk kepentingan pemeriksaan guna memastikan tidak

    adanya halangan untuk menikah. Yang paling penting soal pernikahan

    dalam Katolik adalah bahwa setiap pernikahan, baik sesama Katolik

    ataupun dengan non Katolik, hanya dianggap sah apabila dilakukan

    dihadapan uskup, pastor paroki atau imam. Jadi jika ada pernikahan

    antara penganut agama lain dan penganut Katolik dan tidak dilakukan

    menurut agama Katolik, maka pernikahan tersebut dianggap belum sah

    (Monib dan Kholis, 2008:115-116).

    c. Pandangan Agama Hindu

    Agama Hindu secara tegar memberikan ketentuan syarat-syarat

    perkawinan dan menentukan larangan perkawinan orang Hindu dengan

    pemeluk agama lain. Menurut agama Hindu, perkawinan hanya sah jika

    dilaksanakan upacara suci pernikahan oleh pedande. Pedande hanya mau

    melaksanakan upacara pernikahan kalau kedua calon pengantin beragama

    Hindu. Perkawinan orang Hindu yang tidak memenuhi syarat dapat

    dibatalkan. Pedande tidak mungkin memberkati atau menyelenggarakan

  • 42

    upacara perkawinan antara mereka yang berbeda agama. Azaz

    perkawinan harus disahkan menurut agama, yaitu dengan cara melakukan

    wiwahasan skara atau wiwahahoma, dikedepankan di dalam sistem

    perkawinan Hindu yang menyatakan bahwa suatu perkawinan yang tidak

    disahkan menurut agama dengan melakukan upacara suci, menyebabkan

    ia jatuh hina. Yaitu harus anaknya tidak diakui sah sebagai pewaris yang

    sederajat dengan orang tua. Atau dengan kata lain akibat dari perkawinan

    itu tidak diakui sah menurut hukum agama (Ichtiyanto, 2003:135).

    Apabila di antara calon pengantin dan dapat perbedaan agama,

    pendade tidak dapat memberkati kecuali pihak yang bukan Hindu

    tersebut telah disudhikan sebagai pemeluk agama Hindu dan

    menandatangani sudi vadani (surat pernyataan masuk agama Hindu)

    (Ichtiyanto, 2003:135).

    d. Pandangan Agama Budha

    Menurut Sanga Agung Indonesia, perkawinan beda agama yang

    melibatkan penganut agama Budha dan penganut non Budha

    diperbolehkan, asalkan pengesahannya dilakukan menurut tata cara

    agama Budha meski calon mempelai yang bukan Budha tidak diharuskan

    untuk masuk agama Budha dulu tapi dalam ritualnya kedua mempelai

    wajib mengucapkan atas nama Sang Budha, Dharma, dan Sangka (Monib

    dan Kholis, 2008:117)

  • 43

    BAB III

    PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

    A. Profil Desa Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang

    1. Letak dan Keadaan Geografis

    Desa Doplang adalah sebuah desa di Kecamatan Bawen Kabupaten

    Semarang. Sebelah utara dan timur berbatasan dengan Kelurahan Bawen serta

    berbatasan dengan Kecamatan Ambarawa di sebelah barat dan selatan.

    2. Keadaan Penduduk

    Adapun keadaan penduduk Desa Doplang Kecamatan Bawen

    Kabupaten Semarang dapat di lihat dari data Monografi pada bulan

    November 2015 di bawah ini yang sudah dapat di pahami dengan tabel-tabel

    klasifikasi berikut ini:

    Tabel 3.1

    Jumlah Penduduk menurut Usia

    No. Kelompok Umur

    (Tahun)

    Laki-Laki Perempuan Jumlah

    1. 0-1 107 83 190

    2. 2-5 146 137 283

    3. 6-10 159 137 296

    4. 11-15 221 206 427

    5. 16-20 184 187 371

  • 44

    6. 21-25 168 173 341

    7. 26-30 171 178 349

    8. 31-40 322 322 644

    9. 41-50 346 319 665

    10. 51-60 309 323 632

    11. 60 ke atas 140 156 296

    Jumlah 2273 2221 4494

    (Sumber: diambil dari data Monografi Bulan November 2015 Desa Doplang)

    Berdasarkan data pada tabel 3.1 dapat diketahui bahwa, dari total

    penduduk 4494 jiwa terdapat 2273 berjenis kelamin laki-laki. Jumlah

    penduduk paling banyak terdapat pada kelompok umur 41-50 tahun yaitu 665

    jiwa.

    Tabel 3.2

    Jumlah Penduduk menurut Agama

    No. Kelompok Agama Laki-Laki Perempuan Jumlah

    1. Islam 2260 2205 4465

    2. Kristen 3 4 7

    3. Khatholik 10 12 22

    4. Hindu - - -

    5. Budha - - -

    6. Konghucu - - -

    Jumlah 2273 2221 4494

    (Sumber: diambil dari data Monografi Bulan November 2015 Desa Doplang)

  • 45

    Mayoritas penduduk di Desa Doplang beragama Islam yaitu 4465

    jiwa. Khatolik dan Kristen menempati diurutan kedua dan ketiga dengan

    jumlah 18 jiwa.

    Walaupun terjadi perbedaan keyakinan atau agama, dalam kehidupan

    sehari-hari penduduk Desa Doplang Kecamatan Bawen tidak

    menggambarkan adanya perpecahan ataupun konflik akibat perbedaan

    keyakinan. Bagi pemeluk agama Islam sebagi pemeluk mayoritas sangat

    menghormati pemeluk agama Kristen dan Katolik meskipun pemeluknya

    hanya sebagian kecil dari masyarakat Desa Doplang Kecamatan Bawen

    begitu juga sebaliknya. Dengan sikap masyarakat Desa Dopalng Kecamatan

    Bawen tersebut menjadikan pemeluk agama terkesan lebih toleran dan tidak

    membedakan-bedakan satu dengan yang lain.

    Tabel 3.3

    Jumlah Penduduk menurut Pendidikan

    No. Jenis Pendidikan Laki-Laki Perempuan Jumlah

    1. Tidak Sekolah 254 239 493

    2. Belum Tamat SD 321 317 638

    3. Tidak Tamat SD 209 204 413

    4. Tamat SD 736 735 1471

    5. Tamat SLTP 485 487 972

    6. Tamat SLTA 227 218 445

    7. Tamat Diploma 22 15 37

  • 46

    8. Sarjana ke atas 12 13 25

    Jumlah 2266 2228 4494

    (Sumber: diambil dari data Monografi Bulan November 2015 Desa Doplang)

    Berdasarkan tabel 3.3 dapat diketahui bahwa dari jumlah penduduk

    4494 jiwa hanya 62 jiwa yang menempuh pendidikan diatas SLTA.

    Mayoritas tingkat pendidikan penduduk di Desa Doplang hanya tamat SD

    yaitu 1471 jiwa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan di Desa

    Dopang masih sangat kurang, penduduk Desa Doplang harus diberitahu

    kesadaran pentingnya sebuah pendidikan.

    Tabel 3.4

    Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian

    No. Jenis Pekerjaan Laki-Laki Perempuan Jumlah

    1. PNS 12 14 26

    2. TNI 1 - 1

    3. Polri 1 - 1

    4. Pegawai Swasta 87 53 140

    4. Pensiunan 8 16 24

    6. Pengusaha 1 3 4

    7. Buruh Bangunan 296 21 317

    8. Buruh Industri 139 249 388

    9. Buruh Tani 623 262 885

    10. Petani 631 305 936

  • 47

    11. Peternak 106 53 159

    12. Nelayan - - 0

    13. Lain-lain 279 138 417

    Jumlah 2184 1114 3298

    (Sumber: diambil dari data Monografi Bulan November 2015 Desa Doplang)

    Dikarenakan Pendidikan di Desa Doplang sangat kurang, Mayoritas

    masyarakat di Desa Doplang berprofesi sebagai petani yaitu 936 jiwa serta

    sebagai buruh tani sebanyak 885 jiwa. Sedangkan diurutan ketiga sebanyak

    388 bekerja sebagai buruh industri.

    Tabel 3.5

    Jumlah Kepala Keluarga

    No. Uraian Laki-Laki Perempuan Jumlah

    1. Jumlah Kepala

    Keluarga

    1174 85 1259

    2. Kelurga yang sudah

    mempunyai KK

    1017 63 1080

    3. Keluarga yang

    belum mempunyai

    KK

    148 20 168

    (Sumber: diambil dari data Monografi Bulan November 2015 Desa Doplang)

    Dari keseluruhan kepala keluarga yang berjumlah 1259 masih ada

    yang belum mempunyai Kartu Keluarga yaitu sebanyak 168 kepala keluarga.

  • 48

    3. Data Responden

    Tabel 3.6

    Daftar Responden Keluarga Pasangan Beda Agama

    No. Suami Istri Usia

    1. JK (Islam) SM (Islam) 45/39 tahun

    2. DC (Kristen Protestan) IT (Islam) 50/40 tahun

    3. JN (Islam) ST (Kristen Protestan) 46/43 tahun

    Berdasarkan data pada tabel 3.6 dapat diketahui bahwa terdapat tiga

    responden keluarga pasangan beda agama. Pasangan Bapak JK dan Ibu SM

    dilihat dari tabel di atas mempunyai agama yang sama yaitu Islam. Tetapi

    dalam kenyataanya pasangan tersebut berbeda agama, Bapak JK beragama

    Islam dilakukan hanya untuk menikah dengan Ibu SM. Setelah dua tahun

    pernikahannya dengan Ibu SM, akhirnya Bapak JK kembali lagi menjalankan

    ajaran agama Kristen Protestan tetapi tanpa mengubah agama yang tertera

    dalam kartu identitasnya.

    B. Profil Subjek Penelitian

    1. Profil Keluarga Bapak JK

    Bapak JK lahir di Klaten 45 tahun yang lalu. Beliau memiliki istri

    yang bernama Ibu SM yang kini berumur 39 tahun. Keluarga ini dikaruniai

    satu anak perempuan bernama MR yang berusia 16 tahun dan satu anak laki-

    laki berusia 9 tahun bernama AS.

    Pendidikan terakhir Bapak JK adalah SLTP, sedangkan Ibu SM hanya

    lulusan SD. Anak pertama mereka kini duduk di bangku SLTA kelas dua di

  • 49

    Jakarta dan anak kedua yang bernama AS berada di tingkat tiga sekolah

    dasar.

    Setiap harinya Bapak JK bekerja sebagai karyawan salah satu pabrik

    di Ungaran, sedangkan Ibu SM membuka toko kecil di rumahnya. Dalam

    keluarga ini, agama yang dicantumkan dalam kartu keluarga semuanya Islam

    untuk masing-masing anggota keluarga. Tetapi untuk Bapak JK, Islam

    hanyalah sebatas agama identitas. Beliau tidak menjalankan segala bentuk

    ibadah maupun ajaran agama Islam, tetapi beliau aktif dalam semua kegiatan

    dan peribadatan agama Kristen Protestan. Sebelum menikah dengan Ibu SM,

    agama Bapak JK adalah Kristen Protestan namun demi memperoleh restu dari

    keluarga Ibu SM dan demi memperlancar kepengurusan surat-surat

    perkawinan beliau pindah ke agama Islam. Setelah dua tahun pernikahan,

    akhirnya Bapak JK memutuskan kembali lagi ke agama sebelumnya tetapi

    tidak mengganti agama dalam kartu identitasnya.

    2. Profil Keluarga Bapak DC

    Bapak DC berasal dari Semarang sedangkan Ibu IT dari Klaten.

    Mereka saling kenal karena keduanya bekerja di tempat yang sama di salah

    satu pabrik di Semarang. Setelah lama saling mengenal dan menjalin suatu

    hubungan, akhirnya mereka memutuskan menikah dan kemudian pindah ke

    Desa Doplang.

    Usia Bapak DC kini sudah mencapai umur 50 tahun sedangkan Ibu IT

    berusia 40 tahun. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama RL

    yang kini berusia 17 tahun.

  • 50

    Bapak DC adalah seorang lulusan SMA sedangkan istrinya hanya

    lulusan SD. Anak mereka kini sudah mencapai tingkat SLTA kelas dua di

    salah satu sekolah swasta di Ambarawa. Saat ini Bapak DC dan Ibu IT sama-

    sama bekerja sebagai buruh pabrik di Ungaran. Agama Bapak DC adalah

    Kristen sedangkan Ibu IT beragama Islam. Bapak DC sebenarnya pada waktu

    menikah pernah pindah ke agama Islam untuk memperlancar dalam proses

    pernikahannya. Namun Bapak DC langsung kembali pindah ke Agama

    Kristen setelah selesai pernikahannya.

    3. Profil Keluarga Bapak JN

    Klaten merupakan daerah asal Bapak JN, beliau lahir 46 tahun yang

    lalu. Istrinya bernama Ibu ST yang berusia 43 tahun berasal dari daerah

    Ungaran. Keduanya dikaruniai seorang anak laki-laki berusia 17 tahun

    bernama YD.

    Bapak JN dan Ibu ST bisa sampai ke tahap pernikahan dikarenakan

    dulu tempat kerja Bapak JN berdekatan dengan tempat tinggal Ibu ST.

    Setelah beberapa tahun pernikahan, akhirnya mereka memutuskan untuk

    pindah ke Desa Doplang dikarenakan Ibu ST dipindah tugaskan di Desa

    Doplang.

    Bapak JN merupakan seorang pegawai dinas perhutani di Semarang

    sedangkan Ibu ST seorang bidan desa yang ditugaskan di Desa Doplang.

    Agama Bapak JN adalah Islam dan Ibu ST beragama Kristen. Untuk

    mempermudah proses pernikahan Ibu ST pernah pindah ke Agama Islam.