pemilihan early warning indicator untuk bi no.7-2015... · pada tahap pertama, berdasarkan...

Download PEMILIHAN EARLY WARNING INDICATOR UNTUK BI No.7-2015... · Pada tahap pertama, berdasarkan laporan…

Post on 26-Aug-2018

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 0

    WORKING PAPER

    PEMILIHAN EARLY WARNING INDICATOR UNTUK MENGIDENTIFIKASI DISTRESS

    SEKTOR KORPORASI: UPAYA PENGUATAN CRISIS

    PREVENTION

    Arlyana Abubakar Rieska Indah Astuti

    Rini Oktapiani

    Desember, 2015

    WP/7/2015

    Kesimpulan, pendapat, dan pandangan yang disampaikan oleh penulis dalam paper ini merupakan kesimpulan, pendapat, dan pandangan penulis dan bukan merupakan kesimpulan, pendapat, dan pandangan resmi Bank Indonesia.

  • 1

    PEMILIHAN EARLY WARNING INDICATOR UNTUK MENGIDENTIFIKASI DISTRESS SEKTOR

    KORPORASI: UPAYA PENGUATAN CRISIS PREVENTION

    Arlyana Abubakar1, Rieska Indah Astuti2, Rini Oktapiani3

    Abstrak

    Penelitian ini bertujuan mengembangkan early warning indicator (EWI) yang dapat memberikan sinyal lebih awal terdapatnya tekanan kondisi keuangan sektor korporasi. Dengan demikian, upaya untuk mencegah pemburukan yang lebih dalam dapat diantisipasi sejak dini dan stabilitas sistem keuangan dapat tetap terjaga. Pada tahap pertama, berdasarkan laporan keuangan perusahaan, calon indikator dikelompokan menjadi empat kategori, yaitu liquidity indicator, solvency indicator, profitability indicator, dan activity indicator. Indikator yang terpilih sebagai EWI adalah yang dapat memprediksi terjadinya corporate distress event pada 2009 Q1 dengan statistical error paling minimal. Hasil evaluasi statistik menunjukkan bahwa secara agregat indikator debt to equity ratio (DER), current ratio (CR), quick ratio (QR), debt to asset ratio (DAR), solvability ratio (SR), dan debt service ratio (DSR) dapat memberi sinyal dalam satu tahun sebelum terjadi distress event pada 2009 Q1 sehingga indikator-indikator tersebut dapat menjadi EWI terdapatnya corporate financial distress.

    Key word : early warning indicator, financial distress

    JEL Classification : G01, C15

    1Peneliti Ekonomi Senior, Departemen Kebijakan Makroprudensial, Bank Indonesia; email:

    arlyana@bi.go.id 2Peneliti Ekonomi, Departemen Kebijakan Makroprudensial, Bank Indonesia; email:

    rieska_ia@bi.go.id 3Research Fellow, Departemen Kebijakan Makroprudensial, Bank Indonesia; email:

    rini.oktapiani@gmail.com

    Pendapat dalam paper ini merupakan pendapat penulis dan bukan merupakan pendapat

    resmi DKMP atau Bank Indonesia

    mailto:arlyana@bi.go.idmailto:rieska_ia@bi.go.idmailto:rini.oktapiani@gmail.com

  • 2

    I. PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Beberapa episode krisis ekonomi dan keuangan memberikan pelajaran akan

    pentingnya pengukuran risiko sistemik pada sistem keuangan. Peningkatan

    konektivitas antar-agen perekonomian diikuti pula oleh peningkatan risiko

    interkoneksi melalui common exposure antar-agen tersebut. Hal itu ditunjukkan

    dari hasil analisis National Financial Account & Balance Sheet (FABS) s.d. 2015 Q2

    (Lampiran) yang menyebutkan bahwa terdapat interkoneksi yang tinggi

    antarasektor korporasi nonfinansial (NFC) dengan sektor keuangan, khususnya

    perbankan. Di sisi lain, korporasi juga memiliki interkoneksi yang tinggi dengan

    sektor eksternal sehingga terekspos risiko eksternal yang antara lain disebabkan

    oleh utang luar negeri korporasi yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan adanya

    suatu indikator yang bersifat early warning sebagai sinyal terdapatnya tekanan

    keuangan pada sektor korporasi sehingga upaya untuk mencegah terjadinya

    peningkatan risiko sistemik yang berasal dari sektor korporasi dapat diantisipasi

    sejak dini.

    Early warning indicators (EWI) merupakan salah satu alat yang dapat

    digunakan dalam implementasi asesmen dan surveillance makroprudensial. EWI

    bermanfaat untuk mengidentifikasi secara lebih dini terkait potensi risiko sehingga

    otoritas dapat mengambil langkah preventif untuk meredam peningkatan risiko

    sistemik. Oleh karena itu, EWI harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti

    secara statistik memiliki kemampuan forecasting dan memiliki kemampuan

    memberikan sinyal krisis atau tekanan sedini mungkin sehingga otoritas memiliki

    waktu yang cukup untuk mempersiapkan kebijakan yang diperlukan (Drehmann,

    2013).

    Financial distress merupakan suatu situasi ketika perusahaan tidak dapat

    memenuhi kewajiban pembayaran kepada pihak ketiga (Andrade dan Kaplan,

    1998). Pranowo et al. (2010) menyatakan bahwa indikasi terjadinya financial

    distress secara nasional adalah fenomena terjadinya delisting beberapa

    perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena kesulitan likuiditas,

    seperti yang terjadi pada krisis keuangan Asia 1998/1999 dan krisis keuangan

    global 2008/ 2009. Fenomena lain yang mengindikasikan financial distress adalah

    semakin meningkatnya jumlah perusahaan yang tidak dapat memenuhi kewajiban

  • 3

    terhadap perbankan yang tercermin dari peningkatan non performing loan (NPL)

    perbankan, seperti yang terjadi pada tahun 2005 dan 2009. Data historis

    menunjukkan pada tahun 2006 terjadi peningkatan NPL perbankan sebesar 11,5%

    (dari 61 triliun rupiah menjadi 68 triliun rupiah) dibandingkan tahun sebelumnya.

    Pada Maret 2009 terjadi peningkatan NPL sebesar 9,4%, yaitu dari 55,4 triliun

    rupiah pada September 2008 menjadi 60,6 triliun rupiah. Berdasarkan fenomena-

    fenomena di atas dan ketersediaan data, financial distress korporasi di Indonesia

    diasumsikan terjadi pada awal tahun 2009.

    1.2 Ruang Lingkup Penelitian

    Ruang lingkup penelitian ini meliputi:

    1. Penelitian ini merupakan bagian dari kerangka kerja penyusunan financial

    imbalances indicator yang pada tahun 2015 diawali dengan EWI untuk sektor

    korporasi sesuai dengan ketersediaan data.

    2. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah korporasi-korporasi

    nonfinansial yang terdaftar pada BEI (public listed) dengan periode data 2014

    Q1 s.d. 2015 Q1. Korporasi yang dimaksud dalam penjelasan pada bab-bab

    selanjutnya merupakan korporasi nonfinansial.

    1.3 Tujuan Penelitian

    Penelitian ini bertujuan untuk

    (1) mengidentifikasi sinyal kerentanan (vulnerabilities) korporasi dengan

    menggunakan beberapa indikator secara lebih dini sehingga dapat diambil

    tindakan preventif untuk mencegah peningkatan risiko sistemik; dan

    (2) melengkapi asesmen dan surveillance makroprudensial, khususnya yang

    berkaitan dengan korporasi yang selanjutnya dapat diimplementasikan pada

    sektor perekonomian lainnya.

    1.4 Sistematika Penulisan

    Organisasi penulisan ini adalah sebagai berikut. Bab I menjelaskan latar

    belakang, ruang lingkup penelitian, tujuan penelitian, dan sistematika penulisan.

    Bab II menjelaskan tinjauan literatur. Bab III memaparkan metodologi penelitian

  • 4

    yang digunakan untuk menentukan EWI korporasi. Hasil estimasi akan dibahas

    pada Bab IV. Sebagai penutup, Bab V akan memaparkan simpulan dan area

    pengembangan ke depan.

  • 5

    II. TINJAUAN LITERATUR

    Kerentanan pada sektor korporasi dapat diartikan bahwa terdapat risiko

    kondisi keuangan korporasi akan menurun dan terus memburuk hingga mencapai

    suatu batas aman (threshold) yang dapat memicu peningkatan risiko sistemik

    (Gray, 2009). Suatu korporasi dikatakan mengalami tekanan pada kondisi

    keuangan (financial distress) jika korporasi tersebut tidak dapat memenuhi

    kewajiban pembayaran kepada pihak ketiga (Andrade dan Kaplan, 1998).

    Beberapa penelitian terdahulu telah dilakukan untuk memprediksi financial

    distress korporasi. Altman (2000) membangun sebuah model baru untuk

    memprediksi financial distress korporasi yang merupakan pengembangan dari

    model-model sebelumnya, yaitu Z-Score model (1968) and Zeta (1977) credit risk

    model. Informasi yang digunakan berupa rasio keuangan korporasi yang dianalisis

    dengan menggunakan model regresi linear. Adapun rasio-rasio keuangan yang

    digunakan sebagai variabel penjelas dalam model adalah working capital/total

    assets, retained earning/total assets, earning before interest and tax/total assets,

    market value equity/book value of total liabilities, dan sales/total assets.

    Platt dan Platt (2002) menjelaskan bahwa rasio keuangan yang paling

    dominan untuk memprediksi adanya financial distress adalah EBITDA/sales,

    current assets/current liabilities dan cash flow growth rate yang memiliki hubungan

    negatif terhadap kemungkinan korporasi akan mengalami financial distress.

    Semakin besar rasio tersebut, semakin kecil kemungkinan korporasi mengalami

    financial distress. Selain itu, rasio keuangan lain di antaranya adalah net fixed

    assets/total assets, long-term debt/equity, dan notes payable/total assets yang

    memiliki hubungan positif terhadap kemungkinan korporasi akan mengalami

    financial distress. Semakin besar rasio ini, semakin besar kemungkinan korporasi

    mengalami financial distress.

    Fitzpatrick (2004) menggunakan tiga variabel utama untuk memprediksi

    financial distress, yaitu ukuran aset perusahaan, besarnya leverage, dan standar

    deviasi dari aset. Sementara itu, Asquith et al. (1994) menggunakan interest

    coverage ratio untuk mendefinisikan financial distress.

    Penelitian yang dilakukan oleh Bank of Japan (BoJ) dalam Ito et al., (2014)

    mengidentifikasi bahwa terdapat 10 leading indicators yang dapat memberikan

    informasi terkait kondisi ketidakseimbangan (imbalances) yang terjadi pada

  • 6

    aktivitas sektor keuangan di Jepang. Dua di antara kesepuluh

Recommended

View more >