pemikiran politik pada zaman romawi-kristiani

Download PEMIKIRAN POLITIK PADA ZAMAN ROMAWI-KRISTIANI

Post on 02-Oct-2015

70 views

Category:

Documents

34 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

HI

TRANSCRIPT

IDE-IDE POLITIK BARATPEMIKIRAN POLITIK PADA ZAMAN ROMAWI-KRISTIANIMAKALAH INI DITUJUKAN UNTUK TUGAS KELOMPOK MATA KULIAH IDE-IDE POLITIK BARAT

ANNISA DEWI (0801512081)RAHMADHONA FEBRIANI (0801513001)NURUL HIDAYATI (0801513015)MUHAMMAD REZA M. (0801513031)HUBUNGAN INTERNASIONALFISIPUNIVERSITAS AL AZHAR INDONESIAJAKARTA2015KATA PENGANTARPuji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyusun makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Dalam makalah ini penulis membahas tentang pemikiran politik pada zaman Romawi-Kristiani. Makalah ini dibuat untuk tujuan memenuhi tugas kelompok mata kuliah Ide-ide Politik Barat. Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat di harapkan guna penyempurnaan makalah ini.Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan penulisan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................................2DAFTAR ISI....................................................................................................................................3BAB 1. PENDAHULUAN1.A. LATAR BELAKANG.................................................................................................41.B. RUMUSAN MASALAH.............................................................................................51.C. TUJUAN PENULISAN...............................................................................................51.D. MANFAAT PENULISAN...........................................................................................5BAB 11. KERANGKA TEORI.......................................................................................................6BAB III. ISIIII.A. PEMIKIRAN POLITIK PERADABAN ROMAWI.................................................7III.B. PEMIKIRAN POLITIK PERADABAN JUDEO-KRISTIANI...............................11BAB IV. KESIMPULAN..............................................................................................................17DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................19

BAB 1PENDAHULUAN1.A. LATAR BELAKANGBarat berhutang budi kepada peradaban Yunani-Romawi, sebagaimana kedua peradaban terakhir berhutang budi pada peradaban-peradaban kuno Mesopotamia, Mesir, India, Kreta dan Persia.[footnoteRef:1] Hampir dalam semua aspek peradaban dan tradisi keilmuannya seperti seni, sains, filsafat, etika, politik, kedokteran, matematika dan lain-lain. Tradisi keilmuan Yunani-Romawi telah memberikan kepada barat metode-metode eksperimental dan spekulatif yang perananannya sangat fundamental dalam pengembangan pengetahuan. Melalui karya-karya Yunani-Romawi, Barat mengenal Empirisme dan Rasionalisme.[footnoteRef:2] [1: Blum Camerun and Barnes A, History of Western Civilization (New York: Deil Publishing), 3&11.] [2: Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama), 4.]

Sumbangan terbesar peradaban Romawi kepada pemikiran Barat, terutama di bidang pemikiran sistem hukum dan lembaga-lembaga politik. Pengaruh keduanya, terutama pemikiran sistem hukumnya, terlihat dalam berbagai kajian dan praktik hukum di berbagai negara Eropa Barat seperti Perancis, Italia, Swiss, Jerman, Belanda dan Amerika Selatan. Bahkan, secara langsung atau tidak, negara-negara Commonwealth atau bekas jajahan negara-negara Eropa, seperti Indonesia yang dijajah Belanda misalnya, mempraktikkan hukum-hukum Romawi. Belanda menerapkan teori hukum di Indonesia yang berasal dari Kode Civil Napoleon yang merupakan produk modifikasi hukum-hukum Romawi.Ada tiga bentuk pemikiran hukum Romawi yang mempengaruhi pemikiran hukum Barat. Pertama, Ius Civile, hukum sipil dan warga negara Romawi, bukan warga negara lain, Kedua, Ius Gentium, yaitu hukum yang diberlakukan untuk semua orang, terlepas apa pun kewarganegaraannya tidak memandang nasionalitas seorang. Hukum ini memperkokoh dan memberikan legitimasi kepada keberadaan lembaga perbudakaan, partnership dan kontak-kontak. Pada hakikatnya, Ius Gentium bersifat suplemen terhadap Ius Civile. Ketiga, ini yang rerpenting, yaitu Ius Naturale , suatu prinsip filsafat hukum yang menganggap keadilan dan kebenaran selamanya sesuai dengan tuntutan rasional dan hakikat alam. Dalam filsafat hukum ini, semua orang memiliki hak-hak dan kedudukan yang sama di mata hukum dan pemerintah (negara) tidak berhak mengintrvensi hak-hak hukum itu.[footnoteRef:3] [3: Burns dan Philiph Lee Ralph, World Civilization from Ancient to Contemporary, New York : Norton a co., 1964. Hal.243]

Peradaban Judeo-Kristiani merupakan peradaban kedua yang meletakan dasar-dasar intelektual dan filosofis yang kokoh bagi pembentukan dan perkembangan peradaban Barat. Pada masa itu sedikit sulit untuk menentukan kapan prsisnya orang Yahudi memainkan peran historisnya dalam sejarah pertumbuhan peradaban Barat. Ada sebuah hipotesis bahwa peran itu dimulai ketika orang-orang Yahudi berdiaspora ke berbagai penjuru Eropa terutama di kawasan Italia, sekitar Mediterania dan wilayah-wilayah bekas jajahan imperium Romawi dan imperium Islam. Di kawasan imperium Islam Andalusia Spanyol, peran itu dimulai ketika peradaban ini melahirkan filosof terkemuka Yahudi, Musa Ibnu Maimun di abad XII-XIII.[footnoteRef:4] Orang-orang yahudo juga berperan dalam proses kelahiran peradaban renaisans Eropa ( Abad XIV-XVI).[footnoteRef:5] [4: Lady Magnus, Outlines of Jewish History, London : Long green , 1892 ] [5: Max Dimont, Jews, God and History (New York: The New American Library,1962) hal. 218]

1.B. RUMUSAN MASALAH1. Bagaimana pemikiran-pemikiran politik yang ada pada zaman Romawi-Kristiani?

1.C. TUJUAN PENULISANTujuan dari penulisan ini adalah untuk membahas tentang tokoh-tokoh sejarah pemikiran politik pada zaman Romawi hingga Kristiani.

1.D. MANFAAT PENULISANManfaat penulisan ini adalah untuk mengetahui sejarah pemikiran-pemikiran politik yang ada pada zaman Romawi hingga Kristiani.

BAB IIKERANGKA TEORIPada perkembangannya, Romawi membuat pemikiran spekulatif yunani menjadi praktis dan dapat diterapkan serta dapat mensistematisasi berbagai pemikiran politik yunani dalam pembentukan hukum positifnya, pemisahan politik dengan etika, agama dengan hukum, pembedaan antara masyarakat dan negara, kedaulatan politik dan personalitas negara sebagai pembuat hukum.[footnoteRef:6] Pemikiran yunani mempengaruhi secara lebih dalam lahirnya perkembangan gerakan intelektual seperti Renaisans yang menjadi awal perkembangan peradaban Eropa. [6: Sharma, Western Political Thought (Plato to Hugo Grotius), New Delhi: Sterling Pulishers Private Limited, 1982, hal. 95.]

Dilihat dari segi pemikiran politik romawi dapat menghasilkan pemahaman kepada barat mengenai teori imperium. Teori Imperium adalah teori mengenai kekuasaan dan otoritas negara dimana kedaulatan dan kekuasaan dianggap sebagai bentuk pendelegasian kekuatan rakyat kepada penguasa negara. Pada teori imperium ini dikatakan bahwa kedaulatan sepenuhnya dimiliki oleh rakyat. Maksudnya, rakyat memiliki hak-hak politik yang sama dan merupakan esensi tertinggi kedaulatan negara. Penguasa politik sebagai yang mempunyai tanggung jawab dalam memegang dan menggunakan kedaulatan untuk kebaikan seluruh rakyat.[footnoteRef:7] Berdasarkan teori ini, kekuasaan gereja di abad pertengahan saat itu dikembangkan. Keorganisasian kekukasaan dan keagamaan gereja katholik diadaptasi dari teori imperium romawi. Contoh pengadaptasian teori imperium romawi yaitu gelar yang digunakan Paus Supreme Pontiff (Pontifex Maximus) yang bermakna pemimpin agama warga negara.[footnoteRef:8] [7: Ibid, hal. 99.] [8: Burns, Edward Manshal and Philiph Lee Ralph, World Civilization from Ancient to Contemporary, New York: Norton a co., 1964, hal.242.]

Kemudian, kontribusi peradaban Judeo atau Yahudi dalam pemikiran barat, menurut Max Dimont, seorang pakar sejarah peradaban Yahudi, menjuluki orang-orang Yahudi sebagai orang-orang yang melahirkan peristiwa-peristiwa sejarah, menjadi subjek dan objek peristiwa-peristiwa itu, melalui gagasan-gagasan brilian yang mereka kemukakan. Kenapa dikatakan sebagai orang-orang yang melahirkan peristiwa Karena minoritas yahudi telah melahirkan tokoh-tokoh besar dalam berbagai bidang pengetahuan dan filsafat. Contohnya Hegel dengan ajarannya Hegelianisme. Hegelianisme merupakan suatu aliran filsafat yang sangat berpengaruh pada tradisi intelektual Eropa sejak abad ke-19 sampai saat ini. Selain yahudi, pemikiran barat juga diwariskan dari peradaban kristiani. Pada peradaban Kristiani, agama Kristen ini telah merintis barat untuk melahirkan kebangkitan nalar. Pelopor kebangkitan nalar Eropa yang melahirkan abad keemasan tersebut bernama Thomas Aquinas yang merintis suatu aliran filsafat dikenal sebagai aliran skolastisisme. Aliran skolastisisme ini adalah penafiran kembali dari karya-karya Aristoteles yang diajarkan di Universitas-universitas Islam di Andalusia. Aliran skolastisisme adalah ajaran bagaimana manusia mencari kebenaran. Adapun karakteristik dari skolatisisme, pertama, aliran ini dibangun atas dasar logika bukan sains atau dari pengalaman-pengalaman, bisa dibilang rasionalistis. Kedua, aliran ini mementingkan pendekatan etika, karena tujuan manusia menurut skolastik adalah bagaimana manusia bisa hidup lebih baik, bahkan jika sudah mati. Ketiga, aliran ini memberi perhatian pebuh pada usaha bagaimana bisa menjelaskan makna sesuatu, apakah sesuatu itu baik, tidak penting bagaimana proses terjadi dan asal muasalnya.[footnoteRef:9] [9: Ibid, hal. 458.]

BAB IIIISIA. PEMIKIRAN POLITIK PERADABAN ROMAWIPeradaban Romawi telah men