pemeriksaan diagnostik tes dm

Download Pemeriksaan Diagnostik Tes Dm

Post on 07-Aug-2018

239 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 8/21/2019 Pemeriksaan Diagnostik Tes Dm

    1/32

    1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1.Latar Belakang

    Diabetes Melitus (DM) yang dikenal juga dengan kencing manis atau kencing

    gula menjadi penyakit yang divonis tidak bisa sembuh. Dalam daftar ranking

    pembunuh manusia, DM menduduki perangkat keempat. Pada Kongres Federasi

    Diabetes Internasional di Paris tahun 2003 terungkap bahwa sekitar 194 juta orang di

    dunia mengidap penyakit ini. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan pada

    tahun 2025 jumlah penderitanya akan melonjak sampai 333 juta orang. Di Indonesia

    predikat diabetisi mengenal lebih dari 2,5 juta orang dan diperkirakan terus

    bertambah.

    Terjadinya DM karena kelenjar pankreas tidak lagi memproduksi insulin atau

    produksinya sangat sedikit sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhan tubuh akan

    hormon insulin. Inilah babak awal kerusakan seluruh organ tubuh.

    Hormon insulin yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas, berfungsi membantu

    tubuh mendapatkan energi dari makanan. Sebagian makanan yang dimakan akan

    diubah menjadi glukosa. Glukosa beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah.

    Tubuh menyimpan glukosa di dalam sel-sel (sel otot, jantung, lr\emak, hati, dll)

    untuk kemudian digunakan sebagai sumber energi. Hormon insulin dari pankreas ini

    berfungsi sebagai anak kunci untuk membuka pintu untuk masuk ke dalam sel.

    Secara Umum, asupan gula dalam darah disimpan dalam hati. Di sini diolah

    menjadi glikogen. Jika tubuh memerlukan, hati akan mengeluarkan dan mengolah

    kembali menjadi glukosa. Bagi orang normal, sebanyak apa pun konsumsi gula tidak

    mengganggu organ tubuh. Namun, tidak demikian bagi diabetisi. Jika buang air kecil,

    airnya agak kental dan terasa manis. Ini dikarenakan banyaknya gula yang berada

    dalam darah. Gula tersebut dibersihkan dan dikumpulkan dalam kandung kemih oleh

    ginjal.

    Seringnya terjadi penyebaran gula di dalam pembuluh darah, lambat laun

    tetapi pasti akan terjadi penyempitan pembuluh darah secara global. Selanjutnya,

    berujung pada kerusakan organ-organ tubuh bagian dalam (komplikasi).

    Walaupun diabetes melitus merupakan penyakit kronik yang tidak

    menyebabkan kematian secara langsung, tetapi dapat berakibat fatal bila

  • 8/21/2019 Pemeriksaan Diagnostik Tes Dm

    2/32

    2

    pengelolaannya tidak tepat. Pengelolaan DM memerlukan penanganan secara

    multidisiplin yang mencakup terapi non obat dan terapi obat.

    1.2.Rumusan Masalah

    1. Bagaimana Pengertian dan patofisiologi penyakit Diabetes Melitus ?

    2.

    Apa saja klasifikasi penyakit Diabetes Melitus ?

    3. Apa saja tanda dan gejala penyakit Diabetes Melitus ?

    4. Apa saja pemeriksaan penunjang penyakit Diabetes Melitus ?

    5. Bagaimana cara pengobatan Diabetes Melitus ?

    1.3.Tujuan Umum

    Untuk memperoleh informasi atau gambaran yang nyata tentang pelaksanaan

    asuhan keperawatan klien dengan gangguan sistem endokrin akibat Diabetes Melitus.

    1.4.

    Tujuan Khusus

    1. Untuk mengetahui pengertian dan patofisiologi penyakit Diabetes Melitus.

    2. Untuk mengetahui klasifikasi penyakit Diabetes Melitus.

    3.

    Untuk mengetahui tanda dan gejala penyakit Diabetes Melitus.

    4.

    Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang penyakit Diabetes Melitus.

    5. Untuk mengetahui bagaimana cara pengobatan Diabetes Melitus.

  • 8/21/2019 Pemeriksaan Diagnostik Tes Dm

    3/32

    3

    BAB II

    PEMBAHASAN

    2.1.Pengertian

    Diabetes mellitus (DM) berasal dari kata Yunani diabanein, yang berarti

    tembus atau pancuran air, dan dari kata Latin mellitus yang berarti rasa

    manis.Di Indonesia (dan negara berbahasa Melayu) lebih dikenal sebagai kencing

    manis.

    Diabetes Melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau gangguan

    metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula

    darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai

    akibat insufisiensi fungsi insulin. Dan sel beta Langerhans merupakan sejenis sel di

    kelenjar pankreas yang mensekresi hormon insulin. Tubuh akan memberikan signal

    kepada sel-sel beta untuk membuat dan mensekresi insulin jika kadar glukosa darah

    meningkat melampui normal.

    Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau didefensikan

    produksi oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas, atau disebabkan oleh kurang

    responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin.

    2.2.JenisJenis Diabetes

    WHO telah mendefenisikan 3 jenis diabetes:

    1) Diabetes Tipe 1 atau IDDM (Insulin Dependent Diabetes Mellitus)

    Biasanya terdiagnosa sejak usia kanak-kanak. Tubuh penderita hanya sedikit

    menghasilkan insulin atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan insulin, oleh

    karena itu untuk bertahan hidup penderita harus mendapat suntikan insulin setiap

    harinya. Tanpa pengaturan harian, kondisi darurat dapat terjadi. Pada tipe ini

    terdapat destruksi dari sel-sel beta pankreas, sehingga tidak memproduksi insulin

    lagi dengan akibat sel-sel tidak bisa menyerap glukosa dari darah karena itu kadar

    glukosa darah meningkat di atas 10 mmol/k, yakni nilai ambang-ginjal, sehingga

    glukosa berlebihan dikeluarkan lewat urinn bersama banyak air (glycosuria).

    Penyebabnya:

    Belum begitu jelas, tetapi terdapata indikasi kuat bahwa jenis ini disebabkan oleh

    suatu infeksi virus yang menimbulkan reaksi auto-imun berlebihan untuk

    menanggulangi virus. Akibatnya sel sel pertahanan tubuh tidak hanya

  • 8/21/2019 Pemeriksaan Diagnostik Tes Dm

    4/32

    4

    membasmi virus , melainkan juga turut merusak atau memusnahkan sel-sel

    Langerhans. Dalam waktu 1 tahun sesudah diagnosa, 80-90 % penderita tipe I

    memperlihatkan antibodies sel beta di dalam darahnya. Pada tipe ini faktor

    keturunan memegang peranan penting. Virus yang dicurgai adalah virus

    Coxsackie-B, Epstein-Barr, morbilli (measles) dan virus parotitis ("bof").

    Pengobatan:

    Pengobatan satu-satunya terhadap tipe-1 adalah pemberian insulin seumur hidup.

    Berhubung IDDM merupakan penyakit auto-imun, maka imunosupresiva, seperti

    azatioprin dan siklosporin, berdaya menghambat jalannya penyakit, tetapi hanya

    untuk sementara. Pasien IDDM di bawah usia 40 tahun lazimnya memerlukan

    insulin (0,6-0,9 UI/kg/hari) dan tidak dianjurkan minum antidiabetika oral.

    2)

    Diabetes Tipe 2 atau NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus)

    Lebih umum ditemui daripada type 1 dan mencapai 90% atau lebih dari seluruh

    kasus diabetes. Biasanya terjadi di usia dewasa. Pada tipe-2 ini, pankreas tidak

    cukup membuat insulin untuk menjaga level gula darah tetap normal, seringkali

    disebabkan tubuh tidak merespon dengan baik terhadap insulin tersebut.

    Kebanyakan orang tidak menyadari telah menderita dibetes tipe-2, walaupun

    keadaannya sudah menjadi sangat serius. Diabetes type 2 sudah menjadi umum

    dialami di dunia maupun di Indonesia, dan angkanya terus bertambah akibat gaya

    hidup yang tidak sehat, kegemukan dan malas berolahraga. Tipe ini lazimnya

    mulai di atas 40 tahun dengan insidensi lebih besar pada orang gemuk dan pada

    usia lebih lanjut. Orang-orang yang hidupnya makmur, culas dan kurang gerak

    badan lebih besar lagi resikonya Tipe-2 tidak tergantung dari insulin, maka juga

    disebut NIDDM dan dapat diobati dengan antidiabetika oral.Pada umumnya tidak

    terdapat kecenderungan acidosis. Antara 70-80 % dari semua pasien diabetes

    termasuk jenis ini, dimanafaktor keturunanmemegang peranan besar. Bila salah

    satu orang tua menderita kencing manis, maka kemungkinan diturunkannya

    penyakit ke anak-anak adalah 1 : 20.

    Penyebabnya:

    Akibat proses menua banyak pasien jenis ini mengalami penyusutan sel-sel beta

    yang progresif serta penumpukan amiloid sekitar sel-sel beta. Sel beta yang

    tersisa pada umumnya masih aktif, tetapi sekresi insulinnya semakin berkurang.

    Selain itu kepekaan reseptornya menurun. Hipofungsi sel-sel beta ini bersama

    resistensi insulin yang meningkat mengakibatkan gula darah meningkat

  • 8/21/2019 Pemeriksaan Diagnostik Tes Dm

    5/32

    5

    (hiperglikemia). Mungkin juga sebabnya berkaitan dengan suatu infeksi virus

    pada masa muda. Resistensi insulin sering terjadi pada NIDDM akibat makan

    terlalu banyak dibandingkan dengan kebutuhan individualnya, seperti lazimnya

    pada orang gemuk. Kadar gula darah selalu tinggi dan dapat meningkat dari nilai

    normal (ca 5 mmol/l) sampai di atas 8 mmol/l atau lebih sesudah makan.

    Diperkirakan bahwa pada penderita tanpa overweinght (tidak kegemuka)

    resistensi insulin tidak berperan.

    Pengobatan:

    Untuk pasien NIDDM, bila tindakan umum (diet, gerak badan dan penurunan

    berat badan) tidak atau kurang efektif untuk menormalkan glukosa darah, perlu

    digunakan antidiabetika oral. Pasien kurus diberikan suatu sulfonylurea, pasien

    gemuk umumnya suatu biguanida dengan efek anoreksans. Kira-kira 80% dari

    semua pasien tipe-2 adalah terlalu gemuk dengan kadar gula tinggi, sampai 17-22

    mmol/l (300-400 mg/100 ml).

    3)

    Gestational Diabetes

    Adalah kondisi gula darah yang tinggi yang terjadi pada masa kehamilan, terjadi

    pada orang yang tidak menderita diabetes. Umunnya akan kembali normal setelah

    masa kehamilan yakni setelah persalinan.

    Penyebabnya:

    Karena pada saat hamil akan membutuhkan kadar glukosa dua kali lipat karena

    kehadiran janin, selain itu dipengaruhi oleh adanya hormon estrogen.

    2.3.Gejala Klinik

View more