pembatalan perkawinan dan akibat hukumnya

Download Pembatalan Perkawinan Dan Akibat Hukumnya

Post on 19-Dec-2015

26 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Pembatalan perkawiran dapat berakibat pada tidak adanya lagi hubungan perkawinan dan masing-masing pihak kembali pada keadaan semula. Sedangkan akibat bagi anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut adalah tidak berlaku surut, jadi anak-anak tetap anak sah dari orang tuanya. Dan mengenai harta bersama, maka dengan adanya pembatalan perkawinan tersebut, harta dibagi menurut hukum adatnya masing-masing.

TRANSCRIPT

  • PEMBATALAN PERKAWINAN DAN

    AKIBAT HUKUMNYA MENURUT PASAL 22 UNDANG-

    UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974

    SKRIPSI

    Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan guna Menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu

    Program Studi Ilmu Hukum

    Oleh :

    M. MUKHLIS HASAN ASYARI 02100114

    FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MERDEKA MALANG

    2009

  • KATA PENGANTAR

    Dengan mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas

    berkatnya sehingga penulisan skripsi dengan judul PEMBATALAN

    PERKAWINAN DAN AKIBAT HUKUMNYA dapat terselesaikan. Dalam

    penyusunan tugas akhir (skripsi) ini, tidak akan bisa lancar tanpa dukungan moril dari

    berbagai pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hari, penulis menyampaikan rasa

    terima kasih kepada:

    1. Bapak DR. Supriyadi, SH., M.H., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas

    Merdeka Malang.

    2. Ibu Hj. Hairani, SH. M.Hum., selaku Ketua Bagian Hukum Perdata Fakultas

    Hukum Universitas Merdeka Malang.

    3. Bapak Prof. Dr. H. Kasuwi Saiban, M.Ag., selaku Pembimbing I

    4. Bapak Moch. Ghufron A.Z., SH. M.Hum. selaku Pembimbing II

    5. Staf karyawan Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang.

    6. Rekan-rekan Mahasiswa yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang

    telah membantu dalam penyelesaian penyusunan skripsi.

    7. Serta pihak lainnya yang mendukung dan teriibat dalam terselesaikannya

    penulisan skripsi ini.

    Sesuai dengan pepatah "tak ada gading yang tak retak", penulisan skripsi ini

    pun banyak kekurangan, baik materi yang disajikan maupun bahasa yang digunakan.

  • Oleh karena itu kritik dan saran dan semua pihak diterima dengan senang hati. Akhir

    kata penulis mengharapkan semoga penulisan skripsi ini dapat memberikan manfaat

    bagi semua pihak dan bagi penulis khususnya.

    Malang, Agustus 2009

    Penulis

  • MOTTO

    Sekecil apapun penyimpangan di awal perjalanan Akan menyebabkan kita sangat jauh dari tujuan

    akhir

  • DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL ........................................................ i

    LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI................................................................... ii

    LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI ........................................................ iii

    KATA PENGANTAR ........................................................................................... iv

    MOTTO ................................................................................................................. vi

    DAFTAR ISI.......................................................................................................... vii

    ABSTRAKSI ......................................................................................................... ix

    BAB I PENDAHULUAN

    Latar Belakang Masalah .................................................................... 1

    Rumusan Masalah ............................................................................. 5

    Tujuan Penelitian ............................................................................... 6

    Manfaat Penelitian ............................................................................ 6

    Metode Penelitian ............................................................................. 6

    Sistematika Penulisan ....................................................................... 8

    Jadwal Penelitian ............................................................................... 9

    BAB II TINJAUAN TEORITIS TENTANG PERKAWINAN DAN

    PEMBATALAN PERKAWINAN

    A. Pengertian, Tujuan, dan Syahnya Perkawinan ............................ 10

    1. Perkawinan Menurut Hukum Positif .................................... 10

    2. Perkawinan Menurut Hukum Islam...................................... 18

    B. Pengertian dan Syarat-syarat Pembatalan Perkawian .................. 31

    1. Menurut Hukum Positif ........................................................ 31

    2. Menurut Hukum Islam.......................................................... 33

    C. Alasan Pembatalan Perkawinan ................................................... 36

  • BAB III PEMBATALAN PERKAWINAN MENURUT UNDANG-

    UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 DAN AKIBAT

    HUKUMNYA

    A. Pembatalan Perkawinan Menurut Undang-Undang Nomor 1

    Tahun 1974 ................................................................................... 41

    1. Batal Demi Hukum dan Dapat Dibatalkan ....................... 41

    2. Pengajuan Pembatalan Perkawinan dan Pihak-pihak

    yang Mengajukan.................................................................... 48

    B. Akibat Hukum Pembatalan Perkawinan.................................... 52

    BAB IV PENUTUP

    A. Kesimpulan 57

    B. Saran 58

    DAFTAR PUSTAKA

  • ABSTRAK

    Judul: PEMBATALAN PERKAWINAN DAN AKIBAT HUKUMNYA

    Sebuah Perkawinan harus memenuhi syarat-syarat sahnya perkawinan, yang

    ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dan bila syarat-syarat tersebut tidak dipenuhi maka perkawinan tersebut dapat dibatalkan. Adapun pembatalan perkawinan dapat diajukan antara lain oleh para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dari suami atau isteri, dan dapat juga oleh suami isteri itu sendiri. Pembatalan perkawinan ditujukan semata-mata agar hasil perkawinan itu terlindungi oleh hukum, karena dengan adanya kekurangan-kekurangan persyaratan tersebut atau dengan adanya pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan dalam melangsungkan perkawinan, perkawinannya menjad tidak sah.

    Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui pembatalan perkawinan dan akibat hukum dari pembatalan perkawinan terhadap status suami istri, anak-anak, dan harta bersama.

    Tata cara pembatalan perkawinan, pada dasarnya tata caranya sama dengan tata cara melakukan perceraian, hanya saja pada proses persidangan pembatalan perkawinan, azas perdamaian yang diterapkan pada perceraian tidak dapat diterapkan pada pembatalan perkawinan karena tujuan pembatalan perkawinan adalah untuk membatalkan perkawinan tersebut. Jadi tidak ada taraf mendamaikan para pihak, kalaupun ada perdamaian hanya sepanjang mengenai batalnya perkawinan itu dilakukan secara damai.

    Pembatalan perkawiran dapat berakibat pada tidak adanya lagi hubungan perkawinan dan masing-masing pihak kembali pada keadaan semula. Sedangkan akibat bagi anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut adalah tidak berlaku surut, jadi anak-anak tetap anak sah dari orang tuanya. Dan mengenai harta bersama, maka dengan adanya pembatalan perkawinan tersebut, harta dibagi menurut hukum adatnya masing-masing.

    Pembatalan perkawinan dilakukan terhadap perkawinan yang tidak memenuhi rukun dan syarat untuk melangsungkan perkawinan. Oleh karena itu disarankan bagi setiap pasangan yang hendak melakukan pernikahan agar terlebih dahulu memenuhi syarat sahnya suatu perkawinan menurut tata perundang-undangan yang berlaku agar tidak terjadi pembatalan perkawinan.

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Perkawinan adalah merupakan sesuatu yang amat penting di dalam

    kehidupan seseorang, karena sudah menjadi kodrat alam bahwa dua orang manusia

    dengan jenis kelamin yang berlainan laki-laki dan perempuan, yang mempunyai

    rasa saling membutuhkan satu sama lain.

    Bab I Pasal 1 Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 disebutkan: Perkawinan

    adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami

    isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal

    berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa."

    Dari bunyi pasal ini, jelaslah bahwa dalam undang-undang ini menghendaki,

    bahwa perkawinan itu merupakan ikatan lahir batin antara pihak-pihak yang akan

    melangsungkan perkawinan. Ikatan lahir batin ini harus merupakan persetujuan

    mereka dan tidak boleh berdasarkan paksaan dari siapapun dan dari manapun,

    seperti pendapat yang dikemukakan oleh Projodikoro, yaitu: " Oleh karena maksud

    perkawinan ialah supaya suami dan isteri hidup selama mungkin, maka sudah

    selayaknya bahwa syarat penting untuk perkawinan itu adalah persetujuan yang

    bersifat sukarela dari kedua pihak."1

    Hal di atas ditegaskan pula oleh Zuhdi, bahwa wali si wanita sekalipun

    1 Wiryono Prodjodikoro, 1984, Hukum Perkawinan di Indonesia, Bandung: Sumur. h.40.

    1

  • ayahnya sendiri, tidak mempunyai wewenang mutlak untuk mengawinkan

    putrinya tanpa persetujuan putrinya. Sebab kalau si ayah mengawinkan putrinya

    tanpa persetujuannya, maka putrinya berhak memilih (khiyar). Artinya ia dapat

    menerima atau menolak perkawinannya, kalau ia menolak, ia dapat mengajukan

    kasusnya kepada Pengadilan agar perkawinannya dibatalkan."2 Dengan demikian,

    dalam perkawinan itu bertujuan untuk melanjutkan keturunan maupun untuk

    membentuk suatu kedamaian, dengan memenuhi syarat-syarat aturan hidup yang

    terdapat dalam lingkungan masyarakat.

    Perkawinan merupakan perbuatan hukum, sehingga perkawinan

    menimbulkan hak dan kewajiban bagi pihak-pihak yang melakukannya dan pihak

    lain, misalnya hak dan kewajiban yang berkaitan dengan harta benda. Oleh karena

    itu, apabila seorang laki-laki dan seorang perempuan bersepakat untuk melakukan

    perkawinan satu sama lain, ini berarti mereka saling berjanji akan taat pada

    peraturan-peraturan hukum yang berlaku. Mengenai hak dan kewajiban masing-

    masing pihak selama dan sesuda

Recommended

View more >