Pekerja anak

Download Pekerja anak

Post on 17-Jul-2015

910 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>Pekerja anakDari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas</p> <p>Pekerja anak, New Jersey, 1910 Pekerja anak adalah sebuah istilah untuk mempekerjakan anak kecil. Istilah pekerja anak dapat memiliki konotasi pengeksploitasian anak kecil atas tenaga mereka, dengan gaji yang kecil atau pertimbangan bagi perkembangan kepribadian mereka, keamanannya, kesehatan, dan prospek masa depan. Di beberapa negara, hal ini dianggap tidak baik bila seorang anak di bawah umur tertentu, tidak termasuk pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan sekolah. Seorang 'bos' dilarang untuk mempekerjakan anak di bawah umur, namun umum minimumnya tergantung dari peraturan negara tersebut. Meskipun ada beberapa anak yang mengatakan dia ingin bekerja (karena bayarannya yang menarik atau karena anak tersebut tidak suka sekolah), hal tersebut tetap merupakan hal yang tidak diinginkan karena tidak menjamin masa depan anak tersebut. Namun beberapa kelompok hak pemuda merasa bahwa pelarangan kerja di bawah umur tertentu melanggar hak manusia. Penggunaan anak kecil sebagai pekerja sekarang ini dianggap oleh negara-negara kaya sebagai pelanggaran hak manusia, dan melarangnya, tetapi negara miskin mungkin masih mengijinkan karena keluarga seringkali bergantung pada pekerjaan anaknya untuk bertahan hidup dan kadangkala merupakan satu-satunya sumber pendapatan.</p> <p>Analisa Tindak Pidana Mempekerjakan Anak Di Bawah Umur Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan Hukum Pidana IslamPosted on March 2, 2010 by Mochamad Soef ABSTRAK Analisa Tindak Pidana Mempekerjakan Anak Di Bawah Umur Dalam Perspektif Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan Hukum Pidana Islam; Antung Rusdiana; Jurusan Syariah Twinning Program UMM. Kata Kunci: Anak, Perlindungan anak, Eksploitasi dan Pekerja anak. Anak adalah merupakan sebuah titipan dari Allah SWT. kepada orang tua untuk merawat, menjaga, dan memeliharanya dengan baik agar anak dapat mengetahui hak dan kewajibannya dan para orang tua juga harus memberikan pendidikan jasmani, rohani, serta akal supaya anak bisa berkembang dan mampu menghadapi dan mengatasi problema hidup yang akan dia hadapi dan kelak menjadi orang yang berguna bagi dirinya sendiri dan juga bagi lingkungannya. Tetapi, fenomena yang banyak terjadi di kalangan masyarakat miskin, anak dijadikan suatu obyek untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam hal ini, anak disuruh bekerja di jalanan sebagai pengemis, pengamen dan lain sebagainya yang dapat menyebabkan anak tersebut menjadi anak yang hidup di jalanan dan dampaknya anak-anak tersebut bisa dimanfaatkan oleh orang-orang dewasa yang bisa menjadikan mereka suatu alat untuk di jadikan sasaran pelampiasan kemarahan mereka dan bahkan terkadang bagi anak perempuan di jadikan pelampiasan nafsu birahi mereka. Padahal di dalam undang-undang dan Al-Quran sudah menegaskan bahwa anak berhak mendapatkan perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, dan lain sebagainya. Sehubungan dengan rumusan masalah, penulis bermaksud untuk mengetahui bagaimana kasus-kasus yang telah terjadi di masyarakat tentang eksploitasi anak dan bagaimana efektifitas undang-undang dan aparat penegak hukum untuk menangani kasus-kasus tersebut. Di dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan metode penelitian hukum normatif, yaitu penelitian terhadap asas-asas hukum, sistematik hukum, taraf sinkronisasi vertikal dan horisontal, perbandingan hukum, dan sejarah hukum. Hasil analisa penulis dari permasalahan eksploitasi anak ini, bahwa dalam undangundang dan Al-Quran sudah dengan tegas menyebutkan tentang larangan pengeksploitasian terhadap anak dalam bentuk apapun. Tetapi, lemahnya dari aparat penegak hukum dalam menangani kasus-kasus tersebut dan tidak semua orang yang bisa diberikan tindakan hukum, sehingga para orang tua maupun agen yang mempekerjakan anak di bawah umur bisa beroperasi dengan baik, karena dengan</p> <p>menyuruh anak-anak bekerja di jalanan sebagai pengemis, pengamen, dan lain sebagainya, masyarakat akan merasa kasihan, sementara apabila orang tua yang bekerja di jalanan pendapatan mereka tidak sebesar pendapatan yang dihasilkan anak-anak mereka. Para orang tua yang mempekerjakan anaknya, menganggap hal tersebut sah-sah saja, karena mereka menyuruh anak mereka sendiri untuk ikut bekerja mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan hidup dalam keluarga.</p> <p>Polisi Tahan Pengusaha yang Mempekerjakan Anak Bawah UmurJum'at, 04 Januari 2008 | 20:42 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:Markas Besar Kepolisian RI menahan pengusaha Anthoni, yang mempekerjakan anak di bawah umur. Pengusaha sarang burung walet ditahan di Markas Besar Kepolisian sejak kemarin (3/1)sore. "Dia mempekerjakan 19 orang, 17 orang di bawah umur. Bahkan ada yang baru berusia 13 tahun," kata Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Kepolisian Komisaris Besar Agung Sabar Santoso di Markas Besar Kepolisian RI, Jumat (4/1). Anthoni diduga merekrut anak di bawah umur melalui Yayasan Tiga Putra Jaya, Putri Sehati, Mekar Jaya, dan Makmur Jaya. Anak-anak tersebut dipekerjakan selama 10-14 jam per hari dengan upah Rp 350 ribu per bulan. Upah dibayarkan per tahun. Namun kenyataannya anak-anak tidak dibayar. Anthoni dijerat pasal 2 junto pasal 17 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 dan pasal 88 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak. "Ancamannya 10 tahun penjara," kata Agung. Agung menjelaskan kasus ini ditangani Markas Besar Kepolisian RI setelah menerima laporan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak sekitar pekan lalu. Dari situ polisi langsung mengejar Anthoni yang kemudian ditangkap Rabu lalu di rumahnya di bilangan Cengkareng, Jakarta Barat. Sepanjang November-Desember lalu Markas Besar Kepolisian juga mengungkap beberapa kasus penjualan perempuan ke luar negeri. Di antaranya pengiriman enam orang perempuan ke Jepang yang diungkap pada November lalu. Modusnya para perempuan itu akan dipekerjakan sebagai pegawai restoran. Kenyataannya mereka dipaksa menjadi pekerja di tempat prostitusi. Polisi menetapkan Jimmy Wijaya, warga Indonesia, sebagai tersangka. Polisi juga mengungkap pengiriman tenaga kerja ke Kurdistan. Padahal negara itu merupakan negara konflik, bukan negara penempatan tenaga kerja. Andi Gunawan ditetapkan sebagai tersangka pengiriman ilegal tersebut.</p> <p>Untuk pengiriman tenaga kerja ke Korea Selatan, polisi menetapkan Muhamaad Imron dan Ade Rully sebagai tersangka. Mereka mengatasnamakan PT Mitra Munara Kencana Lestari yang belakangan diketahui tidak memperoleh izin Perusahaan Jasa TKI. "Januari ini kami juga akan mengungkap pengiriman tenaga kerja ilegal lainnya," katanya. Kecam keras mempekerjakan anak di bawah umur WartaWASPADA ONLINE</p> <p>MEDAN - Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumatera Utara, M Zahrin Piliang, mengecam keras bagi orangtua yang mempekerjakan anaknya yang masih di bawah umur. "Dalam perspektif UU Perlindungan Anak, Pasal 1 ayat 1 No.23 tahun 2002 bahwa anak yang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih dalam perlindungan. Dalam hal ini mereka tidak boleh menjadi tulang punggung ekonomi keluarga," kata Zahrin di Medan, tadi malam. Anak-anak hanya boleh berada di tiga tempat, yakni rumah, sekolah dan tempat mereka bermain saja. Kalau pun mereka terpaksa bekerja hanya diberikan waktu selama empat jam saja di siang hari.. "Sesuai dengan Konvensi International Labour Organization (ILO), hanya membenarkan anak-anak yang terpaksa bekerja diberikan waktu empat jam dan hanya diperbolehkan di siang hari saja," ungkapnya. Selain itu, mereka tidak boleh bekerja di tempat-tempat yang membahayakan dirinya baik secara fisik maupun psikis. Ada tiga langkah yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan anak-anak agar tidak bekerja sebelum waktunya, yaitu proses penyadaran terhadap orangtua melalui semacam kampanye terus menerus oleh semua pihak bahwa mempekerjakan anak-anak telah melanggar undang-undang. "Langkah yang lain adalah harus adanya penindakan hukum apabila ada perusahaan besar yang mempekerjakan mereka di dalamnya. Terakhir juga penindakan hukum terhadap rumah tangga yang mempekerjakan anak sebagai pembantu rumah tangga," jelasnya. Tapi dari ketiga langkah yang akan dilakukan masih sangat lemah dan kurang berhasil disebabkan tidak adanya pihak-pihak yang berkaitan untuk menjalankannya. Hal terpenting agar dapat mengurangi tindakan mempekerjakan anak adalah penyadaran terhadap orangtua di dalam keluarganya. "Kampanye yang ditujukan kepada orangtua juga harus diiringi advokasi kebijakan dari pemerintah setempat yang melarang anak-anak utuk bekerja.(dat03/ann)</p> <p>Banyak Anak di Bawah Umur Dipekerjakanby MAJALAH.KOMUNITAS 01/06/2009 - 10:26 BEKASI, (PRLM).-Sejumlah kasus mempekerjakan anak dibawah umur kerap terjadi di Kab. Bekasi. Dari peneliian yang dilakukan beberapa LSM, dari 100 perkerja rumah, sekitar 80 persennya merupakan pekerja di bawah umur. "Itu baru pekerja rumah tangga, belum pekerja di perusahaan-perusahaan dinsinyalir juga banyak pekerja di bawah umur, dengan modus menuakan umur mereka di atas 17 tahun di KTP ketika melamar ke perusahaan," ucap Kepala Penasihat Teknis Program Kerja Anak ILO (International Labour Organization), Arum Rahmawati, saat dtitemui di Bekasi, Minggu (31/5). Tidak hanya dimanfaatkan tenaganya untuk untuk pekerjaan industri, menurut Arum, anak kerap kali terjebak dalam pelecehan seksual saat menjadi pekerja rumah tangga. "Menjadi sasaran kejahatan bosnya dan kerap kali ditipu soal upah karena belum memahami kontrak kerja. Kasus tersebut banyak terjadi di Kab. Bekasi," ujar Arum. Arum mewakili ILO berharap kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kab. Bekasi dapat menertibkan pekerja di bawah umur, karena jika dibiarkan, bukan tidak mungkin Kab.Bekasi tidak akan maju, karena bibit SDM yang rendah.(PR)</p> <p>ANALISIS PERLINDUNGAN HUKUM PEKERJA ANAK (Studi Perbandingan Hukum Ketenagakerjaan Indonesia Dengan Hukum Islam)Utri Asyfa'ah</p> <p>AbstractIndonesia sebagai negara berkembang sangat bergantung pada pelaksaan pembangunan nasional, dalam hal ini tenaga kerja mempunyi peranan dan kedudukan penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan. Untuk menigkatkan kualitas dan kuantintas tenaga kerja diperlukan suatu perlindungan hukum untuk menjamin hak-hak mereka sebagai pekerja dan manusia. Berdasarkan data BPS pada bulan Oktober 1990 jumlah perkerja anak usia 10-14 tahun tercatat sebanyak 2,5 juta dan terus turun hingga bulan Oktober 1997 menjadi 1,64 juta jiwa. Setelah adanya krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997 pekerja anak mengalami peningkatan 1,81 juta dan pada tahun 1999 mencapai angka 2,21 jiwa. Jumlah tersebut akan jauh lebih beesar jika dihitung pekerja anak yang</p> <p>berusia dibawah 10 tahun dan 14 tahun. Di Indonesia masalah pekerja anak sudah mendapatkan perhatian yang serius mengingat jumlahnya mengalami peningkatan. Sehubungan dengan kasus tersebut maka dibuat sebuah peraturan hukum yang melindungi nasib pekerja anak. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga serta melindungi hak-hak itu sendiri sebagaimana Islam telah memberi perlindungan khusus terhadap anak supaya mereka tidak kehilangan hak-haknya sebagai anak walaupun mereka harus pekerja. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka disini penulis merumuskan masalah yaitu; (1) apa saja analisis perlindungan hukum bagi pekerja anak (menurut hukum ketenagakerjaan dan hukum Islam (2) apa saja persamaan dan perbedaan perlindungan hukum bagi pekerja anak menurut hukum ketenagakerjaan dan hukum Islam. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dari penulisan skripsi ini adalah : 1. Untuk mengetahui aspek hukum perlindungn pekerja anak menurut hukum ketenagakerjaan dan hukum Islam. 2. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan perlindungan hukum bagi perkerja anak menurut hukum ketenagakerjaan dan hukum Islam. Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan jenis penelitian studi kepustakaan atau (library research) atau lebih tepatnya yaitu studi yuridis normative Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh data, keterangan, teori-teori serta pendapat para ahli yang diperoleh dari berbagai literatur, majalah, dan surat kabar serta melalui penulusuran media internet. Dan penulisan skiripsi ini menggunakan metode deduksi komporasi, yaitu pola berfikir yang diambil berdasarkan data umum yamg disaring, diolah, kemudian ditarik kesimpulan secara khusus serta membandingkan perlindungan hukum pekerja anak antara hukum ketenagakerjaan dan hukum Islam. Dari hasil penulisan skripsi ini dapat diketahui bagaimana perlindungan hukum yang diberikan hukum ketenagakerjaan dan hukum Islam terhadap anak yang bekerja atau pekerja anak Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan terdapat perlindungan khusus bagi anak yang bekerja yang tercantum dalam Pasal 68 sampai pasal 75 sedangkan di dalam hukum Islam perlindungan tersebut memang tidak ada, karena sepengetahuan peneliti dalam hukum Islam secara spesifik tidak terdapat penjelasan mengenai perlindungan terhadap pekerja anak, karena pekerja anak memang tidak ada. Islam hanya memberikan gambaran secara umum tentang perlindungan bagi pekerja bukan perlindungan terhadap pekerja anak atau seorang anak yang bekerja, karena perlindungan terhadap anak merupakan bidang tersendiri dalam agama Islam yang terdapat di dalam Fiqih Anak. Dalam Fiqih Anak inilah Islam berusaha menjelaskan bagaimana metode dalam mengasuh dan mendidik anak serta hukum-hukum yang berkaitan dengan aktifitas anak. Pada akhir penulisan skripsi ini ada beberapa saran yang dapat dijadikan bahan pertimbangan masyarakat pada umumnya dan instrumen hukum khususnya untuk melaksanakan tanggung jawab yang diamanatkan berdasarkan aturan secara formal dan materill tanpa harus dikurangi atau bahkan dilebihkan.</p> <p>HAK ASASI MANUSIA Tri Widodo W. Utomo, SHDewasa ini kita saksikan semaraknya peristiwa-peristiwa dalam panggung politik Indonesia yang cenderung panas dan brutal. Salah satu</p> <p>topik sentral dalam berbagai peristiwa tersebut menyangkut masalah Hak Asasi Manusia (HAM). Seperti kita ketahui bersama, individu atau organisasi-organisasi kemasyarakatan yang merasa harus memiliki kepedulian terhadap pelaksanaan Hak Asasi Manusia, seperti Lembaga Bantuan Hukum (LBH) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lainnya, kalangan intelektual, dan masyarakat umum sebagai obyek dan subyek dari kehidupan berbangsa dan bernegara, hampir setiap saat menyuarakan hati nuraninya menuntut ditegakkannya hak asasi secara konsekuen. Munculnya fenomena ini merupakan salah satu wujud dari kedewasaan politik masyarakat menuju keterbukaan, atau merupakan ciri kemandirian sebagai keberhasilan pembangunan nasional kita. Mereka berkeinginan untuk menegakkan salah satu konsiderans Universal Declaration of Human Rights tanggal 10 Desember 1948, yaitu bahwa : sikap-sikap yang tidak mempedulikan dan sikap melecehkan hak-hak manusia akan mengakibatkan tindakan kurang beradab yang mendatangkan amarah pada hati nurani manusia, sehingga hak-hak manusia harus dilindungi oleh hukum supaya manusia tidak mengambil jalan pemberont...</p>