pedoman pelayanan kamar jenazah

27
BAB I PENDAHULUAN I. PENDAHULUAN Secara khusus penanganan jenazah sangat penting guna mengurangi risiko infeksi nosokomial. Proses penanganan di RS Mutiara Hati Mojokerto hanya meliputi penempatan sementara sampai diperlihatkan ke pasien. Salah satu upaya untuk meningkatkan pelayanan di rumah sakit adalah melalui pemberian pelayanan penunjang medik yang profesional, bemutu dan aman. Mengingat bahwa linen digunakan disetiap ruangan di rumah sakit, maka diperlukan pengelolaan linen secara komprehensif. Dalam buku ini disajikan tentang panduan manajemen linen di rumah sakit, sarana, prasarana dan peralatan pencucian, infeksi nosokomial serta kesehatan dan keselamatan kerja. Prosedur pelayanan linen vang diawali dengan perencanaan sampai penatalaksanaan serta monitoring dan evaluasi. II. LATAR BELAKANG Di RS Mutiara Hati Mojokerto, instalasi kamar jenazah berada di bagian belakang sebelah barat dimana alur untuk penanganan pelayanan kamar jenazah sudah diatur. Kamar jenazah di instalasi kamar jenazah tidak bisa dilalui oleh orang yang tidak berkepentingan. Lalu lintas hanya bias dilalui oleh petugas Instalasi kamar jenazah. Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah 1

Upload: ninik-dyah-sri-purwati

Post on 24-Dec-2015

3.898 views

Category:

Documents


406 download

DESCRIPTION

Secara khusus penanganan jenazah sangat penting guna mengurangi risiko infeksi nosokomial. Proses penanganan di RS Mutiara Hati Mojokerto hanya meliputi penempatan sementara sampai diperlihatkan kepada keluarga pasien

TRANSCRIPT

Page 1: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

BAB I

PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN

Secara khusus penanganan jenazah sangat penting guna mengurangi risiko infeksi

nosokomial. Proses penanganan di RS Mutiara Hati Mojokerto hanya meliputi

penempatan sementara sampai diperlihatkan ke pasien.

Salah satu upaya untuk meningkatkan pelayanan di rumah sakit adalah melalui

pemberian pelayanan penunjang medik yang profesional, bemutu dan aman. Mengingat

bahwa linen digunakan disetiap ruangan di rumah sakit, maka diperlukan pengelolaan

linen secara komprehensif. Dalam buku ini disajikan tentang panduan manajemen linen

di rumah sakit, sarana, prasarana dan peralatan pencucian, infeksi nosokomial serta

kesehatan dan keselamatan kerja. Prosedur pelayanan linen vang diawali dengan

perencanaan sampai penatalaksanaan serta monitoring dan evaluasi.

II. LATAR BELAKANG

Di RS Mutiara Hati Mojokerto, instalasi kamar jenazah berada di bagian belakang

sebelah barat dimana alur untuk penanganan pelayanan kamar jenazah sudah diatur.

Kamar jenazah di instalasi kamar jenazah tidak bisa dilalui oleh orang yang tidak

berkepentingan. Lalu lintas hanya bias dilalui oleh petugas Instalasi kamar jenazah.

Kamar jenazah suatu rumah sakit bukanlah satu satunya pintu keluar pasien. Masih

terdapat pintu keluar lain yaitu pintu kesembuhan dan pintu transisi. Walaupun kamar

jenazah merupakan bagian final keluarnya pasien yang telah benar – benar tanpa nyawa/

ruh. Penanganan untuk jenazah yang dilakukan oleh rumah sakit mutiara hati hanya

sekedar melakukan perawatan sebelum diperlihatkan kepada keluarga, bukan

pemulasaraan. Artinya jenazah dari rumah sakit Mutiara Hati dilakukan perawatan oleh

pihak keluarga masing – masing. SDM di kamar jenazah adalah seorang perawat yang

mempunyai kemampuan dalam perawatan jenazah. Perawat tersebut telah memiliki

pengetahuan tentang pencegahan dan pengendalian infeksi sehingga selalu disiplin dalam

penggunaan APD.

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah1

Page 2: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

Infeksi nosokomial adalah infeksi yang khas terjadi atau didapat di rumah sakit.

Infeksi ini telah dikenal sejak lama. Permasalahan yang terjadi akibat infeksi nosokomial

sangatlah kompleks dan dapat menyebabkan kerugian bagi pasien maupun bagi rumah

sakit. Mengingat bahwa penularan penyakit dapat melalui udara, percikan dan kontak,

sehingga indicator kejadian infeksi nosokomial menjadi penting untuk diperhatikan.

Selanjutnya salah satu upaya untuk menekan kejadian infeksi nosokomial adalah dengan

melakukan standar kamar jenazah yang baik. Selain itu pengetahuan dan perilaku petugas

kesehatan juga mernpunyai peran yang sangat penting. Petugas kamar jenazah wajib

menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya dan orang lain (pasien dan pengunjung) serta

bertanggung jawab sebagai pelaksana kebijakan yang telah ditetapkan oleh rumah sakit.

.

III. TUJUAN

Tujuan Umum :

Sebagai pedoman bagi Manajemen Rumah Sakit Mutiara Hati untuk dapat melaksanakan

pelayanan jenazah dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.

Tujuan Khusus :

1. Sebagai pedoman pelaksanaan pelayananan di kamar jenazah yang merupakan salah

satu upaya rumah sakit dalam mencegah infeksi nosokomial.

2. Mencegah terjadinya infeksi pada petugas kesehatan, pasien, keluarga dan

masyarakat.

3. Sebagai pedoman kerja untuk melaksanakan pelayanan jenazah sebelum ditunjukkan

dan dibawa pulang oleh keluarga..

4. Sebagai panduan dalam meminimalisasi kemungkinan untuk terjadinya infeksi silang.

IV. RUANG LINGKUP

Penggunaan pedoman ini diterapkan kepada petugas instalasi kamar jenazah. Yang

diharapkan menerapkan pelayanan jenazah sesuai prosedur. Sehingga dapat

meningkatan mutu pelayanan kamar jenazah dan menghindari adanya infeksi silang

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah2

Page 3: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

V. BATASAN OPERASIONAL

Sebagai acuan rumah sakit Mutiara Hati Mojokerto dalam memberikan mutu pelayanan

yang baik bagi keluarga pasien. Jenazah secara etis diperlakukan penghormatan

sebagaimana manusia, karena ia adalah manusia. Martabat kemanusiaan ini adalah

perawatan kebersihan sebagaimana kepercayaan agama/adatnya. Perlakuan sopan dan

tidak merusak badan, termasuk kerahasiannya. Oleh karena itu kamar jenazah harus

bersih dan bebas dari kontaminasi khususnya hal yang membahayakan petugas, aman

bagi petugas yang bekerja, termasuk terhadap resiko penularan jenazah terinfeksi karena

penyakit mematikan.

VI. LANDASAN HUKUM

1. UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan

2. UU No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

3. Keputusan menteri kesehatan RI nomor 106/MENKES/SK/1/2004 tentang System

Penaggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT)

4. Permenkes No. 986/Menkes/Per/Xl/ 1992 tentang penyehatan Lingkungan Rumah

Sakit.

5. Keputusan Menteri Kesehatan No.983/Menkes/SK/X/1992 tentang Pedoman

Organisasi Rumah Sakit.

6. Buku Pedoman Infeksi Nosokomial tahun 2001

7. Standart Pelayanan Rumah Sakit tahun 1999

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah3

Page 4: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

BAB II

STANDAR KETENAGAAN

I. KUALIFIKASI SDM

Status kesehatan

Seluruh tenaga yang bekerja di instalasi kamar jenazah Rumah Sakit Mutiara Hati

Mojokerto dianjurkan untuk :

1. Mempunyai data kesehatan yang mencakup data fisik, X-ray untuk TBC paling

sedikit 1 kali dalam setahun

2. Status imunisasi untuk hepatitis B, tetanus, typhoid fever

3. Laporan mengenai sakit yang dialami selama bekerja di instalasi kamar jenazah

seperti ISPA, infeksi kulit, infeksi gastrointestinal, dll.

Petugas Instalasi kamar jenazah antara lain :

1. Kepala instalasi kamar jenazah

Kualifikasi tenaga

a. Pendidikan terakhir SMA

b. Sudah mendapatkan kursus tambahan tentang prosedur dan teknis pelayanan

kamar jenazah.

c. Mengetahui tentang psikologi personel

2. Staff/ petugas kamar jenazah

a. Mendapatkan kursus tambahan tentang prosedur dan teknis pelayanan kamar

jenazah.

b. Mengetahui alur dan penanganan kamar jenazah.

c. Cekatan, tanggap dan disiplin.

II. DISTRIBUSI KETENAGAAN

1. Kepala Instalasi kamar jenazah

a. Memimpin Instalasi kamar jenazah untuk pencapaian Visi dan Misi RS Mutiara

Hati Mojokerto

b. Memimpin dan mengembangkan SDM Instalasi kamar jenazah

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah4

Page 5: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

c. Mengatur, mengawasi dan mengevaluasi kegiatan rutin dan berkala manajemen

dan administrasi Instalasi kamar jenazah

d. Melakukan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan

evaluasi dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Instalasi kamar jenazah.

e. Memberikan usulan program kerja dan anggaran Instalasi kamar jenazah

f. Mengembangkan kemampuan SDM Instalasi kamar jenazah

g. Mengatur, mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan dinas kerja staf

bawahannya

h. Merencanakan, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi semua alat alat

inventaris dan barang barang kebutuhan kamar jenazah.

i. Menjalin komunikasi dan kerjasama secara aktif dengan instalasi-instalasi kerja

yang terkait sehingga mampu memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien

j. Melaksanakan tugas-tugas lain dari atasan

2. Staf Kamar jenazah

a. Bertanggungjawab kepada kepala instalasi kamar jenazah.

b. Mengarahkan semua aktifitas staff yang barkaitan dengan suplai alat steril bagi

perawatan pasien di rumah sakit

c. Menjaga kebersihan diri dan ruangan, karena hal tersebut merupakan cerminan dari

kebersihan linen

d. Menjaga inventaris yang dimiliki instalasi kamar jenazah

III. PENGATURAN JAGA

Kepala instalasi kamar jenazah bekerja mulai jam 08.00 WIB – 14.00 WIB

Staf instalasi kamar jenazah bekerja mulai jam 14.00 WIB – 21.00 WIB

Diluar jam kerja (21.00 – 07.00) bisa dipanggil on call.

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah5

Page 6: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

BAB III

STANDAR FASILITAS

I. DENAH

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah6

Page 7: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

II. STANDAR FASILITAS

Sarana fisik dan peralatan sangat mempengaruhi efisien kerja dan pelayanan instalasi

kamar jenazah. Mengingat tugas pokok instalasi kamar jenazah adalah melayani pasien yang

sudah meninggal dengan atau tanpa penyakit menular, maka diperlukan sarana dan prasarana

yang memadai. Guna mencegah infeksi silang.

Bangunan

Bangunan disesuaikan dengan kapasitas Rumah sakit dengan 45 TT dan angka kematian

yang hanya 0,2%. Luas bangunan kamar jenazah sebesar 16m2.

Lokasi

Lokasi jauh dari lalu lintas utama rumah sakit karena berdampak pada efisiensi kerja dan

meningkatkan pengendalian infeksi, yaitu dengan cara meminimalkan terjadinya kontaminasi.

Area tertutup tidak dapat diakses oleh orang yang tidak berkepentingan.

Syarat Instalasi kamar jenazah

Pada prinsipnya kamar jenazah berada di tempat yang jauh dari lalu lintas perawatan

pasien untuk menghindari terjadinya kontaminasi dan sesuai dengan alur kerja.

Kebersihan ruangan

1. Setiap hari lantai dan permukaan harus dibersihkan

2. Lakukan dekontaminasi permukaan setelah selesai kegiatan

3. Secara teratur dilakukan pembersihan besar yang disesuaikan dengan jadwal pembersihan

Instalasi kamar jenazah

Sarana fisik dan peralatan instalasi kamar jenazah

Di kamar jenazah tempat tidur untuk perawatan pasien sebelum ditunjukkan kepada keluarga.

Terdapat troli untuk menempatkan alat – alat yang dibutuhkan untuk pelayanan jenazah.

Terdapat brankar untuk memindahkan jenazah dari rumah sakit ke mobil jenazah. Di dalam

kamar jenazah terdapat lemari penyimpanan APD. Dan kranjang atau box untuk meletakkan

APD yang telah dipakai untuk perawatan jenazah. Yang nantinya akan dibawa ke ruang

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah7

Page 8: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

laundry. Terdapat wastafel dan antiseptic serta handwash untuk petugas mencuci tangan

setelah menyiapkan jenazah. Peralatan yang diperlukan di kamar jenazah antara lain :

1. Peralatan antropometri

2. System komunikasi internal (PABX)

3. Sarung tangan panjang

4. Apron plastic

5. Masker

6. Tutup kepala

7. Surat kematian

8. Label jenazah

9. Senter

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah8

Page 9: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

JENAZAH DARI INSTALASI LAIN SURAT KETERANGAN KEMATIANMASUK INSTALASI KAMAR JENAZAH

PEMBAYARAN DI KASIR RSPENGAMBILAN JENAZAH OLEH KELUARGA (MENGGUNAKAN KERETA JENAZAH DAN MOBIL JENAZAH

BAB IV

TATA LAKSANA PELAYANAN

Pelayanan kamar jenazah adalah kegiatan mempersiapkan jenazah sebelum diperlihatkan

kepada keluarga. Untuk memberikan pelayanan yang lebih baik pada pasien meninggal, maka

diperlukan alur penanganan jenazah yang jelas. Tersedianya kamar jenazah yang standar dapat

dipakai sebagai acuan oleh petugas kamar jenazah dalam memberikan mutu pelayanan yang baik

bagi keluaga pasien.

ALUR PENANGANAN JENAZAH DI KAMAR JENAZAH RS MUTIARA HATI

MOJOKERTO

1. Pasien dari instalasi lain yang sudah dinyatakan meninggal (jenazah) dikirim ke kamar

jenazah.

2. Di kamar jenazah dilakukan perawatan sebelum ditunjukkan kepada keluarga. Di kamar

jenazah dilakukan pemeriksaan kembali. Kepala diberi tali kassa sampai mulut jenazah

tertutup. Tangan diposisikan diatas perut kemudian pergelangan tangan ditali. Kemudian

diantara jempol kaki diselipkan kassa dan ditali kembali. Setelah posisi dan keadaan jenazah

sudah dirapikan, keluarga dipanggil untuk melihat keadaan keluarganya yang meninggal.

3. Setelah dilakukan perawatan di kamar jenazah petugas kamar jenazah memberikan surat

kematian.

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah9

Page 10: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

4. Kemudian keluarga membawa surat kematian ke ruang administrasi rumah sakit untuk

mengurus biaya perawatan selama di Rumah sakit. Setelah surat kematian dan biaya

administrasi telah selesai, keluarga menunjukkan kepada petugas instalasi kamar jenazah.

5. Setelah ditunggu 2 jam jenazah diperbolehkan dibawa pulang dengan menggunakan

kereta/brankar khusus untuk jenazah menuju ke mobil jenazah rumah sakit.

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah10

Page 11: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

BAB VLOGISTIK

Instalasi kamar jenazah di Rumah Sakit Mutiara Hati Mojokerto sebagai salah satu

bagian penting rumah sakit untuk mencegah resiko infeksi dan menunjang pelayanan medis baik

untuk petugas, pasien dan pengunjung. Apabila alat dan bahan untuk pemrosesan linen habis

maka petugas atau staf menulis permintaan barang kepada kepala instalasi kamar jenazah.

Kepala instalasi kamar jenazah memberikan formulir permintaan bahan dan alat kepada bagian

rumah tangga.

untuk pengajuan kebutuhan logistik serta keperluan gudang kamar jenazah selama satu

tahun dibuatkan dalam satu anggaran pada satu tahun berjalan. Setiap anggaran yang dibuat

diharapkan dapat digunakan secara optimal dalam tahun berjalan. Sistem Logistik yang

digunakan mengacu pada panduan logistik yang dibuat oleh Bagian Logistik dan Inventaris

dengan mengacu pada sistem yang baku.

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah11

Page 12: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

BAB VIKESELAMATAN PASIEN

A. Pengertian

Keseimbangan pasien adalah suatu sistem di mana rumah sakit membuat asuhan

pasien lebih aman. Hal ini termasuk asesmen resiko, identifikasi dan pengelolaan hal

yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan

belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan

timbulnya resiko.

Sedangkan insiden keselamatan pasien adalah setiap kejadian atau situasi yang dapat

mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan harm (penyakit, cedera, cacat, kematian,

dan lain-lain) yang tidak seharusnya terjadi. (KKP-RS)

B. Tujuan

Tujuan sistem ini adalah mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh

kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang

seharusnya diambil. Selain itu sistem keselamatan pasien ini mempunyai tujuan agar

terciptan budaya keselamatan pasien di rumah sakit, meningkatkannya akuntabilitas

rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat, menurunnya kejadian tidak diharapkan di

rumah sakit, dan terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi

pengulangan kejadian tidak diharapkan. (KKP-RS)

C. Tata Laksana Keselamatan Pasien

Dalam melaksanakan keselamatan pasien terdapat tujuh langkah menuju

keselamatan pasien rumah sakit. Adapun tujuh langkah tersebut adalah:

1. Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien. Mencipatakan kepemimpinan

dan budaya yang terbuka dan adil.

2. Memimpin dan mendukung karyawan. Membangun komitmen dan fokus yang kuat

dan jelas tentang keselamatan pasien.

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah12

Page 13: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

3. Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan resiko. Mengembangkan system dan proses

pengelolaan resiko, serta melakukan identifikasi dan asesmen hal potensial

bermasalah.

4. Mengembangkan system pelaporan. Memastikan karyawan agar denngan mudah

dapat melaporkan kejadian / insiden, serta rumah sakit mengatur pelaporan kepada

KKP-PS.

5. Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien. Mengembangkan cara-cara

komunikasi yang terbuka dengan pasien.

6. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien. Mendorong karyawan

untuk melakukan analis akar masalah untuk belajar bagaimana dan mengapa kejadian

itu timbul.

7. Mencegah cedera melalui implementasi system keselamatan pasien. Menggunakan

informasi yang ada tentang kejadian atau masalah untuk melakukan perubahan pada

system pelayanan.

Dalam melaksanakan keselamatan pasien standar keselamatan pasien harus diterapkan.

Standar tersebut adalah:

1. Hak pasien

2. Mendidik pasien dan keluarga

3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan

4. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan

program peningkatan keselamatan pasien

5. Peran kepemimpinan dalam meningkatan keselamatan pasien

6. Mendidik karyawan tentang keselamatan pasien

7. Komunikasi yang merupakan kunci bagi karyawan untuk mencapai keselamatan

pasien.

Langkah-langkah penerapan keselamatan pasien rumah sakit:

1. Menetapkan unit kerja yang bertanggung jawab mengelola program keselamatan

pasien rumah sakit.

2. Menyusun program keselamatan pasien rumah sakit jangka pendek 1-2 tahun

3. Mensosialisasikan konsep dan program keselamatan pasien rumah sakit

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah13

Page 14: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

4. Mengadakan pelatihan keselamatan pasien rumah sakit bagi jajaran manajemen

dan karyawan

5. Menetapkan system pelaporan insiden (peristiwa keselamatan pasien)

6. Menerapkan tujuh langkah menuju keselamatan pasien rumah sakit seperti

tersebut diatas

7. Menerapkan standar keselamatan pasien rumah sakit (seperti tersebut diatas) dan

melakukan self assessment dengan instrument akreditasi pelayanan keselamatan

pasien rumah sakit

8. Program khusus keselamatan pasien rumah sakit

9. Mengevaluasi secara periodik pelaksanaan program keselamatan pasien rumah

sakit dan kejadian tidak diharapkan.

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah14

Page 15: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

BAB VII

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

UU No 23 tahun 1992 menyatakan bahwa tempat kerja wajib menyelenggarakan upaya

kesehatan kerja adalah tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan, mudah terjangkit

penyakit atau mempunyai paling sedikit 10 orang. Rumah Sakit adalah tempat kerja yang

termasuk dalam kategori seperti disebut diatas, berarti wajib menerapkan upaya keselamatan dan

kesehatan kerja. Program keselamatan dan kesehatan kerja di tim pendidikan pasien dan

keluarga bertujuan melindungi karyawan dari kemungkinan terjadinya kecelakaan di dalam dan

di luar rumah sakit..

Dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 27 ayat (2) disebutkan bahwa “Setiap

warganegara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Dalam hal

ini yang dimaksud pekerjaan adalah pekerjaan yang bersifat manusiawi, yang memungkinkan

pekerja berada dalam kondisi sehat dan selamat, bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja,

sehingga dapat hidup layak sesuai dengan martabat manusia.

Keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 merupakan bagian integral dari perlindungan

terhadap pekerja dalam hal ini tim PPK dan perlindungan terhadap Rumah Sakit. Pegawai

adalah bagian integral dari rumah sakit. Jaminan keselamatan dan kesehatan kerja akan

meningkatkan produktivitas pegawai dan meningkatkan produktivitas rumah sakit. Undang-

Undang No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dimaksudkan untuk menjamin:

a. Agar pegawai dan setiap orang yang berada di tempat kerja selalu berada dalam keadaan

sehat dan selamat.

b. Agar faktor-faktor produksi dapat dipakai dan digunakan secara efisien.

c. Agar proses produksi dapat berjalan secara lancar tanpa hambatan.

Faktor-faktor yang menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat digolongkan pada

tiga kelompok, yaitu :

a. Kondisi dan lingkungan kerja

b. Kesadaran dan kualitas pekerja, dan

c. Peranan dan kualitas manajemen

Dalam kaitannya dengan kondisi dan lingkungan kerja, kecelakaan dan penyakit akibat kerja

dapat terjadi bila :

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah15

Page 16: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

- Peralatan tidak memenuhi standar kualitas atau bila sudah aus;

- Alat-alat produksi tidak disusun secara teratur menurut tahapan proses produksi;

- Ruang kerja terlalu sempit, ventilasi udara kurang memadai, ruangan terlalu panas atau

terlalu dingin;

- Tidak tersedia alat-alat pengaman;

- Kurang memperhatikan persyaratan penanggulangan bahaya kebakaran dll.

a. Perlindungan Keselamatan Kerja Dan Kesehatan Petugas Kesehatan

Petugas kesehatan yang menangani linen kotor harus mendapatkan pelatihan

mengenai cara penularan dan penyebaran penyakit, tindakan pencegahan dan

pengendalian infeksi yang sesuai dengan protokol jika terpajan.

Petugas yang tidak terlibat langsung dengan pasien harus diberikan penjelasan

umum mengenai penyakit tersebut.

Petugas kesehatan yang kontak dengan pasien penyakit menular melalui udara

harus menjaga fungsi saluran pernapasan (tidak merokok, tidak minum dingin)

dengan baik dan menjaga kebersihan tangan setiap saat dan:

o Memeriksa suhu dua kali sehari dan mewaspadai munculnya gejala

pernapasan terutama batuk

o Memiliki catatan pribadi mengenai kontak yang dialami. Catatan tidak

boleh dibawa ke dalam area isolasi

o Bila timbul demam, segera batasi interaksi dan isolasi diri dari area umum.

Segera lapor kepada Tim Dalin / Pandalin, Tim Kesehatan kerja (K3) dan

dokter poliklinik RS, adanya kemungkinan terinfeksi penyakit menular

yang sedang ditangani.

b. Petunjuk Pencegahan infeksi untuk Petugas Kesehatan

Untuk mencegah transmisi penyakit menular dalam tatanan pelayanan kesehatan,

petugas harus menggunakan APD yang sesuai untuk kewaspadaan Standar dan

Kewaspadaan Isolasi (berdasarkan penularan secara kontak, droplet, atau udara)

sesuai dengan penyebaran penyakit.

Semua petugas kesehatan harus mendapatkan pelatihan tentang gejala penyakit

menular yang sedang dihadapi.

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah16

Page 17: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

Semua petugas kesehatan dengan penyakit seperti flu harus dievaluasi untuk

memastikan agen penyebab. Dan ditentukan apakah perlu dipindah tugaskan dari

kontak langsung dengan pasien, terutama mereka yang bertugas di unit perawatan

intensif (ICU), ruang rawat anak, ruang bayi.

Jika petugas kesehatan mengalami gejala demam atau gangguan pernapasan

dalam jangka waktu 10 hari setelah terpajan penyakit menular melalui udara,

maka ia perlu dirawat di ruang isolasi.

Petugas terpajan yang tidak memiliki gejala demam atau gangguan pernapasan

tidak perlu dibebastugaskan namun harus melaporkan pajanan yang dialami

segera kepada Tim Dalin.

Surveilans aktif perlu dilakukan terhadap gejala demam dan gangguan pernapasan

setiap hari kepada petugas kesehatan yang terpajan. Petugas diinstruksikan untuk

mewaspadai timbulnya demam, gangguan pernapasn dan atau peradangan

konjungtiva selama 10 hari setelah terpajan dengan penyakit menular melalui

udara.

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah17

Page 18: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

BAB VIII

PENGENDALIAN MUTU

Prinsip dasar upaya peningkatan mutu pelayanan adalah pemilihan aspek yang akan

ditingkatkan dengan menetapkan indikator, kriteria, serta standar yang akan digunakan untuk

mengukur mutu pelayanan.

Adapun pengendalian mutu Instalasi kamar jenazah harus sesuai dengan protap yang

telah ditentukan. Setiap proses pelayanan jenazah berjalan petuga selalu mengenakan APD.

Dan tidak ada kejadian infeksi yang terjadi.

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah18

Page 19: Pedoman Pelayanan Kamar Jenazah

BAB IXPENUTUP

Undang-undang no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen menjadi tantangan

yang harus diantisipasi oleh para praktisi pelayanan kesehatan. Selain itu juga dituntut

memberikan pelayanan yang professional dengan diberlakukannya undang – undang tentang

praktek kedokteran yang ditujukan kepa da kepastian hukum baik bagi penerima pelayanan

kesehatan maupun pemberi pelayanan kesehatan.

Kejadian infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat atau timbul pada waktu pasien

dirawat di rumah sakit. Bagi pasien dirumah sakit, infeksi nosokomial merupakan masalah serius

yang dapat menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien.

Beberapa kejadian infeksi nosokomial mungkin tidak menyebabkan kematian namun

menyebabkan hari perawatan menjadi lebih lama di rumah sakit. Ini berarti pasien membayar

lebih mahal dan dalam kondisi tidak produktif, disamping pihak rumah sakit juga akan

mengeluarkan biaya yang lebih besar. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Rumah Sakit

merupakan kegiatan yang sangat penting dan salah satu factor yang mendukung untuk

meningkatkan kualitas pelayanan dan erat kaitannya dengan citra rumah sakit. Oleh karena itu

pencegahan dan pengendalian infeksi rumh sakit harus diperhatikan.

Salah satu kegiatan untuk menekan kejadian infeksi nosokomial adalah dengan

melaksanakan pelayanan instalasi kamar jenazah yang baik. Tanggung jawab untuk

melaksanakan semua kegiatan secara aman dilingkungan pusat sterilisasi menjadi

tanggungjawab petugas instalasi kamar jenazah. Pada dasarnya kecelakaan kerja di lingkungan

pusat sterilisasi dapat dihindari dengan cara megetahui potensi bahaya yang dapat timbul.

Dengan cara memperhatikan secara seksama dan melatih teknik – teknik bekerja secara aman

maka resiko terjadinya kecelakaan kerja dapat diturunkan secara signifikan

Pedoman pelayanan Instalasi kamar jenazah19