pbl respi skenario 3

Click here to load reader

Post on 10-Aug-2015

146 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

yarsi

TRANSCRIPT

MUHAMMAD OKY FIRMANSYAH 1102008164 A-4 SKENARIO 3 : BATUK BERKEPANJANGAN

TIU 1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ASMA PADA ANAK DEFINISI Asma adalah kondisi berulang dimana rangsangan tertentu mencetuskan saluran pernafasan menyempit untuk sementara waktu sehingga membuat kesulitan bernafas. Meskipun asma dapat terjadi pada semua usia, namun lebih sering terjadi pada anak-anak, terutama sekali pada anak mulai usia 5 tahun. Beberapa anak menderita asma sampai mereka usia dewasa; namun dapat disembuhkan. Kebanyakan anak-anak pernah menderita asma. Para Dokter tidak yakin akan hal ini, meskipun hal itu adalah teori. Lebih dari 6% anak-anak terdiagnosa menderita asma, 75% meningkat pada akhir-akhir ini. Meningkat tajam sampai 40% di antara populasi anak di kota. Kebanyakan anak yang menderita asma dapat berinteraksi dengan lingkungannya, kecuali pada waktu kambuh. Sedikit anak yang tahan terhadap asma dan membutuhkan obat pencegah setiap harinya untuk dapat melakukan olahraga dan bermain secara normal.

ETIOLOGI

Genetik Merupakan faktor resiko yang paling tinggi. Pada asma alergik, biasanya berhubungan dengan riwayat penyakit alergi pada keluarga seperti rhinitis, urtikaria, dan eksema. Faktor Lingkungan Karena adanya stimulus bronkial spesifik seperti debu rumah, serbuk sari, dan bulu kucing. Paparan pekerjaan Karena paparan iritan dan sensitizer. Stimulus non spesifik Seperti infeksi virus, udara dingin, olahraga, stress emosional, dan kadar atmosfer yang tinggi (seperti saat badai) yang merupakan predisposisi eksaserbasi asma yang telah ada. Faktor lingkungan lain Makanan (tinggi Na+, rendah Mg+), infeksi pada anak-anak (sebagian besar akibat imunisasi), dan peningkatan jumlah alergen di lingkungan (contoh: debu rumah).

(Davey, 2005; Kasper et al., 2005)

PATOFISIOLOGI

Secara ringkas patofisiologi dari asma bronkhiale seperti gambar berikut:

(i) (ii) Gambar 1 : saluran nafas normal (i) dan saluran nafas penderita asma (ii) (Muchid dkk, 2007) Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang menyebabkan sukar bernapas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhiolus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan edema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest.

KLASIFIKASIAsma dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi, berat penyakit dan pola keterbatasan aliran udara. Klasifikasi berdasarkan berat penyakit penting bagi pengobatan dan perencanaan penatalaksanaan jangka panjang, semakin berat asma semakin tinggi tingkat pengobatan. Tabel klasifikasi derajat berat asma berdasarkan gambaran klinis

Derajat asma Intermitten

Gejala

Gejala malam 2x/bulan

Faal paru

Bulanan

o o oPersisten ringan

Gejala < 1x/minggu Tanpa gejala diluar serangan Serangan singkat

APE 80% VEP1 80% nilai prediksi APE 80% nilai terbaik Variabilitas APE < 20%

Mingguan Gejala > 1x/minggu tetapi < 1x/hari Serangan dpt mengganggu aktivitas dan tidur

> 2x/bulan

APE > 80% VEP1 80% nilai prediksi APE 80% nilai terbaik Variabilitas APE 20-30%

Persisten sedang

Harian Gejala setiap hari Serangan mengganggu aktivitas dan tidur membutuhkan bronkodilator setiap hari

> 1x/minggu

APE 60-80% VEP1 60-80% nilai prediksi APE 60-80% nilai terbaik Variabilitas APE > 30%

Persisten berat

Kontinua Gejala terus menerus Sering kambuh Aktivitas fisik terbatas

Sering

APE 60% VEp1 60% nilai prediksi 60% nilai terbaik Variabilitas APE > 30%

Pada umumnya penderita sudah dalam pengobatan, dan pengobatan yang telah berlangsung seringkali tidak adekuat. Pengobatan akan mengubah gambaran klinis bahkan faal paru, oleh karena itu penilaian berat asma pada penderita dalam pengobatan juga harus mempertimbangkan pengobatan itu sendiri. Tabel klasifikasi derajat berat asma pada penderita dalam pengobatan Tahapan pengobatan yang digunakan saat penilaian Gejala dan faal paru dalam pengobatan Tahap I intermiten Intermiten Tahap 2 persisten sedang Persisten ringan Tahap 3 persisten sedang Persisten sedang

Tahap I : intermitten Gejala < 1x/minggu Serangan singkat Gejala malam < 2x/bulan Faal paru normal di luar serangan

Tahap II : persisten ringan Gejala > 1x/minggu, tetapi < 1x/hari, gejala malam > 2x/bulan, tetapi < 1x/minggu Faal paru normal diluar serangan

Persisten ringan

Persisten sedang

Persisten berat

Tahap III : persisten sedang Gejala setiap hari, serangan mempengaruhi aktivitas dan tidur Gejala malam > 1x/minggu 60% < VEP1 < 80% nilai prediksi 60% < APE < 80% nilai terbaik

Persisten sedang

Persisten berat

Persisten berat

Tahap IV : persisten berat Gejala terus menerus, serangan sering, gejala malam sering VEP1 60% nilai prediksi atau APE 60% nilai terbaik

Persisten berat

Persisten berat

Persisten berat

MANIFESTASI KLINIS Gejala asthma terdiri dari triad : dispnea, batuk dan mengi, gejala yang disebutkan terakhir sering dianggap sebagai gejala yang harus ada (sine qua non). Objektif Sesak nafas yang berat dengan ekspirasi memanjang disertai wheezing. Dapat disertai batuk dengan sputum kental, sulit dikeluarkan. Bernafas dengan menggunakan otot-otot nafas tambahan Cyanosis, tachicardia, gelisah, pulsus paradoksus. Fase ekspirasi memanjang disertai wheezing (di apex dan hilus) Subjektif Klien merasa sukar bernafas, sesak, anoreksia. Psikososial Cemas, takut dan mudah tersinggung Kurangnya pengetahuan klien terhadap situasi penyakitnya.

DIAGNOSIS Studi epidemiologi menunjukkan bahwa asma tidak terdiagnosis di seluruh dunia, disebabkan berbagai hal antara lain gambaran klinis yang tidak khas dan beratnya penyakit yang sangat bervariasi, serta gejala yang bersifat episodik sehingga penderita tidak merasa perlu berobat ke dokter. Diagnosis asma didasari oleh gejala yang bersifat episodik, gejala berupa batuk, sesak napas, mengi, rasa berat di dada dan variabilitas yang berkaitan dengan cuaca. Anamnesis yang baik cukup untuk menegakkan diagnosis, ditambah dengan pemeriksaan jasmani dan pengukuran faal paru terutama reversibiltas kelainan faal paru akan lebih meningkatkan nilai diagnostik. 4

Riwayat penyakit atau gejala : 1 Bersifat episodik, seringkali reversibel dengan atau tanpa pengobatan. Gejala berupa batuk berdahak, sesak napas, rasa berat di dada. Gejala timbul/memburuk terutama malam/dini hari. Diawali oleh factor pencetus yang bersifat individu. Responsif terhadap pemberian bronkodilator. Hal lain yang perlu dipertimbangkan dalam riwayat penyakit Riwayat keluarga (atopi). Riwayat alergi/atopi. Penyakit lain yang memberatkan. Perkembangan penyakit dan pengobatan.

1. 2. 3. 4. 5.

1. 2. 3. 4.

Serangan batuk dan mengi yang berulang lebih nyata pada malam hari atau bila ada beban fisik sangat karakteristik untuk asma. Walaupun demikian cukup banyak asma anak dengan batuk kronik berulang, terutama terjadi pada malam hari ketika hendak tidur, disertai sesak, tetapi tidak jelas mengi dan sering didiagnosis bronkitis kronik. Pada anak yang demikian, yang sudah dapat dilakukan uji faal paru (provokasi bronkus) sebagian besar akan terbukti adanya sifat-sifat asma. 5 Batuk malam yang menetap dan yang tidak tidak berhasil diobati dengan obat batuk biasa dan kemudian cepat menghilang setelah mendapat bronkodilator, sangat mungkin merupakan bentuk asma. 1

Pemeriksaan fisik o Gejala asma bervariasi sepanjang hari sehingga pada asma ringan dan sedang tidak ditemukan kelainan fisik di luar serangan. o Pada inspeksi terlihat pernapasan cepat dan sukar, disertai batuk-batuk paroksismal, kadang-kadang terdengar suara mengi, ekspirasi memanjang, terlihat retraksi daerah supraklavikular, suprasternal, epigastrium dan sela iga. Pada asma kronik bentuk toraks emfisematous, bongkok ke depan, sela iga melebar, diameter anteroposterior toraks bertambah. o Pada perkusi terdengar hipersonor seluruh toraks, terutama bagian bawah posterior. Daerah pekak jantung dan hati mengecil. o Pada auskultasi bunyi napas kasar/mengeras, pada stadium lanjut suara napas melemah atau hampir tidak terdeng