pbl blok 7

Download pbl blok 7

Post on 21-Jul-2016

17 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Respirasi

TRANSCRIPT

Saluran Pernapasan Bagian Bawah dan Mekanisme PernapasanAyesha Shaironita102013556/E1Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida WacanaJl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510Telephone: (021) 5694-2061 (hunting), Fax: (021) 563-1731Email: ayeshashaironita@ymail.comPendahuluanManusia membutuhkan suplay oksigen secara terus-menerus untuk proses respirasi sel, dan membuang kelebihan karbondioksida sebagai limbah beracun produk dari proses tersebut.1Pertukaran gas antara oksigen dengan karbondioksida dilakukan agar proses respirasi sel terus berlangsung. Oksigen yang dibutuhkan untuk proses respirasi sel ini berasal dari atmosfer, yang menyediakan kandungan gas oksigen sebanyak 21% dari seluruh gas yang ada. Oksigen masuk kedalam tubuh melalui perantaraan alat pernapasan yang berada di luar. Pada manusia, alveolus yang terdapat di paru-paru berfungsi sebagai permukaan untuk tempat pertukaran gas.1Jalannya udara pernapasan udara masuk melalui lubang hidung kemudian melewati nasofaring, melewati oralfarink, melewati glottis, masuk ke trakea, masuk ke percabangan trakea yang disebut bronchus, masuk ke percabangan bronchus yang disebut bronchioles dan udara berakhir pada ujung bronchus berupa gelembung yang disebut alveolus (jamak: alveoli).1

PembahasanStruktur Anatomi dan Histologi Saluran Pernapasan BawahAnatomi saluran pernapasan terdiri atas saluran pernapasan bagian atas (rongga hidung, sinus paranasal, dan faring), saluran pernapasan bagian bawah (laring, trachea, bronchus, dan alveoli), sirkulasi pulmonal (ventrikel kanan, arteri pulmonary, arteriola pulmonary, kapiler pulmonary, venula pulmonary, vena pulmonary, dan atrium kirir), paru (paru kanan 3 lobus dan paru kiri 2 lobus), rongga pleura, dan otot-otot pernapasan.2

LaringLaring terletak di antara faring dan trakea, merupakan pipa kaku, pendek, berbentuk silinder dengan panjang 4 cm. Dinding laring diperkuat oleh beberapa tulang rawan hialin (tulang rawan tiroid dan krikoid dan sisi inferior sepasang tulang rawan aritenoid) dan tulang rawan elastis (epiglotis, sepasang tulang rawan kornikulata dan kuneiformis, dan sisi superior tulang rawan aritenoid bagian superior). Lumen laring ditandai secara khusus oleh adanya dua pasang lipatan, bagian atas adalah lipatan vestibular dan bagian bawah lipatan vokalis. Lipatan vestibular tidak dapat bergerak. Lamina propianya disusun oleh jaringan ikat jarang, mengandung kelenjar seromukosa, sel-sel lemak dan unsur limfoid. Tepi bebas lipatan vokalis diperkuat oleh jaringan penyambung padat elastis dan tersusun teratur, yaitu ligamen vokalis.Laring dilapisi oleh epitel bertingkat bersilia, kecuali pada permukaan atas epiglotis dan pita suara yang dilapisi oleh epitel gepeng berlapis tanpa lapisan tanduk. Silia pada bagian laring bergerak ke arah faring, mendorong mukus dan partikel-partikel yang terperangkap ke arah mulut untuk dibatukkan atau ditelan.2,4 (Lihat gambar 1)

Gambar 1. Laring2

TrakeaTrakea berbentuk tabung dengan panjang 12 cm dan berdiameter 2 cm, mulai dari tulang rawan krikoid di laring dan berakhir ketika bercabang dua menjadi bronkus primer. Dinding trakea diperkuat oleh 10 - 12 cincin tulang rawan hialin berbentuk C. Ujung-ujung cincin tersebut terbuka ke arah posterior dan satu sama lain dihubungkan oleh otot polos, muskulus trakealis. Dengan susunan C yang demikian, trakea membulat di bagian anterior dan datar di bagian posterior.3-5

Gambar 2. Trakea2Bronkus Primer (Ekstrapulmonal)Struktur bronkus primer identik dengan trakea, hanya saja diameternya lebih kecil dan dindingnya lebih tipis. Setiap bronkus primer akan didampingi oleh arteri pulmonalis, vena dan pembuluh limf, menembus akar paru. Bronkus kanan lebih lurus daripada bronkus kiri. Bronkus kanan bercabang tiga mengarah ke tiga lobus paru kanan, dan bronkus kiri bercabang dua dan memberi cabangnya ke dua lobus paru kiri. Cabang bronkus selanjutnya masuk ke cabang substansi paru sebagai bronkus intrapulmonal.5,6

Bronkus Sekunder dan Tersier (Intrapulmonal)Setiap bronkus intrapulmonal merupakan saluran udara ke sebuah lobus paru. Saluran udara ini mirip dengan bronkus primer dengan beberapa pengecualian. Tulang rawan bentuk cincin C diganti oleh lempeng ireguler tulang rawan hialin yang secara lengkap mengelilingi lamina bronki intrapulmonal, dengan demikian saluran napas ini tidak memiliki daerah yang datar, tapi melingkar secara lengkap. Otot polos terletak di lamina propia dan submukosa bercampur dengan jaringan fibroelastin, membentuk dua lapisan otot polos yang jelas dan berjalan spiral berlawanan arah. Bronki sekunder adalah cabang langsung bronki primer yang akan menuju ke lobus paru dan dikenal sebagai bronki lobaris. Paru kiri memiliki dua lobus sehingga memiliki dua bronki sekunder, dan paru kanan mempunyai tiga lobus dengan tiga bronki sekunder. Saat bronki sekunder memasuki paru, bronki bercabang menjadi cabang yang lebih kecil disebut sebagai bronki tersier atau segmental. Dengan makin kecilnya diameter bronki intrapulmonal, saluran ini akhirnya menjadi bronkiolus.5,6

BronkiolusTiap bronkiolus menyalurkan udara ke lobulus paru. Lapisan epitel bronkiolus mulai dari sel silindris selapis bersilia dan terkadang bersel goblet pada bronkiolus yang lebih besar sampai sel kuboid selapis (beberapa bersilia) terkadang dengan sel Clara, pada bronkiolus kecil tidak ada sel goblet. Sel Clara merupakan sel silindris dengan bagian puncak berbentuk kubah, mempunyai mikrovili pendek tumpul. Sel Clara dipercaya dapat melindungi epitel brionkiolus melalui hasil sekretnya juga dapat memusnahkan toksin yang ikut terhirup melalui enzim sitokrom P-450 yang terdapat di retikulum endoplasmik halus (SER). Beberapa peneliti menduga sel Clara menghasilkan materi mirip surfaktan yang dapat mengurangi tegangan permukaan bronkiolus serta dapat membelah diri untuk regenerasi epitel bronkiolus. Selama inhalasi, saat volume paru mengembang, serat elastin di dinding bronkus meregang melalui tarikan yang serentak ke segala arah, serat elastin turut menjaga akan bronkiolus tetap terbuka.5,6

Bronkiolus TerminalisTiap bronkiolus membagi diri membentuk beberapa bronkiolus terminalis yang lebih kecil dengan diameter kurang dari 0,5 mm dan membuat bagian akhir konduksi sistem pernapasan. Struktur ini menyalurkan udara ke dalam asinus paru, bagian lobulus paru. Lamina propia yang sempit terdiri dari jaringan fibroalastis dan dikelilingi oleh satu atau dua lapisan sel otot polos. Bronkiolus terminalis bercabang menjadi bronkiolus respiratorius.5,6

Bronkiolus RespiratoriusStruktur bronkiolus respiratorius mirip bronkiolus terminalis, namun dindingnya diselingi oleh bangunan seperti kantong berdinding tipis dikenal sebagai alveolus, dimana terjadi pertukaran gas. Setelah bercabang lagi, tiap bronkiolus respiratorius berakhir ke duktus alveolaris.3-5

Duktus Alveolaris dan Sakus AlveolarisDuktus alveolaris tidak mempunyai dinding sendiri dan disusun oleh alveolus saja. Sebuah duktus alveolaris berakhir sebagai kantong buntu yang terdiri dari dua atau lebih kelompok kecil alveolus disebut sebagai sakus alveolaris. Unsur jaringan penyambung tipis antara alveolus, septa interalveolaris, memperkuat duktus alveolaris dan menstabilkannya. Muara tiap alveolus ke duktus alveolaris dikendalikan oleh sebuah sel otot polos tunggal, tebenam di dalam kolagen tipe III, yang membentuk sfinkter yang halus mengatur diameter pembukaan.5,6

AlveolusAlveolus merupakan pengantongan keluar yang kecil, berdiameter sekitar 200 m dari dinding bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris dan sakus alveolaris. Alveolus membentuk struktur primer dan unit fungsional sistem pernapasan, karena dinding tipisnya memungkinkan pertukaran O2 dengan CO2 di antara udara di lumen dan darah dalam kapiler di sekitarnya. Karena jumlahnya yang banyak, alveolus sering terdesak satu sama lain, menggeser jaringan penyambung intersisial di antaranya. Pada tempat terjadinya kontak, ruang udara antara dua alveolus mungkin berhubungan satu sama lain melalui porus alveolaris (porus Kohn). Porus ini diduga berfungsi sebagai keseimbangan tekanan udara dalam segmen paru. Karena elveolus dan kapiler disusun oleh sel epitel, keduanya ditopang oleh lamina basalis yang jelas. Muara alveolus pada sakus alveolaris tidak mempunyai sel otot polos. Di sekitar muara alveolus tersebut, dikelilingi serat elastin, terutama serat retikulin. Dinding alveolus disusun oleh dua jenis sel pneumosit tipe I (sel alveolar gepeng) dan pneumosit tipe II (sel alveolar besar).5,6

ParuParu merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut dan terletak dalam rongga thoraks. Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa pembuluh darah besar. Paru kanan lebih besar dari paru kiri. Selain itu, paru juga dibagi menjadi tiga lobus pada paru kanan dan dua lobus pada paru kiri. Lobus-lobus tersebut dibagi menjadi beberapa segmen, yaitu 10 segmen pada paru kanan dan 9 segmen pada paru kiri. Proses patologis seperti atelaktasis dan pneumonia seringkali terbatas pada satu lobus atau satu segmen saja. Oleh karena itu, pengetahuan anatomi segmen paru penting untuk melakukan fisioterapi dada. Fisioterapi dada dilakukan untuk mengetahui dengan tepat letak lesi dan akumulasi secret, sehingga dapat mengeluarkan secret saat drainase postural (postural drainage). Drainase postural merupakan pemberian posisi terapeutik pada pasien untuk memungkinkan sekresi paru-paru mengalir berdasarkan gravitasi ke dalam bronchus mayor dan trachea.2,3

PleuraPleura merupakan kantung tertutup yang terbuat dari membrane serosa (masing-masing untuk setiap paru) yang di dalamnya mengandung cairan serosa. Paru terinvaginasi (tertekan dan masuk ke dalam) lapisan ini, sehingga membentuk dua lapisan penutup. Satu bagian melekat kuat pada paru dan bagian lainnya pada dinding rongga thoraks. Bagian pleura yang melekat kuat pada paru disebut plura visceralis dan lapis